oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by Pexels.com |
dulu, sewaktu segala mimpi hendak diraih
dan segenap asa telah mengembang
tunas muda tumbuh bersama
bunga yang mekar dalam hati
dulu, di sini pula saat bunyi hujan
dan gerak pena bersahutan
dengan detak jantung
menjelma gitar yang mengalun
mencoba menerjemahkan sepi
kini, di balik angka dua puluh tiga
membentang luka pada mata
tak ada lagi suara gitar
aku sepi menyanyi lagu
yang biasa kaunyanyikan
tertatih mengeja huruf-huruf
pada langit dan menuliskannya
menjadi bait-bait puisi
di balik angka dua puluh tiga
lengang menegang
membayangkan yang memang hilang
Lampung Timur, 23 Juli 2018
Puisi diambil dari Kumpulan Puisi Juli 2019
#Hujan dan Sepotong Kenangan#halaman 49
0 komentar:
Posting Komentar