Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 12 September 2026

Tiang Gantungan, Kumpulan Puisi karya Agus Supriyanto

 

Tiang Gantungan

Tiang Gantungan, Kumpulan Puisi

Spesifikasi

Kode:120067
Judul:Tiang Gantungan, Kumpulan Puisi
Penulis:Agus Supriyanto
Editor:Elisabet Sri Hartati
Tahun Terbit:2026
ISBN:978-634-7774-05-7
eISBN:978-634-7774-07-1
ISBN PDF:978-634-7774-06-4
Tebal:108 (x+98) halaman
Ukuran:14.5x21 cm
Harga:Rp55.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!

Deskripsi

Tiang Gantungan adalah kumpulan 69 puisi reflektif yang lahir dari pergulatan panjang dalam memandang manusia, kehidupan, kekuasaan, iman, pendidikan, kematian, dan aneka dinamika sosial yang mengitarinya. Melalui bahasa yang sederhana, lugas, sekaligus sarat permenungan, Agus Supriyanto mengajak pembaca memasuki ruang-ruang sunyi tempat pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup terus bergema.

Puisi-puisi dalam buku ini tidak menawarkan jawaban-jawaban pasti. Sebaliknya, setiap sajak menjadi undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, lalu memandang kembali diri sendiri, sesama, dan dunia dengan mata yang lebih jernih. Pertanyaan demi pertanyaan hadir bukan untuk membingungkan, melainkan untuk membangunkan kesadaran bahwa kehidupan tidak selalu dapat dipahami secara hitam putih.

Di dalamnya, pembaca akan menjumpai refleksi mengenai pendidikan, kekuasaan, korupsi, uang, bahasa, kemiskinan, solidaritas, pengabdian, konsistensi, kepercayaan, kemanusiaan, kematian, hingga relasi manusia dengan Tuhan. Semua tema tersebut dirangkai dalam bentuk puisi pendek yang padat, kontemplatif, dan sering kali dibangun melalui paradoks, ironi, permainan makna, serta pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menggugah.

Judul Tiang Gantungan sendiri menghadirkan metafora yang kuat. Tiang gantungan bukan semata lambang hukuman atau kematian, melainkan simbol ruang penghakiman, tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan pilihan-pilihannya, dengan nuraninya, dan pada akhirnya dengan Yang Mahatinggi. Di hadapan "tiang gantungan" itulah topeng-topeng kehidupan kehilangan daya sembunyinya. Yang tersisa hanyalah manusia dengan segala kejujuran, kelemahan, ambisi, kasih, dan harapannya.

Dalam kumpulan ini, Agus Supriyanto tidak menempatkan dirinya sebagai hakim yang mengadili dunia. Ia lebih memilih menjadi seorang peziarah yang berjalan bersama pembacanya, menyaksikan berbagai ironi zaman: ketika pengabdian berubah menjadi bisnis, kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, pendidikan kehilangan arah, uang menjadi tuan, bahasa kehilangan makna, dan manusia perlahan terasing dari dirinya sendiri. Namun, di tengah segala kegelisahan itu, puisi-puisi ini tetap memelihara secercah harapan bahwa kebaikan, kasih, solidaritas, dan kebenaran tidak pernah benar-benar kehilangan jalannya.

Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menghubungkan refleksi filosofis dengan pengalaman hidup sehari-hari. Pembaca tidak diajak berhadapan dengan konsep-konsep yang rumit, melainkan dengan kenyataan yang akrab: keluarga, pekerjaan, masyarakat, lembaga, agama, politik, bahkan media sosial. Dari pengalaman-pengalaman itulah lahir pertanyaan-pertanyaan yang menuntun pembaca masuk ke dalam perenungan yang lebih dalam mengenai makna menjadi manusia.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ketika ruang refleksi semakin sempit dan kata-kata semakin mudah kehilangan makna, Tiang Gantungan hadir sebagai ruang jeda. Buku ini mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, bekerja, dan mengejar keberhasilan, tetapi juga makhluk yang perlu berhenti, bertanya, merenung, dan mendengarkan suara hati.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang mencintai sastra reflektif, filsafat kehidupan, spiritualitas, pendidikan, maupun kritik sosial. Lebih daripada sekadar kumpulan puisi, Tiang Gantungan adalah undangan untuk bercermin. Sebab, pada akhirnya, setiap puisi mungkin sedang berbicara tentang orang lain, tetapi diam-diam sedang memanggil setiap pembacanya untuk bertanya: di manakah aku berdiri, ketika kehidupan menempatkanku di hadapan tiang gantungan itu sendiri?


Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... viii
  • 1. Tiang Gantungan .... 1
  • 2. Apa itu Kebenaran? .... 2
  • 3. Manipulasi vs. Kekuasaan .... 3
  • 4. Paradoks .... 4
  • 5. Kebodohan .... 6
  • 6. Timpang .... 8
  • 7. Ke Mana Kumenuju .... 10
  • 8. Manusia .... 12
  • 9. Menemukan jalan .... 13
  • 10. Pengalaman .... 14
  • 11. Selamat Jalan .... 16
  • 12. Kambing Hitam .... 17
  • 13. Siapakah engkau? .... 18
  • 14. Tuanku Bernama Uang .... 20
  • 15. Kamuflase Nafsu .... 21
  • 16. Iring-iringan .... 22
  • 17. Pandangan Itu .... 23
  • 18. Tulis .... 24
  • 19. Tikus-Tikus Got .... 25
  • 20. Lalu Apa? .... 26
  • 21. Konsistensi vs. Inkonsistensi .... 27
  • 22. Nyanyian Jiwa yang Merana .... 28
  • 23. Yang Merdeka yang Terpenjara .... 29
  • 24. Bebal dan Tak Dipercaya .... 30
  • 25. Selayang Pandang .... 31
  • 26. Tubuh Ini .... 32
  • 27. Tubuh yang Terbaring Itu .... 33
  • 28. Mata Digital .... 34
  • 29. Menerima .... 35
  • 30. Ambisi .... 36
  • 31. I and Thou .... 37
  • 32. Si Tua Itu .... 38
  • 33. Saat Terbaik, Saat Melepas .... 40
  • 34. Kehendak-Kulah yang Terjadi .... 41
  • 35. Pilihan Final .... 42
  • 36. Para Ningrat .... 44
  • 37. Tamak .... 45
  • 38. Resi-Resian .... 46
  • 39. Bumi Merana .... 47
  • 40. Incaran Ketiadaan .... 48
  • 41. Menuju Lembah .... 49
  • 42. Para Pengabdi Uang .... 50
  • 43. OMDO .... 52
  • 44. Kasih .... 53
  • 45. Solidaritas Pewartaan .... 54
  • 46. Kepercayaan dan Tagihan .... 56
  • 47. Miskin dalam Kelimpahan .... 58
  • 48. Terang dan Gelap .... 60
  • 49. Muslihat .... 61
  • 50. Niat .... 62
  • 51. Para Pembisik .... 63
  • 52. Warung-Warung itu .... 64
  • 53. Hati-Hati .... 66
  • 54. Kekuatan Diri .... 68
  • 55. Pencuri Waktu .... 69
  • 56. Kebaikan .... 70
  • 57. Ambisi Imortal .... 72
  • 58. Tukang Periuk .... 74
  • 59. Para Pemeran .... 76
  • 60. Didikan dan Teguran .... 77
  • 61. Jejak Langkah .... 78
  • 62. Ke Manakah Engkau Pergi .... 80
  • 63. Time Line .... 81
  • 64. Hoegeng Sang Mitos .... 82
  • 65. Cermin .... 84
  • 66. Mengenang Jejak Langkah Kemanusiaan Agung .... 86
  • 67. Hidup Adalah Permainan (Vita Ludus Est) .... 90
  • 68. Darurat .... 92
  • 69. Manusia Bukan Sekadar Guna .... 94
  • Tentang Penulis .... 97

Jumat, 04 September 2026

Mempertahankan Spiritualitas Tegangan: Upaya Mencari Gagasan Dasar Pemikiran Henri De Lubac dan Paus Fransiskus Tentang Gereja dan Tantangannya

 

Mempertahankan Spiritualitas Tegangan

Mempertahankan Spiritualitas Tegangan: Upaya Mencari Gagasan Dasar Pemikiran Henri De Lubac dan Paus Fransiskus Tentang Gereja dan Tantangannya

Spesifikasi

Kode:510012
Judul:Mempertahankan Spiritualitas Tegangan: Upaya Mencari Gagasan Dasar Pemikiran Henri De Lubac dan Paus Fransiskus Tentang Gereja dan Tantangannya
Penulis:Mario Tomi Subardjo
Editor:J. B. Heru Prakosa SJ, Elisabet Sri Hartati
Kata Pengantar:J. B. Heru Prakosa SJ
Tahun Terbit:2026
ISBN:978-634-7774-13-2
eISBN:978-634-7774-12-5
ISBN PDF:978-634-7774-11-8
Tebal:381 (xxii+359) halaman
Ukuran:14.5x21 cm
Harga:Rp200.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!

Deskripsi

Mempertahankan Spiritualitas Tegangan: Upaya Mencari Gagasan Dasar Pemikiran Henri De Lubac dan Paus Fransiskus Tentang Gereja dan Tantangannya menghadirkan pembacaan mendalam terhadap salah satu tema paling penting dalam teologi kontemporer, yakni bagaimana Gereja dipanggil untuk tetap setia kepada Kristus di tengah dunia yang terus berubah. Berangkat dari pemikiran Henri de Lubac, salah seorang teolog Katolik paling berpengaruh pada abad kedua puluh, serta diperkaya oleh ajaran dan praksis pastoral Paus Fransiskus, buku ini menawarkan suatu kerangka teologis yang membantu memahami berbagai tegangan yang selalu menyertai kehidupan Gereja.

Buku ini berangkat dari keyakinan bahwa kehidupan Gereja tidak pernah berlangsung dalam ruang yang sederhana dan bebas dari paradoks. Gereja hidup di dalam tegangan yang terus-menerus: antara kodrat dan rahmat, yang manusiawi dan yang ilahi, tradisi dan pembaruan, kesatuan dan keragaman, liturgi dan karya sosial, doa dan aksi, struktur kelembagaan dan kebebasan Roh Kudus. Tegangan-tegangan tersebut bukanlah persoalan yang harus dihapuskan, melainkan kenyataan yang perlu dipelihara secara kreatif agar Gereja tetap menjadi sakramen kehadiran Kristus di tengah dunia.

Melalui telaah yang komprehensif terhadap karya-karya Henri de Lubac, pembaca diajak menelusuri gagasan-gagasan pokok mengenai relasi antara kodrat dan yang adikodrati, sakramentalitas Gereja, hubungan timbal balik antara Gereja dan Ekaristi, makna tradisi, sifat sosial Gereja, hingga kritik de Lubac terhadap berbagai bentuk dualisme yang pernah memengaruhi perkembangan teologi modern. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh bangunan teologi de Lubac bertumpu pada satu prinsip mendasar: menolak kecenderungan untuk memisahkan realitas yang oleh iman Kristiani justru dipahami berada dalam kesatuan yang dinamis.

Salah satu sumbangan penting buku ini adalah penjelasannya mengenai kritik de Lubac terhadap spiritual worldliness atau keduniawian yang dibungkus dengan wajah religius. Fenomena ini tidak hanya dipahami sebagai persoalan moral individual, tetapi sebagai ancaman yang dapat mengubah cara Gereja memahami dirinya sendiri, menjalankan perutusannya, serta menghayati kehidupan rohaninya. Dengan mengaitkan pemikiran de Lubac dan ajaran Paus Fransiskus, buku ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi Gereja sering kali bukan datang dari luar, melainkan muncul ketika pelayanan, teologi, liturgi, maupun struktur Gereja kehilangan orientasinya kepada Kristus dan secara perlahan digantikan oleh kepentingan manusiawi.

Lebih jauh lagi, buku ini berusaha menerjemahkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam konteks Gereja Asia. Berhadapan dengan keragaman budaya, pluralitas agama, kemiskinan, ketidakadilan sosial, perkembangan teknologi digital, serta berbagai bentuk polarisasi masyarakat, Gereja Asia ditantang untuk menemukan cara menghayati iman yang tetap setia pada tradisi sekaligus terbuka terhadap dinamika zaman. Melalui dialog dengan pemikiran de Lubac dan Paus Fransiskus, penulis menunjukkan bahwa penghargaan terhadap budaya lokal, dialog lintas agama, keberpihakan kepada kaum miskin, pembaruan liturgi, hingga tata kelola Gereja semuanya perlu diletakkan dalam kerangka spiritualitas tegangan yang menjaga keseimbangan antara kesatuan dan keberagaman.

Buku ini juga menampilkan akar spiritual dari seluruh bangunan pemikiran tersebut, yakni Spiritualitas Ignasian. Melalui refleksi atas Latihan Rohani Santo Ignasius Loyola dan kehidupan para anggota Serikat Jesus, pembaca diajak memahami bahwa spiritualitas tegangan bukan sekadar konsep teologis, melainkan cara hidup yang terus mencari Allah di dalam segala sesuatu. Spiritualitas ini mengajarkan bahwa Gereja dipanggil untuk hidup dalam berbagai tegangan tanpa terjebak pada salah satu kutub ekstrem, sebab justru di dalam tegangan itulah Roh Kudus terus berkarya membimbing Gereja menuju kepenuhannya.

Ditulis dengan pendekatan historis, teologis, dan pastoral sekaligus, buku ini tidak hanya menyajikan analisis akademik terhadap pemikiran Henri de Lubac, tetapi juga mengundang pembaca untuk berefleksi mengenai situasi konkret Gereja pada masa kini. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Gereja—mulai dari birokratisasi, formalisme liturgi, polarisasi ideologis, hingga godaan keduniawian yang semakin halus pada era digital—buku ini menawarkan perspektif yang segar sekaligus mendalam tentang bagaimana Gereja dapat terus memperbarui dirinya tanpa kehilangan identitasnya sebagai Tubuh Kristus.

Buku ini layak dibaca oleh para teolog, imam, biarawan-biarawati, mahasiswa teologi, para pelayan pastoral, maupun siapa saja yang ingin memahami secara lebih mendalam dinamika kehidupan Gereja Katolik dewasa ini. Lebih dari sekadar kajian tentang Henri de Lubac dan Paus Fransiskus, buku ini merupakan undangan untuk memandang Gereja sebagai komunitas yang terus bertumbuh, terus berziarah, dan terus dipanggil memelihara keseimbangan kreatif antara kesetiaan pada iman dan keterbukaan terhadap karya Roh Kudus dalam sejarah manusia.


Daftar Isi

  • Henri de Lubac dan Tantangan Spiritual Worldliness dalam Gereja Kontemporer ~ Dr. J. B. Heru Prakosa, SJ .... v
  • Gereja Terjerat Spiritual Worldliness .... vii
  • De Lubac untuk Zaman Ini .... x
  • Paus Fransiskus dan Pemikiran de Lubac .... xiv
  • Daftar Isi .... xx
  • Pendahuluan .... 1
  • Latar Belakang .... 1
  • Jejak Pemikiran de Lubac dalam Pemikiran Paus Fransiskus .... 1
  • De Lubac dan Konsili Vatikan II .... 6
  • Latar Belakang Teologis-Filosofis Pemikiran de Lubac .... 10
  • Berteologi Melalui Teks-teks Klasik dan Sekilas tentang Karya-Karya de Lubac .... 16
  • De Lubac dan Nouvelle Théologie .... 22
  • Teologi Kodrat–Rahmat (yang Kodrati–Adikodrati) dan Implikasinya .... 26
  • Gereja menurut Konsili Vatikan II .... 29
  • Pokok-Pokok Persoalan: Pergulatan Teologis tentang Gereja .... 34
  • Kontribusi dan Arah Penulisan .... 37
  • Pendekatan dan Sumber Kajian .... 38
  • Alur Pembahasan .... 39
  • Latar Belakang Filosofis, Teologis, dan Eklesial Pemikiran De Lubac .... 42
  • Pengantar .... 42
  • Latar Belakang Filosofis .... 43
  • Gambaran Umum Filsafat Prancis Abad Ke-19–20 .... 43
  • Perkembangan Apologi, Filsafat Blondel, dan Thomisme di Prancis .... 49
  • De Lubac dan Studi Filsafat .... 57
  • Situasi Gereja Abad ke-19–20 .... 61
  • Gereja dan Politik Abad ke-19 dan ke-20 .... 62
  • Gereja dan Modernisme .... 71
  • Latar Belakang Teologis .... 86
  • De Lubac dan Neo-Thomisme .... 88
  • Seputar Nouvelle Théologie .... 95
  • De Lubac dan Konsili Vatikan II .... 105
  • Kesimpulan .... 109
  • Gereja Menurut De Lubac: Unsur Tegangan dan Tantangan Gereja .... 117
  • Pengantar .... 117
  • Teologi Kodrat–Yang Adikodrati (Kodrat–Rahmat) .... 120
  • Teologi Kodrat–Yang Adikodrati Pasca Trente .... 120
  • Teologi Kodrat–Yang Adikodrati Abad Ke-20 .... 125
  • Konsekuensi Pemahaman Kodrat–Yang Adikodrati .... 131
  • Eklesiologi de Lubac .... 134
  • Unsur Paradoks dan Dimensi Relasional dalam Eklesiologi Komunio .... 134
  • Relasi Gereja dan Ekaristi .... 145
  • Gereja sebagai Misteri .... 152
  • Gereja Pasca-Konsili dan Bahaya Keduniawian .... 160
  • Kritik de Lubac tentang Gereja Pasca-Konsili .... 160
  • Ancaman terhadap Gereja .... 174
  • Kesimpulan .... 185
  • Titik Temu Pemahaman Henri de Lubac dan Paus Fransiskus tentang Gereja dan Tantangannya .... 194
  • Pengantar .... 194
  • Iman dan Teologi .... 197
  • Ajaran Iman .... 197
  • Iman dan Teologi .... 201
  • Teologi, Gereja, dan Budaya Baru .... 206
  • Iman dan Akal Budi .... 210
  • Eklesiologi .... 217
  • Paradoks Gereja Kudus dan Gereja Para Pendosa .... 217
  • Gereja sebagai Sakramen .... 224
  • Gereja Umat Allah .... 231
  • Gereja sebagai Tubuh Mistik .... 237
  • Gereja sebagai Ibu .... 242
  • Hubungan Gereja dan Ekaristi .... 246
  • Tantangan-Tantangan Gereja Masa Kini .... 251
  • Spiritual Worldliness .... 251
  • Tantangan-tantangan Lain .... 258
  • Kesimpulan .... 268
  • Mempertahankan Unsur Tegangan .... 275
  • Pengantar .... 275
  • Pokok-Pokok Pemikiran de Lubac .... 276
  • Kodrat dan Yang Adikodrati .... 278
  • Paradoks .... 278
  • Ontologi Sakramental dan Paham tentang Gereja .... 281
  • Gereja dan Ekaristi .... 283
  • Ancaman-Ancaman terhadap Gereja .... 286
  • Kondisi Gereja Asia .... 288
  • Tantangan Gereja Asia .... 289
  • Teologi dan Karakteristik Gereja Asia .... 294
  • Pandangan Teolog Asia .... 301
  • Sumbangan Teologi de Lubac bagi Gereja Asia .... 307
  • Dialog Gereja dengan Budaya-Budaya .... 308
  • Dialog dengan Agama-Agama Lain .... 318
  • Realitas Kemiskinan di Asia .... 322
  • Keduniawian sebagai Ancaman Gereja Asia .... 324
  • Tata Peribadatan .... 329
  • Spiritualitas Tegangan-Inkarnatoris .... 337
  • Rekomendasi Singkat .... 342
  • Kesimpulan .... 344
  • Daftar Pustaka .... 350
  • Buku .... 350
  • Jurnal dan Artikel Ilmiah .... 352
  • Dokumen Gereja .... 354
  • Situs Internet .... 354

Selasa, 01 September 2026

Christ Entangled in the Multiverse: Reimagining the Doctrine of a Single Incarnation

 

Christ Entangled in the Multiverse

Christ Entangled in the Multiverse: Reimagining the Doctrine of a Single Incarnation

Spesifikasi

Kode:510014
Judul:Christ Entangled in the Multiverse: Reimagining the Doctrine of a Single Incarnation
Penulis:Frederick Ray Popo SJ
Editor:Stepanus Wakidi
Tahun Terbit:2026
ISBN:978-634-7774-10-1
eISBN:978-634-7774-08-8
ISBN PDF:978-634-7774-09-5
Tebal:253 (xxiv+229) halaman
Ukuran:14.8x21 cm
Harga:Rp115.000


Deskripsi

Christ Entangled in the Multiverse: Reimagining the Doctrine of a Single Incarnation
By: Frederick Ray Popo, SJ

About the Book
If modern quantum mechanics and cosmological theories split our reality into an infinite number of branching worlds, does God incarnate repeatedly in every parallel dimension? Or is the historic, one-time incarnation of Jesus of Nazareth on Earth sufficient to redeem the entire, vast expanse of the multiverse?

In Christ Entangled in the Multiverse: Reimagining the Doctrine of a Single Incarnation, Jesuit theologian Frederick Ray Popo, SJ, navigates the complex, fascinating borderlands of quantum physics and dogmatic theology. This book offers a bold, philosophically rigorous, and scientifically engaged defense of a Single Incarnation in a multi-semesthered reality.

While many contemporary theologians have quickly capitulated to the idea of Multiple Incarnations as a logical necessity for extraterrestrial or parallel realities, Popo systematically deconstructs these arguments. Through a meticulous critical reading of historical giants like Thomas Aquinas and Karl Rahner, alongside contemporary voices such as Oliver Crisp and Andrew Davison, he exposes the logical, metaphysical, and biblical loopholes inherent in the multiple-incarnation model.

As an elegant alternative, Popo introduces Christ the Unifier. By weaving together the Cosmic Christology of the Pauline and Johannine traditions, the classical doctrine of Divine Simplicity, and the startling physical principles of Quantum Entanglement, he demonstrates how a single, localized historical Incarnation can be ontologically entangled with, and redemptively active across, every branch of the multiverse.

Key Features & Themes
The Multiverse Saga Meets Sacred Theology: Traces the rise of quantum mechanics, Hugh Everett III’s Many-Worlds Interpretation (MWI), and tackles how divine omnipotence, the problem of evil, and Catholic dogmas like transubstantiation and the hypostatic union operate in a branching reality.

Deconstruction of Multiple Incarnations: Offers a highly focused critique of multiple-incarnation theories. Popo scrutinizes Aquinas's Scholastic metaphysics, Rahner’s transcendental Christology, Crisp's logical structures, and Davison’s arguments on "fittingness," pointing out where these theories falter.

The Quantum Analogy of the Cosmic Christ: Proposes a groundbreaking synthesis utilizing quantum entanglement as a physical parallel to explain how the localized historical flesh of Christ remains universally connected to all cosmic dimensions.

Reclaiming Divine Simplicity & Miracles: Revisits classical theism to show that a simple, undivided God acts in physical history through paradoxical "anomalies," framing the Incarnation itself as the ultimate physical and metaphysical miracle.

Real-World Implications: Anchors abstract cosmological speculation into practical, earthly horizons, drawing profound implications for the future of theology-science dialogues, ecumenical and interreligious relations, and the urgent practice of integral ecology (Laudato si').

Praise for Christ Entangled in the Multiverse
"A brilliant and speculative tour de force. Fr. Popo does not merely sit at the table of the science-religion dialogue; he rewrites the menu. By engaging directly with Everettian quantum mechanics and the depths of classical Christology, this book rescues the uniqueness of Christ from being lost in the infinite folds of the multiverse."

"Rigorous, imaginative, and deeply rooted in the Catholic intellectual tradition. Christ Entangled in the Multiverse is essential reading for anyone seeking to understand how classical Christian dogma can not only survive but thrive in the age of modern physics."

Target Audience
This book is highly recommended for systematic theologians, philosophers of religion, scholars of science-engaged theology, physicists interested in the metaphysical implications of quantum theory, and advanced students of Christian dogmatics and Scholastic philosophy.


Daftar Isi

  • Introduction .... vi
  • Beyond Science Fiction .... viii
  • Scope and Focus .... xii
  • Guiding Questions and Underlying Purpose .... xiv
  • Key Sources .... xvi
  • Overview of the Book .... xviii
  • Table of Contents .... xxi
  • Abbreviations .... xxiv
  • 1 The Multiverse Saga .... 1
  • Introducing the Multiverse .... 2
  • The Rise of Quantum Mechanics .... 5
  • Everett’s Many Worlds Interpretation .... 11
  • Final Question: Is the Multiverse Science? .... 18
  • 2 Theology Facing Quantum Mechanics and Multiverses .... 23
  • General Themes: Divine Omnipotence in the Multiverse .... 23
  • Intersections with the Problem of Evil .... 29
  • Specific Themes: Hypostatic Union of Christ and Transubstantiation .... 34
  • Final Question: How to Justify a Multiverse–Theology Discourse? .... 37
  • 3 The Need for Multiple Incarnations in a Multiverse .... 44
  • Many Scenarios, Many Christs, Many Worlds .... 45
  • 4 Aquinas’ Thoughts on Multiple Incarnations .... 54
  • Overview of Aquinas’ Christology .... 55
  • Aquinas’ Stance on the Possibility of Multiple Incarnations .... 60
  • Loopholes in Aquinas’ Support of Multiple Incarnations .... 69
  • 5 Rahner’s Thoughts on Multiple Incarnations .... 72
  • Overview of Rahner’s Christology .... 73
  • Rahner’s Stance on the Possibility of Multiple Incarnations .... 79
  • Loopholes in Rahner’s Account of Multiple Incarnations .... 83
  • 6 Echoes of Multiple Incarnations in Contemporary Theology .... 85
  • Crisp’s View on Multiple Incarnations: Logical, but Not Actual .... 87
  • Davison’s View on Multiple incarnations: Fittingness .... 93
  • Loopholes in Crisp and Davison’s Argument .... 100
  • Checkpoint: A Short Review of Chapters 3–6 .... 102
  • 7 Other Loopholes in the Multiple Incarnations Arguments .... 107
  • Logical and Predicational Challenges .... 109
  • Metaphysical Challenges .... 111
  • Theological and Biblical Challenges .... 114
  • 8 Christ, The Unifier to Defend a Single Incarnation .... 118
  • Biblical Foundations: Pauline and Johannine Christology .... 122
  • Theological Developments: Cosmic Christ .... 130
  • Scientific Parallels: Quantum Entanglement .... 149
  • 9 Revisiting the Doctrine of Divine Simplicity .... 154
  • Biblical Foundations of Divine Simplicity .... 155
  • Theological Developments of Divine Simplicity .... 163
  • Scientific Parallels: Simplicity in Science .... 168
  • 10 Nature of Miracles: A God Working in Paradox .... 175
  • Definition of Miracles and Biblical References .... 176
  • Theological Developments: The Incarnation as a Miracle .... 182
  • Scientific Parallels: Physical Anomaly .... 189
  • Checkpoint: A Short Review of Chapters 7–10 .... 193
  • 11 Thomistic Synthesis and Implications .... 197
  • Key Findings .... 198
  • Implications for the Relationship Between Theology and Science .... 203
  • Implications for Interreligious Dialogue .... 207
  • Implications for Integral Ecology .... 211
  • Epilogue .... 215
  • Bibliography .... 219