Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak
Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.
Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen
Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN
Proyek Penerbitan Cerpen Anak
Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.
Karyatunggalkan Puisimu!
Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal
Terbitkan 5 Puisi
Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.
Penerbitan 500 Puisi Akrostik
Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru
Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru
Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Best Practices
Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Best Practices
Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.
Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan
Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN
Kamis, 27 Mei 2021
Minggu, 23 Mei 2021
Persembahan Si Janda Miskin
Puisi Yerem B. Warat
Di pintu
Mama menaruh mata
Anjing gonggong
Mata itu turun mencari ke kiri dan kanan
Entah dia yang disapa anjing itu
Deru kendara yang lalu
Ketika kampung lelap tertidur
Mata itu turun lagi meraba-raba dalam kelam
Entah dia ada di antara para penumpang
yang turun persis di pintu rumah
Mata
Makin tak nyenyak
Turun mencari dia dalam dada
Di situ
Dia tertidur
Nyenyak dalam luka hatinya merindu
Mamaku
Tersenyum lebar sekali ini
Sambil mengelus ubunku, berbisik
Tinggallah
Tetap di rumahmu ini, Mias
dan jangan ke mana lagi
Mamaku
Lalu tertidur tenang sekali
Sampai pulang bersama gendongan hatinya
yang kupunya cuma ini
![]() |
| Photo by Mehmet Turgut Kirkgoz from Pexels |
Di pintu
Mama menaruh mata
Anjing gonggong
Mata itu turun mencari ke kiri dan kanan
Entah dia yang disapa anjing itu
Deru kendara yang lalu
Ketika kampung lelap tertidur
Mata itu turun lagi meraba-raba dalam kelam
Entah dia ada di antara para penumpang
yang turun persis di pintu rumah
Mata
Makin tak nyenyak
Turun mencari dia dalam dada
Di situ
Dia tertidur
Nyenyak dalam luka hatinya merindu
Mamaku
Tersenyum lebar sekali ini
Sambil mengelus ubunku, berbisik
Tinggallah
Tetap di rumahmu ini, Mias
dan jangan ke mana lagi
Mamaku
Lalu tertidur tenang sekali
Sampai pulang bersama gendongan hatinya
yang kupunya cuma ini
Untukmu
Tuhan
Dari Medan Jauh, 25 Januari 2021
Dari Medan Jauh, 25 Januari 2021
Sabtu, 22 Mei 2021
Anjing Kurus
Puisi Yerem B. Warat
Anjing kurus
Kenyang makian
dan muntahan demi muntahan
yang kausemburkan tepat ke jidatnya
Kapan saja kaumau
Anjing kurus
Menadah makian
dan semua muntahan
Dengan lidah dan mulutnya terbuka
Lebih lebar dari liang mulut pemuntah
Anjing kurus
Mengunya
Makian dan muntahan berkali-kali
![]() |
| Photo by Petr Ganaj from Pexels |
Anjing kurus
Kenyang makian
dan muntahan demi muntahan
yang kausemburkan tepat ke jidatnya
Kapan saja kaumau
Anjing kurus
Menadah makian
dan semua muntahan
Dengan lidah dan mulutnya terbuka
Lebih lebar dari liang mulut pemuntah
Anjing kurus
Mengunya
Makian dan muntahan berkali-kali
Lalu menelannya
Setelah menyapu bersih dengan lidahnya
Semua sisa yang mengotori kota
Amis najis
Tersapu bersih
Oleh lidah anjing kurus
Anjing kurus
Pemburu babi binaan dan tupai piaraan
yang kaubesarkan dalam piringmu
Anjing kurus
Semua sisa yang mengotori kota
Amis najis
Tersapu bersih
Oleh lidah anjing kurus
Anjing kurus
Pemburu babi binaan dan tupai piaraan
yang kaubesarkan dalam piringmu
Anjing kurus
Puas muntahan
Tahan tindasan
Anjing kurus
Siapa punya
Perteguhen, 23 Mei 2021
Perteguhen, 23 Mei 2021
Jumat, 21 Mei 2021
Tali Waru
Puisi Yerem B. Warat
Di bawah
Remang rembulan
Ayah memintal tali waru
Begitu kuat
dan alit pintalan itu
Agar tak putus mengikat kambing
pada pohon di ladang kami
Seperti
Tali pada kambing
Kami pada ayah dan bunda
Terpintal pilin oleh kasih sayang mereka
Terikat kekal
Pada
Dia
Takut
Tak sampai ke pohon itu
Bulan cepat-cepat mengulurkan sinarnya
Menyambung lagi tali waru
Kambing
Kami
Sama
Terikat
Pada bulan
Buah pohon itu
Perteguhen, 22 Mei 2021
![]() |
| Gambar oleh daramsri dari Pixabay |
Di bawah
Remang rembulan
Ayah memintal tali waru
Begitu kuat
dan alit pintalan itu
Agar tak putus mengikat kambing
pada pohon di ladang kami
Seperti
Tali pada kambing
Kami pada ayah dan bunda
Terpintal pilin oleh kasih sayang mereka
Terikat kekal
Pada
Dia
Takut
Tak sampai ke pohon itu
Bulan cepat-cepat mengulurkan sinarnya
Menyambung lagi tali waru
Kambing
Kami
Sama
Terikat
Pada bulan
Buah pohon itu
Perteguhen, 22 Mei 2021
Rabu, 19 Mei 2021
Wisata Bahari
Puisi Yerem B. Warat
Saking
Prihatinnya pada kami
yang pingin memancing di lautan
Tapi rumah kami jauh sungguh di pedalaman sini
Maka segerombolan babi hutan turun ke jalan
Bergotong royong memperlebar luas lubang
Sepanjang jalan ke kampung kami
Boto-Belang
Tak ketinggalan pula langit
Meneteskan air matanya berhari-hari
Turun memenuhi lubang galian babi-babi itu tadi
Jadi danau, miniatur laut impian
Sepanjang jalan kami
Itulah
Lautan terseksi
Unik dan satu-satunya
dan itu di Lembata sini, Bro
Sejak itulah
Semua oto jurusan pantai selatan
Dirombak habis jadi sampan, perahu dan kapal pesiar
Semua berpelesiran sampai jauh
Sambil memancing belut, hiu dan paus buas
Peledang-peledang Lamalera
Berselancar mencari paus yang berduyun-duyun
Meninggalkan laut pantai selatan
Hijrah ke lautan luas
Tengah gunung
Jalan berlubang Boto-Belang
Wisata bahari tengah gunung
Ini proyek siapa punya
Kawan
Dari Medan Jauh, 20 Mei 2021
![]() |
| Foto:Disbudparntt https://aengaeng.com/ |
Saking
Prihatinnya pada kami
yang pingin memancing di lautan
Tapi rumah kami jauh sungguh di pedalaman sini
Maka segerombolan babi hutan turun ke jalan
Bergotong royong memperlebar luas lubang
Sepanjang jalan ke kampung kami
Boto-Belang
Tak ketinggalan pula langit
Meneteskan air matanya berhari-hari
Turun memenuhi lubang galian babi-babi itu tadi
Jadi danau, miniatur laut impian
Sepanjang jalan kami
Itulah
Lautan terseksi
Unik dan satu-satunya
dan itu di Lembata sini, Bro
Sejak itulah
Semua oto jurusan pantai selatan
Dirombak habis jadi sampan, perahu dan kapal pesiar
Semua berpelesiran sampai jauh
Sambil memancing belut, hiu dan paus buas
Peledang-peledang Lamalera
Berselancar mencari paus yang berduyun-duyun
Meninggalkan laut pantai selatan
Hijrah ke lautan luas
Tengah gunung
Jalan berlubang Boto-Belang
Wisata bahari tengah gunung
Ini proyek siapa punya
Kawan
Dari Medan Jauh, 20 Mei 2021
Selasa, 18 Mei 2021
Kota Matahari: Kumpulan Puisi #37
23.47
Agus Supriyanto, buku, Emi Wahyuni, Iskarina, puisi, Riska Ulfia Khoirotunnisa, Wakidi Kirjo Karsinadi, Yanti Rosa
No comments
Spesifikasi:
Kode: 0120053
Judul: Kota Matahari: Kumpulan Puisi #37
Penulis: Agus Supriyanto, Emi Wahyuni, Iskarina, Riska Ulfia Khoirotunnisa, Wakidi Kirjo Karsinadi, Yanti Rosa
ISBN: 978-623-7421-43-6
Terbit: 21-Mei-21
Tebal: 84 (viii+76) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000
Deskripsi:
Buku kumpulan puisi ke-37 ini adalah hasil dari proyek penulisan dan penerbitan puisi berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis sejak tahun 2016. Buku ini diberi judul Kota Matahari, mengambil salah satu judul puisi yang ada dalam buku ini. Kali ini ada 6 penulis dengan total 51 puisi.
Penulis dan puisinya:
Agus Supriyanto
- Membedakan
- Cermin Wajah
- Hidup Berpengharapan
- Kehilangan
- Nilai
- Kesendirian dalam Kebersamaan yang Sunyi
- Memahami Kontradiksi
- Menjadi Sesama
Yanti Rosa
- Kecewa
- Komitmen
- Lara Sendiri
- Jalan Tak Berujung
- Membatu Rasaku
- Dalam Diamku …Nakhoda yang Limbung
- Tak Seperti Mauku
- Jangan Rampas Bayangmu
- Cinta Biru
- Luka Berdarah
Iskarina
Riska Ulfia Khoirotunnisa
Emi Wahyuni
Wakidi Kirjo Karsinadi
- Ruang Rasa
- Takdir
- Ruang Kosong
- Menghamba
- Kasih-Mu
- Candu
- Berharap
- Siluet
- Belajar
- Kebodohanku
- Hati
- Kopi Pahit
- Ujian
- Kamu
- Jangan Lupa Bahagia
- Pergilah
- Usai
Riska Ulfia Khoirotunnisa
- Jemu
- Bungkam
- Senjang
- Bentang Asa
- Kota-Matahari
Emi Wahyuni
- Antara Aku dan Kamu
- Cinta Terlarang
- Pak Menteri
- Jatuh Cinta
- Goodbye
- Renunganku
- Anak Muda
Wakidi Kirjo Karsinadi
- jalan pulang
- pertama
- mudik
Senin, 17 Mei 2021
Menghitung Jari
Puisi Yerem B. Warat
Ibuku
Duduk berdiri tak karuan
Menghitung jari-jari tangannya sendiri
yang didekap rapat pada dada
dan meninabobokannya dengan oha Teti Hadun
Agar tenang tenteram semua
Selama malam
Jauh malam
Bangun lagi menghitung lagi
Paginya
Sebelum fajar membuka hari
Ibuku bangun menghitung jarinya lagi
Satu demi satu
Ibuku menghitung jari
Sampai ke lahat
Tegal
Tak genap-genap
Serumah Duka, Senin 25 Januari 2021
![]() |
| https://www.facebook.com/yeremias.warat |
Ibuku
Duduk berdiri tak karuan
Menghitung jari-jari tangannya sendiri
yang didekap rapat pada dada
dan meninabobokannya dengan oha Teti Hadun
Agar tenang tenteram semua
Selama malam
Jauh malam
Bangun lagi menghitung lagi
Paginya
Sebelum fajar membuka hari
Ibuku bangun menghitung jarinya lagi
Satu demi satu
Ibuku menghitung jari
Sampai ke lahat
Tegal
Tak genap-genap
Serumah Duka, Senin 25 Januari 2021
Langganan:
Postingan (Atom)


























