Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Rabu, 15 April 2020

Ukiah, Sonian, Crystalline, Haibun: Penerbitan Jenis-Jenis Puisi Lainnya

Photo by Martin Péchy from Pexels




  • Ada banyak sekali jenis puisi. Website Poets Collective, http://poetscollective.org/ mendata banyak sekali jenis puisi.
  • Bapak Ibu boleh mencoba jenis puisi mana pun dan menerbitkannya bersama Komunitas Guru Menulis.
  • Ketentuannya pada dasarnya sama dengan jenis puisi lainnya. Berikut patokan biaya kontribusi berdasarkan jumlah halaman jadi (termasuk narasi biodata penulis)
  • Kirimkan puisi Anda ke terbitkanbuku@gmail.com

Ketentuan dan Kontribusi
Biaya ini bukanlah biaya pembelian buku melainkan biaya proses penerbitan yang mencakup: editing, layout, desain cover, administrasi penerbitan, dan pencetakan contoh terbit.

Jumlah
Kontributor

Maksimal
Halaman
Per
Kontributor

Maksimal
Halaman
Total
Buku

Biaya
per
Kontributor

Jumlah
Contoh
Terbit

Jilid

Lebih dari
5 kontributor

6 hal.

72 hal.

Rp 125,000

2 eks.

Perfect

11 hal.

72 hal.

Rp 165,000

3 eks.

Perfect

16 hal.

72 hal.

Rp 235,000

4 eks.

Perfect

21 hal.

72 hal.

Rp 305,000

5 eks.

Perfect

3 kontributor

16 hal.

48 hal.

Rp 275,000

4 eks.

Kawat

2 kontributor

21 hal.

42 hal.

Rp 355,000

4 eks.

Kawat

26 hal.

52 hal.

Rp 415,000

5 eks.

Perfect

31 hal.

62 hal.

Rp 485,000

6 eks.

Perfect

1 kontributor
(karya solo)

36 hal.

36 hal.

Rp 580,000

6 eks.

Kawat

44 hal.

44 hal.

Rp 695,000

7 eks.

Kawat

56 hal.

56 hal.

Rp 815,000

8 eks.

Perfect

72 hal.

72 hal.

Rp 955,000

10 eks.

Perfect

biaya di atas masih ditambah dengan ongkos kirim.

Penting:
  • Naskah Anda akan melewati proses penerbitan standar dan akan diterbitkan oleh Penerbit Anggota IKAPI. Naskah Anda akan benar-benar diedit (dari segi isi dan bahasa) oleh seorang editor.
  • Mohon tidak mengirimkan naskah jika Anda tidak menyepakati dengan segala ketentuan yang tertulis mengenai proyek ini.

Kelengkapan:
1. Foto diri
2. Narasi biodata (tentang penulis)
3. Foto KTP
4. Mengisi DATA PENULIS dalam Google Form yang linknya akan disampaikan sesudah Anda mengirimkan naskah.

Struktur dan Penentuan Judul Buku
Untuk antologi puisi dari beberapa penulis, penentuan struktur bukunya (urutan puisinya) akan ditentukan oleh editor. Bisa jadi tetap dikelompokkan per penulis, namun juga tidak menutup kemungkinan untuk dikelompokkan per tema yang sama.
Judul buku akan diambil dari salah satu judul puisi dan bisa jadi itu tidak mewakili semua puisi yang ada. Penentuan judul buku menjadi hak editor dan penerbit. Bukan berarti puisi yang diambil sebagai judul buku adalah yang terbaik atau lebih baik dari puisi lainnya, melainkan judul puisi tersebut mungkin lebih membuat penasaran atau karena pertimbangan-pertimbangan lain yang dianggap oleh editor dan penerbit menarik untuk dijadikan judul buku. Jadi penulis yang puisinya tidak terpilih sebagai judul buku dimohon ikhlas dan tidak perlu merasa bahwa puisinya kalah dibanding puisi yang dipilih sebagai judul buku.

Harga jual dan royalti?
Buku kumpulan puisi yang diterbitkan akan dipromosikan secara online dengan harga jual tergantung ketebalan dan pengarang akan mendapatkan royalti 10% dari harga jual dibagi rata untuk semua kontributor.
Biaya paket penerbitan buku ini tidak masuk ke dalam hitungan royalti. Royalti dihitung dari penjualan di luar biaya paket penerbitan.


Biodata Penulis
Bersamaan dengan pengiriman naskah, peserta wajib menyertakan BIODATA PENULIS pendek (maksimal 100 kata) dalam file terpisah dengan dinamai Nama Lengkap Beserta Gelar. Jangan memamerkan diri dalam biodata ini tetapi cukup cantumkan informasi paling penting. Kali ini kami akan ketat membatasi panjang biodatanya. Kalau sudah punya banyak sekali pengalaman mengajar? Pilih yang paling ingin ditonjolkan dan ditambah keterangan "pernah mengajar di 25 sekolah lain". Kalau sudah menerbitkan ratusan buku? Sebut saja yang paling membanggakan dan ditambah "ratusan buku lain".

Foto KTP 
Sertakan foto KTP. Foto KTP diperlukan sebagai dokumen pendukung untuk administrasi penerbit. Penerbit berkewajiban mengetahui siapa sapa para penulisnya, salah satunya lewat foto identitas diri.

Foto Diri
Sertakan foto diri yang menarik dalam file terpisah dalam format JPG (tidak boleh ditempel di Word karena akan merepotkan kerja kami), dinamai Nama Lengkap Beserta Gelar.

Daun Kelor

by Iskandar63 (pixabay.com) needpix.com/photo/download/937834/



Hijaumu membawa nuansa kehidupan
Kau selalu dihampiri para tetangga
Sambil berteriak, "Tante kami minta, ya ..."
Dan engkau selalu menerima
Ketika tangan-tangan lembut para bunda
Memetik tangkai hijaumu 
yang sebenarnya tak perkasa
Dan aku hanya mengintip dari jendela
Seraya bergumam, "Ambil saja."

Sebenarnya aku tak begitu peduli awalnya
Karna aku menanammu agar aku bisa 
Meminum air hangat rebusan daunmu.
Untuk mengurangi berat tubuhku

Aku tidak menyangka
Semakin kau dewasa,
Banyak yang jatuh cinta
Dan menghampirimu sambil menyapa
"Aku minta sedikit ya ...
Daun hijaumu sekadar penyembuh
Asam urat keluarga."

Aku selalu tersenyum di balik jendela
setiap kali melihat mereka
Memetik seranting daunmu
Sekedar oleh-oleh jalan pagi 
Para bunda berolahraga pagi.

Daun kelor, di hijaumu
Ada kehidupan yang nyata
Ada imun yang terasa
Bagi mereka yang cemas
Karena pandemi Covid-19
Yang kini sedang melanda

Engkau jadi idola
Ditemukan oleh para siswa
Yang belajar menjadikanmu cincau
Makanan favorit bagi anak muda

Daun kelor, di hijaumu
Ku terpana dalam senyap 
Pada nuansamu yang membawa
Sedikit harapan bagi kehidupan

Daun kelor....
Terima kasih engkau ada.

Palembang, oktaf ketiga paska 14.23


Selasa, 14 April 2020

Singkong


by rodrigoeudigo0 (pixabay.com) https://www.needpix.com/photo/280041/

Di tegak tubuhmu..
Di zaman itu, tahun 1960
Zaman sulit bagi ayah bundaku
Saat telah hadir 5 anak
Zaman ketika kalian menjadi favorit
Bagi perut mereka.

Tujuh puluh lima tahun setelah itu
Kami mulai beralih cinta
Nuju beras yang emas
Dengan segala jenisnya
Perut kami kenyang dibuatnya

Kini saat Pandemi Covid-19 melanda
Kalian menjadi bagian
Yang utama kami cari
Setelah beras bersembunyi
Saking mahalnya untuk dibeli,
Saking sulitnya dicari.

Singkong dengan segala rupa
Mau rasa manis, rasa asin, atau rasa pedas
Semua tinggal kami mengolahnya.

Kini engkau kembali menjadi idola
Setelah paceklik siap menghantam
Negeri kami tercinta.
Karena pandemi Covid-19 ini.

Singkong ...
Kenyangkan perut kami.

Palembang, oktaf ketiga paska :13.01

Photo by Fauzi Ahmad from Pexels

Vigili agung

Dokumen Lodevika Endang Sulastri


Di tahun lalu kumasih hadiri
Saat vigili Agung dimulai
Di tengah kegelapan gereja ini
Kami hadir dengan lilin siap menerangi
Suasana sekitar kami 
Bila exsultate mulai bergaung di sini
Adakah kalian ingat peristiwa ini?

Rasa sunyi tahun ini berbeda dengan tahun kemarin
Tak ada vigili dan nyanyian meriah ini
Kita masuk dalam hening yang tak pasti
Seperti keyakinan kita masing masing
Sang Dewa hadir di setiap lini

Walau ku tak mengerti
Akan kenyataan nanti
Aku tahu pasti
Perjalanan dunia ini 
Harus mulai dipersiapkan
Untuk kehidupan di masa nanti

Dekatlah Sang Dewa
Agar aku bisa mendengar lebih tajam lagi
Pesan-Mu ini bagi kami
Apalagi yang akan terjadi
Sesudah ini?

Covid 19 yang ditakuti
Telah memusnahkan titik hidup kami 
Kini kami menuai
Tindakan kami di sini di dunia ini
Yang tidak pernah menghargai
Mahluk lain di bumi

Wahai manusia..
Ingatlah bila kau ingin 
memperpanjang kontrak di bumi
Mulailah mencintai
Kronologi ekologi

Tak sulit tawaran Sang Dewa
Asal kita mengerti
Untuk apa kita mampir di sini
Adalah memperbaiki bumi
Yang telah tua ini.

Wahai Sang Dewa,
Ingatlah kami, manusia lemah ini...

Palembang oktaf paskah ketiga,07.03





Naik

Dokumen Tri Purwanto


Naik kelas
Naik derajat
Naik pangkat
Naik martabat
Naik semangat

Naik kepedulian
Naik keprihatinan
Naik ketinggihatian
Naik titik kehancuran
Naik kritikan kebakaran

Naik titik kejenuhan
Naik titik-titik keliaran
Naik butuh pertobatan
Naik kesegaran roh jiwa
Naik tingkatan pemikiran

Naik Delman K'liling Kota
Naik-naik ke Puncak Gunung
Naik kerelaan turun ke lapangan
Naik kerendahan hati menyegarkan
Naik kemantapan hati dalam melayani

Surakarta, 12 Januari 2019

Pater Dehon teladan hidup

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Dokumen Lodevika Endang Sulastri

                                          


Di tinggi sosokmu Pater Dehon,  
aku hendak belajar, 
adakah kutemukan juga kerendahan hatimu?

Di besar badanmu Pater Dehon, 
aku hendak belajar bahwa hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. 

Dari kesahajaanmu Pater Dehon 
aku hendak menimba besarnya tangggung jawab yang kaupikul bagi sesama

Adakah saat-saat heningmu juga 
Yang membuat Engkau menemukan sang Dewa? 
adakah juga malam-malam senyapmu 
menggugah engkau untuk menemukan jejak karya-Nya?

Seperti saat ini, aku terdampar dijelang pagi-Nya. 
Dan tak juga kutemukan profil lugu-Nya. 
Bak gadis pingitan desa. 
Yang ada hanyalah senyapnya dipecah suara jangkrik.

Sang Dewa pujaan segala bangsa
Hadirlah di sini bersama Pater Dehon dan juga kami ... untuk menguatkan iman kami.
Agar kami senantiasa setia berkarya
Bagi jiwa yang menderita.

Palembang oktaf keempat paska:0046

Malam Bercahaya


Photo by GEORGE DESIPRIS from Pexels



Malam mulai menampak
Dingin menggigit,
Menyentuh raga lelah
Jiwa menjelajah mengejar sempurna
Di hadapan Sang Pencipta

Runtuh bak tak berdaya
Serahkan semua tak bersisa
Jiwa menyerahkan karya
Yang telah diukirnya di dunia

Suara jangkrik ikut meramaikan
Suasana yang senyap 
Hingga hanya detak raga
Yang terdengar berirama
Meningkah suara binatang malam

Raga terduduk menghitung detak
Rasa tak lagi percaya
Dunia tinggal sejengkal 
Sang Dewa telah datang
Dalam suci dan Terang-Nya

Hanya selepas nafas tak bersisa.
Pulang dalam damai-Nya.

Palembang, oktaf ketiga paska: 22.33