Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label kopi darat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi darat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Agustus 2017

Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran

Baca sebelumnya!

Apa yang harus kita lakukan sekarang?
Pertama, menemukan formulasi yang tepat untuk mendidik anak-anak zaman sekarang. Yes. Siapa yang menemukan? Ya kita, para guru, jangan menunggu dikasih SK. Cari sendiri. Baca. Kenapa literasi kita rendah? Karena gurunya sendiri nggak baca kok, cuma nyuruh muridnya yang baca.

Yang kedua dan yang utama adalah semangat belajar, mau menjadi pembelajar. Karena ketika Anda sudah tidak mau belajar sebetulnya Anda sudah tidak layak mengajar. Ketika Anda sudah tidak mau membaca, Anda tidak patut mengajar, karena melakukan kebohongan-kebohongan, iya to?

Yang ketiga, menjadi kunci, adalah perubahan mindset, dari sekadar mengajar menuju melakukan eksplorasi dalam proses pembelajaran. Belajar bertanyalah! Belajar bertanya yang tepat. Belajar bertanya yang efisien.

Yang keempat, tumbuhkanlah suasana belajar di sekolah. Dengan cara apa? Dengan cara, kalau ngobrol, ngorolnya yang mutu. Jangan hanya ngobrolin sertifikasi melulu (bagi yang negeri), atau gaji (bagi yang swasta). Tumbuhkan pbrolan yang profesional, atau professional talk. Obrolan-obrolan yang perlu yang menyangkut apa yang perlu di sekolah. Jadi Anda memiliki figur mendidik.Pilihlah teman guru yang tidak berlawanan dengan Anda. Pilih teman ngobrol yang sepaham dengan Anda, yang punya visi yang sama. Sesudah itu ajaklah teman ngobrol yang agak-agaknya agak beda jauh. Diajak ngobrol bersama, bertiga, lalu berempat. Ngobrol apa yang perlu untuk kemajuan sekolah. Semakin lama semakin melibatkan banyak orang. Lalu kalau sudah cukup banyak, izin kepala sekolah untuk ngobrol melibatkan semakin banyak guru dis ekolah. Ngobrol mengenai, misalnya, bagaimana membantu anak-anak yang bermasalah di kelas-kelas tertentu.

Tidak usah terlalu lama, setengah jam sudah cukup.Direncanakan! Karena kalau tidak direncanakan, tidak akan jalan. Dan yang terpenting, itu dilakukan secara sukarela. Karena kalau tidak sukarela, lagi-lagi, Anda hanya memenuhi permintaan orang lain.

Apalagi kalau pimpinannya yang memulai, lebih keren lagi. Kan kalau Anda pimpinan, Anda akan tahu, dari guru-guru yang Anda pimpin, ada yang mendekati ideal, ada yang agak mendekati, ada yang agak ke tengah, ada yang jauh. La ini yang jauh ini pelan-pelan. Yang deket ini yang diajak dahulu.

Yang paling penting, sadari keterampilan yang perlu dikembangkan di abad 21, yaitu 4C: critical thinking, communication, collaboration, dan creativity. Keempat keterampilan ini Anda sebagai guru harus kembangkan. Di kelas Anda harus menjadi model untuk keempat keterampilan ini. Karena anak-anak hidupnya perlu itu. Itu kunci utama.

Kadang kita, sebagai guru, sering memandang sebelah mata anak-anak yang pandai berkomunikasi, "Oh dia itu kalau ngomong bagus, tetapi nilainya ...". nilainya yang ditekankan. Padahal nilai itu belum tentu merupakan representasi keterampilan.

Itu Bapak Ibu sekalian yang harus kita lakukan terus-menerus. Mari kita terus melakukan refleksi: Sudahkah kita mengembangkan kemampuan yang harus dimiliki siswa untuk hidup pada zamannya nanti. Ini harus dijadikan refleksi utamanya. Saya ini mengajar untuk memenuhi kewajiban atau menyiapkan anak-anak untuk hidup lewat pelajaran saya. Jangan-jangan kita kayaknya sudah iya tetapi saat mengajar ternyata bukan.

Sebetulnya ini mindset yang harus diubah, mindset untuk terus bertanya pada diri kita sendiri. Senantiasa belajar dan melakukan refleksi atas tingkah laku, tindak tutur dan tindakan sebagai pendidik dan pemimpin pembelajaran di sekolah dan masyarakat.

Terus saja reflect. Orang itu kalau mawas diri, mau melakukan yang aneh-aneh itu, enggan. Karena terus melihat dirinya, "O iya, ya, saya itu pemimpin pembelajaran." Itu akan membantu kita.

Semoga kesempatan belajar ini bisa memacu kita untuk terus melakukan revitalisasi terhadap diri kita sebagai seorang pendidik.

Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

PISA dan dilema kebijakan sekolah di Indonesia

baca sebelumnya

Dalam kemampuan literasi, kemampuan sains, dan matematika, dibandingkan dengan anak-anak lain di seluruh dunia, anak-anak kita di peringkat bawah. Data PISA (The Programme for International Students Assessment) tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 69 dari 76 negara. Sesama negara Asia, Malaysia peringkat 52, Thailand 47, Vietnam 12, Korea Selatan 3 dan Singapura menduduki peringkat pertama.

Ini semua laporan yang terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang dari seluruh dunia. Sehingga orang yang membaca mengerti bahwa kapasitas anak Indonesia hanya segitu. Jadi kalau kemudian sekarang orang lain pingin dateng ke Indonesia untuk bekerja, hal itu wajar. Karena mereka tahu kemungkinannya tinggi. Kenapa? Karena pekerjaan-pekerjaan di abad 21 mungkin tidak bisa dipenuhi oleh anak-anak Indonesia.

Ini adalah efeknya kita, lo. Efeknya setiap individu guru. Karena kalau setiap individu guru mau dan mampu menyadari perannya, maka kebutuhan administrasi tidak dijadikan prioritas yang paling tinggi, melainkan itu prioritas berikutnya. Walaupun itu, ya, kerjakan saja sesuai adat istiadat, lah. Itu kan cuman sajen-sajen buat para birokrat itu. Buatlah sajen-sajen itu sesuai kemauan mereka, tetapi buatlah kelas kita sesuai kebutuhan anak. Karena anak kita sudah diketahui oleh dunia.

PISA 2015 memang menunjukkan kenaikan dibandingkan sebelumnya. Tetapi hanya sedikit. Kita masih di peringkat bawah. Apakah itu valid? Belum tentu. Tetapi paling tidak gunakan itu untuk berkaca. Tidak ada yang mutlak di atas bumi ini. Karena ini dibandingkan dengan banyak negara, mari kita gunakan ini sebagai patokan. Korea Selatan, ketika mendapatkan hasil PISA ini, semua sekolah, semua kampus, terus mendengungkan PISA ini. Bahkan di televisi di radio itu disiarkan. Menjadi penting. Dan oleh sebab itu menjadi penting bagi seluruh komponen bangsanya untuk memperbaiki. Dan Korea selalu berada di 5 besar. Karena Korea menyikapi hasil ini dengan serius, walaupun mereka tahu ini bukan hasil mutlak.

Nah sekarang ada Masyarakat Ekonomi Asean, di dalamnya ada Singapura dan Vietnam, ada Malaysia, ada Thailand yang hasilnya jauh di atas kita. Ayuk kita mikir yuk! Yang lebih kenceng lagi, agar nantinya anak-anak kita mampu berpartisipasi dan tidak tergeser posisinya oleh anak-anak dari negara lain.

Apakah itu mungkin? Sangat sangat sangat mungkin sekali.

Dikatakan oleh seorang ahli dari Harvard University bahwa Indonesia membutuhkan waktu sekitar 317 tahun untuk mencapai posisinya seperti Singapura. Untuk kota besar di Indonesia, menurut Balitbang Kementerian, dibutuhkan waktu sekitar 30--50 tahun baru bisa menyamai Singapura. Itu kalau kitanya berkembang. Kalau gini-gini aja ya mungkin memang perlu waktu 317 tahun.

You see my point here? Saya berbagi kegalauan ini supaya para pelaku ikut galau dan memperbaiki. Dan jangan mencari excuse karena pemerintah begini-begini. Itu memang sudah adat-istiadatnya. Wis ben. Makan situ. Tetapi marilah kita di kelas sebagai pemimpin kelas dalam pembelajaran mencari alternatif-alternatif untuk mengembangkan yang lebih baik.

Bisa dilakukan tidak? Sangat bisa sekali. Karena yang nggak bisa itu cuman kemauan.

Nah kalau kita melihat ASEAN. ASEAN itu populasinya 600 juta dan Indonesia 250 juta. Sisanya ada di 9 negara. Sembilan negara itu termasuk negara maju, yaitu Singapura. Kemudian diikuti Malaysia, Brunei. Dan berikutnya ada Filipina. Dan sekarang Vietnam sangat-sangat gencar. Kenapa Vietnam begitu cepat naik di level 12? Karena mereka sangat concern terhadap sekolah. Salah satu contoh, karena saya berlatang belakang bahasa Inggris, saya diminta beberapa kali untuk datang ke sana, membantu membuat kebijakan, apakah bahasa Inggris diajarkan di SD atau tidak? Dan itu secara serius dibahas sampai akhirnya diputuskan diajarkan sejak kelas 3. Dan itu dilakukan secara serius mempertimbangkan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini. Kenapa? Karena bahasa utama Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah bahasa Inggris. Walaupun kita dominan secara populasi, tetapi kita tidak memiliki kewenangan untuk mengganti bahasa utama ASEAN.

Bahkan sekarang Kamboja sangat gencar belajar bahasa Indonesia. Thailand sangat gencar belajar bahasa Indonesia. Alasannya satu: so they can work in Indonesia. That's it! Segampang itu. Jadi orang asing itu bukan rambut pirang mata hijau. Malah rambut pirang mata hijau itu kita. Pakai softlense. Orang asing itu sama dengan kita. Wajahnya Asia. Sama dengan kita. Kalau bicara baru ketahuan logatnya. Dan kebijakan ASEAN Economic Community demands all members to equip young people with English to participate in the dynamic market. Because the working language is English.

Yang terjadi di negara kita malahan bahasa Inggris di SMA dan SMK dikurangi, bahasa Inggris di SD dihapus. Jadi kita berjalan melawan arus. Sedangkan 10 negara ASEAN lainnya: Malaysia, Singapura, Brunei dan Filipina telah menjadi bahasa Inggris sebagai bahasa ibu di masyarakat. Sedangkan Vietnam, Laos, Kamboja,  Myanmar telah mengajarkan bahasa Inggris sejak SD dan di tingkat SMP dan SMA tidak kurang dari 6 jam dalam seminggu. La kita di SMP 4 jam tetapi di SMA 2 jam.

Terus sekarang ribut karena tenaga asing masuk Indonesia. Ya iya lah! Wong tenaga kita nggak bisa kok! Tenaga kita tidak bisa dipakai karena kebijakan sekolah tidak menunjang anak-anak untuk sekolah dan bisa dipakai.

Dunia kerja
Sebagian jenis pekerjaan hari akan hilang di masa depan. Banyak pekerjaan mekanis yang sudah diganti mesin. Sekarang jalan tol karena sudah ada kartu tinggal nempelin, tidak perlu ada orang. Dengan ditemukannya barcode, segala macem sudah bisa di-barcode-kan, karena barcode tidak bisa ditipu, seperti sidik jari manusia. Karena memang awal perkembangan barcode itu dari sidik jari, dari abad 18.

Nah, 35% keterampilan dasar akan berubah di tahun 2020. Dua milyar pekerjaan akan hilang karena terancam otomatisasi. Migrasi tenaga ahli terampil antar-ASEAN akan naik dari 6,8 juta menjadi 14 juta di tahun 2025, yang legal.

La ini kalau kita nggak membekali anak-anak kita ikut salah. Karena kontribusi kita itu tinggi terhadap keberhasilan ini. Makanya sekarang sisihkan kebijakan. Apa-apa yang berbau kebijakan itu, bikin sajen saja pokoknya. Lakukan sesuai adat saja. Namun, mari kita sama-sama membuat anak di kelas kita, mari fokus di kelas kita.

Melihat mobilitas tenaga kerja antar-ASEAN. Kalau dari Indonesia ke Malaysia yang 16% itu sebenarnya jadi apa to? Sedangkan tenaga asing yang bekerja di Indonesia?

Saya menunjukkan ini supaya kita tahu bahwa kita ini adalah pemimpin yang menentukan apakah anak-anak kita akan mampu bersaing di negara kita sendiri atau tidak? Jadi jangan hanya kaget, "Lo kok gitu?" Karena yang membuat mereka seperti itu ya kita paa guru, kok! Jadi mari kita mulai melakukan sesuatu.

Kita-kira kalau dokter lulusan kita dikirim ke Singapura, bisa dipakai atau tidak? Belum tentu. Tetapi kalau dokter Singapura laku di mana-mana. Di Philipina, mereka serius menyiapkan perawat. Sedangkan di Indonesia, tidak banyak yang serius menyiapkan perawat. Hanya beberapa saja, misalnya UPH.

Hotel-hotel internasional, kalau sudah tidak bisa mencari tenaga lulusan Indonesia yang bisa kerja, mereka akan mencari dari luar. Tahun 2015 Garuda mencari 6000 tenaga perhotelan dalam negeri, hanya mendapatkan 400. Akhirnya nyari ke Malaysia dan Singapura.

Saat ini posisi tenaga kerja kita pada posisi tenaga kerja dasar. Malaysia didominasi level menengah. Negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) rata-rata didominasi tenaga kerja level tinggi dan menengah.

Ini perlu saya sodorkan kepada para pendidik di Indonesia, supaya tahu anak-anak kita nanti posisinya akan di mana.

baca sesudahnya


Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum

Baca sebelumnya!

Peserta didik itu hidupnya berbeda dengan zaman kita. Kehidupan abad 21 begitu globalnya. Begitu tanpa batasnya. Di seluruh dunia, bisa ditemukan berbagai produk yang ada di sekitar kita. Artinya apa? Hampir tidak ada batasan-batasan penting dalam pertukaran bisnis yang ada di dunia ini. Uber. Grab. Giant. Hypermart.

Jadi anak-anak kita hidup di zaman yang tanpa batas. Maka, tuntutan mereka di abad 21 juga banyak. Mereka dituntut untuk literasi secara informasi. Informasi yang boleh saya terima itu yang mana? Yang tidak hoax itu yang mana? Bagaimana caranya saya tahu mengonfirmasi informasi. Itu namanya information literate.

Bagaimana anak itu berinovasi. Lah kalau di kelas anak tidak pernah diajak untuk mikir bagaimana bisa berinovasi? Otaknya tidak punya perangkat cukup untuk berinovasi.

Creativity, problem solving, communication, critical thinking, ini semua wajib dimiliki ada dalam diri anak. Kenapa? Karena dunia kerja begitu bebasnya. Dunia kerja sudah tidak nanya lagi, Anda lulusan Gajah Mada, ya? Enggak! Melainkan, Anda terampil atau tidak? Anda bisa mikir atau tidak? Enggak ditanya, Anda S1 atau S2. Kalau tidak bisa tidak akan memungkinkan bagi dia untuk berpartisipasi di dunia global.

Critical thinking, mampu berpikir kritis. Tadi ketika kita membuka sesi ini, dengan mengajukan pertanyaan, Anda kerasa tidak kalau Anda sedang diajak untuk berpikir? Ternyata mengajak berpikir kita butuh belajar. Dan membisakan anak berpikir kita juga butuh belajar. Bagaimana menciptakan pertanyaan-pertanyaan, critical questions, pertanyaan-pertanyaan kritis yang membuat anak mikir?

Berarti keterampilan yang dimiliki anak abad 21 ini enggak bakal jadi kalau tidak dimiliki ada dalam gurunya. Dan kalau kita merasa bahwa kita guru abad 20, berarti kita harus lari kencang untuk mencari apa yang saya perlukan agar anak-anak saya bisa memiliki keterampilan abad 21 ini. (Hidup di zaman mereka lah!)

Sedangkan, saat ini, anak-anak kita diganggu oleh ini: UJIAN NASIONAL, kurikulum, text books, teaching quality, lesson plan, English lesson. Lah kita sebagai guru jangan menyerah! Karena apa? Ujian national itu batesnya cuma latihan soal, kok. Dan rata-rata sekarang sudah dibimbelkan. Lah masak guru cuman menyerah jadi bimbel saja.

Maka, kurikulum, the best curriculum is the teacher. TITIK. Sudah gitu aja. Karena kita sampai saat ini masih gojak-gajek perkara kurikulum. Kurikulum 2006 yang sudah jelas akan diganti dengan sesuatu yang tidak jelas. Sebetulnya kurikulum 2006 ini kita kan sudah mulai mengerti sekarang. Ketika Pak Menteri akan mengganti dengan Kurikulum 2013, sebenarnya guru itu sudah mulai nyaman dengan Kurikulum 2006, Sebelumnya itu belum nyaman. Masih mencari. Begitu nyaman kok kurikulumnya diganti. Dan penggantiannya juga makin enggak jelas.

Kemudian, text books. Lah kalau kurikulumnya tidak jelas, text books-nya otomatis juga kacau. Oleh sebab itu perlu dipikirkan, bahwa text book itu berupa guide lines. Text books bukan segala-galanya. Mengajar itu menghabiskan materi atau mencapai tujuan?
"Mencapai tujuan."
Nah sekarang praktiknya?
"Menghabiskan materi."
Sehingga kadang-kadang materinya kebanyakan, tujuan enggak tercapai. Atau tujuan sudah tercapai, materinya belum dipakai. Dan merasa kalau materi belum habis kayak belum selesai. Karena apa? Karena tidak menyadari tujuan. Kenapa tidak menyadari tujuan? Karena tidak mempelajari apa yang diminta oleh kurikulum. Sebetulnya di kurikulum itu mintanya itu jelas. Ketika dirinci, menjadi membingungkan. Karena guru sebenarnya memiliki kemampuan, kalau tujuannya ini, saya akan mencapainya lewat ini. Banyak guru yang mempunyai keterampilan yang diasah sendiri yang mudah tahu bahwa kalau tujuannya ini saya akan mencapai lewat ini, lewat ini, lewat ini, Tetapi kemudian diatur dengan berbagai administrasi. Akhirnya gurunya bingung, anaknya apalagi.

Teachers quality
Kualitas guru kita relatif masih jauh. Bahkan dari UKG yang nggak jelas itu, rata-rata guru kita nilainya masih di bawah 5. Dan kalau pemahaman kognitif saja--yang diujikan UKG itu kan masih pemahaman lo--masih rendah, praktiknya apa bisa lebih baik, ya? Karena pemahaman ini diharapkan sebagai landasan. Memang tidak ada yang mutlak benar dalam penilaian karena UKG juga tesnya belum bisa dinyatakan valid.

Baca selanjutnya


Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

Jumat, 17 Maret 2017

Standar Kompetensi Guru

Baca sebelumnya!

Kita di sebuah sekolah mesti punya yang kompetensi bagus perilaku bagus. Ada yang perilaku sedengan kompetensi sedengan. Tapi ada yang kompetensi kagak perilaku kagak. Ada yang perilaku OK tetapi kompetensinya kurang. Ada yang kompetensinya tinggi tetapi sikapnya di bawah rata-rata, karena merasa sudah pinter, seolah-olah sekolah tempat orang yang pinter saja. No! Sekolah itu gabungan antara knowledge, skill, dan attitude. Dan attitude adalah yang tertinggi. Orang bisa kompetensinya tidak terlalu tinggi tetapi attitude-nya terhadap belajar baik, sehingga walaupun tidak super tetapi terus belajar. Itu sikap atau karakter, yang bisa dibangun dalam diri setiap orang. Nah Anda termasuk yang mana, terserah, karena hanya Anda yang tahu. Kalau kepala sekolah hanya asumsi saja, "Asumsi saya, dia itu bagus, kompetensinya bagus, perilakunya bagus." Mungkin mendekati fakta kalau kepala sekolahnya cermat karena dia mengambil keputusan berdasarkan berbagai hal yang diobservasi. Tetapi kalau tidak, ya berarti asumsi banget.

Marilah kita melakukan evaluasi atas perilaku kita setiap saat. Perilaku, tindak tutur kita, sudahkah di setiap saat baik. "O kalau saya sih di sekolah sopanm ya. Kalau di rumah sih, kan di rumah." Nah itu kan seperti guru-guru yang melakukan hal-hal yang tercela di luar sekolah karena dia merasa sebagai tukang mengajar. Sebagai tukang, Oleh sebab itu dia merasa habis selesai pertukangannya maka sudah selesai. Kalau mendidik tidak bisa. Menjadi pendidik itu 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun. Because it's in ourselves, ada di dalam diri kita. Kalau tugas face to face di kelas memang sedikit. Tetapi jiwa yang ditumbuhkan sebagai pendidik tidak kenal waktu.

Itulah kenapa kalau di masyarakat orang selalu mencela kalau ada perilaku yang kurang pas dan itu guru yang melakukan. "Wong guru kok gitu?" Kalau yang melakukan manajer bank tidak akan dicela. Itu menunjukkan bahwa guru adalah profesi kemanusiaan yang di seluruh dunia menjadi penghormatan setiap manusia. Di mana-mana kalau orang sudah bilang teacher itu orang akan berbeda sikapnya melihat kita. Langsung beda. Nah hal itu menunjukkan bahwa kalau kita tidak mau menyadari hal itu, kita berkhianat kepada dunia, dong! Apalagi kepada anak-anak kita.


Bagaimana saat ini kita mengajar, menyelenggarakan proses belajar mengajar kita di kelas? Sudahkah kita melengkapi diri kita dengan alat bantu yang tepat? Sudahkah kita mencari contoh-contoh yang relevan buat anak-anak? Contohnya bagus tapi anak-anak tidak mudeng. Itu banyak guru bahasa Inggris bawa lagu, katanya keren. Lagunya zamannya dia ya anaknya enggak ngerti. "O, this is a very good song. Do you know that?" Lah lagunnya tahun 80-an atau 90-an anaknya tahun 2017. Ya jelas anaknya ndak ngerti.

Nah inilah yang saya katakan bahwa di kelas, yang paling penting dalam kegiatan belajar mengajar kita melakukan sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan anak. Paling relevan dengan kehidupan mereka. Mencari cara yang cocok dengan mereka. Oleh sebab itu, carilah bacaan-bacaan yang membantu kita memahami bahwa anak-anak zaman ini itu kelakuannya begini. Oleh sebab itu, jangan menyalahkan. Saya sering denger orang-orang Jakarta bilang begini, "Aduh anak-anak sekarang beda sama anak-anak dulu!" Ya, iya, lah! Yang ketinggalan zaman itu gurunya. Harusnya guru zaman sekarang beda sama guru zaman dulu. Tetapi tetep sama sehingga bilang anaknya yang beda. Padahal karena dia tidak berubah.

Ada bacaan yang baru saja baca yang bilang begini, Teacher is the most conventional profession. Konvensional, karena tidak mau berpikir bahwa anak yang saya didik adalah anak zaman sekarang. Hal itu tidak masuk ke dalam koridor berpikirnya.

Mudah-mudahan hal ini menjadi sentilan buat kita. Dan jangan salah bahwa lembaga pendidikan bernama sekolah menjadi kontributor terbesar terhadap kualitas anggota masyarakat. Jadi kalau kita menyalahkan, "Aduh orang sekarang!" Jangan bilang orang sekarang orang sekarang! Karena kontribusinya itu dari kita. Sekolah merupakan tempat pendidikan dan keterampilan individu diciptakan dan sekolah mendapat dampak langsung dari kebijakan publik. Oleh sebab itu, sekolah itu berhubungan langsung dengan kondisi masyarakat.

Untuk menjadikan sekolah menjadi tempat yang lebih nyaman, maka guru dan kepala sekolah visinya harus sama. Kepala sekolah perlu memikirkan bahwa visi sekolah adalah roadmap yang harus diikuti. Visinya apa sih? Oleh sebab itu yang kepala sekolah atau wakil kepala sekolah perlu melihat kembali visi misi sekolah itu apa. Dan itu dijadikan warna sekolah. Dijadikan acuan utama.

Dari kebijakan pemerintan ada enggak yang mengatur standar guru, atau standar kepala sekolah? UKG itu apa? Yang diukur apa? Yang diukur standar kompetensi apa? Kompetensi pedagogi dan profesional. Apakah merasakan bahwa itu kalau nilainya tinggi berdampak pada pedagogi Anda di kelas?
"Tidak." "Karena hafalan." Karena hafalan, karena ada kisi-kisinya. Itulah yang saya bilang pendidikan di Indonesia itu palsu semua. Makanya kalau tidak ada sesi-sesi yang kayak gini ini, guru mendapat penyegaran juga penyegaran palsu. Karena ketika disampaikan penyegaran yang disampaikan hanya perubahan kebijakan, perubahan ini perubahan itu yang tidak tahu cara mengubahnya. Maka Bapak Ibu sekalian, pertahankan semangat Anda untuk ikut sesi-sesi seperti ini. Dan bahkan sampeyan-sampeyan yang dapat sertifikasi, wajibnya harusnya dikeluarkan untuk sesi-sesi kayak gini. Bukan buat beli motor.

Nah sebenarnya ada berapa standar kompetensi guru itu? Pedagogi, profesional, sosial, dan kepribadian. Nah kira-kira, seberapa banyak Anda tahu tentang standar kompetensi ini? Pernah baca tidak? Semua ini dalem, kan? Pedagogi itu kita harus paham caranya bagaimana kita menangani anak sesuai dengan usia mereka. Sebenarnya itu adalah sesuatu yang bisa kita tumbuhkan. Tapi ini adalah patokan yang pemerintah sebenarnya secaradokumen sudah menjaga. Tetapi melaksanakannya dengan cara yang berbeda. Nah sekarang yang dilakukan pengujian pada kompetensi pedagogi dan profesional. Tetapi teorinya saja dan bisa dihafalkan, sehingga tidak nyambung.

Nah saya ajak Bapak Ibu untuk membacanya. Dicari di google dan dibaca. Untuk dirimu sendiri. Saya tidak meyakini guru itu berkembang karena dibentak-bentak pemerintah. Toh pengujian apa pun, guru yang berhasil adalah guru yang di sekolah memang rajin. Yang mbalelo ya mbalelo kok nilainya.

Saya sebelum pemilu DKI dipercaya Pak Basuki untuk membuat pelatihan khusus fokus pada kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Modulnya sudah jadi tinggal dirapikan. Jadi guru-guru di DKI tidak hanya diberi kompetensi profesional dan pedagogi, tetapi ada yang lebih penting. Karena kalau tahu pedagogi, tahu yang profesional, tetapi kalau sikapnya dan kemampuan sosialnya tidak kena ini gak jadi semua.

Apakah kepala sekolah termasuk? Ya, iya, kalau ndak punya ini  tentu saja tidak bisa jadi kepala sekolah. Tetapi kemudian ditambahin dengan kompetensi manajerial dan kewirausahaan. Enterpreneurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan. Banyak kepala sekolah yang menerjemahkan sebagai usaha mencari duit. Padahal bukan. Padahal yang dimaksud adalah bagaimana kepala sekolah memiliki kecermatan dan keuletan untuk mengelola sekolah itu sebagai seorang wirausaha.

Sampai akhirnya begini, Pak Ahok itu, saking judeknya kepada guru negeri itu, bilang begini, "Bu Itje sebagai ketua dewan pendidikan DKI, tolong deh pikirin, gimana caranya membuat guru negeri itu sistemnya kayak swasta saja. Karena guru swasta yang gajinya relatif rendah jauh lebih rajin daripada banyak guru negeri." Karena memang iya, sih. Guru negeri itu tidak ada matinya. Enggak ada yang bisa mecat. Kalau swasta, meleng sedikit, ya sudah SP1.

Artinya Bapak Ibu, standar-standar ini sebenarnya sudah ada.


Baca selanjutnya.

Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto


Sebagai pendidik saya ...

Baca sebelumnya!

Saya ingin Anda menggambar sesuatu yang merepresentasikan apa itu pendidik atau guru!

"Buku, karena buku itu sebagai sumber."
"Pohon, karena menyejukkan bagi orang-orang di sekitarnya."
"Lampu yang menyala, harus mampu memberikan petunjuk, cahaya kepada anak."
"Alat pertukangan, guru sebagai helper, bukan orang yang paling tahu."
"Kunci, untuk membuka potensi anak,"
"Tongkat, untuk menolong anak dalam jangka waktu tertentu."

Kenapa penting untuk melakukan ini, karena ini mengartikulasikan diri kita. Apa sih keyakinan saya sebagai seorang pendidik itu saya gambarkan sebagai apa. Dan ketika saya menggambarkan ini, apa hal-hal yang harus saya lengkapi supaya apa yang saya inginkan itu tercapai dengan maksimal?

Kalau saya sebagai pendidik itu ibarat alat-alat pertukangan, karena kita akan membantu anak-anak yang berbagai macam itu. Jadi alat-alat pertukangan ini harus selalu bisa dipakai, enggak boleh ada yang rusak, enggak boleh ada yang karaten. Kira-kira alat pertukangan itu bagian dari hard skill dan soft skill yang dimiliki oleh seorang guru. Alat pertukangan itu antara lain kemampuan berkomunikasi yang terus diasah, kemampuan berpikir kritis yang harus diasah.

Kalau pohon ingin terus bisa melindungi anak, berarti pohon itu harus rindang terus. Supaya rindang terus bagaimana caranya?

Ibarat-ibarat yang Anda lakukan itu untuk melihat diri Anda sendiri. Karena yang hadir di sini tidak perlu saya kasih yang baru. Anda itu sudah tahu, tetapi sekarang bagaimana merevitalisasi itu semua.

Kalau sebagai kunci, harus kunci yang serba bisa. Kenapa? Membuka anak yang males supaya jadi enggak males. Yang belum menyampaikan idenya supaya bisa menyampaikan idenya.

Peganglah metafora-metafora yang Anda buat tadi dan pikirkan terus-menerus apa yang perlu saya tingkatkan supaya metafora yang saya ambil ini betul-betul menjadikan saya seorang pendidik.

Saya mengajak Anda berpikir di level yang tidak direct, implisit. Kenapa? Karena ini menunjukkan berpikir yang sudah lebih tinggi.

Kalau tongkat, bagaimana agar tongkat itu bisa digunakan oleh anak. Anak yang inginnya ke utara bisa menggunakannya. Yang perlunya ke selatan bisa menggunakan itu.

Pada hakikatnya, mendidik bukan sekadar melakukan profesi. Mendidik bukan sekadar menjalankan tugas. Tetapi mendidik adalah membantu anak untuk bertumbuh sesuai dengan zaman di mana ia hidup. Jangan lupa, disesuaikan dengan zaman. Jadi kalau Anda merasa dari zaman yang berbeda dengan anak-anak, berarti sekarang kita harus terus belajar. Bagaimana bisa memenuhi ketika enggak sama platform berpikirnya. Anak-anak sudah pakai platform abad 21 kita masih pakai abad 20. Kalau yang sering dikatakan orang-orang di Kementerian itu, "Kita ini anak-anaknya abad 21, gurunya abad 20, sekolahnya abad 19."

Saya ingin Ibu Bapak menulis sebuah paragraf, mulailah dengan ini:
Sebagai pendidik saya ...
Setelah ... tahun menggeluti pendidikan, saya menyadari bahwa ...
Sebenarnya saya adalah seorang pendidik yang ... tetapi ...


Sekarang dibaca paragrafnya. Inti dari apa yang kita lakukan ini adalah Anda melihat diri Anda sendiri. Dan Anda mencari sendiri apa yang menjadi kelemahan Anda selama ini. Kenapa kalimatnya disusun seperti ini, supaya ada bagian yang memungkinkan Anda tahu di mana bagian-bagian yang kurang. "Setelah sekian tahun menggeluti dunia pendidikan, saya menyadari bahwa ternyata saya bukan orang yang mampu berkomunikasi dengan baik. Karena di sekolah, ketika saya menyampaikan sesuatu kepada orang lain, banyak sekali yang bertanya maksud saya apa." .... saya menyadari bahwa ... Kenapa pakai saya, saya, dan saya. Karena kita tidak berbicara bagaimana idealnya seperti apa, tetapi kenyataannya seperti apa.

Nah ini adalah sebagian dari evaluasi diri, karena, sebagai orang seorang profesional, sebetulnya guru itu tidak ada yang ngurusi kecuali administrasinya. Guru dan kepala sekolah itu tidak ada yang ngurusi substansinya, yang diurusi hanya administrasinya. Yang diurusi itu berapa lama mengajar, borang-borang akreditasi terurusi atau tidak. Akreditasi pun tidak menilai keberhasilan pembelajaran. Karena keberhasilan pembelajaran semata-mata dinilai dari jumlah anak yang lulus dan nilainya berapa. Belum pada proses.

Makanya yang lebih penting adalah mendidik itu berproses. Seperti pohon yang tadi diibaratkan beberapa orang. Mendidik itu tumbuh, tidak berhenti. Ketika tumbuhnya ke mana-mana, dibentuk. Oleh sebab itu memahami diri sendiri jauh lebih penting, karena tidak ada yang ngurus Anda. Kita ini mendidik ini tidak ada yang ngurusin. Ini guru ini belajarnya apa. Tidak ada.

Kemarin GP (Guru Pembelajar) itu cuma kejar-kejaran target, sampai ninggalin murid buat kejar target.

Ini adalah cara anda melihat diri Anda. ... sebenarnya saya ... tetapi ... ini supaya Anda melihat dari perspektif mana yang sudah Anda lakukan secara baik dan mana yang perlu ditingkatkan.

Nah kira-kira menulis mengenai diri sendiri itu apa buat saudara? "Susah." Susah? Karena selama ini menilai diri sendiri itu biasanya cuma buat akreditasi. Dan itu administrasi dan itu sangat artifisial. Sangat pura-pura. Mengada-ada. Sampai evaluasi sekolah pun hanya abal-abal.

Yang berdiri di ruangan ini saya ajak berdiri sebagai pendidik yang sesungguhnya. Dan itu yang bisa membuatnya bukan saya, melainkan Anda sendiri.

Anda merasa tidak bahwa yang menjadi penting dalam mendidik itu bukan materi melainkan prosesnya? Merasa tidak selama satu jam ini?
"Merasa."
Anda merasa tidak kalau proses itu bagian dari materi Anda? Dalam mendidik proses adalah materi, karena kalau zaman sekarang materi itu dapat di-google 24 jam. Dan materi yang di google itu jauh lebih banyak dan lebih baik daripada yang bisa Anda sampaikan. Yang bisa dicari oleh anak-anak biarlah mereka yang mencari. (Tetapi kan memang tidak adil kalau kemudian dibiarkan demikian karena gurunyalah yang harus menyampaikan materi.)

Mudah-mudahan ini menjadi cara untuk memotret diri yang beneran. Dan tidak harus ditunjukin ke orang. Ditunjukkan ke dirimu sendiri dan Tuhan aja. Karena ini bukan porsi untuk dinilai, tetapi diri saya sendiri sebagai pendidik, pantes enggak sih sebenarnya menyebut diri sebagai pendidik.



Baca selanjutnya!




Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?

Baca sebelumnya!

Siapa yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pendidikan para peserta didik?
Semua orang dewasa yang ada di sekitar peserta didik, Dan kita adalah orang dewasa selain orang tua yang memiliki hubungan biologis dengan anak, yang sengaja bertanggung jawab, menandatangani kontrak dengan pimpinan maupun dengan Tuhan untuk memperbaiki kualitas hidup anaknya manusia itu. Kontraknya kan dua. Karena ini urusan pekerjaan yang langsung berhubungan dengan apakah anak yang diciptakan Tuhan ini akan bertumbuh atau tidak.
Halo! Beneran ini! Asli!
Karena kalau pekerjaan yang lain, iya sih berhubungan, tetapi kan tidak secara langsung. Tetapi kalau sebagai pendidik, DIRECT, langsung, sung sung sung. Sekeliru-kelirunya kita atau sebener-benernya kita akan menjadi bagian hidupnya dia.

Siapa saja yang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar sehat di sekolah?
"Semua warga sekolah." Bisa enggak anaknya itu menumbuhkan sendiri lingkungan belajar yang positif? "Tidak mungkin." Tidak mungkin. Bisa enggak kepala sekolah sendirian? Tidak mungkin. Bisa enggak gurunya aja? Tidak mungkin.
Dan ketika itu sudah berada di sekolah, kita yang langsung bertanggung jawab terhadap anak-anak, tetapi oranga tuanya ikut bertanggung jawab. Oleh sebab itu, ada kewajiban dari sekolah untuk menjalin hubungan positif, tidak hanya positif tetapi juga intensif.

Sekolah bertanggung jawab membuat orang tua mau bekerja sama dengan sekolah. Oleh sebab itu sekarang ada Direktorat Keluarga di kementerian. Untuk apa? Untuk memberikan berbagai penyuluhan-penyuluhan agar pihak sekolah bisa bekerja sama dengan keluarga. Wajib bekerja sama dengan keluarga. Kenapa? Karena tidak bisa anak itu diserahkan begitu saja.
Ada orang tua yang mengeluh, anaknya yang sekolah di sebuah sekolah di Surabaya, tidak pernah diberi tahu sebelumnya oleh pihak sekolah, tiba-tiba menjelang ujian diberi tahu pihak sekolah bahwa anaknya banyak nilainya yang tidak bagus, dan kemungkinan akibatnya akan begitu akan begini. Itu namanya bukan lembaga pendidikan karena seharusnya sekolah memberi tahu di awal sehinga bekerja sama dengan orang tua untuk memperbaiki kualitas anaknya. Ini tanggung jawab kita.

Banyak guru yang bilang begini, "Aduh, Bu, kita di sekolah mendidik begini-begini nanti di rumah--" Lah itu kewajibanmu untuk mengajak rumah itu bersama-sama dengan sekolah. Bagaimana caranya? Banyak caranya. Carilah caranya gimana. "Wah kalau yang itu orang tuanya sulit." Sempatkan sebagai bagian pekerjaan Anda untuk berkunjung ke tempat orang tuanya, menyampaikan kepada orang tuanya. Kan banyak yang bilang, tu, "Wah ini orang tuanya susah, gak pernah bisa datang ke sekolah kalau diundang, kalau diberi tahu bahwa anaknya sudah begitu--" Pantes kalau orang tuanya sudah tidak memperhatikan, pasti anaknya seperti itu. Nah kita punya tanggung jawab untuk melibatkan orang tuanya, untuk mengajak orang tua. Kita berkewajiban--
"Nah itu kan sudah kewajiban orang tuanya?" Iya, tetapi orang tua tidak tahu. Nah kita adalah bagian dari komunitas pendidikan yang berhubungan langsung karena anaknya ada di sekolah kita.

Siapakah yang memimpin?
Ada orang tua, ada guru, ada TU, ada lingkungan, dsb. Siapa yang memimpin?
"Kepala sekolah!" Oleh sebab itu, kepala sekolah itu adalah PENDIDIK, bukan pengadministrasi. Makanya dalam literatur bahwa Inggris kepala sekolah selalu disebut leader of learning. Karena apa? Karena kepala sekolah itu mempunyai kewajiban membelajarkan siapa saja. Membelajarkan orang tua. Membelajarkan guru. Membelajarkan artinya membuat orang itu belajar. Dari apa yang ia sampaikan, dari apa yang ia lakukan, keputusan-keputusan yang ia buat, orang belajar darinya. Oleh sebab itu peran sekolah sangat menentukan.

Kalau di sini ada guru yang kepala sekolahnya kurang, ajaklah ngobrol. Yang penting iru jangan cuek. Jangan cuek terhadap keadaan. Mencoba ngobrol. Ngobrolnya jangan ngguruin. Karena orang, apalagi pimpinan, tidak senang kalau diguruin.
"Kemarin saya ke Jogja. Wah, mereka cerita tentang sekolah, trus dijelasin tentang peran-peran ini itu. Kayaknya kita harus gini, deh, Bu. Lupa nggak, Bu, orang tuanya si ini..." Dicoba dari sesuatu yang sangat sederhana, belajar dari apa yang Anda pelajari di sini.

Learning is the heart of school leadership. Para kepala sekolah yang bersama saya di Inggris itu, mereka diajari bagaimana mereka sebagai pemimpin pembelajaran, bagaimana caranya membelajarkan para guru, bagaimana para guru itu bisa merasa bahwa belajar itu penting. Ternyata itu tidak lewat disuruh. Lewat ngobrol dulu. Disuruh itu enggak enak. Instruksi itu ... iya kalau yang diinstruksikan itu kita seneng, tetapi kalau tidak, lebih banyak nolaknya. So, learning the heart of school leadership.


Baca selanjutnya!

Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

Apa keinginan dan kebutuhan peserta didik kita?

Baca sebelumnya!

Mengapa masyarakat mengirim anaknya ke sekolah?
"Karena formal."
"Karena wajib." Kalau karena formal, karena wajib, itu dari pihak orang lain, dari pemerintah. Kalau dari masyarakat?
"Agar lebih mudah mendapatkan pekerjaan." Ini impian masyarakat.
"Memberikan bekal."
"Memberikan masa depan yang lebih baik." Ini harapan masyarakat, termasuk harapan Anda ketika Anda bukan pendidik, tetapi ketika Anda menjadi orang tua.
"Mengasah kemampuan anak." Ini: mengasah kemampuan anak. Kalau tadi masih gede-gede, ini mulai lebih kecil: mengasah kemampuan anak. Kemampuan untuk apa? "Literasi, sosial, menghadapi konflik." Mengasah kemampuan untuk hidup, life skill, mengasah kemampuan untuk menjalani kehidupan. Karena alasan inilah mereka mengirimkan anaknya ke sekolah.

Pertanyaannya: di sekolah diapain?

Siapa peserta didik kita? Ya anak-anak dari anggota masyarakat yang kepingin anaknya dipersiapkan tadi, bukan?

Nah, kemudian, apa harapan anak-anak?
"Ketemu temen." OK, ketemu temen. Kalau ketemu temen, sebenarnya perlu sekolah tidak? "Tidak."
"Dapat nilai bagus."
"Dapat pengalaman yang baru."
Anak-anak memiliki keinginan-keinginan. Apalagi yang sudah SMP dan SMA sudah bisa berbicara, mereka sudah perlu tahu apa keinginan-keinginan mereka. Pernahkah kita peduli kepada keinginan mereka? Karena yang sering kita alami , yang sering kita lihat adalah bahwa anak-anak harus menerima apa yang dikasih. Wakaupun kadang-kadang yang dikasih tidak nyambung. Kebutuhan anaknya apa? Yang dikasihnya apa? Tidak pernah ditanya apa keinginan mereka.

Ketika anak di kelas tidak bersemangat untuk belajar, itu karena mungkin kebutuhan mereka berbeda dengan apa yang kita sajikan, atau cara kita memberikan berbeda dengan cara yang diinginkan mereka, karena kalau materi kan kita memang tidak bisa meminta pendapat mereka, materi sudah ada, apa yang perlu kita ajarkan pasti sudah berdasarkan kajian-kajian pastinya.

Sering kali pelajaran yang bisa sebagai alat hidup yang langsung dipakai adalah pelajaran bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Nah, seberapa baik kita bisa memahami, baik harapan masyarakat maupun harapan orang tua. Seberapa banyak kita sudah memenuhi harapan mereka. Ini perlu kita pikirkan. Yang sudah kita lakukan: mengajar atau menyiapkan anak? "Mengajar." Ya tidak apa. Tetapi mulai sekarang, setelah sesi ini, saya harap, Ibu Bapak mulai memikirkan bagaimana memenuhi hakikat keinginan manusia belajar ke sekolah itu. Karena mereka ingin dapat sesuatu untuk hidup.

Saya pernah mendapatkan pengalaman, anak kelas 5 SD tidak bisa nulis. Di sekolah diapain? Kok sampai kelas 5? Ada apa di sana? Artinya, gurunya merasa tuntas mengajar, tetapi tidak membelajarkan anak-anak.
"O anak itu sulit?" Mau sulit, mau enggak, masyarakat sudah memercayakan anaknya kepada kita untuk dididik. Sehingga harapan masyarakat adalah anak ini ketika selesai sekolah bisa melakukan kehidupannya, melanjutkan kehidupannya, tentunya dengan kualitas yang lebih baik daripada orang tuanya.

Nah, berapa jam anak didik berada di sekolah? Berapa hari dalam setahun? Dampak apa yang sudah mereka dapatkan? Lebih lama mana anak di sekolah atau di rumah?
"Sekolah." Kenapa kok di sekolah? Karena di rumah itu porsi tidurnya saja sudah banyak itu. Dan ... rumah itu bagi anak bukan tempat yang sengaja distrukturkan untuk belajar. Rumah itu untuk makan, bersosialisasi dengan keluarganya, beristirahat. Akan tetapi, begitu sekolah, sebenarnya yang ada di benak anak adalah ini tempat saya belajar. Ya, kan?

Saya senang mendapatkan jawaban bahwa beberapa orang mengatakan anak lebih banyak di sekolah, karena beberapa kali saya diprotes oleh guru yang mengatakan, "Nggak bisa, dong, guru dituntut begitu begini! Kan anak itu lebih banyak di rumah?" Lo, tapi yang spesifik untuk urusan belajar, sekolah lebih banyak. Oleh sebab itu dia berharap: cara pandang guru, cara melihat dia, cara gurunya ngomong, cara gurunya menyampaikan pelajaran, itu semua mengandung hal-hal yang mendidik.

Setuju?

Baca selanjutnya!



Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

Fakta atau Opini


Baca sebelumnya!

Saya ingin Anda membuat statement tentang teman di sebelah Anda! Ngobrol sebentar tentang apa saja! Berkenalan!

Sekarang saya ingin setiap orang menyebutkan satu fakta dan satu opini tentang teman Anda!

Dalam obrolan kita di sekolah, lebih banyak mana: fakta atau opini?
"OPINI!"
Kalau itu opini, maka setiap orang memiliki opini yang berbeda-beda. Bagi seseorang, si A itu supel; tetapi bagi yang lain, si A itu pendiam. Di sekolah ada orang yang kita suka, tetapi bisa jadi ada orang yang sama sekali tidak suka sama dia. Karena opini itu subjektif. Ada orang yang kita merasa tidak nyaman, tetapi orang lain merasa nyaman dengannya. Dalam lingkup pendidikan, hal itu wajar, karena isinya manusia-manusia. Akan tetapi, ....


Sekarang lihat! Seperti apakah saya? Ada gambar kopi, air, hujan, pohon, matahari, batu. Silakan Ibu Bapak memilih: Anda mengidentikkan diri Anda seperti apa? Tidak usah ditulis. Dipikir saja!
"Matahari!"
Terserah tidak usah ngomong dulu! Tidak usah disampaikan. Nah Ibu Bapak, perhatikan! Ini juga perlu dibiasakan di kelas. Bukan setiap anak harus selalu menyampaikan jawabannya. Di kelas, karena anak terbiasa dipersepsikan harus mengerjakan soal, harus menjawab pertanyaan, jadi semua hal harus disampaikan. Padahal, yang penting adalah mereka harus kita ajak untuk berpikir.

Mari silakan pilih salah satu yang menurut Ibu Bapak sifat benda ini mirip dengan Anda.

"Kopi, karena kadang saya membuat ketidaknyamanan pada anak. Tetapi saya yakin saya memberi manfaat pada anak-anak."
"Kopi juga. Karena kopi itu memiliki sifat strong. Karena kadang-kadang being strong is the only choice."
"Air. Karena hidup saya mengalir. Air itu sabar. Batu yang keras pun kalau kena air setiap hari akan berlubang."
"Pohon. Karena saya harus melindungi orang-orang di sekitar saya dan berusaha ingin menyejukkan mereka."
"Saya juga pohon. Karena kalau di kelas saya ingin membuat suasana nyaman. Karena meskipun mereka ada yang tidak paham, tetapi ada satu yang mereka yakini, bahwa mereka merasa nyaman dengan saya."
"Air. Karena fleksibel, bisa berubah sesuai tempatnya. Air juga pendiem kalau dalem."
"Air. Saya guru TK. Jadi sangat dibutuhkan untuk menjadi fleksibel."
"Air. Hidup saya mengalir dan sering harus fleksibel."
"Matahari. Anak-anak kadang mendapatkan informasi yang simpang-siur. Saya ingin menjadi sumber yang dipercaya."
"Hujan. Hujan itu berproses. Demikian pula segalanya perlu proses. Dan hujan selalu ditunggu di mana pun yang ada tumbuhan."
"Pohon. Saya ingin seperti pohon yang selalu bertumbuh."
"Air. Saya itu pendiam, kadang manutan, tetapi saya ingin tetap menjadi seperti air yang jernih."
"Kopi. Kalau belum minum kopi, nggliyeng. Karena setelah minum kopi saya semangat. Saya ingin kehadiran saya membuat anak-anak tetap semangat."

Di organisasi sekolah itu, opini itu lebih mewarnai. Tetapi kita lihat benda yang tadi kita pilih. Misalnya pohon. Pohon itu mengayomi kalau ia subur. Tetapi kalau tidak subur ya tidak bisa mengayomi. Air. Air itu mengalir jernih, tetapi kalau kebanyakan jadi banjir. Air juga mudah tercemar. Matahari, kalau panasnya pas tidak sakit, tetapi kalau tidak pas, bisa membuat sakit. Kopi, kalau pas nikmat, tetapi kalau tidak pas bisa membuat jantungan.

Artinya, apa maknanya. Jika kita berbicara mengenai opini di sebuah organisasi yang namanya komunitas sekolah, kita harus menyadari bahwa di balik kelebihan masing-masing orang yang ada, terdapat kekurangan-kekurangan untuk saling diterima dan saling diperbaiki. Jadi tidak ada yang kemudian ekstrem, "Ah, kalau dia sih tidak bisa disuruh apa-apa!" Nggak ada! Pasti dia bisa disuruh tetapi di bidang yang menjadi kelebihannya. Kita harus mencari kelebihan dia.

Oleh sebab itu, sebagai anggota komunitas, kita harus terus berpikir bagaimana menciptakan nuansa yang positif karena komunitas belajar itu hanya akan berkembang dan bertumbuh seperti pohon kalau positif atmosfernya, kalau nuansanya positif.
"Lah saya kan cuma satu orang?"
Minimal ada satu orang yang positif. Dan kemudian orang yang mengerti itulah yang menjadi penyemangat, yang fleksibel, menjadi seperti pohon rindang, dsb., karena dia mampu menyadari bahwa di balik kelebihan-kelebihan setiap orang itu ada kekurangan-kekurangan dan begitu pula sebaliknya. Contohnya di kelas, ada anak yang cepet sekali bekerjanya, tetapi kurang teliti. Sebaliknya, ada anak yang sangat teliti, tetapi kurang cepet kerjanya.

Nah, hal-hal semacam inilah yang kita sebagai seorang pendidik perlu terus-menerus menyadari. Tidak mungkin semua orang disuruh seperti kita. Tidak pernah ada. Di lingkup sekolah tidak ada. Di kelas pun juga tidak ada.

Ini bukan perkara, kalau mau pensiun, pensiun saja. Melainkan justru mau pensiun ini bagaimana bisa mempercepat perbaikan supaya bisa menjadi kebaikan bagi yang lain, untuk meningkatkan sesuatu yang bisa ditiru oleh orang lain, bisa dipelajari orang lain.

Baca selanjutnya!


Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

Rabu, 15 Maret 2017

Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan

Baca sebelumnya!


Bu Itje menampilkan 9 gambar foto mengenai kegiatan yang pernah dijalankannya. Peserta diminta memilih salah satu gambar dan mengajukan pertanyaan mengenai gambar itu.

Ketika konteks gambarnya spesifik, peserta langsung bisa mengajukan pertanyaan yang spesifik yang bisa langsung terjawab. Tetapi ketika konteks gambarnya tidak spesifik, kebanyakan pertanyaan yang diajukan peserta tidak berhasil mendapatkan jawaban yang membawa peserta kepada konteks gambar secara utuh sehingga yang didapatkan hanyalah potongan-potongan informasi dan tidak menghasilkan pesan. Potongan-potongan informasi itu tidak menghasilkan pesan.

Inilah yang sering terjadi di kelas, anak itu hanya mendapatkan potongan-potongan informasi karena tidak adanya koherensi. Bagaimana caranya mendapatkan pesan? Atau bagaimana caranya agar informasi-informasi itu menjadi koheren? Caranya adalah dengan mengajari anak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memperoleh informasi-informasi yang basic terlebih dahulu, yang paling dasar terlebih dahulu.

Kalau pertanyaannya "Sedang apa?" itu akan ditentukan oleh "Di mana?" Misalnya jawabannya Di kelas. Pertanyaan lanjutannya "Kelasnya di mana?" Sampai pada akhirnya kita berbicara isinya lagi ngapain.

Sering kali kita mengajar anak-anak, konteks itu tidak kena. Jadi informasi yang didapat anak itu sepotong-sepotong karena kita tidak mengajak anak untuk melihat sesuatu secara keseluruhan terlebih dahulu.

Yuk, kita coba lagi!

"Itu kelihatannya semua orang sedang serius, sedang membicarakan sesuatu yang penting, ya? Itu sedang membicarakan apa, ya?"
Kalau pertanyaannya sedang membicarakan sesuatu, tentu saja jawabannya iya. Misalnya saya jawab, Itu sedang mendiskusikan teknik pengajaran bahasa. Tetapi informasi ini tidak memiliki konteks. Payung dari informasi ini belum didapat.

Agar menjadi pesan, maka harus didapatkan konteksnya terlebih dahulu.

Jadi pertanyaan yang paling tepat adalah:
"Ibu sedang di mana?" Di kelas.
"Kelasnya di mana?" Di Cambridge.
"Kelasnya kelas apa?" Kelas pelatihan.
"Pelatihan apa?" Pelatihan para pelatih guru.
"Siapa saja pesertanya?"

Nah ini baru dapet konteksnya.

Sekarang pertanyaannya: Di kelas lebih banyak mana? Anak belajar menjawab pertanyaan atau anak belajar bertanya? Biasanya lebih banyak belajar menjawab daripada bertanya.

Kemampuan bertanya itu sangat penting. Bertanya adalah untuk mengeksplorasi berbagai hal. Yang harusnya dikuasai oleh anak.

Katanya Kurikulum 13 mengajar anak untuk menanya, tetapi dalam penyusunannya tidak ada guidelines yang mengajar guru untuk mengajak anak menanya.

Yuk dicoba lagi dengan gambar yang lain.

"Itu di mana, Bu?" Di salah satu kota kecil di Inggris.
"Tentang apa, Bu?" Bukan tentang apa supaya terusannya menjadi pesan. Nah teknik guru untuk memancing anak bertanya adalah tidak langsung memberi jawaban yang dikehendaki siswa.
"Dalam rangka apa?" Ini juga belum menjadi pesan. Harusnya pertanyaannya ..
"Daerah apa, Bu?" Daerah kota kecil di Inggris, bernama South Gloucestershire.

Semakin didapatkan banyak detil, maka informasi itu semakin menghasilkan gambar. Dan semakin menghasilkan gambar, anak makin gampang mikirnya.

Bagaimana? Susah? Memang karena ini skill. Ini bukan bawaan lahir. Ini harus dilatih. Ini adalah skill yang harus dilatihkan. Bagaimana melatih anak menanya, membuat anak menanya.

Yuk dilanjutkan!

"Sedang apa?" Pelatihan.
"Bersama siapa?" Para kepala sekolah dari 19 sekolah. 
"Dari Indonesia?" Dari Indonesia.
"Kenapa harus di sana?" Karena ada kerja sama antara pemimpin pembelajaran di salah satu akademi yang ada di sana dengan Kementerian Pendidikan Indonesia.
"Hasil yang diharapkan?" Cari konteksnya dulu. Jangan kejauhan dulu. Kontekskan dulu supaya informasinya utuh. Mohon perhatikan ya, melalui proses ini sebenarnya saya ini sedang memberikan pandangan bagaimana mengelola kelas.
"Kenapa yang diajak Ibu bukan yang lain?" Karena saya ini trainer-nya. Saya partner dengan trainer yang ada di sana.
 "Jenis pelatihannya apa?" Leadership.
"Tujuan pelatihannya apa?" Agar para sekolah mampu memberikan pembelajaran. Bukan administrasi. 
"Kenapa harus di sana?" Karena ada kerja sama antara pemimpin pembelajaran di salah satu akademi yang ada di sana dengan Kementerian Pendidikan Indonesia.

Nah ini contoh baik. Di kelas, ketika ada anak yang mengulang pertanyaan yang sama, tetap harus dijawab. Karena keyakinan diri anak itu bertumbuh ketika kita menghormatinya dengan menghargai pertanyaannya. Namun, biasanya aslinya guru suka keluar. Biasanya kalau ada anak yang mengulang pertanyaan yang sama, maka guru biasanya bilang, Nah ketahuan, kamu tidak mendengarkan tadi! Itu asli manusianya keluar, pendidiknya hilang.

Nah, kalau kita ingin menyusun sebuah konteks, berarti seperti apa itu? Masih ada informasi yang hilang, Apa itu? Waktu. Karena setiap peristiwa ada waktu ada tempat.

Dari 9 gambar itu, mana yang paling tua? (Para peserta menebak sambil ketawa-ketawa)

Nah seperti inilah proses di kelas. Proses di kelas adalah mengasah keterampilan berpikir. Nah kita ketika nanti mengajak anak untuk mengasah keterampilan berpikir, karena belum dibiasakan, anak-anak akan ketawa karena mengira kita hanya main-main. Loh, ini bener. Makanya inilah yang harus kita latih dan kita ubah paradigma kita. Karena sudah sedemikian panjangnya kita mengajar hanya memberi informasi yang harusnya tidak perlu dilakukan oleh seorang guru. Kita ini kalau tidak terus-menerus berlatih mengasah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia, segala hal di bumi ini bisa digantikan oleh mesin, Sekarang, proses check in itu makin banyak diganti oleh mesin. Karena sudah ndak perlu orang. Apalagi dengan teknologi barcode, segala sesuatu sudah bisa dibuatkan sistemnya.

Jadi kalau anak lulus sekolah, itu belum tentu anak yang mampu berpikir, kalau di sekolahnya hanya penuh dengan hafalan-hafalan, penuh dengan latihan soal, .

Maka sebenarnya saya sepakat dengan pak mentri yang mengajukan moratorium ujian nasional yang ditolak oleh wakil presiden. Dan ternyata, oh ternyata, hanya karena proyek, karena sudah teken pencetakan soal, pembuatan ini dan itu.


Baca selanjutnya!


Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto

Selasa, 14 Maret 2017

Pertanyaan Awal Fasilitator

Baca sebelumnya!

Ke-24 guru yang hadir dalam acara ini adalah guru yang "tidak perlu diomelin orang-orang, karena sudah mengomelin diri sendiri" untuk belajar.

Dari ke-24 guru yang hadir sudah terkumpul pengalaman mengajar lebih dari 200 tahun. Pertanyaannya: sudah berapa anak yang sudah terpengaruh, baik ke arah baik maupun ke arah yang kurang baik.

Kalau dampak ke arah yang baik itu jelas dilakukan secara sengaja oleh guru. Guru itu tidak ada yang berniat melakukan sesuatu yang tidak baik kepada muridnya. Tetapi justru persoalannya ada pada yang tidak sengaja, yang bawah sadar. Nggak sengaja karena aslinya yang keluar. Aslinya judes, meskipun di depan pengawas sangat baik, ya keluar aslinya yang judes. Aslinya males, ya keluar aslinya males. Kenapa? Karena jadi pendidik ndak pernah bisa pura-pura. Jadi pendidik ndak pernah punya kesempatan untuk pura-pura. Sedikit pun tidak bisa. Kita yang biasa ngomong bergumam, meskipun kalau disupervisi berusaha dikeras-kerasken, ya akan keluar aslinya kalau ngomong hanya bergumam. Guru yang males ngomong. Di kelas kok males ngomong? Ada. Banyak guru yang males ngomong. Senengnya, "Anak-anak, coba lihat tugas kemarin yang halaman berapa? Hari ini tugas yang harus kalian kerjakan halaman 15. Cara ngerjainnya di situ ada contohnya." Dan guru yang kayak gitu adalah pembunuh kehidupan.

Secara tidak sengaja. Kenapa tidak sengaja? Karena ketika mengawali profesi sebagai pendidik, tidak ditekankan bahwa hal itu merupakan bagian penting dalam mendidik. Sehingga dalam situasi-situasi atau kondisi-kondisi atau posisi-posisi tertentu aslinya keluar semua. Bahkan sampai ada guru yang suka mengungkapkan kata-kata yang kurang tepat kepada rekannya. Dan banyak yang menganggap kalau itu tidak kepada muridnya hal itu tidak apa-apa. Padahal, ruhnya guru itu ada dalam dirinya, dalam tingkah lakunya kepada siapa pun.

Maka di sesi ini Bu Itje hanya akan bicara mengenai revitalisasi. Revitalisasi itu tidak pernah bisa dari orang lain. Orang lain hanya membukakan jalan untuk berpikir bagaimana saya merevitalisasi diri. Karena revitalisasi diri itu menyangkut banyak hal. Berbagai literatur mengatakan bahwa, "Teaching is the most complicated business in the world." Mengajar itu adalah urusan yang paling menjelimet di dunia. Jadi kalau ada guru enteng, itu saya kagum, karena betapa teganya dia membiarkan anak-anak, karena mengajar adalah sebuah urusan yang pelik. Kelas A dan Kelas B, bisa tidak kita persis melakukan hal yang sama? Tidak akan pernah bisa. Karena karakter di Kelas A dan Kelas B berbeda. Jelas karakter antar individu berbeda, tetapi sebagai kelompok pun itu atmosfernya lain.

Nah hal-hal seperti ini harus menjadi bagian pemikiran utama setiap seorang guru.

Nah sampai di sini masih OK? Masih setuju? Masih nyambung? Masih bisa dipikirin? Karena kalau mendengarkan apa-apa sudah tidak bisa dipikirim berarti sudah males mendengarkan. Termasuk anak-anak kita.

Anak-anak di kelas? Sering kali, gurunya, eye contact tidak ada. Suaranya tidak bervariasi. Anak-anak tidak mendengarkan katanya salah anak-anak. Halo! BUKAN, mohon maaf. Itu adalah gurunya yang belum bisa membuat anaknya nggak malas. Lo kok gitu sih? Hiya! Karena sebenarnya setiap anak itu ingin belajar.

Jadi di dalam kelas anak-anak butuh guru yang membuat mereka merasa ingin belajar. Perhatikan: anak-anak membutuhkan guru yang membuat mereka kepingin belajar. Bukan kepingin bisa. Karena apa yang dibisai anak-anak pada saat di sekolah itu belum tentu yang dipikirkan kalau dalam proses mengajar anak-anak tidak diajak mengolah informasi itu. Cuman dikasih, disuruh menghafalkan, menjawab soal.
Ini kemudian kita melihat dampaknya kepada Indonesia secara keseluruhan, mencermati hasil evaluasi secara internasional, karena proses di kelas kita adalah proses yang tidak mengajak berpikir.

Baca selanjutnya!

Laporan acara:
  1. Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan dengan tema: Pendidik Masa Depan
  2. Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
  3. Pertanyaan Awal Fasilitator
  4. Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
  5. Fakta atau Opini
  6. Apa Keinginan dan Kebutuhan Peserta Didik Kita?
  7. Siapa yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan lingkungan belajar?
  8. Sebagai Pendidik, saya ...
  9. Standar Kompetensi Guru
  10. Tantangan Abad 21 v.s. Kurikulum
  11. PISA dan Dilema Kebijakan Sekolah di Indonesia
  12. Mengubah mindset: refleksi terus-menerus sudahkah kita menjadi model pembelajaran?
  13. Ajari Anak Didik untuk Bertanya
  14. Galeri Foto




Senin, 13 Maret 2017

Ajari Anak Didik untuk Bertanya

Catatan peserta lokakarya Temu Kangun 11 03 2017
oleh Ibu Yulia Loekito

Ibu Yulia Loekito

Carilah beberapa potongan gambar yang menurut Anda bermakna. Kemudian tantang diri Anda sendiri untuk membuat PERTANYAAN atas gambar tersebut. Bisakah Anda membuat pertanyaan yang kritis dan bermakna? Bisakah Anda menggali apakah sebenarmya konteks dari gambar tersebut? Pada akhirnya apakah pertanyaan yang Anda ungkapkan memungkinkan Anda menangkap pesan yang ingin disampaikan gambar tersebut?

Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, kegiatan itu tidaklah mudah. Salah satu sebabnya mungkin karena kita tidak terbiasa. Tidak terbiasa berpikir kritis. Kenapa? Barangkali karena selama kita bersekolah kita memang belum banyak atau bahkan belum pernah dibelajarkan untuk berpikir kritis. Kita hanya disodori potongan-potongan informasi yamg suka kita telan mentah-mentah (hapalan-hapalan bisa jadi salah satu contohnya). Selama bersekolah kita tak banyak belajar untuk memecahkan persoalan, kita hanya mengerjakan catatan, ualngan, dan ujian. Selama bersekolah kita tak banyak diberi kesempatan untuk bereksplorasi.

Lalu "kita" yang "itu" sekarang menjadi Guru.

Maka sungguh perlu kita mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan penting berikut ini.
Sudahkan kita memberi banyak kesempatan bagi siswa untuk bertanya?

Kita boleh jawab dengan jujur, seberapa sering sih anak-anak di kelas itu bertanya ketimbang menjawab?

Sudah bisakah kita membimbing mereka untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang bermakna?
Sudah bisakah kita menyuguhkan pesan bermakna yang kontekstual pada pelajaran-pelajaran yang kita bawakan di dalam kelas? Ataukah masih sebatas potongan informasi tak bermakna?

"Karena dalam hidup ini, untuk satu pertanyaan, akan ada banyak pilihan jawaban. Namun, kemampuan bertanya adalah bekal anak untuk bisa bereksplorasi secara mandiri kelak," begitu tutur Bu Itje lugas.

Kenyataan dan kejujuran biasanya memang tak terlalu manis rupanya. Namun, pahit biasanya adalah bahan bakar terbaik untuk perubahan.

Mari kita merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Lalu lakukan sesuatu untuk anak-anak. Untuk siapkan bekal yang cukup buat mereka kelak.bisa jadi dewasa yang mampu "berpikir."

Kalau itu saya, mungkin saya akan memulai dengan menjawab pertanyaan anak dengan pertanyaan lain.
Tentang Srikaya
"Bu, ini apa?"
"Menurutmu?"
"Ini buah."
"Oh ya, betul. Ini memang buah. Kira-kira rasanya apa, ya?
"Hmm... aku belum pernah makan, Bu."
"Kamu mau mencicipi?"
"Mau. Oh rasanya, manis. Tapi banyak.bijinya."
"Enak ya? Kamu suka?"
"Suka. Di mana belinya, Bu?"
"Di pasar."
"Pasar mana, Bu?"
"Pasar Condong Catur. Kamu mau beli?"
" Iya mau. Tapi gimana ya, Bu bilangnya?"
"Kamu harus cari tahu nama buah itu dulu kan?"
"Oh, iya ya."
" Kayaknya di buku ini ada keterangan tentang macam-macam buah. Kamu mau membaca?"
"Mau! Oh ini dia, Bu. Namanya Srikaya."
...
Kenapa harus repot bicara panjang lebar, padahal segala sesuatu bisa jadi mudah dan aederhana kalau kita langsung jawab saja, "Srikaya."
Karena kita sedang mengajari murid kita berpikir untuk bisa bertanya sehingga ia punya bekal untuk banyak bereksplorasi di dunia yang kian tidak mudah didiami ini.

Sumber: slide ke -2 dari Presentasi Ibu Itje Chodidjah



Baca juga:
Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!
Pertanyaan Awal Fasilitator
Ajari Anak Didik untuk Bertanya
Mengajukan Pertanyaan yang Menghasilkan Pesan
Galeri Foto

Minggu, 12 Maret 2017

Tuliskan Satu Kata tentang Diri Anda!

baca sebelumnya

Lokakarya Penulisan Artikel Pendidikan bersama Ibu Itje Chodidjah bertajuk:
Guru vs Kurikulum: Pendidik Masa Depan Menyikapi Perubahan Kebijakan

11 Maret 2017
di Hotel Dafam Fortuna
Jln. Seturan Raya - Catur Tunggal Depok Sleman Yogyakarta


Daftar Acara:

08.00—09.15 Registrasi
09.15—09.45 Acara Pengantar
- Doa Pembukaan dipimpin oleh Bapak Agus Suranto
- Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
- Membacakan Himne Komunitas Guru Menulis bersama-sama
- Perkenalan
09.45—12.00 Sesi Bu Itje Chodidjah
12.00—13.00 Istirahat Makan Siang
13.00—15.30 Diskusi Simpang Siur


Perkenalan
- Tuliskan SATU KATA tentang diri Anda!




- Tuliskan SATU KALIMAT yang menggambarkan siapa Anda!




- Tuliskan SATU KALIMAT yang menggambarkan bagaimana Anda!




- Tuliskan SATU KALIMAT yang menggambarkan mengapa Anda!




- Tuliskan SATU KALIMAT yang menggambarkan syukur Anda!




- Tuliskan SATU KALIMAT yang menggambarkan impian Anda!




- Ceritakan keluarga Anda!




- Ceritawakan riwayat pendidikan Anda!




- Ceritakan riwayat karier Anda!




- Tuliskan daftar prestasi yang pernah Anda raih!





- Tuliskan daftar karya yang sudah Anda hasilkan!


Kemudian tulislah satu paragraf dengan melengkapi kalimat ini:
Sebagai pendidik saya ...
Setelah ... tahun menggeluti pendidikan, saya menyadari bahwa ...
Sebenarnya saya adalah seorang pendidik yang ... tetapi ...


Perkenalan ini bertujuan untuk melatih peserta dalam membuat BIODATA NARASI yang lebih kaya.

Kegiatan ini juga mengantar para peserta kepada sesi inti "belajar bersama" yang dipandu oleh Ibu Itje Chodidjah yang mengajak semua peserta untuk melakukan refleksi atas perjalanan keguruan mereka.


Catatan: Tuliskan jawaban Anda pada dokumen Word. Lengkapi dengan foto-foto pendukung (apa pun yang merepresentasikan pesan yang ingin Anda sampaikan, termasuk--kalau mau--foto keluarga, foto prestasi, foto karya, dll). Kirim ke email komunitas.guru.menulis@gmail.com agar bisa kami posting sebagai profil anggota Komunitas Guru Menulis di blog ini.