Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label Lodevika Endang Sulastri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lodevika Endang Sulastri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 September 2020

Aku ingin menyimpannya sendiri

Puisi Lodevika Endang Sulastri



Aku ingin menyimpannya sendiri.
Sembari memilah puzle-puzle usang.
Kisah-kisah bodoh yang melukai
Kutepikan agar ku tak tersandung lagi
Atau setusuk duri menikam di kaki.

Aku ingin menyimpannya sendiri.
Aku benar-benar ingin menghindari
Dan melampaui konfrontasi
Yang membuat jiwa terluka
Lebih baik pergi dan tak usah dengar lagi.

Aku ingin menyimpannya sendiri.
Aku bukan orang yang intim bergibah,
Lebih baik tersenyum sendiri menepis
Segala suara-suara tak berarti
Tapi bisa membunuh mood pagi ini.

Aku ingin menyimpannya sendiri
Dan nanti bila aku telah letih
Kuletakkan di bawah salib-Mu, Tuhan
Sebagai persembahan bagi-Mu
Bak dadu yang tak pernah selesai.

Aku ingin menyimpannya sendiri
Dan membakar semua cerita bodoh
Yang tak tahu siapa pengarangnya
Abunya kan kujadikan pupuk
Bagi serangkai melati ... wangi
Yang tumbuh di tepi pagar rumah kami.

Aku ingin menyimpannya sendiri
Berembus angin pagi
Mengantar wewangiannya menggugah pagi
Kutatap kisah-kisah bodoh
Yang terbawa angin entah terbang ke mana

Aku ingin menyimpannya sendiri
Apakah itu fitnah atau gibah
Yang berembus melanda tubuhku
Yang nyaris oleng tapi masih tertegak
Di depan rumah sunyi sembari menanti

Aku ingin menyimpannya sendiri
Wahai fitnah atau gibah
Yang tak pernah membawa warna cinta
Kuletakkan seluruh bagianmu di Salib-Nya
Biarlah Dia yang menyelesaikan

Aku ingin menyimpannya sendiri





Photo by Mati Mango from Pexels

Minggu, 06 September 2020

Sunyiku, sunyi-Nya



Malam makin larut ...
Gelap tlah lama turun ke bumi,
Hendak sampaikan pesan
Bahwa panorama tlah berganti.

Sunyinya malam ini seperti menemani
Sesunyinya hati ini dalam tenang
Sunyi yang digenggam
Sunyi yang membuka panca indra makin terang

Sunyi jelang kesadaran batin
Sunyinya sesunyi jiwa yang merindu
Datangnya Dia yang hanya hadir
Dalam sunyiku
Sunyi sesunyinya


Palembang, 6 sept 2020,22:28

Photo by Engin Akyurt from Pexels


Jumat, 04 September 2020

Hujankan bumiku Tuhan



Tetes air hujan jatuh ke bumi
Di senja yang baru saja menjelang
Terduduk aku di tepi jendela
Menatap titik hujan yang terjatuh
Sedap menguar aroma tanah
tertimpa air dari langit.

Air mata bidadari jatuh
Kata ibuku dulu
Untuk menyuburkan tanah ladang
Petani senang sesaat hujan datang

Wahai hujan
Turunlah lebih lama
Barang satu jam saja di bumiku kerontang
Kunikmati datangmu bak nanti pangeran
Sesaat aku memandang langit
Terima kasih, Tuhan, Kau basahi bumi kami
Berikan sejuk di bumi kering ini.

Walau hanya sekejap hujan datang
Aku tetap duduk di tepian jendela
Menantikan kembalinya
Agar bumiku sejuk, cerahkan warna langit

Terima kasih, Tuhan
Apakah Kau sudah jauh berjalan
Melihat tingkah kami di bumi?
Berharap nantikan mukjizat-Mu datang?

Pujian kuhunjukkan pada-Mu
Engkau yang penuh kuasa
Berbelaskasihan kepada kami kaum papa
Anak sahaya-Mu yang menderita

Air tak lagi cukup bagi bumi kami.
Kini ... Kau datangkan hujan-Mu
Tuk segarkan bumi kami.
Semoga tetumbuhan pun tersapa
air sejuk-Mu menyentuh dedaunan
Dan beri kehidupan bagi kami
Manusia tak tahu diri.


Palembang, 4 September 2020, 17:41

Rabu, 02 September 2020

Kisah dompet di hari Rabu

Puisi Lodevika Endang Sulastri

Photo by cottonbro from Pexels



Pagi yang cerah,
Terduduk di sadel motorku,
Kucangklong tas punggung seraya
Menikmati udara pagi nan sejuk
Motorku terbang menembus jalanan
kota Palembang mulai hangat

Kutatap jalanan sembari berharap
Hari ini kudapat selesaikan tugas
Apa daya ...
Setengah jalan hari, tergagap aku
Sesaat hendak bayar parkir motorku
Dompetku raib tak pamit.

Pucat seketika menyapa hati
Serasa pagi tadi aku masih menyentuhnya.
Kumasukkan uang kelebihan belanja,
Aku tergagap di depan tukang parkir.
Seujung kata maaf tak sanggup membayar

Tukang parkir mafhum
Tetapi hatiku berontak
Ke manakah gerangan dompet di saku
Sebelum berangkat aku menyentuhnya

Aku terguguk bukan apa
Mengurus surat-surat hilang itulah
Yang enggan kuterjang
Ya Tuhan, apakah gerangan salahku?

Aku masih terduduk mengerang
Teringat suasana pagiku di rumah
Sebelum berangkat aku menyentuhnya.

Sekejap aku berlari ke pos polisi
Melapor apa kejadian hari
Sembari setengah hati aku mengiklas
Apa yang telah raib di depan mata.

Setengah empat sore aku terduduk
Setelah usai blokir ATM bank sana-sini
Aku merebah sembari pikiran berlari
Setengah hati lainnya mengejar mimpi
Andai dompet kembali
Tak susah hati daku kini.

Dering telepon genggam menggugah hati
Dengan enggan kujawab
"Selamat sore ..."
Di seberang, suara kecil pegawai
Pagi tadi harus kusambangi
Menyapa dengan suara minta maaf
Menemukan dompetku tercecer di parkiran

Tersentak aku
seolah Tuhan menyapa
Jangan khawatir ... masih ada orang jujur
Di muka bumi titipan Sang Ilahi.

Puji syukur aku mendoa
Terima kasih tak terbilang pada Sang Dewa
Yang terus mengawas tingkahku
Karna tak pernah sempurna.

Terima kasih Tuhan
Pelajaran kejujuran hari ini
Menyapaku yang sungguh tak mengerti
Seluruh perjalanan yang harus kulewati.

Terima kasih Tuhan.


Palembang, 2 sept 2020, 19:36






Sabtu, 29 Agustus 2020

Nikmat Minggu pagi

Puisi Lodevika Endang Sulastri


Photo by Misael Silvera from Pexels

Mentari jatuh ke bumi dengan sengatnya 
Memberi suasana hangat
Di Minggu pagiku.
Masih kutatap terang lewat kaca jendela
Songsong Minggu dengan harapan

Hening suasana di jam sepuluh.
Antara sengat mentari dan kadang meredup ... membawa sepoi angin 
Menerpa raga yang baru selesaikan
Tugas Minggu dalam hening nyata.

Kunikmati, seperti mencecap anggur murni
Hanya sesekali suara motor lewati
Depan rumah sembari lambaikan hati
Tersenyum padaku penuh arti 
terduduk di rotan bulat.

Kusesap kopi seteguk tinggal ampasnya
Suasana inilah yang selalu kurindui
Setelah sepekan berlari dengan tugas 
seperti mengejar hari.
Terhenti di Minggu pagi dalam sunyi
Hingga ku kembali menyusuri hening pagi

Wahai mentariku
Datanglah ... ke bumi lebih pagi
Agar seluruh cucianku sepekan ini
Mengering dan aku bisa merapikan
Dengan seterika kesayangan

Dan Senin pagiku ... datang
Untuk membuka pekan kerjaku
Lebih semangat mengisi hari
Untuk persembahanku bagi ibu pertiwi.
Dan Sang Dewa pun pasti tersenyum
Melihat dunia sudah bergerak kembali.


Palembang, 30 agustus 2020, 09:58

Corona mahkota tak diminta



Photo by Edward Jenner from Pexels

Jeda corona memang nyata
Membuat manusia terhenti di kerja
Dan sunyi dunia bak kematian
Hanya satu dua manusia bergerak nyata

Mengapa di saat gadget sedang merata
Menghantui dunia, kau datang, corona
Lihatlah kanak-kanak hanya terlihat
Duduk di rumah menggerakkan jarinya

Sekolah terhenti bagi yang muda
Karya tak lagi nyata, pengangguran merebak
Kini orang mulai kembali ke dapurnya
Apa yang bisa dikerjakan sebatas pengganti biaya

Oh alangkah pedihnya
Manusia terduduk tak banyak kata
Jadi alasan karena corona tak pergi jua
Nestapa berapa tahun lagi kami kan jalani
Kemakmuran baru kami nikmati
Lenyap bagai air hujan terserap tanah

Corona ... oh corona ...
Pulanglah ke negeri asalmu
Yang entah di mana negri antah-berantah. 
Kami ingin segera jumpa dan bercanda
Dengan saudara, keluarga juga sahabat dan kerabat


Pisungsung minggu sederhana


Pagi merekah sejuk mengelus raga
Lilin menyala pertanda doa
Mohonkan berkat-Nya
Untuk kehidupan hari ini

Kicau burung membuka matahati,
Mazmur terbawa angin pagi-Nya
Syukur kupanjatkan di hadirat Dewa
Sang Mahaperkasa Penyelenggara dunia
Harum aroma lilin menyala
Mengabarkan sukacita warna hari

Minggu yang sederhana
Hari istirahat bagi raga,
Agar batin berbicara lebih nyata
Dalam renungan di nada pagiNya

Terima kasih Dewa Perkasa,
Masih Kauberi kami napas panjang-Mu
Agar kami isi hari hari kami
Dengan sukacita warna Injil

Syukur sujudku bagi Dewa Perkasa
Telah kujalani hari hari sepekan raya
Sebagai janji bhakti hamba

Mengisi dunia dengan nada ceria
Menerima duka sebagai timbangan dunia
Kerna Kau beri kami kekuatan
Untuk mengolah ladang kehidupan

Syukur sujudku kupersembahkan
Di pagi suci minggu sederhana
Pisungsung nyata bagi Sang Dewa

Palembang, 30 Agustus 20202:07:21








Kupandang Sakramen MahaKudus

Kupandang Sakramen Maha Kudus
Di diamku ... ada banyak kisah ...
Seolah dalam sembah sujudku
Seperti sebuah buku yang terbuka
Dan aku hanya bisa memandang-Nya
Sambil mengelu ...
Kupersembahkan semua bagi-Mu

Kisah hari-hariku ...
Percikan emosi datar wajahku,
Gejolak hati yang membara
Semangat dan keputusasaanku,
Ketidakmengertianku akan rencana-Mu
Sekarang ... kuletakkan di sini Tuhan
Biar selesai ... di sinilah.

Kupandang Roti Suci
Gambaran makanan kami sedunia
Yang bisa terbagi dengan rata
Dan bisa dinikmati oleh semua
Yang memberi energi baruku
Dan juga semua yang mengingat pengorbanan-Mu Tuhan
Yang karna Cinta sehabis-habisnya
Kuletakkan beban dan kegembiraan
Sukacita dan dukacitaku ... dalam hening-Mu

Hanya Engkau yang tahu
Hanya Engkau yang menyembuhkan
Hanya Engkau yang memberi kekuatan
Dalam kasih setia-Mu
Aku kembali memandang Roti yang terbagi

Kupandang Sakramen Maha Kudus
Tempat jiwa-jiwa lara ... dan belum selesai
Berlabuh memohon kerahiman Bapa
Ya Tuhan, aku mengingat mereka

Satu per satu ... para leluhurku ...
semua saudara yang berpulang
berilah Damai-Mu
Kupandang Sakramen MahaKudus.


Palembang, 29 Agustus 2020,






Betapa sedapnya Tuhan

Puisi Lodevika Endang Sulastri


People photo created by jcomp - www.freepik.com


Senja merayap, aroma malam mengudara
Semerbak wangi seperti ingin sampaikan
Keringat siang telah mereda
Kerna Sang Maharaja Terang
Kembali ke peraduannya
Kini hening ... hadir ... dalam temaramnya

Suara cicak berirama meningkahi
Aku menatap dengan tenang
Bacàan renungan malam ini
"Kecaplah betapa sedapnya Tuhan"
Sperti ingin mengatakan

Datang, datanglah, 
Makanlah dan minumlah
Sajian bagimu ...
Karna Tuhan bersukacita
Kau datang dalam hadirat-Nya

Dalam sendiri ...
Di bilikmu ...
Yang sunyi ...
Dengarkanlah Dia.


Palembang, sesunyinya,
akhir Agustus 2020


Minggu, 09 Agustus 2020

Selembar doa mengudara

Puisi Lodevika Endang Sulastri


Image by Gordon Johnson from Pixabay


Selembar doa mengudara,
Lewat sebuah kisah
Kala sang murid tergoda bertanya
Pada Sang Guru yang dikasihinya.

Hari ini Sabda mengurungku dalam tanya
Kala sang murid melihat Guru
Berjalan di atas air dengan fantastik.
Segenap mata berkelebat tanya.

Tetapi suara tenang Sang Guru
Menghentikan kepanikan mereka..
Teguhkan hatimu! Ini Aku ... jangan takut.

Sang murid pemberani bertanya:
Jikalau itu Engkau Guru,
suruhlah aku datang.

Selembar doa mengudara,
Kala mata hati terbuka
Oleh pengalaman iman.
Indahnya pengharapan dan anugrah.

Selembar doa mengudara,
Terhenti di bawah takhta-Nya,
Mukjizat nyata di manapun berada
Saat iman hadir di sana.

Percaya ...
Hanya percaya dan serahkan pada-Nya
Kuasa-Nya hadir dalam semesta
Mengapa aku masih juga tergoda
Untuk mempertanyakan-Nya.

Hanya pisungsung hatì yang diterima
Hati yang berserah ... pada Sang Dewa.
Maka Yang Ilahi menguasai hidup
Karena kita berharga di mata-Nya


Palembang, 9 Agustus 2020, 20:46




Sepercik cinta segenggam dendam

Puisi Lodevika Endang Sulastri


Photo by Nikolas Resende from Pexels



Kidung senja merambah udara
Menyenandungkan kisah seorang lelaki muda
Yang terhentak raga karna salah tutur kata,
Seorang gadis membuatnya terduduk
Tak mampu gerakkan tubuhnya

Sepercik cinta segenggam dendam

Dari jauh kulihat deritamu,
Luka cinta percikkan dendam kesumat,
Menghancurkan raga yang kaukasihi
Tiada lagikah jalan bagimu?

Sepercik cinta segenggam dendam

Oh manusia, mengapa pendek pikirmu
Kobaran emosi luluh lantakkan kekasih jiwa
Lihat kumbangmu terkapar tak berdaya
Mengapa hanya sebatas mata
Kaulihat harumnya cintamu.

Sepercik cinta segenggam dendam

Apakah yang membuatmu kerasukan?
Mengapakah hanya sebatas raga kau melihatnya
Tinggikan budi dendangkan mazmur Cinta
Bagi Tuhan, supaya lukamu disembuhkan
Tak harus dengan panah beracun kaukirimkan
Segenggam cintamu yang tlah terpadam

Sepercik cinta segenggam dendam

Akankah dendam lebih kuat dari cintamu?
Bawalah bayangnya dalam doamu
Kidungkan ayat-ayat cintamu
Dengan sepercik pengorbananmu
Agar cinta berbalas mesra.


Palembang, 9 Agustus 2020, 20:31



Kamis, 06 Agustus 2020

Tersenyumlah untuk merdeka

Puisi Lodevika Endang Sulastri


Siang benderang
Sepasang tangan dengan ulet mengikatkan
Tali temali bendera plastik merah putih
Mengibar di tepian koridor sekolah
Menanda masih ada penghuni bergerak
Meski corona tak jua sepenuh hati pergi.

Tak gentar dengan sunyinya sekolah
Hanya angin siang berembus mengabarkan
Bahwa dinding-dinding sekolah berdiri
Dengan gagah menantikan kerumunannya

Anak anak remaja membawa tas punggung
Memasuki gerbangnya dengan ceria
Sambil berceloteh pun terdengar gelak tawa
Duh ... rindunya kami para guru melihatnya.

Namun, kini di sini ...
Kami sedang berdaring ria
Dengan segudang ilmu seperri biasa
Mengajar di kelas sunyi, siswa nun jauh
Entah sedang bagaimana mereka di rumah

Mungkin maknya berteriak menghalau
Dapur kesayangan yang kini penuh keramaian
Atau melotot garang melihat anandanya
Masih bergulingan belum juga beranjak
Dari pembaringan yang sudah kusut
Kerna ulah anaknya tidur semalaman
Tak jua tenang ...

Oh siang benderang, senyapkan hati
Ke mana nian para muridku kini ...
Mengapakah lama pandemi menghampiri
Seolah kerasan dengan suasana kami.

Kulihat bendera dan umbul telah tegak
Dipasang para guru muda seraya tertawa
Dan menanya entah pada siapa
"Akankah ada yang bahagia lihat kibaran
Merah putih meriah di seluruh penjuru
Sekolah kita yang senyap
Kepada siapa mereka mengibar
Ketika anak bangsa terkarantina.

Wahai ... putri Corona ...
Lekaslah pergi agar anak-anak kami
Kembali bercanda dan tergelak di sini
Sekolah kami tercinta menanti
Kanak-kanak kami belajar kembali
Dan merayakan hidup bersama lagi.

Impian kemerdekaan mendekat
dari ketakutan ... dan berjarak
Merdeka dari kengerian 
Merdeka berjalan ke sekolah dan
Merdeka belajar ... merdeka ... merdeka ...!
Tersenyumlah untuk merdeka!

Palembang, 6 Agustus 2020: 15:26



People photo created by rawpixel.com - www.freepik.com

Sabtu, 01 Agustus 2020

Genderang Kemerdekaan Mengumandang

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Artem Beliaikin from Pexels


Genderang Kemerdekaan telah berbunyi
Mengingatkan Indonesiaku di 75 tahun lalu
Bergerak kaum muda dan tua
Merangsek tentara Jepang

Kini ...
Hari ini ... masih 17 hari lagi
Nuansa merdeka telah terasa di jalanan
Aroma sedap keringat berjuang
Bahkan di tengah Pandemi
Medsos telah bertebaran
Logo dan tema merdeka membungkus
Luka bangsa di tengah Pandemi Covid-19

Seolah suarakan ... ayo saudaraku
Terus berjuang dan isi Masa Kemerdekaan
Dengan membuka pikir dan cerdaskan bangsa
Jangan gentar dengan era yang berubah
Jangan getir dengan nuansa digital
Hidupkan terus kata MERDEKA!
Di dada anak anak bangsa
Agar berkobar terus api kemerdekaan
Di tengah Nusantara jaya.

Jangan takut dengan pengorbanan
Jangan hitung luka pandemi dan ekonomi
Jangan gentar

Maju terus dengan gagah
Tegap seperti Bapak Presiden kita
Bangga dengan modal bangsa besar
Kikis habis kemiskinan dan kebodohan
Jangan gentar walau mentri Ojol
Atau srikandi ekonomi
Bahkan Wapres yang sepuh
Karena kesepuhan lambang kebijaksanaan
Dan srikandi lambang ketelitian
Ojol adalah percepatan
Karena sudah tertinggal ... puluhan tahun
Dari MERDEKA yang sesungguhnya.

Maju terus ... Bapak Presiden Kurus.
Karena di tanganmu inilah
Indonesia sedang ditantang
Jadikan Jaya Nusantara ... adil dan merata
Dari Barat sampai Timur
Anak bangsa memanggil bersahutan
Minta seteguk air pelepas dahaga
Dahaga fisik dan dahaga rohani
Jiwa bangsa meminta kalian
Wahai para pemuka bangsa Indonesia
Lajukan Perahu besar kita
Mengitari bahari Nusantara ... dengan teriakkan MERDEKA!


Palembang, medio 1 Agustus 2020 23:13



Rabu, 29 Juli 2020

Memandang Dia yang Tertikam: Puisi Butiran Kontemplasi


Memandang Dia yang Tertikam: Puisi Butiran Kontemplasi

Memandang Dia yang Tertikam: Puisi Butiran Kontemplasi

Buku ini dicetak sesuai pesanan. Pesan 1 eksemplar pun akan kami layani. Untuk memesan buku ini, silakan hubungi yedijanusantara@gmail.com atau melalui pesan WhatsApp dan sampaikan Nama Pemesan serta alamat lengkap (dengan menyebut nama kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, serta kode pos)

Spesifikasi:
Kode: 0120035
Judul: Memandang Dia yang Tertikam: Puisi Butiran Kontemplasi
ISBN: 978-623-7421-17-7
Terbit: 23-Jun-2020
Tebal: 108 (viii+100) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp50.000
Kata kunci: puisi, kumpulan puisi, tulisan guru, karya guru, Lodevika Endang Sulastri, karya tunggal, antologi puisi, puisi renungan

Deskripsi:
Buku kumpulan puisi ini merupakan hasil catatan atas refleksi perjalanan hidup selibat yang dijalani penulis, mulai dari saat sebelum hidup selibat sampai sekarang. Puisi-puisinya memperlihatkan pergumulan hidup rohani dan sosial yang dialami penulis, juga ketika pandemi Covid-19 melanda. Dibagi ke dalam 4 kelompok, ada puisi yang bercerita mengenai pengalaman hidup dalam keluarga, mengenai hidup selibater, mengenai karya nyata di masyarakat, dan mengenai pandemi.

Daftar puisi:
Benih dan Akar
Sebening mimpi kita
Foto Nostalgia
Terkenang ayah
Kenangan Manis
Terkenang Bunda

Di Rumah Cinta
Di Hati-Mu yang Kudus, Tuhan
Puisi bagi Bapa Pendiri (Pater Albino Elegante SCJ)
Bawalah Jiwa-jiwa
Pater Dehon teladan hidup
Mengolah duka
Pada Sang Dewa Perkasa
Syukur Anugerah Pagi
Di Doa Pagi
Malam Bercahaya
Sebait Mazmur Cinta
Hanya Ibu Maria
Perempuan di Betania
Lilin itu masih menyala
Seperti Perempuan Samaria
Pergulatan Batin Melenggang Bangga
Menghitung hari-hari senja

Turun Gunung
Bukan sesiapa
Larut
Kartini Abad Dua Puluh Satu
Warisan Semangat Xaverian

Jeda Corona
Vigili agung
Rinduku Lebur dalam Sunyi
Paskah Sunyi
Gugur bunga pahlawan bangsa
Rindu Pempek Lenjer
Rindu di Jelang pagi
Secangkir kopi
Terperangah
Daun Kelor
Doa seorang hamba
Adakah Senin ceria kembali
Ini Lapangan Bola
Alam yang berdendang
Perjamuan Bersama di Tengah Corona
Merajut Harapan di ujung Pandemi
Aku Rindu Kalian, Anak-anakku
Singkong
Wajah Tuhan
Perjalanan misi












Selasa, 28 Juli 2020

Guru Honorer: Kumpulan Puisi #33






Kode: 0120037
Judul: Guru Honorer: Kumpulan Puisi #33
Penulis: Ayu Pebrina Dewi Setyorini [et al.]
ISBN: 978-623-7421-18-4
Terbit: 10-Jul-2020
Tebal: 84 (viii+76) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000

Buku ini dicetak sesuai pesanan. Pesan 1 eksemplar pun akan kami layani. Untuk memesan buku ini, silakan hubungi yedijanusantara@gmail.com atau melalui pesan WhatsApp dan sampaikan Nama Pemesan serta alamat lengkap (dengan menyebut nama kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, serta kode pos)

Spesifikasi:
Kode: 0120037
Judul: Guru Honorer: Kumpulan Puisi #33
Penulis: Ayu Pebrina Dewi Setyorini, Elisabet Sri Hartati, Evy Christh, Gusnawati, Lodevika Endang Sulastri, Lusia Yuli Hastiti, Sumadi Alkindi, Yerem B. Warat
ISBN: 978-623-7421-18-4
Terbit: 10-Jul-2020
Tebal: 84 (viii+76) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000

Kata kunci: puisi, haiku, kumpulan puisi, tulisan guru, karya guru, Ayu Pebrina Dewi Setyorini, Elisabet Sri Hartati, Evy Christh, Gusnawati, Lodevika Endang Sulastri, Lusia Yuli Hastiti, Sumadi Alkindi, Yerem B. Warat

Deskripsi: Ini adalah buku kumpulan puisi ke-33 yang lahir dari rahim daya kreasi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis. Buku ini memuat puisi dan haiku yang ditulis oleh 8 penyair. 

Daftar Penyair dan puisinya:

HAIKU

Lodevika Endang Sulastri

Pastoral Reparatif
Potret diri
Komunitas
Persatuan
Solidaritas
Tobat
Bunda Pelindung
Keagungan Ilahi
Jatuh Cinta pada Hati-Nya
Semangat Visioner
Ekaristi Suci
Bagai Bejana Tanah Liat
Alumni
Sahabat
Patriot Sejati


Sumadi Alkindi
Haiku Sumadi Alkindi


Evy Christh
Haiku Evy Christh


Ayu Pebrina Dewi Setyorini
Matahari
Senja
Knalpot
Bunga
Bibir
Senyummu
Nyiur
Pencuri Hati
Foto Model
Lintang
Virus Corona
Sepedaku
Surya
Rindu
Doa
Si Jomblo
Pelangi
Buah Hati
Gundah Gulana
Hadirmu
Cinta
Saldoku
Undian Berhadiah
Petasan
Pesawat


PUISI BEBAS

Yerem B. Warat

Guru Honorer
Anjing Tak Kukenal
Di Bawah Senja
Tongkat
Menanti


Lusia Yuli Hastiti
Kekuatan
Malam
Keagungan
Di Pemakaman
Musnah
Membaca Masa Lalu
Bising
Kelas Kosong
Surga yang Hilang
Kebijaksanaan
Lima Detik Saja
Dikejar Bayang-Bayang
Puisi
Hasrat
Dunia Kini


Gusnawati
Bungaku Menangis
Marhaban, Yaa ... Ramadan Kareem
Senandung Rindu di Bulan Ramadan
Perempuan di Balik Pelukan Kekasih
Asmara Terlarang


Elisabet Sri Hartati
Mandi Cahaya Cinta
Kidung Agung

Minggu, 21 Juni 2020

Foto Nostalgia

PUISI OLEH Lodevika Endang Sulastri
Foto dokumen Lodevika Endang Sulastri

Memandang wajah-wajah polos
Yang berdiri dan berlutut,
Itu kenangan sungguh manis
Keceriaan bermain terlukis
Saat kutatap sekali lagi
Foto tua ini.

Bocah-bocah SD berseragam pramuka
Tatap masa depan di bawah tiang bendera
Seolah telah tergambar wajah penerus
Melangkahkan kaki mengisi kemerdekaan

Memandang wajah-wajah polos,
Kuingat kembali kisah masa kami
Bermain bola kasti berlari kencang
Memenangkan harapan penuh kepastian

Bola menggelinding teriakan teman memacu berlari menuju "home"
Panas terik tak dirasa oleh deraan
semangat memenangkan pertandingan.

Bola melayang menghantam tubuh,
Teriakan lawan menghempas kemenangan
Terpaksa berjaga, berganti posisi
Keringat membasahi wajah tak lagi dirasa.

Matahari menggeserkan tubuhnya
Setengah empat sore permainan terhenti
Setelah orang tua menjemput kami
Berteriak mengingatkan pulang.

Dari pagi kami menghiasi ruang sekolah
Berjalan, berlari, dan berkerumun
Duduk sigap di bangku sekolah
Belajar, bermain, dan bersenda gurau
Semua tergambar jelas di mataku

Dan kini di sini ...
Aku menatap foto masa lalu kami
Tersenyum bangga dan berterima kasih
Teman-teman kita pernah bersama
Di sekolah penuh kenangan persahabatan

Foto kenangan buram
Kutatap sekali lagi
Terima kasih kita pernah bersama
Membangun harapan yang kini tlah ada
Di genggaman kita sebagai manusia

Teman-teman ...
Semoga kalian ingat
Kita pernah menjadi saudara
Enam tahun lamanya ...
Mengecap masa SD kita

Teman-teman terima kasih
Foto kenangan ini selalu mengingatkan
Kita meletakan batu bata pertama
Karakter dan iman kita.

Palembang, 21 Juni 2020, 19:35

Senin, 15 Juni 2020

Di Hati-Mu yang Kudus, Tuhan

Di Hati-Mu yang Kudus, Tuhan: Puisi Lodevika Endang Sulastri
Ilustrasi oleh Teresa Gowinda Artati


Di Hati-Mu yang kudus,
Aku mengenal arti kasih
Kasih sesungguhnya bukan pura-pura
Kasih yang mengampuni, memberi ruang
Kasih yang adalah pisungsung diri
Kasih penuh pengorbanan.

Di Hati-Mu yang terluka, Yesus
Aku menemukan tempat perlindungan
Jua kulihat darah suci-Mu
Terbagi untuk kami semua
Dan daging-Mu yang Kudus
Mengenyangkan jiwa-jiwa kami
Yang lapar dan lara

Di Hati-Mu yang bolong,
Ada silih yang dipersembahkan
Ada pengorbanan suci di altar-altar umat
Ada jiwa-jiwa mendamba
Kasih yang mengalir dari darah dan air

Di examen consientia,
aku menemukan-Mu, Tuhan
Bahwa aku hanyalah sebutir debu
Yang bukan siapa-siapa
Tapi Kauangkat jiwa ini
Jadi putra dan saudara-saudari-Mu

Di Hati-Mu yang mendamba
Umat kembali pada Bapa
Dalam persatuan cinta

Di Hati-Mu yang terluka
Aku belajar mengeja
Arti ketulusan dan damai
Pengorbanan dan persembahan diri

Di Hati-Mu yang kudus
Aku bersandar untuk belajar terus
Melangkahkan kaki meneruskan
Peziarahan yang harus diselesaikan

Di Hati-Mu yang kudus
Pintu perjanjian surga
Menjadi penawar dahaga
Kala gelap gulita dan gersang
Jiwa mohonkan air kehidupan.

Di Hati-Mu yang suci

Palembang hari ke-6 noven HKY


Puisi ini dimuat di buku Memandang Dia yang Tertikam: Puisi Butiran Kontemplasi halaman 13

Minggu, 14 Juni 2020

Lilin itu masih menyala

Lilin itu masih menyala, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Dhivakaran S from Pexels



Lilin itu masih menyala,
Tatkala aku tersungkur
Dan lututku merasakan pedihnya
Benturan dengan kerasnya lantai keramik.

Lilin itu masih menyala,
Menjadi saksi satu-satunya
Kala tangan tak kuasa
Menjemput seberkas cahaya

Lilin itu masih menyala,
Dan membisu tak terkata
Saat kaki tak mampu menopang
Badan tergoyah dan nyaris tercampak

Lilin itu masih menyala
Bahkan pandang mataku melewati
Sesaat peristiwa yang mengguncang

Lilin itu masih menyala



Sabtu, 13 Juni 2020

Rumah Tua

Rumah Tua, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Daniel Wander from Pexels



Di sini, di rumah ini
Aku telah bertumbuh
Dengan segala apa adaku.

Di sini, di rumah ini
Rumah tua yang kusayangi
Di pojok situ, ayahku selalu
Rebah istirahat sepulang bekerja
Sambil memegang radio kecilnya
Penyiar BBC menjadi temannya
Yang setia

Dan aku, harus duduk di mejaku
Sambil memelototi peer-peerku.
Penjaga setia tetap mendengarkan
Berita seputar dunia ...

Kadang kubenci saat-saat itu.
Karna temanku sudah berteriak
Di balik jendela kamarku ...
Ayooo ... kita main dulu
Sebelum sore berlalu

Dan ibuku dengan mengangkat
Separuh jaritnya, keluar menggertak mereka
"Jangan diganggu! Masih belajar!"
Kadang aku kesal, karena sesudahnya
Pasti aku jadi olokan para sahabatku

Tapi kini, itu tinggal kenangan masa remajaku.
Tak ada lagi penjaga diri
Atau yang selalu mengingatkan daku

Kini, di sini ...
Aku sendiri melangkah melewati
Perjalanan suny ...

Sesudah waktu berlalu
Rumah tuaku
Tinggal jadi kenangan
Hadirnya ayah bundaku.

Rumah tuaku mengukir kisah
Manisnya menjadi seorang anak
Disayang dan dijaga bagai permata
Dibimbing  dan dituntun
Bertumbuh menjadi anak santun

Rumah tuaku
Menjadi saksi cinta ayah ibuku
Terima kasih ayah
Terima kasih bunda
Cinta pertama ada di rumah tua

Rumah tua ...

Palembang, paskah kedua: 19.09

Larut

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Larut, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by cottonbro from Pexels

Pagi menjelang
Aku masih terjaga,
Seperti ikan dalam akuarium
Bergerak, bergerak, dan bergerak

Pikiran tak lagi diam,
Seperti pada harian biasa
Raga seolah meminta,
Trus untuk bekerja.

Ada apakah gerangan raga?
Mengapa engkau meminta
Lebih dari biasa

Mari antar jiwa,
Istirahat pada sang bunda pertiwi
Untuk sesaat meminta energi
Agar esok bugar kembali
Bekerja penuh untuk ibu pertiwi.

Selamat pagi bunda,
Antarkan jiwa terlelap
Untuk sejenak berharap
Pada sucimu energi
Bundaku Ibu Pertiwi.

Palembang, paskah ke 2 2020: 01.45