Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label Agustinus Gereda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agustinus Gereda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juli 2020

Agustinus Gereda


Agustinus Gereda dilahirkan di Lembata, NTT, 29 Agustus 1959. Tahun 1973 tamat SD Katolik Lamanuna. Tahun 1976 tamat SMP Katolik Santo Pius X Lewoleba. Tahun 1981 tamat SMA Seminari San Dominggo Hokeng, Flores. Tahun 1986 memperoleh gelar Sarjana Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Flores. Tahun 2010 memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas Hasanuddin Makassar. Kariernya sebagai guru dimulai di SMA Seminari San Dominggo Hokeng (1986-1988 dan 1990-1992). Tahun 1997-1998 menjadi guru SMA pada Yayasan Perguruan Hasanuddin Gowa, Sulawesi Selatan. Tahun 1999-2001 mengajar di SMK Santo Antonius Merauke. Tahun 2002/2003 mengajar pada Kolese Pendidikan Guru Khas Papua di Merauke. Tahun 1999-2010 mengajar pada SMA Yoanes XXIII Merauke. Kariernya sebagai dosen dimulai pada Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Karya Dharma Merauke (1999-2001). Sejak tahun 2006 hingga sekarang menjadi Dosen (Lektor) di Universitas Musamus Merauke Jurusan/Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, juga menjadi Dosen Luar Biasa STK Santo Yakobus Merauke. Selain itu, aktif sebagai anggota Editor Freelance pada Penerbit Lingkarantarnusa Yogyakarta. Karya-karya ilmiah berupa buku yang telah diterbitkan adalah Dasar-Dasar Sosiolinguistik (2011); Bahasa Indonesia: Meningkatkan Keterampilan Menyimak, Berbicara, Membaca, dan Menulis (2012); dan Dasar-Dasar Linguistik (2013) semuanya oleh Penerbit Elang Mas Malang, dan Konsep-Konsep Dasar Pragmatik (2016) dan Tema-Tema Sosiolinguistik (2017) oleh Penerbit Lingkarantarnusa. Beberapa tulisan berupa esai termuat dalam buku sseri Kapur & Papan dan seri Meneroka Sempena (2017) terbitan Lingkarantarnusa Yogyakarta.


Karya Tunggal Bersama Komunitas Guru Menulis


Karya Editing Buku Komunitas Guru Menulis
Mentari Pagi di Hutan Misterius: Antologi Cerpen Musamus 1


Karya Bersama Komunitas Guru Menulis


Allah Menggugat
Lebih Suka Menerima
Kado Buat Marko



Judul tulisanHati Senang Walaupun Tak Punya Uang



Judul tulisan: "Pak Guru Kesayangan!"



Kapur & Papan: Mendidik dengan Hati 2
Judul tulisan: "Namanya Gemini"



KAPUR & PAPAN Kisah Guru-Guru Pembelajar 4
Judul tulisan: "Belajar Mencoba Berbagai Alternatif"



Judul tulisan: "Belajar Mengubah Cara Pandang, Berani Memberi Kesempatan"



KAPUR & PAPAN Kisah Pengelolaan Kelas 2
Judul tulisan: "Mengajar Dengan Hati"



KAPUR & PAPAN Kisah Menjadi Guru 2
Judul tulisan: "Mengembangkan Keterampilan Menulis" 



Manajemen Ta’an To’u Meneroka Sempena #3 Kumpulan Artikel Pendidikan
Judul tulisan: "Sanksi terhadap Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Versus Hak Mengikuti Pembelajaran di Kelas"



Judul tulisan: "Cura Minimorum"

Kamis, 09 April 2020

Cura Minimorum

Artikel Pendidikan oleh Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.*
 
Photo by ThisIsEngineering from Pexels

Berikut ini adalah pengalaman penulis ketika masih di bangku kuliah Filsafat dan Teologi tahun 1980-an. Seorang mahasiswa dari tingkat lain mendekati kami yang sedang belajar kelompok.
“Mata kuliah apa yang sedang Anda diskusikan?” tanya sang mahasiswa.
“Katekese,”** jawab salah seorang teman.
“Wah, itu kecilan, perkara sayur,” katanya dengan nada yang sinis.
Seorang teman kami menyambung, “Bukan masalah kecil atau besar, tetapi ini masalah tanggung jawab.”
“Kalau begitu, silakan lanjut,” kata sang mahasiswa segera meninggalkan kami.
Kisah di atas mencerminkan sikap orang yang pada hakikatnya meremehkan hal-hal kecil. Padahal perkara kecil itu menuntut pula tanggung jawab dari kita. Perkara-perkara kecil, hal-hal sederhana sering luput dari perhatian kita. Mungkin dianggap kurang penting atau merepotkan, bahkan tidak berguna. Lantaran kecilnya, indra penglihatan dan pendengaran kita tidak mampu menangkapnya. Karena itu, kita membutuhkan per-HATI-an, yakni melihat dan atau mendengar dengan hati.
Hakikat Cura Minimorum
Perhatian akan hal-hal kecil itulah yang dimaksud dengan ungkapan bahasa Latin cura minimorum yang menjadi judul tulisan ini. Cura minimorum mengacu pada kepedulian, ketelitian, kecermatan, dan kepekaan. Tulisan ini dipersempit pada cura minimorum yang terjadi di sekolah. Sebagai lembaga pembentukan dan pembinaan karakter, sekolah semestinya menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga baik peserta didik maupun guru memiliki cura minimorum.
Profesi guru merupakan suatu panggilan jiwa yang harus dijawab dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Setiap orang diharapkan melaksanakan panggilan yang dipercayakan kepadanya, termasuk panggilan menjadi guru. Tugas panggilan tersebut unik dan personal bagi setiap orang. Untuk mewujudkan panggilan itu, ia harus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, sekecil apa pun, dengan cermat dan teliti sesuai dengan kemampuannya.
Seorang guru seyogianya mendorong peserta didik untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik, rapi, dan secermat mungkin. Hanya dengan cara demikian, peserta didik diperbiasakan sejak dini, diajar untuk mengerjakan pekerjaan dengan baik dan cermat; dilatih menyadari dan melaksanakan tanggung jawab sebaik-baiknya tanpa terus-menerus diawasi.
Lebih dari itu, contoh dan teladan kesadaran guru terhadap tugasnya jauh lebih efektif daripada uraian dan instruksi. Kata-kata mendorong, tetapi teladanlah yang menarik. Misalnya, guru melatih peserta didik menulis dengan baik dan benar hanya melalui cara dia menulis secara baik dan benar pula. Termasuk di dalamnya bagaimana peserta memperhatikan garis pinggir di atas kertas, dan jarak antarkata agar kelihatan rapi. Contoh lain, seorang guru melarang peserta didik merokok, sebab lingkungan sekolah harus bebas rokok. Tetapi kalau sang guru sendiri merokok sambil mengajar maka peserta didik akan merasa bingung, manakah yang benar. Selain itu, guru menegur peserta didik yang terlambat, sementara dia sendiri sering terlambat masuk kelas.
Berkenaan dengan kesetiaan melaksanakan tugas panggilan sebagai guru, kita membutuhkan kepekaan atau kemampuan menanggapi setiap perkara atau peristiwa. Latihlah diri agar selalu mampu membaca warta terselubung dalam setiap benda atau peristiwa. Kata orang bijak, kita hendaknya mampu ‘menangkap tanda-tanda yang terselubung’ karena banyak hal yang sering tidak kelihatan dengan jelas tetapi dapat memengaruhi kehidupan kita. Dengan kemampuan tersebut, kita akan lebih cepat menanggapi kesedihan dan kegembiraan, keindahan dan kejelekan yang sering mengitari kehidupan kita. Dengan begitu, kita semakin peka terhadap penderitaan serta pelbagai tragedi kemanusiaan, termasuk di dalamnya kepekaan terhadap ketertinggalan peserta didik agar dapat mencari solusi yang tepat, bukan sebaliknya mencela dan menganggapnya bodoh. Melalui itu semua kita semakin manusiawi, semakin menjadi manusia.
Berkaitan dengan kepekaan tersebut, Mangunwijaya*** membuat analogi sebagai berikut. Alat pemotret melihat dan merekam melalui lensa-lensanya dalam pita film seluloid. Mata manusia melihat juga, tetapi bukan mata yang melihat, melainkan HATI-nya. Lensa alat pemotret menangkap peristiwa hanya secara teknis. Semua yang melewati lensa direkam, tanpa disaring. Asal masuk pasti direkam. Begitu juga mikrofon merekam semua bunyi yang masuk ke dalam pita. Rasanya teknis, dingin. Sebaliknya, kemampuan mendengarkan atau menyimak itu dapat dianalogikan dengan radio transistor. Ketika kita ingin menyimak berita RRI maka gelombang RRI yang disetel atau diseleksi, jadi bukan gelombang BBC London. Ketika menyimak khotbah di gereja atau di masjid, alat pendengaran kita berfokus pada khotbah, sedangkan bunyi atau suara lain di sekitarnya tidak dapat dihiraukan karena seleksi pendengaran kita berpusat pada khotbah tadi. Dengan demikian pada manusia, hatilah yang mendengarkan. Tidak semua bunyi didengarkan, tetapi hanya yang sudah diseleksi oleh suka dan tidak suka, oleh tafsiran. Hal inilah yang disebut manusiawi.
Penerapan Cura minimorum
Jika cura minimorum itu penting, lalu bagaimana menerapkannya? Dalam hal ini perlulah kita belajar dari pengalaman orang lain, juga dari pengalaman kita sendiri.
Pertama, para penderma atau donatur dari Eropa dan Amerika, misalnya, tidak selamanya adalah orang kaya. Akan tetapi, mereka mengorbankan belanja rutin keluarga mereka, secara tetap menyisihkan sebagian kecil penghasilan mereka agar dapat membantu orang-orang miskin di dunia ketiga, termasuk di Indonesia. Sementara, bantuan yang kita terima berupa uang sering disalahgunakan. Misalnya, dana beasiswa yang disalurkan melalui sekolah digunakan untuk tujuan lain. Sarana-sarana yang diberikan tidak dapat bertahan lama karena tidak diperhatikan perawatannya.
“Andaikata saya seorang penderma, saya akan merasa sedih sekali dan menangis, karena uang yang saya tabung dari yang sedikit itu disalahgunakan,” kata seorang teman kepada penulis. Di manakah tanggung jawab dan rasa terima kasih kita terhadap kebaikan orang? Bukankah mereka telah mengorbankan kesenangan pribadi demi kepentingan kita? Mari kita berguru kepada mereka!
Kedua, segala sesuatu yang kita lakukan dengan cermat dan teliti merupakan suatu kesempatan melatih diri agar kelak dapat bekerja secara bertanggung jawab. Tugas menyapu kelas, membersihkan parit, WC, taman, dan sebagainya tidak semata-mata suatu kewajiban jadi harus dilaksanakan. Sebaliknya, tugas itu menjadi peluang emas bagi kita untuk melatih diri demi sebuah pengabdian dan pelayanan. Seorang peserta didik pernah mengatakan, “Saya sudah membayar uang sekolah, mengapa harus bekerja lagi?” Kiranya pandangan peserta didik yang bersangkutan keliru. Di sini bukan masalah bayar atau tidak bayar! Bukankah pendidikan yang diterima di sekolah tidak dapat dibayar? Peserta didik hendaknya melihat setiap tugas dan pekerjaan, apapun kecilnya, sebagai bagian integral dari proses pendidikan di sekolah. Hal ini akan membantu seseorang untuk tidak bergantung mutlak pada belas kasih orang lain.
Ketiga, cara menulis dan membaca dengan benar sejak dini perlu juga menjadi perhatian para guru, terutama guru SD. Hal ini memang sederhana, tetapi hasilnya akan sangat berpengaruh bagi peserta didik pada jenjang pendidikan selanjutnya. Menulis dengan cara yang benar, termasuk menulis bersambung (dulu dikenal dengan ‘menulis elok’ atau ‘menulis indah’) yang sudah dilatih di kelas rendah, ternyata tidak dilanjutkan di kelas tinggi. Hasilnya, banyak peserta didik tidak mampu menulis dengan benar. Demikian pula, keterampilan membaca sejak dini kurang menjadi perhatian guru sehingga masih ada peserta didik yang mengalami kesulitan membaca pada jenjang di atasnya, bahkan di perguruan tinggi.
Keempat, hal kecil lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan ejaan dan tanda baca dalam penulisan surat, pengumuman, naskah soal ujian, apalagi dalam penulisan artikel, makalah, dan skripsi. Penggunaan ejaan dan tanda baca memang perkara kecil. Akan tetapi, penulisan artikel untuk publikasi atau penulisan skripsi, tesis, dan disertasi menuntut perlunya ketelitian dan kecermatan. Misalnya tanda titik, tanda titik dua, tanda koma, tanda titik koma, tanda petik awal dan akhir, tanda kurung pembuka dan penutup harus menghindari spasi. Selain itu, perlu diperhatikan kaidah penggunaan huruf kapital, huruf kecil, dan huruf miring. Demikian pula, kaidah penulisan kata, seperti penulisan bentuk di sebagai kata depan harus diikuti spasi, sedangkan di- sebagai prefiks ditulis serangkai. Misalnya di rumah bukan dirumah, di depan bukan didepan, dijual bukan di jual, dilarang bukan di larang.
Pengalaman menyunting artikel jurnal, membimbing dan menyunting skripsi mahasiswa terlihat bahwa kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca merupakan masalah yang parah. Hal ini cukup menyita waktu dalam melakukan revisi dan pengeditan. Sudah tiba saatnya, penggunaan ejaan dan tanda baca sesuai dengan pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD) mutlak dikuasai oleh setiap penulis, termasuk guru.
Kelima, kerja tangan seperti membersihkan kelas, membersihkan halaman, mencuci alat makan-minum, membersihkan kamar mandi, dan sejenisnya bukanlah pekerjaan yang hina. Bahkan sebaliknya tugas yang mulia, hal yang sangat manusiawi. Yang tidak bekerja adalah hina. Yang tidak bekerja adalah tidak manusiawi. Semut saja bekerja demi kelangsungan hidupnya, apalagi manusia yang berakal budi, makhluk yang termulia, mahkota ciptaan Tuhan. Bukankah manusia diciptakan untuk bekerja demi memanusiakan dirinya sebagai citra Allah?
Cura Minimorum Bagian Integral dari Profesi Guru
Perhatian akan hal-hal kecil (cura minimorum) termasuk bagian integral dari panggilan atau profesi seorang guru. Hal-hal kecil tersebut juga menjadi tanggung jawab seorang guru di sekolah yang, pada gilirannya, akan bermanfaat bagi peserta didik. Kesuksesan atau kegagalan kita turut pula ditentukan oleh hal-hal kecil itu. Jadi, bukan hal-hal yang besar dan spektakuler melainkan yang sederhana dan kecil, tetapi tidak mengurangi kemanusiawian kita. Meminjam sabda Sang Guru Ilahi, “... Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. ...” (Mat 25:23).
Cura minimorum berkaitan erat dengan tanggung jawab terhadap apa yang kita kerjakan sebagai perwujudan dari pofesi atau panggilan kita sebagai guru. Sebagaimana ilustrasi cerita di atas, hal-hal kecil hendaknya tidak diremehkan. Bukankah apa yang kita kerjakan sekalipun kecil, itulah yang akan menentukan mutu tanggung jawab kita, baik di depan orang banyak maupun di mata Tuhan? §


Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.
Dilahirkan di Lembata, NTT, 29 Agustus 1959. Memperoleh gelar Sarjana Filsafat di STFK Ledalero, Flores (1986) dan Magister Humaniora di Universitas Hasanuddin Makassar (2010). Guru di SMA Seminari San Dominggo di Flores, SMA Yoanes XXIII Merauke, dan beberapa sekolah lain. Sejak tahun 2006 hingga sekarang Dosen (Lektor) di Universitas Musamus Merauke. Editor Freelance pada Penerbit Lingkarantarnusa Yogyakarta. Karya yang sudah diterbitkan: Dasar-Dasar Sosiolinguistik (2011); Bahasa Indonesia: Meningkatkan Keterampilan Menyimak, Berbicara, Membaca, dan Menulis (2012); dan Dasar-Dasar Linguistik (2013) ketiganya oleh Penerbit Elang Mas Malang, dan Konsep-Konsep Dasar Pragmatik (Lingkarantarnusa, 2016).
** Mata kuliah yang membahas pengajaran agama, termasuk metode dan teknik pewartaan iman dalam agama Katolik.
*** Mangunwijaya, Y.B. (1991). Ragawidya: Religiositas Hal-hal Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius.


Tulisan ini diambil dari buku Cura Minimorum Meneroka Sempena #1 Kumpulan Artikel Pendidikan halaman 91-96

Kamis, 26 Oktober 2017

Manajemen Ta’an To’u Meneroka Sempena #3 Kumpulan Artikel Pendidikan

Manajemen Ta’an To’u Meneroka Sempena #3 Kumpulan Artikel Pendidikan

Manajemen Ta’an To’u Meneroka Sempena #3 Kumpulan Artikel Pendidikan


Detil Produk
0117
Judul: Manajemen Ta’an To’u Meneroka Sempena #3 Kumpulan Artikel Pendidikan
Terbit: Aug-17
Tebal: 214 halaman
Ukuran: 145x210 mm
ISBN: 978-602-6688-14-9
Harga: Rp50,000 

Kumpulan artikel pendidikan karya anggota Komunitas Guru Menulis. Memuat artikel-artikel dari 26 guru penulis dengan berbagai bidang mata pelajaran dan jenjang pendidikan.

Daftar penulis dan tulisannya:
Agung Sugiarto, S.Si, M.Pd. ~ Singapore is the Number One, How About Indonesia?
Agus Suranto, S.Pd, M.Sn. ~ Mengawal Pendidikan Anak Melalui Kepedulian Keluarga
Agustinus Gereda, M.Hum. ~ Sanksi terhadap Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Versus Hak Mengikuti Pembelajaran di Kelas
Ani Sumiani, S.S., M.Hum. ~ Bullying
Anisatul Illiyin, S.Si. ~ Menumbuhkan Semangat Literasi Melalui Gerakan Literasi Sekolah
Antonius Da Silva, S.Pd. ~ Memperkuat Gerakan Literasi di Daerah 3T Melalui Komunitas Guru Penulis
Arsenius Sele, S.Pd. ~ Tunjangan Sertifikasi Guru: Sudah Tepat Sasaran, (Belum) Tepat Guna, (Belum) Tepat Waktu
Diah Arumsasi, S.Pd., M.Pd. ~ Pendidik Menyikapi Perubahan Kurikulum
Frengky, S.Si., M.A. ~ Inovasi dalam Menyiasati Perubahan Kurikulum
G. Eko Kriswanto ~ Model Pembelajaran Berbasis Keunikan
Lorentina, S.Pd. ~ Menangkal Hoax dengan Semangat Literasi
Mega Sarianne, S.Pd. ~ Sudah Inspiratifkah Kita?
Melkior Muda Making, S.Pd. ~ Manajemen Ta’an to’u
Melyani Dwi Astuti ~ Hebatnya Sebuah Nilai
Noor Shofiyati ~ Guru Literasi, Kunci Menghadapi Perubahan Kebijakan
Nur Fatwa, S.Pd. ~ Membangun Budaya Literasi di Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Qusthalani, M.Pd. ~ Revitalisasi SMK Melalui Pemanfaatan Dana Desa
Raina Widyastuti, S.Pd. ~ Tiket Gratis Menuju Simposium Guru Tingkat Nasional
Rolis Awang Widodo, S.Si. ~ Sahabat “Si Asik”
Ruba Nurzaman, S.Pd. ~ Gerakan Literasi Sekolah, Pentingkah?
Samsiati, S.KM. ~ Memahami Peserta Didik Sesuai Gaya Belajarnya
Sumarsih, S.Pd. ~ Pendidikan Taman Siswa dan Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013
Tutwuri Yuliarti, M.Pd. ~ “1001” Cara Menumbuhkan Literasi di SD Nasional KPS Balikpapan
Wahyudi Hamarong, S.Pd. ~ Membangun Kedaulatan Bahasa Indonesia
Yosef Amasuba, S.Pd.Ind. ~ Peran Serta Gerakan Literasi Sekolah dalam Proses Belajar Mengajar
Zakarias Surat, S.Fil. ~ Mengendus Semangat Literasi Sang Pahlawan

Jika ingin terlibat dalam proyek ini, silakan baca keterangan selengkapnya di: Proyek Penulisan dan Penerbitan Artikel Pendidikan
Untuk pemesanan hubungi:
WA 08882882749
Facebook: https://www.facebook.com/GuruMenulis2016


Senin, 24 Juli 2017

Tema-Tema Sosiolinguistik oleh Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.

Tema-Tema Sosiolinguistik oleh Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.

Tema-Tema Sosiolinguistik oleh Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.



Detil Produk
Detil produk
Kode: 0102
Judul: Tema-Tema Sosiolinguistik
Penulis: Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.
Terbit: Jul-17
Tebal: 292 halaman
Ukuran: 145x210 mm
ISBN: 978-602-6688-03-3
Harga: Rp75,000

Salah satu kajian interdisipliner bahasa adalah sosiolinguistik. Pada hakikatnya sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam hubungannya dengan penggunaannya di dalam masyarakat. Oleh karena itu, sosiolinguistik mengkaji siapa yang berbicara, dalam (ragam) bahasa apa, kepada siapa, tentang apa, kapan, dan dengan tujuan apa. Kajian sosiolinguistik tersebut meliputi tiga komponen (yang saling berkaitan) yakni bahasa, masyarakat, dan hubungan bahasa dengan masyarakat.

Berkaitan dengan penggunaan bahasa di dalam masyarakat, bidang kajian sosiolinguistik berfokus pada topik-topik, antara lain bahasa dan usia, bahasa dan budaya, bahasa dan gender, bahasa dan etnisitas, bahasa dan kelas sosial, penggunaan bahasa di dalam dunia pendidikan, di media massa, di antara dokter dan pasien, di sidang pengadilan, percakapan antara penjual dan pembeli di pasar, dan sebagainya. Tema-tema yang dibahas dalam buku ini meliputi konsep dasar sosiolinguistik; variasi atau ragam bahasa; fungsi-fungsi bahasa; situasi, peristiwa, dan tindak tutur; bilingualisme dan diglosia; alihkode dan campur kode; interferensi dan integrasi; perubahan, pergeseran, kepunahan, dan pemertahanan bahasa; bahasa dan kebudayaan; bahasa dan gender; sikap bahasa dan pemilihan bahasa; kebijakan dan perencanaan bahasa; dan implikasi sosiolinguistik terhadap pendidikan dan pengajaran bahasa.

Daftar isi:
1. Konsep Dasar Sosiolinguistik
2. Variasi atau Ragam Bahasa
3. Fungsi-Fungsi Bahasa
4. Situasi, Peristiwa, dan Tindak Tutur
5. Bilingualisme dan Diglosia
6. Alih Kode dan Campur Kode
7. Interferensi dan Integrasi
8. Perubahan, Pergeseran, Kepunahan, dan Pemertahanan Bahasa
9. Bahasa dan Kebudayaan
10. Bahasa dan Gender
11. Sikap Bahasa dan Pilihan Bahasa
12. Kebijakan dan Perencanaan Bahasa
13. Implikasi Sosiolinguistik terhadap Pendidikan dan Pengajaran Bahasa

Jika ingin menerbitkan tulisan Anda menjadi buku ber-ISBN, silakan baca keterangan selengkapnya di: Proyek Penerbitan Buku

Untuk pemesanan hubungi:
WA 08882882749
Facebook: https://www.facebook.com/GuruMenulis2016

Minggu, 05 Februari 2017

Konsep-Konsep Dasar Pragmatik oleh Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.

Konsep-Konsep Dasar Pragmatik oleh Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.

Konsep-Konsep Dasar Pragmatik oleh Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.

Detil Produk
Kode: 0081
Judul: Konsep-Konsep Dasar Pragmatik
Penulis: Drs. Agustinus Gereda, M.Hum.
Terbit: Nov-16
Tebal: 226 halaman
Ukuran: 155x230 mm
ISBN: 978-602-1630-82-2
Harga: Rp 65,000

Buku ini berisi konsep-konsep dasar pragmatik yang mencakupi batasan dan ruang lingkup pragmatik; konsep dan latar belakang lahirnya pragmatik; pragmatik dan ilmu linguistik lainnya serta peranannya dalam kajian linguistik; prinsip-prinsip pragmatik; deiksis; tindak tutur; praanggapan; implikatur, referensi, dan inferensi;
prinsip kooperatif dan prinsip kesopansantunan; kompetensi dan aspek-aspek keterampilan pragmatik; dan pendekatan pragmatik dalam pemelajaran bahasa.

Daftar isi

Bab I Batasan dan Ruang Lingkup Pragmatik
Bab II Konsep dan Latar Belakang Lahirnya Pragmatik
Bab III Pragmatik dan Ilmu Linguistik Lainnya Serta Peranannya dalam Kajian Linguistik
Bab IV Prinsip-Prinsip Pragmatik
Bab V Deiksis
Bab VI Praanggapan
Bab VII Implikatur, Referensi, dan Inferensi
Bab VIII Teori Tindak Tutur
Bab IX Prinsip Kooperatif dan Prinsip Kesopansantunan
Bab X Kompetensi dan Aspek Keterampilan Pragmatik

Bab XI Pendekatan Pragmatik dalam Pemelajaran Bahasa


Jika ingin menerbitkan tulisan Anda menjadi buku ber-ISBN, silakan baca keterangan selengkapnya di: Proyek Penerbitan Buku

Untuk pemesanan hubungi:
WA 08882882749
Facebook: https://www.facebook.com/GuruMenulis2016