Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label mendidik dengan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mendidik dengan hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2015

Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati, Komunitas Guru Menulis

Ibu Bapak guru dan dosen, ke depan Komunitas Guru Menulis akan mengadakan serangkaian proyek penulisan, berupa lomba dan proyek penerbitan buku. Berikut adalah salah satu lomba yang akan kami selenggarakan.

1. Lomba Nulis Pengalaman Guru: Mendidik dengan Hati


Pengalaman yang Inspiratif

Setiap guru yang membuka diri dan membiarkan dirinya menjadi bagian dari kehidupan muridnya, pasti memiliki kisah inspiratif yang layak dibagikan kepada sesama guru atau khalayak. Saat Ibu Bapak menghadapi murid yang "unik"; saat Ibu Bapak menghadapi pilihan yang sulit antara memilih "membela" murid atau kepentingan lain (entah egoisme diri atau pihak lain); saat kegigihan dan ketekunan Ibu Bapak akhirnya membuahkan kemanisan setelah melewati masa-masa tanpa secercah pun harapan.

Atau jika Ibu Bapak pernah berhadapan dengan situasi yang menantang posisi keguruan Ibu Bapak dan Ibu Bapak dengan penuh tanggung jawab menghadapi tantangan tersebut, itu artinya sudah saatnya Ibu Bapak untuk melahirkan kisah yang menggugah.


Pengalaman Membaca Pengalaman

(Ini salinan postingan saya, Wakidi Kirjo Karsinadi, di Facebook 24 April 2015. Barangkali bisa menjadi gambaran apa yang dimaui oleh kontes ini.)

Membaca naskah-naskah calon buku KAPUR & PAPAN Cerita tentang Pengelolaan Kelas, saya belajar 1 hal yang menjadi benang merah kisah-kisah yang menurutku inspiratif sehingga [saya nilai] layak terbit:

Guru akhirnya "berhasil" meruntuhkan konsepsi hubungannya dengan muridnya yang semula, yang cenderung satu arah, dan menggantikannya dengan yang baru, dua arah, tidak lagi mengajar namun terlebih belajar dari murid .... sekalipun pada awalnya murid terkesan hanya menjadi sumber masalah dan sumber kejengkelan.

Keterbukaan dan kerelaan membuka hati dan diri menjadi kunci pembuka hubungan yang buntu ... dan banyak yang akhirnya menikmati sebuah level hubungan baru yang amat bermakna dengan muridnya. Guru demikian biasanya memerlukan perjuangan awal untuk mau merendah dan "tidak memaksakan paradigmanya" dalam hubungan mereka ... untuk akhirnya memasuki paradigma hubungan yang baru. Dan tidak jarang guru harus mau berkorban untuk bisa memasuki wilayah-wilayah relasi yang baru.

Bentuk dan Gaya Tulisan: Kisah Pengalaman bukan Paparan Teori atau Wawasan

Ini adalah tentang sepenggal pengalaman. Sepenggal saja dari begitu banyak pengalaman yang Ibu Bapak pernah alami. Fokuslah pada 1 peristiwa atau kejadian, pada seorang murid atau segerombolan murid, atau pada satu pergumulan batin.

Dan ini adalah tentang pengalaman, tentang berkisah, ini tentang curhat, bukan tentang paparan teori atau suguhan keluasan wawasan. Ini tentang Ibu Bapak sendiri, kejadian yang Ibu Bapak alami, bukan teori atau metode yang Ibu Bapak pelajari, juga bukan tentang kritik atas kebijakan.

Boleh tentang kejadian milik sendiri, atau milik orang lain pun juga boleh.

Prinsip Kehati-Hatian dan Hormat

Ketika menyangkut orang lain dan kisah Ibu Bapak merupakan sesuatu yang "sensitif", sebaiknya minta izinlah kepada yang bersangkutan untuk mengisahkannya. Atau paling tidak, mungkin Ibu Bapak perlu menyamarkan nama agar di kemudian hari tidak menimbulkan ketidakenakan ketika naskah Ibu Bapak sudah diterbitkan menjadi buku.

Sudut Pandang

Gunakan sudut pandang dan tingkat keformalan dengan konsisten. Kalau menggunakan sudut pandang orang pertama non formal, gunakan aku secara konsisten. Atau saya untuk menciptakan situasi yang sedikit lebih formal. Hindari penggunaan aku dan saya secara bersamaan dalam satu naskah, kecuali salah satunya digunakan dalam kutipan langsung.

Gaya Penulisan Narasi

Gunakan gaya bahasa bercerita atau narasi. Biarkanlah pembaca ikut mengalami kejadian yang Ibu Bapak alami. Biarkanlah pembaca ikut melihat gambar kejadiannya, mendengar suara yang ditimbulkannya dan merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Biarkanlah pembaca melihat kejadiannya sebagaimana Ibu Bapak melihatnya, mendengar sebagaimana Ibu Bapak mendengar, dan merasakan apa yang Ibu Bapak rasakan saat mengalami kejadian.

Kebaruan Ide Cerita

Kalau Ibu Bapak pernah mengikuti lomba kami sebelumnya, TIDAK DIPERKENANKAN menceritakan kisah atau kejadian yang sama yang pernah dikisahkan dan dikirimkan ke kami. Ambil pengalaman yang lain.

Perbaikan Kualitas Naskah

Bagi Ibu Bapak yang pernah mengikuti lomba yang kami selenggarakan, upayakan kualitas tulisan Ibu Bapak lebih baik daripada naskah yang dikirimkan kepada kami sebelumnya. Mulai tata struktur cerita dengan efektif. Mulai perhatikan kaidah berbahasa, ejaan dan tata bahasa. Miringkan istilah yang tidak baku atau istilah asing. Bedakan cara penulisan awalan dan kata depan untuk "di" dan "ke". Hindari spasi berlebihan. Jangan tambah spasi setelah tanda petik awal dan sebelum tanda petik akhir, juga sesudah tanda kurung awal dan sebelum tanda kurung akhir. Juga jangan tambahkan spasi sebelum koma atau titik dua atau titik koma. Tunjukkan bahwa Ibu Bapak memang belajar dan mau maju bersama kami.

Untuk EYD 

Ibu Bapak bisa cek di http://kbbi.web.id/ == kbbi online atau gunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring) == kbbi offline atau http://kateglo.com/.

Format Pengetikan

Ketik pada Word dengan ukuran kertas A4 margin SEDANG dan spasi tunggal (1). Gunakan Font Type Times New Romans atau Calibri. Atau dengan kata lain, tidak usah diatur-atur. Panjang tulisan HARUS 3-5 halaman atau antara 1.600 sampai 2.600 kata.

Peserta Lomba

Guru atau dosen. Baik di sekolah formal, non formal maupun informal. Boleh juga kepala sekolah atau pengawas.

Pengiriman naskah

Diemail ke akun lomba.nulis.guru@gmail.com dalam file terpisah (lampiran). Nama file: LNPG-2015-Nama Penulis - Judul Naskah. Contoh nama file: LNPG-2015-Wakidi Kirjo Karsinadi - Berburu Semut di Lobang Karang. Jangan menuliskan identitas apa pun di dalam naskah.

Deadline

Naskah diemail ke lomba.nulis.guru@gmail.com paling lambat 30 November 2015 pukul 23.59 WIB.

Biodata Penulis

Bersamaan dengan pengiriman naskah, peserta wajib menyertakan BIODATA PENULIS pendek (maksimal 100 kata) dalam file terpisah dengan dinamai Nama Lengkap Beserta Gelar. Jangan memamerkan diri dalam biodata ini tetapi cukup cantumkan informasi paling penting. Kali ini kami akan ketat membatasi panjang biodatanya. Kalau sudah punya banyak sekali pengalaman mengajar? Pilih yang paling ingin ditonjolkan dan ditambah keterangan "pernah mengajar di 25 sekolah lain". Kalau sudah menerbitkan ratusan buku? Sebut saja yang paling membanggakan dan ditambah "ratusan buku lain".

Hasil Lomba

Hasil lomba akan diumumkan di Grup Facebook Guru Menulis, Lomba Nulis Pengalaman Guru, fanpage Facebook Komunitas Guru Menulis pada tanggal 15 Januari 2016.

Akan dipilih 3 pemenang.
Pemenang pertama akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp300.000.
Pemenang kedua akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp200.000.
Pemenang ketiga akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp100.000.

Akan dipilih naskah yang layak terbit untuk diterbitkan. Untuk setiap naskah yang diterbitkan, peserta wajib membeli 2 bukunya sendiri.
Sertifikat akan diberikan untuk naskah yang memenuhi syarat dan akan dikirimkan bersamaan dengan buku yang sudah terbit dan cetak.

Kami ingin lebih baik

Untuk itu kami mengajak Ibu Bapak untuk menyiapkan tulisan sebaik mungkin. Ambil waktu yang cukup untuk mulai menulis. Yang biasa kerja semalam, cobalan pilih semalam itu sekarang bukan saat deadline tinggal beberapa jam. Ingatlah ketika Ibu Bapak mengatakan kepada murid agar mereka lebih baik! Yuk, kita sendiri juga menjadi lebih baik!

Kriteria Penilaian Naskah

1. Bobot Dampak

Yang dimaksud dengan bobot dampak adalah, seberapa inspiratif kisah tersebut bagi pembaca. Seberapa kuat kisah menyentuh hati dan menggerakkan pembaca (guru lain) untuk juga “menggerakkan hatinya” di saat mengajar.

Bobot dampak ini menjadi pertimbangan paling penting di dalam penilaian. Bobot dampak ini akan membedakan kisah ini dari sekadar keterampilan dan kelihaian bernarasi. Narasi yang baik memang harus namun isinya atau dampaknya yang paling menentukan penilaian.

2. Kedalaman refleksi penulis.

Kemampuan penulis merefleksikan dan mengenali gejolak yang berlangsung di dalam dirinya yang terungkap di dalam kisah, dan sejauh mana penulis belajar dari dan mengolah pengalaman yang dikisahkan untuk kemudian bersikap dengan tepat demi kemajuan diri pendidik dan anak didik.

Kedalaman refleksi akan terbaca dalam kisah dan membuat kisah itu menjadi lebih berbobot.

3. Penyajian, mencakup beberapa kriteria

a. Struktur Cerita: mengalirkah, runtutkah, mudah diikuti jalan cerita dan logika ceritanya?
b. Gaya atau kekuatan bahasa: sejauh mana penulis mampu mengeksplorasi kekayaan bahasa untuk menyampaikan cerita. Tentu termasuk di dalamnya: penguasaan tata bahasa dan kaidah berbahasa, pemilihan kata, gaya berkalimat/berbahasa, punctuation (tanda baca),
c. Bobot sebagai sebuah cerita: Menarikkah tulisan yang ada sebagai sebuah cerita untuk dibaca.

Poin 3 ini akan membuat isi atau materi pengalaman yang dahsyat menjadi sebuah kisah yang sangat indah dan semakin menyentuh. Kalau materi sudah sangat baik, namun kemampuan bernarasinya kurang, maka potensi dampak yang dimaksudkan menjadi kurang kedahsyatannya. Jadi, meskipun yang paling penting adalah dampak, namun narasi tetap harus diupayakan baik. Narasi yang baik membuat kisah menjadi menarik dan menghibur untuk dibaca. Kisah jadi "nendang" dan "menggigit" dan dampaknya menjadi sangat tajam serta mengena.

4. Kebutuhan Editing

Sejauh mana naskah memerlukan proses editing untuk menjadi layak terbit. Tanpa editing sama sekali? Dengan sedikit editing? Perlu banyak editing? Atau harus dirombak sama sekali?


Salam Menulis


Wakidi Kirjo Karsinadi
Koordinator Komunitas Guru Menulis

Rabu, 01 April 2015

Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua



‪#‎mengenalSangJuara‬ (2)

Praktik mengguru pernah ditelanjangi dengan sangat terbuka tanpa tedeng aling-aling oleh Bapak Rai Sujaya dalam tulisannya yang berjudul "Guru Mendidik dan Mengajar, Yang Mana?" dalam buku Kapur & Papan Kumpulan Kisah Pengalaman Guru yang Jujur dan Menggugah.

Jujur Ibu Bapak, ketika harus memilih, (1) anak dari keluarga baik-baik, kaya lagi, tampan, cerdas, pintar, baik hati, penuh pengertian, atau (2) bermasalah, nakal, hampir tidak pernah melakukan yang benar, pembuat onar. Mana yang Ibu Bapak pilih?

Situasi yang kedua itulah yang dihadapi Ibu Udayati. Bukan saja ia berhadapan dengan anak yang menjengkelkan, tetapi juga ancaman orang tua murid lain yang akan menarik anaknya dari sekolah itu seandainya si pembuat onar masih ada di sekolah itu. Apa yang akan Ibu Bapak lakukan ketika berhadapan dengan situasi yang sama?

Jalan paling gampang tentu saja mengeluarkan anak nakal itu. Tetapi kondisi anak ini justru menghunjamkan serangan tepat di titik hati tempat panggilan keguruan itu berada. Ibu Udayati memilih menyelamatkan si anak jahanam, meski ia tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa digenggam untuk meyakinkan pilihannya, dengan risiko yang sudah sangat jelas menanti kegagalannya.

Seorang pendidik memang harus menjadi guru untuk muridnya, seperti yang ingin dikatakan oleh buku tulisan Bapak St Kartono. Di sini juga Ibu Udayati memilih menjadi guru untuk muridnya, murid yang tersingkirkan, murid yang tiada memberikan seberkas pun harapan. Seorang pendidik berani mengambil risiko bahkan yang paling menakutkan sekali pun, termasuk ancaman orang tua.

Kisah ini mengingatkan kita, para guru, bahwa tugas kita adalah membaikkan yang belum baik, memintarkan yang belum pintar, menyantun yang memerlukan kasih, mengayakan yang belum kaya. Bukan memilih anak yang sudah pintar, yang sudah baik, yang sudah santun.

Dan ... pilihan Ibu Udayati ternyata tidaklah sia-sia. Apa yang dilakukannya dan bagaimana akhir kisahnya, baca saja tulisannya berjudul "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam buku Cinta Sang Guru.




Baca juga:
Juara 1 LNPG 2013

Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua



‪#‎mengenalSangJuara‬ (1)

Apakah Ibu Bapak sudah mengenal mereka yang pernah juara di dalam lomba ini?

Ada Ibu Yulia Loekito dengan tulisan berjudul "Edo". Berkisah tentang pengalaman dahsyat namun tidak kalah dengannya adalah pergumulan batin mengguncangkan sangat hebat.

Melalui kisah ini Ibu Bapak akan tahu bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir seorang pendidik. Tentu prestasi selayaknya membuat kita bangga dan semakin memberikan energi bagi kita untuk melangkah maju. Namun ketika prestasi menjadi menjadi titik akhir dan kita hanya berhenti di situ, sebenarnya kita sedang tersesat dan teperdaya. 

Pendidik yang mumpuni harus melangkah melampaui pencapaian prestasi. Ia harus rela membiarkan anak didiknya mandiri dan "melupakan" kita, setelah kita mengalami masa-masa demikian indah dan membanggakan dengan mereka, betapa pun kita akan merasakan berbunga-bunga karena kita sedang dan pernah membuat arti bagi hidup anak-anak kita. Tetapi yang namanya bunga, seindah apa pun, ia hanyalah tetap bunga, memesona namun ia bukanlah buahnya. Buah pendidikan bukanlah ketika anak didik kita bisa menyampaikan rasa terima kasih atas jasa-jasa kita, tetapi ketika mereka menjadi pribadi yang mandiri dan tidak lagi tergantung kepada kita.

Dalam kisah ini, Ibu Bapak akan menemukan kisah "patah hati" yang sangat bernilai dan bermakna.

Baca selengkapnya di buku Cinta Sang Guru.

Kalau Ibu Bapak ingin menulis "dengan benar" harus baca kisah ini. Tanpa pernah membaca kisah semacam ini, sangat diragukan Ibu Bapak bisa melahirkan kisah yang benar-benar berarti.

Wakidi Kirjo Karsinadi


Dapatkan buku Cinta Sang Guru seharga Rp 65.000 (ditambah ongkos kirim)

Kamis, 02 Oktober 2014

Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-muridnya: Alegori Lilin



Buku dapat dipesan dengan menghubungi email komunitas.guru.menulis@gmail.com atau lingkarantarnusa@gmail.com atau via akun Facebook Lomba Nulis atau melalui sms ke 0888-2882-749 (WhatsApp) atau (0274) 8006655 via pin BB 75FC926E.


Lilin

kecil, lembut, mudah patah
terbuat dari helai-helai benang
dicelupkan dengan ketekunan dan kesabaran
dalam panasnya parafin
berulang-ulang, berkali-kali

meski kecil
kau sanggup menghalau kegelapan
memberi terang
memberi harapan

meski kecil
kau berani memberikan diri
hangus habis dimakan api
demi mereka yang membutuhkan cahayamu
dengan demikianlah kau berarti


Alegori Lilin

Buku ini diberi judul Lilin 71. Seperti sebuah lilin, guru menyalakan kasih dan memberi diri. Guru adalah cahaya yang meski lemah seperti lilin, namun terang dan kelembutannya memberikan harapan dan membukakan wawasan. Nyala lilin itu tetaplah menyala saat guru di ruang kelas, dari pukul 7 pagi hingga pukul 1 siang. Demikianlah Lilin 71.

Lilin menyala 24 jam

Tentu saja lilin itu tetap menyala di ruang kelas atau sekolah, tidak hanya dari pukul 7 sampai pukul 1, tetapi juga di rumah, dari pukul 7, sampai pukul 7 kembali. Itulah yang dikisahkan pak Petrus Surjiyanta dalam tulisan “Mendidik dengan Hati” dan ibu Giyanti dalam tulisan “Mengukir Masa Depan”. Mereka harus tetap menyalakan kasih dan meluangkan waktu untuk juga berkunjung ke rumah siswanya di sore bahkan di malam hari untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpa muridnya.

Lilin itu lembut

Lilin juga menggambarkan sebuah kelembutan hati. Guru semestinya juga memiliki kelembutan hati, suatu kepekaan lebih terhadap kondisi dan situasi siswanya. Tanpanya guru bisa-bisa malahan membunuh potensi siswa. Itulah yang mau disampaikan bu Bening Parwita Sukci dalam tulisan “Guru: Doraemon atau Pembunuh?”

Suster Vincentine dalam “Kerinduan Efrem” juga memperlihatkan bahwa kelembutan seorang membuatnya mampu menyelami “kenakalan” Efrem dan “berhasil” mentransformasi “bocah nakal” itu menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan. Kelembutan yang tulus juga masih tetap bisa dirasakan oleh anak, sekalipun dalam diri seorang guru yang terkesan galak seperti bu Evayanti Christina.

Kelembutan, itulah yang disadari perlu ada dalam diri Robertus Kristian Era Purnama, meskipun kesadaran itu datangnya agak terlambat. Sebagai guru muda ia sempat bersikap keliru terhadap muridnya namun syukurlah bahwa kesalahannya itu justru menggedor pintu kesadarannya.
Meskipun pertemuannya dengan murid-muridnya boleh dibilang sebagai “kebetulan”, dengan kelembutan hatinya  pula Frater Yoseph Didik Mardiyanto mampu mengenali berbagai bahasa kasih yang dituntut anak-anak didiknya.

Lilin memberi terang

Lilin itu memberi terang. Pak Jaka Prastana dalam segala kegelisahannya juga berusaha memberi terang, tidak hanya kepada murid, namun juga orangtua mereka, lewat perannya sebagai guru Agama Katolik.

Terang yang terpancar juga membawa terang budi pada anak didik. Itulah yang dikisahkan Pak Anthonius Supriaryaka tentang salah satu muridnya yang pintar namun dengan penuh kesadaran memilih jurusan IPS yang tidak favorit. Anak-anak yang sudah merasakan cahaya terang juga ditunjukkan oleh kepedulian satu sama lain dan kebersahajaan mereka dalam kisah “Kepedulian Hati untuk Sahabat” tulisan Bapak Gregorius Hardiyanto.

Cahaya terang itu pula yang dipancarkan oleh Ibu Theresia Etik Lusiani yang terpanggil untuk mendampingi calon perawat. Ia berusaha menumbuhsuburkan hati nurani mereka lewat sharing pengalamannya sendiri bahwa amat penting bagi seorang perawat untuk peka terhadap suara hati. Demikian pun Ibu Bernadeta Tumirah, yang dengan disiplin dan sabar mengajari anak-anak tuna rungu mendapatkan jalan terangnya untuk bisa berbicara.

Lilin memberi diri

Untuk memberi terang, lilin membiarkan dirinya terbakar habis. Ini adalah lambang pemberian diri. Pemberian diri itu membuahkan rasa aman. Demikianlah  yang dialami murid-murid Frater Giovanni Mahendra Christi. Pemberian diri ini sangat jelas terlihat dalam diri ibu Johana Rosalia Nirmala, yang dengan segala keterbatasannya, deraan alergi pernapasannya, ia mensyukuri tiap detik hidupnya dengan setia menyemai kebaikan ke dalam diri para seminaris yang diajarnya. Juga Ibu Ratih Kristiani, kadang ia pun didera rasa malas, namun ia selalu menemukan suka cita saat memberikan dirinya kepada anak didiknya, mengajar dan bergurau dengan mereka.

Pemberian diri Ibu Theresia Hendry sebagai guru Character Building telah membuatnya menjadi teman curhat yang asyik bagi murid-muridnya. Dan ia menemukan bahwa dalam setiap langkah kecil yang dijalaninya, Tuhan menunjukkan kekayaan makna yang memenuhi hatinya. Hal yang sama juga dialami Ibu Oktivia Astuti yang merelakan dirinya dijadikan tempat curhat bagi murid-muridnya.

Ibu Cicilia Wahju Djajanti akhirnya juga menemukan makna hidupnya dalam pemberian diri untuk bisa mencintai mereka yang tidak bisa dicintai, yang miskin, yang kurang dalam hal kompetensi dan perilaku. Pemberian diri Ibu Effie Wahono sebagai guru homeschooling telah mentransformasi anak-anak didiknya, yang sebagian akan mustahil berhasil di sekolah formal-normal, menjadi anak-anak yang membanggakan.

Lilin, teruslah menyala

Lilin sering diterpa angin. Namun lilin semangat guru hendaklah tetap menyala. Itulah yang perlu dilakukan oleh Ibu Susiwi Triwahyuni. Meskipun dipercaya untuk mendampingi anak-anak di kelas nomor 2, ia tetap menyalakan lilin semangatnya. Berbagai upaya dilakukannya sehingga Tuhan tidak menutup mata dan menjadikan mukjizat itu nyata.

Demikian pula dengan Bapak Nicolaus Dolly Simon Kusdwiutomo. Ia bercita-cita menjadi penerbang namun Tuhan mengutusnya untuk menyalakan kasih terhadap lingkungan yang akhirnya memberikan buah yang manis bagi murid dan dirinya sendiri.

Pak Sutikno dipercaya untuk mengelola sebuah sekolah di desa yang jumlah muridnya belakangan selalu berkurang karena masyarakat lebih memilih sekolah negeri yang gratis. Namun nyala semangat yang ditularkannya dalam berbagai kreativitas akhirnya berhasil mendatangkan murid-murid yang dari tahun ke tahun semakin banyak.

Beda lagi dengan Pak Roni Baskoro. Ia merasa tidak memiliki jasa apa-apa yang bisa dibanggakan namun kesetiaannya untuk mempercayai muridnya yang dikenal usil dan nakal telah mengantarkan anak itu menjadi “orang” yang berhasil.

Kesetiaan dan ketekunan serta kesungguhan secara konsisten diperjuangkan oleh Bapak Joseph Kristiandinata. Sepuluh tahun pengabdiannya sebagai guru komputer telah membuahkan rasa syukur yang tak terkira. Salah satunya karena mantan-mantan muridnya itu sekarang juga sudah menjadi guru komputer di pelosok.

Lilin memerlukan udara

Untuk terus menyala, lilin membutuhkan udara. Udara bagi lilin melambangkan inspirasi dan kekuatan yang terus diperlukan oleh guru. Bapak Fernandes Nato menggali inspirasi itu dari seorang Sokrates dan dari Tuhan Yesus sendiri. Namun ia juga dilimpahi inspirasi dari murid-muridnya yang menjadi guru kehidupannya.

Sebagai sumber kekuatan, Ibu Veronica Silalahi tidak pernah memulai harinya tanpa meminta kekuatan dari Tuhan. Sebagai dosen baru, ia juga terus belajar agar bisa mendampingi mahasiswanya dengan optimal. Doa dan usaha dipadukannya menjadi sumber keberhasilan dalam menjalankan perannya.

Masih muda, namun mengajar Alkitab bahkan untuk banyak orang tua. Itulah yang dikerjakan Ibu Theresia Evy Christina. Ada saatnya ia merasa benar-benar harus berjuang untuk bersabar dan mengasihi. Saat di mana ia harus meminta Tuhan untuk meminjamkan hati-Nya.

Helai-helai benang itu menjadi sebuah lilin

Helai-helai benang harus dicelupkan ke dalam cairan parafin panas agar menjadi sebuah lilin. Menjadi guru pun membutuhkan dilaluinya serangkaian proses pembentukan, bahkan kadang menyakitkan. Itu yang dialami oleh tokoh yang diceritakan oleh Bapak Herman JP Maryanto. Untuk menjadi guru, Maryani harus menelan kepedihan karena pengorbanan orangtuanya yang demikian besar. Namun setelah cita-citanya tercapai, Tuhan malah menghendaki lain.

Ibu Yessica pun demikian. Ia tidak pernah ingin menjadi guru. Setelah beberapa kali pindah pekerjaan akhirnya ia menyadari bahwa Tuhan memanggilnya menjadi seorang guru.
Pengalaman pahit ternyata berbuah manis. Itulah yang dialami Bapak Arcadius Benawa. Tidak lulus ujian sempat membuatnya patah semangat. Namun pengalaman akan keagungan Tuhan di gunung Bromo menyadarkannya bahwa ia harus bersinar terang seperti matahari yang terbit memancarkan sinarnya.

Proses demi proses, dari satu sekolah ke sekolah yang lain telah membawa Ibu Muji Rahayu kepada pengalaman-pengalaman baru yang menantang dan menggairahkan. Meskipun “hanya” menyandang peran sebagai guru TK/SD ia sempat merasakan menjadi seorang “dosen”.

Yogyakarta, 17 Oktober 2014
Wakidi Kirjo Karsinadi

Rabu, 01 Oktober 2014

Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-muridnya

Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-Muridnya merupakan sebuah buku kumpulan tulisan dari 31 guru dan bernuansa Kristiani.




Spesifikasi:
Judul: Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-Muridnya
Pengarang: 31 guru
Penerbit: Penerbit dan Percetakan Lingkarantarnusa
Terbit: Oktober 2014
Tebal: 280 halaman
Penyunting: Wakidi Kirjo Karsinadi dan Yulia Loekito
Perancang Sampul: Rio Frederico
Penata letak: Wakidi Kirjo Karsinadi
ISBN: 978-602-1630-16-7
Harga: Rp 60.000 (harga sewaktu-waktu bisa berubah)

Buku dapat dipesan dengan menghubungi email komunitas.guru.menulis@gmail.com atau sms ke 0888-2882-749 (WhatsApp).


Pengantar Penerbit

Perubahan Zaman Menantang Pendidikan

Dunia berubah amat sangat cepat. Kalau melihat ke belakang 20 tahun yang lalu, kita tidak pernah membayangkan apa yang sekarang ini terjadi: sebagian besar dari kita sekarang ini tidak bisa hidup lepas dari gadget. Seluruh dunia ini sekarang ini ada dalam genggaman kita. Dengan sebuah alat yang disebut smartphone, kita bisa melangsungkan banyak sekali hal: menjelajah dunia, berkomunikasi lewat berbagai social media, twiter, FB, Instagram, dan berbagai aplikasi komunikasi, BBM, WhatsApp, Line, WeChat, Kakao Talk, mengendalikan bisnis, melakukan transaksi, menikmati hiburan, mendengarkan musik, nonton video, tv, namun juga belajar, membuat dampak, membangun citra, dan tak lupa juga melangsungkan kejahatan dan berdosa. Itu adalah salah satu contoh bagaimana dunia kita ini benar-benar berubah.

Perubahan ini sedemikian konkret dan menuntut pendidikan juga berubah. Rm Prof. Dr. A. Sudiarja, SJ (2014), dalam bukunya Pendidikan dalam Tantangan Zaman mencatat beberapa tantangan yang dihadapi dunia pendidikan. Pendidikan sekarang ini hampir meninggalkan ruh pendidikan itu sendiri, yakni humanisasi dan hominisasi atau memanusiakan anak didik, dan lebih berorientasi kepada pendidikan vokasional dan profesional. Aspek humaniora pendidikan mulai bergeser kepada pendidikan yang berorientasi pasar, yang lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu pragmatis-utilitarianis. Pembinaan watak yang menjadi ciri pendidikan tradisional mulai ditinggalkan, dan baru akhir-akhir ini pemerintah mulai sadar untuk memerhatikan soal watak atau karakter ini, namun kemunculannya lebih cenderung sebagai slogan politis. Perubahan-perubahan yang dilakukan lebih bersifat reaksioner terhadap persoalan-persoalan konkret yang dihadapi tanpa mempersoalkan ulang pertanyaan dasar pendidikan.

Wajah Muram Pendidikan

Tantangan pendidikan semakin terasa ketika kita melihat capaian bangsa ini setelah enam dekade lebih merdeka namun hanya menyuguhkan tatanan masyarakat yang semakin semrawut, para petinggi bangsa yang cenderung korup, keutuhan bangsa diciderai oleh gerakan radikalisme yang tidak toleran terhadap perbedaan, semangat hedonis dan konsumeris yang amat kental menguasai geliat peradaban bangsa, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar antara segelintir orang kaya dan mayoritas rakyat yang kehilangan daya, anak-anak didik yang setiap tahunnya tidak pernah absen diberitakan terlibat tawuran di berbagai media, terseok-seoknya pembangunan hukum yang adil. Terhadap semua wajah buruk yang mewarnai bangsa ini, sebuah pertanyaan layak dikaji: di manakah beradanya pendidikan selama ini?

Guru Masih Menjadi Kunci

Menurut buku 21st Century Skills Learning for Life in Our Times tulisan Bernie Trilling dan Charles Fadel, kita perlu berlatih menjawab 4 buah pertanyaan untuk lebih memahami perubahan yang menimpa pendidikan dan pembelajaran:
1. Akan seperti apakah dunia ini 20 tahun yang akan datang ketika anak-anak didik kita telah lulus sekolah meninggalkan bangku kuliah dan memasuki dunia? Bandingkan dengan apa yang sudah kita alami selama 20 tahun terakhir ini dan semua perubahan yang telah kita saksikan terjadi.
2. Kompetensi atau kemampuan seperti apa yang dibutuhkan anak-anak kita untuk berhasil dalam dunia yang kita bayangkan akan terjadi 20 tahun yang akan datang?
3. Kemudian: coba pikirkan kembali pengalaman kita sendiri ketika kita benar-benar bisa belajar secara maksimal dan optimal. Kondisi-kondisi seperti apa yang membuat diri kita bisa belajar secara optimal?
Sebelum ke pertanyaan keempat: lihat kembali jawaban kita atas 3 pertanyaan tadi dan pikiran bagaimana sebagian besar siswa menghabiskan waktu mereka setiap hari di sekolah. Kemudian pertanyaan terakhir:
4. Seperti apakah semestinya pembelajaran yang kita langsungkan kalau mengingat jawaban-jawaban kita atas 3 pertanyaan tadi?

Nah terhadap pertanyaan ketiga, rata-rata guru yang diteliti dari tahun ke tahun memberikan jawaban yang kurang lebih sama: Kondisi yang membuat para guru itu pada masa lalu yang dialaminya bisa belajar optimal adalah:
1. Tingkat tantangan pembelajaran yang sangat tinggi, yang sering muncul dari passion pribadi, dari dalam;
2. Sama tingkatnya dengan jawaban pertama adalah: tingkat perhatian dan dukungan eksternal yang juga sama-sama sangat tinggi: misalnya seorang guru yang tuntutannya tinggi namun mengasihi, guru yang tegas keras namun penuh perhatian atau memberikan pendampingan belajar yang inspiratif;
3. Dibukanya lebar-lebar bagi terjadinya kesalahan, dengan dorongan untuk belajar dari kesalahan yang dibuat untuk berjuang menghadapi tantangan yang ada.

Nah di sinilah tertemukan kata kunci: Guru masih memegang peran kunci. Ternyata, dalam kondisi atau dengan latar belakang budaya seperti apa pun, dan dari waktu ke waktu, meskipun situasi dan kondisi yang dihadapi berbeda, meskipun terjadi perubahan yang dahsyat, peran guru tetap sentral dalam dunia pendidikan. Seorang guru yang bisa memberikan dan membangkitkan tantangan yang memang menantang bagi anak didik, yang berhasil membangkitkan semangat juang anak didik dari dalam anak didik itu sendiri; seorang guru yang bisa menunjukkan kepedulian dan perhatian; tegas, menuntut, namun mengasihi, dan seorang guru yang amat sangat mengerti bahwa dalam proses belajar kesalahan adalah salah satu anak tangga yang harus dilewati anak untuk belajar.

Guru-guru Penebar Harapan

Nah buku kecil ini anggap saja sebagai sebuah perayaan “kemenangan” para guru. Kemenangan karena buku ini bercerita tentang kepuasan meskipun harus didahului dengan kecemasan dan pergumulan serta pergulatan, tentang kegembiraan dan harapan meskipun tantangan dan perubahan melanda sedemikian hebat. Karena guru ternyata masih memegang kendali bagi menggelindingnya roda pendidikan – seperti apa pun zaman dan situasi yang dihadapi.

Dalam buku ini ditampilkan 31 kisah jujur dari para guru dan dosen, bapak dan ibu, serta mbak dan mas, yang dalam berbagai keterbatasan namun tetap berusaha teguh berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya, yang terus berupaya untuk menjadi pendidik, bukan hanya pengajar. Mereka bukan guru-guru super, mereka hanyalah manusia biasa, penuh dengan kelemahan dan tidak alpa dari kesalahan, tetapi mereka siap terbuka untuk belajar dari kesalahan dan melangkah maju kepada yang lebih baik.

Dalam bahasa yang sederhana, kisah-kisah mereka demikian menggugah. Kisah-kisah mereka memberikan harapan dan menjanjikan kepastian bahwa ketika guru tetap teguh pada komitmen untuk menjadi pendidik, betapa pun penuh tantangan, cepat atau lambat mereka akan memetik buah yang manis. Mereka sudah membuktikannya.

Ketiga puluh satu kisah ini dikelompokkan ke dalam 5 tema: refleksi, murid-murid istimewa, pelangi kasih-Nya, meneladan Sang Guru, dan perjalanan dan panggilan hidup.  Dalam setiap tema, Ibu Yulia Loekito membuat renungan pengantar yang menjadi simpul dari berbagai sharing pengalaman yang ditulis oleh para guru.

Daftar Tulisan:

Refleksi

Kerinduan Efrem ~ Sr. M. Vincentine Etty Indriaswati, SPM. S.Sos.

Murid-Muridku Guru Kehidupanku ~ Fernandes Nato, S.S.

Guru: Doraemon atau Pembunuh? ~ L. Bening Parwita Sukci

Saudaraku, Buatlah Aku Tersenyum ~ Y. Jaka Prastana, S.Pd.

Awas! Ms. Eva Galak! ~ Evayanti Christina. S.Si.

Siswa IPS Juga Berprestasi ~ Drs. Anthonius Supriaryaka, M.M.Pd.

 

Murid-murid Istimewa

Mendidik dengan Hati ~ Drs. Petrus Surjiyanta, M.Si.

Saya Mau Bicara ~ Bernadeta Tumirah, S.Pd.

Mengukir Masa Depan ~ Giyanti, S.Ag.

Beni Si Oke ~ Roni Baskoro

Kepedulian Hati untuk Sahabat ~ Gregorius Hardiyanto, S.Pd.

 

Pelangi Kasih-Nya

Jam Tangan Kayu Glugu ~ Drs. Herman JP. Maryanto, M.Pd.

Guru Adalah Panggilan Hidup Saya ~ Yessica, S.Pd.

“Kebetulan” yang Bukan Sekadar Kebetulan ~ Yoseph Didik Mardiyanto

Tuhan, Pinjami Aku Hati-Mu ~ Theresia Evy Christina

Buah Cinta Lingkungan ~ Drs. Nicolaus Dolly Simon Kusdwiutomo, S.Pd., M.Pd.

Untung Punya Pengalaman Bromo ~ Arcadius Benawa

 

Meneladan Sang Guru

Hati Yang Penuh Syukur ~ Johana Rosalia Nirmala

Sekolah Kerja ~ M.A. Ratih Kristiani

Guru, Sahabat Para Murid ~ Giovanni Mahendra Christi, MSF

 

Perjalanan dan Panggilan Hidup

Mengiring Langkah-langkah Kecil Penuh Makna ~ Theresia Hendry

Satu Dasawarsa Mengabdi dalam Dunia Pendidikan: Sebuah Tantangan dalam Pelayanan ~ Joseph Kristiandinata

Mukjizat Itu Nyata ~ Susiwi Triwahyuni

Kamu Dipilih ~ Theresia Etik Lusiani, S.Kep.Ns.

Jadi Dosen ~ Muji Rahayu, S.Pd.Aud.

Berjalan Bersama Panggilan Hidupku ~ Veronica Silalahi

Guru Muda ~ Robertus Kristian Era Purnama, S.Pd.

 

Melayani dengan Kasih

Mencintai Yang Tidak Dapat Dicintai ~ Cicilia Wahju Djajanti, S.Kep., Ns., M.Kes.

Sekeping Hati untuk Melayani ~ Effie Wahono, S.Si.

Cerdas Dengan Berbagai Kreativitas ~ L. Sutikno, S.Pd.

Kasih-Mu, Kasihku, Kasih Kita Semua ~ Oktivia Astuti, S.Pd.

 

 

Rabu, 02 April 2014

Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati: 40 Naskah yang Terpilih untuk Diterbitkan

Berikut daftar naskah dari para peserta Lomba Nulis Pengalaman Guru yang sudah diseleksi dan dianggap layak untuk diterbitkan menjadi buku, dengan judul Cinta Sang Guru.
Buku akan terbit mei dan launching akan diselenggarakan pada tanggal 10 Mei 2014.
Kepada masing-masing peserta yang terpilih tulisannya sudah diemailkan surat dan ketentuan pnerbitan serta Surat pernyataan yang harus dilengkapi dan dikirimkan kembali kepada kami.
Selamat bagi yang naskahnya terpilih.
naskah 1 Jangan Menyerah Anakku Fanny, S.A.B.
naskah 3 Sentuhan Hatiku bagimu Anak-Anak Didikku] Maya Cempakasari, S.Pd.
naskah 6 Edo Yulia Loekito
naskah 10 Keajaiban-keajaiban Kami Andreas Aris Eko Mulyono, S.Pd.
naskah 12 KASIHKU DI SEKOLAH Venny Ardyani Tri Primasari, S.Pd.
naskah 13 Pendeta Dorna dan Penambang Pasir kali Krasak Alexander Estu Pramana, S.Pd.
naskah 14 Hatiku Bersandar di Kota Rusa Victor Puguh Harsanto, S.Pd.
naskah 15 Perjuanganku Berbuah Manis Mansata Indah Dwi Utari
naskah 20 Mendengar Dengan Hati Sr. Crescentiana PMY / Tutut Wahyuningrum, S.Pd.
naskah 21 Jika Guru Menjadi Petugas Upacara Bendera Drs. Aloysius Sardi
naskah 23 Kelemahan yang Menciptakan Kekuatan bagi Seorang Galang L. Bening Parwita Sukci, M.Hum
naskah 34 Tak Kenal, maka Tak Sayang Drs. Arcadius Benawa, M.Pd.
naskah 41 Belajar Lebih Efektif Dengan Metode Pendekatan Montessori Hanny Kurniawati Tri Wijaya, S.Pd.
naskah 43 Bangga Meski Dipandang Sebelah Mata Ignatius Bayu Sudibyo
naskah 44 Dia, Bernama Alvin Y. Jaka Prastana, S.Pd.
naskah 49 Muridku Calon Pemimpin Pengabdi Y. Sumardiyanto, S.Pd.
naskah 56 Guruku, Dibuang Sayang Drs. N. Widi Wahyono
naskah 57 BENCI (Benar-Benar Cinta) Petra Suwasti, S.Pd.
naskah 58 Sepuluh Lima Anna Maria Dyah Purnami Santati, SS.
naskah 62 Anak dari Langit Rr. Yulfitri Retno Ambarsari, S.Pd
naskah 63 Sekolah Istimewa Rr. Yulfitri Retno Ambarsari, S.Pd
naskah 64 Sudah Mencatat Bukan Berarti Mampu Menghafal Dra. Sri Endah Sulistyaningtyas, M.Pd.
naskah 66 Aku adalah Guru bagi Mereka dan Mereka adalah Guru bagiku Reni Siswanti, S.Pd.
naskah 67 Guru Panggilan Hidupku Brigitta Kunti Relitawati, S.Pd.
naskah 69 MENGAJAR DENGAN MODAL "BMW" Rika Prihmono
naskah 70 Buah Ketulusan Dra. Th. Lestari Handayani, M.Pd.
naskah 73 Kepingan-Kepingan Kisah Tentang Sepeda Benedictus Gerilyadi
naskah 81 Menggantikan Cinta yang Hilang Dra. Luh Putu Udayati, M.Pd.
naskah 83 Terima Kasih Dona, Engkau Telah Mengajarku Drs. Petrus Gunawan Sudarsono
naskah 85 Membangun Kedisiplinan Dan Entrepreneurship Pada Diri Siswa Yustina Nunung Sulistiyanti S.Pd
naskah 87 Membaca Bibir Bernadeta Tumirah, S.Pd.
naskah 88 Satu Panggilan Dua Cerita Lucia Hastiningsih, S.Pd.
naskah 89 Memahami Suasana Hati Peserta Didik, Sabar, Empati Cerminan Guru Yang Mampu Mendidik Dengan Hati Fr. Thomas Budi Riyanto, MSF
naskah 90 Kekuatan Sebuah Senyuman Maria Lidwina Dyah Nareswari, S.Pd
naskah 94 Refleksi Yang Membuka Hati Rita Nugroho Dwi Krisnawati
naskah 97 Ditolak Anak TK Bernadetta Dini Aryani
naskah 98 Rico Heribertus Binawan, S.Pd.
naskah 107 Ladang Cinta Laurentia Sumarni, S.Pd., M.Trans. St.
naskah 117 Mendidik dengan Hati Rianah, S. Pd.
naskah 123 Anak – Anak Sang Guru Kehidupanku Veronica Anna Dwi Arini, S.Pd.