Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label Ria Santati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ria Santati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2020

Piala Pertama

Kisah Pengalaman Guru oleh Ria Santati
Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Matahari siang menyorot gagah memasuki celah-celah jendela. Usaha keras beberapa unit AC di ruang perpustakaan ini, tampaknya tak mampu mengalahkan kuasanya. Telah kuakrabi cuaca tropis kota lahirku, takdir yang tak kusesali. Kota yang kala kutulis catatan ini dinobatkan sebagai salah satu kota ternyaman ditinggali di seantero negeri. Bel panjang masuk kelas berbunyi. Bertemu dengan murid-murid adalah anugerah. Meski hanya seminggu sekali, dua kali empat puluh lima menit. Kuangkat pantatku bersegera memasuki kelas. Aku mohon padamu, bacalah pelan-pelan sepenggal kisahku ini. Kau akan tahu nanti mengapa bagiku menjadi guru, membuatku merasa sebagai manusia paling berbahagia.
Memasuki sekolah besar yang akan berusia 64 di awal tahun 2015 nanti, kamu akan disuguhi jajaran lemari penuh berisi piala yang dipersembahkan para siswa dari berbagai angkatan. Sesaat hatiku ngilu. Ini tahun ketiga aku mengajar di sini, tapi belum satu pun piala datang dari kelasku. Cepat aku berjalan meninggalkan ratusan piala dengan senyum mereka yang menantang. Hari ini aku punya berita yang semoga disambut hangat murid-muridku.
Jika sedikit membandingkan dengan angkatan-angkatan sebelumnya, kelas sebelas angkatan ini cenderung lebih diam, tak banyak tanya apalagi diskusi. Seakan menerima apa saja yang aku berikan. Kadang aku mendamba pemikiran-pemikiran kritis dari mereka. seperti sebuah rival tanding. Atau … jangan-jangan mereka takut padaku? Ah, bukankah setiap angkatan selalu mempunyai ciri khas sendiri?
Kelas selalu kumulai dengan permainan “berita baik”. Berita baik yang bisa datang dari mana saja. Misalnya, Nevada Maharani yang lewat film-film dokumenternya ingin kenalkan budaya suku Moi, suku asli di tempat tinggalnya Sorong Papua Barat hingga ke Kanada. Atau dari Felicia Dea, murid kelas Jepangku tahun lalu yang mampu meraih satu tiket beasiswa studi ke Jepang melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang. Harapanku kabar baik yang akan kubawa siang bisa menjadi inspirasi bagi mereka.
“Berita baik hari ini adalah UNS akan mengadakan lomba menulis karangan berbahasa Jepang,” ujarku dengan semangat 45. Sejurus kelas pun sunyi senyap. Kepala-kepala tertunduk takzim. Bahkan Michael yang kuduga akan antusias hanya menggaruk-garuk kepala seakan ada seratus kutu di sana.
“Ada yang berminat?” tanyaku sambil memandangi wajah mereka satu per satu. Pandanganku berhenti beberapa detik pada Adjeng, pada Richo. Tapi senyum tipis dengan gelengan kepala halus saja yang kudapat. Sesaat aku pun mafhum. Bahasa Jepang bukan pelajaran utama bagi mereka. Kendati sehari-hari nilai pelajaran mereka memuaskan tak berarti mereka punya waktu dan energi yang sama untuk mempersiapkan lomba.
Boleh sedikit kupamerkan padamu, aku termasuk orang yang rajin mengumpulkan alat peraga: kartu hiragana-katakana, film-film budaya Jepang yang situsnya rajin mengirimkan edisi terbaru lewat email-ku, atau kertas origami berbagai warna dan motif, yang semuanya untuk meramaikan kelasku. Namun untuk menarik mereka dari kelas ke panggung lomba, nampaknya aku harus lebih bersabar.
Tiba-tiba, “Saya mau coba, Sensei.” Kelas yang berisi 43 siswa dengan tinggi rata-rata melebihi gurunya memaksaku mencari arah suara itu. Vinsen. Dengan senyum kusorongkan surat undangan dari panitia padanya. Segera remaja bertubuh gempal itu membaca aturan main lomba.
“Saya boleh fotokopi surat ini, Sensei?” Usai berjanji akan menemuinya di akhir pelajaran, segera kumulai pelajaran hari itu. Sejujurnya jantungku berdegup dua kali lebih kencang. Bagiku mengajak muridku keluar sekolah untuk mengikuti lomba, itu seperti aku sendiri yang mengalaminya. Soal waktu persiapan aku akan berikan ekstra tetapi mentalku sendiri? Siapkah aku jika muridku tak mendapat piala? Tiba-tiba terasa keringatku menempel lembab di kemeja batik yang kukenakan. Padahal dari balik jendela kelas kulihat angin menjatuhkan daun-daun, membawa bau hujan jatuh di akhir sore itu.
Di hadapanku kini berdiri seorang Vinsen, remaja 17 tahun yang datang dengan binar mata gigihnya. Ia adalah salah satu siswa kelas unggulan, yakni kelas yang berisi anak-anak pandai (bila diukur dari Matematika dan bahasa Inggris). Anak-anak dari kelas ini umumnya berkaca mata, menatap fokus pada work sheet mereka. Tetapi sekaligus sebagai remaja e-era. Jaman di mana segala informasi tinggal klik dan Google pun menyediakan segala hal yang ingin diketahui.
Beberapa kali aku melihatnya dijemput supir. Belakangan aku baru tahu bahwa orang tuanya biasa mengajaknya berlibur ke beberapa negara lain, juga Jepang. Dalam memoriku, bersama Michael dan Toni, ia masuk dalam kategori pelanggar bank system. Mereka suka sekali bertanya. Ibarat anak tiga tahun yang tak pernah puas akan jawaban bundanya. Tak jarang kudapati wajah-wajah terganggu setiap kali Vinsen mengejar penjelasanku di kelas. Demi menghormati teman-teman lainnya, sering kali aku memotong pertanyaannya dengan jawaban, “Nanti ya di waktu istirahat, saya harus menjelaskan hal lain pada teman-temanmu.”
Sejak menyatakan ingin ikut lomba, Vinsen lebih rajin menghubungiku. Awalnya naskah dikirimkan lewat email. Bahasa Indonesia bercampur bahasa Jepang. Aku membaca dan memberikan beberapa catatan untuk kutanyakan saat kami bertemu. Dan hari-hari pun menjadi tambahan waktu bagi kami bergumul dengan ratusan kosakata di sore bahkan malam hari. Beberapa sore kami membahas bersama. Paragraf demi paragraf tersusun. Tak sedikit aku harus membuka kamus dan catatan tata bahasa masa kuliahku. Beberapa kali saat badan dan pikiran penat karena pekerjaan, ia berkirim SMS, “Sensei, sore ini saya ke rumah ya? Ada yang masih ingin saya tanyakan.” Di sudut hati aku ingin memanjakan tubuh dengan berbaring ditemani musik instrumental. Tetapi tekadnya seakan menggugat kemalasanku.
Hingga di detik terakhir aku tetap tak mengerti mengapa ia sungguh ngotot ikut lomba ini, bukan Kimia atau Fisika sesuai jurusannya, IPA. Saat kutanya alasannya, ia hanya menjawab, “Ingin coba saja.”
Ia juga keukeuh pada apa yang ingin ditulisnya. Tak mudah merayunya membuat sesuatu yang lebih sederhana sesuai tata bahasa yang dipelajari di kelas 11. Tetapi dengan santun ia berkata, “Saya ingin belajar lebih dari yang di kelas.” Kena batunya. Tuhan menjawab permintaanku sendiri: mendapat teman belajar yang sepadan, seorang anak muda yang gigih mempertahankan pemikirannya.
Tibalah hari lomba, di sebuah hotel di tengah kota. Kulihat peserta lomba lain tak kalah siap dengan muridku ini. Para remaja yang mengagumkan. Aku meninggalkannya di ruang lomba. Terasa benar darahku berdesir dan keringat dingin di sela-sela jemariku. Tak bisa kubohongi, aku sangat tegang. Waktu seperti merambat.
Empat puluh lima menit pun berlalu. Satu per satu peserta lomba keluar ruangan. Dengan senyum lebar Vinsen menemuiku. Ia bercerita di dalam sana tadi sebenarnya peserta boleh membuka kamus, tetapi ia tak melakukannya. Malahan dipinjamkannya kamus itu pada peserta lain. Ada nada bangga di suaranya. Semoga pilihanmu benar, Nak.
Tak diduga panitia mengumumkan, selain menulis, para peserta akan menghadapi tahap wawancara. Pertempuran ini kian berkualitas. Hanya persiapan yang matanglah yang akan menentukan hasil akhir.
Sore perlahan datang hingga akhirnya tiba ketiga juri mengumumkan hasil lomba hari itu. Mereka berasal dari perguruan tinggi bahkan salah satunya penutur asli, pemuda Jepang yang tengah studi bahasa Indonesia. Satu per satu diumumkannya, mulai dari lomba bahasa Inggris, Perancis, dan akhirnya Jepang.
Karangannya yang berjudul, わすれないにちようび, Hari Minggu yang Tak Terlupa, bercerita tentang apa yang biasanya ia lakukan di hari Minggu, lengkap dengan momen indah bersepeda dengan sang ayah dan mama yang tak pandai memasak, mendapat nomor 2 terbaik dari sembilan peserta.
Tawa lebar menghias wajahnya. Pipinya memerah. Tepuk tanganku keras melepas ketegangan. Usai naik panggung menerima hadiah, ia menemuiku, “Terima kasih, Sensei. Terima kasih.” Aku tak bisa menjawabnya, hanya sebuah tepukan di bahu gempalnya. Haru tak bisa kuhindari menyusup di hati terdalam.
Sebelum berpisah sore itu, Vinsen bilang, “Sensei, waktu itu ‘kan tanya kenapa saya ikut lomba ini. Saya ingin piala, Sensei. Dan ini adalah piala pertama setelah tujuh belas tahun.” Seorang Vinsen dari keluarga berada toh membutuhkan piala. Piala seharga beberapa puluh ribu saja. Tapi kutahu piala itu tak bisa digantikan bahkan dengan beberapa lembar uang berwarna merah. Bisa kurasakan kebahagiaannya saat ia mendekap erat piala pertamanya dan terus memandangnya tanpa malu-malu.
Hari ini aku belajar dari semangat yang gigih, dari mata yang teguh tak tengok kanan kiri, dari hati yang berani menghadapi sebuah laga. Laga yang diselesaikan hingga tuntas. Laga melawan ketakutan diri, kecemasan akan sebuah kegagalan. Bukankah bagi sang pemenang hidup adalah sebuah pertandingan? Pengalaman ini juga mengajariku arti menjadi teman anak-anak muda. Menemani dengan hati terbuka dan mempercayai hasrat mereka. Dari sana mereka menemukan kebanggaan dan kepercayaan diri. Bahwa setiap remaja membutuhkan “piala” bagi dirinya sendiri.
Mendung tebal menggantung di atas kepalaku. Tak menunggu lima menit, hujan pun jatuh. Deras mengguyur seperti berkat tercurah hebat dari surga. Setiap tetesnya memberi tanda segarnya perjalananku yang masih bertahun-tahun ke depan untuk menjadi seorang guru biasa bersama para muridku, piala sejatiku. Sejak hari ini, aku bukanlah aku yang kemarin, aku adalah seorang guru setelah belajar dari seorang remaja 17 tahun.
Bergegas kuhampiri bus di seberang jalan yang akan menghantarku pulang. Kubiarkan segarnya air hujan membasahi kepala. Tahukah kamu, ini adalah salah satu hari terbaikku.
Solo, 29 Agustus 2014
***


Ria Santati
Lahir Solo, 11 Desember 1975. Belajar mencintai dunia pendidikan dari Ibu yang secara natural menularkan dunianya padaku. Ia guru SMP yang ‘naik kelas’ menjadi dosen karena keuletannya. Ia pantang menyerah. Belajar darinya menghargai setiap PR murid, bagaimana mengoreksi dengan benar setiap pekerjaan siswa, menyiapkan materi ajar dengan detil. Ia pula yang mengajarkan prinsip: pantang masuk kelas tanpa persiapan. Karena bidang studi bahasa Jepang tak pernah mencapai 24jam/minggu, aku tak pernah bisa menjadi guru tetap. Saya mengajar di sekolah formal tingkat SMA pertama kali usai lulus kuliah justru di SMAN Tamiang Layang Kalimantan Tengah. Sebuah sekolah teramat sederhana. Ditugaskan mengajar Bahasa Inggris nyatanya para siswa nyaris tak berbahasa Indonesia. Lalu hasilnya adalah saya mengajar bahasa Indonesia padahal saya berijazah sastra Jepang. Tapi pedalaman Kalteng itulah yang secara riil membongkar isi kepala dan hatiku akan mulianya dunia pendidikan. Saya kini mengajar di SMA Regina Pacis dan SMA PL St. Yosef Solo sesuai ijazah, tetapi tetap honorer. Selebihnya saya menghabiskan waktu dengan merajut, mengembangkan keterampilan yang lagi-lagi adalah warisan Ibu, yang kini menjadi usaha rumahan.



Tulisan ini diambil dari buku KAPUR & PAPAN Kisah Guru-Guru Pembelajar 1 halaman 112-117, Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014

Kamis, 12 Maret 2020

Ria Santati



Cinta adalah sebuah energi. Energi yang membuat hari-hariku terasa indah, hangat terbakar gairah, bersemangat hingga matahari tak lagi merah. Namun cinta juga yang mampu menyedot seluruh akal sehatku, meluluhlantakkan egoku, membuatku bisa mendefinisikan apa rasa kehilangan, miris, labil, masgul, terombang-ambing tak menentu.
22 puisi ini terlahir saat cinta membuatku terasa tak ada, nihil, kosong, dan hampa sekaligus berani lagi menggantungkan harapan lebih kecil dari butir pasir yang ada. Tak berlebihan bila kukatakan ini adalah satu episode perjalanan spiritualku. Kalau dapat kugambarkan, aku serupa dermaga kayu kecil yang disinggahi perahu-perahu yang bertambat. Mereka mengajakku berbincang, bersenda gurau, dan bercerita tentang pulau-pulau yang mereka singgahi lalu ditinggalkannya aku saat pagi datang.
Dermagaku tak pernah cukup sempurna bagi mereka. Namun lautan raya masih membuatku pantas tetap ada.
Maka, aku akan tetap teguh berdiri menyambut setiap perahu yang akan singgah dengan seribu satu kisah hidup mereka. Mencintai cinta. Itulah oborku.

Karya Bersama Komunitas Guru Menulis

Mendamba Cinta: Kumpulan Puisi #29
  • mencari tuhan
  • hening
  • mencinta
  • pulang
  • menanti
  • jatuh cinta
  • namamu
  • harapan
  • u s a i 
  • kalah perang
  • cinta dewa
  • i k h l a s
  • kepada pengelana
  • sebelum berakhir
  • tanpa tepi
  • simpang jalan
  • doa (1)
  • di musim hujan
  • aku mencintai hari minggu
  • doa (2)
  • Bodoh
  • somewhere out there 



Kapur Papan Kisah Guru-Guru Pembelajar 1
Piala Pertama




Kapur & Papan Kisah Menjadi Guru 1
Impian Stella



Kapur Papan Kisah Inspiratif Guru 2
Dalam Sebuah Gerbong




8 Piring Menari di Mata Sari
Pulang



Ketika Pohon Pinus Menggugurkan Daunnya
Seribu Bangau




Batu Cinta, Kumpulan Cerpen Anak Komunitas Guru Menulis #2
Kado Ulang Tahun untuk Tia

Mendamba Cinta: Kumpulan Puisi #29


Kode: 0120028
Judul: Mendamba Cinta: Kumpulan Puisi #29
Penulis: Dinar Puspita Ayu [et al.]
ISBN: 978-623-7421-07-8
Terbit: 05-Jan-20
Tebal: 82 (viii+74) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000

Buku ini dicetak sesuai pesanan. Pesan 1 eksemplar pun akan kami layani. Untuk memesan buku ini, silakan hubungi yedijanusantara@gmail.com atau melalui pesan WhatsApp dan sampaikan Nama Pemesan serta alamat lengkap (dengan menyebut nama kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, serta kode pos)

Spesifikasi:
Kode: 0120028
Judul: Mendamba Cinta: Kumpulan Puisi #29
Penulis: Dinar Puspita Ayu, Muji Rahayu, Mustawa SamhaNur Emika, Ria Santati, Tri Purwanto
ISBN: 978-623-7421-07-8
Terbit: 05-Jan-20
Tebal: 82 (viii+74) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000
Kata kunci: puisi, kumpulan puisi, tulisan guru, karya guru, Dinar Puspita Ayu, Muji Rahayu, Mustawa Samha. Nur Emika, Ria Santati, Tri Purwanto

Deskripsi:
Ini adalah buku kumpulan puisi keempat belas di tahun 2019 dan sekaligus buku kedua puluh sembilan yang lahir dari rahim daya kreasi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis. Buku ini menampilkan 62 puisi karya 6 penulis.

Daftar Penulis dan Karyanya:
Kau Tak Jua Muncul
Tegak
Rapuh
Bisu
Fikar W Eda
Dia masih belia
Cinta
Rindu
Tidak ada yang abadi 
Engkau tiada 

Kidung Cinta
Cinta Itu Jingga
Cinta Oh Cinta
Pelajaran Cinta
Tentang Cinta

Mengenalmu
Kasihmu kepadaku
Kelegaan
Maukah?
Bertemu Dirimu
Kasih Kita
Untukmu
Mari Warnai
Bersediakah Dirimu?
Marahlah

Lejar Hati 
Mendamba 
Goresan Kata 
Terista Aliya 
Inspirasi 

Menunggu
Kasturi
Kerinduan
Sepi
Pasangan Jiwa
Neraca
Sang Inspirator
Bulan Merah di Langit Kelabu
Rasa
Paradigma

mencari tuhan
hening
mencinta
pulang
menanti
jatuh cinta
namamu
harapan
u s a i 
kalah perang
cinta dewa
i k h l a s
kepada pengelana
sebelum berakhir
tanpa tepi
simpang jalan
doa (1)
di musim hujan
aku mencintai hari minggu
doa (2)
Bodoh
somewhere out there 

Selasa, 06 Februari 2018

Batu Cinta Kumpulan Cerpen Anak Komunitas Guru Menulis #2

Batu Cinta Kumpulan Cerpen Anak Komunitas Guru Menulis #2

Batu Cinta Kumpulan Cerpen Anak Komunitas Guru Menulis #2






Detil Produk
Kode: 0137
Judul: Batu Cinta Kumpulan Cerpen Anak Komunitas Guru Menulis #2
Penulis: Abdul Hakim [et al.]
Terbit: Feb-18
Tebal: 126 halaman
Ukuran: 145x210 mm
ISBN: 978-602-6688-37-8
Harga: Rp40,000

"Buku kumpulan cerpen untuk anak karya guru anggota Komunitas Guru Menulis: Abdul Hakim, Agita Yuri Wida Kiatanti, Desrianti, Dian Nofitasari, Sitti Syathariah, Istikomah, Melyani Dwi Astuti, Ria Santati, Tutwuri Yuliarti, Yanti Nofita, Yulis DP, dan Zelny Indrayani. Berisi 14 cerpen tentang penerimaan diri, persahabatan, perjuangan anak di dalam menghadapi kerasnya kehidupan, tentang kejujuran, kesombongan, ketamakan, dan prasangka buruk."


Daftar kontributor dan tulisan:
Abdul Hakim ~ Si Kaya yang Miskin
Anastasia Agita Yuri Wida Kiatanti ~ Layatan Pertamaku
Desrianti SPd, S.Pd. ~ Akibat Sebuah Kesombongan
Dian Nofitasari ~ Batu Cinta
Dra. Sitti Syathariah ~ Ketika Arini Ingin Handphone
Isti Komah Istikomah, S.Pd. ~ Ke Mana Uang di Atas TV Itu?
Melyanidwi Astuti ~ Maafkan Aku, Nek
Melyanidwi Astuti ~ Sahabat Baru
Ria Santati ~ Kado Ulang Tahun untuk Tia
Tutwuri Yuliarti ~ Amplang Buatan Mamak
Tutwuri Yuliarti ~ Jangan Bersedih Akbar
Yanti Novita ~ Kue Singkong Istimewa
Yulis DP ~ Pesta Sambut Baru
Zelny Indrayani ~ Handphone Baru


Jika ingin terlibat dalam proyek ini, silakan baca keterangan selengkapnya di: Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Untuk pemesanan hubungi:
WA 08882882749
Facebook: https://www.facebook.com/GuruMenulis2016

Sabtu, 31 Oktober 2015

Ketika Pohon Pinus Menggugurkan Daunnya 15 Cerpen Guru Bertema Cinta


Judul: Ketika Pohon Pinus Menggugurkan Daunnya 15 Cerpen Guru Bertema Cinta
Penulis: Bakti Sukmoko Aji, dkk.
Penerbit: Penerbit Lingkarantarnusa
Tebal: 154 halaman
ISBN: 978-602-1630-37-2
Harga: Rp45.000

Pemesanan, silakan menghubungi:

08882882749

0274-8006655 


Buku Ketika Pohon Pinus Menggugurkan Daunnya 15 Cerpen Guru Bertema Cinta memuat lima belas (15) cerita pendek karya guru-guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis.

Ini adalah buku kedua yang memuat cerpen-cerpen pilihan hasil dari Kontes Nulis Cerpen untuk Guru yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis bekerja sama dengan Penerbit Lingkarantarnusa. Kontes ini berlangsung mulai 12 September 2014 hingga 28 Februari 2015. Lomba ini menghasilkan 3 pemenang sebagai berikut: cerpen berjudul “Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” karya Dwitya Sobat Ady Dharma sebagai pemenang pertama, cerpen “Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” karya Rai Sujaya sebagai pemenang kedua, dan cerpen “Mak Sadem dan Tikus Wirok” karya L. Bening Parwita Sukci sebagai pemenang ketiga.

Dari 103 naskah cerpen yang masuk ke panitia, dipilih cerpen-cerpen yang dianggap layak terbit oleh panitia. Bersamaan dengan buku ini, terbit empat buku kumpulan cerpen lainnya sebagai berikut: (1) Ibu, Aku Pulang dan 14 Cerpen Guru Lainnya, (2) Ransel Berwarna Hitam 21 Cerpen Anak Karya Guru, (3) 8 Piring Menari di Mata Sari dan 17 Cerpen Guru Lainnya, (4) Ilalang di Pekarangan Rumah Ibu dan 14 Cerpen Guru Lainnya.

Selain dari naskah hasil lomba, kelima buku kumpulan cerpen ini juga memuat naskah-naskah dari kegiatan Lokakarya Sehari untuk Guru: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN yang juga diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis bekerja sama dengan Penerbit Lingkarantarnusa pada tanggal 28 Maret 2015. Ternyata sebagian guru juga mengirimkan naskah cerita pendek dan bukan karya nonfiksi.

Selain itu sebagian naskah yang diterima oleh panitia berupa naskah cerpen untuk anak yang cukup bagus. Karena jumlahnya masih terlalu sedikit untuk menjadi sebuah buku kumpulan cerpen tersendiri, Komunitas Guru Menulis berupaya melengkapinya dengan menyelenggarakan proyek penulisan cerpen anak. Maka jadilah buku kumpulan cerpen Ransel Berwarna Hitam 21 Cerpen Anak Karya Guru.

Kelima buku kumpulan cerpen ini dipersembahkan oleh Komunitas Guru Menulis kepada pecinta bacaan fiksi pada umumnya namun khususnya untuk semua guru di Indonesia sebagai pemacu bagi munculnya karya-karya selanjutnya.

Komunitas Guru Menulis adalah sebuah wadah bagi para guru dan dosen di seluruh Indonesia untuk membagikan pengalaman dan kreativitasnya dalam bentuk tulisan-tulisan kreatif dan inspiratif yang akan semakin mendukung karya guru dan pemajuan dunia pendidikan. Komunitas Guru Menulis berharap bisa menjadi virus yang menjangkiti semakin banyak guru untuk mulai dan terus menghasilkan tulisan-tulisan yang terpublikasikan.

Daftar cerpen:
1. Bakti Sukmoko Aji ~ Embun di Atas Daun yang Tersobek
2. Kirjo Karsinadi ~ Kesetiaan Sampai Garis Akhir
3. Lidwina Nares ~ Ketika Pohon Pinus Menggugurkan Daunnya
4. Maria Estri Wahyuningsih ~ Tiga Tangkai Mawar Putih
5. N. Widi Wahyono ~ Merbabu-Andong-Telomoyo
7. Ria Santati ~ Seribu Bangau
8. Siti Ikhsanah ~ Aku Tidak Selingkuh
9. Suhardin, S.Pd. ~ Cinta Kecambah Biru
10. Veronika Swanti ~ The School Drama
11. Y. Jaka Prastana ~ Ketika Dia Kembali
12. Y. Wahyu B. ~ Rencana Mbah Putri
13. Y. Wahyu B. ~ Surat Untuk Ning
14. Yeti Islamawati ~ Sonata Hujan

15. Yulis DP ~ Sketsa Senja Merah

8 Piring Menari di Mata Sari dan 17 Cerpen Guru Lainnya


Judul: 8 Piring Menari di Mata Sari dan 17 Cerpen Guru Lainnya
Penulis: Alpha Mariani, dkk.
Penerbit: Penerbit Lingkarantarnusa
Tebal: 158 halaman
ISBN: 978-602-1630-36-5
Harga: Rp45.000

Pemesanan, silakan menghubungi:

08882882749

0274-8006655 


Buku 8 Piring Menari di Mata Sari dan 17 Cerpen Guru Lainnya memuat delapan belas (18) cerita pendek karya guru-guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis.

Ini adalah buku kedua yang memuat cerpen-cerpen pilihan hasil dari Kontes Nulis Cerpen untuk Guru yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis bekerja sama dengan Penerbit Lingkarantarnusa. Kontes ini berlangsung mulai 12 September 2014 hingga 28 Februari 2015. Lomba ini menghasilkan 3 pemenang sebagai berikut: cerpen berjudul “Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” karya Dwitya Sobat Ady Dharma sebagai pemenang pertama, cerpen “Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” karya Rai Sujaya sebagai pemenang kedua, dan cerpen “Mak Sadem dan Tikus Wirok” karya L. Bening Parwita Sukci sebagai pemenang ketiga.

Dari 103 naskah cerpen yang masuk ke panitia, dipilih cerpen-cerpen yang dianggap layak terbit oleh panitia. Bersamaan dengan buku ini, terbit empat buku kumpulan cerpen lainnya sebagai berikut: (1) Ibu, Aku Pulang dan 14 Cerpen Guru Lainnya, (2) Ransel Berwarna Hitam 21 Cerpen Anak Karya Guru, (3) Ketika Pohon Pinus Menggugurkan Daunnya 15 Cerpen Guru Bertema Cinta, (4) Ilalang di Pekarangan Rumah Ibu dan 14 Cerpen Guru Lainnya.

Selain dari naskah hasil lomba, kelima buku kumpulan cerpen ini juga memuat naskah-naskah dari kegiatan Lokakarya Sehari untuk Guru: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN yang juga diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis bekerja sama dengan Penerbit Lingkarantarnusa pada tanggal 28 Maret 2015. Ternyata sebagian guru juga mengirimkan naskah cerita pendek dan bukan karya nonfiksi.

Selain itu sebagian naskah yang diterima oleh panitia berupa naskah cerpen untuk anak yang cukup bagus. Karena jumlahnya masih terlalu sedikit untuk menjadi sebuah buku kumpulan cerpen tersendiri, Komunitas Guru Menulis berupaya melengkapinya dengan menyelenggarakan proyek penulisan cerpen anak. Maka jadilah buku kumpulan cerpen Ransel Berwarna Hitam 21 Cerpen Anak Karya Guru.

Kelima buku kumpulan cerpen ini dipersembahkan oleh Komunitas Guru Menulis kepada pecinta bacaan fiksi pada umumnya namun khususnya untuk semua guru di Indonesia sebagai pemacu bagi munculnya karya-karya selanjutnya.

Komunitas Guru Menulis adalah sebuah wadah bagi para guru dan dosen di seluruh Indonesia untuk membagikan pengalaman dan kreativitasnya dalam bentuk tulisan-tulisan kreatif dan inspiratif yang akan semakin mendukung karya guru dan pemajuan dunia pendidikan. Komunitas Guru Menulis berharap bisa menjadi virus yang menjangkiti semakin banyak guru untuk mulai dan terus menghasilkan tulisan-tulisan yang terpublikasikan.

Daftar cerpen:
1. Alpha Mariani ~ Maafkan…
2. Andreas Aris Eko Mulyono ~ Kentucky Masih di Amerika
3. Bakti Sukmoko Aji ~ 10:10
4. Danil Gusrianto Kampai ~ Peristiwa di Bukit Punggur
5. Doni Setiawan ~ Bisikan Malaikat
6. Fanny Florenz ~ Kadang Senang, Kadang Sedih
7. L. Bening Parwita Sukci ~ Mak Sadem dan Tikus Wirok
8. Lia Loeferns ~ Sidang
9. Lilis Ummi Faiezah ~ Bali
10. Mbah Mo ~ Eyang Uti
11. Melyani Dwi Astuti ~ Ijazah Tanpa Tanda Tangan
12. Nanik Dwi Rahayu ~ Bunga-Bunga di Taman Victoria
13. Ratih Mayasari ~ Gadis 107
14. Ria Santati ~ Pulang
15. Rusli Kasriana ~ Sepotong Hamburger
16. Y. Wahyu B. ~ Pilihan
17. Y. Wahyu B. ~ Titipan dari Kapti
18. Yulfitri Retno Ambarsari ~ 8 Piring Menari di Mata Sari

Jumat, 20 Maret 2015

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN

Baca laporan lokakarya di sini!

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini

Sabtu, 28 Maret 2015, pukul 10.00 - 16.00
Socius Resto & Cafe
Ruko Rafflesia II Blok O Babarsari Depok
Sleman Yogyakarta

Acara:
1. “Proses Kreatif Menuliskan Pengalaman Menjadi Guru Pembelajar” oleh 10 guru penulis buku Kapur & Papan Kisah Guru-Guru Pembelajar:
(1) Ria Santati
(2) Ibu Udayati
(3) Eka Nur Apiyah
(4) Yeti Islamawati
(5) Fiqih Nindya Palupi
(6) Noorvyta Wati
(7) Fxsuparta
(8) Sanie Ramadhan
(9) Chairil Anwar Zm
(10) Dwitya Sobat Ady Dharma

2. “Tips Menuliskan Pengalaman Menjadi Bacaan Ringan yang Mengena” oleh St Kartono

3. Praktik Menulis Investasi MINIMAL: Rp 85.000

Fasilitas: tea/coffee, makan siang, seminar kit, sertifikat (dengan tanda tangan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta), pendampingan online proses penulisan naskah menjadi layak terbit.

Tempat terbatas Segera daftarkan diri Anda dengan menghubungi
1. Vita 0878 3892 7046
2. Wakidi (08882882749 - WA)
3. email: komunitas.guru.m enulis@gmail.com

Pendaftaran dan pembayaran paling lambat 20 Maret 2015 ke:
Bank Mandiri
900-00-0701047-4
a.n: STEPANUS WAKIDI S.PD.

Ketentuan peserta:
- guru atau dosen aktif
- menyiapkan minimal 1 naskah 3-5 halaman A4 diketik normal dengan tema: mendidik dengan hati, mengajar dengan kreatif, mengasihi siswa sulit, atau mengambil tema bebas
- naskah harus dibawa saat lokakarya
- membayar biaya investasi paling lambat seminggu sebelum lokakarya

LOKAKARYA INI DISELENGGARAKAN OLEH: Komunitas Guru Menulis
didukung oleh:Penerbit LingkarAntarnusa




Baca laporan lokakarya di sini!

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini