Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label pantun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantun. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 September 2025

MENANAM DALAM KATA Ikatan Pantun Yerem B.Warat


Ikatan Pantun Yerem B.Warat


Pantun Pembuka

1. 
Orang Timur bawa bendera
Benderanya dari kain belacu.
Mari berpantun dengan gembira
Wariskan nilai ke anak cucu.

2.
Dalam panci ada keladi
Jadi bekal dalam taufan.
Kalau lumbung menyimpan padi
Pantun menyimpan kearifan.

3.
Burung beo berkain katun
Menari-nari hingga ke udik.
Bungkus nasihat dalam pantun
Merdu didengar hati terdidik.

4.
Burung nuri berjengger sakti
Bersiul-siul di Subawutun.
Memang pantun menyukakan hati
Mari kita berbalas pantun.


Pantun Berima Awal aaaa, Rima Akhir aaaa

5.
Meskipun waktu sungguh mepet
Masih ke kali mencari belut.
Menyimpan uang dalam dompet
Menyimpan diri dalam mulut.

6.
Sejak pagi dari Lembata
Sampai malam di Kalibata.
Siapa menolong orang buta
Si buta tak lihat, Tuhan tak buta.

7.
Jangan bermimpi ke teluk Lumpin
Jikalau tidak berkain lampin.
Jangan bermimpi jadi pemimpin
Jikalau tak pernah taat dipimpin.


Pantun Berima Awal aaaa, Rima Akhir abab

8.
Supaya makin kuat mendaki
Setiap mendaki berkalung batu.
Sekotor-kotornya sandal di kaki
Sudah menghantar kita ke pintu.

9.
Seperti tikus bermain air
Setiap hendak berbalas pantun.
Seperti tawas jernihkan air
Setiap derita jernihkan batin.

10.
Siapa pingin tidur yang nyenyak
Sandarkan beban ke punggung bukit.
Satu lawan terlalu banyak
Seribu kawan terlalu sedikit.

11.
Semua buku di dalam kelas
Sungguh rapi disusun Jamal.
Siapa menulis dengan iklas
Sungguh sudah berbuat amal.

12.
Jikalau mau ke pulau Seram
Jangan lupa bawa petasan.
Jikalau mau hidupmu tenteram
Jangan suka barang rampasan.


Pantun Berima Awal aabb, Rima Akhir aaaa

13.
Air jerangau di dalam baki
Andai diminum jadi sakti.
Lelah ayah kuatkan kaki
Letih ibunda kuatkan hati.

14.
Dari pagi mencari mangga
Dapat sebuah bagi berlima.
Supaya rukun berumah tangga
Susah senang tanggung bersama.

15.
Supaya tidak lagi kesasar
Sandarkan bahu di batu kasar.
Orang sombong bermulut besar
Orang bijak berjiwa besar.


Pantun Berima Awal aabb, Rima Akhir abab

16.
Jangan sampai berkain basah
Jikalau sedang di depan kaca.
Parang tajam karena diasah
Pikiran tajam karena membaca.

17.
Hati senang dapat selendang
Hadiah indah dari ibuku.
Jejak petani ada di ladang
Jejak penulis ada di buku.

18.
Mau menangkap burung balam
Masuk saja ke hutan keramat.
Buka mata menangkap alam
Buka hati menangkap hikmat.

19.
Bocah cilik baru merangkak
Beri makan pisang raja.
Orang pintar tergoda mencongkak
Orang bijak biasa saja.

20.
Jikalau sudah pulang sekolah
Jambu kelutuk incarannya.
Orang bijak hadapi masalah
Orang congkak meninggalkannya.

21.
Anak bayi belum bergigi
Ayunkan dekat tiang tunggal.
Kian tergesa engkau pergi
Kian jauh engkau tertinggal.

22.
Bila berkunjung ke Burain
Bawa serta bunga melati.
Dalam peti tersimpan kain
Dalam kata tersimpan hati.

23.
Bila ada kucing yang mati
Benamkan dalam ladang Paiman.
Dari kata terlihat hati
Dari laku terlihat iman.

24.
Pagi-pagi mencari panci
Pancinya ada di tepi gua.
Buka pintu dengan kunci
Buka hari dengan berdoa.

25.
Musik seruling tengah malam
Membuai alam juga tekukur.
Tutup mulut dengan diam
Tutup hari dengan bersyukur.

26.
Durian Riau tumbuh berjajar
Ditanam oleh kakak beradik.
Siapa membaca ia belajar
Siapa menulis ia dididik.

27.
Sepanjang malam kami melaut
Sebelum pulang ke Mataloko
Tiada hidup tanpa maut
Tiada sukses tanpa risiko.

28.
Saban malam kami memohon
Saat kepala sudah di bantal.
Badai angin kuatkan pohon
Badai derita kuatkan mental.

29.
Di tengah jalan batang melintang
Ditumbang angin tadi malam.
Jangan harap menatap bintang
Jikakalau takut menembus malam.

30.
Pergi ke kali mencari batu
Pulang membawa bunga melati.
Siapa pandai mengisi waktu
Sungguh beruntung di hari nanti.

31.
Jerami padi di tengah batu
Jadi hunian ular beludak.
Siapa suka membuang waktu
Siap-siap menyesal kelak.

32.
Jikalau sedang memilih kain
Jangan hiraukan anjing melolong.
Bandingkan diri dengan yang lain
Bakalan minder ataupun sombong.

33.
Di tanjung Naga banyak rusa
Dikejar anjing sampai ke Tanggir.
Kita semua sama senusa
Kenapa tirikan kami ke pinggir?


Pantun Berima Awal abab, Rima Akhir aaaa

34.
Lintah dilatih tiap pagi
Untuk tak lagi makan sendiri.
Lidah dipagar pasukan gigi
Untuk tetap menjaga diri.

35.
Kalau kuda diberi dasi
Sepanjang hari menari-nari.
Kalau api mematangkan nasi
Setiap masalah mematangkan diri.

36.
Mula-mula menangkap angsa
Lama-lama tertangkap rusa.
Mula-mula rasa terpaksa
Lama-lama jadi biasa.


Pantun Berima Awal abab, Rima Akhir abab

37.
Siapa piara ikan mas
Paling beruntung sampai nanti.
Seperti api memurnikan emas
Pedih derita murnikan batin.

38.
Ramai-ramai memanjat pohon
Sampai di pucuk kaki terikat.
Ramai-ramai kami memohon
Sampai Tuhan turunkan berkat.

39.
Guna apa ke tanah Sunda
Kalau lupa membawa sorban.
Guna apa menunda-nunda
Kalau menunda menambah beban

40.
Untuk apa ke laut dalam
Kalau nafas terengah-engah.
Untuk apa bergadang malam
Kalau tidak bernilai tambah.

41.
Hari-hari memikat nuri
Sampai juga di tanjung Selamat.
Hati-hati membawa diri
Supaya sampai dengan selamat.

42.
Hari- hari ke Minahasa
Untuk menghantar semua kiriman.
Hati-hati membuang bahasa
Untuk tidak tersinggung teman

43.
Supaya cepat menjadi tahir
Minum selalu air putih.
Supaya cepat menjadi mahir
Mari kita terus berlatih.

44.
Kalau hendak menangkap badak
Singkirkan jauh parang terasah.
Kalau bukan karena anak
Siapa tahan menanggung susah?

45.
Sama-sama kita berenang
Belum tentu sama mengail.
Sama-sama kita berjuang
Belum tentu sama berhasil.

46.
Guna apa ke kota Malang
Kalau belum berbasuh muka.
Guna apa membanting tulang
Kalau untuk narkoba belaka.

47.
Menangkap ikan dengan bubu
Kasih makan burung pungguk.
Mari berguru pada bambu
Kian tinggi kian merunduk

48.
Untuk apa nongkrong di teras
Kalau berujung mandi tak jadi.
Untuk apa bekerja keras
Kalau berujung di meja judi.

49.
Senang sekali melihat tupai
Berlari-larian hingga ke teras.
Sukses besar bakal tercapai
Berkat kemauan dan kerja keras.

50.
Kera termenung di atas bendungan
Tunggui ikan bersukaria.
Kalau kerja sudah di tangan
Tekuni terus dengan setia.

51.
Senang sekali ketam di pantai
Pantainya putih tempat bermain.
Seperti sapu membersihkan lantai
Pedih derita bersihkan batin.

52.
Selagi jauh tercium madu
Datang dekat terasa pahit.
Selagi jauh saling merindu
Datang dekat saling menggigit.

53.
Saat berlayar ke Adonara
Di sana-sini kulihat tenggiri.
Saat senang banyak saudara
Datang susah badan sendiri.

54.
Untung saja cepat merayap
Sehingga tidak kena gencetan.
Untung saja cepat menyayap
Sehingga dapat tergapai impian.

55.
Hati-hati kami mendaki
Supaya tidak sampai terjatuh.
Hati-hati langkahkan kaki
Supaya tidak tersandung jatuh.

56.
Untuk apa membuang sauh
Kalau berlabuh di tengah bakau.
Untuk apa bermimpi jauh
Kalau yang dekat belum terjangkau.

57.
Pandai-pandai belanja ke Jodoh
Agar terbeli burung merpati.
Pandai-pandai mencari jodoh
Agar dapat pasangan sejati.

58.
Untuk apa membeli mangkok
Kalau di rumah berlimpah juga.
Untuk apa terus merokok
Kalau usia terbakar juga.

59.
Susah hati anak beruang
Habis mengaum senang tak jadi.
Susah-susah mencari uang
Habis-habisan di meja judi.

60. 
Apa guna membawa bajak
Kalau tak sanggup menahan ludah.
Apa guna bertutur bijak
Kalau tak sanggup mengekang lidah.

61. 
Kalau mau mahir berenang
Jangan main ular tangga.
Kalau mau hidupmu tenang
Jangan rampas piring tetangga.


Pantun Berima Akhir aaaa

62. 
Burung beo merapal kata
Untuk mengisi hari-harinya.
Tiap pekerjaan mengajari kita
Jalan terbaik melakukannya.

63. 
Kucing belang mencari mangsa
Mangsa ada di belakangnya.
Kebaikan hati mendidik bangsa
Kejahatan menghancurkannya.

64. 
Tadi malam kumimpi bulan
Bulan tersenyum di atas taman.
Siapa pingin laris jualan
Polesi wajah dengan senyuman.

65. 
Pulang rumah bersama-sama
Pulang membawa buah kelapa.
Kalau boros membunuh mama
Maka bohong membunuh bapa.

66. 
Malam-malam jalan sendiri
Bawa serta daun kemiri.
Buah busuk jatuh sendiri
Hati busuk susah sendiri.

67. 
Anak angsa berkaki buaya
Berenang-renang dengan senangnya.
Sepahit-pahitnya daun pepaya
Tahan mengunya dapat manisnya.

68. 
Tikar kuning Manuk Mulia
Hadiah dari putera raja.
Orang bijak berhati mulia
Walau dicerca tenang sahaja.

69. 
Pergi ke gunung cari kemiri
Cari juga buah kenari.
Siapa berbohong menipu diri
Bakalan rugi diri sendiri.


Pantun Berima Alkhir abab

70. 
Di Baobolak tiada kancil
Tapi rusanya berlipat-lipat.
Kalau berguru pada yang kecil
Kerendahan hati bakal kaudapat.

71. 
Dari Suba ke kampung sebelah
Lamanya cuma tujuh kedipan.
Orang pandai dari sekolah
Orang bijak dari kehidupan.

72. 
Batang tinggi jatuh melapuk
Batang air kering mengalir.
Tiap pangkal berujung pucuk
Segala hal berujung akhir.

73. 
Di Pintubesi tiada tuala*
Tapi buahnya bertambah-tambah.
Dalam masalah ada pahala
Bila ditanggung dengan tabah.

74. 
Pergi ke ladang menunggang sapi
Jangan lupa memberinya makan.
Pesan mama harap resapi
Nasihat ayah harap amalkan.

75. 
Ibu membeli ikan kuring
Untuk menjamu semua tamu.
Nasihat bijak di atas piring
Tertelan jadi darah dagingngmu.

76. 
Tanam padi di tanah miring
Daunnya layu walaupun hidup.
Siapa kelahi di atas piring
Terbuang nasi dan nasib hidup.

77. 
Pahit-pahit daun pepaya
Biarpun pahit tetap kutelan.
Pahit-pahit nasihat bapa
Insaf resapi, jadi didikan.

78. 
Mendaki gunung Ile Mandiri
Jangan lupa membawa bekal.
Makan keringat diri sendiri
Nikmatnya tahan hingga kekal.

79. 
Tikus kesturi di lubang batu
Matanya besar membelalak.
Hidup jangan membuang waktu
Agar tak jadi sesalan kelak.

80. 
Cawan kotor di dalam panci
Jangan dibuang atau direndam.
Maafkan itu ibadah suci
Jangan kotori dengan mendendam.

81. 
Kalau membangun rumah suku
Jangan selisih pasang bata.
Belajar tak hanya dari buku
Tapipun dari kehidupan nyata.

82. 
Beli ayam panggang Kalasan
Untuk makan sekeluarga.
Menolong jangan harap balasan
Agar upahmu besar di surga.

83. 
Kain kebaya dari katun
Tergantung rapi dalam kemah.
Mari sama bertutur santun
Agar betah semua di rumah.

84. 
Jangan sampai menggenggam bara
Sebab sakitnya tak tertahan.
Mulut bersih singgahan saudara
Hati bersih singgahan Tuhan.

85. 
Bagaimana bisa bertemu
Kalau sudah salah alamat.
Pikiran bersih tumbuhkan ilmu
Hati bersih tumbuhkan hikmat.

86. 
Air mandi di dalam baskom
Penuh dengan minyak kemiri.
Mulut kita ibarat bom
Salah bertutur hancurkan diri.

87. 
Air murni dari pangkalan
Siapa minum bakal selamat.
Bila mendidik dengan kepalan
Segala harapan jadi kiamat.

88. 
Di atas puncak gunung Merapi
Ada emas berkulit kerang.
Kalau kipas mengobarkan api
Maka lidah kobarkan perang.

89. 
Dalam kelam ada pelita
Terangi nenek sampai pagi.
Seperti Tuhan terhadap kita
Kenapa anjing diusir pergi?

90. 
Burung berarak di atas awan
Turun bertengger di dahan bakau.
Dengan siapa engkau berkawan
Bisa ditebak siapa engkau.

91. 
Gendang ditabuh perahu berlabuh
Batang terkulai bayi terbuai.
Apa ditanam itu yang tumbuh
Siapa menanam ia menuai.

92. 
Siapa sedang berkaca mata
Jangan panjat pohon kenari.
Siapa suka pamerkan harta
Itu pertanda rendah diri.

93. 
Gunung tinggi tetap kudaki
Demi mengambil anak panah.
Siapa pingin murah rejeki
Bangun sebelum ayam ke tanah.

94. 
Mana mungkin ular melata
Kalau takut kena pijakan.
Mana mungkin batalkan kata
yang telah lanjur terucapkan.

95. 
Berlayar juah hingga ke barat
Demi melihat kucing menari.
Janji itu ibarat jerat
Bisa menjerat leher sendiri.

96. 
Siapa berjalan di jalan mulus
Bawalah tongkat jadi penahan.
Siapa menolong dengan tulus
Ia menabung di tangan Tuhan.

97. 
Dari Dili bersama Soares
Terus berlayar ke Samarinda.
Supaya cepat meraih sukses
Jangan suka menunda-nunda.

98. 
Supaya tidak kebablasan
Tepuk jidatmu sekali dua.
Selagi muda malas-malasan
Bakalan susah di hari tua.

99. 
Mau membeli ayam buras
Tanyakan saja pada Pasalih.
Orang bisa kehabisan beras
Tapi tak bisa kehabisan dalih.

100. 
Kucing kurus turun melantai
Bila beranting buah rambutan.
Kepiting pantai berjejak di pantai
Ayam hutan berjejak di hutan.

101. 
Kuda beban membawa barang
Sampai ke pasar kota Tobaik.
Seburuk-buruknya perlakuan orang
Tetaplah saja berbuat baik.

102. 
Supaya sampai ke Tomohon
Gantikan memang ban yang kempes.
Seperti biji tumbuhkan pohon
Ketabahan hati tumbuhkan sukses.

103. 
Layang-layang terbang melayang
Terbanglah sampai ke teluk Benyum.
Subuh-subuh bangun sembahyang
Dapati Tuhan tengah tersenyum.

104. 
Bila melihat bulan kesiangan
Angkat tanganmu menggapai-gapai.
Siapa mau menunda kesenangan
Cita-citanya bakal tercapai.

105. 
Kain kapas jangan direndam
Agar tak rapuh satupun benang.
Salama masih menyimpan dendam
Batin tersiksa, hati tak tenang.

106. 
Sepeda butut dalam garasi
Kenangan Patua dari Lelata.
Kalau sudah di atas kursi
Jangan lupa pada jelata.

107. 
Sungguh elok bumi Lembata
Berpagar mawar tak berduri.
Menutup mata pada jelata
Patahkan kaki kursi sendiri.

108. 
Jemur baju di Riangbaka
Setelah direndam dalam kanji.
Suara rakyat emas belaka
Bayarkan dengan tepati janji.

109. 
Kopi Boto harum sekali
Harumnya sampai ke Sina-Jawa.
Janji diumbar berkali-kali
Tak ditepati menyiksa jiwa.

110. 
Kami merantau ke Malaysia
Berbekal ketupat dan jagung titi.
Kami ini pun sesamamu juga
Kenapa pinggirkan ke gigir titi?

111. 
Lamalera kampung wisata
Tempat nelayan menangkap paus.
Membangun jalan Lingkar Lembata
Supaya sama merasa puas.

112. 
Papan jati jangan dibuang
Ditempa jadi peti sejati.
Sejak kampanye andalkan uang
Bisa ditebak ujungnya nanti

113. 
Ama Ladda pahlawan kami
Serdadunya tawon dan lebah keramat.
Hati bersih selama di bumi
Jalannya lurus hingga kiamat.

114. 
Merantau jauh ke Baubau
Pulang membangun lima menara.
Biarpun jauh di tanah rantau
Takan lupa sanak saudara.

115. 
Lebat benar buah delima
Bergantung-gantung sampai ke tanah.
Semua ejekan kami terima
Jadi awasan untuk berbenah.

116. 
Menunggang kuda ke Perbesi
Sambil makan kue ketawa.
Pisau tempahan si pandai besi
Kita tempahan segenap peristiwa.

117. 
Jalan-jalan ke pulau Buru
Pulang membawa buah delima.
Untuk menarik pelanggan baru
Tetap perhatikan pelanggan lama.

118. 
Kalau ada kapal yang karam
Ada saja yang rusak parah.
Sungai luas penawar garam
Hati luas penawar amarah.

119. 
Anak kecil jangan dibujuk
Dengan imingan murah-murah.
Lidah kita kipas penyejuk
Bisapun jadi pengobar amarah.

120. 
Tikus membagi pakaian jadi
Untuk tetangga tak berpunya.
Apa guna menanam padi
Jikalau tidak berguru padanya.

121. 
Dari Medan sehari tempuh
Sampai juga ke tanah Dairi.
Mulut besar senjata terampuh
Siap membungkam mulut sendiri.

122. 
Pergi ke ladang memanen kentang
Bawa ke pasar Berastagi.
Dengan bekerja rejeki datang
Kemalasan mengusirnya pergi.

123. 
Dari Makasar sampai Kendari
Kami bersama Hasibuan.
Pandai-pandai membawa diri
Agar selamat sampai tujuan.

124. 
Pergi ke hutan mencari rebung
Pergi bersama bapak Tahnia.
Siapa menulis ia menabung
Harta terindah bagi dunia.

125. 
Gelombang laut bergulung-gulung
Sampai juga ke pantai Genjer.
Dengan menulis kami memulung
Aneka kearifan yang tercecer.

126. 
Sambil berbaring di bawah tenda
Kambing betina memamah hijauan.
Siapa pandai membaca tanda
Ia menambang kebijaksanaan.

127. 
Melihat kucing lagi termenung
Anak tikus lari ke kemah.
Cita-cita sekokoh gunung
Hancur karena kehendak yang lemah.

128. 
Terbang tinggi di atas kates
Turun bernaung di bawah atap.
Jangan harap bisa sukses
Kalau tak punya pendirian tetap.

129. 
Ramai-ramai kami mendaki
Sampai ke puncak Samasuka.
Tekun bekerja membawa rizki
Kemalasan membawa petaka.

130. 
Angin kencang pohon terbanting
Pucuknya sampai ke muka kios.
Tekun ulet dan tahan banting
Bekal kami menjemput sukses.

131. 
Angkat senjata pergi berperang
Membela nusa dan bangsa sendiri.
Siapa suka menghina orang
Lambat laun terhina sendiri.

132. 
Nasi di piring tak lagi bersisa
Dimakan anjing pagi hari.
Mulut manis mulut berbisa
Siapa terpancing hancurkan diri.

133. 
Kalau berdiang di tepi api
Rasa hangat tetap terjaga.
Niat busuk terbungkus rapi
Lambat laun tercium juga.

134. 
Burung dara terbang melayang
Jatuh tersungkur di ujung kaki.
Pagi-pagi bangun sembahyang
Lapangkan jalan bagi rejeki.

135. 
Pagi-pagi membeli bata
Untuk membangun rumah impian.
Mengapa sedih tanggung derita
Sedang derita melatih ketangguhan.

136. 
Bawa kucing dalam keranjang
Supaya tidak diguna-guna.
Guna apa berumur panjang
Kalau tak hidup dengan berguna.

137. 
Duduk-duduk di muka kantin
Tunggui gagak menyadap getah.
Beban hidup kuatkan batin
Bila ditanggung dengan tabah.

138. 
Kuntum kecil dari Taliban
Terbawa jauh hingga ke Kenya.
Jika keluhan menambah beban
Ketabahan hati meringankannya.

139. 
Ikat pinggang dari kulit
Kulit buaya dari lembah.
Siapa iklas menanggung tersulit
Sudah menolong yang paling lemah.

140. 
Batang kemipi bertumbuh naik
Diambil ayah jadi temali.
Katakan yang baik dengan baik
Ataupun tidak sama sekali.

141. 
Kuberi mama selembar batik
Untuk ditatap setiap kali.
Lakukan yang baik dengan baik
Ataupun tidak sama sekali.

142. 
Ayam jago berdarah merah
Siang malam selalu siaga.
Berjuang keras pantang menyerah
Lambat laun berhasil juga.

143. 
Setiap mendaki gunung Sinabung
Sampai di puncak diberi jamu.
Di kintal gubug menanam jagung
Di kintal buku menanam ilmu.

144. 
Setiap senja menjelang malam
Anak nelayan bersukaria.
Siapa menulis ia menanam
Dalam lahan seluas dunia.

145. 
Jalan-jalan ke Namotrasi
Sudah di jalan lupa ketupat.
Perut tenang karena nasi
Hati tenang karena berhikmat.

146. 
Berlayar malam di sungai Kapuas
Sama juga di laut Banda.
Orang serakah tak akan puas
Dengan semua apa yang ada.

147. 
Macan tutul tak akan mundur
Kalau sedang mengejar mangsa.
Keringat sendiri lelapkan tidur
Segala rampasan menggelisahkan.

148. 
Kain sutra jangan disikat
Jangan juga diseterika.
Niat baik membawa berkat
Niat jahat bawa celaka.

149. 
Kalau berburu ke Kandibata
Jangan lupa bawa belati.
Paras elok memikat mata
Budi baik memikat hati.

150. 
Nelayan Pantai turun melaut
Ikannya habis sekali jual.
Jejak sepantai terhapus laut
Jejak kehidupan tiada berajal.

151. 
Kue bendera di dalam dulang
Dikirim oleh orang Sampan.
Apa guna membanting tulang
Bila sesenpun tak tersimpan.

152. 
Bila berladang di pinggir kota
Jangan habiskan pohon di hutan.
Orang pongah hamburkan harta
Demi mencari penghormatan.

153. 
Tarik becak ke luar kota
Lewati air yang tergenang.
Tarik tambang mengajari kita
Mundur juga bisa menang.

154. 
Kalau pergi ke pulau Bali
Belikan kami bunga kamboja.
Menjerat rusa dengan tali
Menjerat rizki dengan bekerja.

155.
Supaya mahir berenang di laut
Setiap subuh berenang sendiri.
Orang sabar sungguh terkuat
Karena sanggup kalahkan diri.

156.
Tidak semua anak wanita
Suka untuk dimanjakan.
Tidak semua keinginan kita
Layak untuk diperjuangkan.






Kamis, 28 April 2022

Pantun Pagi (3)





Ama Ladda pahlawan kami
Serdadunya tawon dan lebah keramat.
Hati bersih selama di bumi
Jalannya lurus sampai kiamat.

Merantau jauh ke Baubau
Pulang membangun lima menara.
Biarpun jauh di tanah rantau
Jangan lupa sanak saudara.

Masuk hutan mencari mangga
Dapat sebuah bagi berlima
Dalam hidup berumah tangga
Susah senang tanggung bersama

Pergi ke pasar bawa delima
Ada yang jatuh sampai ke tanah.
Semua ejekan kami terima
Jadi awasan untuk berbenah.

Perteguhen, 29 April 2022

Pantun Pagi (2)





Lamalera tempat wisata
Lihat nelayan menangkap paus
Membangun jalan lingkar Lembata
Agar sama merasa puas

Papan jati jangan dibuang
Ditempa jadi peti sejati
Sejak kampanye andalkan uang
Bisa ditebak ujungnya nanti

Di Lamaingu banyak rusa
Dikejar anjing sampai ke Tanggir
Kita semua sama senusa
Mengapa tirikan lain ke pinggir

Perteguhen, 28 April 2022

Selasa, 26 April 2022

Pantun Pagi (1)






Sepeda butut dalam garasi
Kenangan Patua dari Lelata.
Kalau sudah di atas kursi
Jangan lupa pada jelata.

Indah nian tanah Lembata
Berpagar mawar penuh duri.
Menutup mata pada jelata
Patahkan kaki kursi sendiri.

Menjemur baju di Riangbaka
Setelah direndam dalam kanji.
Suara rakyat emas belaka
Bayarkan dengan tepati janji.

Kopi Boto enak sekali
Harumnya sampai ke Sina Jawa.
Janji diumbar berkali-kali
Tak ditepati menyiksa jiwa.

Kami merantau ke Malaysia
Berbekal ketupat dan jagung titi
Kami pun sesamamu manusia
Kenapa pinggirkan ke gigir titi?

Perteguhen, 27 April 2022


Senin, 07 Maret 2022

1000 Pantun Pendidikan










Spesifikasi:
Kode: 0120058
Judul: 1000 Pantun Pendidikan
Penulis: Agus Adnan Salwa, Aini Rizqoh, Anastasia Novalita, Andri Saputra, Ani Purwati, Ani Sumiani, Asmin Adi Purna, Ayu Pebrina Dewi Setyorini, Bekti Susilowati, Catharina Yenny Indratno, Cipto Sudarso, Daniel Duli Machriba, Desi Futriana, Dina Hanif Mufidah, Dyah Sinto Rini, Elisabet Sri Hartati, Emi Wahyuni, Ening Yuni Soleh Astuti, Erum Rumiasih, Etty, Fahmi Andriani, Fransisca Dafrosa, Gusnery, Harlinah, Hidayati, Imas Susilawati, Ipah Latipah, Izatul Laela, Jajang Sudirman, Julidian, Kasnidar, Lorentina, Masyunita, Misdianto, Mufarihah Iha, Nelda Wita, Nikkanaria, Ninda Solikhah, Ninik Anwarini, Norhayati Pandi, Nurhayati, P. Nuraeni, Petrus Surjiyanta, Rabiyatul Adawiyah, Rasuna, Raudhoh Naratiba, Ria Lestari, Rini Daraini, Samsul Bahri, Siti Aminah, Sri Rejeki, Sri Wurniyati, Sumiarsih, Sunarto, Suparni, Suprihadi, Swesti Amelia, Taufik Mulyana, Titin Ernawati, Tri Purwanto, Triyanti Fitasari, Wakidi Kirjo Karsinadi, Wiwit Sri Rejeki, Yanti Aries Putri, Yanti Rosa, Yenni Merdekawati, Yerem B. Warat, Yurmanovita
ISBN: 978-623-7421-54-2
Terbit: 15-Feb-22
Tebal: 218 (viii+210) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp100.000
Finishing: hardcover


Deskripsi:
1000 Pantun Pendidikan adalah kumpulan pantun hasil tulisan anggota Komunitas Guru Menulis. Memuat 1.118 buah pantun karya 68 penulis. Komunitas Guru Menulis mengajak para anggotanya yang sebagian besar berprofesi sebagai guru untuk melestarikan dan mewariskan budaya asli Nusantara ini kepada generasi berikutnya. Harapannya penerbitan 1000 pantun pendidikan ini menjadi persembahan yang berharga bagi pelestarian budaya yang sangat luar biasa ini sehingga pantun akan terus dinikmati dan dihidupi di masa-masa mendatang oleh generasi berikutnya. Melalui buku ini Komunitas Guru Menulis ingin menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada seluruh anak bangsa dalam bentuk pantun.

Daftar Pmantun:
Wakidi Kirjo Karsinadi

Rabu, 31 Maret 2021

Mari Berpantun Senangkan Hati, Pantun Pendidikan

Pantun Yerem B. Warat
sumber gambar: http://pendaki.id/







Orang Timur bawa bendera
Benderanya dari kain belacu
Mari berpantun dengan gembira
Wariskan nilai ke anak cucu

Di Baobolak tiada kancil
Tapi rusanya berlipat-lipat
Kalau berguru pada yang kecil
Kerendahan hati bakal kaudapat

Dari Suba ke kampung sebelah
Lamanya cuma tujuh kerdipan
Orang pandai dari sekolah
Orang bijak dari kehidupan

Tikus kesturi di lubang batu
Matanya lebar membelalak
Hidup jangan membuang waktu
Agar tak jadi sesalan kelak

Mendaki gunung Ile Mandiri
Jangan lupa membawa bekal
Kecapi keringat diri sendiri
Agar nikmatnya hingga kekal

Pergi ke ladang menunggang sapi
Jangan lupa memberinya makan
Pesan ibu harap resapi
Nasihat ayah harap jalankan

Bila sudah pulang sekolah
Jambu kelutuk dikunyah-kunyah
Orang bijak tangani masalah
Orang dungu meninggalkannya

Di Pintubesi tiada tuala*
Tapi menyayur banyak santannya
Dalam masalah ada pahala
Bila setia menanggungnya

Cawan kotor perlu dicuci
Jangan dibuang atau direndam
Memaafkan itu ibadah suci
Jangan kotori dengan mendendam

Kalau membangun rumah suku
Jangan selisih pasang bata
Belajar tak hanya dari buku
Belajar pun dari kehidupan nyata

Ibu membeli ikan kuring
Untuk menjamu semua tamu
Dengar nasihat di atas piring
Tertelan jadi darah dagingmu

Pakai kain perlu yang kering
Agar jangan sakit perutmu
Hindari kelahian di atas piring
Sebab kelahi mengusir rizkimu

Beli ayam panggang kalasan
Untuk makan sekeluarga
Menolong jangan harap balasan
Agar upahmu besar di surga

Kain kebaya dari katun
Tergantung rapi di dalam kemah
Mari sama bertutur santun
Agar betah semua di rumah

Bocah kecil baru begini
Diberi tuak mabuk nanti
Walau berpantun sampai di sini
Ingat pesannya sampai mati

Dari ladang, 05 Juli 2020

*) Tuala=Kelapa, kata bahasa daerah Tanah Karo, Sumatera Utara.







Jumat, 08 November 2019

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Penjelasan apa itu pantun dan pantun seperti apa yang diharapkan bisa ditonton di video berikut:
 
 



Yuk tulis pantunmu, PANTUN PENDIDIKAN.
Bisa berupa pantun nasihat, pantun teka-teki, pantun nasihat keagamaan, pantun budi, pantun kias.

pantun terdiri dari 4 baris
rima abab
2 baris pertama adalah sampiran
2 baris kedua adalah isi

untuk proyek kali ini, panjang per baris tidak boleh melebihi 12 suku kata



5000 pantun pendidikan
tebal 500 halaman
jilid hard cover


Kita akan terbitkan 5000 pantun pendidikan, setebal 500 halaman, cetak pada buku ukuran 15x23 cm dan jilid hardcover.

Ini terbit ya, bukan cetak, jadi ber-ISBN.

Kirimkan MINIMAL 10-20 pantun ke terbitkanbuku@gmail.com. Nanti akan diseleksi 10-14 pantun untuk diterbitkan.
  • Sertakan biodata narasi maksimal 40 kata (tidak boleh lebih).
  • Sertakan foto diri close up (dada ke atas) dalam file gambar (JPG/JPEG).
  • Sertakan foto KTP penulis
  • Anda wajib mengisi DATA PENULIS.xls yang akan dikirimkan bersamaan balasan email atas kiriman naskah Anda.
Penting: 
  • Naskah Anda akan melewati proses penerbitan standar dan akan diterbitkan oleh Penerbit Anggota IKAPINaskah Anda akan benar-benar diedit (dari segi isi dan bahasa) oleh seorang editor.
  • Mohon tidak mengirimkan naskah jika Anda tidak menyepakati dengan segala ketentuan yang tertulis mengenai proyek ini.

Setiap kontributor diminta ikut membiayai penerbitan ini sebesar Rp227.500 dan akan mendapatkan 2 eks buku contoh terbit. Belum termasuk ongkos kirim. Harga ini adalah harga 2 eks buku dikurangi diskon 25% (diskon pengarang) dan royalti 10%. Harga buku normal Rp175.000. Jadi untuk pencetakan pertama royalti sudah langsung diterima oleh semua kontrbutor lewat potongan harga saat membayar biaya penerbitan senilai Rp227.500 (jika tanpa diskon seharusnya Rp350.000).

Apakah bisa mengirim pantun lebih? Bisa dan jika layak terbit, kontributor diminta sanggup membiayai penerbitan sebagai berikut (belum termasuk ongkos kirim):
  • Jika dimuat maksimal 32 pantun, kontribusi Rp455.000 (mendapatkan 4 eks buku contoh terbit seharga Rp700.000 + sertifikat)
  • Jika dimuat maksimal 50 pantun, kontribusi Rp682.500 (mendapatkan 6 eks buku contoh terbit seharga Rp1.050.000 + sertifikat)
Pembelian selanjutnya penulis mendapatkan diskon 25% (atau net Rp131.250).
Royalti (10%) atas penjualan sesudahnya akan dilaporkan setiap akhir tahun.
Pencetakan berikutnya menunggu sesudah ada pesanan minimal 500 eks (karena ini cetak offset).

Ditunggu sampai terdapat 5000 pantun untuk diterbitkan.




Jumat, 01 Maret 2019

Proyek Penulisan dan Penerbitan Pantun Berkelanjutan




Proyek ini sudah menghasilkan buku kumpulan pantun sebagai berikut:
  1. PantunPendidikan Kumpulan Pantun Komunitas Guru Menulis Buku 1
  2. Guru BerpantunKumpulan Pantun Komunitas Guru Menulis #2
  3. Pantun Nusantara Kumpulan Pantun KomunitasGuru Menulis #3
Proyek Berkelanjutan
Para penulis diminta untuk mengirimkan pantunnya sesuai dengan jenis dan tema pantun.
Jenis dan jumlah pantun yang dapat dikirim dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.
Selain pantun, penulis juga diundang untuk mengirimkan artikel tentang pantung. Artikel bisa berupa teori tentang pantun, atau tentang pengalaman nyata di dalam berpantun di kelas, misalnya.
Naskah bisa dikirimkan ke komunitas.guru.menulis@gmail.com
Catatan penting: tulisan hasil copy paste tidak akan diterbitkan.

Syarat dan Biaya:
Sanggup membiayai penerbitan ini secara bersama-sama. Biaya dihitung bersadarkan jumlah pantun 
yang dikirim dan dibayarkan sesudah konfirmasi penerimaan naskah. Besarnya sebagai berikut:

Jumlah PANTUN

Jumlah Halaman
maksimal

Biaya Penerbitan

Jumlah Contoh Terbit

1-30

6

Rp125.000

2 eks buku

31-60

11

Rp165.000

3 eks buku

61-90

16

Rp235.000

4 eks buku

91-120

21

Rp305.000

5 eks buku

121-150

26

Rp385.000

6 eks buku

151-180

31

Rp455.000

7 eks buku

181-210

36

Rp530.000

8 eks buku

211-240

41

Rp605.000

9 eks buku

241-300

51

Rp755.000

10 eks buku

301-419

72

Rp955.000

10 eks buku

420-650

112

Rp1.355.000

15 eks buku


Biaya di atas masih ditambah dengan ongkos kirim.



Jenis Pantun Menurut Bentuk
[1] Karmina
Karmina adalah pantun kilat atau pantun dua seuntai, terdiri dari 2 baris dengan rima a-a. Baris pertama merupakan sampiran, baris kedua merupakan isi. Karmina digunakan untuk sindiran atau ungkapan langsung.
Mohon diperhatikan bahwa sebenarnya Karmina terdiri dari 4 baris pendek, masing-masing baris terdiri dari 4-5 suku kata, yang kemudian diucapkan seolah-olah satu baris.

Contoh:
Pisang kepok
pisang berbiji,
Anak mondok,
diambil istri
Lalu dijadikan:
Pisang kepok, pisang berbiji
Anak mondok, diambil istri
Naskah bisa dikirimkan ke komunitas.guru.menulis@gmail.com
Pantun
Pantun lazim terdiri dari 4 baris, masing-masing baris terdiri dari 8-12 suku kata. Dua baris pertama adalah sampiran, dua baris terakhir adalah isi atau pesan. Pantun memiliki rima ab-ab.

Menurut isinya pantun dibedakan menjadi:

[2] Pantun Adat

Contoh:
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka
[3] Pantun Agama
Contoh:
Bunga kenanga di atas kubur
Pucuk sari pandan Jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa
[4] Pantun Budi
Contoh:
Kalau keladi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
Kalau budi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
[5] Pantun Jenaka
Contoh:
Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada di dalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya
[6] Pantun Kepahlawanan
Contoh:
Redup bintang haripun subuh
Subuh tiba bintang tak nampak
Hidup pantang mencari musuh
Musuh tiba pantang ditolak
[7] Pantun Kias
Contoh:
Berburu ke padang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi
[8] Pantun Nasihat
Contoh:
Jalan-jalan ke Kota Blitar
jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun
[9] Pantun Percintaan
Contoh:
Ikan sepat dimasak berlada
Kutunggu digulai anak seberang
Jika tak dapat pada masa muda
Kutunggu sampai beranak seorang
[10] Pantun Peribahasa
Contoh:
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
[11] Pantun Perpisahan
Contoh:
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi
[12] Pantun Teka-Teki
Contoh:
Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk di hidung?
Catatan: semua contoh di atas diambil dawi Wikipedia
Naskah bisa dikirimkan ke komunitas.guru.menulis@gmail.com
Talibun
[13] Talibun 6 baris
Adalah pantun dengan 6 baris dengan 3 baris pertama berisi sampiran, 3 baris terakhir berisi isi. Rima abc-abc.
Naskah bisa dikirimkan ke komunitas.guru.menulis@gmail.com
[14] Talibun 8 baris
Adalah pantun dengan 8 baris, 4 baris pertama sampiran, 4 baris kedua merupakan isi. Rima abcd-abcd.
Naskah bisa dikirimkan ke komunitas.guru.menulis@gmail.com
[15] Talibun 10 baris
Terdiri dari 10 baris. 5 baris pertama sampiran, 5 baris terakhir isi. Rima abcde-abced.
Talibun biasa digunakan untuk
  1. Mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat dll
  2. Mengisahkan keajaiban sesuatu benda/peristiwa
  3. Mengisahkan kehebatan seseorang
  4. Mengisahkan kecantikan seseorang
  5. Mengisahkan kelakuan dan sikap manusia
  6. mengisahkan perlakuan di masa lalu
  7. mengisahkan seperti peperangan pada masa lalu
Contoh talibun 6 baris: 

Jalan-jalan ke kota Malang
Jangan lupa membeli batu
Batu kecubung bukan kalimaya
tuntutlah ilmu dengan riang
Agar menjadi orang berilmu
Yang tak takut menghadapi bahaya

sumber: (http://www.kelasindonesia.com/2015/04/pengertian-ciri-ciri-dan-contoh-pantun-talibun.html)

Contoh talibun 8 baris 

Kayu belah dierat dengan paksa
Kayu dierat dengan kain batu bata
Bata dibakar di atas bara
Bara menyinar membuat dahaga
Wahai kalian yang berbeda-beda agama
Hindarilah konflik bersenjata 
Persatuan dijaga,  toleransi dipelihara
Agar hidup damai dan tenteram terjaga

sumber: (http://www.kelasindonesia.com/2015/04/pengertian-ciri-ciri-dan-contoh-pantun-talibun.html)

Contoh talibun 10 baris:

Hujan di bulan tak itu hanya bualan
Bulan memerah tak bisa menjadi acuan
Hujan di bumi tak kunjung datang
Taburkan api dengan garam
Agar menimbulkan awan yang keputihan
Abang datang membawa kebahagian
Untuk Adik yang sedang tak karuan
Tolong jangan berbobohong sayang
Sudah cukup Adik menahan suram
Bawalah Adik ke luar dari kepedihan

sumber: http://www.kelasindonesia.com/2015/04/kumpulan-contoh-pantun-talibun-lengkap.html

[16] Penulisan artikel tentang pantun

Ibu Bapak juga boleh mengirimkan artikel tentang pantun. Artikel bisa berupa 
(1) teori tentang pantun, sejarah pantun, atau 
(2) best practice di dalam menggunakan pantun di dalam pembelajaran
(3) feature tentang praktik berpantun sebagai budaya masyarakat

Panjang artikel maksimal 1000 kata.

Tidak boleh copy paste. Bahasa harus orisinil. Artikel akan diseleksi kelayakannya dan dipilih yang terbaik untuk diterbitkan bersama.

Naskah bisa dikirimkan ke komunitas.guru.menulis@gmail.com

Biodata Penulis
Bersamaan dengan pengiriman naskah, peserta wajib menyertakan BIODATA PENULIS pendek (maksimal 50 kata) dalam file terpisah dengan dinamai Nama Lengkap Beserta Gelar. Jangan memamerkan diri dalam biodata ini tetapi cukup cantumkan informasi paling penting. Kali ini kami akan ketat membatasi panjang biodatanya. Kalau sudah punya banyak sekali pengalaman mengajar? Pilih yang paling ingin ditonjolkan dan ditambah keterangan, misalnya, "pernah mengajar di 25 sekolah lain". Kalau sudah menerbitkan ratusan buku? Sebut saja yang paling membanggakan dan ditambah, misalnya, "ratusan buku lain".

Foto Diri
Sertakan foto diri yang menarik dalam file terpisah dalam format JPG (tidak boleh ditempel di Word karena akan merepotkan kerja kami), dinamai Nama Lengkap Beserta Gelar.

Siapa yang boleh ikut proyek ini?
Siapa saja asal sepakat dengan ketentuan yang ada (silakan baca selengkapnya semua postingan ini).

Data Penulis:
Mengisi dan Mengirimkan kembali DATA PENULIS dalam format Excel (file akan dikirimkan setelah Anda mengirimkan naskah).