Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label akrostik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akrostik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2022

Kuasa-Diri-Cinta: Puisi Akrostik




Spesifikasi:
Kode: 0120059
Judul: Kuasa-Diri-Cinta: Puisi Akrostik
Penulis: Elisabet Sri Hartati, Abdul Hakim, Herayanti, Catharina Yenny Indratno, Taufik Mulyana, Indriastuti Martarini, Ani Sumiani, Niken Eka Priyani, Rifda Hidajati, Rini Daraini, Noibe Halawa, Ayu Pebrina Dewi Setyorini, Anastasia Novalita I, Fransisca Dafrosa, Nur Hidayati, Agus Pujiarto, Yanti Aries Putri, Anik Setyowati, Pujarsono, Tobias Nggaruaka
ISBN: 978-623-7421-56-6
Terbit: 24-Feb-22
Tebal: 170 (x+160) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp75.000

Deskripsi:
Komunitas Guru Menulis sebelumnya sudah menerbitkan kumpulan puisi akrostik yang pertama dan buku ini merupakan buku kedua. Sebanyak 20 penulis telah mengirimkan karya dan terdapat 326 puisi akhirnya diterbitkan dalam buku ini. Sebagian besar puisi menempatkan huruf pertama dalam baris sebagai pengeja kata atau frasa dan beberapa menempatkan mereka di akhir baris atau di tengah baris.

Daftar Penulis dan Puisinya:
Elisabet Sri Hartati
Aku (1)
Kau
Dia
Kalian
Mereka
Embun
Kuasa (1)
Kuasa (2)
Kuasa (3)
Kuasa (4)
Kuasa (5)
Kuasa (6)
Kuasa (7)
Kuasa (8)
Cinta (1)
Cinta (2)
Cinta (3)
Cinta (4)
Politik (1)
Politik (2)
Mawar
Politikus
Akrostik 
Aku (2)
Kamu

Kau Pilihanku
Jangan Bersedih
Iya Mah
Kau Tercipta Untukku
Kutahu yang Kau Mau
Masa Iya Sih
Merdeka
Kuburan Itu Sepi
Belum Terlambat
Tidak Masalah
Suci Cintaku
Sabarlah Sayang
Ada Maunya Nih
Aku Rindu
Idul Adha

Bunda
Ayah
Tuhanku
Duit
Dosa
Sabar
Cintaku
Kekasih
Hujan
Rindu
Guru
Sekolah
Istiqomah
Ruang Hampa
Senja

Rindu
Kasih
Temaram
Semarak
Waktu
Dilema
Pelangi
Dilan
Mentari
Smile
Langit
Putri
Belajar
Polusi

Buku Gambar
Merpati
Desaku
Rahasia
Anakku Tercinta
Cinta
Pemandangan
Indonesia
Malam Hari

Ikhlas
Perjuangan Hidup
Smile
Pilihan Hati
Mengasihi
Kekasih Ilusi
Persahabatan
Sepasang Kaki
Kesetiaan Kita
Secangkir Kopi

Ani Sumiani
Ilham
Aulia
Rainadia
Pinu
Dukhan
Dosa
Kamu
Rasa
Guru
Bila
Anak
Kertas
Cinta
Pena
Film
Kartu
Tahu
Kuat
Meja
Quran

Bunga
Cinta
Rindu
Tegar
Bumi
Pelangi
Bintang
Matahari
Bulan
Siang
Kemarau
Hujan
Sendiri
Surat Cinta
Malam
Awan
Mimpi
Sains
Salju
Asmara

Rafandra
Rafandra
Taufiki
Shillah
Di rumah aja
Diam Menepi
Sebait Luka
Kini dan Nanti
Kecewalah
Mutasi
Pudar
Nol Lima
Hai Cantik
Harus Bertahan
Merindu
Menyerah
Kebahagiaan
Percuma
Tentangmu
Dua Puluh Sembilan

Matahariku
Melepaskanmu
Elegi Cinta
Adinda
Permata Hati
Jangan Ingkar Janji
MTS Darul Ilmi
Matematika
Bujur Sangkar
Kolong Jembatan
Petualang Cita
Masa Pandemi Covid
Rini Daraini

Wanita
Diam
Rasa
Rindu
Jawaban Doaku
Penerang Jiwaku
Tersayang
Berjuang
Corona
Social Distancing
Lockdown
PSBB
OTG
PDP
Isolasi
Karantina
Senja
Harapan

Ayu
Doa
Teman
Buku
Virus Corona
Mawar
Pantai
Pasar
Bohong
Cinta
Lampu
Es Krim
Pelangi
Permen
Jakarta
Rumah
Sepedaku
Bintang
Guruku
Angsa

Doa
Tasya
Tuhan
Papaku Sayang
Mama
Cinta (1)
Cinta (2)
Arwana
Harapan Bangsa
Jamu Pahit
Rapid
Daring

Bunga
Indonesia
Dafrosa
Asa
Imaji
Ibu
Ayah
Laba
Lembayung
Pandemi
Home Learning
Cakrawala
Nata
Rindu
Cinta
Corona
Nerantala
Cita
Puisi
Emiliana

Hikmah
Cinta
Sabar
Kisah
Pelangi
Untukmu Wanita
Bunga
Angin

Kue Kering Mama
Senja di Ufuk Barat
Senyuman Bidadari
Pengikat Hati Ayah
Malam Syahdu Kelabu
Agus Pujiarto
Sepi Tak Sendiri
Lembaran Baru
Kacamata Guru
Bulan Pertama

Allah (1)
Allah (2)
Rasulullah
Islam (1)
Islam (2)
Iman (1)
Iman (2)
Alquran
Malaikat
Puasa (1)
Puasa (2)
Afriyanti
Zakat (1)
Zakat (1)

Menggapai Asa
Kerinduan
Keluarga
Abafita (1)
Abafita (2)
Hening
Buah Hati
Tahajud
Iklas
Matematika
Harapan
Fatamorgana (1)
Fatamorgana (2)

Guru Sejati
Pujarsono
Puisi Akrostik
Angin
Dingin
Sepi
Pagi
Hujan
Malam
Senja
Teratai
Ujian
Guru
Wanitaku
Senyum
Malioboro
Lebaran Haji
Mentari Pagi
Murid Hebat
Berkurbanlah
Perempuan
Idul Adha
Terdampar

Syukur (1)
Syukur (2)
Dear Untukmu
Kuntum Bunga
Berdandan
Lega Hati
Syair Cinta
Kisah Cinta
Wabah Covid
Renungan Kasih
Cemburu
Mawar Hati
Mandela
Febriane
Budayakan
Bahasa
Mekar
Cantik
Rembulan
Secangkir
Pandemi
Murung Muka
Mancing ikan
Tobias
Suami

 

Sabtu, 11 April 2020

Yang Tak Bisa Kau Lupa (Kepada Tuan Pendaki)

Puisi akrostik oleh Lusia Yuli Hastiti

Photo by Lusia


Yang tak bisa kaulupa
Adalah hutan-hutan rimba
Nan jauh di sana, di tingginya
Gunung-gunung yang pernah kaudaki

Tempat kautemukan kenikmatan tak bertara
Atau surga kedua di permukaan bumi
Ketika kaucucup air mancur buatan-Nya

Beratnya beban ransel di punggung
Iringi langkahmu menuju puncak
Sepanjang perjalanan
Adalah bentuk perjuangan panjang

Kerasnya dahan dan reranting pohon
Atau lembutnya lumut cendawan
Ukir jejak-jejakmu bersama
  peluh deras di keningmu

Lelahmu memang sebanding dengan
Usahamu untuk menaklukkan
Perjalanan unik tak tertandingi di
Antara bebatuan di lembah Mandalawangi
    dan hutan puisi.

Lampung Timur, 3 November 2018

#Kreasi Lusia


Jumat, 10 April 2020

Erma, Cinta, Hati yang galau

Puisi Akrostik Erma
Photo by Min An from Pexels




Erma
Entahlah jiwaku gundah
Rupanya aku lebai
Mengharap rida-Mu
Aku mohon ampunan-Mu



Cinta
Cerita indah namun tiada abadi
Indah sekali di saat-saat hati bersatu
Namun bubar kalau tidak sabar
Tidak bertahan di terpa badai
Abadi setelah bisa melintas badai



Hati yang galau
Melalang buana sesudah subuh
Melenturkan otot jogging olah raga
Supaya badan segar bugar sehat
Jangan olahraga setengah hati

Menjadikan kita manusia sejaty
Sehat lahir batin hidup bersahaja
Sifat dan sikap yang penyantun
Dan saling menumbuhkan sayang

Kamukah orang yang beruntung
Apakah kamu sudah puas saja
Berusaha mencari asal muasal
Sesuatu tentunya ada muaranyaa
Yang pasti kamu tidaklah silau



Erma lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 20 Maret 1959, ia adalah alumni dari SMAN1 Padang Panjang, Sumatera Barat dan lulusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial IKIPPadang, Sumatera Barat. Kini ia aktif mengajar di SMAN13 Padang dan membimbing siswa di berbagai lomba Seni Budaya.


Puisi ini diambil dari buku Puisi Akrostik #1: Kumpulan Puisi Akrostik Komunitas Guru Menulis halaman 29-30

Ini Rindu, Cinta, Kepasrahan

Puisi Akrostik Evy Christh
Photo by Jc Laurio from Pexels



Ini Rindu
Inikah rasa itu ...?
Nelangsa gelisah
Impikan seraut wajah

Rasa itu menggelayut manja
Ingin segera tersudahi
Nestapa tanpamu
Di ujung penantian
Ulurkan tanganmu



Cinta
Curahan hati terpendam
Ingin tautkan rasa
Namamu membias manis
Tebarkan keteduhan
Ada deru rindu di relung hati



Kepasrahan
Kala permenungan dimulai
Endapkan gejolak ego
Pada-Mu aku berserah
Akui keterbatasanku
Segenap jiwa lebur dalam balutan doa
Rasa tak berdaya, tak berpunya
Aku bersimpuh di hadapan-Mu
Hatiku terbuka menyambut uluran kasih-Mu
Aku yakin rencana-Mu
Nyanyi sendu kan beralih ungkapan syukur



Evy Christh, terlahir sebagai anak sulung dan ibu dari dua anak. Selama hampir dua puluh dua tahun, sampai dengan saat ini, mengabdikan dan mengembangkan diri di suatu SMA di Tangerang Selatan. Menjadi pendidik awalnya bukanlah pilihan hidupnya. Ia memaknai hidup dengan terus belajar mencintai dan menekuni profesi yang akhirnya menjadi pilihan hidupnya, pendidik. Sebagai pendidik, menulis soal dan materi pelajaran untuk anak didik adalah hal yang sangat biasa baginya. Namun, menulis berbagai produk menulis kreatif bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Ia merasa dalam proses belajar menuliskan ide-ide dalam bentuk puisi maupun cerita pendek sederhana, di luar ilmu yang biasa ia berikan kepada peserta didiknya (matematika). Dengan menulis, ia berharap dapat menjelaskan ide-ide yang kerap bermain di imajinasinya.”


Puisi ini diambil dari buku Puisi Akrostik #1: Kumpulan Puisi Akrostik Komunitas Guru Menulis halaman 37-38

Cinta, Awan Putih, Senja Merah

Puisi Akrostik Hidayati
Photo by Pixabay from Pexels



Cinta
Cinta itu anugerah
Indahnya tiada tara
Nan bersemayam di dalam jiwa
Terukir indah di setiap wajah
Alangkah bahagia rasanya



Awan Putih
Awan
Warna putihmu membius kalbu
Alangkah damai jiwa
Nun jauh di sana

Perasaan ini hangat menatapmu
Untaian putihmu lembut seperti kapas
Terbang segala rasa
Ingin jatuh di antara putihmu
Hanyut di alam mimpi



Senja Merah
Senja merah
Emosiku menyeruak di antara merahnya warna
Namun hanya beradu di dalam kalbu
Janji telah teringkari
Asa pun kini memudar

Mata itu penuh pilu
Erangan pedih menusuk sukma
Rajutan kasih kini tergores luka
Angan pun mulai menghilang
Hilang bersama semburat sinar merahmu




Hidayati, S.Pd. lahir di Nunukan, 09 April 1981. Selain mengajar matematika, juga punya hobi menulis. “Menulislah, maka kau akan dikenang sepanjang masa.”



Puisi ini diambil dari buku Puisi Akrostik #1: Kumpulan Puisi Akrostik Komunitas Guru Menulis halaman 41-42

Anakku, Pilu Hatiku, Tipu daya

Puisi Akrostik Lila Kodarriya
Photo by Steve Johnson from Pexels





Anakku
Anakku, betapa senang dan bangga hati kami atas hadirmu
Nak, kamu adalah penyemangat hidup kami, orang tuamu
Akan kami kenang selalu celoteh, tingkah polah dan kelucuanmu dulu
Kami akan selalu mendukung dan menyemangatimu
Kehadiranmu di dunia ini menyempurnakan hidup kami
Untaian doa tulus selalu kami panjatkan untukmu, anakku



Pilu Hatiku
Pilihan itu terasa memilukan
Ingin rasanya kutahan tanganmu yang dengan paksa kau lepaskan
Letih, begitu kata yang kau ucapkan
Uraian air mata mengiringi kepergianmu

Hati pilu dan peri tak terkira
Aku tak kuasa lagi menahan rasa yang menyeruak dari dalam dada
Tanpamu di sisiku lagi, tak kuasa aku membayangkannya
Indahnya hari yang kulalui bersamamu masih sangat terasa
Kebersamaan yang dulu pernah tercipta masih melekat di ingatan
Untaian janji untuk bersama yang sempat terukir tak bisa lagi dipenuhi



Tipu daya
Ternyata kau penuh pesona
Ingin kami selalu mendengarmu berbicara
Pintar dan lincah caramu berkelit dari masalah
Untung ternyata selalu jadi prioritasmu

Diriku dan juga yang lain terhipnotis oleh kecerdasanmu
Ah, bicaramu ternyata hanya semu, penuh fatamorgana
Yakinkan orang bak bermain sandiwara tak bercela
Aku terjerat tipu dayamu yang benar-benar sempurna




Lila Kodarriya adalah seorang guru bahasa Inggris di SMPN6 Salatiga yang memiliki hobi menulis meskipun baru dalam tahap belajar. Keinginannya untuk menularkan hobinya pada anak dan juga murid-muridnyalah yang membuatnya semangat untuk mencoba menulis dan terus menulis. Menuntaskan sekolah menengahnya di SMAN1 Salatiga dan mendapatkan gelar sarjananya dari UMS. Mempunyai satu pedoman bahwa semua berasal dari pikiran. Pikiranlah yang akan memengaruhi tindakan dan kepribadian seseorang, jadi selalu tanamkan pikiran positif dalam semua hal.


Puisi ini diambil dari buku Puisi Akrostik #1: Kumpulan Puisi Akrostik Komunitas Guru Menulis halaman 48-49


Gapai, Mimpi, Cinta, Suci

Puisi Akrostik Nining



Gapai
Seiring fajar menyingsing
melangkah pasti rajut asa
dalam tubuh tegap
bersama gelora membara
di bias cahaya pagi



Mimpi
Nyalakan semangat yang pernah padam
tak peduli hidup penuh duri
menapak hidup sambil tersenyum
mengibas mengepak sayap
iringi doa munajatilahi



Cinta
Caraku menyayangi dirimu
Ini berbeda dari yang kau kira
Niat suci yang tertanam dalam hatiku
Tulus hanya kupersembahkan untukmu
Aku hanya pecinta yang berkelana di belantara hatimu



Suci
Selalu setia hingga waktu berhenti
Untuk satu hati, satu wajah yang terukir indah
Cintaku takkan pudar oleh gilasan zaman
Ikat janji dalam mahligai biru



Nining. Lahir 27 April 1980 di Palu, Sulawesi Tengah. Pernah kuliah di Universitas Tadulako, Jurusan Bahasa dan Seni dan menamatkan S-1 pada tahun 2004. Pernah mengajar di SMPN3 Malangke Barat di Kecamatan Malangke Barat Kabupaten Luwu Utara selama 6 tahun. Sejak tahun 2013 hingga Sekarang mengajar di SMPN2 Sabbang, Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan


Puisi ini diambil dari buku Puisi Akrostik #1: Kumpulan Puisi Akrostik Komunitas Guru Menulis halaman 55-56

Maheswari. Nareswari, Cintaku Padamu Anakku

Puisi Akrostik Regina Seffina Ardhyaningrum
Photo by VisionPic .net from Pexels


Maheswari
Mendung menggelayut di kotaku
Aku terpaku menatap fotomu
Hai senja sampaikan salamku
Esok kunanti kabarmu
Sesak asaku penuhi memoriku
Warnai pelangi hiasi kalbu
Aleta … oh … Aletaku
Riuh tawamu ramaikan hariku
Ini aku, ibumu …



Nareswari
Nares kupanggil namamu
Agung karya Sang Penciptamu
Ramai canda tawamu
Elok perilakumu
Senyum manis iringi langkahmu
Wajah cantikmu
Adalah karunia kasih-Nya
Rencana-Nya indah dan nyata
Izinkan aku mendidiknya



Cintaku Padamu Anakku
Ceria hiasi wajah mungil
Ini yang selalu kurindu
Nantikan setiap detiknya
Tak kan pernah terhapus
Akan selalu mengisi relung-relung hati
Kan kugapai cita asa itu
Usai tutup usia

Pegang erat tanganku
Antarkanmu gapai mimpi indahmu
Dekapan eratku kan selalu ada
Awali pagi ini menjemput sang surya
Mega-mega raksasa kan siaga menjagamu
Untaian doa kulambungkan selalu

Aleta …, Gisela …, buah hatiku
Nak, kalianlah harta terindah di dunia
Akan tetap seperti itu selamanya
Kasih dan cinta kami
Kan selalu ada tak berujung
Untuk kalian selamanya



Regina Seffina Ardhyaningrum, S.Pd. Lahir di Magelang pada tanggal 07 September 1984. Biasa dipanggil Bu Pipin oleh murid-murid saya sekarang di SMP Katolik Santo Mikail Balikpapan. Di sekolah tersebut saya sudah kurang lebih 9 tahun berkarya setelah lulus S-1 dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2008. Ini adalah karya-karya tulisan saya pertama yang coba saya terbitkan bersama dengan teman-teman lainnya. Saya persembahkan karya-karya ini untuk keluarga kecil saya, Kakak Aleta, Adik Gisela, dan Papa Agus khususnya dan pembaca pada umumnya.

Puisi ini diambil dari buku Puisi Akrostik #1: Kumpulan Puisi Akrostik Komunitas Guru Menulis halaman 67-68