Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label Desi Arianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desi Arianto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2020

Face to Face

Kisah Pengalaman Guru oleh Desi Arianto
Photo by Ricardo Garcia from Pexels


Bukan musuhmu
Yang harus dibenci
Setengah hati, atau mungkin sepenuh hati.
Diri ini seorang guru
Sahabat, kawan sepermainanmu
Tempat berbagi cerita, menitipkan percaya.
Mendekatlah,
Duduk di sampingku,
Lihatlah,
Tatap kedua mataku.
Maka,
Aku akan tahu semua duniamu.
Hanya semudah itu.
Seandainya hidup boleh kita atur sendiri, maka barang tentu kita menjatuhkan pilihan pada substansi yang menyenangkan saja, sesuai dengan alur-alur tujuan kita. Maka tak perlu ada Tuhan, tak butuh keyakinan, dan hidup saja dalam sebuah dimensi sendiri yang tak mengenal sebuah arti penciptaan. Bahwasanya semua jalan kehidupan telah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Baik bagi kita belum tentu baik bagi Sang Pencipta, begitu sebaliknya. Alkisah, semua itu telah terjadi denganku, saat ini.
Belasan tahun yang lalu, saat mengenyam bangku Sekolah Dasar, pelan-pelan kepala kalengku ini memintal jalinan kata-kata negatif yang saling mengikat kuat, berpilin dan bertumpuk-tumpuk membentuk jaring memori kelam tentang penggambaran seorang guru. Kasar, jahat, seenaknya sendiri, tak mau mengerti, sok pintar dan yang pasti kuingat, selalu menjaga jarak dengan muridnya.
Sepanjang hari murid hanya menikmati suguhan pantomime yang murid sendiri tak paham apa itu pantomime. Pertunjukan tunggal itu diperankan seorang manusia yang berdiri di depan kelas dengan layar hitam terkembang, membawa properti bernama kapur dan intaian penghapus melayang bagi siswa yang ramai. Ia bicara sesuka hatinya sendiri. Parahnya, si manusia itu tak bisa melucu. Aku merasa hanya melihat sebuah televisi hitam putih menyiarkan acara Dunia Dalam Berita. Menjemukan.
Menguap, bosan, ketakutan adalah lirik-lirik lagu yang senandungnya tak beraturan dengan tempo lambat empat per empat. Lalu sang penyanyi adalah guru itu sendiri. Bukan hanya itu, sang guru juga memainkan gitar, ukulele, akordion, trombon, tamborin, sampai rebana. Semua alat itu dimainkan sekenanya, lalu bernyanyi dengan nada sopran yang sangat dipaksakan. Lekat, ia genggam kayu Jalin bekas kemoceng, sepanjang satu hasta, tersajilah seorang composer dan dirigen untuk pertunjukannya sendiri. Murid, seolah-olah hanyalah sekumpulan Belibis yang terperangkap di rawa-rawa bernama kelas, yang hanya paham suara koor kwek…kwek…kwek…
Pikiran-pikiran semacam itu berhasil dengan status summa cum laude menghuni kedalaman otakku hingga remaja. Dengan sedikit arogansi yang juga ikut tertanam, aku menyimpulkan bahwa guru adalah pekerjaan yang sangat tidak nyaman. Pemahaman yang bukan dibuat-buat, akibat trauma masa kecil di bangku sekolah.
Dalam perjalanan waktuku menuntut ilmu, selalu terlintas dalam benak, bagaimana mungkin seorang guru mampu mengurusi muridnya jika ia sendiri tak mau menyentuh dunia muridnya? Guru hanya mengajar dan sesekali tersenyum jika hatinya sedang good mood. Selepas itu, ia kembali menjadi sebuah sipir tahanan yang menakutkan. Ada jarak yang jauh terpisah di antara guru dan murid. Namun, semua anggapan itu runtuh seperti sebuah gedung yang di ledakkan. Semua pemikiran itu kandas menjadi puing-puing cerita karena takdirku kini adalah, menjadi guru. Sebuah Anomali Eksentrik hidupku.
Sekarang ini, aku berdiri di depan kelas di hadapan para pencari ilmu yang selalu kurindukan. Ya, sekarang aku menjadi seorang guru. Sebuah kebaikan hidup yang dulu aku menganggapnya sebagai keburukan. Tujuh tahun merayap dengan cepat, kujalani takdir menjadi guru. Tenaga, pikiran, waktu dan materi tercurahkan semuanya demi melawan sebuah hal remeh-temeh bernama, beban.
Menjadi guru membuatku semakin dewasa dan belajar dari semua kisah masa kecilku saat menjadi murid. Tak akan kubiarkan terulang pada murid-muridku. Aku bermetamorfosis menjadi sahabat mereka. Guru hanyalah status kepegawaian yang tertera pada lapor bulanku saja. Di kelas, aku adalah kawan mereka. We are incredible partner. Jurang pemisah yang sangat dalam, aku dangkalkan. Jarak yang terentang antara guru dan murid aku hubungkan dengan jembatan yang selalu kusebut student interpersonal approach, pendekatan pribadi dari hati ke hati.
Guru yang berbeda adalah muaraku. Semua kukerahkan untuk itu. Berada di sekolah swasta pinggiran kota yang baru belajar merangkak untuk mandiri. Jarak tempuh dari rumah ke sekolah yang bila dikonversi sejauh jutaan senti ditambah gaji yang belum manusiawi, tak mampu sedikit pun meredamku untuk tetap berjuang menjadi guru yang berusaha menciptakan iklim menyenangkan dalam kelas.
Semua guru pasti ingin melakukan yang terbaik untuk muridnya dengan pengelolaan kelas seefisien mungkin. Sebab, tak bisa dipungkiri guru memiliki banyak sekali kegiatan di dalam dan di luar sekolahan. Apalagi jika harus bicara administrasi kelas, silabus, RPP dan kroni-kroninya itu, yang bisa mengubah rambut lurus guru menjadi keriting. Rambut keriting pun menjadi kribo dan rambut kribo tak ayal akan menjadi botak! Sungguh tak masuk akal. Masalah administrasi kelas yang seabrek itu ditambah dengan permasalahan-permasalahan pergaulan murid yang akut seperti komplikasi penyakit kritis. Padahal tugas guru bukan hanya mengajar atau mendidik saja. Guru adalah seorang inspirator, the real example, contoh nyata yang menjadi panutan murid. Adakalanya, guru juga harus berani berpikir out of the box. Sedikit melenceng dari jalur, seperti harus bisa membaca hati, mata, sifat ataupun karakter murid. Setidaknya menggunakan ilmu-ilmu yang tak pernah ada dalam mata kuliah keguruan. Karena guru sejatinya adalah seorang seniman! Artis yang menjadi tontonan.
Seniman! Suka sekali aku dengan kata itu. Maka ‘kan kujadikan itu sebagai sebuah prinsip untuk mendekatkan diri dengan murid. Aku bermain gitar dan bernyanyi. Terkadang sambil mendongeng. Suatu waktu membuat dan membaca puisi. Pada kesempatan lain lagi, aku menjadi Papa Dedeh, yang berbagi hati, memberi solusi. Terkadang aku membuat video klip mereka dan mengajari mereka cara membuatnya. Dari sanalah kedekatan hubungan mulai terbangun, sebagai pintu masuk ke dalam hati dan hidup mereka. Terlihat sederhana, meski susah untuk dilogika pengelolaan kelas yang aku lakukan. Tak ada peraturan tambahan selain peraturan umum yang ada dan sama, yang tertera di semua sekolah.
Sejujurnya aku tak butuh peraturan yang mengikat, selain tata tertib saja. Aku mencoba menerapkan rasa tanggung jawab, rasa saling memiliki, dan mencintai semua anggota kelas. Meski tak tertulis, perlahan namun pasti, pemahaman mulai mereka terima menjadi sebuah kebenaran, bahwasanya semua anggota kelas adalah keluarga. Maka, tak ada satu pun yang boleh menyakiti, mengolok, mengejek, meremehkan, membenci dan menganggap temannya adalah sampah yang harus disingkirkan. Peraturan tersirat tersebut nyatanya jauh tertanam dalam hati mereka karena sebuah ikatan.
Butuh perjuangan berat untuk melakukan cara-cara itu. Pernah suatu ketika di awal aku menjadi wali kelas dulu, terjadi sebuah kesalahpahaman di antara mereka.
“Pak, Diki memanggilku Aspal jalan raya!” kata Tyas dengan ketus, sambil murung wajahnya. Ia memang berkulit gelap. Aku tersenyum kecil menenangkan tanpa bermaksud merendahkan. Kemudian, seperti biasanya, seperti yang sudah-sudah, aku gunakan jurus andalanku untuk mengendalikan mereka, duduk berdua saling berhadapan, saling menceritakan. Face to face.
Aku mendengar dengan hati dan aku bicara pun dengan hati. Kubiarkan Tyas berceloteh sesuka hatinya. Kudengarkan dengan penuh perhatian seolah-olah aku menjadi dirinya. Semua unek-unek tumpah ruah seumpama aku adalah bak mandi yang dituangi air satu drum. Tyas bercerita dengan penuh penghayatan, sampai-sampai ia meneteskan air matanya. Aku sebenarnya ikut bersedih, namun aku tahan, karena ini bukanlah sebuah telenovela yang penuh isak tangis. Aku berempati penuh. Siapa yang tidak sedih jika kekurangan diri diobral di depan orang banyak dengan maksud mengolok-olok? Lima belas menit terlewati dengan cepat. Hingga, aku mengucapkan sepatah kata.
“Kamu percaya Bapak, kan?” Tyas mengangguk. Aku menjelaskan dengan hati, bahwa, adakalanya dia harus belajar menahan emosi ketika disudutkan. Sabar akan membuatnya menjadi orang yang lebih bisa menghargai penciptaan. Tuhan tidak pernah salah menciptakan makhluk-Nya. Setiap dari manusia pasti akan memiliki kekurangan dan ke-lebihan. Kemudian aku tunjukkan padanya bahwa aku memiliki kekurangan ini, ini, ini dan itu. Tyas mulai sedikit tersenyum dan tertawa lebar saat aku bercerita bahwasanya sewaktu kecil seusia dia, aku pernah diejek begini dan begitu. Dan aku pun tetap menjadi orang setelah ejekan itu bertahun-tahun kuterima. Kudapatkan jurus pendekatan yang kedua, menertawakan diri sendiri di hadapan seorang murid akan mengajarkan mereka untuk memandang gurunya seorang yang kuat dan tabah dalam menjalani kehidupan. Kemudian di akhir percakapan itu, aku sematkan sebuah kalimat yang hingga kini ia pegang. “Semua akan baik-baik saja meski tidak mudah. Engkau akan hebat saat mampu menemukan kelebihan di atas kekuranganmu itu.” Tyas tersenyum senang dan menyalamiku dengan takzim.
Hal yang serupa juga kulakukan pada Diki. Dalam melakukan Face to face itu, tak pernah aku mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Pantang menyudutkan murid. Yang kupersalahkan adalah diriku sendiri kenapa belum bisa menekan permasalahan semacam itu. Diki terbuka hatinya. Dengan kesadaran diri juga tanpa kuperintah, Ia mau meminta maaf pada Tyas dan akan belajar menjaga emosi yang keluar melalui lisan-lisannya. Memang benar lidah tak bertulang. Tak menikam tapi menyakitkan.
Semula memang banyak sekali permasalahan yang muncul. Face to face, pendekatan dari hati ke hati yang kulakukan, nyatanya berhasil mengendalikan mereka pada sudut-sudut pergaulan dan cara bersosialisasi. Hebatnya, dengan pendekatan itu pula, aku mampu memotivasi mereka untuk berprestasi melalui metode dan strategi pembelajaran yang kusarankan, hingga puncaknya mereka mampu sekolah di tempat yang mereka impikan.
Rasa cinta yang teramat besar pada mereka, membuatku mau berkorban. Apa yang kulakukan mampu membawa perubahan dalam dunia pendidikan perihal hubungan guru dan murid, meski hanya dalam lingkup kecil. Hubunganku dengan mereka seperti Silabus dan RPP, saling berkaitan. Hubungan kami, guru dan murid tak ubahnya Prota dan Promes, yang bersinambung. Jika boleh kuibaratkan, jalinan persahabatan kami, seperti kerbau dan burung jalak, symbiotic mutualism, saling menguntungkan. Aku beruntung karena semakin belajar banyak tentang sifat dan kehidupan anak-anak, mereka juga beruntung karena melihatku sebagai penengah yang selalu ada di tengah-tengah. Hingga kini tulisan ini aku tulis, mereka murid-muridku itu, masih memiliki hubungan yang sangat dekat denganku meski kini telah beranjak di tingkat SMP.
Tak ayal, jurus pendekatan yang sama masih menjadi senjata andalanku untuk bertempur dan mengelola kelas pada angkatan-angkatan yang baru. Hasilnya pun, tak pernah kubayangkan memberikan efek yang luar biasa. Melalui segumpal cinta bernama hati, aku berhasil menjaga ucapan, tindakan, serta pergaulan mereka tanpa pernah ada aturan tertulis yang mengancam layaknya undang-undang pidana. Semua berjalan sesuai alurnya.
Suatu ketika, siang hari setelah perpisahan kelas enam, mereka, murid-muridku itu mendatangiku sambil duduk melingkar. Wajah mereka sembab penuh air mata karena sebuah perpisahan. Mereka bersama-sama menggoreskan sebuah tulisan di papan yang mereka tutup dengan selembar kain. Setelah kain tersibakkan, mampu kubaca deret tulisan itu
Bapak telah mengubah kami. Kami rindu kebersamaan yang akan berakhir di kelas ini. Sampai kapan pun kami tidak akan melupakan kenangan yang terjadi. Terima kasih atas ilmu dan nilai kehidupan yang diajarkan. Terima kasih atas semuanya, We Love You!
Tak terasa mataku berkaca-kaca, air meleleh perlahan jatuh semakin lama semakin berderai. Aku menangis untuk sebuah hal yang aku tak bisa mengerti. Aku menangis tanpa pernah tahu atas sebuah hal yang tak kupahami. Melihatku meneteskan air mata, serta-merta mereka semua beranjak dan memelukku erat sesenggukan. Aku diam mematung penuh keharuan.
“Terima kasih, Nak…” dalam hatiku lirih tertahan.
Guru tidak sekedar menuliskan deret-deret angka kognitif saja
Guru tidak sekedar berdiri dan bercerita, tapi lebih dari itu semua.
Ia ada meski dunia tak pernah memerhatikannya.
Ia ada dalam setiap ketiadaan yang menjelma.
Guru akan selalu hidup dalam hidup semua murid-muridnya.
***

Desi Arianto
Penulis adalah seorang guru kelas enam yang berbagi ilmu di SDIT Nurul Huda Kediri dengan nama asli Desi Arianto. Tahupoo adalah nama pena yang digunakan olehnya. Penulis pernah menjuarai event kepenulisan guru sebelumnya dengan judul cerita, “Face to Face”. Penulis memperjuangkan mimpinya untuk terus memberikan hadiah berupa buku yang ditulis sendiri untuk murid-muridnya yang telah lulus. Boundless dan Twelve Seasons adalah dua karyanya yang ditulis dan dicetak sendiri. Penulis dapat di kontak pada email ariantz12seasons@gmail.com



Tulisan ini diambil dari buku KAPUR & PAPAN Kisah Pengelolaan Kelas 1 halaman 24-30, Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015




Selasa, 07 April 2020

Emak Lihatlah Aku

Kisah Pengalaman Guru oleh Desi Arianto
Photo by mohamed Abdelgaffar from Pexels

“Srek…. Srek…. Srek….”
Muh. Nashichuddin, terbaca olehku di lembar presensi kelas yang kusibakkan. Kupanggil namanya, mengacunglah jarinya. Ia berperawakan kerempeng, berkulit gelap, berambut kemerahan seperti jarang sekali tersentuh sampo. Sekilas ia mirip anak kurang gizi, yang konon kabarnya, berjubelan hidup di kamp penampungan konflik perang saudara di Benua Hitam, Afrika.
“Bapak boleh panggil saya, Anas!”
Suaranya parau, serak, kering laksana paceklik di musim kemarau panjang. Mendengarnya, telingaku ingin disiram air satu ember saja rasanya.
Semacam itu, kesan pertama yang kudapatkan darinya di kelas tiga Sekolah Dasar dulu. Bahkan, kejadian itu masih terngiang jelas di benakku hingga sekarang. Benar adanya, ia salah satu dari beberapa muridku yang mampu membalik dunianya. Ia salah satu muridku, yang mampu menertawakan kebodohan. Dan ia, Anas, seorang anak kerempeng yang pernah dipandang remeh banyak orang, yang pernah kesulitan membaca dan menulis di kelas tiga Sekolah Dasar itu, kini mengisi halaman prestasi hidupku sebagai seorang guru.
Kisah bermula saat dia berada di kelas lima Sekolah Dasar. Kawan, jika boleh kuberi tahu, aku adalah guru yang dipercaya menjadi wali kelas enam. Meski aku mengayomi tingkat tertinggi dalam kasta pendidikan Sekolah Dasar, tapi sering kali aku masuk ke kelas bawah, untuk sekadar melihat dan mencoba mengenal mereka sejak dini. Acap kali, pada waktu istirahat, aku sambangi kelas tiga, empat, dan lima hanya untuk bercerita maupun berbagi kisah dengan mereka. Dan kelas lima adalah kelas yang paling sering aku kunjungi.
Ada dua hal yang menyebabkanku kerasan di kelas tersebut. Yang pertama, aku ingin memberikan pandangan tentang arti sebuah mimpi, yang menjadi dasar semangat saat mereka menginjak di kelas enam. Yang kedua, aku melihat sebuah kekuatan luar biasa, yang mereka tunjukkan padaku. Kekuatan itu yang menyihirku untuk masuk dalam dunia anak-anak yang penuh tawa dan keceriaan. Kekuatan cinta!
Aku senang sekali menjelajahi daya imajinasi mereka lalu berdiskusi seputar sekolah lanjutan mana yang hendak mereka tuju setelah kelas enam nantinya. Dari diskusi sederhana itulah, aku mampu memetakan kemampuan mereka sejak di kelas lima. Berawal dari hal tersebut, aku tahu Anas ingin melanjutkan ke sekolah unggulan, di salah satu Mts Negeri terbaik di kotaku.
“Saya, akan melanjutkan di Mts Negeri terbaik, Pak,” ucapnya ringan.
Aku terhenyak. Semua temannya riuh. Sebagian bertepuk tangan untuk jawaban Anas tadi.
“Lebih tepatnya, saya ingin masuk kelas Religi.” Ia berapi-api.
Mataku nanar seolah tak percaya. Di satu sisi, aku tak menyangka ia punya mimpi yang luar biasa tinggi, di sisi yang lain, aku sedikit sangsi melihat kemampuannya.
Sebagai informasi saja, Mts Negeri Terbaik adalah salah satu sekolah favorit di tempatku, yang nilai UN/US SD bukanlah acuan. Setiap anak yang hendak masuk ke sana harus menjalani tes. Dari sekitar seribu lima ratusan anak yang mendaftar, hanya seperlimanya saja yang diterima. Sukar bukan kepalang. Sesukar mencari jarum dalam tumpukan jerami. Dan, di hadapanku kini, seorang anak yang menulis dan membaca saja masih kesulitan, apalagi menghafal kosakata Bahasa Inggris yang baginya seperti susunan huruf hieroglif kuno, malah mau bermimpi untuk masuk ke sana. Weleh-weleh, aku bergumam dalam hati. Meski aku juga bersyukur mendapatkan murid dengan mimpi setinggi langit. Kulayangkan senyum tiga sentiku untuknya.
Sebagai guru, tak ada kamus menyerah dan pantang untukku menyemangati murid. Bagiku, guru haruslah menjadi ing ngarso sung tulodho, di depan, aku benar-benar memberikan teladan. Ing madyo mangun karsa, di tengah-tengah, aku harus memantik dan membangkitkan niat mereka, dan tut wuri handayani, di belakang, aku harus memompa, mengobarkan semangat dan memberikan dukungan penuh. Tiga mantra ajaib dari Ki Hajar Dewantara itu telah meresap jauh dalam jiwa dan ragaku yang basah kuyup, tercebur dalam kawah candradimuka bernama pendidikan.
“Nak, bermimpilah sebesar-besarnya, bukan bermimpi sedang, jangan pernah bermimpi kecil apalagi tak memiliki mimpi sama sekali. Mulai di kelas lima ini, bermimpilah setinggi-tingginya, jika perlu setinggi langit. Karena kelak, jika jatuh atau gagal pun, kalian masih melayang di antara bintang-gemintang. Teruslah bermimpi, jangan berhenti di sini. Bapak tunggu di kelas enam.”
Kalimat itu selalu kuingat, saat menutup diskusi sederhana yang penuh semangat bersama mereka dulu. Saat berjalan keluar, dalam deret baris bangku suram, kulihat binar-binar mata penuh cinta. Seorang lagi, di balik rambut kusam dan tubuh kecilnya, tampak binar mata yang berbeda. Binar mata bercahaya, yang penuh rasa percaya.
***
Musim baru telah datang, semangat baru pun menjelang. Murid-murid kelas enamku telah mendapatkan sekolah yang mereka impikan. Kenangan akan mereka kubingkai indah dalam pigura tawa dan motif polkadot bahagia yang beraneka warna. Kini di hadapanku, duduklah sekumpulan murid generasi baru yang dulu di kelas lima pernah ‘kuhasut’ untuk berani bermimpi setinggi langit. Tak terasa semua cepat berlalu. Waktuku semakin pendek, seperti selemparan batu saja jaraknya.
Setelah bercakap-cakap, pandangan mataku jatuh pada barisan kedua, sebelah kanan, di bawah jendela kelas yang lurus dengan lemari. Anak lelaki bertubuh kecil berambut kusam duduk meringkuk dengan mimpi yang pernah ia lontarkan padaku dulu. Bajunya tampak lusuh. Mungkin terlalu sering jatuh saat bermain bola, meninggalkan noda yang sulit dihilangkan. Sekarang ia menjadi asuhanku. Tugas baruku yang maha berat: membantu generasi baru menggapai mimpi yang benar-benar tak mudah untuk digapai.
Anas, tak banyak beda dengan anak sebayanya. Gemar bermain bola, takut menjawab pertanyaan, malu disuruh maju, memiliki pensil sepanjang ibu jari, sampul buku yang tak utuh lagi, kancing baju yang hilang satu, kaos kaki kumal nan bau, jahil menyembunyikan sepatu, dan hal-hal wajar namun konyol yang umum dilakukan anak-anak seusianya. Ia tipe anak dengan kecerdasan kinestesis, kecerdasan natural dan kecerdasan logis matematis. Ketiga kecerdasan tersebut menguasai tujuh puluh lima persen otaknya. Ketiga kecerdasan yang menempel di otaknya itu, bisa kuketahui setelah tiga bulan lamanya melakukan pengamatan dan pada akhir periode pengamatan kuberikan tes kecerdasan yang kupelajari dari berbagai sumber berbahasa Inggris.
Semula, aku mengira ia lemah di bidang berhitung dan berlogika, mengingat nilainya setia di gambar kursi terbalik, alias empat. Namun setelah melalui proses pengamatan sehari-hari serta tes tersebut, aku telah salah menilainya. Ia ternyata mahir pada bidang berhitung dan berlogika meski bidang kinestesis menjadi juara untuk substansi cerdas paling tinggi. Aku hanya belum nge-klik saja dengannya. Berhari-hari, berminggu hingga triwulan pertama, aku memikirkan cara agar ia mampu bersaing untuk nilai matematika yang muaranya merupakan ujung tombak untuk mengikuti tes di Mts Negeri Terbaik kelak.
Satu semester berjalan, namun perkembangan Anas hanya jalan di tempat. Ia tetap menghuni papan bawah. Sepertinya ia telah terbiasa berada di zona itu, sebuah kenyamanan ataukah sebuah kepasrahan, aku tak tahu. Meski naik beberapa strip dari dasar klasemen peringkat, ia sudah bahagia, tapi aku tidak. Aku merasa, perkembangan Anas hanya sekadarnya. Ia tak akan mampu bersaing saat ikut seleksi di Mts Negeri esok. Aku merenung. Aku berpikir dalam-dalam. Aku berupaya keras. Aku berandai-andai, bila saja aku ini Anas, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang aku miliki, apa yang akan aku lakukan? Pada siapa aku harus meminta pertolongan selain pada Tuhan? Bukankah Tuhan memberi jalan orang yang mau bersungguh-sungguh? Lalu apa yang harus aku lakukan untuk meraih mimpiku? Apakah guruku mau berkorban dan membantuku? Apa yang harus kupelajari?
Uh… banyak sekali simulasi pertanyaan dan pernyataan yang berkecamuk di kepalaku saat aku mencoba menempatkan diri menjadi seorang Anas. Apakah Anas juga berpikir seperti itu? Seketika, aku merasa menjadi guru yang paling naif sedunia. Aku seakan tak pantas disebut guru. Bagaimana bisa aku mengajar dan mendidik jika aku saja tak paham apa yang dibutuhkan muridku?
Maka suatu ketika, saat bermain bola, aku memanggilnya. Kami duduk di bawah pohon beringin yang sangat rindang. Angin sepoi-sepoi membelai mesra rambut kami. Damai rasanya.
“Nak, bagaimana rasanya di kelas enam?”
Ia tersenyum.
“Ceritakan apa yang kau rasakan. Kita adalah sahabat.” Senyumku mengembang seperti roti tercampur ragi. Ia masih tersenyum. Aku tersenyum. Lalu, kami tertawa lagi.
“Senang, Pak.”
“Senang sekali…”
Perlahan, ia mulai bercerita meski terputus-putus, terbata-bata, layaknya bayi belajar bicara. Terkadang ia mencampuradukkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa dalam dialeknya yang khas. Aku mendengarkan dengan takzim. Tampaklah ia seperti dosen pembimbing dengan kuliah yudisium akhir, yang sedang membukakan mata dan pikiranku demi menempuh tesis akhir dengan judul, Kajian Simbiosis Mutualisme Antara Guru dan Murid Dengan Metode Persahabatan. Sesekali ia melihat ke atas, seperti hendak mencari kata yang tak ada dalam kepala kotaknya. Melihat tingkahnya itu, aku tersenyum, ia tersenyum. Kami pun tertawa lagi.
Aku telah masuk ke dalam dunianya.
***
Semester dua mulai berjalan. Kudapati, Anas bercengkerama dengan kenihilan. Nilainya kembang kempis. Hasil tes yang kusimulasikan berhasil ia lalui dengan nilai tak lebih dari lima. Aku menghela nafas. Betapa berat hal yang kuhadapi sekarang. Namun, aku tak ingin menganggapnya beban. Aku selalu percaya, tidak ada kerja keras yang sia-sia. Aku selalu berpendapat, selalu ada jalan untuk sebuah niat yang baik. Aku harus lebih banyak memberikan hati. Ya, sebongkah cinta itu adalah hati.
Pada satu kesempatan, aku memanggilnya lagi. Aku bertanya padanya, bagaimana jika aku menambahkan jam pelajaran untuknya. Tak disangka, ia senang sekali. Ia menyambut dengan gembira. Ia mengatakan bahwasanya, itulah yang sejatinya ia inginkan. Belajar tambahan. Ia sulit mengungkapkan itu padaku. Memang benar, terkadang guru haruslah menjemput bola. Mendatangi beberapa murid yang kurang bisa berpendapat atau terlalu pendiam. Secercah harapan mulai terbuka. Tetapi, saat cahaya telah terlihat, mendung sesekali menutupinya kembali. Hambatan datang silih berganti. Satu solusi tercapai, maka rintangan yang lain mengintai. Kini, aku yang harus bekerja ekstra keras. Aku tak boleh mengeluh. Waktu pulang sekolah harus molor tak kurang dari satu jam. Biasanya, pukul setengah tiga sore aku pulang, kali ini jam setengah empat sore. Aku menjalaninya dengan senang hati, karena aku rela memberikan segumpal hati ini untuknya.
Aku tak menyesal. Lelah, letih, penat dan tubuh yang remuk redam, terobati oleh semangat
Anas, yang begitu luar biasa. Berkali-kali salah, berkali-kali ia mencoba. Berulang-ulang tak paham, berulang pula aku memahamkan materi padanya. Sambil makan kerupuk yang kami bagi berdua, kami menjalani purnama berganti purnama lamanya. Terkadang kami bersedih, namun sering kali tertawa bersama. Namun, pada satu noktah waktu, ketika bicara padanya, aku tak bisa menahan air mata. Aku menatap lekat-lekat sesosok anak kecil ingusan, yang tak lelah berjuang, yang mengajariku arti hidup berbagi hati itu. Ia berkata padaku, dengan mata merah dan berkaca-kaca,
“Pak, aku telah berjanji pada Emak, aku akan di Mts Negeri Terbaik.”
“Lalu Emak bilang apa?”
“Emak cuma bilang, apapun yang aku inginkan, Emak akan selalu mendoakan. Aku harus bersungguh-sungguh. Bapak yang mengajariku untuk menolak menyerah.” Aku diam seribu bahasa.
Pada lain kesempatan, Ibu Anas mendatangiku. Beliau bercerita tentang keinginan Anas bersekolah di sekolah yang bagus. Beliau takut Anas tak mampu lolos. Dan beliau menyampaikan bahwa Anas tak ingin sekolah di lain tempat. Beliau sangat khawatir Anas gagal lalu kecewa. Ibu itu tak sungkan, berkali-kali menyeka kedua matanya dengan jilbab warna merah tua. Beliau tersedu sedan di hadapanku. Betapa kurasakan sebuah cinta luar biasa seorang ibu pada anaknya. Aku berpaling pada langit-langit kelas. Sudut mataku terasa penuh air. Aku teringat ibuku.
Kusampaikan pada beliau agar mendoakan yang terbaik dan memberikan rasa percaya pada Anas. Kusampaikan juga untuk tidak khawatir berlebihan. Anas akan berada di sekolah itu. Aku bisa merasakannya. Jika saja nanti takdir menuntun Anas di sekolah lain, aku akan memberikan pandangan baru untuknya. Karena pada separuh hatiku ini tertulis namanya.
***
“Tingtungtingtungtingtung….” Telepon genggamku menyalak berkali-kali pada minggu akhir bulan Juni. Kulihat pada layar, Ibu Anas meneleponku. Kudengarkan suara terisak di ujung telepon.
“Pak, terima kasih untuk semua yang Bapak lakukan pada Anas. Terima kasih atas bimbingannya. Anas berhasil diterima di Mts Negeri Terbaik dan masuk di kelas yang diinginkannya.”
Aku diam penuh syukur. Tangisan ibu Anas membuatku terharu biru. Segera kubuka website pengumuman PPDB Mts Negeri Terbaik, kulihat nama Anas tertulis jelas di sana.
Ah… Tuhan, selalu berakhir seperti ini. Selalu Engkau hadir dalam setiap keberhasilan yang muridku dapatkan. Selalu sentuhan akhir-Mu menjadi kuncinya. Engkau selalu menunggu, melihat siapa yang berdoa dan bersungguh-sungguh, lalu memudahkan semua impian itu. Terima kasih wahai pemilik segala ilmu dan masa depan.
Kurasakan hatiku mengembang, rasanya sungguh tak terbayang. Memang benar, semua bukan masalah materi dan tak bisa diukur dengan materi. Aku bahagia memiliki segumpal hati ini.
Kawan, kuberi tahu satu hal. Aku bangga menjadi guru Sekolah Dasar. Aku bangga tak terkira.
***

Desi Arianto
Penulis adalah seorang guru kelas enam yang berbagi ilmu di SDIT Nurul Huda Kediri dengan nama asli Desi Arianto. Tahupoo adalah nama pena yang digunakan olehnya. Penulis pernah menjuarai event kepenulisan guru sebelumnya dengan judul cerita, “Face to Face”. Penulis memperjuangkan mimpinya untuk terus memberikan hadiah berupa buku yang ditulis sendiri untuk murid-muridnya yang telah lulus. Boundless dan Twelve Seasons adalah dua karyanya yang ditulis dan dicetak sendiri. Penulis dapat di kontak pada email ariantz12seasons@gmail.com



Tulisan diambil dari buku Kapur & Papan: Mendidik dengan Hati 2 halaman 29-36. Naskah ini merupakan Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis bekerja sama dengan Penerbit Lingkarantarnusa