Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label juara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label juara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2017

Mengenal Juara: Eka Nurbulan dengan naskah "Janji Ibu” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Lucu Guru

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga


Meledakkan dan melampiaskan amarah ke anak-anak? Ya itulah yang terjadi pada penulis ini. Lalu apa yang terjadi? Parah dah pokoknya. Lihat saja lisah lengkapnya di buku Kapur & Papan Pengalaman Lucu Guru 1.



Silakan baca juga:
Mengenal Juara: Elizabeth Tjahjadarmawan dengan naskah "Guru Ketinggalan Kereta” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Lucu Guru

Mengenal Juara: Abdul Rohman dengan naskah "Akibat Telat” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Lucu Guru

Mengenal Juara: Herawaty Azis Simpoha dengan naskah "Maafkan Nilai Minusku” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Widayanti dengan naskah "Jangan Lihat Bajuku”” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: FX Suparta dengan naskah "Dua Keping Kue dan Secangkir Teh” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengenal Juara: Elizabeth Tjahjadarmawan dengan naskah "Guru Ketinggalan Kereta” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Lucu Guru

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga






Seorang murid gendut dan bergerak lambat. Sering nyebelin kan, apalagi ketika berada dalam situasi yang membutuhkan gerak cepat. Namun ternyata ada saatnya orang yang demikian ini memainkan perannya, menjadi penyelamat dalam situasi yang mengejutkan darurat. Itulah yang terjadi dalam kisah ini.

Selengkapnya bisa dibaca di buku Kapur & Papan Pengalaman Lucu Guru 2.

Penulis buku ini memiliki sepabrik prestasi, buanyak suekali pokoknya. Rajin pula mendokumentasikan kegiatannya dalam bentuk tulisan. Cerdas mengamati berbagai situasi dan mencatatnya dalam sebuah tulisan. Sudah menerbitkan beberapa buku, salah satunya Petualangan di Hutan Haminjon: Petualangan Ilmiah Berbasis Karakter.


Baca juga:
Mengenal Juara: Abdul Rohman dengan naskah "Akibat Telat” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Lucu Guru

Mengenal Juara: Herawaty Azis Simpoha dengan naskah "Maafkan Nilai Minusku” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Widayanti dengan naskah "Jangan Lihat Bajuku”” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: FX Suparta dengan naskah "Dua Keping Kue dan Secangkir Teh” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengenal Juara: Abdul Rohman dengan naskah "Akibat Telat” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Lucu Guru

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga

Mengenal Juara: Abdul Rohman dengan naskah "Akibat Telat” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Lucu Guru


Pernah masuk kelas dan mengajar masih mengenakan helm? Itulah yang terjadi pada guru yang satu ini. Selengkapnya bisa dibaca di buku Kapur & Papan Pengalaman Lucu Guru 1.


Baca juga:
Mengenal Juara: Herawaty Azis Simpoha dengan naskah "Maafkan Nilai Minusku” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Widayanti dengan naskah "Jangan Lihat Bajuku”” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: FX Suparta dengan naskah "Dua Keping Kue dan Secangkir Teh” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengenal Juara: Herawaty Azis Simpoha dengan naskah "Maafkan Nilai Minusku” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga
Mengenal Juara: Herawaty Azis Simpoha dengan naskah "Maafkan Nilai Minusku” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman


Herawaty Azis Simpoha atau Hera Azis Simpoha, seorang perempuan pengajar di SMP NEGERI 2 SIMBORO MAMUJU, beralamat di Jalan Poros Tueke-Bulutakkang Kecamatan Simboro Mamuju, guru mata pelajaran IPS.

Lewat kisah ini Herawaty memperlihatkan sikap berbesar hati para muridnya yang mengikuti koba cerdas cermat. Salah satu dari tim memberikan nilai minus dan tentu saja hal itu membuat tim ini tidak jadi pemenang dalam lomba ini.

Kisahnya amat sederhana, tetapi sikap anak-anak itu tidaklah sederhana.

Selengkapnya bisa dibaca di buku Kapur & Papan Kisah Inspiratif Guru 1.



Baca juga:
Mengenal Juara: Widayanti dengan naskah "Jangan Lihat Bajuku”” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: FX Suparta dengan naskah "Dua Keping Kue dan Secangkir Teh” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengenal Juara: Widayanti dengan naskah "Jangan Lihat Bajuku”” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga

Mengenal Juara: Widayanti dengan naskah "Jangan Lihat Bajuku”” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

“Yang itu?” tanyaku tak percaya. Ia menjawab dengan senyuman.
Rasanya aku tidak percaya pada apa yang aku lihat. Fitri membawaku
masuk ke sebuah rumah sederhana, bahkan sangat sederhana jika
dibandingkan dengan teman-temannya yang lain yang pernah aku
kunjungi. Di dalamnya disambut oleh ibunya yang hanya tinggal sendirian,
sementara ayahnya merantau ke luar kota dengan profesi kuli bangunan.

...

Masya Allah, ternyata anak ceria yang kukira anak orang kaya ini
adalah anak dari orang tua miskin yang hebat. Ternyata benar, jangan
hanya menilai anak dari penampilan luarnya saja. Terbukti kali ini aku
salah menilai tentang muridku.


Itulah dua paragraf dari kisah inspiratif ini. Guru kadang salah menerka keadaan muridnya. Kisah ini sekali lagi mengingatkan betapa penting bagi guru untuk benar-benar mengenal muridnya.

Widayanti, S.Pd., penulis kisah ini, memang memiliki banyak pengalaman menarik. Sebenarnya semua guru memiliki banyak pengalaman menarik. Hanya jarang yang lalu mau menyimpannya dengan rapi dalam bentuk tulisan. Maksudnya dengan rapi itu ya disiplin menulis: melihat ulang, merefleksi, lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan. 

Betapa kayanya seorang guru yang mau melakukan hal itu. Kekayaan yang terkumpul dan tergali dari sebuah pengabdian, perjuangan, jerih payah; kekayaan yang tak ternilai.

Widayanti juga sudah membukukan pengalaman-pengalamannya dalam sebuah buku tersendiri, berjudul Diary Sang Guru: Catatan Pendidikan Seorang Guru SD. Tak heran jika beliau bisa memenangi lomba ini. Itu berkat ketulusan dan kedisiplinan dalam memberi yang terbaik. Setiap dalam setiap situasi dan kondisi.

Selengkapnya silakan dibaca di dalam buku Kapur & Papan Kisah Inspiratif Guru 1.




Baca juga:
Mengenal Juara: FX Suparta dengan naskah "Dua Keping Kue dan Secangkir Teh” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengenal Juara: FX Suparta dengan naskah "Dua Keping Kue dan Secangkir Teh” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Kisah Inspiratif 1 Halaman

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga



FX Suparta menjadi bukti bahwa usaha itu bila dilakukan tanpa surut akan membuahkan hasil. Masih ingat ketika beliau ikut lokakarya penulisan best-practice tahun 2015 lalu, naskahnya dibongkar abis oleh rekan-rekan peserta lainnya. Kacau sistematikanya.

Namun beliau tidak berkecil hati. Kritikan teman-temannya itu menjadikannya terpicu untuk terus maju. Terus membaca dan terus menulis. Dan kali ini dia membuktikan bahwa dia bahkan bisa menjuarai salah satu perlombaan yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis dalam Lomba Menulis Kisah Pengalaman Inspiratif 1 Halaman untuk guru.

Kisah ini sederha, bercerita tentang dua buah tangan mungil yang setia menyajikan teh dan kue untuk anaknya. Kasih tulus yang sederhana itu telah mengantar si anak menuju cita-citanya. Sesederhana itu. 

hal sederhana yang dikerjakan dengan kasih telah menjdi sumber kekuatan besar untuk berjuang mengarungi hidup dan memenangkan setiap pergumulan.

Selengkapnya silakan baca di buku: Kapur & Papan Kisah Inspiratif Guru 1





Baca juga:

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru

Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengenal Juara: Sarno R. Sudibyo dengan naskah "Saya yang Kencing di Kelas, Pak!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga



Ini sebuah kisah bagaimana seorang guru menangani kasus "kenakalan" anak di sekolah atau kelas.

Seorang anak kencing di kelas. Bukan anak SD. Anak SMA. Lalu apa?

Ibu Bapak akan melakukan apa kalau amengalami kejadian serupa? Hayo apa? Marah? Marah kepada siapa, pelakunya saja tidak diketahui. Tak satu pun yang mengaku.

Nah, ternyata, bagi seorang guru seperti Pak Sarno ini, kejadian ini justru menjadi kesempatan yang sangat baik untuk lebih mengenal muridnya, persisnya permasalahan seorang muridnya, yang memang sedang membutuhkan perhatian lebih dari siapa pun yang peduli.

Dan ia berhasil. Ia menemukan siapa yang kencing di kelas tanpa harus marah, tanpa ada siswa yang harus dipermalukan, tanpa ada siswa yang harus sakit hati. Malahan ada seorang siswa yang merasa semakin termotivasi karena ada orang yang sekarang mengerti kondisi dan siap membantunya.

Selengkapnya silakan baca di buku Kapur & Papan Mendidik dengan Hati 1.





Baca juga:
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan “I love you, Maam” Pemenang Kedua dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan “Face to Face" Pemenang Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Suatu Pagi Bersama Hasan” Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga


Ini merupakan kemenangan kedua dalam lomba yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis. Sebelumnya Eka Nur Apiyah memenangi juara kedua Lomba Nulis Pengalaman Guru dengan tema Guru yang selalu belajar.

Kisah Hasan ini memperlihatkan bahwa kadang, setelah guru melakukan apa pun untuk "menyelamatkan" seorang siswa yang bermasalah, guru pada akhirnya harus menerima apa pun hasil akhirnya. Guru dalam kisah ini pun demikian. Ia mencoba membantu seorang siswa yang berasal dari keluarga yang kurang mampu agar ia bisa menyelesaikan sekolahnya yang tinggal setahun. Namun pada akhirnya sang guru harus merelakannya pergi agar si anak bisa membantu memperbaiki ekonomi keluarganya.

Selengkapnya silakan baca di buku Kapur & Papan Mendidik dengan Hati 2.


Baca juga:
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan “I love you, Maam” Pemenang Kedua dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan “Face to Face" Pemenang Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Jumat, 03 Februari 2017

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan naskah "Emak Lihatlah Aku” Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga



Untuk kedua kalinya Desi Arianto memenangi lomba yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis: Lomba Nulis Pengalaman Guru dengan tema Mendidik dengan Hati. Sebelumnya ia keluar sebagai pemenang pertama juga untuk Lomba Nulis Pengalaman Guru tema Pengelolaan Kelas dengan tulisan "Face to Face".

Dalam kisahnya kali ini, "Emak Lihatlah Aku", Desi Arianto bercerita mengenai salah satu muridnya yang sebenarnya agak kesulitan mengikuti pelajarannya. Tetapi anak ini memiliki cita-cita bisa lulus SD dan melanjutkan ke SMP favorit di kotanya. Sebuah cita-cita luhur yang tidak gampang untuk dipercayai siapa pun yang mengenal anak ini dengan baik.

Tetapi sebagai guru, Desi Arianto tidak mau menyerah dengan kondisi dan kesulitan yang ada. Terutama dia tidak mau "membunuh" impian muridnya yang satu ini. 
Dengan sebuah tekad yang dilandasi oleh keyakinan akan kekuatan ketekunan dan doa, ia membimbing anak ini sampai akhirnya mimpi itu benar-benar terwujud.

"Emak, lihalah aku, anakmu ini yang bisa diterima di SMP favorit pilihanku!" Demikian akhirnya pekik anak itu disambut oleh lelehan air mata ibu dan gurunya.

Selengkapnya bisa dibaca di buku Kapur & Papan Mendidik dengan Hati 2.

Baca juga:
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan naskah "Mak Sadem dan Tikus Wirok” Pemenang Ketiga dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Rai Sujaya dengan naskah "Kisah Anjing Berkerumunan di Kepalaku” Pemenang Kedua dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Dwitya Sobat Ady Dharma dengan naskah "Lelaki yang Ingin Menikah dengan Dewi” Pemenang Pertama dalam Kontes Nulis Cerpen untuk Guru
Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan “I love you, Maam” Pemenang Kedua dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan “Face to Face" Pemenang Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Maria Inggrit dengan “The Show Must Go On!” Pemenang Ketiga dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Mengenal Juara: L. Bening Parwita Sukci dengan “I love you, Maam” Pemenang Kedua dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga

Dan saat akhir semester tiba, kotak penyimpanan uang denda dibuka
dan uang tersebut saya gunakan untuk membeli makanan kecil untuk
dinikmati bersama. Beberapa mahasiswa yang pernah terlambat atau
tidak masuk kelas juga mendapat hukuman untuk membawa lima potong
makanan kecil untuk dinikmati bersama dengan teman-temannya. Di hari
terakhir kelas, kami berpesta. Beberapa mahasiswa menunjukkan
kemampuan mereka menyanyi dengan iringan gitar, ada pula yang
berusaha menunjukkan kemampuannya menari. Dan di hari itu, saya
mendapat kebahagiaan yang tak terkira, karena banyak dari mereka yang
menyatakan kebahagiaannya karena mampu menggunakan Bahasa
Inggrisnya dalam komunikasi yang sesungguhnya. Dan di hari itu saya
selalu mendapat bingkisan terindah sebagai seorang pengajar Bahasa
Inggris. Di antara komentar-komentar mereka yang dikumpulkan pada
hari itu, banyak terselip ucapan, “Thank you for this semester, Maam,”
“Now I can speak English better,” dan “You make me brave to speak up.”
Dan yang terindah dari semuanya adalah saat mereka menuliskan, “I love
you, Maam.”


Itu sekelumit penggalan dari kisah "I Love You, Maam". ini. Selengkapnya silakan baca di buku Kapur & Papan Kisah Pengelolaan Kelas 1.



Baca juga
Mengenal Juara: Desi Arianto dengan “Face to Face" Pemenang Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015
Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Desi Arianto dengan “Face to Face" Pemenang Pertama dalam Lomba Kisah Pengelolaan Kelas 2015

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga


Berikut ini kutipan dari kisahnya:

Suatu ketika, siang hari setelah perpisahan kelas enam, mereka,
murid-muridku itu mendatangiku sambil duduk melingkar. Wajah mereka
sembab penuh air mata karena sebuah perpisahan. Mereka bersamasama
menggoreskan sebuah tulisan di papan yang mereka tutup dengan
selembar kain. Setelah kain tersibakkan, mampu kubaca deret tulisan itu

“Bapak telah mengubah kami. Kami rindu kebersamaan yang akan
berakhir di kelas ini. Sampai kapan pun kami tidak akan melupakan
kenangan yang terjadi. Terima kasih atas ilmu dan nilai kehidupan yang
diajarkan. Terima kasih atas semuanya, We Love You!”

Tak terasa mataku berkaca-kaca, air meleleh perlahan jatuh semakin
lama semakin berderai. Aku menangis untuk sebuah hal yang aku tak
bisa mengerti. Aku menangis tanpa pernah tahu atas sebuah hal yang tak
kupahami. Melihatku meneteskan air mata, serta-merta mereka semua
beranjak dan memelukku erat sesenggukan. Aku diam mematung penuh
keharuan.

“Terima kasih, Nak…” dalam hatiku lirih tertahan.

Guru tidak sekedar menuliskan deret-deret angka kognitif saja
Guru tidak sekedar berdiri dan bercerita, tapi lebih dari itu
semua.
Ia ada meski dunia tak pernah memerhatikannya.
Ia ada dalam setiap ketiadaan yang menjelma.
Guru akan selalu hidup dalam hidup semua murid-muridnya.


Face to face, sesuai maknanya, adalah sebuah sikap menghadapi murid satu per satu, muka ke muka. Mengenal mereka satu demi satu, muka demi muka, hati demi hati, pergumulan demi pergumulan. Itu yang dilakukan sang penulis, yang adalah guru sebuah sekolah dasar. Ia berhasil masuk ke hati murid-muridnya, satu demi satu, semuanya, tanpa satu pun terkecuali.

Selengkapnya silakan baca di buku Kapur & Papan Kisah Pengelolaan Kelas 1.

Baca juga:
Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Ria Santati dengan naskah "Piala Pertama" Pemenang Ketiga dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga


Dalam kisah ini sang guru bercerita mengenai muridnya yang mendapatkan sebuah piala, piala pertama yang pernah diraihnya selama hidupnya.

Apa yang istimewa dengan piala? Toh banyak sekali anak yang pernah meraihnya. Tidak hanya sebuah, banyak malah. Namun kenapa piala yang satu ini bisa menjadi sebuah kisah, tidak hanya sekakdar kisah, kisah yang menarik bahkan, bahkan dinilai juri menjadi sebuah naskah pemenang?

Baca aja sendiri ya, hanya dalam buku KAPUR & PAPAN Kisah Guru-Guru Pembelajar 1.


Berikut ini apa yang dikatakan penulis tentang proses kreatif:

MENULIS , SEBUAH PROSES KREATIF
Berbicara proses kreatif saya menulis adalah memfungsikan panca indra secara sadar. Ya, karena alasan sibuk kerap kali saya tidak menggunakan panca indra saya dengan kesadaran, berlalu begitu saja.
1.       Melihat
2.       Berbicara, berdialog
3.       Mendengarkan
4.       Membaui, mencecap, mengunyah
5.       Membatinkannya
6.       Menuliskannya
Meski demikian sebuah akhir tulisan tidak pernah sesederhana itu. Adakalanya beberapa peristiwa, kejadian yang saya temui atau alami berhenti di tulisan pendek dan tak pernah dibuka lagi hingga berbulan bahkan bertahun kemudian. Lalu saya membuka kembali folder itu dan membacanya dengan kaca mata yang berbeda. Tetapi ada pula tulisan yang langsung jadi. Yang  ini banyak saya posting langsung di dinding facebook saya.
Selain kumpulan folder ‘Tulisan-tulisanku” di lap top saya, saya juga membuka sebuah blog. Dulu saya cukup rajin menambah tulisan-tulisan dalam blog saya, tetapi lama kelamaan saya kerap tak sabar dengan jaringan internet yang lamban, ditambah perhatian saya pada hal lain, membuat saya meninggalkan kesukaan tulis-menulis itu.
Baru-baru ini adik bungsu saya menyarankan saya mempunyai blog pribadi alasannya karena kadang tidak semua orang yang saya kenal suka dengan status facebook saya, bisa dimaknasi secara salah oleh mereka karena merasa tersindir. Saya pikir baik sekali ide itu, mengapa saya tidak menghidupkan lagi blog saya? Dan sekarang saya tengah mengumpulkan lagi tulisan-tulisan saya yang usang sekali  pun.
Mengapa saya suka menulis?
Saat kuliah di Universitas Indonesia, jarak dari rumah ke kampus hanya sekitar 5km saja. Naik angkutan umum disambung bis kampus hanya memakan waktu 15menit. Sering saya merasa bosan dengan perjalanan yang singkat itu. Lalu pada suatu hari saya berangkat lebih awal dan menumpang KRL dari stasiun UI ke arah Jakarta kota. Di tahun itu KRL masih berhenti di stasiun Gambir. Saya turun di sana dan…hanya duduk di peron hingga waktunya saya harus berangkat ke kampus.
Apa yang saya lakukan 2-3jam di peron? Mengamati orang yang lalu lalang sambil membayangkan kira-kira berapa usianya, apa yang sedang ia pikirkan, apa yang membuatnya tertawa, dan seterusnya. Begitu saja. Tampaknya sungguh pekerjaan yang sia-sia. Tetapi entah mengapa saya selalu merasa segar usai melakukannya. Banyak peristiwa kecil yang menarik yang menginspirasi atau sekadar menghibur.
Hal lain pada dasarnya saya suka bercerita, menceritakan kehidupan saya, pemikiran-pemikiran saya, harapan, kegelisahan, dan mimpi saya pada para sahabat. Sebenarnya tidak banyak teman untuk berbagi hal-hal seperti itu karena dalam pengalaman berbagi cerita, tak banyak orang punya waktu untuk mendengarkan. Semakin ke sini semakin sedikit teman yang saya bisa berbagi. Menurut saya mungkin semakin dewasa usia seseorang semakin ia selektif, hanya membicarakan hal-hal penting dengan  orang yang memiliki pemikiran yang sama.
Teman-teman untuk berbagi pun kian berjauhan. Membutuhkan waktu khusus untuk bertemu. Bahkan ongkos yang tak sedikit. Hal itulah yang membuat saya kian  menemukan pentingnya media tulisan untuk mengeluarkan unek-unek, membagikan pengalaman dan pandangan. Lebih lagi di jaman sekarang, seseorang yang suka menulis memiliki banyak ruang dan media.
        Hobi saya yang lain adalah nonton film. Sejak saya mempunyai penghasilan sendiri – artinya itu semester 5 kuliah saya – saya suka sekali pergi ke bioskop dan menonton film-film bagus. Yang saya sebut film bagus adalah pemainnya, penghargaan yang diraih film itu, dan ceritanya yang memberi inspirasi, menggugah, serta sanggup membuat saya berpikir lebih dalam tentang kehidupan ini.
        Nonton film di bioskop sama menariknya dengan jalan-jalan alias travelling. Bukan perjalanan yang mahal ke luar negeri, tetapi perjalanan kecil  sebagai backpacker ke desa-desa yang belum pernah saya kunjungi, ke hutan, danau, gunung, yang sangat menyegarkan jiwa saya. Di tengah alam bebas itu saya mengenali diri saya sebagai manusia yang diberi Tuhan banyak kemewahan. Sekaligus dipanggil untuk memberi manfaat bagi lingkungan dan manusia.
        Semuanya terangkum dalam sebuah proses pembentukan menjadi pola berpikir, gaya hidup yang “aku”. Memang pada awalnya saya banyak membaca tulisan orang lain. Kalau puisi saya suka membaca tulisan Sapardi Djoko Damono yang penuh cinta detil pada apa pun yang ditemuinya. Zara Zetira tulisan-tulisan hampir semua saya baca (meski maaf saya tak ingat lagi), Leila S Chudori, Dee Lestari, Ayu Utami, hingga Fira Basuki. Mengapa perempuan? Ya, kebanyakan penulis perempuan seakan mewakili jeritan dan pemikiran saya secara lebih tepat dibanding para penulis laki-laki.
        Meski begitu saya sangat menyukai tulisan-tulisan misteri Agatha Cristie. Dan sama seperti kebanyakan di antara Anda, Lima Sekawan adalah bacaan yang sangat digemari dan tak jarang dibaca berulang-ulang. Hingga kini, buku-buku semacam Lima Sekawan, Si Kembar karya Enid Blyton lengkap ada di rak buku saya. Tetapi buku Totto Chan dan Musashi adalah favorit saya.
        Seiring perjalan usia, buku yang dibaca pun semakin dipilih. Beberapa bacaan rohani, spiritual ringan hingga berat menjadi konsumsi saya. Seperti Cacing dan Kotorannya, atau Sejenak Bijak, tulisan-tulisan Anthony de Mello. Hingga tentu saja Kitab Suci dan kisah-kisah orang kudus dalam gereja Katolik. Saat ini saya sedang ‘menyepi’ dengan buku kecil berisi tulisan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus.
        Saya ingin mengatakan bahwa semua pengalaman, kerja panca indra, dan rasa perasaan saya, serta kesukaan-kesukaan itu, membentuk sebuah pola, membentuk ‘sebuah aku’, yang salah satunya diwujudkan dalam bentuk tulisan. Kalau dulu suka meniru gaya orang lain (yang sempat membuat saya sangat khawatir kebablasan menjadi seorang plagiator), sekarang lebih percaya diri berkisah seperti saya ingin dikenal sebagai “saya”. Maka tulisan orang lain kini menjadi teman bagi saya. Bukan barang yang saya ambil, saya ketik ulang,dan saya publikasikan dengan nama saya.
        Menulis bagi saya adalah proses menjadi,menjadi seseorang. Di dalam setiap masa-nya ada penemuan-penemuan diri. Ketika fase menemukan kebenaran diri yang sejujur-jujurnya, di sanalah akan terbaca tulisan yang apa adanya, tidak dibuat-dibuat, tidak lebay kata anak sekarang.
        Menulis juga sebuah buah pembatinan, refleksi, kontemplasi yang karena dilahirkan oleh seorang pribadi yang bebas, tak akan malu-malu dibagikan pada orang lain. Sebuah pribadi yang jujur pasti tak akan menyimpan kepahitan, sikap buruknya dalam-dalam, justru setelah mendekam dalam kepompongnya ia akan membagikan mutiara-mutiara itu bagi pembacanya.
        Menulis bukan untuk mendapat pujian karena pujian hanyalah gula-gula dari sebuah perjalanan “menemukan”. Mungkin karena proses ini yang sedang saya alami, saya banyak menulis kisah tentang manusia, terlebih perjalanan hidup saya sendiri. Banyak nama yang saya tuliskan dalam kisah-kisah saya, asli tanpa saya ubah, karena saya ingin mengatakan pada para pembaca bahwa tokoh itu ada,bukan khayalan, bukan rekaan. Tulisan-tulisan saya ‘masih’ pada warna “kisah nyata”, entah, mungkin suatu hari saya mampu menulis seperti JK Rawling. Atau tak akan pernah, karena saya bukan dia?
        Pendeknya, menulis adalah melepas amarah, kepenatan, kegelisahan, kelelahan yang memberi gairah dan hasrat baru setelah tanda titik di akhir sebuah tulisan. Banyak orang terbantu menemukan kembali semangat hidupnya yang sudah di ambang keputus-asa-an ‘hanya’ karena sebuah kalimat. Maka, kisah-kisah inspiratif yang bagus tak pantas disembunyikan di kolong tempat tidur. Ia harus diperdengarkan agar dunia ini mendapat pengaruh baiknya. Dan meski menulis itu tidak mudah, saya masih belum punya alasan menghentikannya.


                Solo, 2 Maret 2015

Ria Santati


Baca juga:
Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Mengenal Juara: Eka Nur Apiyah dengan naskah "Mengeja Cinta" Pemenang Kedua dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga




Mengajar adalah rekreasi, menulis adalah cara berbagi. Adalah sebuah kebanggaan menjadi seorang guru. Terkadang anak didik memanggilku dengan sebutan Bu Eka yang manis. Aih, padahal namaku Eka Nur Apiyah. Menuliskan kisah ini adalah bagian dari caraku mencintai mereka. Kelak jika mereka ingin mengenang masa sekolah, akan aku minta mereka membaca buku ini. Mengenalku lebih dekat lewat FB: Eka Nur Apiyah.

Demikian kata penulis mengenai dirinya sendiri.



Dalam kisah ini diceritakan seorang guru yang di kelasnya menghadapi seorang murid yang berbeda dari murid lainnya. Ia terlihat lebih bodoh, dan bahkan belum bisa menulis. BELUM BISA MENULIS padahal sudah kelas 4.

Bagaimana bisa?

Persis itulah yang ditanyakan guru tersebut. Tetapi is tidak hanya berhenti di tanya. Ia mengambil langkah.

Kira-kira kalau Ibu Bapak yang menghadapi kejadian seperti ini, apa yang akan Ibu Bapak lakukan?

Tetapi pada akhirnya, sang guru berhasil membimbing anak ini dengan baik dan tahun 2016 anak terebut sudah lulus SD dan melanjutkan ke SMP. Iya benar! Anak yang sama yang belum bisa menulis dan belum bisa membaca ketika ia duduk di kelas empat itu.


Bagaimana bisa? Anda mungkin bertanya dengan pertanyaan yang sama itu, sekali lagi. Temukan saja jawabannya dalam kisah utuhnya, hanya di buku KAPUR & PAPAN Kisah Guru-Guru Pembelajar 1.
Mengeja Cinta

Mengenal Juara: Florencia Febiola Fanny dengan naskah "Jika Hati Mampu Juara" Pemenang Pertama dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2014

Pemenang satu
Pemenang dua
Pemenang tiga

Florencia Febiola Fanny, lahir di Kota Cirebon, 29 September. Saat ini bekerja di salah satu sekolah swasta di Kota Bandung. Hobinya yaitu membaca, menulis, dan travelling.

Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru SD ini bermimpi ingin menjadi seorang penulis skenario film dan pembuat novel best seller yang bukunya bisa ditemukan di se-antero dunia (terlalu lebay ^-^ ... berharap bisa seperti Andrea Hirata). Di sela-sela kesibukannya, selain bekerja, ia juga tetap melakukan hobinya.


Berikut beberapa petikan dari kisahnya:

Aku duduk dan bersiap membuka buku pelajaran Math yang kubawa,
kemudian seorang anak berkata, “Miss, surat itu untuk Miss....” Aku
tersenyum dan membatalkan niatku untuk membuka buku Math. Mataku
beralih kepada surat itu, tanpa ragu aku pun membuka dan membacanya.

Deg!!! Aku sangat terkejut membaca beberapa rangkaian kalimat di
dalam surat itu. Di mana ada namaku dan nama pelajaran yang kuajar
tertulis dengan jelas di situ. Ada cukup banyak kalimat yang kurang sopan
tertulis di sana. Sontak hatiku bergejolak dan berdegup kencang, pikiranku
tak tenang. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari isi surat ini.

“Apa maksud surat ini?” dengan nada datar aku bertanya penuh
keberanian. Kutatap mata mereka satu per satu secara acak. Tapi tak
kutemukan jawaban yang bisa menenangkan hatiku. Semua bergeming,
beberapa anak mulai menunduk. Aku bertanya-tanya dalam hati,
sebenarnya apa yang sedang mereka lihat? Meja? Buku? Atau alat tulis

yang ada di atas meja? Atau apa? Ada juga anak yang dengan takut-takut
mencuri pandang ke arahku. “Siapa yang menulis ini?” tanyaku lagi. Aku
tak peduli walau pertanyaanku yang sebelumnya tak mendapat jawaban
apa pun dari mereka.

...

Namun akhirnya kisah ini berujung manis. Bagaimana kejadiannya? Apa yang dilakukan guru tersebut? Baca saja kisahnya di buku KAPUR & PAPAN Kisah Guru-Guru Pembelajar 1


"I do thank God because He makes me know my passion. Here I want to thank to all the readers. Without you, all the stories meanless. I really hope this book could be an inspiration for you.
Someone who never stop learning" – (Fanny Florenz)

Baca juga:
Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati
Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Rabu, 01 April 2015

Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua



‪#‎mengenalSangJuara‬ (2)

Praktik mengguru pernah ditelanjangi dengan sangat terbuka tanpa tedeng aling-aling oleh Bapak Rai Sujaya dalam tulisannya yang berjudul "Guru Mendidik dan Mengajar, Yang Mana?" dalam buku Kapur & Papan Kumpulan Kisah Pengalaman Guru yang Jujur dan Menggugah.

Jujur Ibu Bapak, ketika harus memilih, (1) anak dari keluarga baik-baik, kaya lagi, tampan, cerdas, pintar, baik hati, penuh pengertian, atau (2) bermasalah, nakal, hampir tidak pernah melakukan yang benar, pembuat onar. Mana yang Ibu Bapak pilih?

Situasi yang kedua itulah yang dihadapi Ibu Udayati. Bukan saja ia berhadapan dengan anak yang menjengkelkan, tetapi juga ancaman orang tua murid lain yang akan menarik anaknya dari sekolah itu seandainya si pembuat onar masih ada di sekolah itu. Apa yang akan Ibu Bapak lakukan ketika berhadapan dengan situasi yang sama?

Jalan paling gampang tentu saja mengeluarkan anak nakal itu. Tetapi kondisi anak ini justru menghunjamkan serangan tepat di titik hati tempat panggilan keguruan itu berada. Ibu Udayati memilih menyelamatkan si anak jahanam, meski ia tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa digenggam untuk meyakinkan pilihannya, dengan risiko yang sudah sangat jelas menanti kegagalannya.

Seorang pendidik memang harus menjadi guru untuk muridnya, seperti yang ingin dikatakan oleh buku tulisan Bapak St Kartono. Di sini juga Ibu Udayati memilih menjadi guru untuk muridnya, murid yang tersingkirkan, murid yang tiada memberikan seberkas pun harapan. Seorang pendidik berani mengambil risiko bahkan yang paling menakutkan sekali pun, termasuk ancaman orang tua.

Kisah ini mengingatkan kita, para guru, bahwa tugas kita adalah membaikkan yang belum baik, memintarkan yang belum pintar, menyantun yang memerlukan kasih, mengayakan yang belum kaya. Bukan memilih anak yang sudah pintar, yang sudah baik, yang sudah santun.

Dan ... pilihan Ibu Udayati ternyata tidaklah sia-sia. Apa yang dilakukannya dan bagaimana akhir kisahnya, baca saja tulisannya berjudul "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam buku Cinta Sang Guru.




Baca juga:
Juara 1 LNPG 2013

Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua



‪#‎mengenalSangJuara‬ (1)

Apakah Ibu Bapak sudah mengenal mereka yang pernah juara di dalam lomba ini?

Ada Ibu Yulia Loekito dengan tulisan berjudul "Edo". Berkisah tentang pengalaman dahsyat namun tidak kalah dengannya adalah pergumulan batin mengguncangkan sangat hebat.

Melalui kisah ini Ibu Bapak akan tahu bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir seorang pendidik. Tentu prestasi selayaknya membuat kita bangga dan semakin memberikan energi bagi kita untuk melangkah maju. Namun ketika prestasi menjadi menjadi titik akhir dan kita hanya berhenti di situ, sebenarnya kita sedang tersesat dan teperdaya. 

Pendidik yang mumpuni harus melangkah melampaui pencapaian prestasi. Ia harus rela membiarkan anak didiknya mandiri dan "melupakan" kita, setelah kita mengalami masa-masa demikian indah dan membanggakan dengan mereka, betapa pun kita akan merasakan berbunga-bunga karena kita sedang dan pernah membuat arti bagi hidup anak-anak kita. Tetapi yang namanya bunga, seindah apa pun, ia hanyalah tetap bunga, memesona namun ia bukanlah buahnya. Buah pendidikan bukanlah ketika anak didik kita bisa menyampaikan rasa terima kasih atas jasa-jasa kita, tetapi ketika mereka menjadi pribadi yang mandiri dan tidak lagi tergantung kepada kita.

Dalam kisah ini, Ibu Bapak akan menemukan kisah "patah hati" yang sangat bernilai dan bermakna.

Baca selengkapnya di buku Cinta Sang Guru.

Kalau Ibu Bapak ingin menulis "dengan benar" harus baca kisah ini. Tanpa pernah membaca kisah semacam ini, sangat diragukan Ibu Bapak bisa melahirkan kisah yang benar-benar berarti.

Wakidi Kirjo Karsinadi


Dapatkan buku Cinta Sang Guru seharga Rp 65.000 (ditambah ongkos kirim)

Selasa, 01 Oktober 2013

Lomba Nulis Pengalaman Guru: Mendidik dengan Hati - Hasil Lomba

Lomba dinilai berdasarkan kriteria penilaian berikut ini:

KRITERIA PENILAIAN NASKAH

1. Layak Terbit
Apakah naskah layak untuk diterbitkan. Karena terbit dan tidak terbit merupakan point yang paling menentukan, bobot kriteria ini cukup tinggi untuk menjadi pembeda.

2. Bobot Dampak
Yang dimaksud dengan bobot dampak adalah, seberapa inspiratif kisah tersebut bagi pembaca. Seberapa kuat kisah menyentuh hati dan menggerakkan pembaca (guru lain) untuk juga “menggerakkan hatinya” di saat mengajar.

3. Kedalaman refleksi penulis.
Kemampuan penulis merefleksikan dan mengenali gejolak yang berlangsung di dalam dirinya yang terungkap di dalam kisah, dan sejauh mana penulis belajar dari dan mengolah pengalaman yang dikisahkan untuk kemudian bersikap dengan tepat demi kemajuan diri pendidik dan anak didik.

4. Penyajian, mencakup beberapa kriteria
a. Struktur Cerita: mengalirkah, runtutkah, mudah diikuti jalan cerita dan logika ceritanya?
b. Gaya atau kekuatan bahasa: sejauh mana penulis mampu mengeksplorasi kekayaan bahasa untuk menyampaikan cerita. Tentu termasuk di dalamnya: penguasaan tata bahasa dan kaidah berbahasa, pemilihan kata, gaya berkalimat/berbahasa, punctuation (tanda baca),
c. Bobot sebagai sebuah cerita: Menarikkah tulisan yang ada sebagai sebuah cerita untuk dibaca.

5. Kebutuhan Editing
Sejauh mana naskah memerlukan proses editing untuk menjadi layak terbit. Tanpa editing sama sekali? Dengan sedikit editing? Perlu banyak editing? Atau harus dirombak sama sekali?

Dan setelah diseleksi dan dinilai oleh dewan Juri, maka dihasilkanlah 3 pemenang, sebagai berikut:

PENGUMUMAN PEMENANG
LOMBA PENULISAN PENGALAMAN GURU "Mendidik dengan Hati"

JUARA 1

Nomor Naskah: Naskah 6
Judul Naskah: “Edo”
Nilai: 221
Penulis: Yulia Loekito­

JUARA 2
Nomor Naskah: Naskah 81
Judul Naskah: “Menggantikan Cinta yang Hilang”
Nilai: 201
Penulis: Luh Putu Udayati

JUARA 3
Nomor Naskah: Naskah 14
Judul Naskah: “Hatiku Bersandar di Kota Rusa”
Nilai: 196
Penulis: Victor Puguh Harsanto

Ditetapkan di Penerbit-Percetakan Kanisius 1 Oktober 2013 oleh dewan juri.
Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.