Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 08 Mei 2021

Wisata Bangkai

Puisi Yerem B. Warat
Image by Dmitry Abramov from Pixabay 



Bertahun-tahun
Burung-burung gagak
Beterbangan mencari bangkai
Makanan kejaran, pengikat mereka
Tak saling mematuk

Bertahun-tahun juga
Gagak-gagak itu tersingkir pergi
Lantaran di mana bangkai di situ juga anjing
Pelahap bangkai

Tiba 
di Awololong
Tanah leluhurku yang tenggelam Tertindih bangkai megaproyek itu, kautahu

Gagak
Makan besar
Beranak cucu di atas tumpuk timbun bangkai

Sebab
Di tanah leluhurku ini
Mengusir dan menangkap gagak haram hukumnya
Sama halnya mengusik anjing
Cikal bakal tenggelamnya Awololong
Pulau pengubur leluhurku
Dulu

Dari inilah
Kami belajar 
Tutup mata tutup mulut ketat-ketat
Biarkan gagak geranyangi kami
Berkenyang-kenyang dari daging kami
Bermabuk-mabuk dari darah kami
Sekalipun hati kami
Terus merintih

Mencium 
Bau bangkai
yang terbawa badai seroja timur
Lantas kaudatang melayat 
Setelah memajangkan ini di pintu pelabuhan 
Kota kami

Anda
Memasuki
Wisata bangkai
Bebas makan-memakan

Kami
Korbannya
Kausetujui maka kaudiam
Sampai begini

Dari Medan Jauh, 09 Mei 2021

Jumat, 07 Mei 2021

Bangkai Proyek

Puisi Yerem B. Warat

Image by Mona El Falaky from Pixabay 


Bencana demi bencana

Membusukkan 
Kota dan kampung kami
Ayam, anjing dan babi hingga burung di angkasa
Mati tindih-menindih dimabuk bangkai

Kami
Kebal bau bangkai
dan jeritan nurani merabik jiwa
Sebab kami terdidik tandus nusa dan tanah terlantar
Minum dari keringat sendiri
Tanpa rengek paksa turunkan hujan
Tengah kemarau

Satu pun 
Tak perduli 
Pada bangkai-bangkai proyek
yang berseliweran hingga ke udik 

Semua
Makin tak perduli 
Pada teriak bangkai minta tolong

Apa guna 
Kunjung ke mari
Menambah sesak dada dan sesat fikiran?

Nanggala 
Di dasar lautan
Kauangkat naik ke permukaan
Bangkai Lembata makin dalam tenggelam
Jadi benih bencana baru

Begitu tujuan
dan niat hatimu?

Dari Medan Jauh, 08 Mei 2021


Kamis, 06 Mei 2021

Kingkong

Puisi Yerem B. Warat

Image by Gerhard G. from Pixabay 



Ketika
Kita masih sama sehutan dulu
Engkau selalu saja terdepan, Kawan

Terdepan
Menghadapi pemburu
yang sukanya mengusik ketenteraman kita

Terdepan
Mencari buah-buahan
Buat semua kita terlebih yang kecil
dan yang tak kuat lagi memanjat tinggi

Maka ketika ada tawaran
Untuk tinggal di kebun binatang
Engkau kami utus mewakili ras kita
Sekaligus menunjukkan bahwa kita pun ada
Setelah lama ditiadakan
Tanpa pembelaan

Tapi setelah berbaur
dengan aneka kawan di rimba baru itu
Engkau masih juga terdepan
Melolong lengking kapan saja
Membela hak-hak kawanan barumu

yang kita lawan selama bersama!

Itu
Dulu
Katamu

Tembakan itu
Mematahkan taringnya sendiri

Dari ladang, 07 Mei 2021

Rabu, 05 Mei 2021

Pena

Puisi Yerem B. Warat

Image by Devanath from Pixabay 



Pena
Menetek
Dari embun yang menetes
Dari ujung cerucut daun

Turun
Memenuhi nadi
dan seluruh sumsumnya

Tangan
Tak berdaya
Mengangkat pena itu
Menarikannya di atas kertas
Meliuk lincah sebagai tarian Likurai
Gadis-gadis Belu

Pena
Mengandung dalam nadi dan sumsumnya
Buah setubuhan langit gosong
dan alam yang terbakar
Hangus

Asap
Menjelagai bacaan

Dari ladang, 06 Mei 2021

Rebutan

Puisi Yerem B. Warat
Jadi rebutan tak berujung
Kedua pemilik ladang

Buahnya 
yang jatuh ke atas ladang-ladang itu
Selalu saja jadi rebutan 
Akar dendam dan perang hujatan

Kalong
yang sengaja 
Menjatuhkan biji mangga itu dulu
Senyum-senyum saja di dahan atas sana
Menyaksikan perang rutin itu

Kalong tahu
Tak siapa pun dari mereka
yang menanam mangga itu
Tapi ributnya membelah buana

Duduk
Di bawah rindanganku ini
Nikmatilah buah-buahku yang sengaja kujatuhkan
Ke lahanmu masing-masing

Kecapilah
Kemanisanku di lahanmu saja

Semua diam mencecap
Kemanisan
Dia

Rebutan semesta

Dari ladang, 27 April 2021

Jumat, 30 April 2021

Mana Sandalmu?

Puisi Yerem B. Warat

Image by Capri23auto from Pixabay 






Sandal
Melindungi kaki
Agar tak langsung kaki kotori diri
Pada tanah
Pijakan

Ia
Tameng 
Sembunyian telapak
Agar jejak gelap tetap tak terbaca 
dalam gerilya

Kini
Sandal telah lepas
Tiada di genggaman kaki lagi
Topeng, tameng  
Tiada lagi

Kaki
Telanjang
Jejak benderang
Dalam kelam paling pekat 

Tadi
Di televisi kulihat
Sandalmu tinggal di pintu
Membiarkanmu pergi sendiri
Berhadapan mata
Dengan
Mata

Begitu telanjang
Kakimu

Mana sandalmu
yang selama ini?

Perteguhen, 27 April 2021

Minggu, 25 April 2021

Kaca

Puisi Yerem B. Warat

Image by Prawny from Pixabay 




*

Hari-hari terasa panjang tak bertepi lagi sejak kami kekuar dari ladang itu. Anjing, singa, dan harimau melolong siang malam tak terhentikan. Melolong, memanggil, mencari kami. Tapi lolongan mereka tak segera berhasil memulangkan kami yang baru saja keluar. Pencarian tetap diteruskan.

Mereka mencari kami dengan penciuman mereka yang tajam. Dengan begitu, mereka medapatkan jejak bau badan kami yang lengket pada benda apa pun yang tersentuh ketika kami lewat.

Bermula dari pohon yang kami makani buahnya. Harimau memanjati pohon itu, mencium tangkai dari buah yang kami petik, untuk memastikan keaslian bauan kami. Dari situlah ia dan semua hewan lainnya mulai menyusuli kami. Turun melalui pintu koyakan kami, mereka terus ke bumi. Beberapa hari berselang, tanaman-tanaman di ladang tadi pun turut. Mereka menjalar keluar mengikuti kami sampai ke bumi. Labu kuning, semangka, dan tak ketinggalan labu jepang. Sedang padi, jagung, dan sebangsanya mulai membiarkan buahnya yang sudah tua jatuh ke bumi, tempat tinggal kami yang sekarang ini.

Ladang tadi pun kosong, tak berisi lagi. Tinggal pohon itu sebatang kara, pohon yang buahnya kami makan itu. Tapi cabang pohon terus menjulurkan pucuk-pucuknya ikut mencari kami. Suatu senja satu dari buah-buahnya yang bergelantungan, jatuh juga ke bumi, persis mengenai ibu jari kakiku. Aku terkejut bukan main.

Ternyata buah itu. Serupa benar dengan buah yang kami makan ketika itu. Kuambil buah itu dan kami memakannya lagi dan keterusan lagi.

*

Bermula dari kami, menyusul juga semua yang lain. Segala binatang melata dan burung di udara, semua jenis tanaman dan pepohonan di ladang ikut mencari kami sampai ke bumi. Terus juga ke ladang tumpangan kami di Pintubesi sekarang ini.

Kami tetap tak mau pulang ke ladang yang dulu lagi. Maka semua mereka pun tak berani pulang. Sebab semua mereka serta peristiwa apa pun, ada karena perutusan mencari dan memulangkan kami kepadanya lagi. Tak ada kepentingan lain kecuali mencari dan memulangkan kami ke ladang itu lagi.

Semua
Sebumi urung pulang
Kalau tak membawa serta kami

Hanya kaca
Mau bercermin
atau memecahkannya?

Dari ladang, 24 April 2020