Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label T. Wagimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label T. Wagimin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2026

Macapat Padhamara

 

Spesifikasi

Kode:120066
Judul:Macapat Padhamara
Penulis:T. Wagimin
Tahun Terbit:2026
ISBN:978-623-7421-99-3
eISBN:978-623-7421-97-9
ISBN PDF:978-623-7421-98-6
Tebal:112 (viii+104) halaman
Harga:Rp105.000



Deskripsi


Macapat Padhamara karyaT. Wagimin


“Di balik setiap bait macapat, tersimpan suara zaman, petuah kehidupan, dan cermin manusia.”

Macapat Padhamara hadir bukan sekadar sebagai kumpulan tembang Jawa, melainkan sebagai suluh kebijaksanaan yang menerangi perjalanan hidup. Dengan irama yang indah dan bahasa yang mengalir penuh rasa, buku ini mengajak pembaca menyelami kisah tentang alam, sejarah, cinta, bencana, moralitas, hingga potret kehidupan sosial masyarakat—semuanya dirangkai dalam keagungan tembang macapat.

Melalui pupuh-pupuh seperti Dhandhanggula, Asmaradana, Pangkur, Megatruh, hingga Pocung, T. Wagimin menghadirkan karya yang kaya makna dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca akan menemukan kisah tentang legenda Jawa, peristiwa alam seperti banjir dan longsor, nilai perjuangan dalam Sumpah Palapa, hingga kritik sosial mengenai korupsi, revolusi mental, dan lunturnya sikap andhap asor dalam kehidupan modern.

Namun kekuatan buku ini tidak berhenti pada keindahan sastra. Setiap tembang memuat nasihat budi pekerti, ajaran kesabaran, kerendahan hati, cinta kasih, dan kesadaran akan hukum kehidupan. Dengan gaya bahasa yang halus namun menghunjam makna, Macapat Padhamara menghidupkan kembali tradisi macapat sebagai media refleksi dan tuntunan moral yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Buku ini menjadi jembatan antara warisan budaya Jawa dan persoalan manusia masa kini. Pembaca tidak hanya diajak menikmati keindahan bunyi dan irama tembang, tetapi juga merenungkan makna hidup melalui simbol, pasemon, dan filosofi yang diwariskan para leluhur.

Macapat Padhamara layak dimiliki oleh pecinta sastra Jawa, pemerhati budaya, pendidik, generasi muda, maupun siapa saja yang merindukan bacaan bernilai luhur. Sebab di dalam buku ini, tembang bukan hanya karya seni—melainkan suara kebijaksanaan yang tetap hidup, menuntun manusia agar lebih bijak memandang diri, sesama, dan kehidupan.




Daftar Isi

  • Atur Pambuka Penerbit .... v
  • Atur Cecala .... vi
  • Daftar Isi .... vii
  • I Atur Pambuka .... 1
  • II Gara-Gara Ing Bumi Mataram .... 2
  • Dandhang Gula .... 2
  • III Jatining Pepenginan .... 16
  • Asmaradana .... 16
  • IV Sulakso Hargo Gugur .... 21
  • Megatruh .... 21
  • V Dumadine Lintang Kemukus .... 24
  • Dhandhanggula .... 24
  • VI Sumpah Palapa .... 31
  • Pangkur .... 31
  • VII Timbule Nuh ing Jakarta 2013 .... 34
  • Megatruh .... 34
  • VIII Grahana Srengenge .... 41
  • Dhandhanggula .... 41
  • IX Tani Pengulir Budi .... 43
  • Kinanthi .... 43
  • X Pituture Tawon Madu .... 47
  • Pocung .... 47
  • XI Revolusi Mental .... 52
  • Dhandhanggula .... 52
  • XII Gunane Wit Gayam .... 55
  • Megatruh .... 55
  • XIII Wataking Janma Cinithak .... 58
  • Dhandhanggula .... 58
  • XIV Longsor Banjarnegara .... 61
  • Megatruh .... 61
  • XV Revolusi Bersih .... 64
  • Dhandhanggula .... 64
  • XVI Tresna Asih Gusti .... 67
  • Pocung .... 67
  • XVII Kolesterol Inggil .... 72
  • Dhandhanggula .... 72
  • XVIII Legenda Jaka Tingkir .... 74
  • Megatruh .... 74
  • XIX Revolusi Mental Isih Mental .... 76
  • Dhandhanggula .... 76
  • XX Atur Kagem Para Sepuh .... 79
  • Gambuh .... 79
  • XXI Hukum Karma .... 82
  • Dhandhanggula .... 82
  • XXII Filosofi Gombal lan Bangke Sona .... 84
  • Pangkur .... 84
  • XXIII Pasemon Anyebar Wiji .... 86
  • Dhandhanggula .... 86
  • XXIV Andhap Asor .... 88
  • Sinom .... 88
  • XXV Dirgahayu RI 72 Nyawiji ing Pengetan .... 92
  • Dhandhanggula .... 92
  • XXVI Jatining Katresnan .... 95
  • Mijil .... 95
  • XXVII Sabar Mring Cacading Liyan .... 98
  • Maskumambang .... 98
  • XXVIII Dikorupsi Malah Bathi .... 101
  • Durma .... 101
  • Babagan Panulis .... 103

Jumat, 05 Juni 2026

Thukuling Teki Garing, Panggulawenthahing Putra Kawiwitan Saka Kandhegan Ing Tembang Macapat

 Spesifikasi

Kode:120065
Judul:Thukuling Teki Garing, Panggulawenthahing Putra Kawiwitan Saka Kandhegan Ing Tembang Macapat
Penulis:T. Wagimin
Tahun Terbit:2026
ISBN:978-623-7421-94-8
eISBN:978-623-7421-96-2
ISBN PDF:978-623-7421-95-5
Tebal:116 (xii+104) halaman
Harga:Rp110.000



Deskripsi


Thukuling Teki Garing, Panggulawenthahing Putra Kawiwitan Saka Kandhegan Ing Tembang Macapat

“Ketika tembang tidak sekadar dilantunkan, tetapi menjadi cermin perjalanan hidup manusia.”

Thukuling Teki Garing bukan hanya kumpulan macapat. Buku ini adalah perjalanan batin yang menuntun pembaca menyelami awal kehidupan, cinta, kekecewaan, pendidikan anak, hingga makna menjadi manusia yang berbudaya. Setiap pupuh tidak hanya indah didengar, tetapi juga menyimpan kebijaksanaan yang menghidupkan nilai-nilai luhur dan memperkuat karakter manusia.

Terinspirasi dari ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dan ruh kisah dalam novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata, T. Wagimin memadukan sastra Jawa klasik dengan refleksi tentang tumbuh kembang manusia sejak dalam kandungan hingga dewasa. Melalui tembang-tembang macapat seperti Maskumambang, Dhandhanggula, Asmaradana, Pangkur, Kinanthi, hingga Pocung, pembaca diajak memahami kehidupan sebagai proses panjang pembentukan jiwa dan watak.

Buku ini tidak hanya menghadirkan keindahan sastra Jawa, tetapi juga menjadi jembatan antara warisan budaya leluhur dan kehidupan masa kini. Dengan terjemahan bahasa Indonesia yang selaras, pesan-pesan moral dan filosofi mendalam di dalamnya dapat dinikmati oleh pembaca lintas generasi tanpa kehilangan kekayaan makna aslinya.

Di tengah arus modernisasi yang perlahan menjauhkan generasi muda dari akar budayanya, Thukuling Teki Garing hadir sebagai pengingat bahwa tradisi bukan sesuatu yang usang, melainkan sumber kebijaksanaan yang tetap relevan sepanjang zaman. Buku ini layak dibaca oleh pecinta sastra, pemerhati budaya, pendidik, orang tua, maupun siapa saja yang ingin menemukan nilai kehidupan melalui keindahan tembang macapat.
Membaca buku ini serasa mendengarkan suara para leluhur yang kembali hidup lewat bait-bait tembang—lembut, mendalam, dan menggugah hati.


Daftar Isi

  • Kata Pengantar Penerbit .... v
  • Atur Panuwun .... vi
  • Atur Cecala .... vii
  • Daftar Isi .... x
  • Daftar Gambar .... xii
  • Bab I Pambukaning Atur .... 1
  • Thukuling Teki Garing .... 1
  • Bab II Danaraja Wisuda .... 2
  • Dhandhang Gula .... 3
  • Bab III Resi Wisrawa .... 8
  • Pangkur .... 9
  • Bab IV Danaraja Lamar .... 13
  • Sinom .... 14
  • Bab V Babaring Sastra Jendra .... 18
  • Dhandhang Gula .... 19
  • Bab VI Danaraja Wuyung .... 28
  • Maskumambang .... 29
  • Asmaradana .... 30
  • Bab VII Urip Bebrayan .... 31
  • Kinanthi .... 32
  • Bab VIII Tuwuhe Rasa Kuciwa .... 34
  • Durma .... 35
  • Megatruh .... 37
  • Gambuh .... 39
  • Pocung .... 41
  • Bab IX Wijiling Kayun .... 45
  • Mijil .... 46
  • Bab X Wibisana Tundhung .... 49
  • Durma .... 50
  • Megatruh .... 55
  • Bab XI Wacana .... 58
  • Pangkur .... 58
  • Bab XII Sapta Tama .... 63
  • Kinanthi .... 63
  • Bab XIII Wanci Tumibaning Wiji .... 65
  • Asmaradana .... 65
  • Bab XIV Panggula Wenthah .... 70
  • Mijil .... 70
  • Bab XV Keluarga Berencana .... 75
  • Sinom .... 75
  • Bab XVI Tuwuhing Wiji .... 79
  • Pocung .... 80
  • Bab XVII Wohing Pengalaman .... 98
  • Asmaradana .... 98
  • Bab XVIII Puputing Atur .... 101
  • Pangkur .... 101
  • Cuplikan lan Waosan .... 102
  • Tentang Penulis .... 103

Jumat, 29 Mei 2026

T. Wagimin, Penulis Macapat


T. Wagimin, penulis macapat, tembang bahasa Jawa
T. Wagimin

Lahir pada tanggal 2 November 1938 di Dusun Karangnongko, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, DIY dari pasangan suami istri Kartodimejo, ia merupakan anak ke-6 dari 6 bersaudara. Si kecil Wagimin mengawali pendidikannya pada zaman penjajahan Jepang di Sekolah Rakyat Kalasan I pada tahun 1944 dan tamat pada tahun 1953 (karena sempat pindah sekolah). Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di SMP Kanisius Kalasan dan tamat pada tahun 1956. Ia kemudian menempuh pendidikan kejuruan di SGB Shanti Dharma Yogyakarta dan tamat pada tahun 1958.

Penulis mulai meniti karier sebagai guru pada tahun 1960 di SD Gombang, Wonosari, Yogyakarta selama 2 tahun. Pada tahun 1962, ia pindah mengajar di SD Jomblang II Berbah, Sleman hingga tahun 1964.

Karena memiliki jiwa patriot dan sangat peduli akan pendidikan anak-anak, ketika pemerintah mengumumkan dibukanya pendaftaran relawan guru di Papua, penulis tergerak hatinya untuk mengikuti program tersebut. Pada tahun 1964, berangkatlah penulis ke tanah "misi" Papua dan mengajar di SD Katolik Warse, Asmat, Merauke selama 5 tahun. Atas dedikasinya tersebut, ia pernah mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai pejuang di bidang pendidikan di tanah Papua.

Karena sudah berkeluarga dan mempunyai anak yang masih kecil, penulis memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Pada tahun 1968, penulis kembali mengajar di SD Jomblang II Berbah, Sleman hingga purna tugas pada tahun 1990.

Berkat kecintaannya pada budaya Jawa, khususnya sastra dan seni budaya, mulai tahun 2007 penulis mencoba menulis seni budaya "macapat". Tulisan yang awalnya iseng dikirim ke redaksi Majalah Berbahasa Jawa Jaka Lodang tersebut rupanya sering dimuat di rubrik seni dan budaya. Penulis belajar menulis secara otodidak. Seiring dengan berkembangnya kemampuan tersebut, penulis mencoba menulis artikel lain yang berkaitan dengan pesan moral dan pendidikan etika, khususnya untuk pasangan suami istri (pasutri) muda, yaitu buku tentang prenatal (saat janin masih dalam kandungan), serta pendidikan budi pekerti dalam kehidupan bermasyarakat. Hingga saat ini, penulis masih aktif mengirimkan artikel seni dan budaya ke Majalah Jaka Lodang.


Karyanya:


Macapat Padhamara




Thukuling Teki Garing, Panggulawenthahing Putra Kawiwitan Saka Kandhegan Ing Tembang Macapat