Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label komunitas guru menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunitas guru menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 September 2018

Komunitas Guru Menulis: Logo Baru, Sistem Baru, Semangat Baru


Sejak 2014, sudah ratusan buku diterbitkan
Komunitas Guru Menulis sudah memasuki tahun kelima. Sudah ada ratusan buku yang diterbitkan. Ada puisi, pantun, haiku, sedoka, triolet, cerpen, novel, best practice, PTS, PTK, buku teks, kisah pengalaman guru, kisah inspiratif, kisah lucu guru, cerita anak, pantun anak, puisi anak, catatan perjalanan, catatan peristiwa, dan lain-lain. Komunitas Guru Menulis membantu para guru untuk menerbitkan karya-karyanya dengan pembiayaan bersama oleh para penulis (kontributor).

Bukan sekadar menerbitkan buku ber-ISBN
Kalau ada yang mengira atau menganggap bahwa kami sekadar menerbitkan buku ber-ISBN,
sekadar mengumpulkan naskah, menata (me-layout), bikin cover, tempel ISBN, lalu cetak,
itu salah.
Kami tidak seperti itu. Kami bertanggung jawab ketika menerbitkan tulisan-tulisan Ibu dan Bapak guru/dosen atau Anda para pengirim naskah. Kami membaca naskah Anda, kami menyeleksinya, kami mengeditnya, kami memperbaiki naskah sesuai kaidah berbahasa. Bahkan kadang tidak hanya sekali kami melakukannya, kadang bahkan sampai lima kali. Kami bersungguh-sungguh mengerjakan naskah yang dikirimkan sebagai bentuk pertanggungjawaban kami dalam menerbitkan buku. Memang kami belum sempurna, tetapi kami bersungguh-sungguh di dalam mengerjakan penerbitan naskah-naskah Anda.

Siapa kami?
Kami bukan lembaga pemerintah, kami juga bukan LSM, kami adalah person-person yang peduli pada perbaikan literasi dan pendidikan di negeri ini, negara Indonesia. Kami punya misi dan visi.

Misi kami adalah mengembalikan hati guru pada muridnya

Visi kami:
  1. Mendorong guru untuk mau berbagi pengalaman lewat tulisan
  2. Menularkan semangat sejati guru kepada guru lainnya lewat tulisan dalam bentuk buku yang diterbitkan
  3. Mendukung karier dan profesi guru agar semakin profesional dan sejahtera
  4. Ikut membantu memperbaiki pendidikan Indonesia dengan menyebarkan inspirasi-inspirasi baik dari guru ke guru lainnya
Lagu berikut semoga membantu Ibu dan Bapak untuk lebih memahami siapa kami dan apa misi kami.

Himne Komunitas Guru Menulis 

Dengan pena di tangan 
Goreskan keindahan
Tajamkan pisau kalbu 
Sucikan niatan bakti 

Nyalakan api pengabdian 
Penuhi panggilan pertiwi
Di tanganku masa depan negeri 
Lahirkan generasi berbudi

Tuk menyemai harapan 
merawat kehidupan 
Takdirku melahirkan 
generasi bahagia 

Sirami jiwa yang dahaga 
Sembuhkan hati yang tlah terluka
Ubahkan tangis jadi senyuman 
Bangkitkan smangat yang telah padam

Dengan pena di tangan 
Goreskan keindahan
Takdirku melahirkan 
generasi bahagia 


Kami hadir ingin menjadi wadah bagi Ibu dan Bapak guru dan dosen untuk semakin mengembangkan diri sebagai guru yang profesional sekaligus pendidik yang mumpuni melalui peningkatan kualitas literasi. Bagi Anda yang pemula sama sekali di dunia tulis menulis, kami siap membantu menjadi jembatan agar Ibu dan Bapak dapat memiliki karya terbitan, terutama dapat berbagi pengalaman yang baik kepada para guru atau dosen yang lain. Kami sadar, tidak semua guru membutuhkan kami. Tetapi kami ada untuk Anda yang benar-benar ingin memiliki karya terbitan dengan kualitas yang kurang lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Karena kami bukan lembaga pemerintah, kami juga tidak memiliki lembaga donor, sementara kegiatan penerbitan tidak lepas dari biaya, ada proses-proses yang harus dikerjakan oleh tenaga-tenaga yang memiliki keahlian khusus di bidangnya: penyuntingan, desain buku, desain cover, yang semuanya membutuhkan pembiayaan. Pembiayaan ini kami bebankan kepada Anda yang ingin menerbitkan karya bersama kami. Dan tentu saja, ada biaya cetak yang harus dibayar.  Untuk itu kami menetapkan beberapa ketentuan pembiayaan. Ada biaya kontribusi penerbitan yang harus dipikul oleh Bapak Ibu yang memang mau bekerja sama dengan kami.

Belajar dari pengalaman yang lalu
Selama ini kami menetapkan beberapa sistem pembagian pembiayaan penerbitan. Ada yang dengan ketentuan, membeli minimal sekian eksemplar bukunya sendiri. Ada juga yang menggunakan sistem paket penerbitan yang harus dibagi merata kepada semua kontributor. Selama ini kami meminta pembayaran kepada para kontributor setelah file siap cetak. Jadi semua proses sudah dilalui: seleksi, penyuntingan, proofreading, layout isi buku, desain cover, pengurusan ISBN dan tinggal cetak. Semua proses itu sudah mengeluarkan biaya.

Namun, ada beberapa kontributor yang kemudian mundur atau tidak mau memberikan kontribusi biaya penerbitan. Padahal, semestinya ketika penulis, yang adalah guru, mengirimkan naskah kepada kami, ia sudah paham dengan semua ketentuan yang ada. Tetapi pada akhirnya ia mundur dan tidak mau membayar biaya kontribusi yang semestinya sudah disepakati sebelum ia mengirimkan naskah.

Ketika ada kontributor yang tidak mau memenuhi ketentuan ini, kami merasa tidak dihargai oleh seseorang yang seharusnya bisa kami percayai: guru. Tenaga kami, waktu kami, biaya yang telah kami keluarkan tidak dihargai oleh penulis yang juga adalah guru. Kami sungguh prihatin akan hal ini. Kami percaya sebagai seorang pendidik kita mestinya memiliki integritas.

Sebenarnya tidak apa-apa seandainya pada saatnya belum bisa membayar biaya kontribusi. Ketika hal itu yang terjadi, sebenarnya akan lebih baik untuk menghubungi kami dan menyampaikan bahwa untuk saat ini belum sanggup membayar biaya penerbitan ini dan kami akan menyimpan naskah tersebut untuk penerbitan periode berikutnya. Kami juga dapat memaklumi bahwa kondisi keuangan guru tidak selalu dalam keadaan siap untuk membayar biaya penerbitan. Namun, mohon menyampaikan kepada kami kondisi yang sebenarnya sehingga penerbitan naskah tersebut bisa kami tunda sampai penulis sudah benar-benar siap untuk terlibat dalam pembiayaan.

Biaya penerbitan
Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat ini Komunitas Guru Menulis meminta kepada para kontributor untuk membayar biaya penerbitan di awal ketika penulis sudah mendapatkan konfirmasi bahwa naskahnya layak untuk diterbitkan. Hal ini kami lakukan untuk memastikan bahwa tenaga, waktu, dan biaya yang kami keluarkan untuk proses seleksi, edit, layout, desain buku dan cover benar-benar sudah dan dapat dibayar. Selain alasan itu, hal ini juga akan mempercepat proses penerbitan karena kami tidak perlu menunggu konfirmasi dari penulis ketika naskah sudah siap cetak. Kami bisa langsung melakukan finalisasi dan pencetakan file buku yang sudah siap cetak.

Kontribusi yang lebih adil
Belajar dari pengalaman pula, kali ini kami membuat perhitungan biaya kontribusi yang lebih adil bagi semua kontributor. Biaya kontribusi disesuaikan dengan jumlah naskah yang dikirimkan dengan menggunakan rentangan. Semoga sistem perhitungan ini dapat dirasakan lebih adil bagi Ibu dan Bapak.
Untuk jenis naskah lain (artikel, best practice, kisah pengalaman, PTK, PTS, dan lain-lain) akan ada ketentuan tersendiri. Mohon sabar menunggu sampai kami siap dengan sistem pembagian biaya kontribusi yang lebih adil.

Selamat berkarya.

Sabtu, 04 Februari 2017

Komunitas Guru Menulis

Komunitas Guru Menulis

Orang lebih mudah memahami dan menerima pesan yang tersampaikan lewat kisah daripada dalam bentuk nasihat langsung. Kisah yang menarik apalagi memukau menjadi semacam penguat atau pengokoh pesan, memberikannya multiplier effect, menancapkannya kuat dalam benak pendengar atau pembaca. Sebaliknya, pesan yang tersampaikan secara eksplisit dalam bentuk nasihat atau himbauan, misalnya, bisa jadi tidak seefektif kisah dalam mencapai tujuannya. Terkadang ada selubung-selubung yang secara sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar menghalangi seseorang untuk bisa menerima nasihat atau ajakan bahkan yang sangat baik sekalipun. Tetapi kisah, terutama yang berhasil, akan selalu menemukan jalannya untuk menyusup melewati selubung-selubung itu dan tidak jarang melenyapkannya secara ajaib tanpa sempat disadari oleh pemiliknya untuk akhirnya merembes ke batin dan mengikat hati serta menyemai kehendak.

Demikianlah yang diharapkan akan terjadi ketika Komunitas Guru Menulis memulai adanya. Komunitas Guru Menulis berharap menjadi kesempatan bagi ibu dan bapak guru untuk berbagi kisahnya. Kisah saat guru mengabdi tulus, keluar dari zona nyaman dan memberi lebih, ikhlas berkorban, membantu murid mengalami mukjizat, menyemai harapan, menumbuhkan keberanian, mengembalikan senyum yang sudah hilang, membuka mulut yang selama ini bungkam, menyingkap kisah yang tak pernah terkisahkan, menyelami jiwa yang dahaga dan terluka, menyirami dan menyembuhkannya dengan hati luas-terbuka-menerima, ketika guru berhasil membawa murid keluar dari kemarahan, kebencian, dan kesedihan, membela dan memberikan kepercayaan kepada murid saat tak satu pun memberikannya, yang tersisih terkalahkan oleh sistem, dianggap bodoh, malas, nakal, tanpa harapan, ditakdirkan gagal, saat guru mau membebaskan muridnya dari lingkungan yang telah memenjarakannya, saat ia memberikan teladan, menanamkan kedisiplinan, menyiapkan metode terbaik, mengelola dan menghidupkan kelas dengan kreatif dan cerdas, namun juga saat ia gagal dan kehabisan akal tetapi berani jujur mengakui dan mengevaluasi.

Himne Komunitas Guru Menulis berikut mencoba menggambarkan visi dan misi dibentuknya komunitas ini.

Himne Komunitas Guru Menulis
Syair dan lagu oleh Wakidi Kirjo Karsinadi

Dengan pena di tangan
Goreskan keindahan
Tajamkan pisau kalbu
Sucikan niatan bakti

Nyalakan api pengabdian
Penuhi panggilan pertiwi
Di tanganku masa depan negeri
Lahirkan generasi berbudi

Tuk menyemai harapan
merawat kehidupan
Takdirku melahirkan
generasi bahagia

Sirami jiwa yang dahaga
Sembuhkan hati yang tlah terluka
Ubahkan tangis jadi senyuman
Bangkitkan smangat yang telah padam

Nusantara jaya
Yogyakarta, Maret 2015

Untuk mendengar bagaimana lagu ini dinyanyikan silakan tonton video di Youtube dengan kata kunci “Himne Komunitas Guru Menulis“ atau silakan ikuti tautan berikut: https://youtu.be/_r6sYVgBC4w.




Buku Kisah Pengalaman Nyata Para Guru
Setelah hampir dua tahun berjalan, Komunitas Guru Menulis telah mencatat beberapa kegiatan lomba yang telah melahirkan buku-buku berikut:
  1. Kapur & Papan Kumpulan Kisah Pengalaman Guru yang Jujur dan Menggugah
  2. Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-muridnya
  3. Kapur & Papan Kisah Guru-Guru Pembelajar 1
  4. Kapur & Papan Kisah Guru-Guru Pembelajar 2
  5. Kapur & Papan Kisah Guru-Guru Pembelajar 3
  6. Kapur & Papan Kisah Guru-Guru Pembelajar 4
  7. Kapur & Papan Cerita tentang Pengelolaan Kelas 1
  8. Kapur & Papan Cerita tentang Pengelolaan Kelas 2
  9. Kapur & Papan Kisah Menjadi Guru 1
  10. Kapur & Papan Kisah Menjadi Guru 2
  11. Kapur & Papan Mendidik dengan Hati 1
  12. Kapur & Papan Mendidik dengan Hati 2
  13. Kapur & Papan Kisah Inspiratif Guru 1
  14. Kapur & Papan Kisah Inspiratif Guru 2
  15. Kapur & Papan Kisah Inspiratif Guru 3
  16. Kapur & Papan Kisah Pengalaman Lucu Guru 1
  17. Kapur & Papan Kisah Pengalaman Lucu Guru 2
  18. Kapur & Papan Kisah Pengalaman Lucu Guru 3
Semua naskah dalam buku-buku di atas adalah kisah pengalaman nyata guru. Banyak di antaranya sangat inspiratif dan menyentuh. Sebagian berupa paparan metode dan pendekatan. Kisah-kisah tersebut, Komunitas Guru Menulis berharap, adalah sebuah bentuk komunikasi efektif di antara guru. Tidak hanya antar namun juga intra, kisah dengannya guru saling olah dan saling asah, satu sama lain dan ke dalam batin, semakin lama semakin intens dan merambat meluas, darinya dan dengannya kekuatan dan kilatan-kilatan daya kreatif terbangun dan tercipta.

Kisah 3 Alinea
Selain kisah yang terkait dengan profesi guru, Komunitas Guru Menulis ingin memberi tempat bagi para guru untuk menuliskan kisah yang bersumber dari kehidupan pribadinya di luar profesinya sebagai guru. Untuk itu KGM mengadakan proyek penulisan dan penerbitan Kisah 3 Alinea. Pada awalnya yang diluncurkan adakah Kisah 3 Alinea Cinta, mengenai kisah cinta yang pernah dialami Ibu dan Bapak guru. Kemudian menyusul Kisah 3 Alinea Ibu dan Kisah 3 Alinea Ayah. Ketiganya sudah menghasilkan masing-masing satu buku. Untuk tiga topik ini sekarang sedang berlangsung pengumpulan naskah untuk buku kedua.
Kemudian juga dibuka penulisan dan penerbitan Kisah 3 Alinea Anak, Kisah 3 Alinea Ulang Tahun, dan Kisah 3 Alinea Nenek/Kakek.
Berikut buku yang sudah diterbitkan:
  1. 3 Alinea Cinta
  2. 3 Alinea Ibu
  3. 3 Alinea Ayah: Kisah Pengalaman

Cerpen
Selain berbagi kisah pengalaman nyata, Komunitas Guru Menulis juga mendorong Ibu dan Bapak guru untuk menghasilkan karya-karya kreatif lainnya, seperti cerpen, puisi, novel, biografi, dan bentuk-bentuk karya tulis lainnya.
Untuk mendorong karya kreatif ini akhir tahun 2014 sampai awal 2015 diadakanlah lomba penulisan cerpen yang melahirkan lima buah buku kumpulan cerpen sebagai berikut:
  1. Ilalang di Pekarangan Rumah Ibu dan 14 Cerpen Guru Lainnya
  2. Ibu, Aku Pulang dan 15 Cerpen Guru Lainnya
  3. Ransel Berwarna Hitam 21 Cerpen Anak Karya Guru
  4. Ketika Pohon Pinus Menggugurkan Daunnya 14 Cerpen Guru Bertema Cinta
  5. 8 Piring Menari di Mata Sari dan 17 Cerpen Guru Lainnya. 
Selain buku kumcer hasil lomba, juga sudah terbit buku pertama kumcer hasil dari Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen yang diselenggarakan Komunitas Guru Menulis mulai akhir tahun 2015, berjudul:

  1. Cinta Kedua dan 18 Cerpen Lainnya.
  2. Sayap dari Tuhan: Kumpulan Cerita Anak Komunitas Guru Menulis #1
  3. Batu Cinta: Kumpulan Cerita Anak Komunitas Guru Menulis #2
  4. Diculik Pokemon: Kumpulan Cerita Anak Komunitas Guru Menulis #3
  5. Jarit Ibu Pengobat Rindu: Kumpulan Cerpen
  6. Sandal Jepit John Dalton: Kumpulan Cerpen 2019 #2

Puisi
Akhir tahun 2015 Komunitas Guru Menulis juga memulai sebuah proyek penerbitan puisi bersama dan berikut ini buku yang sudah dihasilkan:
  1. Pejuang Kapur dan Papan Kumpulan Puisi Guru 1
  2. Rezekiku Seperempat Kilogram Beras Kumpulan Puisi Guru 2
  3. Bacalah Rinduku Kumpulan Puisi Guru 3
  4. Kupu-Kupu di Padang Ilalang Kumpulan Puisi Guru 4
  5. Di Matamu Kulihat Surga: Kumpulan Puisi Komunitas Guru Menulis #5
  6. Malam Super Blue Blood Moon: Kumpulan Puisi untuk Bulan Penuh Kedua
  7. Waktu Teduh, Kumpulan Puisi
  8. Jembatan Cinta: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #1
  9. Sepotong Bulan Bertengger di Balik Jendela: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #2
  10. Kutemukan Kau di Antara Jarum Jam yang Bergerak Mundur: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #3
  11. Senja di Bukit Cinta: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #4
  12. Gerimis Senja: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #5
  13. Catatan Senja: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #6
  14. Kutemukan Bayangmu dalam Secangkir Kopi: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #7
  15. Menjemput Senja di Palu Donggala: Kumpulan Puisi November 2018
  16. Pengukir Tanah: Kumpulan Puisi Januari 2019
  17. Kosong: Kumpulan Puisi Januari 2019 #2
  18. Tangisan Burung: Kumpulan Puisi Januari 2019 #3
  19. Romantisme Perahu Kertas: Kumpulan Puisi Januari 2019 #4
  20. Perahu Kecilku: Kumpulan Puisi Maret 2019
  21. Madah Petani: Kumpulan Puisi Maret 2019 #2
  22. Perempuan di Atas Bukit: Kumpulan Puisi Maret 2019 #3
  23. Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019
  24. Puncak Kenikmatan: Kumpulan Puisi Juni 2019
  25. Simfoni Empat Musim: Kumpulan Puisi Juni 2019 #2
  26. Hujan dan Sepotong Kenangan: Kumpulan Puisi Juli 2019
  27. Rumput Kering: Kumpulan Puisi KGM #27
  28. Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28
  29. Mendamba Cinta: Kumpulan Puisi #29
  30. Leak Cinta: Kumpulan Puisi #30
  31. Rindu dalam Rinaimu: Kumpulan Puisi #31
Puisi Anak
Selain puisi umum, juga diadakan proyek penerbitan puisi anak. Berikut buku yang sudah dihasilkan:
  1. Agama Kami Berbeda Kumpulan Puisi untuk Anak
  2. Matahari Bulan Bintang: Kumpulan Puisi untuk Anak
  3. Ulat Bulu: Kumpulan Puisi Anak 2019 #1
Pantun
KGM juga ingin menghidupkan budaya lokal nusantara, salah satunya dengan menyelenggarakan penerbitan pantun. Berikut buku yang sudah dihasilkan:
  1. Pantun Pendidikan Kumpulan Pantun Komunitas Guru Menulis Buku 1
  2. Guru Berpantun: Kumpulan Pantun Komunitas Guru Menulis #2
  3. Pantun Nusantara: Kumpulan Pantun Komunitas Guru Menulis #3
  4. Pantun Anak: kumpulan pantun untuk anak-anak
Puisi Terikat Lainnya
Selain itu, untuk memancing kreativitas para guru dan penulis pada umumnya, KGM juga mengadakan penerbitan puisi-puisi terikat (yang berasal dari luar). Buku yang sudah dihasilkan:

  1. Haiku Guru #1: Kumpulan Haiku Komunitas Guru Menulis
  2. Haiku Guru #2: Kumpulan Haiku Komunitas Guru Menulis
  3. Untaian Sedoka untuk Kekasih
  4. Puisi Akrostik #1: Kumpulan Puisi Akrostik Komunitas Guru Menulis 

Proyek Berkelanjutan
Proyek penerbitan cerpen dan puisi karya guru merupakan proyek berkelanjutan. Semua guru maupun dosen boleh berpartisipasi. Tujuannya agar proses kreatif guru terus terdorong dan terkembangkan, dengannya mereka memiliki bekal dan kekuatan moral untuk juga mendorong dan menumbuhkan kreativitas anak didiknya.

Tidak hanya penerbitan bersama, beberapa guru dan dosen juga sudah menerbitkan karya tunggal, entah itu cerpen, puisi, maupun semacam catatan perjalanan atau biografi.

Komunitas Guru Menulis berharap bisa menjadi wadah kreativitas dan komunikasi yang efektif di antara para pendidik menuju perbaikan kualitas pendidikan di negara ini, dengan terlebih dahulu mendorong perbaikan dari aktor utama di dalamnya, yakni para guru itu sendiri.


Jika Ibu Bapak guru atau dosen ingin berpartisipasi, silakan mengirimkan naskah Anda ke email: komunitas.guru.menulis@gmail.com.
Salam menulis! Salam pendidikan! Salam kreativitas!
Komunitas Guru Menulis
facebook.com/groups/gurumenulis

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga



Ini sebuah kisah bagaimana seorang guru menangani kasus "kenakalan" anak di sekolah atau kelas.

Seorang anak kencing di kelas. Bukan anak SD. Anak SMA. Lalu apa?

Ibu Bapak akan melakukan apa kalau amengalami kejadian serupa? Hayo apa? Marah? Marah kepada siapa, pelakunya saja tidak diketahui. Tak satu pun yang mengaku.

Nah, ternyata, bagi seorang guru seperti Pak Sarno ini, kejadian ini justru menjadi kesempatan yang sangat baik untuk lebih mengenal muridnya, persisnya permasalahan seorang muridnya, yang memang sedang membutuhkan perhatian lebih dari siapa pun yang peduli.

Dan ia berhasil. Ia menemukan siapa yang kencing di kelas tanpa harus marah, tanpa ada siswa yang harus dipermalukan, tanpa ada siswa yang harus sakit hati. Malahan ada seorang siswa yang merasa semakin termotivasi karena ada orang yang sekarang mengerti kondisi dan siap membantunya.

Selengkapnya silakan baca di buku Kapur & Papan Mendidik dengan Hati 1.





Baca juga:
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan “I love you, Maam” Pemenang Kedua dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan “Face to Face" Pemenang Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga


Ini merupakan kemenangan kedua dalam lomba yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis. Sebelumnya Eka Nur Apiyah memenangi juara kedua Lomba Nulis Pengalaman Guru dengan tema Guru yang selalu belajar.

Kisah Hasan ini memperlihatkan bahwa kadang, setelah guru melakukan apa pun untuk "menyelamatkan" seorang siswa yang bermasalah, guru pada akhirnya harus menerima apa pun hasil akhirnya. Guru dalam kisah ini pun demikian. Ia mencoba membantu seorang siswa yang berasal dari keluarga yang kurang mampu agar ia bisa menyelesaikan sekolahnya yang tinggal setahun. Namun pada akhirnya sang guru harus merelakannya pergi agar si anak bisa membantu memperbaiki ekonomi keluarganya.

Selengkapnya silakan baca di buku Kapur & Papan Mendidik dengan Hati 2.


Baca juga:
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan “I love you, Maam” Pemenang Kedua dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan “Face to Face" Pemenang Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Sabtu, 21 Maret 2015

Himne Komunitas Guru Menulis

Syair dan Lagu oleh Wakidi Kirjo Karsinadi

Dengan pena di tangan
Goreskan keindahan
Tajamkan pisau kalbu
Sucikan niatan bakti

Nyalakan api pengabdian
Penuhi panggilan pertiwi
Di tanganku masa depan negeri
Lahirkan generasi berbudi

Tuk menyemai harapan
merawat kehidupan
Takdirku melahirkan
generasi bahagia

Sirami jiwa yang dahaga
Sembuhkan hati yang tlah terluka
Ubahkan tangis jadi senyuman
Bangkitkan smangat yang telah padam

Nusantara jaya

Syair dan melodi bisa dilihat di sini:


Ini usaha pertama membuat rekaman, langsung ambil gitar, coba-coba mencari nada-nada sambil mengarang-ngarang lirik, dan hasilnya seperti ini:


Yang ini usaha kedua setelah melodinya agak stabil.

Minggu, 15 Juni 2014

Kesepakatan 15-6: Deklarasi Komunitas Guru Menulis

Acara kopi darat pertama para guru penulis pada hari Minggu tanggal 15 Juni 2014 menghasilkan kesepakatan berikut ini:


Kesepakatan 15-6

Pertama: Dibentuklah Komunitas Guru Menulis

Visi: Mengembalikan hati guru kepada murid-muridnya
Misi:
1. Mendorong guru untuk mau berbagi pengalaman lewat tulisan
2. Menularkan semangat sejati guru kepada guru lainnya lewat tulisan dalam bentuk buku yang diterbitkan
3. Mendukung karir dan profesi guru agar semakin profesional dan sejahtera
4. Ikut membantu memperbaiki pendidikan Indonesia dengan menyebarkan inspirasi-inspirasi baik dari guru ke guru lainnya

Kedua: Diadakan pertemuan rutin, paling tidak sebulan sekali

Ketiga: Di setiap pertemuan, setiap peserta menghasilkan sebuah tulisan

Jadi secara resmi Komunitas Guru Menulis dideklarasikan pada hari Minggu tanggal 15 Juni 2014 dan disepakati oleh para peserta kopi darat pertama, yakni Bu Ria Santati, bu Laurentia Sumarni Haryanto, bu Petra Suwasti, buYulia Loekito, Bapak Heribertus Anne Binawan, dan saya sendiri, Wakidi Steve.


Temu Darat Pertama: Dideklarasikannya Komunitas Guru Menulis

Pertemuan dengan para penulis saat peluncuran buku Cinta Sang Guru membuat saya ingin meneruskan kebersamaan yang kami rasakan saat itu dengan mengadakan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Adalah ibu Bening Parwitasukci yang semakin mengkristalkan gagasan ini menjadi kenyataan. Waktu itu karena pengiriman undangan launching tidak berhasil diterima Ibu Bening Parwitasukci, saya berinisiatif untuk mengantar contoh terbit buku Cinta Sang Guru kepada bu Bening. Pada perjumpaan tersebut bu Bening menyatakan sangat setuju atas rencana pertemuan darat tersebut dan mendorong agar segera direalisasikan.

Gagasan ini saya tawarkan di grup Kapur dan Papan dan mendapat sambutan yang hangat dari anggota grup. Akhirnya tersepakatilah sebuah acara, dengan tajuk: Diskusi Proses Kreatif Penulisan Kisah Pengalaman Guru.

Berikut pemberitahuan yang kami buat:

Tanggal 15 Juni 2014 Komunitas Guru Menulis ingin mengadakan KUMPUL DARAT, dengan acara utama: Diskusi Proses Kreatif Penulisan Kisah Pengalaman Guru, dan diskusi lain-lain.

Dalam acara utama, kita akan dengarkan proses kreatif dari mereka yang kemarin naskahnya terpilih untuk diterbitkan ke dalam buku "Cinta Sang Guru" . Kita ingin mendengarkan sharing mereka, tantangan dan gairah yang muncul saat menulis.

Kemudian kita juga akan membahas rencana-rencana konkret ke depan berkaitan dengan kelanjutan proses tulis-menulis oleh guru.

Bagi teman-teman guru yang tinggal di wilayah Jogja dan sekitarnya, silakan ikut dalam acara tersebut. Acara akan diadakan di PKBM Angon mulai Pukul 10.00 s.d. selesai (diperkirakan sekitar pukul 15.00)

Alamat silakan lihat di gambar. Bapak Ibu yang hadir hanya diminta mengganti uang makan Rp 25.000.

Bagi yang bisa hadir dan mau hadir, dimohon konfirmasi dengan mencantumkan nama di Komentar. Terimakasih


Acara:
Kronologi Acara 15-6
(1) Perkenalan
(2) Pembacaan Kisah “Rico” oleh Pak Binawan
(3) Sharing Proses Kreatif:
a. Pak Binawan dengan Kisah Rico
b. Bu Marni dengan kisah Ladang Cinta
c. Bu Ria dengan kisah Sepuluh Lima
d. Bu Petra dengan kisah BENCI, Benar-benar Cinta
(4) Pembentukan Komunitas Guru Menulis
(5) Kesepakatan ke depan

Hadir dalam pertemuan itu: Bu Ria Santati, bu Laurentia Sumarni Haryanto, bu Petra Suwasti, bu Yulia Loekito, Bapak Heribertus Anne Binawan, dan saya sendiri, Wakidi Steve.

Bu Marni, Pak Anne, Bu Petra, Bu Ria Santati, Bu Yulia, Pak Wakidi

Rico Si Hitam di depan Sepuluh Lima
Berikut profil peserta diskusi:
‪#‎Profil‬ peserta diskusi 15-6
Staf pengajar di Mercubuana dan STTIL. Nama Anne di tengah diambil dari nama puterinya. Punya ritual menulis setiap hari, sebelum tidur atau setelah bangun tidur. Layaknya orang kelaparan dan baru puas nyaman setelah makan, menulis baginya sudah merupakan “dinner” atau “breakfast” dan menimbulkan efek puas nyaman. Penggemar karya AS Laksana ini memiliki kemampuan untuk menghadirkan detil peristiwa dengan kata-kata tak terduga, efektif namun tepat makna. Lihat saja betapa “riil”-nya “gambar” yang ditampilkannya dalam kisah “Rico Si Hitam”. Kisah ini berlangsung ketika Pak “Bi” diminta membantu mengajar di SMA Boda selama kurang lebih satu semester.

(2) Ibu Ria Santati
Akan sedikit kesulian untuk mencari nama asli pemilik akun FB Ria Santati ini, karena nama lengkapnya adalah Anna Maria Dyah Purnami Santati. Penulis kisah apa, hayo? Tepat, “Sepuluh Lima”. Ibu Ria ini jauh-jauh dari Solo dengan semangat 28 (semangat terbaik untuk diteladani, menurut YB Mangunwijaya) datang ke Jogja untuk “ketemu” dan “mendengar” orang lain yang menjadi penambah kekayaan jiwanya. Miss yang satu ini memang punya hobi “mengamati manusia”. Lihatlah betapa jelinya Bu Ria menyorot sisi unik dari siswa-siswi Sepuluh Lima. Pengajar di SMA Regina Pacis Solo ini sebelumnya adalah pegiat pendidikan di alam terbuka di kota Malang yang digelutinya selama kurang lebih 7 tahun. Berkomitmen untuk hidup melajang dan ingin mati di dunia pendidikan. Bu Ria adalah kombinasi dari latar belakang kontras, antara gemerlap metropolitan dan … keotentikan serta kesederhanaan jiwa yang bebas sebebas gerak alam. Kalau kau lihat mimik wajah dan caranya Ibu yang satu ini ngomong, kau akan tahu bahwa Ibu ini tidak bisa dikungkung oleh standar norma yang memang kadang mengerdilkan atau bahkan mematikan jiwa. Ia tidak kalah nakal dari pada murid-murid yang paling nakal di tempatnya ia mengajar. Itulah yang membekalinya dengan hati dan mental yang bisa menerima murid-murid itu apa adanya. Tidak lebih, tidak kurang.

(3) Bu Marni 
Salah satu kerugian bagi para kontributor “Cinta Sang Guru” untuk tidak datang dalam diskusi 15-6 adalah: tidak bisa menyaksikan, mendengar, (barangkali juga membaui atau bahkan meraba) serta menikmati kemuskilan dosen yang satu ini. Tidak heran jika mantan-mantan muridnya tak pernah sekali pun melontarkan pesan negatif tentang dosen yang satu ini (demikian aku Bu Lia, salah satu peserta diskusi ini juga). Penemu resep “es goreng duren” (plesetan dari It’s going to rain, ungkapan yang melekat di telinga para mahasiswanya ketika hujan hendak turun) mengaku bahwa ia punya bakat untuk menangis. Meskipun gerak-gerik dan mimik wajah serta lontaran kata-katanya, juga aksi tak terduganya, amat cukup untuk membekalinya menekuni "side job" sebagai pesaing Cak Lontong, Ibu yang satu ini amat “gembeng”, gampang sekali menangis. Ia bahkan menjadi barometer tingkat keharuan atas berbagai peristiwa di antara rekan-rekannya, “Bu Marni sudah menangis belum ya?”
Bu Marni, demikian panggilan akrabnya, menjadikan dirinya tempat bercurhat bagi para mahasiswanya. Ia siap menggantikan peran ortu, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari jauh atau yang sedang bermasalah. Menjadi “tempat sampah” menuntut energi prima untuk bisa memberikan hati dengan tulus penuh empati, dan kekuatan ini digalinya melalui ritual “Emmaus Journey”, yakni doa pagi dan refleksi harian yang selalu dilakukannya dengan bersumber dari Kitab Suci. Tanpa berpretensi memberi solusi, Ibu satu anak ini lebih sering berperan menjadi pendengar yang baik dan kadang ikut menangis bersama mahasiswa yang datang untuk menangis. Di sinilah “bakat” “gembeng” ini ternyata dikaruniakan bukan tanpa tujuan, dan bu Marni dibekali kemampuan khusus untuk memanfaatkan talenta ini dengan baik: dengerin curhat, peluk mereka dan ikut menangis – ternyata menjadi terapi yang manjur untuk meringankan beban hidup.
Ibu dosen “yang hampir selalu bergerak” ini menemukan cinta dalam pekerjaan mengajar. Bukan karena “duit”nya, tetapi terlebih karena kehadirannya telah membawa perubahan pada diri anak didiknya. Menyadari bahwa dirinya berguna di dalam hidup ini, bahwa ada yang mengingatnya, ada yang menganggapnya sebagai “my hero”, itu semua membuatnya bahagia sebagai seorang guru. Dan bu Marni menjalani peran ini lebih berangkat dari hati, tentu juga tidak melupakan profesionalisme. “Hot seat”, salah satu bentuk aktivitas dalam kelas “speaking”, mengajak para mahasiswa untuk curhat tentang apa pun. Tidak jarang “hot seat” ini menjadi tempat tertumpahnya air mata, terbukanya selubung-selubung tempat bersembunyi kepedihan yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada, tumbuhnya keberanian untuk membuka katup-katup kepribadian yang memungkinkan pengalaman berperasaan dengan intensitas yang semakin memanusiakan dan mendewasakan.
Kegiatan menulis baginya lebih merupakan masturbasi, menulis untuk dinikmati sendiri. “Keharusan” untuk membuat refleksi memaksanya untuk setiap hari menulis. Dan profesinya sebagai dosen bahasa Inggris membuat tulisannya benar-benar patuh kaidah berbahasa tanda adanya satu pun cacat tanda baca.

(4) Ibu Petra Suwasti
Panggilan menjadi guru ternyata tidak harus muncul dari dalam diri. Bu Petra Suwasti adalah buktinya. Dari benci menjadi guru, ibu yang kecil putih imut ini akhirnya BENCI (benar-benar cinta) jadi guru, bahkan cukup berani untuk menjadi guru bagi anak-anak Papua yang postur badannya hitam besar, tampak sangar dan terkesan mengerikan. Selulus SMA pengajar di STKIP Surya Tangerang ini tidak tega menolak keinginan ayahnya agar mengambil ilmu keguruan dan harus menguburkan keinginan hatinya untuk mengambil fak murni. Karena terpaksa dan tidak enjoy kuliah di FKIP maka wajar saja kalau IP smt pertamanya termasuk NASAKOM (nasib satu koma). Namun setelah ikut berbagai organisasi kemahasiswaan pendidik kelahiran Moyudan Sleman ini menjadi sadar untuk membahagiakan ortu dengan bersungguh-sungguh belajar dan berhasil menggenjot IP-nya menjadi tiga koma.
Sosok kecil namun berhati raksasa ini akhirnya melamar dan diterima untuk menjadi dosen di STKIP Surya, tempat pendidikan bagi anak-anak bangsa kiriman dari daerah-daerah seperti Papua, Kalimantan, Sumatera, dll. Sempat mengalami syok mental dan bahkan ingin “resign” karena berhadapan dengan mahasiswa yang melakukan hitungan-hitungan sederhana saja belum bisa, namun setelah tergabung dalam komunitas MAGIS, jiwa besar namun terbalut dalam tubuh kecil ini akhirnya mulai mengenali jati dirinya sebagai pendidik sejati: ia harus mengerti kondisi siswa-siswanya, memahami, dan bahkan menyesuaikan logat bicara dengan mereka. Anda akan terkagum-kagum mendengar bagaimana ia fasih bergaya bahasa layaknya orang Papua. Ia menyadari bahwa menjadi guru adalah sebuah panggilan mulia. Ia bersyukur ikut terlibat dalam pembangunan manusia Indonesia

(5) Ibu Yulia Loekito
Dia hanya lulusan SMA dan tidak pernah kerasan karena berbagai alasan untuk duduk di bangku kuliah. Namun demikian tidak berarti bahwa Ibu dua anak ini tidak bisa menjadi pendidik sejati. Sempat menjadi guru anak-anak autis dan juga pernah merintis sekolah TK kini Ibu yang gemar sekali pada anak-anak ini mengelola PKBM Angon, sekolah alam yang bertujuan untuk mengembalikan pendidikan anak-anak kepada otentisitasnya.
Kecintaannya kepada anak-anak telah mengantarkannya kepada pergumulan terus-menerus untuk bisa memelangsungkan pendidikan yang baik bagi anak-anak, bagaimana mengenal anak, bagaimana memberikan treatment yang tepat terhadap situasi dan kondisi khusus anak.
Demi kecintaan pada anak ini pula, penulis kisah “Edo” bercita-cita ingin mendirikan sekolah gratis – dan berharap dengan pergantian kepemimpinan negara ini ke depan, cita-cita itu menemukan jalannya menjadi kenyataan.

selanjutnya adalah sharing proses kreatif para peserta kopi darat

Minggu, 01 Juni 2014

Komunitas Guru Menulis

Komunitas Guru Menulis adalah komunitas yang lahir dari grup Facebook Guru Menulis. Grup ini dimaksudkan untuk mengajar para guru, mulai dari Pra-TK, TK, SD, SMP, SMA, SMK, dosen, maupun guru informal bahkan nonformal untuk menulis dan menerbitkan buku.

Grup Guru Menulis lahir bersamaan dengan grup Facebook Lomba Nulis Pengalaman Guru yang saya buat untuk menjadi wadah komunikasi bagi kegiatan lomba nulis yang kala itu diselenggarakan oleh Penerbit PT Kanisius dan saat itu saya sebagai ketua panitia pelaksanaannya. Dari hasil lomba nulis itu terbitlah sebuah buku kumpulan tulisan yang dipilih dari sekitar 130-an naskah yang masuk ke panitia. Ada 40 tulisan yang dipilih untuk diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Cinta Sang Guru.

Lomba itu sungguh membelalakkan mata hatiku. Tulisan-tulisan yang masuk membukakan harapan baru bagiku, karena dari tulisan-tulisan itu aku jadi tahu bahwa masih banyak guru yang benar-benar berjuang sepenuh dan setulus hati untuk menolong murid-muridnya. Mereka menjalankan tugas mereka dengan penuh pengabdian bahkan pengorbanan.

Aku menjadi bersemangat. Dan pengalaman ini memberiku inspirasi untuk memfasilitasi proses ini menjadi sebuah media komunikasi dan partisipasi. Jika kisah-kisah guru yang mengabdi dengan tulus penuh pengorbanan ini dibukukan dan dibaca oleh guru-guru lainnya, aku percaya mereka pun lambat laun akan terpengaruh untuk ikut menjalankan peran sebagai guru dengan lebih baik lagi.

Ada kisah anak yang sudah hilang harapan dan tiba-tiba menemukan harapan karena kesabaran dan kasih yang diberikan oleh gurunya. Ada kelas terbelakang yang akhirnya boleh tersenyum bangga penuh kepuasan karena seorang guru telah memberikan motivasi dan berkorban untuk mendampingi mereka sampai akhirnya mereka menyadari akan kekuatan yang mereka miliki dan bangkit untuk dengan penuh harap dan gairah menggapai masa depan.

Kisah-kisah ini, yang hanya berasal dari 130-an tulisan, sudah sangat mencengangkanku. Aku tahu bahwa masih banyak sekali kisah yang masih harus ditemukan, yang masih tersimpan di dalam relung hati dan pikiran guru, yang masih harus dituliskan, diterbitkan, dibagikan.

Aku berharap bahwa ini akan menjadi virus yang lambat laun menyebar, virus kebaikan yang mengubah guru-guru yang biasa menjadi luar biasa, yang hanya mengejar target administrasi menjadi sepenuh hati mengabdi.
Logo Baru


komunitas guru menulis
Logo Lama


Untuk bergabung ke dalam komunitasi ini, silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/gurumenulis/

Tetapi pastikan diri Anda adalah seorang guru. Kalau bukan, mohon untuk tidak meminta bergabung.

Selanjutnya akan saya ceritakan bagaimana komunitas ini akhirnya terbentuk.

Sabtu, 31 Mei 2014

Grup Kapur Papan dan Penemuan Nama Komunitas Guru Menulis

Kebahagiaan bertemu dengan para penulis buku Cinta Sang Guru dan keinginan untuk mewadahi para penulis dalam sebuah kelompok yang menyatukan mereka membuatku berangan-angan untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas tersebut bertujuan untuk menyolidkan para penulis dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Tampaknya terbitkan buku Cinta Sang Guru telah memberikan semangat baru bagi para penulis untuk tidak mau berhenti di situ. Lomba sudah selesai, pemenang sudah ditetapkan, buku sudah diterbitkan. Lalu selanjutnya? Mereka tidak mau berhenti sampai di situ. Mereka menginginkan adanya kelanjutan dari kegiatan yang ternyata menggairahkan ini.

Maka terpikir olehku untuk membuat grup spesifik yang mewadahi mereka yang sudah resmi menjadi penulis buku yang sudah diterbitkan. Maka kubuatlah sebuah grup di FB bernama Kapur dan Papan. Nama ini mengingatkan kita akan situasi sekolah zaman tahun 80 dan 90-an di mana sebuah kelas akan melangsungkan pembelajaran dengan tidak pernah terlepas dari adanya papan tulis dan kapur. Kapur Papan dengan demikian menyiratkan guru dengan seluruh kegiatannya di kelas. Kapur Papan menjadi sebuah simbol kehidupan guru.

Grup Kapur dan Papan menjadi tempat diskusi semua penulis buku Cinta Sang Guru.

Namun aku berpikir lebih jauh dari itu. Aku ingin menerbitkan kumpulan kisah para guru yang lain lagi, entah bagaimana caranya. Maka karena sebelumnya aku sudah membuat dua grup di FB dengan nama Lomba Nulis Pengalaman Guru dan Guru Menulis, maka terlintaskah di benakku, 'Kenapa tidak membuat Komunitas Guru Menulis saja? Kan sudah ada grupnya di FB?' Demikianlah maka aku menamai sebuah komunitas itu.


 Untuk komunitas ini, aku merancang sebuah logo sederhana dengan tagline "menerbitkan buku itu mudah". Tagline ini kutemukan setelah aku berkenalan dengan Penerbit Lingkarantarnusa yang bisa membantu merealisasikan keinginanku untuk menerbitkan buku kumpulan kisah guru lagi.

Senin, 12 Mei 2014

Peluncuran buku Cinta Sang Guru: Awal Pertemuan dan Berseminya Ikatan

Pada tanggal 10 Mei 2014 dilakukanlah peluncuran buku Cinta Sang Guru. Semua kontributor buku diundang. Dan datanglah dua puluh kontributor dari 39 kontributor yang ada.

Dalam acara tersebut dibacakan salah satu kisah dalam buku tersebut, tulisan Mansata Indah Dwi Utari yang berjudul "Perjuanganku Berbuah Manis." Terlihat pembaca naskah itu tidak bisa menahan air mata dan juga para peserta ikut melinangkan air mata. Kisahnya memang amat sangat menyentuh.

Buku ini memang berisi kisah-kisah yang menyentuh hati. Menyentuh karena guru yang mensharingkan pengalaman ini benar-benar mau memberikan hati untuk anak-anaknya yang bagi kebanyakan guru lainnya dianggap tidak layak mendapatkan hati.

Di sinilah awal kami bertemu, ada Bapak Estu Pramana, Bapak Aloysius Sardi datang dari Solo, Ibu Ria Santati juga dari Solo, Ibu Yulfitri Retno Ambarsari (Yogyakarta), Ibu Udayati (nah ini yang dahsyat, jauh-jauh datang dari Denpasar, Bali), Ibu Riana Ja'far (Yogyakarta), Ibu Laurentia Sumarni Haryanto (Yogyakarta), Ibu Brigitta Kunti Relitawati datang dari Kediri, Ibu Endah Tyas (Yogyakarta), Bapak Heribertus Anne Binawan (Yogyakarta), Ibu Rnd Krisnawati (Yogyakarta), Ibu Petra Suwasti dari Jakarta, dan beberapa guru lain yang tidak sempat saya temui.

Bertemunya sesama guru penulis ini menyalakan semangat dan gairah di dalam diriku. Aku ingin mereka ini tetap bisa saling bertemu dan berbagi dan melakukan sesuatu. Itu yang muncul di hatiku. Terlebih ketika bertemu dengan kontributor yang mengorbankan waktu, uang dan tenaga untuk menghadiri acara ini, dengan bu Petra Suwasti dari Jakarta, dengan bu Brigitta Kunti Relitawati dari Kediri, Ibu Luh Putu Udayati dari Denpasar. Semangat mereka benar-benar membangkitkan gairah dan semangatku.

Terimakasih juga kepada para kontributor buku Cinta Sang Guru:

Reni Siswanti, S.Pd.
Veronica Anna Dwi Arini, S.Pd.
Rr. Yulfitri Retno Ambarsari, S.Pd
Ignatius Bayu Sudibyo
Hanny Kurniawati Tri Wijaya, S.Pd.
Petra Suwasti, S.Pd.
Dra. Th. Lestari Handayani, M.Pd.
Y. Jaka Prastana, S.Pd.
Bernadetta Dini Aryani
Yulia Loekito
Brigitta Kunti Relitawati, S.Pd.
Drs. N. Widi Wahyono
Victor Puguh Harsanto, S.Pd.
Fanny, S.A.B.
Drs. Aloysius Sardi
Venny Ardyani Tri Primasari, S.Pd.
Andreas Aris Eko Mulyono, S.Pd.
Maria Lidwina Dyah Nareswari, S.Pd
L. Bening Parwita Sukci, M.Hum
Benedictus Gerilyadi
Laurentia Sumarni, S.Pd., M.Trans. St.
Fr. Thomas Budi Riyanto, MSF
Bernadeta Tumirah, S.Pd.
Yustina Nunung Sulistiyanti S.Pd
Sr. Crescentiana PMY / Tutut Wahyuningrum, S.Pd.
Rianah, S. Pd.
Rika Prihmono
Dra. Luh Putu Udayati, M.Pd.
Y. Sumardiyanto, S.Pd.
Alexander Estu Pramana, S.Pd.
Mansata Indah Dwi Utari
Rita Nugroho Dwi Krisnawati
Heribertus Binawan, S.Pd.
Lucia Hastiningsih, S.Pd.
Rr. Yulfitri Retno Ambarsari, S.Pd
Maya Cempakasari, S.Pd.
Anna Maria Dyah Purnami Santati, SS.
Dra. Sri Endah Sulistyaningtyas, M.Pd.
Drs. Arcadius Benawa, M.Pd.
Drs. Petrus Gunawan Sudarsono

Berikut ini beberapa gambar jepretan Hermanus Yudi. Terimakasih mas Yudi.