Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Rabu, 30 Maret 2022

Mama




                    Buat 
                    Mamaku di kampung jauh

Berperahu rembulan sabit
Engkau membawa-bawaku dalam gendongan rahim
Melayari lengkung kerning langit
Mengajari daku betapa rahim menjagai pelayaran yang satu ini

Gendongan penuh
Engkau pun turun
sandarkan letih di kaki langit

Dengan nafasmu yang tinggal di tenggorokan
Kautegakkan daku ke bumi dengan kepalaku mendulu
dan kakiku teracung menyanggah langitku
Biar tak rebah menindih kita

Mama

Begitukah kaungajari daku
Menjunjung bumi tatakan kakimu dengan lembutan ubunku
dan tak jijiki tanah kelahiranku
Yang kaubasuh tadi dengan darahmu
Yang kaulembuti tadi dengan air matamu

Darah
dan air matamu
Itulah perunduk langit di kakimu

Sandarlah di sini
Mamaku

Lobam-Bintan, 23 Februari 2003

Melukis Engkau

Foto oleh cottonbro studio dari Pexels



kulukis engkau tak puas-puas
di kertasku
dalam kamar berantakan ini

meski sudah kulukis
kulukis ulang lagi cari miripan padamu,
lukisan terdulu

aih,
kulukis engkau kapan mengindah

tuhan
engkau saja

Ledalero, 24 April 1992

Hormat

Foto oleh Pixabay dari Pexels



                    Emas
                        Buat guruku


Guruku

Adakah
yang masih menaruh hormat
dan santun tulus padamu
Kalau bukan kami
yang masih ingusan begini

dan adakah
yang masih tunduk tegun dengarkan engkau
Kalau bulan kami
yang barusan mulai belajar a-i-u
Turuti titah mulutmu

Guruku

Doakan kami, ya Guruku
Agar nanti tinggi sekolah pun
Kami tetap menaruh hormat padamu
yang kini terbungkuk-bungkuk
Memikul beban batukmu
karena debu kapur itu tadi

dan biar nanti tinggi titel pun
Kami mau berseduduk denganmu lagi
Di bangku panjang
yang biasanya hanya ada
Di belakang situ

Sebabnya
Kau yang tahu, Guruku

Aku
Karena engkau
yang begitu tunduk mengajariku

Hormat!
Emas buat guruku

Dibacakan
pada pesta emas SDK Baobolak
21 Agustus 2009

Dasi

Foto oleh Rodolfo Clix dari Pexels




Karena lebih suka ke luar

Lidah pun turut
Lalu menggantung diri
di leher tuannya itu tadi

Sejak itulah
Lidah dibilang dasi
dan mulai dibumbui warna itu ini
Biar tampak keren, indah dan meyakinkan

Si tuan tambah tenang
Sebab ujung dasinya yang menjulur
sampai ke pusat terbawah itu pun
Terlindung rapi jali di balik jas beruangnya
yang tebal dan kebal cuaca itu

Dalam lindungan begitu itulah
Dasi semakin leluasa
Menjilat apa saja
yang ia maui

Itulah dasi
Di leher tuan-tuan kami
Sampai ke guru-guru kampung
yang tadi di kelas mengajari kami
Jagai lidah dalam pagaran gigi
Sampai lidah jaga badan

Sekarang?

Baobolak, 21 Januarib2011


Semut Merah




                    Jagoan
                    Pemangsa nasi kami


Berseragam
Merah sekali
Mengantri remah di bawah meja

Malam
Memberani mereka manjati meja
Racuni nasi di baskom kami dengan cirit mereka
Sampai kami benar-benar jijik dengan nasi kami sendiri
Lalu pergi meninggalkannya
Begitu saja

Bagi mereka
Ini rizki berkat cirit mereka
yang mustajab memutihkan apa saja

Lagian
Kami sudah tak tahan lagi
Membendung mereka makani kami
Sampai ke tulang
Sampai ke milik kami
yang paling tak terbagikan ini pun

Bernafkahlah terus
dari nasi di mulut kami ini
Semoga kenyang kekal dan tenang malam

Baobolak, 15 April 2010

Kuda Beban


Foto oleh Stiven Rivera dari Pexels


Kuda beban
Makan kekang
Tahankan berat beban di punggungnya

Sudah dikekang
Dihardik lagi sampai tak berkutik seringkik pun
Agar rodi dan roda terus berputar
Tak terkekang

Itulah
Kuda beban
di kampung Jepangan
Sudah berbeban lapar berat tak terpikulkan
Ditendang lagi perutnya yang kempes itu
Minta turunkan pupuk sebanyak warga
Tahu-tahunya bagi diri dan konco-konco
yang menungganginya
Sampai begini

Padalan
Ia jugalah yang paling tahu dengan mata sebadan
Ini pupuk perasan usus kuda-kuda beban
yang terpaksa turun lancar sekali
Karena tendangan itu tadi

Kuda beban tambah beban

Ditimbang-timbang
Ini beban lebih berat dari bumi
ditambah dengan semua
yang bertunggangan
di atasnya

Timbanglah
Sebelum kekang ini putus

Baobolak, 30 Mei 2011



Menghindar Aku ke Mana

Foto oleh Alina Vilchenko dari Pexels



Bumi ini
Biji mataMu
Menghindar aku ke mana, Tuhan

Peluh
Keringat
dan dakiku mengental
Memedihi berning mataMu
Tapi menghindar daku ke mana?

Tuhan
Tiada lain lagi
Sembunyian
sayaku
ini

Ledalero, 15 September 1992