Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label sejarah lahirnya komunitas guru menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah lahirnya komunitas guru menulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

Temu Darat Pertama: Dideklarasikannya Komunitas Guru Menulis

Pertemuan dengan para penulis saat peluncuran buku Cinta Sang Guru membuat saya ingin meneruskan kebersamaan yang kami rasakan saat itu dengan mengadakan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Adalah ibu Bening Parwitasukci yang semakin mengkristalkan gagasan ini menjadi kenyataan. Waktu itu karena pengiriman undangan launching tidak berhasil diterima Ibu Bening Parwitasukci, saya berinisiatif untuk mengantar contoh terbit buku Cinta Sang Guru kepada bu Bening. Pada perjumpaan tersebut bu Bening menyatakan sangat setuju atas rencana pertemuan darat tersebut dan mendorong agar segera direalisasikan.

Gagasan ini saya tawarkan di grup Kapur dan Papan dan mendapat sambutan yang hangat dari anggota grup. Akhirnya tersepakatilah sebuah acara, dengan tajuk: Diskusi Proses Kreatif Penulisan Kisah Pengalaman Guru.

Berikut pemberitahuan yang kami buat:

Tanggal 15 Juni 2014 Komunitas Guru Menulis ingin mengadakan KUMPUL DARAT, dengan acara utama: Diskusi Proses Kreatif Penulisan Kisah Pengalaman Guru, dan diskusi lain-lain.

Dalam acara utama, kita akan dengarkan proses kreatif dari mereka yang kemarin naskahnya terpilih untuk diterbitkan ke dalam buku "Cinta Sang Guru" . Kita ingin mendengarkan sharing mereka, tantangan dan gairah yang muncul saat menulis.

Kemudian kita juga akan membahas rencana-rencana konkret ke depan berkaitan dengan kelanjutan proses tulis-menulis oleh guru.

Bagi teman-teman guru yang tinggal di wilayah Jogja dan sekitarnya, silakan ikut dalam acara tersebut. Acara akan diadakan di PKBM Angon mulai Pukul 10.00 s.d. selesai (diperkirakan sekitar pukul 15.00)

Alamat silakan lihat di gambar. Bapak Ibu yang hadir hanya diminta mengganti uang makan Rp 25.000.

Bagi yang bisa hadir dan mau hadir, dimohon konfirmasi dengan mencantumkan nama di Komentar. Terimakasih


Acara:
Kronologi Acara 15-6
(1) Perkenalan
(2) Pembacaan Kisah “Rico” oleh Pak Binawan
(3) Sharing Proses Kreatif:
a. Pak Binawan dengan Kisah Rico
b. Bu Marni dengan kisah Ladang Cinta
c. Bu Ria dengan kisah Sepuluh Lima
d. Bu Petra dengan kisah BENCI, Benar-benar Cinta
(4) Pembentukan Komunitas Guru Menulis
(5) Kesepakatan ke depan

Hadir dalam pertemuan itu: Bu Ria Santati, bu Laurentia Sumarni Haryanto, bu Petra Suwasti, bu Yulia Loekito, Bapak Heribertus Anne Binawan, dan saya sendiri, Wakidi Steve.

Bu Marni, Pak Anne, Bu Petra, Bu Ria Santati, Bu Yulia, Pak Wakidi

Rico Si Hitam di depan Sepuluh Lima
Berikut profil peserta diskusi:
‪#‎Profil‬ peserta diskusi 15-6
Staf pengajar di Mercubuana dan STTIL. Nama Anne di tengah diambil dari nama puterinya. Punya ritual menulis setiap hari, sebelum tidur atau setelah bangun tidur. Layaknya orang kelaparan dan baru puas nyaman setelah makan, menulis baginya sudah merupakan “dinner” atau “breakfast” dan menimbulkan efek puas nyaman. Penggemar karya AS Laksana ini memiliki kemampuan untuk menghadirkan detil peristiwa dengan kata-kata tak terduga, efektif namun tepat makna. Lihat saja betapa “riil”-nya “gambar” yang ditampilkannya dalam kisah “Rico Si Hitam”. Kisah ini berlangsung ketika Pak “Bi” diminta membantu mengajar di SMA Boda selama kurang lebih satu semester.

(2) Ibu Ria Santati
Akan sedikit kesulian untuk mencari nama asli pemilik akun FB Ria Santati ini, karena nama lengkapnya adalah Anna Maria Dyah Purnami Santati. Penulis kisah apa, hayo? Tepat, “Sepuluh Lima”. Ibu Ria ini jauh-jauh dari Solo dengan semangat 28 (semangat terbaik untuk diteladani, menurut YB Mangunwijaya) datang ke Jogja untuk “ketemu” dan “mendengar” orang lain yang menjadi penambah kekayaan jiwanya. Miss yang satu ini memang punya hobi “mengamati manusia”. Lihatlah betapa jelinya Bu Ria menyorot sisi unik dari siswa-siswi Sepuluh Lima. Pengajar di SMA Regina Pacis Solo ini sebelumnya adalah pegiat pendidikan di alam terbuka di kota Malang yang digelutinya selama kurang lebih 7 tahun. Berkomitmen untuk hidup melajang dan ingin mati di dunia pendidikan. Bu Ria adalah kombinasi dari latar belakang kontras, antara gemerlap metropolitan dan … keotentikan serta kesederhanaan jiwa yang bebas sebebas gerak alam. Kalau kau lihat mimik wajah dan caranya Ibu yang satu ini ngomong, kau akan tahu bahwa Ibu ini tidak bisa dikungkung oleh standar norma yang memang kadang mengerdilkan atau bahkan mematikan jiwa. Ia tidak kalah nakal dari pada murid-murid yang paling nakal di tempatnya ia mengajar. Itulah yang membekalinya dengan hati dan mental yang bisa menerima murid-murid itu apa adanya. Tidak lebih, tidak kurang.

(3) Bu Marni 
Salah satu kerugian bagi para kontributor “Cinta Sang Guru” untuk tidak datang dalam diskusi 15-6 adalah: tidak bisa menyaksikan, mendengar, (barangkali juga membaui atau bahkan meraba) serta menikmati kemuskilan dosen yang satu ini. Tidak heran jika mantan-mantan muridnya tak pernah sekali pun melontarkan pesan negatif tentang dosen yang satu ini (demikian aku Bu Lia, salah satu peserta diskusi ini juga). Penemu resep “es goreng duren” (plesetan dari It’s going to rain, ungkapan yang melekat di telinga para mahasiswanya ketika hujan hendak turun) mengaku bahwa ia punya bakat untuk menangis. Meskipun gerak-gerik dan mimik wajah serta lontaran kata-katanya, juga aksi tak terduganya, amat cukup untuk membekalinya menekuni "side job" sebagai pesaing Cak Lontong, Ibu yang satu ini amat “gembeng”, gampang sekali menangis. Ia bahkan menjadi barometer tingkat keharuan atas berbagai peristiwa di antara rekan-rekannya, “Bu Marni sudah menangis belum ya?”
Bu Marni, demikian panggilan akrabnya, menjadikan dirinya tempat bercurhat bagi para mahasiswanya. Ia siap menggantikan peran ortu, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari jauh atau yang sedang bermasalah. Menjadi “tempat sampah” menuntut energi prima untuk bisa memberikan hati dengan tulus penuh empati, dan kekuatan ini digalinya melalui ritual “Emmaus Journey”, yakni doa pagi dan refleksi harian yang selalu dilakukannya dengan bersumber dari Kitab Suci. Tanpa berpretensi memberi solusi, Ibu satu anak ini lebih sering berperan menjadi pendengar yang baik dan kadang ikut menangis bersama mahasiswa yang datang untuk menangis. Di sinilah “bakat” “gembeng” ini ternyata dikaruniakan bukan tanpa tujuan, dan bu Marni dibekali kemampuan khusus untuk memanfaatkan talenta ini dengan baik: dengerin curhat, peluk mereka dan ikut menangis – ternyata menjadi terapi yang manjur untuk meringankan beban hidup.
Ibu dosen “yang hampir selalu bergerak” ini menemukan cinta dalam pekerjaan mengajar. Bukan karena “duit”nya, tetapi terlebih karena kehadirannya telah membawa perubahan pada diri anak didiknya. Menyadari bahwa dirinya berguna di dalam hidup ini, bahwa ada yang mengingatnya, ada yang menganggapnya sebagai “my hero”, itu semua membuatnya bahagia sebagai seorang guru. Dan bu Marni menjalani peran ini lebih berangkat dari hati, tentu juga tidak melupakan profesionalisme. “Hot seat”, salah satu bentuk aktivitas dalam kelas “speaking”, mengajak para mahasiswa untuk curhat tentang apa pun. Tidak jarang “hot seat” ini menjadi tempat tertumpahnya air mata, terbukanya selubung-selubung tempat bersembunyi kepedihan yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada, tumbuhnya keberanian untuk membuka katup-katup kepribadian yang memungkinkan pengalaman berperasaan dengan intensitas yang semakin memanusiakan dan mendewasakan.
Kegiatan menulis baginya lebih merupakan masturbasi, menulis untuk dinikmati sendiri. “Keharusan” untuk membuat refleksi memaksanya untuk setiap hari menulis. Dan profesinya sebagai dosen bahasa Inggris membuat tulisannya benar-benar patuh kaidah berbahasa tanda adanya satu pun cacat tanda baca.

(4) Ibu Petra Suwasti
Panggilan menjadi guru ternyata tidak harus muncul dari dalam diri. Bu Petra Suwasti adalah buktinya. Dari benci menjadi guru, ibu yang kecil putih imut ini akhirnya BENCI (benar-benar cinta) jadi guru, bahkan cukup berani untuk menjadi guru bagi anak-anak Papua yang postur badannya hitam besar, tampak sangar dan terkesan mengerikan. Selulus SMA pengajar di STKIP Surya Tangerang ini tidak tega menolak keinginan ayahnya agar mengambil ilmu keguruan dan harus menguburkan keinginan hatinya untuk mengambil fak murni. Karena terpaksa dan tidak enjoy kuliah di FKIP maka wajar saja kalau IP smt pertamanya termasuk NASAKOM (nasib satu koma). Namun setelah ikut berbagai organisasi kemahasiswaan pendidik kelahiran Moyudan Sleman ini menjadi sadar untuk membahagiakan ortu dengan bersungguh-sungguh belajar dan berhasil menggenjot IP-nya menjadi tiga koma.
Sosok kecil namun berhati raksasa ini akhirnya melamar dan diterima untuk menjadi dosen di STKIP Surya, tempat pendidikan bagi anak-anak bangsa kiriman dari daerah-daerah seperti Papua, Kalimantan, Sumatera, dll. Sempat mengalami syok mental dan bahkan ingin “resign” karena berhadapan dengan mahasiswa yang melakukan hitungan-hitungan sederhana saja belum bisa, namun setelah tergabung dalam komunitas MAGIS, jiwa besar namun terbalut dalam tubuh kecil ini akhirnya mulai mengenali jati dirinya sebagai pendidik sejati: ia harus mengerti kondisi siswa-siswanya, memahami, dan bahkan menyesuaikan logat bicara dengan mereka. Anda akan terkagum-kagum mendengar bagaimana ia fasih bergaya bahasa layaknya orang Papua. Ia menyadari bahwa menjadi guru adalah sebuah panggilan mulia. Ia bersyukur ikut terlibat dalam pembangunan manusia Indonesia

(5) Ibu Yulia Loekito
Dia hanya lulusan SMA dan tidak pernah kerasan karena berbagai alasan untuk duduk di bangku kuliah. Namun demikian tidak berarti bahwa Ibu dua anak ini tidak bisa menjadi pendidik sejati. Sempat menjadi guru anak-anak autis dan juga pernah merintis sekolah TK kini Ibu yang gemar sekali pada anak-anak ini mengelola PKBM Angon, sekolah alam yang bertujuan untuk mengembalikan pendidikan anak-anak kepada otentisitasnya.
Kecintaannya kepada anak-anak telah mengantarkannya kepada pergumulan terus-menerus untuk bisa memelangsungkan pendidikan yang baik bagi anak-anak, bagaimana mengenal anak, bagaimana memberikan treatment yang tepat terhadap situasi dan kondisi khusus anak.
Demi kecintaan pada anak ini pula, penulis kisah “Edo” bercita-cita ingin mendirikan sekolah gratis – dan berharap dengan pergantian kepemimpinan negara ini ke depan, cita-cita itu menemukan jalannya menjadi kenyataan.

selanjutnya adalah sharing proses kreatif para peserta kopi darat

Sabtu, 31 Mei 2014

Grup Kapur Papan dan Penemuan Nama Komunitas Guru Menulis

Kebahagiaan bertemu dengan para penulis buku Cinta Sang Guru dan keinginan untuk mewadahi para penulis dalam sebuah kelompok yang menyatukan mereka membuatku berangan-angan untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas tersebut bertujuan untuk menyolidkan para penulis dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Tampaknya terbitkan buku Cinta Sang Guru telah memberikan semangat baru bagi para penulis untuk tidak mau berhenti di situ. Lomba sudah selesai, pemenang sudah ditetapkan, buku sudah diterbitkan. Lalu selanjutnya? Mereka tidak mau berhenti sampai di situ. Mereka menginginkan adanya kelanjutan dari kegiatan yang ternyata menggairahkan ini.

Maka terpikir olehku untuk membuat grup spesifik yang mewadahi mereka yang sudah resmi menjadi penulis buku yang sudah diterbitkan. Maka kubuatlah sebuah grup di FB bernama Kapur dan Papan. Nama ini mengingatkan kita akan situasi sekolah zaman tahun 80 dan 90-an di mana sebuah kelas akan melangsungkan pembelajaran dengan tidak pernah terlepas dari adanya papan tulis dan kapur. Kapur Papan dengan demikian menyiratkan guru dengan seluruh kegiatannya di kelas. Kapur Papan menjadi sebuah simbol kehidupan guru.

Grup Kapur dan Papan menjadi tempat diskusi semua penulis buku Cinta Sang Guru.

Namun aku berpikir lebih jauh dari itu. Aku ingin menerbitkan kumpulan kisah para guru yang lain lagi, entah bagaimana caranya. Maka karena sebelumnya aku sudah membuat dua grup di FB dengan nama Lomba Nulis Pengalaman Guru dan Guru Menulis, maka terlintaskah di benakku, 'Kenapa tidak membuat Komunitas Guru Menulis saja? Kan sudah ada grupnya di FB?' Demikianlah maka aku menamai sebuah komunitas itu.


 Untuk komunitas ini, aku merancang sebuah logo sederhana dengan tagline "menerbitkan buku itu mudah". Tagline ini kutemukan setelah aku berkenalan dengan Penerbit Lingkarantarnusa yang bisa membantu merealisasikan keinginanku untuk menerbitkan buku kumpulan kisah guru lagi.

Selasa, 01 Oktober 2013

Lomba Nulis Pengalaman Guru: Mendidik dengan Hati - Hasil Lomba

Lomba dinilai berdasarkan kriteria penilaian berikut ini:

KRITERIA PENILAIAN NASKAH

1. Layak Terbit
Apakah naskah layak untuk diterbitkan. Karena terbit dan tidak terbit merupakan point yang paling menentukan, bobot kriteria ini cukup tinggi untuk menjadi pembeda.

2. Bobot Dampak
Yang dimaksud dengan bobot dampak adalah, seberapa inspiratif kisah tersebut bagi pembaca. Seberapa kuat kisah menyentuh hati dan menggerakkan pembaca (guru lain) untuk juga “menggerakkan hatinya” di saat mengajar.

3. Kedalaman refleksi penulis.
Kemampuan penulis merefleksikan dan mengenali gejolak yang berlangsung di dalam dirinya yang terungkap di dalam kisah, dan sejauh mana penulis belajar dari dan mengolah pengalaman yang dikisahkan untuk kemudian bersikap dengan tepat demi kemajuan diri pendidik dan anak didik.

4. Penyajian, mencakup beberapa kriteria
a. Struktur Cerita: mengalirkah, runtutkah, mudah diikuti jalan cerita dan logika ceritanya?
b. Gaya atau kekuatan bahasa: sejauh mana penulis mampu mengeksplorasi kekayaan bahasa untuk menyampaikan cerita. Tentu termasuk di dalamnya: penguasaan tata bahasa dan kaidah berbahasa, pemilihan kata, gaya berkalimat/berbahasa, punctuation (tanda baca),
c. Bobot sebagai sebuah cerita: Menarikkah tulisan yang ada sebagai sebuah cerita untuk dibaca.

5. Kebutuhan Editing
Sejauh mana naskah memerlukan proses editing untuk menjadi layak terbit. Tanpa editing sama sekali? Dengan sedikit editing? Perlu banyak editing? Atau harus dirombak sama sekali?

Dan setelah diseleksi dan dinilai oleh dewan Juri, maka dihasilkanlah 3 pemenang, sebagai berikut:

PENGUMUMAN PEMENANG
LOMBA PENULISAN PENGALAMAN GURU "Mendidik dengan Hati"

JUARA 1

Nomor Naskah: Naskah 6
Judul Naskah: “Edo”
Nilai: 221
Penulis: Yulia Loekito­

JUARA 2
Nomor Naskah: Naskah 81
Judul Naskah: “Menggantikan Cinta yang Hilang”
Nilai: 201
Penulis: Luh Putu Udayati

JUARA 3
Nomor Naskah: Naskah 14
Judul Naskah: “Hatiku Bersandar di Kota Rusa”
Nilai: 196
Penulis: Victor Puguh Harsanto

Ditetapkan di Penerbit-Percetakan Kanisius 1 Oktober 2013 oleh dewan juri.
Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.






Jumat, 28 Juni 2013

Lomba Nulis Pengalaman Guru: Mendidik dengan Hati

Adalah Lomba Menulis Pengalaman Guru dengan tema "Mendidik dengan Hati" yang menjadi cikal bakal lahirnya Komunitas Guru Menulis.

Lomba Penulisan Pengalaman Guru “Mendidik dengan Hati”

Bapak Ibu Guru, Mari Menulis
Berbagi cerita itu bisa meneguhkan dan memberi kekuatan. Setiap guru pasti memiliki pengalaman unik ketika mengajar dan berinteraksi dengan murid-muridnya. Berbekal keyakinan tersebut, kami mengajak Bapak dan Ibu Guru untuk saling berbagi pengalaman atau kisah inspiratif yang membawa perubahan lebih baik pada diri murid-murid Anda, diri sendiri, atau rekan kerja Anda.
Jika Anda memiliki pengalaman menarik sebagai seorang guru, kepala sekolah, atau pengawas, sebuah pengalaman yang amat berharga, menyentuh, membanggakan, dan tak terlupakan, silakan dituangkan dalam tulisan agar bisa menginspirasi orang lain.
Tema tulisan adalah Mendidik dengan Hati. Peserta meliputi guru TK sampai dengan Perguruan Tinggi, kepala sekolah TK sampai dengan SMA, dan pengawas sekolah. Adapun ketentuan lomba adalah sebagai berikut.
1. Tulisan adalah hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, dan belum pernah dipublikasikan.
2. Panjang tulisan 3-5 halaman A4, diketik 1,5 spasi dengan font standar.
3. Hasil karya diterima oleh panitia paling lambat tanggal 31 Agustus 2013.
a. Hasil karya dicetak pada kertas A4 dan dikirimkan ke alamat:
Panitia Lomba Penulisan Pengalaman Guru
Penerbit-Percetakan Kanisius
Jl. Cempaka 9 Deresan
Yogyakarta 55281
b. Hasil karya harus disertai file (soft copy) dan dikirimkan via email ke: lomba.nulis.kanisius@gmail.com

4. Pengiriman hasil karya disertai dengan bukti pembelian (nota atau kuitansi) minimal 2 (dua) judul buku dari 4 (empat) judul buku Seri Inspirasi Guru berikut ini.
a. The Art of Educating  (021539 - Rp 30.000)
b. Teacher as An Instructional Leader (021540 – Rp 35.000)
c. Teaching as Journeying (021541 – Rp 25.000)
d. Life as the Real School (021542 – Rp 33.000)

Hasil lomba akan diumumkan melalui website Penerbit-Percetakan Kanisius, www.kanisiusmedia.com, pada tanggal 1 Oktober 2013.

Hadiah berupa:
    Juara 1: Rp1.000.000,00
    Juara 2: Rp750.000,00
    Juara 3: Rp500.000,00

Selain itu, semua peserta akan mendapatkan Piagam Penghargaan. Kemudian tulisan yang terpilih akan diterbitkan menjadi buku, dengan syarat, minimal ada 20 karya yang layak untuk diterbitkan.

Informasi lebih lanjut, hubungi:
Steve
Telp. 0274 588783 ext 270 (pada jam kerja)
Email: lomba.nulis.kanisius@gmail.com