Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Kamis, 02 April 2015

Lomba Nulis Pengalaman Guru Mendidik dengan Hati, Komunitas Guru Menulis

Ibu Bapak guru dan dosen, ke depan Komunitas Guru Menulis akan mengadakan serangkaian proyek penulisan, berupa lomba dan proyek penerbitan buku. Berikut adalah salah satu lomba yang akan kami selenggarakan.

1. Lomba Nulis Pengalaman Guru: Mendidik dengan Hati


Pengalaman yang Inspiratif

Setiap guru yang membuka diri dan membiarkan dirinya menjadi bagian dari kehidupan muridnya, pasti memiliki kisah inspiratif yang layak dibagikan kepada sesama guru atau khalayak. Saat Ibu Bapak menghadapi murid yang "unik"; saat Ibu Bapak menghadapi pilihan yang sulit antara memilih "membela" murid atau kepentingan lain (entah egoisme diri atau pihak lain); saat kegigihan dan ketekunan Ibu Bapak akhirnya membuahkan kemanisan setelah melewati masa-masa tanpa secercah pun harapan.

Atau jika Ibu Bapak pernah berhadapan dengan situasi yang menantang posisi keguruan Ibu Bapak dan Ibu Bapak dengan penuh tanggung jawab menghadapi tantangan tersebut, itu artinya sudah saatnya Ibu Bapak untuk melahirkan kisah yang menggugah.


Pengalaman Membaca Pengalaman

(Ini salinan postingan saya, Wakidi Kirjo Karsinadi, di Facebook 24 April 2015. Barangkali bisa menjadi gambaran apa yang dimaui oleh kontes ini.)

Membaca naskah-naskah calon buku KAPUR & PAPAN Cerita tentang Pengelolaan Kelas, saya belajar 1 hal yang menjadi benang merah kisah-kisah yang menurutku inspiratif sehingga [saya nilai] layak terbit:

Guru akhirnya "berhasil" meruntuhkan konsepsi hubungannya dengan muridnya yang semula, yang cenderung satu arah, dan menggantikannya dengan yang baru, dua arah, tidak lagi mengajar namun terlebih belajar dari murid .... sekalipun pada awalnya murid terkesan hanya menjadi sumber masalah dan sumber kejengkelan.

Keterbukaan dan kerelaan membuka hati dan diri menjadi kunci pembuka hubungan yang buntu ... dan banyak yang akhirnya menikmati sebuah level hubungan baru yang amat bermakna dengan muridnya. Guru demikian biasanya memerlukan perjuangan awal untuk mau merendah dan "tidak memaksakan paradigmanya" dalam hubungan mereka ... untuk akhirnya memasuki paradigma hubungan yang baru. Dan tidak jarang guru harus mau berkorban untuk bisa memasuki wilayah-wilayah relasi yang baru.

Bentuk dan Gaya Tulisan: Kisah Pengalaman bukan Paparan Teori atau Wawasan

Ini adalah tentang sepenggal pengalaman. Sepenggal saja dari begitu banyak pengalaman yang Ibu Bapak pernah alami. Fokuslah pada 1 peristiwa atau kejadian, pada seorang murid atau segerombolan murid, atau pada satu pergumulan batin.

Dan ini adalah tentang pengalaman, tentang berkisah, ini tentang curhat, bukan tentang paparan teori atau suguhan keluasan wawasan. Ini tentang Ibu Bapak sendiri, kejadian yang Ibu Bapak alami, bukan teori atau metode yang Ibu Bapak pelajari, juga bukan tentang kritik atas kebijakan.

Boleh tentang kejadian milik sendiri, atau milik orang lain pun juga boleh.

Prinsip Kehati-Hatian dan Hormat

Ketika menyangkut orang lain dan kisah Ibu Bapak merupakan sesuatu yang "sensitif", sebaiknya minta izinlah kepada yang bersangkutan untuk mengisahkannya. Atau paling tidak, mungkin Ibu Bapak perlu menyamarkan nama agar di kemudian hari tidak menimbulkan ketidakenakan ketika naskah Ibu Bapak sudah diterbitkan menjadi buku.

Sudut Pandang

Gunakan sudut pandang dan tingkat keformalan dengan konsisten. Kalau menggunakan sudut pandang orang pertama non formal, gunakan aku secara konsisten. Atau saya untuk menciptakan situasi yang sedikit lebih formal. Hindari penggunaan aku dan saya secara bersamaan dalam satu naskah, kecuali salah satunya digunakan dalam kutipan langsung.

Gaya Penulisan Narasi

Gunakan gaya bahasa bercerita atau narasi. Biarkanlah pembaca ikut mengalami kejadian yang Ibu Bapak alami. Biarkanlah pembaca ikut melihat gambar kejadiannya, mendengar suara yang ditimbulkannya dan merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Biarkanlah pembaca melihat kejadiannya sebagaimana Ibu Bapak melihatnya, mendengar sebagaimana Ibu Bapak mendengar, dan merasakan apa yang Ibu Bapak rasakan saat mengalami kejadian.

Kebaruan Ide Cerita

Kalau Ibu Bapak pernah mengikuti lomba kami sebelumnya, TIDAK DIPERKENANKAN menceritakan kisah atau kejadian yang sama yang pernah dikisahkan dan dikirimkan ke kami. Ambil pengalaman yang lain.

Perbaikan Kualitas Naskah

Bagi Ibu Bapak yang pernah mengikuti lomba yang kami selenggarakan, upayakan kualitas tulisan Ibu Bapak lebih baik daripada naskah yang dikirimkan kepada kami sebelumnya. Mulai tata struktur cerita dengan efektif. Mulai perhatikan kaidah berbahasa, ejaan dan tata bahasa. Miringkan istilah yang tidak baku atau istilah asing. Bedakan cara penulisan awalan dan kata depan untuk "di" dan "ke". Hindari spasi berlebihan. Jangan tambah spasi setelah tanda petik awal dan sebelum tanda petik akhir, juga sesudah tanda kurung awal dan sebelum tanda kurung akhir. Juga jangan tambahkan spasi sebelum koma atau titik dua atau titik koma. Tunjukkan bahwa Ibu Bapak memang belajar dan mau maju bersama kami.

Untuk EYD 

Ibu Bapak bisa cek di http://kbbi.web.id/ == kbbi online atau gunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring) == kbbi offline atau http://kateglo.com/.

Format Pengetikan

Ketik pada Word dengan ukuran kertas A4 margin SEDANG dan spasi tunggal (1). Gunakan Font Type Times New Romans atau Calibri. Atau dengan kata lain, tidak usah diatur-atur. Panjang tulisan HARUS 3-5 halaman atau antara 1.600 sampai 2.600 kata.

Peserta Lomba

Guru atau dosen. Baik di sekolah formal, non formal maupun informal. Boleh juga kepala sekolah atau pengawas.

Pengiriman naskah

Diemail ke akun lomba.nulis.guru@gmail.com dalam file terpisah (lampiran). Nama file: LNPG-2015-Nama Penulis - Judul Naskah. Contoh nama file: LNPG-2015-Wakidi Kirjo Karsinadi - Berburu Semut di Lobang Karang. Jangan menuliskan identitas apa pun di dalam naskah.

Deadline

Naskah diemail ke lomba.nulis.guru@gmail.com paling lambat 30 November 2015 pukul 23.59 WIB.

Biodata Penulis

Bersamaan dengan pengiriman naskah, peserta wajib menyertakan BIODATA PENULIS pendek (maksimal 100 kata) dalam file terpisah dengan dinamai Nama Lengkap Beserta Gelar. Jangan memamerkan diri dalam biodata ini tetapi cukup cantumkan informasi paling penting. Kali ini kami akan ketat membatasi panjang biodatanya. Kalau sudah punya banyak sekali pengalaman mengajar? Pilih yang paling ingin ditonjolkan dan ditambah keterangan "pernah mengajar di 25 sekolah lain". Kalau sudah menerbitkan ratusan buku? Sebut saja yang paling membanggakan dan ditambah "ratusan buku lain".

Hasil Lomba

Hasil lomba akan diumumkan di Grup Facebook Guru Menulis, Lomba Nulis Pengalaman Guru, fanpage Facebook Komunitas Guru Menulis pada tanggal 15 Januari 2016.

Akan dipilih 3 pemenang.
Pemenang pertama akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp300.000.
Pemenang kedua akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp200.000.
Pemenang ketiga akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp100.000.

Akan dipilih naskah yang layak terbit untuk diterbitkan. Untuk setiap naskah yang diterbitkan, peserta wajib membeli 2 bukunya sendiri.
Sertifikat akan diberikan untuk naskah yang memenuhi syarat dan akan dikirimkan bersamaan dengan buku yang sudah terbit dan cetak.

Kami ingin lebih baik

Untuk itu kami mengajak Ibu Bapak untuk menyiapkan tulisan sebaik mungkin. Ambil waktu yang cukup untuk mulai menulis. Yang biasa kerja semalam, cobalan pilih semalam itu sekarang bukan saat deadline tinggal beberapa jam. Ingatlah ketika Ibu Bapak mengatakan kepada murid agar mereka lebih baik! Yuk, kita sendiri juga menjadi lebih baik!

Kriteria Penilaian Naskah

1. Bobot Dampak

Yang dimaksud dengan bobot dampak adalah, seberapa inspiratif kisah tersebut bagi pembaca. Seberapa kuat kisah menyentuh hati dan menggerakkan pembaca (guru lain) untuk juga “menggerakkan hatinya” di saat mengajar.

Bobot dampak ini menjadi pertimbangan paling penting di dalam penilaian. Bobot dampak ini akan membedakan kisah ini dari sekadar keterampilan dan kelihaian bernarasi. Narasi yang baik memang harus namun isinya atau dampaknya yang paling menentukan penilaian.

2. Kedalaman refleksi penulis.

Kemampuan penulis merefleksikan dan mengenali gejolak yang berlangsung di dalam dirinya yang terungkap di dalam kisah, dan sejauh mana penulis belajar dari dan mengolah pengalaman yang dikisahkan untuk kemudian bersikap dengan tepat demi kemajuan diri pendidik dan anak didik.

Kedalaman refleksi akan terbaca dalam kisah dan membuat kisah itu menjadi lebih berbobot.

3. Penyajian, mencakup beberapa kriteria

a. Struktur Cerita: mengalirkah, runtutkah, mudah diikuti jalan cerita dan logika ceritanya?
b. Gaya atau kekuatan bahasa: sejauh mana penulis mampu mengeksplorasi kekayaan bahasa untuk menyampaikan cerita. Tentu termasuk di dalamnya: penguasaan tata bahasa dan kaidah berbahasa, pemilihan kata, gaya berkalimat/berbahasa, punctuation (tanda baca),
c. Bobot sebagai sebuah cerita: Menarikkah tulisan yang ada sebagai sebuah cerita untuk dibaca.

Poin 3 ini akan membuat isi atau materi pengalaman yang dahsyat menjadi sebuah kisah yang sangat indah dan semakin menyentuh. Kalau materi sudah sangat baik, namun kemampuan bernarasinya kurang, maka potensi dampak yang dimaksudkan menjadi kurang kedahsyatannya. Jadi, meskipun yang paling penting adalah dampak, namun narasi tetap harus diupayakan baik. Narasi yang baik membuat kisah menjadi menarik dan menghibur untuk dibaca. Kisah jadi "nendang" dan "menggigit" dan dampaknya menjadi sangat tajam serta mengena.

4. Kebutuhan Editing

Sejauh mana naskah memerlukan proses editing untuk menjadi layak terbit. Tanpa editing sama sekali? Dengan sedikit editing? Perlu banyak editing? Atau harus dirombak sama sekali?


Salam Menulis


Wakidi Kirjo Karsinadi
Koordinator Komunitas Guru Menulis

Rabu, 01 April 2015

Mengenal Juara: Luh Putu Udayati dengan Naskah "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua



‪#‎mengenalSangJuara‬ (2)

Praktik mengguru pernah ditelanjangi dengan sangat terbuka tanpa tedeng aling-aling oleh Bapak Rai Sujaya dalam tulisannya yang berjudul "Guru Mendidik dan Mengajar, Yang Mana?" dalam buku Kapur & Papan Kumpulan Kisah Pengalaman Guru yang Jujur dan Menggugah.

Jujur Ibu Bapak, ketika harus memilih, (1) anak dari keluarga baik-baik, kaya lagi, tampan, cerdas, pintar, baik hati, penuh pengertian, atau (2) bermasalah, nakal, hampir tidak pernah melakukan yang benar, pembuat onar. Mana yang Ibu Bapak pilih?

Situasi yang kedua itulah yang dihadapi Ibu Udayati. Bukan saja ia berhadapan dengan anak yang menjengkelkan, tetapi juga ancaman orang tua murid lain yang akan menarik anaknya dari sekolah itu seandainya si pembuat onar masih ada di sekolah itu. Apa yang akan Ibu Bapak lakukan ketika berhadapan dengan situasi yang sama?

Jalan paling gampang tentu saja mengeluarkan anak nakal itu. Tetapi kondisi anak ini justru menghunjamkan serangan tepat di titik hati tempat panggilan keguruan itu berada. Ibu Udayati memilih menyelamatkan si anak jahanam, meski ia tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa digenggam untuk meyakinkan pilihannya, dengan risiko yang sudah sangat jelas menanti kegagalannya.

Seorang pendidik memang harus menjadi guru untuk muridnya, seperti yang ingin dikatakan oleh buku tulisan Bapak St Kartono. Di sini juga Ibu Udayati memilih menjadi guru untuk muridnya, murid yang tersingkirkan, murid yang tiada memberikan seberkas pun harapan. Seorang pendidik berani mengambil risiko bahkan yang paling menakutkan sekali pun, termasuk ancaman orang tua.

Kisah ini mengingatkan kita, para guru, bahwa tugas kita adalah membaikkan yang belum baik, memintarkan yang belum pintar, menyantun yang memerlukan kasih, mengayakan yang belum kaya. Bukan memilih anak yang sudah pintar, yang sudah baik, yang sudah santun.

Dan ... pilihan Ibu Udayati ternyata tidaklah sia-sia. Apa yang dilakukannya dan bagaimana akhir kisahnya, baca saja tulisannya berjudul "Menggantikan Cinta yang Hilang" dalam buku Cinta Sang Guru.




Baca juga:
Juara 1 LNPG 2013

Mengenal Juara: Yulia Loekito dengan Naskah Edo dalam Lomba Nulis Pengalaman Guru 2013 Mendidik dengan Hati

Pemenang satu
Pemenang dua



‪#‎mengenalSangJuara‬ (1)

Apakah Ibu Bapak sudah mengenal mereka yang pernah juara di dalam lomba ini?

Ada Ibu Yulia Loekito dengan tulisan berjudul "Edo". Berkisah tentang pengalaman dahsyat namun tidak kalah dengannya adalah pergumulan batin mengguncangkan sangat hebat.

Melalui kisah ini Ibu Bapak akan tahu bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir seorang pendidik. Tentu prestasi selayaknya membuat kita bangga dan semakin memberikan energi bagi kita untuk melangkah maju. Namun ketika prestasi menjadi menjadi titik akhir dan kita hanya berhenti di situ, sebenarnya kita sedang tersesat dan teperdaya. 

Pendidik yang mumpuni harus melangkah melampaui pencapaian prestasi. Ia harus rela membiarkan anak didiknya mandiri dan "melupakan" kita, setelah kita mengalami masa-masa demikian indah dan membanggakan dengan mereka, betapa pun kita akan merasakan berbunga-bunga karena kita sedang dan pernah membuat arti bagi hidup anak-anak kita. Tetapi yang namanya bunga, seindah apa pun, ia hanyalah tetap bunga, memesona namun ia bukanlah buahnya. Buah pendidikan bukanlah ketika anak didik kita bisa menyampaikan rasa terima kasih atas jasa-jasa kita, tetapi ketika mereka menjadi pribadi yang mandiri dan tidak lagi tergantung kepada kita.

Dalam kisah ini, Ibu Bapak akan menemukan kisah "patah hati" yang sangat bernilai dan bermakna.

Baca selengkapnya di buku Cinta Sang Guru.

Kalau Ibu Bapak ingin menulis "dengan benar" harus baca kisah ini. Tanpa pernah membaca kisah semacam ini, sangat diragukan Ibu Bapak bisa melahirkan kisah yang benar-benar berarti.

Wakidi Kirjo Karsinadi


Dapatkan buku Cinta Sang Guru seharga Rp 65.000 (ditambah ongkos kirim)

Selasa, 31 Maret 2015

Membidik Kata di Sudut Rafflesia: Catatan Lokakarya Menulis Pengalaman Guru Langsung Jadi Buku Ber-ISBN

oleh Ibu Udayati

Ada jabat erat dari satu tangan ke tangan lainnya. Ada satu sapa ke sapa yang lain, kenalkan saya dari Denpasar...dan sapaku berbalas dengan senyum hangat kalian...ada bu Ria Santati, ada bu Fiqih Nindya Palupi, ada bu Fikriana Nafi'a Elsimbany, ada bu Frida Fatmawati dan bu Eka Nur Apiyah, dan kita berenam telah antusias untuk berkegiatan, foto bersama , tanda tangan bersama, bahkan sebelum pintu ruang pertemuan terbuka. Ehmm..

Lalu riuh pun mulai menyelimuti seantero ruangan, karena kedatangan peserta yang kian mengalir. Senyum, tegur dan sapa, bahkan pekik kecil lantaran perjumpaan seseorang dengan seseorang yang selama ini dikenal melalui tulisan,sungguh mengalirkan aura tersendiri.

Menjadi bagian dari perjumpaan sebentar saja di Sabtu pagi itu, telah mematrikan semangat menulis. Menjaga nyala api pengabdian terhadap profesi sebagai guru, bukanlah basa-basi. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk lebih meneguhkan niat baik untuk tetap menjadi guru, yang sesungguhnya tidak pernah kehabisan pengalaman mendidik. Jika pengalaman-pengalaman itu layak dan pantas untuk dibagikan kepada sesama guru, kepada setiap orang yang menamakan dirinya mencintai dunia pendidikan, mengapa tidak lewat tulisan? Melaluinya tercipta kecintaan lebih mendalam terhadap anak didik. Pengalaman manis atau pahit sekalipun...

Maka adalah sebuah euforia ketika kita larut dalam sharing best practice.Sungguh menuntun kita menuju oase, mata air proses menulis yang tidak pernah mengering, atas pikiran, perasaan dan kecintaan terhadap anak didik, sumber inspirasi menulis. Inspirasi yang berbalut komitmen, integritas dan rela menderita.

Untuk segaris inspirasi menulis itu, tidak ada kata sulit mencari ide, karena sesungguhnya setiap hal yang kita rasakan, kita lihat, dan kita dengarkan adalah ide yang kita rekam dengan kamera batin kita. Mencerapnya dan melawati setiap hati lewat permenungan mendalam atas segala kearifan hidup.

Membidik kata menjadi paragraf cantik sesungguhnya sederhana saja, asalkan ada niatan untuk berbagi pengalaman , berfikir logis serta fokus pada satu persoalan, sehingga ulasan menjadi lebih tajam dan menukik.

Membidik kata menjadi paragraf cantik sesungguhnya membongkar tabungan atas bacaan-bacaan yang menjadi makanan rohani.

Akhirnya, teruslah membaca pengalaman dan menuliskan pengalaman mendidik. Teruslah membaca kebaikan dan menuliskan kebaikan, karena sejatinya tulisan menembus ruang dan waktu.
( pupus Maret 2015, sejumput kisah manis at Jogja )


Sabtu, 28 Maret 2015

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN: Sesi Workshop

baca sebelumnya

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini

SESI PENGANTAR WORKSHOP

disampaikan oleh Bapak St Kartono: Tips Menuliskan Pengalaman menjadi Bacaan yang Ringan dan Mengena

Sharing Pengalaman Pak Kartono
Menyalakan Sumbu Kompor
  • Pak Kartono mengawali sesi ini dengan mengemukakan, “Membaca pengalaman menuliskan kesan” dan “Have paper will travel.” 
  • Pak Kartono yang memulai karir menulisnya dari menjadi kuli tinta di media massa, menunjukkan buku-buku hasil tulisannya selama ini. 
  • Lalu beliau melontarkan pertanyaan kritis, “ Sudah gembira dan berkembangkah Anda semua menjadi guru? Kalau hanya gembira saja dan tidak berkembang berarti masih ada yang perlu dievaluasi dari peran Anda. Kalau hanya berkembang saja tapi tidak gembira, betapa sengsaranya hidup Anda.” 
  • Berpatokan pada The Seven Habits yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey, maka dapat dikatakan bahwa untuk piawai menulis kita seharusnya menerapkan kebiasaan untuk selalu MAU, TAHU, dan TERAMPIL. Menjadikan menulis sebagai kebiasaan. Dengan kata lain kita berkarya dari sisi kognitif, afektif dan psikomotor. Otak, hati, tangan. Semua seharusnya senantiasa dilatih. Tak hanya brain memory yang perlu setiap saat dilatih, namun muscle memory juga. 
  • Dalam tulisan tempatkanlah diri Anda sebagai guru, pendidik, bukan pengamat pendidikan. Ungkapkanlah nilai yang kita hidupi sebagai guru.
  • Pak Kartono memberikan contoh nilai yang beliau hidupi sebagai guru, “MENJADI GURU UNTUK MURIDKU. Bukan jadi guru untuk pemerintah. Bukan jadi guru untuk teman guru. Bukan jadi guru untuk siapapun juga, tapi menjadi guru untuk murid.” 

Api Mulai Menjalar ke Samping

Tips menuliskan pengalaman menjadi bacaan yang ringan dan mengena:
  • Berikan opini singkat
  • Berikan pengamatan dan pemaknaan suatu persoalan
  • Cerminkan pendapat pribadi
  • Tulisan tersebut seharusnya padat makna
  • Berikan opini referensial 
  • Berpikir analogis setelah membaca dan menemukan sebuah situasi adalah salah satu upaya menumbuhkan berpikir kritis. Contohnya ketika kita sedang nonton TV lalu menemukan suatu peristiwa yang menarik, peristiwa tersebut dapat kita analogikan kemudian kita refleksikan lalu lahir menjadi sebuah tulisan yang penuh makna dan nilai kehidupan. 
  • Untuk membuat tulisan itu jadi mengena, fokuslah pada satu persoalan sampai mendalam.
  • Guru dapat memanfaatkan pengalaman kecil berkait dengan aktivitas mendidik sehari2 dan mengembangkannya menjadi pembahasan yang ringan tetapi memberi makna penting bagi siapapun yang membacanya. Selalu beri sentuhan pada sisi humanitas, di samping aspek-aspek lain seperti aspek kultural, politik, maupun spiritualitas. 

SESI TANYA JAWAB

Pertanyaan 1 (Wiwien Prasetyati): Saya ingin masukkan semua ke dalam tulisan. Ketakutan kalo saya mau fokus, takut ga bisa mengembangkan. Bagaimana ya caranya?
Sumbu-Sumbu Telah Menyala Semua

Jawab
  • Tulisan dimulai dari suatu masalah (peristiwa, dll.). satu masalah tersebutlah yang kita evaluasi. Nah di bagian evaluasi inilah kepiawaian menulis itu perlu diasah. Kita bisa beri pembanding situasi, referensi, pembahasan, dengan kata lain kita membedahnya, menganalisisnya. Nah, oleh karena itu kita harus memiliki pisau analisis yang tajam untuk bisa membedah dengan baik. Kuncinya kita harus banyak membaca jika mau mengasah pisau analisis kita jadi makin tajam. 
  • Kalau buat tulisan tidak perlu terlalu panjang dan bertele-tele, langsung tendang ke masalahnya sehingga ide dan pikiran penulis dengan cepat dan mudah bisa tersampaikan kepada pembaca. 

Pertanyaan 2: Apakah menarik menulis tentang olah raga?

Jawab:
  • Ada seorang petenis dari Spanyol yang selalu membanting raketnya jika ia kalah dalam pertandingan. Karena kebiasaannya yang buruk itu, pamannya mengingatkan bahwa raket itu adalah jiwanya sebagai petenis. 
  • Penggalan kisah singkat tentang seorang olahragawan itu bisa jadi bahan tulisan buat kita. Peristiwa yang muncul dari bidang apapun, termasuk olah raga selalu bisa jadi tulisan reflekstif yang menyentuh sisi humanitas. Dan tulisan apapun yang mengupas nilai-nilai kehidupan pasti akan menjadi tulisan yang menarik. Begitu pula dengan olah raga. Jadi ya, peristiwa-peristiwa di dunia olah raga bisa diolah jadi tulisan yang menarik. 

Pertanyaan 3 (ibu Gita): Bagaimana cara menyunting tulisan? Setelah ditulis? Dibaca ulang? Triknya apa?

Jawab:
  • Beri perhatian pada tema (Jawab pertanyaan ini: “Kamu mau nulis apa?) 
  • Buat Pokok-pokok pikiran/kerangka karangan
  • Pakai mind map (peta pikiran) 
  • Singkirkan hal yang tidak ingin Anda tulis
  • Bebas disiplin 

Pertanyaan 3 (Bu Kris): Gimana mengatasi rasa minder kalau mau kirim tulisan ke media massa?
Menjaga Nyala Api

Jawab:
  • Banyak guru terlalu kritis pada dirinya sendiri
  • Satu-satunya tips adalah : PD aja! Tulis, kirim aja! Baca koran yang pengen dikirimi tulisan, kenali gaya tulisannya. Kalau ditolak jangan putus asa, nulis terus.
  • Tulisan ke-8 Pak Kartono baru dimuat 
  • Tulisan yang tidak dimuat jangan dibuang, simpan
  • Ada faktor soal selera redaktur juga 

Pertanyaan 4 (Ibu Udayati): Saya sudah sering menulis untuk Bali Pos, namun suatu saat saya pernah mengalami kemandegan yang mengakibatkan saya marah pada diri sendiri. Adakah tips untuk mengatasi kemandegan seperti itu?

Jawab:
  • Segarkan kembali pikiran dengan menghadiri forum-forum. Dan tetap jadikan menulis sebagai kebiasaan.

baca selanjutnya...

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN: Penggalian Ide, Judul Tulisan, dan Alur Cerita

baca sebelumnya

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini

TENTANG PENGGALIAN IDE

Eka Nur Apiyah, Ibu Udayati, Ria Santati
Ibu Yeti Islamawati mengungkapkan bahwa sms dari salah seorang siswanya menjadi ide kunci dari tulisannya yang bertajuk “Muridku, Sahabatku”

Ibu Eka Nur Apiyah mengungkapkan bahwa ide dapat diperoleh dari mana saja. Ide bisa muncul dari hal yang sederhana. Khusus untuk tulisannya Ibu Eka Nur Apiyah memang terinspirasi dari keadaan anak didiknya yang hingga kelas 4 SD tampak belum bisa membaca, yang setelah diselidiki ternyata anak tersebut menderita rabun jauh.

Berbeda dengan 2 pembicara sebelumnya, Pak Sobat mengaku bahwa beliau mendapatkan ide dari suatu kejadiaan. Suatu peristiwa yang cukup mengejutkan dan mengguncang dirinya sebagai seorang guru.

Lebih lanjut lagi, Ibu Udayati mengatakan bahwa ide tulisannya adalah dari pengamatan terhadap dua orang siswanya yang jauh berbeda, satu dengan cacat fisik dan satu lagi tidak. Dan keduanya memiliki perilaku yang berbeda. Kemudian ide tersebut menjadi refleksi dan lahirlah tulisannya “Detik-detik Terakhir.”

Ibu Fiqih Nindya mengungkapkan bahwa tulisannya yang berjudul “Anak Emas” adalah bentuk pengalaman serta pengakuan jujurnya tentang bagaimana sikap guru terhadap murid-muridya. Jadi ide didapat dari proses refleksi yang terjadi dalam dirinya.

Lalu, Ibu Ria Santati menjelaskan dengan lugas bahwa ide tulisannya yang berjudul “Piala Pertama” adalah inspirasi tokoh, muridnya.

Sedangkan Bapak Sanie mengungkapkan bahwa ide tulisannya “Madrasahku Aku Kembali” diambil dari pengalaman dan pergulatan batinnya.

Ibu Udayati, Ria Santati, Fx Suparta, Chairil Anwar
Berbeda lagi, Bapak Chairil Anwar menceritakan bahwa ide tulisannya muncul dari seorang gadis kecil di sekolahnya, yang setiap saat ketika ditemui selalu sedang membaca buku.


PROSES PENEMUAN JUDUL TULISAN

Bapak Chairil Anwar yang memiliki tulisan berjudul “Gadis Cilik Berkalung Buku” mengungkapkan bahwa dari judulnya beliau berharap bahwa ketika pembaca membaca judul tulisannya, pembaca pertama kali merasa tertarik, lalu timbul rasa penasaran. Ada pula maksud beliau bahwa judul tulisannya mengusik benak pembaca bahwa buku bisa mempengaruhi kepribadian anak.

Bapak Sobat penulis kisah “Boneka Kayu dari Balik Jendela” mengaku bahwa beliau menetapkan judul tulisan setelah tulisan rampung ditulis. Judul tulisan tersebut dipilih untuk memberikan deskripsi singkat mengenai tokoh utamanya yang menurut pengakuan beliau badannya kurus, seperti boneka kayu, sehingga pembaca bisa punya gambaran singkat tentang isi ceritanya dan tentu saja untuk mengusik rasa ingin tahu pembaca.

Ria Santati, Fx Suparta, Chairil Anwar, Sanie Ramadhan
Akhirnya, Ibu Noorvytawati mengakhiri sesi sharing proses penemuan judul tulisan ini dengan mengungkapkan bahwa judul tulisannya diambil untuk menarik minat pembaca dan untuk menggambarkan keseluruhan isi cerita, tentang perjodohan salah satu muridnya.


PROSES PENGGARAPAN ALUR CERITA

Ibu Udayati menjelaskan dalam proses menulis beliau membiarkan semuanya mengalir dahulu. Tulis saja, tidak perlu dihapus dulu. Nanti ketika tulisan sudah mulai berbentuk, baru kita bisa periksa kembali lalu sunting di sana sini.

Ibu Eka Nur Apiyah secara sederhana juga mengungkapkan bahwa ia tulisannya adalah rekaman dari kejadian yang sesungguhnya. Jadi alur ceritanya pun sesuai dengan alur cerita pada kejadian yang sesungguhnya.
Sanie Ramadhan, Dwitya Sobat, Noorvytawati

Berbeda dengan dua pemateri sebelumnya, Ibu Yeti Islamawati mengungkapkan bahwa karena ide bisa datang sewaktu-waktu, maka segera ketika ide itu muncul beliau segera menuliskannya. Tanpa membuat rancangan plot sebelumnya, serupa dengan ibu Udayati.

Soal sudut pandang cerita, Pak Fx Suparta memilih menggunakan sudut pandang orang ketika, padahal beliau bercerita tentang dirinya sendiri. Penggunaan sudut pandang orang ketiga ini memiliki keuntungan untuk menggambarkan diri penulis karena akan menghindarkan penulis dari kesan sombong dan membanggakan diri.

Selanjutnya para pemateri berbagi pemikiran tentang bagaimana memulai, memunculkan konflik, dan mengakhiri kisah-kisah mereka. Ada yang berpendapat bahwa cerita boleh diawali dengan barisan puisi, agar tak membosankan. Ada juga yang suka memulai kisah langsung pada pemunculan konflik agar tak bertele-tele dan menyebabkan pembaca bosan. Pemateri lain mengungkapkan beliau suka memulai kisahnya dengan narasi yang membawa gambaran suasana agar emosi pembaca terbawa masuk ke dalam kisahnya.
Sanie Ramadhat, Dwitya Sobat

Kemudian pada bagian pemunculan konflik, ada berbagai macam pendapat. Ada yang mengatakan konflik muncul dari kondisi riil pendidikan di Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa konflik bisa muncul beberapa kali dalam sebuah kisah.

Akhirnya, para pemateri berbagi pendapat mengenai bagaimana cara mereka mengakhiri kisah. Sebagian besar mengungkapkan bahwa selalu ada pesan yang disampaikan di akhir tulisan, entah tersirat ataupun tersurat.


SESI TANYA JAWAB

Pertanyaan 1 (Bapak Rudi):
Tulisan yang dihasilkan adalah hasil dari pengalaman para guru. Lalu seberapa jauh sebuah ide yang muncul dari pengalaman tersebut dieksplorasi oleh penulis? Seberapa jauh penulis berefleksi dan menemukan makna di balik makna cerita?

Pak Sobat menanggapi: Ide selalu muncul dari momen yang muncul pada saat mengajar. Lalu ide yang muncul itu diolah sedemikian rupa menjadi tulisan yang sedap dibaca. (Pak Sobat belum mengungkapkan seberapa dalam beliau berefleksi)

Ibu Udayati juga menanggapi: Menulis adalah melukis kata hati, pikiran, dan perasaan.

Pertanyaan 2:
Bagaimana kriteria tulisan best practice yang layak terbit?

Noorvytawati, Fiqih Nindya Palupi, Yeti Islamawati
Jawab:
Best practice yang dimaksud oleh panitia adalah best practice yang lebih banyak bercerita soal pengalaman, gaya tidak harus formal, boleh naratif.

Pertanyaan 3:
Saya punya banyak ide, tapi sering lupa kalau tidak segera ditulis. Bagaimana tipsnya?

Jawab:
Bu Yeti Islamawati mengungkapkan bahwa jika ada ide muncul memang harus segera ditulis.

Bapak Chairil Anwar memberi tips untuk menggunakan aplikasi perekam yang ada di HP untuk merekam ide yang muncul di saat kita ada pada situasi yang tak memungkinkan untuk segera menuliskannya.

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini


baca selanjutnya ...

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN: Pembukaan

baca sebelumnya..

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini


SESI PERKENALAN dan PEMBUKAAN


Lokakarya diawali dengan saling sapa antar peserta. Sebagian peserta sudah saling mengenal, karena sudah serig bertegur sapa lewat jejaring sosial Facebook, lebih di forum Grup Guru Menulis. Sebagian lagi belum saling mengenal, karena belum menjadi anggota komunitas tersebut. Maka untuk mencairkan suasana moderator sekaligus MC (Bapak Wakidi Kirjo Karsinadi dan Ibu Yulia Loekito) mengajak peserta untuk bermain “BERHITUNG.” Selain untuk saling mencairkan suasana, permainan ini juga bertujuan agar antar peserta berkesempatan saling mengenal. Permainan berlangsung seru. Semua peserta terlibat aktif. Suasana pun jadi cair

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pemanasan menulis. Pak Wakidi menampilkan sebuah gambar di layar. Gambar kapur yang patah. Peserta diminta untuk menulis apa saja yang terbersit di pikiran mereka tentang gambar tersebut. Satu paragraf. Kemudian, ada 3 peserta yang berkenan membacakan tulisannya tentang gambar tersebut. Menarik, dari ketiga peserta yang membacakan narasinya tentang kapur patah tersebut, tak ada satupun narasi yang bernada sama. Satu peserta berbicara mengenai kapur sebagai kehidupan, jiwa panggilan sebagai guru. Peserta lain menceritakan pengalamannya mengajar dengan kapur tersebut.

Untuk memperkenalkan peserta pada kisah-kisah guru yang sudah terbit maka setelah sesi pemanasan menulis, dibacakan salah satu kisah dari buku Kapur Papan: Kisah Guru-guru Pembelajar 4 yang berjudul Ibuku juga Ibu Anakku, karya Elvira Rosa, S.Pd. Kisah dibacakan dengan apik oleh Bapak Chairil Anwar.



SESI SHARING PROSES KREATIF

Sesi ini adalah sesi berbagi proses kreatif oleh sepuluh penulis buku Kapur Papan: Kisah Guru-guru Pembelajar 1-4, hasil kontes menulis guru bertema GURU YANG SELALU BELAJAR, yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis dan didukung oleh Penerbit Lingkarantarnusa.

Pemateri adalah sepuluh penulis yang dipilih oleh panita. Kesepuluh pemateri tersebut adalah

1. Ibu Eka Nur Apiyah dari Brebes
2. Ibu Udayati dari Denpasar
3. Ibu Ria Santati dari Solo
4. Bapak Fx Suparta
5. Bapak Chairil Anwar dari Yogyakarta
6. Bapak Asrul Sanie dari Temanggung
7. Bapak Dwitya Sobat Adidarma dari Yogyakarta
8. Ibu Noorvytawati dari Boyolali
9. Ibu Fiqih Nindya Palupi
10. Ibu Yeti Islamawati