Pantun Pembuka
1.
Benderanya dari kain belacu.
Mari berpantun dengan gembira
Wariskan nilai ke anak cucu.
2.
Jadi bekal dalam taufan.
Kalau lumbung menyimpan padi
Pantun menyimpan kearifan.
3.
Menari-nari hingga ke udik.
Bungkus nasihat dalam pantun
Merdu didengar hati terdidik.
4.
Bersiul-siul di Subawutun.
Memang pantun menyukakan hati
Mari kita berbalas pantun.
5.
Masih ke kali mencari belut.
Menyimpan uang dalam dompet
Menyimpan diri dalam mulut.
6.
Sampai malam di Kalibata.
Siapa menolong orang buta
Si buta tak lihat, Tuhan tak buta.
7.
Jikalau tidak berkain lampin.
Jangan bermimpi jadi pemimpin
Jikalau tak pernah taat dipimpin.
8.
Setiap mendaki berkalung batu.
Sekotor-kotornya sandal di kaki
Sudah menghantar kita ke pintu.
9.
Setiap hendak berbalas pantun.
Seperti tawas jernihkan air
Setiap derita jernihkan batin.
10.
Sandarkan beban ke punggung bukit.
Satu lawan terlalu banyak
Seribu kawan terlalu sedikit.
11.
Sungguh rapi disusun Jamal.
Siapa menulis dengan iklas
Sungguh sudah berbuat amal.
12.
Jangan lupa bawa petasan.
Jikalau mau hidupmu tenteram
Jangan suka barang rampasan.
13.
Andai diminum jadi sakti.
Lelah ayah kuatkan kaki
Letih ibunda kuatkan hati.
14.
Dapat sebuah bagi berlima.
Supaya rukun berumah tangga
Susah senang tanggung bersama.
15.
Sandarkan bahu di batu kasar.
Orang sombong bermulut besar
Orang bijak berjiwa besar.
Pantun Berima Awal aabb, Rima Akhir abab
16.
Jikalau sedang di depan kaca.
Parang tajam karena diasah
Pikiran tajam karena membaca.
17.
Hadiah indah dari ibuku.
Jejak petani ada di ladang
Jejak penulis ada di buku.
18.
Masuk saja ke hutan keramat.
Buka mata menangkap alam
Buka hati menangkap hikmat.
19.
Beri makan pisang raja.
Orang pintar tergoda mencongkak
Orang bijak biasa saja.
20.
Jambu kelutuk incarannya.
Orang bijak hadapi masalah
Orang congkak meninggalkannya.
21.
Ayunkan dekat tiang tunggal.
Kian tergesa engkau pergi
Kian jauh engkau tertinggal.
22.
Bawa serta bunga melati.
Dalam peti tersimpan kain
Dalam kata tersimpan hati.
23.
Benamkan dalam ladang Paiman.
Dari kata terlihat hati
Dari laku terlihat iman.
24.
Pancinya ada di tepi gua.
Buka pintu dengan kunci
Buka hari dengan berdoa.
25.
Membuai alam juga tekukur.
Tutup mulut dengan diam
Tutup hari dengan bersyukur.
26.
Ditanam oleh kakak beradik.
Siapa membaca ia belajar
Siapa menulis ia dididik.
27.
Sebelum pulang ke Mataloko
Tiada hidup tanpa maut
Tiada sukses tanpa risiko.
28.
Saat kepala sudah di bantal.
Badai angin kuatkan pohon
Badai derita kuatkan mental.
29.
Ditumbang angin tadi malam.
Jangan harap menatap bintang
Jikakalau takut menembus malam.
30.
Pulang membawa bunga melati.
Siapa pandai mengisi waktu
Sungguh beruntung di hari nanti.
31.
Jadi hunian ular beludak.
Siapa suka membuang waktu
Siap-siap menyesal kelak.
32.
Jangan hiraukan anjing melolong.
Bandingkan diri dengan yang lain
Bakalan minder ataupun sombong.
33.
Dikejar anjing sampai ke Tanggir.
Kita semua sama senusa
Kenapa tirikan kami ke pinggir?
34.
Untuk tak lagi makan sendiri.
Lidah dipagar pasukan gigi
Untuk tetap menjaga diri.
35.
Sepanjang hari menari-nari.
Kalau api mematangkan nasi
Setiap masalah mematangkan diri.
36.
Lama-lama tertangkap rusa.
Mula-mula rasa terpaksa
Lama-lama jadi biasa.
Pantun Berima Awal abab, Rima Akhir abab
37.
Paling beruntung sampai nanti.
Seperti api memurnikan emas
Pedih derita murnikan batin.
38.
Sampai di pucuk kaki terikat.
Ramai-ramai kami memohon
Sampai Tuhan turunkan berkat.
39.
Kalau lupa membawa sorban.
Guna apa menunda-nunda
Kalau menunda menambah beban
40.
Kalau nafas terengah-engah.
Untuk apa bergadang malam
Kalau tidak bernilai tambah.
41.
Sampai juga di tanjung Selamat.
Hati-hati membawa diri
Supaya sampai dengan selamat.
42.
Untuk menghantar semua kiriman.
Hati-hati membuang bahasa
Untuk tidak tersinggung teman
43.
Minum selalu air putih.
Supaya cepat menjadi mahir
Mari kita terus berlatih.
44.
Singkirkan jauh parang terasah.
Kalau bukan karena anak
Siapa tahan menanggung susah?
45.
Belum tentu sama mengail.
Sama-sama kita berjuang
Belum tentu sama berhasil.
46.
Kalau belum berbasuh muka.
Guna apa membanting tulang
Kalau untuk narkoba belaka.
47.
Kasih makan burung pungguk.
Mari berguru pada bambu
Kian tinggi kian merunduk
48.
Kalau berujung mandi tak jadi.
Untuk apa bekerja keras
Kalau berujung di meja judi.
49.
Berlari-larian hingga ke teras.
Sukses besar bakal tercapai
Berkat kemauan dan kerja keras.
50.
Tunggui ikan bersukaria.
Kalau kerja sudah di tangan
Tekuni terus dengan setia.
51.
Pantainya putih tempat bermain.
Seperti sapu membersihkan lantai
Pedih derita bersihkan batin.
52.
Datang dekat terasa pahit.
Selagi jauh saling merindu
Datang dekat saling menggigit.
53.
Di sana-sini kulihat tenggiri.
Saat senang banyak saudara
Datang susah badan sendiri.
54.
Sehingga tidak kena gencetan.
Untung saja cepat menyayap
Sehingga dapat tergapai impian.
55.
Supaya tidak sampai terjatuh.
Hati-hati langkahkan kaki
Supaya tidak tersandung jatuh.
56.
Kalau berlabuh di tengah bakau.
Untuk apa bermimpi jauh
Kalau yang dekat belum terjangkau.
57.
Agar terbeli burung merpati.
Pandai-pandai mencari jodoh
Agar dapat pasangan sejati.
58.
Kalau di rumah berlimpah juga.
Untuk apa terus merokok
Kalau usia terbakar juga.
59.
Habis mengaum senang tak jadi.
Susah-susah mencari uang
Habis-habisan di meja judi.
60.
Kalau tak sanggup menahan ludah.
Apa guna bertutur bijak
Kalau tak sanggup mengekang lidah.
61.
Jangan main ular tangga.
Kalau mau hidupmu tenang
Jangan rampas piring tetangga.
Pantun Berima Akhir aaaa
62.
Untuk mengisi hari-harinya.
Tiap pekerjaan mengajari kita
Jalan terbaik melakukannya.
63.
Mangsa ada di belakangnya.
Kebaikan hati mendidik bangsa
Kejahatan menghancurkannya.
64.
Bulan tersenyum di atas taman.
Siapa pingin laris jualan
Polesi wajah dengan senyuman.
65.
Pulang membawa buah kelapa.
Kalau boros membunuh mama
Maka bohong membunuh bapa.
66.
Bawa serta daun kemiri.
Buah busuk jatuh sendiri
Hati busuk susah sendiri.
67.
Berenang-renang dengan senangnya.
Sepahit-pahitnya daun pepaya
Tahan mengunya dapat manisnya.
68.
Hadiah dari putera raja.
Orang bijak berhati mulia
Walau dicerca tenang sahaja.
69.
Cari juga buah kenari.
Siapa berbohong menipu diri
Bakalan rugi diri sendiri.
Pantun Berima Alkhir abab
70.
Tapi rusanya berlipat-lipat.
Kalau berguru pada yang kecil
Kerendahan hati bakal kaudapat.
71.
Lamanya cuma tujuh kedipan.
Orang pandai dari sekolah
Orang bijak dari kehidupan.
72.
Batang air kering mengalir.
Tiap pangkal berujung pucuk
Segala hal berujung akhir.
73.
Tapi buahnya bertambah-tambah.
Dalam masalah ada pahala
Bila ditanggung dengan tabah.
74.
Jangan lupa memberinya makan.
Pesan mama harap resapi
Nasihat ayah harap amalkan.
75.
Untuk menjamu semua tamu.
Nasihat bijak di atas piring
Tertelan jadi darah dagingngmu.
76.
Daunnya layu walaupun hidup.
Siapa kelahi di atas piring
Terbuang nasi dan nasib hidup.
77.
Biarpun pahit tetap kutelan.
Pahit-pahit nasihat bapa
Insaf resapi, jadi didikan.
78.
Jangan lupa membawa bekal.
Makan keringat diri sendiri
Nikmatnya tahan hingga kekal.
79.
Matanya besar membelalak.
Hidup jangan membuang waktu
Agar tak jadi sesalan kelak.
80.
Jangan dibuang atau direndam.
Maafkan itu ibadah suci
Jangan kotori dengan mendendam.
81.
Jangan selisih pasang bata.
Belajar tak hanya dari buku
Tapipun dari kehidupan nyata.
82.
Untuk makan sekeluarga.
Menolong jangan harap balasan
Agar upahmu besar di surga.
83.
Tergantung rapi dalam kemah.
Mari sama bertutur santun
Agar betah semua di rumah.
84.
Sebab sakitnya tak tertahan.
Mulut bersih singgahan saudara
Hati bersih singgahan Tuhan.
85.
Kalau sudah salah alamat.
Pikiran bersih tumbuhkan ilmu
Hati bersih tumbuhkan hikmat.
86.
Penuh dengan minyak kemiri.
Mulut kita ibarat bom
Salah bertutur hancurkan diri.
87.
Siapa minum bakal selamat.
Bila mendidik dengan kepalan
Segala harapan jadi kiamat.
88.
Ada emas berkulit kerang.
Kalau kipas mengobarkan api
Maka lidah kobarkan perang.
89.
Terangi nenek sampai pagi.
Seperti Tuhan terhadap kita
Kenapa anjing diusir pergi?
90.
Turun bertengger di dahan bakau.
Dengan siapa engkau berkawan
Bisa ditebak siapa engkau.
91.
Batang terkulai bayi terbuai.
Apa ditanam itu yang tumbuh
Siapa menanam ia menuai.
92.
Jangan panjat pohon kenari.
Siapa suka pamerkan harta
Itu pertanda rendah diri.
93.
Demi mengambil anak panah.
Siapa pingin murah rejeki
Bangun sebelum ayam ke tanah.
94.
Kalau takut kena pijakan.
Mana mungkin batalkan kata
yang telah lanjur terucapkan.
95.
Demi melihat kucing menari.
Janji itu ibarat jerat
Bisa menjerat leher sendiri.
96.
Bawalah tongkat jadi penahan.
Siapa menolong dengan tulus
Ia menabung di tangan Tuhan.
97.
Terus berlayar ke Samarinda.
Supaya cepat meraih sukses
Jangan suka menunda-nunda.
98.
Tepuk jidatmu sekali dua.
Selagi muda malas-malasan
Bakalan susah di hari tua.
99.
Tanyakan saja pada Pasalih.
Orang bisa kehabisan beras
Tapi tak bisa kehabisan dalih.
100.
Bila beranting buah rambutan.
Kepiting pantai berjejak di pantai
Ayam hutan berjejak di hutan.
101.
Sampai ke pasar kota Tobaik.
Seburuk-buruknya perlakuan orang
Tetaplah saja berbuat baik.
102.
Gantikan memang ban yang kempes.
Seperti biji tumbuhkan pohon
Ketabahan hati tumbuhkan sukses.
103.
Terbanglah sampai ke teluk Benyum.
Subuh-subuh bangun sembahyang
Dapati Tuhan tengah tersenyum.
104.
Angkat tanganmu menggapai-gapai.
Siapa mau menunda kesenangan
Cita-citanya bakal tercapai.
105.
Agar tak rapuh satupun benang.
Salama masih menyimpan dendam
Batin tersiksa, hati tak tenang.
106.
Kenangan Patua dari Lelata.
Kalau sudah di atas kursi
Jangan lupa pada jelata.
107.
Berpagar mawar tak berduri.
Menutup mata pada jelata
Patahkan kaki kursi sendiri.
108.
Setelah direndam dalam kanji.
Suara rakyat emas belaka
Bayarkan dengan tepati janji.
109.
Harumnya sampai ke Sina-Jawa.
Janji diumbar berkali-kali
Tak ditepati menyiksa jiwa.
110.
Berbekal ketupat dan jagung titi.
Kami ini pun sesamamu juga
Kenapa pinggirkan ke gigir titi?
111.
Tempat nelayan menangkap paus.
Membangun jalan Lingkar Lembata
Supaya sama merasa puas.
112.
Ditempa jadi peti sejati.
Sejak kampanye andalkan uang
Bisa ditebak ujungnya nanti
113.
Serdadunya tawon dan lebah keramat.
Hati bersih selama di bumi
Jalannya lurus hingga kiamat.
114.
Pulang membangun lima menara.
Biarpun jauh di tanah rantau
Takan lupa sanak saudara.
115.
Bergantung-gantung sampai ke tanah.
Semua ejekan kami terima
Jadi awasan untuk berbenah.
116.
Sambil makan kue ketawa.
Pisau tempahan si pandai besi
Kita tempahan segenap peristiwa.
117.
Pulang membawa buah delima.
Untuk menarik pelanggan baru
Tetap perhatikan pelanggan lama.
118.
Ada saja yang rusak parah.
Sungai luas penawar garam
Hati luas penawar amarah.
119.
Dengan imingan murah-murah.
Lidah kita kipas penyejuk
Bisapun jadi pengobar amarah.
120.
Untuk tetangga tak berpunya.
Apa guna menanam padi
Jikalau tidak berguru padanya.
121.
Sampai juga ke tanah Dairi.
Mulut besar senjata terampuh
Siap membungkam mulut sendiri.
122.
Bawa ke pasar Berastagi.
Dengan bekerja rejeki datang
Kemalasan mengusirnya pergi.
123.
Kami bersama Hasibuan.
Pandai-pandai membawa diri
Agar selamat sampai tujuan.
124.
Pergi bersama bapak Tahnia.
Siapa menulis ia menabung
Harta terindah bagi dunia.
125.
Sampai juga ke pantai Genjer.
Dengan menulis kami memulung
Aneka kearifan yang tercecer.
126.
Kambing betina memamah hijauan.
Siapa pandai membaca tanda
Ia menambang kebijaksanaan.
127.
Anak tikus lari ke kemah.
Cita-cita sekokoh gunung
Hancur karena kehendak yang lemah.
128.
Turun bernaung di bawah atap.
Jangan harap bisa sukses
Kalau tak punya pendirian tetap.
129.
Sampai ke puncak Samasuka.
Tekun bekerja membawa rizki
Kemalasan membawa petaka.
130.
Pucuknya sampai ke muka kios.
Tekun ulet dan tahan banting
Bekal kami menjemput sukses.
131.
Membela nusa dan bangsa sendiri.
Siapa suka menghina orang
Lambat laun terhina sendiri.
132.
Dimakan anjing pagi hari.
Mulut manis mulut berbisa
Siapa terpancing hancurkan diri.
133.
Rasa hangat tetap terjaga.
Niat busuk terbungkus rapi
Lambat laun tercium juga.
134.
Jatuh tersungkur di ujung kaki.
Pagi-pagi bangun sembahyang
Lapangkan jalan bagi rejeki.
135.
Untuk membangun rumah impian.
Mengapa sedih tanggung derita
Sedang derita melatih ketangguhan.
136.
Supaya tidak diguna-guna.
Guna apa berumur panjang
Kalau tak hidup dengan berguna.
137.
Tunggui gagak menyadap getah.
Beban hidup kuatkan batin
Bila ditanggung dengan tabah.
138.
Terbawa jauh hingga ke Kenya.
Jika keluhan menambah beban
Ketabahan hati meringankannya.
139.
Kulit buaya dari lembah.
Siapa iklas menanggung tersulit
Sudah menolong yang paling lemah.
140.
Diambil ayah jadi temali.
Katakan yang baik dengan baik
Ataupun tidak sama sekali.
141.
Untuk ditatap setiap kali.
Lakukan yang baik dengan baik
Ataupun tidak sama sekali.
142.
Siang malam selalu siaga.
Berjuang keras pantang menyerah
Lambat laun berhasil juga.
143.
Sampai di puncak diberi jamu.
Di kintal gubug menanam jagung
Di kintal buku menanam ilmu.
144.
Anak nelayan bersukaria.
Siapa menulis ia menanam
Dalam lahan seluas dunia.
145.
Sudah di jalan lupa ketupat.
Perut tenang karena nasi
Hati tenang karena berhikmat.
146.
Sama juga di laut Banda.
Orang serakah tak akan puas
Dengan semua apa yang ada.
147.
Kalau sedang mengejar mangsa.
Keringat sendiri lelapkan tidur
Segala rampasan menggelisahkan.
148.
Jangan juga diseterika.
Niat baik membawa berkat
Niat jahat bawa celaka.
149.
Jangan lupa bawa belati.
Paras elok memikat mata
Budi baik memikat hati.
150.
Ikannya habis sekali jual.
Jejak sepantai terhapus laut
Jejak kehidupan tiada berajal.
151.
Dikirim oleh orang Sampan.
Apa guna membanting tulang
Bila sesenpun tak tersimpan.
152.
Jangan habiskan pohon di hutan.
Orang pongah hamburkan harta
Demi mencari penghormatan.
153.
Lewati air yang tergenang.
Tarik tambang mengajari kita
Mundur juga bisa menang.
154.
Belikan kami bunga kamboja.
Menjerat rusa dengan tali
Menjerat rizki dengan bekerja.
155.
Setiap subuh berenang sendiri.
Orang sabar sungguh terkuat
Karena sanggup kalahkan diri.
156.
Suka untuk dimanjakan.
Tidak semua keinginan kita
Layak untuk diperjuangkan.




























