Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label pengalaman guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman guru. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2026

Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi




Spesifikasi

Kode : 210006
Judul : Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi
Penulis : Zakaria Tulung
Tahun Terbit : 2026
ISBN : 978-623-7421-87-0
eISBN : 978-623-7421-88-7
ISBN PDF : -
Tebal : 376 (xviii+358) halaman
Harga : Rp170.000



Deskripsi


Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi
Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi

Buku "Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi" adalah sebuah autobiografi yang luar biasa kuat, merangkum perjalanan hidup Dr. Zakaria Tulung, M.AP., seorang anak pelosok Tana Toraja yang bertransformasi menjadi sosok inspiratif di garis depan pendidikan Indonesia. Dengan ketebalan 376 halaman, buku ini bukan sekadar catatan riwayat hidup, melainkan sebuah dokumen perjuangan yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan akses bukanlah penghalang untuk meraih mimpi setinggi langit.

Kisah ini bermula dari kepahitan masa kecil di Toraja, di mana kesulitan ekonomi memaksa Zakaria untuk menghentikan kuliahnya di STKIP Makale. Namun, "kegagalan" tersebut justru menjadi pintu gerbang menuju pengabdian yang lebih besar. Ia memutuskan merantau ke Kalimantan, sebuah langkah nekat yang akhirnya membawanya menjadi guru di wilayah perbatasan Nunukan, Kalimantan Utara. Di tanah rantau inilah, Zakaria menemukan panggilan jiwanya yang sesungguhnya.

Eksplorasi Perjalanan dan Inovasi:
Bertahan di Tengah Keterbatasan:
Bagian awal pengabdiannya di SDN 004 Libang (yang kemudian menjadi SDN 002 Lumbis) digambarkan dengan sangat menyentuh. Penulis menceritakan realitas pahit tinggal di bangunan bekas WC dan pondok sederhana karena ketiadaan rumah dinas. Di desa tanpa listrik dan akses yang terisolasi, ia tidak menyerah. Sebaliknya, ia membaur dengan masyarakat, mengajak mereka bahu-membahu membangun sekolah yang layak bagi anak-anak pedalaman.

Transformasi Menjadi Kepala Sekolah:
Setelah 23 tahun mengabdi sebagai guru, Zakaria diangkat menjadi Kepala Sekolah di SDN 005 Lumbis (Kalampising). Bab-bab dalam buku ini membedah secara detail langkah-langkah manajerial dan inovatifnya, mulai dari renovasi fisik gedung sekolah melalui berbagai tahap pembangunan, hingga menjadikan sekolah tersebut sebagai Sekolah Penggerak. Ia juga mempelopori 10 strategi pengembangan literasi, mulai dari pojok baca, diskusi buku, hingga debat literasi.

Haus Akan Ilmu dan Prestasi:
Salah satu aspek paling mengagumkan adalah keteguhan penulis dalam menempuh pendidikan. Meski mengajar di pedalaman, ia berhasil menyelesaikan S-1, S-2, hingga meraih gelar Doktor (S-3)—sebuah pencapaian yang sangat langka bagi seorang guru SD di wilayah perbatasan. Gelar ini ia gunakan bukan untuk meninggalkan pedalaman, melainkan untuk memperkuat kualitas pengabdiannya.

Peran Multidimensi:
Buku ini juga mencatat peran tambahan penulis di luar sekolah, seperti menjadi Ketua PGRI Cabang Lumbis, Tutor Universitas Terbuka, hingga dosen pascasarjana. Ia membuktikan bahwa kehadiran seorang guru di pedalaman adalah bentuk nyata pemerataan pendidikan dan kedaulatan bangsa.

Makna Pengabdian: Pertemuan Profesionalitas dan Spiritualitas
Pada akhirnya, buku ini bermuara pada sebuah pemaknaan yang melampaui sekadar karier seorang pegawai negeri. Bagi Dr. Zakaria Tulung, mengabdi di garis depan perbatasan bukan lagi tentang menjalankan tugas administratif, melainkan sebuah misi hidup yang dipeluk dengan kesadaran spiritual penuh. Ia menemukan bahwa pendidikan di wilayah terpencil adalah bentuk nyata dari "ibadah yang bergerak"—sebuah perjalanan spiritual yang melatih keikhlasan di tengah keterbatasan dan kesabaran di tengah isolasi.

Zakaria menghayati bahwa kehadiran seorang guru di pedalaman adalah wujud kehadiran negara sekaligus bukti bahwa pendidikan adalah hak asasi yang sakral bagi setiap anak bangsa. Keberhasilannya meraih gelar Doktor di tengah keterbatasan akses listrik dan infrastruktur bukanlah bentuk arogansi intelektual, melainkan sebuah pernyataan spiritual: bahwa kemuliaan ilmu harus digunakan untuk mengangkat harkat mereka yang terlupakan.

Ia memandang pengabdian di Kalampising dan Libang sebagai sebuah laboratorium jiwa. Secara profesional, ia tertempa menjadi pemimpin yang kompeten dan tangguh; namun secara spiritual, ia menemukan kepuasan batin saat melihat anak-anak perbatasan mampu bermimpi setinggi dirinya. Inilah kekayaan terbesar yang ia peroleh—sebuah kesadaran bahwa mengabdi kepada bangsa melalui pendidikan adalah cara terbaik untuk mencintai Tuhan. Buku ini menjadi saksi bahwa ketika seseorang berhenti mengejar kenyamanan pribadi dan mulai memeluk misi kemanusiaan, di situlah ia menemukan makna hidup yang utuh dan sejati.

Daftar Isi

  • Pengantar Penerbit .... v
  • Pengantar Penulis .... viii
  • Daftar Isi .... xv
  • Masa Kecil sampai Remaja .... 1
  • Tapak Awal .... 2
  • Masa Kecil di Tana Toraja .... 7
  • Mimpi yang Mulai Bertumbuh .... 13
  • Merantau ke Kalimantan .... 18
  • Keputusan untuk Merantau .... 19
  • Awal Mula di Tanah Rantau .... 21
  • Mendaftar sebagai Guru Daerah Terpencil .... 29
  • Langkah Pertama Menuju Tanjung Selor .... 30
  • Tapak Awal di Tanjung Selor .... 33
  • Perjalanan Menuju Samarinda .... 41
  • Kegiatan di Samarinda .... 44
  • Perjalanan Pulang ke Tanjung Selor .... 51
  • Pengabdian di SDN 004 Libang .... 55
  • Perjalanan Menuju Tempat Tugas Awal .... 56
  • Awal Pengabdian di Libang .... 59
  • Latar Belakang Penempatan .... 59
  • Langkah Awal di Libang .... 60
  • Pertemuan dengan Murid-Murid .... 64
  • Pertemuan dengan Guru Senior .... 65
  • Pertemuan dengan Masyarakat .... 67
  • Kondisi Sekolah SD Negeri 004 Libang .... 69
  • Keterbatasan Fasilitas dan Sarana .... 69
  • Rumah Dinas .... 72
  • Latar Belakang Siswa yang Beragam .... 72
  • Dinamika Kehidupan Sekolah yang Unik .... 73
  • Kehidupan Sehari-hari dan Tempat Tinggal .... 75
  • Rumah Kepala Desa .... 75
  • Masyarakat Bahu-Membahu Untuk Memenuhi Kebutuhan .... 77
  • Rumah di Pinggir Sungai .... 78
  • Bangunan Bekas WC .... 79
  • Pondok Kecil Sederhana .... 80
  • Tinggal di Rumah Dinas .... 82
  • Dari SDN 004 Libang Menjadi SDN 002 Lumbis .... 84
  • Pergantian Kepemimpinan Sekolah .... 87
  • Kepemimpinan Bapak Benyamin F. Tui .... 89
  • Kepemimpinan Bapak Marthen Ringgit .... 90
  • Kepemipinan Ibu Agustina Murang .... 95
  • Kepemimpinan Bapak Darwin .... 97
  • Pelajaran dari Pergantian Kepemimpinan .... 101
  • Mempertahankan Semangat di Tengah Himpitan Kesulitan .... 105
  • Semua Serbaterbatas .... 105
  • Mencari Solusi Kreatif .... 107
  • Memaknai Panggilan Guru di Tengah Masyarakat .... 109
  • Menghidupi Keluarga Ketika Kondisi Semakin Berat .... 110
  • Dukungan Masyarakat .... 115
  • Perkembangan SD Negeri 004 Libang .... 119
  • Penambahan Personel Guru .... 123
  • Perkembangan dan Kemajuan Lainnya .... 127
  • Perkembangan dan Prestasi Siswa .... 127
  • Alumni SD 004 Libang yang Membanggakan .... 128
  • Kisah Marno .... 129
  • Kisah Ati? dan Dorti .... 130
  • Menyelesaikan Pendidikan S-1 .... 132
  • Menempuh Pendidikan S-2 .... 136
  • Perpisahan dengan SD Negeri 002 Lumbis .... 142
  • 23 Tahun Mengajar .... 142
  • Ditugaskan sebagai Kepala Sekolah SD Negeri 005 Lumbis .... 143
  • Acara Perpisahan .... 146
  • Mengabdi di SD Negeri 005 Lumbis (Kalampising) .... 153
  • Dasar Penempatan .... 154
  • Perasaan dan Harapan Awal .... 158
  • Kondisi Awal Sekolah .... 162
  • Kegiatan Pertama sebagai Kepala Sekolah .... 168
  • Musyawarah Bersama .... 168
  • Pembersihan Lingkungan Sekolah .... 170
  • Pembenahan Administrasi .... 171
  • Proposal Perbaikan Gedung Sekolah .... 172
  • Tantangan sebagai Kepala Sekolah .... 173
  • Tantangan yang Disadari .... 173
  • Langkah-Langkah ke Depan .... 176
  • Perbaikan Gedung dan Fisik Sekolah .... 179
  • Pembangunan Tahap I: 3 RKB .... 179
  • Kerja Bakti Penyiapan Lahan .... 183
  • Pembangunan Tahap II: Kantor SD Negeri 005 Lumbis dan WC .... 190
  • Perbaikan Tahap III: DAK untuk 3 RKB .... 193
  • Perbaikan Tahap IV: 6 RKB dan 4 Bilik WC dari Kementerian PUPR .... 202
  • Penataan Halaman Sekolah .... 211
  • Kerja Sama dengan Masyarakat .... 221
  • Membangun Budaya Sekolah .... 225
  • Salam dan Sapa .... 225
  • Upacara Bendera .... 225
  • Kegiatan Ektrakurikuler .... 226
  • Program Adiwiyata .... 227
  • Gotong Royong .... 228
  • Pendampingan dan Peningkatan Kualitas Guru .... 230
  • Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa .... 236
  • Pengembangan Literasi Siswa .... 240
  • Pojok Baca .... 241
  • Membaca Berkelompok .... 241
  • Diskusi Buku .... 241
  • Menulis Cerpen .... 242
  • Membuat Resensi Buku .... 242
  • Membaca Puisi .... 243
  • Membaca Bersama antara Guru dan Siswa .... 243
  • Membuat Buku Cerita Sederhana .... 244
  • Program Mendongeng .... 244
  • Debat Literasi .... 245
  • Pentingnya Budaya Literasi .... 246
  • Upaya Pengembangan Siswa .... 247
  • Upaya Meraih Akreditasi A .... 252
  • Mengembangkan Kerja Sama dengan Pihak Luar .... 257
  • Kerja Sama dengan Masyarakat Sekitar .... 257
  • Kerja Sama Antarsekolah .... 259
  • Kerja Sama dengan Puskesmas .... 261
  • Kerja Sama dengan Babinsa .... 262
  • Kerja Sama dengan Kepolisian .... 263
  • Menjadikan SD 005 Lumbis sebagai Sekolah Penggerak .... 265
  • Personel Guru dan Tenaga Kependidikan .... 270
  • Perkembangan Statistik Sekolah .... 276
  • Kisah-Kisah Unik Siswa .... 282
  • Pengembangan Diri sebagai Kepala Sekolah .... 291
  • Menempuh Pendidikan Doktoral .... 301
  • Prestasi Sekolah .... 307
  • Pencapaian sebagai Kepala Sekolah .... 311
  • Yang Layak Disyukuri .... 311
  • Yang Masih Harus Diperjuangkan .... 313
  • Menjalankan Peran Tambahan .... 315
  • Peran-Peran Tambahan .... 316
  • Badan Perwakilan Desa (BPD) Pa?lemumut .... 316
  • Tutor Universitas Terbuka (UT) Program Studi PGSD .... 317
  • Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) .... 320
  • Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah .... 321
  • Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPM) .... 322
  • Dosen Pascasarjana di BILD IKN .... 325
  • Ketua PGRI Cabang Lumbis .... 327
  • Keluarga di Rantau .... 330
  • Menikah dan Membangun Keluarga .... 331
  • Pulang Kampung .... 337
  • Mereka yang Kukasihi .... 345
  • Mereka Berangkat Duluan .... 345
  • Kami yang Masih Berjuang .... 348
  • Penutup .... 353
  • Makna Pengabdian .... 354
  • Daftar Pustaka .... 362
  • Profil Penulis .... 364


Rabu, 08 April 2020

Face to Face

Kisah Pengalaman Guru oleh Desi Arianto
Photo by Ricardo Garcia from Pexels


Bukan musuhmu
Yang harus dibenci
Setengah hati, atau mungkin sepenuh hati.
Diri ini seorang guru
Sahabat, kawan sepermainanmu
Tempat berbagi cerita, menitipkan percaya.
Mendekatlah,
Duduk di sampingku,
Lihatlah,
Tatap kedua mataku.
Maka,
Aku akan tahu semua duniamu.
Hanya semudah itu.
Seandainya hidup boleh kita atur sendiri, maka barang tentu kita menjatuhkan pilihan pada substansi yang menyenangkan saja, sesuai dengan alur-alur tujuan kita. Maka tak perlu ada Tuhan, tak butuh keyakinan, dan hidup saja dalam sebuah dimensi sendiri yang tak mengenal sebuah arti penciptaan. Bahwasanya semua jalan kehidupan telah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Baik bagi kita belum tentu baik bagi Sang Pencipta, begitu sebaliknya. Alkisah, semua itu telah terjadi denganku, saat ini.
Belasan tahun yang lalu, saat mengenyam bangku Sekolah Dasar, pelan-pelan kepala kalengku ini memintal jalinan kata-kata negatif yang saling mengikat kuat, berpilin dan bertumpuk-tumpuk membentuk jaring memori kelam tentang penggambaran seorang guru. Kasar, jahat, seenaknya sendiri, tak mau mengerti, sok pintar dan yang pasti kuingat, selalu menjaga jarak dengan muridnya.
Sepanjang hari murid hanya menikmati suguhan pantomime yang murid sendiri tak paham apa itu pantomime. Pertunjukan tunggal itu diperankan seorang manusia yang berdiri di depan kelas dengan layar hitam terkembang, membawa properti bernama kapur dan intaian penghapus melayang bagi siswa yang ramai. Ia bicara sesuka hatinya sendiri. Parahnya, si manusia itu tak bisa melucu. Aku merasa hanya melihat sebuah televisi hitam putih menyiarkan acara Dunia Dalam Berita. Menjemukan.
Menguap, bosan, ketakutan adalah lirik-lirik lagu yang senandungnya tak beraturan dengan tempo lambat empat per empat. Lalu sang penyanyi adalah guru itu sendiri. Bukan hanya itu, sang guru juga memainkan gitar, ukulele, akordion, trombon, tamborin, sampai rebana. Semua alat itu dimainkan sekenanya, lalu bernyanyi dengan nada sopran yang sangat dipaksakan. Lekat, ia genggam kayu Jalin bekas kemoceng, sepanjang satu hasta, tersajilah seorang composer dan dirigen untuk pertunjukannya sendiri. Murid, seolah-olah hanyalah sekumpulan Belibis yang terperangkap di rawa-rawa bernama kelas, yang hanya paham suara koor kwek…kwek…kwek…
Pikiran-pikiran semacam itu berhasil dengan status summa cum laude menghuni kedalaman otakku hingga remaja. Dengan sedikit arogansi yang juga ikut tertanam, aku menyimpulkan bahwa guru adalah pekerjaan yang sangat tidak nyaman. Pemahaman yang bukan dibuat-buat, akibat trauma masa kecil di bangku sekolah.
Dalam perjalanan waktuku menuntut ilmu, selalu terlintas dalam benak, bagaimana mungkin seorang guru mampu mengurusi muridnya jika ia sendiri tak mau menyentuh dunia muridnya? Guru hanya mengajar dan sesekali tersenyum jika hatinya sedang good mood. Selepas itu, ia kembali menjadi sebuah sipir tahanan yang menakutkan. Ada jarak yang jauh terpisah di antara guru dan murid. Namun, semua anggapan itu runtuh seperti sebuah gedung yang di ledakkan. Semua pemikiran itu kandas menjadi puing-puing cerita karena takdirku kini adalah, menjadi guru. Sebuah Anomali Eksentrik hidupku.
Sekarang ini, aku berdiri di depan kelas di hadapan para pencari ilmu yang selalu kurindukan. Ya, sekarang aku menjadi seorang guru. Sebuah kebaikan hidup yang dulu aku menganggapnya sebagai keburukan. Tujuh tahun merayap dengan cepat, kujalani takdir menjadi guru. Tenaga, pikiran, waktu dan materi tercurahkan semuanya demi melawan sebuah hal remeh-temeh bernama, beban.
Menjadi guru membuatku semakin dewasa dan belajar dari semua kisah masa kecilku saat menjadi murid. Tak akan kubiarkan terulang pada murid-muridku. Aku bermetamorfosis menjadi sahabat mereka. Guru hanyalah status kepegawaian yang tertera pada lapor bulanku saja. Di kelas, aku adalah kawan mereka. We are incredible partner. Jurang pemisah yang sangat dalam, aku dangkalkan. Jarak yang terentang antara guru dan murid aku hubungkan dengan jembatan yang selalu kusebut student interpersonal approach, pendekatan pribadi dari hati ke hati.
Guru yang berbeda adalah muaraku. Semua kukerahkan untuk itu. Berada di sekolah swasta pinggiran kota yang baru belajar merangkak untuk mandiri. Jarak tempuh dari rumah ke sekolah yang bila dikonversi sejauh jutaan senti ditambah gaji yang belum manusiawi, tak mampu sedikit pun meredamku untuk tetap berjuang menjadi guru yang berusaha menciptakan iklim menyenangkan dalam kelas.
Semua guru pasti ingin melakukan yang terbaik untuk muridnya dengan pengelolaan kelas seefisien mungkin. Sebab, tak bisa dipungkiri guru memiliki banyak sekali kegiatan di dalam dan di luar sekolahan. Apalagi jika harus bicara administrasi kelas, silabus, RPP dan kroni-kroninya itu, yang bisa mengubah rambut lurus guru menjadi keriting. Rambut keriting pun menjadi kribo dan rambut kribo tak ayal akan menjadi botak! Sungguh tak masuk akal. Masalah administrasi kelas yang seabrek itu ditambah dengan permasalahan-permasalahan pergaulan murid yang akut seperti komplikasi penyakit kritis. Padahal tugas guru bukan hanya mengajar atau mendidik saja. Guru adalah seorang inspirator, the real example, contoh nyata yang menjadi panutan murid. Adakalanya, guru juga harus berani berpikir out of the box. Sedikit melenceng dari jalur, seperti harus bisa membaca hati, mata, sifat ataupun karakter murid. Setidaknya menggunakan ilmu-ilmu yang tak pernah ada dalam mata kuliah keguruan. Karena guru sejatinya adalah seorang seniman! Artis yang menjadi tontonan.
Seniman! Suka sekali aku dengan kata itu. Maka ‘kan kujadikan itu sebagai sebuah prinsip untuk mendekatkan diri dengan murid. Aku bermain gitar dan bernyanyi. Terkadang sambil mendongeng. Suatu waktu membuat dan membaca puisi. Pada kesempatan lain lagi, aku menjadi Papa Dedeh, yang berbagi hati, memberi solusi. Terkadang aku membuat video klip mereka dan mengajari mereka cara membuatnya. Dari sanalah kedekatan hubungan mulai terbangun, sebagai pintu masuk ke dalam hati dan hidup mereka. Terlihat sederhana, meski susah untuk dilogika pengelolaan kelas yang aku lakukan. Tak ada peraturan tambahan selain peraturan umum yang ada dan sama, yang tertera di semua sekolah.
Sejujurnya aku tak butuh peraturan yang mengikat, selain tata tertib saja. Aku mencoba menerapkan rasa tanggung jawab, rasa saling memiliki, dan mencintai semua anggota kelas. Meski tak tertulis, perlahan namun pasti, pemahaman mulai mereka terima menjadi sebuah kebenaran, bahwasanya semua anggota kelas adalah keluarga. Maka, tak ada satu pun yang boleh menyakiti, mengolok, mengejek, meremehkan, membenci dan menganggap temannya adalah sampah yang harus disingkirkan. Peraturan tersirat tersebut nyatanya jauh tertanam dalam hati mereka karena sebuah ikatan.
Butuh perjuangan berat untuk melakukan cara-cara itu. Pernah suatu ketika di awal aku menjadi wali kelas dulu, terjadi sebuah kesalahpahaman di antara mereka.
“Pak, Diki memanggilku Aspal jalan raya!” kata Tyas dengan ketus, sambil murung wajahnya. Ia memang berkulit gelap. Aku tersenyum kecil menenangkan tanpa bermaksud merendahkan. Kemudian, seperti biasanya, seperti yang sudah-sudah, aku gunakan jurus andalanku untuk mengendalikan mereka, duduk berdua saling berhadapan, saling menceritakan. Face to face.
Aku mendengar dengan hati dan aku bicara pun dengan hati. Kubiarkan Tyas berceloteh sesuka hatinya. Kudengarkan dengan penuh perhatian seolah-olah aku menjadi dirinya. Semua unek-unek tumpah ruah seumpama aku adalah bak mandi yang dituangi air satu drum. Tyas bercerita dengan penuh penghayatan, sampai-sampai ia meneteskan air matanya. Aku sebenarnya ikut bersedih, namun aku tahan, karena ini bukanlah sebuah telenovela yang penuh isak tangis. Aku berempati penuh. Siapa yang tidak sedih jika kekurangan diri diobral di depan orang banyak dengan maksud mengolok-olok? Lima belas menit terlewati dengan cepat. Hingga, aku mengucapkan sepatah kata.
“Kamu percaya Bapak, kan?” Tyas mengangguk. Aku menjelaskan dengan hati, bahwa, adakalanya dia harus belajar menahan emosi ketika disudutkan. Sabar akan membuatnya menjadi orang yang lebih bisa menghargai penciptaan. Tuhan tidak pernah salah menciptakan makhluk-Nya. Setiap dari manusia pasti akan memiliki kekurangan dan ke-lebihan. Kemudian aku tunjukkan padanya bahwa aku memiliki kekurangan ini, ini, ini dan itu. Tyas mulai sedikit tersenyum dan tertawa lebar saat aku bercerita bahwasanya sewaktu kecil seusia dia, aku pernah diejek begini dan begitu. Dan aku pun tetap menjadi orang setelah ejekan itu bertahun-tahun kuterima. Kudapatkan jurus pendekatan yang kedua, menertawakan diri sendiri di hadapan seorang murid akan mengajarkan mereka untuk memandang gurunya seorang yang kuat dan tabah dalam menjalani kehidupan. Kemudian di akhir percakapan itu, aku sematkan sebuah kalimat yang hingga kini ia pegang. “Semua akan baik-baik saja meski tidak mudah. Engkau akan hebat saat mampu menemukan kelebihan di atas kekuranganmu itu.” Tyas tersenyum senang dan menyalamiku dengan takzim.
Hal yang serupa juga kulakukan pada Diki. Dalam melakukan Face to face itu, tak pernah aku mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Pantang menyudutkan murid. Yang kupersalahkan adalah diriku sendiri kenapa belum bisa menekan permasalahan semacam itu. Diki terbuka hatinya. Dengan kesadaran diri juga tanpa kuperintah, Ia mau meminta maaf pada Tyas dan akan belajar menjaga emosi yang keluar melalui lisan-lisannya. Memang benar lidah tak bertulang. Tak menikam tapi menyakitkan.
Semula memang banyak sekali permasalahan yang muncul. Face to face, pendekatan dari hati ke hati yang kulakukan, nyatanya berhasil mengendalikan mereka pada sudut-sudut pergaulan dan cara bersosialisasi. Hebatnya, dengan pendekatan itu pula, aku mampu memotivasi mereka untuk berprestasi melalui metode dan strategi pembelajaran yang kusarankan, hingga puncaknya mereka mampu sekolah di tempat yang mereka impikan.
Rasa cinta yang teramat besar pada mereka, membuatku mau berkorban. Apa yang kulakukan mampu membawa perubahan dalam dunia pendidikan perihal hubungan guru dan murid, meski hanya dalam lingkup kecil. Hubunganku dengan mereka seperti Silabus dan RPP, saling berkaitan. Hubungan kami, guru dan murid tak ubahnya Prota dan Promes, yang bersinambung. Jika boleh kuibaratkan, jalinan persahabatan kami, seperti kerbau dan burung jalak, symbiotic mutualism, saling menguntungkan. Aku beruntung karena semakin belajar banyak tentang sifat dan kehidupan anak-anak, mereka juga beruntung karena melihatku sebagai penengah yang selalu ada di tengah-tengah. Hingga kini tulisan ini aku tulis, mereka murid-muridku itu, masih memiliki hubungan yang sangat dekat denganku meski kini telah beranjak di tingkat SMP.
Tak ayal, jurus pendekatan yang sama masih menjadi senjata andalanku untuk bertempur dan mengelola kelas pada angkatan-angkatan yang baru. Hasilnya pun, tak pernah kubayangkan memberikan efek yang luar biasa. Melalui segumpal cinta bernama hati, aku berhasil menjaga ucapan, tindakan, serta pergaulan mereka tanpa pernah ada aturan tertulis yang mengancam layaknya undang-undang pidana. Semua berjalan sesuai alurnya.
Suatu ketika, siang hari setelah perpisahan kelas enam, mereka, murid-muridku itu mendatangiku sambil duduk melingkar. Wajah mereka sembab penuh air mata karena sebuah perpisahan. Mereka bersama-sama menggoreskan sebuah tulisan di papan yang mereka tutup dengan selembar kain. Setelah kain tersibakkan, mampu kubaca deret tulisan itu
Bapak telah mengubah kami. Kami rindu kebersamaan yang akan berakhir di kelas ini. Sampai kapan pun kami tidak akan melupakan kenangan yang terjadi. Terima kasih atas ilmu dan nilai kehidupan yang diajarkan. Terima kasih atas semuanya, We Love You!
Tak terasa mataku berkaca-kaca, air meleleh perlahan jatuh semakin lama semakin berderai. Aku menangis untuk sebuah hal yang aku tak bisa mengerti. Aku menangis tanpa pernah tahu atas sebuah hal yang tak kupahami. Melihatku meneteskan air mata, serta-merta mereka semua beranjak dan memelukku erat sesenggukan. Aku diam mematung penuh keharuan.
“Terima kasih, Nak…” dalam hatiku lirih tertahan.
Guru tidak sekedar menuliskan deret-deret angka kognitif saja
Guru tidak sekedar berdiri dan bercerita, tapi lebih dari itu semua.
Ia ada meski dunia tak pernah memerhatikannya.
Ia ada dalam setiap ketiadaan yang menjelma.
Guru akan selalu hidup dalam hidup semua murid-muridnya.
***

Desi Arianto
Penulis adalah seorang guru kelas enam yang berbagi ilmu di SDIT Nurul Huda Kediri dengan nama asli Desi Arianto. Tahupoo adalah nama pena yang digunakan olehnya. Penulis pernah menjuarai event kepenulisan guru sebelumnya dengan judul cerita, “Face to Face”. Penulis memperjuangkan mimpinya untuk terus memberikan hadiah berupa buku yang ditulis sendiri untuk murid-muridnya yang telah lulus. Boundless dan Twelve Seasons adalah dua karyanya yang ditulis dan dicetak sendiri. Penulis dapat di kontak pada email ariantz12seasons@gmail.com



Tulisan ini diambil dari buku KAPUR & PAPAN Kisah Pengelolaan Kelas 1 halaman 24-30, Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015




I Love You, Maam

Kisah Pengalaman Guru oleh L. Bening Parwita Sukci
Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Bahasa Inggris bukanlah mata kuliah yang mudah untuk diajarkan di tingkat perguruan tinggi. Meskipun mahasiswa telah belajar bahasa asing tersebut selama bertahun-tahun di tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, ternyata sebagian mahasiswa masih menganggap bahasa tersebut sulit untuk digunakan dalam kehidupan mereka. Banyak di antara mereka yang tidak mampu bicara dalam Bahasa Inggris. Dan lebih banyak lagi yang merasa takut menggunakan bahasa tersebut karena tata bahasa yang sulit atau kosakata yang terbatas. Dalam menghadapi situasi yang seperti ini, saya tidak punya pilihan selain memaksa mahasiswa tahun pertama untuk menggunakan bahasa ini dalam kegiatan kelas kami sehari-hari tanpa perkecualian.


Pertemuan pertama di semester satu selalu menjadi pertemuan yang menegangkan. Saya memperkenalkan berbagai aturan dengan segala konsekuensinya. Aturan pertama adalah penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di dalam kelas. Apa pun yang mereka katakan kepada siapa pun, bila dilakukan di dalam kelas, semua harus menggunakan Bahasa Inggris. Bahkan bila mereka berani jatuh tertidur dan bermimpi, mereka harus memastikan mimpi tersebut berbahasa Inggris. Setiap kata yang diucapkan dalam bahasa selain Inggris akan membuat mereka didenda seratus rupiah per kata. Uang tersebut dikumpulkan dalam sebuah kotak tembus pandang. Aturan kedua adalah semua kegiatan dilakukan tepat waktu. Mahasiswa yang datang terlambat akan mendapat pengurangan nilai. Bila dosen datang terlambat tanpa pemberitahuan sebelumnya, maka mahasiswa berhak mendapatkan nilai tambahan. Aturan ketiga mengharuskan mahasiswa untuk aktif dalam semua kegiatan di dalam kelas.
Wajah-wajah tegang akan menjadi gambaran yang biasa saya hadapi saat memperkenalkan aturan-aturan tersebut. Namun biasanya ketegangan akan mengendur ketika saya menjelaskan bahwa mereka boleh bicara tanpa perlu merasa takut melakukan kesalahan dalam tata bahasa. “Grammar can go to hell when you are in my class.” Kalimat ini biasanya akan mendapatkan sambutan meriah di kelas. Saya jelaskan bahwa tata bahasa bukanlah segala-galanya. Dalam berbahasa penyampaian dan pemahaman pesan lebih penting daripada segala tetek-bengek tenses yang membingungkan bagi orang Indonesia. Karena itu mereka harus berusaha menyampaikan pesan secara lisan dan tertulis tanpa perlu memedulikan kesalahan dalam tata bahasa ataupun kosakata. Kesalahan yang terjadi akan diperbaiki bersama dalam proses komunikasi yang terjadi.
Dalam pertemuan pertama, kegiatan berpusat pada saling memperkenalkan diri. Tentu saja kegiatan ini terlihat mudah bila dilakukan dalam Bahasa Indonesia. Namun ketika mereka harus menggunakan Bahasa Inggris maka wajah-wajah ragu akan mulai terlihat berkelompok di bagian belakang kelas. Mereka yang berani mulai berkeliling kelas dan saling menyapa dan menceritakan tentang dirinya sendiri dalam waktu yang telah ditentukan. Ketika waktu habis, mereka harus mencari pasangan baru lagi dan melakukan hal yang sama. Saat inilah semua mahasiswa tidak punya pilihan selain mulai berbicara tentang diri mereka sendiri meskipun dengan terbata-bata. Beberapa yang semula ragu mulai lebih berani karena ternyata teman-teman mereka memahami apa yang mereka ucapkan. Hari pertama berakhir dengan menyenangkan karena di akhir kelas tidak ada satu pun tangan terangkat ketika saya menanyakan siapa yang tidak mengerti apa yang diucapkan temannya. Kesimpulan hari itu adalah tidak ada satu pun mahasiswa yang tidak bisa berbahasa Inggris secara aktif. Hore!!!!
Di pertemuan-pertemuan berikutnya kegiatan kelas dipenuhi dengan diskusi kelompok, presentasi dan tanya jawab. Untuk setiap topik yang diberikan, mahasiswa diminta membaca atau menonton bahan yang diberikan sebelumnya dan kemudian melaporkan pemahaman mereka di kelas. Hasil pemahaman ini kemudian didiskusikan di dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang. Kegiatan diskusi kelompok dilanjutkan dengan sesi laporan hasil diskusi yang diikuti dengan tanya jawab. Setiap kali seorang mahasiswa menyampaikan atau menanyakan sesuatu, maka sepotong kertas kecil bertuliskan angka nilai keaktifan akan menjadi hak mereka. Di lembaran kertas kecil tersebut mereka akan menuliskan nama dan nomor mahasiswa mereka yang kemudian akan dikumpulkan di sebuah kotak pada akhir kelas.
Kejadian lucu akan muncul setiap kali seorang mahasiswa mengomentari laporan atau kesalahan temannya. Bila seseorang mengatakan, “He is the only daughter in his family,” maka beberapa temannya akan tertawa, sedangkan beberapa yang lain akan mengatakan, “SheHer!” Maka si pembicara akan mengubah kalimatnya menjadi “She is the only daughter in her family.” Namun terkadang sang pembicara tidak menyadari kesalahannya dan terus melanjutkan laporannya tanpa menyadari kesalahannya. Pada saat itulah sering muncul celetukan dari teman kelompoknya, “Bukan he tapi she!” Dan kalimat ini akan mengundang tawa seisi kelas karena sang komentator diharuskan membayar dua ratus Rupiah untuk dua kata Bahasa Indonesia yang diucapkannya.


Di awal kelas berikutnya, laporan keaktifan kelas akan ditayangkan sehingga semua mahasiswa dapat melihat kinerjanya di kelas pada minggu sebelumnya. Mereka yang mengumpulkan nilai keaktifan tinggi akan mendapatkan sepotong kartu berwarna hijau, sedangkan mereka yang berada di tengah akan mendapat kartu kuning dan mereka yang tidak mendapat nilai sama sekali akan mendapat warna merah. Kartu warna-warni ini akan diangkat saat mereka akan bertanya atau menyampaikan sesuatu di kelas. Kartu yang menunjukkan nilai terendah akan mendapatkan kesempatan pertama untuk bicara. Dengan demikian mereka akan bisa menambah nilai dengan lebih mudah. Mereka yang memiliki kartu yang menunjukkan nilai tinggi diperbolehkan bicara setelah tidak ada lagi warna merah dan kuning terangkat. Dan ternyata kartu-kartu berwarna ini menjadi pemacu semangat mahasiswa untuk saling bersaing mendapatkan nilai lebih banyak dengan mengajukan pertanyaan atau mencoba menjawab pertanyaan. Dan tugas saya pun menjadi lebih mudah, karena saya hanya perlu mengatur siapa yang berhak bicara, mendengarkan apa yang mereka katakan dan memberikan nilai pada kartu kecil yang menjadi hak mereka. Bahkan terkadang, ada beberapa mahasiswa yang memberanikan diri untuk menjadi moderator diskusi kelas yang diadakan.
Di pertengahan semester warna kartu ditambah dengan warna biru untuk mereka yang mendapat nilai paling tinggi. Mereka yang memiliki warna biru hanya boleh menyatakan pendapatnya setelah tidak ada warna lain terangkat. Hal ini menghalangi mereka untuk mendominasi percakapan kelas sehingga mereka yang memiliki nilai lebih rendah akan lebih terpacu karena didorong oleh teman-temannya untuk bicara. Pemegang kartu biru kami juluki sebagai shark, hiu. Pemegang kartu merah kami juluki little fish, ikan kecil yang menjadi makanan hiu. Dan hanya ikan kecil yang bisa membunuh hiu karena begitu warna merah atau kuning terangkat, maka si biru tidak akan mungkin bicara untuk mendapatkan nilai tambahan.
Ternyata warna-warna kartu yang mereka pegang akan berubah setiap minggu sesuai nilai yang mereka capai ini menjadi pemicu sebuah kompetisi di kelas. Setiap kali sesi presentasi dan tanya jawab dibuka, maka akan teracung kartu warna-warni di udara. Dan pemegang kartu merah akan saling membela temannya bila tidak ditunjuk oleh sang pembicara. Pertengkaran kecil pun tak jarang pecah karena seseorang merasa tidak diperlakukan dengan adil karena tidak dipilih untuk bertanya atau menyatakan pendapatnya saat mengangkat kartu merahnya. Teman lainnya akan berusaha membela rekan sekelompoknya. Dan tanpa mereka sadari semua pertengkaran tersebut berlangsung dalam Bahasa Inggris.


Tanpa disadari, kegiatan kelas yang melibatkan diskusi dan presentasi membuat para mahasiswa semakin aktif dan kompetitif. Mereka berusaha membantu rekan sekelompoknya yang memegang kartu merah untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dengan membantu menyiapkan pertanyaan atau jawaban. Mereka yang tidak percaya diri akan mencoba untuk menggunakan bantuan tersebut agar mendapat nilai yang lebih baik. Mereka yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik akan berusaha membantu rekannya yang lemah untuk memperbaiki kalimat atau menjelaskan duduk permasalahan sehingga diskusi dapat berjalan dengan lebih baik.
Meskipun kesalahan dalam menggunakan tata bahasa maupun kosakata sering terjadi, namun hal itu menjadi hiburan bagi kami semua. Tak jarang gelak tawa pecah ketika salah seorang menunjuk teman perempuannya dan mengatakan, “He loves his boyfriend so much.” Dan gelak tawa akan semakin membahana ketika sang pembicara tidak menyadari kesalahannya dan tetap menggunakan kata ganti “he” untuk teman perempuannya. Di saat lain kebahagiaan menyeruak ketika seorang rekan tak sengaja mengucapkan satu atau dua patah kata dalam Bahasa Indonesia. Maka sebagian mahasiswa akan bertepuk tangan dan menunjuk kotak uang penyimpan uang denda.


Dan saat akhir semester tiba, kotak penyimpanan uang denda dibuka dan uang tersebut saya gunakan untuk membeli makanan kecil untuk dinikmati bersama. Beberapa mahasiswa yang pernah terlambat atau tidak masuk kelas juga mendapat hukuman untuk membawa lima potong makanan kecil untuk dinikmati bersama dengan teman-temannya. Di hari terakhir kelas, kami berpesta. Beberapa mahasiswa menunjukkan kemampuan mereka menyanyi dengan iringan gitar, ada pula yang berusaha menunjukkan kemampuannya menari. Dan di hari itu, saya mendapat kebahagiaan yang tak terkira, karena banyak dari mereka yang menyatakan kebahagiaannya karena mampu menggunakan Bahasa Inggrisnya dalam komunikasi yang sesungguhnya. Dan di hari itu saya selalu mendapat bingkisan terindah sebagai seorang pengajar Bahasa Inggris. Di antara komentar-komentar mereka yang dikumpulkan pada hari itu, banyak terselip ucapan, “Thank you for this semester, Maam,” “Now I can speak English better,” dan “You make me brave to speak up.” Dan yang terindah dari semuanya adalah saat mereka menuliskan, “I love you, Maam.

***



L. Bening Parwita Sukci
Mengajar Bahasa Inggris bagi mahasiswa yang tidak belajar di Program Studi Bahasa Inggris adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Selama lebih dari dua puluh tahun mengajar, saya masih selalu belajar untuk membuat kelas menjadi lebih menyenangkan. Sebuah pelajaran yang tidak akan pernah selesai karena setiap hari selalu ada pengalaman baru yang memperkaya, selalu ada kejadian lucu yang membuat kelas menjadi lebih meriah, selalu ada masalah yang harus dipecahkan. Seperti yang selalu saya katakan pada mahasiswa saya, “Learning English in my class is not learning a language. We are using English to learn about life together. So let us make mistakes and learn from our mistakes, happily.” Belajar Bahasa Inggris di kelas saya bukanlah mempelajari sebuah bahasa. Kita akan menggunakan Bahasa Inggris untuk belajar tentang hidup. Karena itu, mari kita membuat berbagai kesalahan dan belajar dari kesalahan kita, dengan perasaan gembira tentunya.




Tulisan ini diambil dari buku KAPUR & PAPAN Kisah Pengelolaan Kelas 1 halaman 96-103, Pemenang Kedua dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengeja Cinta

Kisah Pengalaman Guru oleh Eka Nur Apiyah
Photo by Pixabay from Pexels


Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
cintaku kepada kalian laksana matahari yang mencintai buminya tak bersyarat
hanya karena titah tuhan
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
cintaku kepada kalian seperti tinta yang mencintai kertas putih
terurai catatan penuh makna
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
seperti buku yang mencintai ilmu
tak lekang meski nanti telah koyak
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
jika nanti aku lelah
bangkitkan aku dengan senyum kalian
Aku melangkah mantap memasuki ruang kelas, ini hari pertamaku mengajar anak-anak sekolah dasar. Di ruang itu, aku menatap wajah-wajah mungil yang seolah penuh tanya. Aku tersenyum, dan akhirnya mereka pun tersenyum. Bagiku itu awal yang indah, belajar memasuki dunia anak-anak. Aku sangat kagum dengan antusias mereka untuk belajar bersamaku. Ah, sebenarnya bukan hanya mereka saja yang belajar, aku pun akan banyak belajar dari mereka.
“Kalian boleh memanggilku Bu Noura, tak perlu sungkan untuk bertanya jika kalian menjumpai kesulitan dalam belajar. Apa kalian siap belajar bersamaku?”
“Siap, Bu Guruuu …,” jawab anak-anak kompak.
Setelah selesai perkenalan, aku mencoba untuk bermain games sebagai bentuk afirmasi sebelum memulai pelajaran. Aku ingin anak-anak gembira dalam belajar sehingga mereka tidak bosan. Aku ingin memberi tahu pada mereka bahwa sekolah itu mengasyikkan dan guru bukanlah makhluk seram yang harus ditakuti, melainkan teman dalam belajar.
Perkenalan berjalan sukses, tak ada hambatan yang berarti. Aku mengamati mereka satu per satu saat mereka sedang asyik mencatat. Ada satu wajah yang terdiam, tangannya sesekali mencorat-coret kertas di depannya. Dia tak menyadari kalau aku sedang memperhatikannya. Wajah itu semakin tertunduk lesu, kenapa anak itu? Apa dia punya masalah?
Aku tersenyum melihat buku catatannya, meskipun sebenarnya aku heran. Kenapa anak itu hanya mencorat-coret buku catatannya? Sekalipun ada tulisan, itu hanya jejeran abjad tanpa makna.
“Kamu Mae kan? Ada apa denganmu, Mae?” tanyaku setelah melihat buku catatannya. Dia masih saja terdiam, tak bersuara.
“Apa kamu sakit?” Mae menggeleng, tangannya masih mencorat-coret bukunya.
“Mae tidak bisa menulis, Bu Guru,” kata anak yang lain.
Aku sedikit terkejut, karena mereka sudah kelas empat, jadi tak mungkin kalau belum bisa menulis.
“Tidak apa-apa kalau Mae belum bisa menulis, nanti Bu Guru ajari ya?”
Mae mengangguk, bibirnya sedikit mengembang.
“Tapi Mae sudah mengenal huruf-hurufnya kan?” Aku menguji Mae apakah dia sudah mengenal abjad atau belum dan ternyata Mae sudah mengetahui masing-masing huruf itu. Lalu aku suruh dia untuk mengeja, meskipun tertatih namun akhirnya dia sanggup membaca sebuah kalimat. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini? Karena masih penasaran, aku menyuruhnya untuk menyalin tulisan yang ada di buku teks pelajaran.
Ajaib! Ternyata Mae sanggup menulis beberapa kalimat dalam buku itu, bahkan mencoba membacanya berulang-ulang. Setelah agak lama berpikir, akhirnya aku punya ide.
“Oke Mae, sekarang kamu berdiri di tempat kamu dan Bu Guru akan menuliskan beberapa kalimat di papan tulis. Nanti coba kamu baca ya?”
Setelah selesai menulis, aku meminta Mae untuk membaca dari tempat duduknya. Namun Mae tak mengeluarkan suara sedikit pun.
“Coba kamu baca tulisan di papan tulis itu, Mae!”
Mae menggeleng. Lalu aku tuliskan kalimat yang lebih sederhana, dia tetap menggeleng.
“Aku tidak bisa, Bu,” katanya.
“Coba lagi, Mae,” pintaku.
“Aku tidak bisa, Bu.” Mae terlihat hampir putus asa, aku masih belum mengerti dengan anak ini. Hingga tanpa sengaja aku mengelap kacamataku yang terkena debu kapur. Saat itulah aku seperti mendapat ilham, aku pun tersenyum.
“Baik Mae, kita coba sekali lagi ya?” Mae mengangguk, dia terlihat seperti merasa bersalah. Teman-teman yang lain hanya diam memperhatikan.
Aku menulis lagi kalimat yang lebih sederhana, sengaja aku menuliskannya lebih besar agar dia mudah membacanya. Selesai menulis, aku meminta Mae untuk membaca. Dia masih menggeleng, menandakan dia belum bisa membaca tulisan itu.
Aku menyuruhnya membaca sambil melangkah maju sedikit demi sedikit, hingga akhirnya sampailah Mae di meja guru, tepat berada di depanku.
“Nah sekarang, apa Mae sudah bisa membacanya?”
Mae mengangguk, dia terlihat seperti hendak menangis.
“Kalau begitu, coba Mae baca dengan keras,” pintaku padanya.
“I-B-U G-U-R-U C-I-N-T-A M-A-E,” dia membacanya dengan tertatih.
Aku tersenyum, lalu menggenggam tangannya erat, mencoba memberinya kekuatan.
“Kamu itu sebenarnya pintar Mae, hanya saja orang di sekitarmu belum mengerti. Coba kamu kembali ke tempat dudukmu dan pakai kacamata ibu, lalu baca kembali tulisan ini.”
Mae kembali ke tempat duduknya dengan membawa kacamataku. Ketika aku pinta untuk membaca tulisan di papan, dia membacanya dengan lancar. Aku memintanya untuk membaca berulang-ulang dengan suara yang keras. Dia tersenyum dan anak-anak yang lain memberikan tepuk tangan untuknya.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan Mae, dia semestinya bisa pintar seperti anak-anak yang lain. Dia tidak bodoh seperti yang dikatakan guru lain atau teman-temannya. Dia hanya tidak bisa melihat dengan jelas, matanya menderita rabun jauh. Pantas saja dia tidak bisa membaca tulisan di papan.
Nama lengkapnya Maesaroh, dia tidak bodoh tapi sering tinggal kelas. Mestinya dia sudah SMP sekarang, hanya karena orang-orang di sekitarnya tak mengerti, dia harus ketinggalan pelajaran. Anaknya memang pendiam, mungkin dia tidak berani berkata pada guru atau orangtuanya kalau penglihatannya kurang jelas. Satu yang membuat aku salut sama Mae adalah ketekunannya. Dia rajin berangkat sekolah meskipun dia sering diledek oleh teman-temannya karena usianya paling tua di antara mereka.
“Sekarang kamu gak usah khawatir lagi Mae, ada Bu Guru di sampingmu. Sementara kamu boleh meminjam kacamata Bu Guru dulu ya?” Mae mengangguk.
Setelah pelajaran usai, aku meminta bantuan pada anak-anak yang lain agar membantu Mae jika kesulitan belajar dan berhenti mengejek Mae. Aku bersyukur anak-anak yang lain bersedia membantu. Semoga aku bisa terus membimbing dan memberinya semangat agar tak menyerah di tengah jalan.
Hidup dalam lingkungan keluarga yang tak berada, terkadang membuat seorang anak sulit untuk berkembang. Keluarga pun terkadang kurang mendukung, sering kali anak-anak mereka yang seharusnya sekolah malah disuruh bekerja.
Bagiku tugas seorang guru bukan hanya mentransfer ilmu dari otak guru ke otak siswa, tapi juga memberikan motivasi agar mereka memiliki semangat belajar dan tidak putus asa dengan kondisi mereka. Belajar untuk menyelami kehidupan mereka, tak hanya di sekolah tapi juga di rumahnya. Sehingga kita tak mudah menghukum atau menuduhnya bersalah begitu saja jika mereka melakukan kesalahan.
“Jangan berhenti belajar, Mae, kamu tahu kan batu yang keras saja jika ditetesi air terus-menerus dia bisa berlubang bahkan mungkin retak dan terbelah. Kamu belum terlambat, Mae, masih ada waktu untuk tetap bisa mengeja, bukan hanya aksara tapi juga kehidupan ini.” Aku kembali mengenggam erat tangannya.
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya …
Cintaku hari ini lebih besar dari cintaku yang kemarin
Dan cintaku esok hari akan lebih besar dari cintaku hari ini.
***


Eka Nur Apiyah

Mengajar adalah rekreasi, menulis adalah cara berbagi. Adalah sebuah kebanggaan menjadi seorang guru. Terkadang anak didik memanggilku dengan sebutan Bu Eka yang manis. Aih, padahal namaku Eka Nur Apiyah. Menuliskan kisah ini adalah bagian dari caraku mencintai mereka. Kelak jika mereka ingin mengenang masa sekolah, akan aku minta mereka membaca buku ini. Mengenalku lebih dekat lewat FB: Eka Nur Apiyah.


Tulisan ini diambil dari buku KAPUR & PAPAN Kisah Guru-Guru Pembelajar 1 halaman 13-17, Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014