Komunitas bagi para guru/dosen yang serius ingin menerbitkan buku.
Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.
Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN
Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.
Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal
Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.
Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.
Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.
Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.
Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.
Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.
Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN
Dra. Chatarina Suryanti, M. Hum.
Lahir di Sleman. Lulus Sarjana di Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya Yogyakarta (1986) dan Magister Humaniora di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2001). Sejak 1989 sampai sekarang menjadi dosen tetap di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan mengampu mata kuliah Pendidikan Agama dan Pendidikan Moral. Tahun 2008-2015 menjadi Kepala Kantor Kemahasiswaan dan Campus Ministry. Menerbitkan buku Urgensi Pendidikan Moral (2010), Penghayatan Iman Intrinsik (2017), dan Perempuan dalam Konflik Keluarga (2019).
Deskripsi:
Manusia laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai citra Allah. Mereka memiliki martabat yang sama: sama-sama memiliki kecerdasan dan kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya, dan sama-sama diciptakan sebagai makhluk sosial. Kebebasan dan kecerdasan yang mereka miliki bukan untuk kepentingan sendiri melainkan untuk kesejahteraan bersama. Sebagai citra Allah manusia dipanggil Tuhan untuk menjadi sahabat-Nya, sebab tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, tetapi semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3: 28).
Memang laki-laki dan perempuan berbeda secara seksual. Tetapi perbedaan itu bersifat saling menolong dan melengkapi satu sama lain. Ungkapan perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki dan sebagai penolong laki-laki tidak mengindikasikan subordinasi perempuan atas laki-laki, melainkan lebih menekankan pada kesamaan esensial bahwa keduanya sama-sama sebagai citra Allah.
Yesus sangat menghormati martabat manusia bahkan memperjuangkan martabat perempuan. Karena iman dan kesetiaan seorang perempuan Yesus mengubah air menjadi anggur dan menunjukkan keselamatan yang terlaksana dalam wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan tegas Yesus berkata: “Barang siapa melakukan kehendak Allah dialah saudaraku laki-laki dialah saudaraku perempuan, dialah ibuku” (Markus 3: 35). Cinta kasih adalah tawaran yang diberikan Yesus untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender. Tantangannya terletak dalam kesetiaan antara suami-istri karena ada banyak cobaan, kesulitan dan penderitaan yang diakibatkan oleh sistem ekonomi, politik dan budaya yang merendahkan martabat manusia. Maka Yesus menginginkan supaya Gereja-Nya menjadi sebuah rumah tangga dengan pintu selalu terbuka mencintai semua orang: “Lihat Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3: 20).
Daftar Isi:
Kata Pengantar v