Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Tampilkan postingan dengan label Pulpawati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pulpawati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2020

Menjemput Senja di Palu Donggala

Puisi Pulpawati
Menjemput Senja di Palu Donggala, Puisi Pulpawati
Photo by GEORGE DESIPRIS from Pexels



Anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah
Bapak-bapak yang sibuk menonton tivi di rumah ‘ngaso dari penatnya pekerjaan
Ibu-ibu sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam rasa cinta
Roda derit kendaraan simpang siur menjemput aroma petang, pulang ke rumah.

Denyut nadi pergelangan Pantai Talise berdetak seiring detik tiktok
Menggelayut menemani cerita pantai menjemput senja yang menawarkan aroma sunset
Bayangan kota Palu Donggala terang temaram di antara pepohonan jalanan
Tak sempat terpahat kata cinta dan maafkan pada senja itu

Angin telah bertandang membawa gelisah yang terangkum dalam desau senjanya
Dengarlah! Ada bisikan tanah berderak-derak, pertanda akan ada tamu bertandang
Tiba-tiba ada gertakan bumi retak, angin simpang siur terkibas lari ke sana kemari
Beralun oleng bagai ayunan anakku di kebun belakang rumah
Dan air laut itu pun bertamu di bumi Palu Donggala
Memanggil serta aliran lumpur 
Rumahku, rumahmu, istana kita rubuh seketika
Yang tersisa hanyalah isak tangis yang mencekam

Ooohh … ke manakah gerangan anak-anak yang tengah bermain di halaman rumah?
Ooohh … ke manakah bapak-bapak yang sedang ngaso di depan tivi?
Ooohh … ke manakah ibu-ibu yang memasakkan masakan aroma cinta yang tak sudah-sudah?
Tergerus air laut ataukah tertelan lumpur?
Duhai, pahit terasa. Aku kehilangan kekasihku ...
Tertinggal di Petobo telah terkubur dalam lumpur
Cinta dan cita terkubur di sana
Tak bernama apa-apa nisannya
Hanya setangkup rindu yang perih dalam linangan doa tulus ikhlas
Terimalah dia Tuhanku

Ah, Palu Donggala
Terangkum cerita pilu pada gurat wajah negeriku
Mengalirkan dukacita yang mendalam
Tak ada lagi cerita senja di ruang tamu
Tak ada lagi cerita di meja makan setelah makan malam
Tak ada lagi suara denting merdu sendok ibu menyeduh teh pagi hari
Tak ada lagi suara mendehem ayah membaca koran pagi hari
Semua kenangan telah tersimpan dalam lumpur dan gerus air laut
Di antara puing-puing dan retakan tanahku.

Mari kotaku Palu dan Donggala bangkitlah kembali
Buat cerita lebih indah tentang Jembatan Kuning
Rangkai cerita indah tentang Pantai Talise
Bahwa cinta tetap tersimpan rapi
Banyak mata penuh harap dari atas sana
Suatu saat Palu Donggala lebih indah dari yang telah pergi



diambil dari buku Menjemput Senja di Palu Donggala: Kumpulan Puisi November 2018 halaman 13-15

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:

Sabtu, 04 April 2020

Bukan Perempuan Biasa

oleh Pulpawati
Christina Morillo in https://www.pexels.com/


Hidup dengan satu ginjal? Ya Tuhan kehidupan seperti apa ini? Suatu hal teramat jauh dari anganku. Hidup sehat dan sejahtera memenuhi seluruh rongga dadaku. Mampukah dia mencintaiku seperti dahulu? Jangan-jangan dia mencintai hanya sehatku saja tidak mencintai sakitku. Hidup dengan satu ginjal. Itulah vonis dokter kepadaku beberapa bulan yang lalu, saat nyeri mulai menyerang hebat seluruh persendianku di perut sebelah kiri ke bawah. Hari-hari terlewati begitu menekanku beberapa bulan terakhir ini. Tugas-tugas dari siswaku terbengkalai berhamburan di meja, buku paket pelajaran menunggu dibuka oleh tanganku, Program remedial buat siswaku tak tersentuh olehku. Aku seolah mencintai selimut putih agak lusuh hangat di atas peraduanku. Matahari pagi hangat mencumbu kulitku, udara segar menyergap masuk ke kamarku.

“Selamat pagi, Bunda!” senyum Bapak membangunkanku dari peraduan setelah malam merajutku dalam belahan-belahan pikiran yang tak kunjung berujung pada satu asa. Aku balas tersenyum, kuharap senyumku ini pagi semanis madu buat anak-anakku dan bapak dari anak-anakku.

“Hari ini, saya mau ke sekolah, anak-anak pasti menungguku, menunggu pelajaranku yang sekian waktu tak kunjung usai, padahal hampir semesteran tiba.”

“Tapi?” nada dari bapak anak-anakku tergantung. Aku paham dia mengkhawatirkan kondisiku. Aku sedikit tersinggung.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku sehat.” Dengan semangat aku berdiri dari pinggir tempat tidurku. Entah kekuatan dari mana hari ini aku tiba-tiba sehat walafiat. Ooo, aku tahu, mungkin dikarenakan hari ini ada rasa rindu menjalar demikian hebat untuk kembali memandangi mata bening siswa-siswiku, membuat mereka ngakak halus jika saya menguraikan sebuah cerita menarik dan lucu bagai untaian drama lucu di depan mereka. Kekuatan untuk menemui mereka bak datang dari surga. Kekuatan sebagai seorang ibu bagi anak-anakku dan kekuatan sebagai seorang guru yang jauh di dalam sanubari ingin pengabdiannya tulus dan ikhlas tanpa terhalang oleh penyakit apa pun jua. Beranjak aku dari peraduanku; matahari terbit dari jendela.

Sebulan aku mengajar, kekuatan mata bening anak didikku memberiku kekuatan yang luar biasa. Namun, tak disangka siang-siang bolong begini lututku seakan tak bertulang. Rasa nyeri di perut bagian bawah sebelah kiri demikian hebat menyerang seolah mengunci semua persendianku. Seingatku aku dipulangkan ke sebuah puskesmas terdekat dengan sebuah mobil pete-pete butut milik Pak Tandi. Kuingat bapak anak-anakku sepakat dengan dokter PTT di desa tempatku mengabdi akan merujukku ke RS kota madya. Jauh-jauh hari bapak dari anak-anakku menjual tanah warisan kakek di sudut desa ditambah dengan kredit kami yang sedari awal disiapkannya semenjak seorang dokter memvonisku penyakit ginjal stadium dua.

Tidur di ranjang kecil dan sekeliling serba putih membuatku seolah tak berdaya sama sekali. Aku sedih, bapak anak-anakku dengan setia menghabiskan waktunya menungguiku di sisi kamar putih. Meskipun nyeri yang teramat sangat tetap kuberi dia sapaan dan senyum manis setiap aku terbangun dari tidurku. Dia melarangku bangun dari ranjang putih itu, tapi aku takut menutup mata terlalu lama berjam-jam karena ngeri membayangkan manakala mataku tak bisa lagi kubuka dan sudah berada di tempat yang amat jauhnya dari mereka.

Entah sudah beberapa bulan lamanya, aku diperkenankan dokter pulang ke rumah. Tiga orang dokter menyalamiku dan bergurau bahwa aku kini tambah cantik dengan kulit yang putih serta badan yang agak ceking. Namun, kurasa gurauan dokter membuat aku semangat dan semringah. Bapak dari anak-anakku pun menambahkan dengan gurauan serupa. Sebulan telah berlalu aku mampu mengajar di sekolahku kembali. Meski dengan satu ginjal, aku merasa seperti punya ratusan ginjal jika aku ada di tengah anak didikku yang lugu dan polos. Itulah sebabnya mengapa aku justru meminta tidak ditempatkan di kota tetapi di desa ini untuk mengabdi.

“Selamat ulang tahun, Ibuuu ...!” Aku kaget, suatu sore dari arah pintu depan rumah, anak-anak didikku berhamburan membawa bunga mawar, melati, dahlia dalam pot kayu. Aku tahu itu bunga dari taman bunga di sekolah kami.

“Ini, Ibu, kami bawakan bunga karena ibu sekarang ulang tahun yang ke-33.” Kulihat ada yang bawa pisang, ubi, jambu air, dan berbagai macam buah dari kebun mereka. Saya menangis terharu. Mereka yang polos, lugu, tak tahu arti ulang tahun, datang membawakan bunga untukku. Bunga yang berwarna warni.

Tiba-tiba Onggo, anak didikku yang paling gendut, berdiri membacakan sebuah puisi yang manis. Temannya bersorak riuh, kata Onggo itu puisi dia buat sejak saya di rumah sakit. Aku peluk mereka satu per satu. Sesuatu yang besar tumbuh menjalar dalam ruang hatiku dan rasa itu adalah harapan untuk terus berjuang hidup dengan satu ginjal karena mereka selalu menungguku setiap pagi di gerbang sekolah.

Matahari tenggelam di ufuk barat. Dari arah serambi kanan rumah, Gunung Panusuk mulai diselimuti kabut sore yang dingin. Aku beranjak masuk rumah menyalakan lampu pelita buat kami makan malam dan buat terang bagi anak-anakku untuk belajar sejenak Maklum di desa kami belum ada listrik. Aku serasa sehat kembali.

Meski dengan satu ginjal aku tetap mengabdi di desa terpencil ini ... karena di sini denyut jantungku, di sini ginjalku akan tumbuh subur kembali dengan gemburnya riuh gelak anak-anak dari kandunganku dan anak-anak dari ilmuku.

***

dari buku Jarit Ibu Pengobat Rindu: Kumpulan Cerpen halaman 1-4

Minggu, 22 Maret 2020

Pulpawati, guru SMA, anggota Komunitas Guru Menulis dari Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat

Pulpawati, guru SMA, anggota Komunitas Guru Menulis dari Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat


Pulpawati, S.S. Sebuah nama yang terkadang membuat orang bertanya tentang arti nama itu. Memang setiap nama diberikan orang tua kepada anaknya, pasti ada nilai tertentu. Bersyukur memiliki nama itu. Lahir di sebuah desa yang jauh dari perkotaan, di Beting pada tanggal 29 September 1978. Memiliki dua putra yang selalu memberinya inspirasi dalam setiap tulisannya. Alumni dari Universitas Negeri Makassar ini jurusan Bahasa dan Sastra mengabdi pada SMA Negeri 1 Sumarorong semenjak tahun 2003 sampai sekarang.

Karya Bersama Komunitas Guru Menulis


Menjemput Senja di Palu Donggala: Kumpulan Puisi November 2018
Menjemput Senja di Palu Donggala
Berakhir
Siapakah Kita Ini
Lebih Mengerti
Pasrah




Jarit Ibu Pengobat Rindu: Kumpulan Cerpen
Bukan Perempuan Biasa
Tertinggal


Sabtu, 02 Maret 2019

Jarit Ibu Pengobat Rindu: Kumpulan Cerpen



Kode: 0130002
Judul: Jarit Ibu Pengobat Rindu: Kumpulan Cerpen
Penulis: Abdul Hakim [et al.]
ISBN: 978-602-53561-8-6
Terbit: 1 Maret 2019
Tebal: 88 halaman (viii+80
Ukuran: 14,5x21 cm
Harga: Rp40.000

Buku ini dicetak sesuai pesanan. Pesan 1 eksemplar pun akan kami layani. Untuk memesan buku ini, silakan hubungi yedijanusantara@gmail.com atau melalui pesan WhatsApp dan sampaikan Nama Pemesan serta alamat lengkap (dengan menyebut nama kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, serta kode pos)


Informasi detil
Kode: 0130002
Judul: Jarit Ibu Pengobat Rindu: Kumpulan Cerpen
ISBN: 978-602-53561-8-6
Terbit: 1 Maret 2019
Tebal: 88 halaman (viii+80
Ukuran: 14,5x21 cm
Harga: Rp40.000


Deskripsi:
Buku ini memuat 14 cerpen dari 9 penulis. Tema yang diangkat beragam: cinta, kritik sosial, perjuangan hidup, bencana, pendidikan, keluarga, ada pula yang menggarap personifikasi dunia binatang.


Daftar Cerpen:
Tertinggal ~ Pulpawati 5
Anak Petani yang Ingin Terbang ~ Andri Saputra 9
Balada Tanah Sengketa ~ Misdianto 15
Ups! Gara-Gara UN ~ Misdianto 18
Mendadak Artis ~ Misdianto 23
C Namamu ~ Sumiarsih 26
Gelang ~ Sumiarsih 32
Ketika Merapi Beraksi ~ Erna Hikmati Hidayah 37
Jangan Pukul Aku Ibu ~ Etty 48
Jarit Ibu Pengobat Rindu ~ Abdul Hakim 56
Ada Denting Cinta di Matanya ~ Lodevika Endang Sulastri 64



Menjemput Senja di Palu Donggala: Kumpulan Puisi November 2018



Informasi detil:
Kode; 0120010
Judul: Menjemput Senja di Palu Donggala: Kumpulan Puisi November 2018
Terbit; 04-Dec-18
Tebal: 86 (viii + 78) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000


Deskripsi:
Menampilkan 60 puisi karya 13 guru, ini adalah buku yang kelima belas yang lahir dari rahim daya kreasi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis.

Daftar penulis dan puisinya:
Aris Trapsilowati
Senja Pagi
Bangkit
Aku Tidak Dungu
Bunda Tersayang

Landriani Nurdin
Rajut Asa
Dengar Rasaku
Aku Impianmu
Sekolahku
Pengabdianku

Pulpawati
Menjemput Senja di Palu Donggala
Berakhir
Siapakah Kita Ini
Lebih Mengerti
Pasrah

Rifkiyati Hafifah
Menatap Bayangan Semu
Kelabut yang Merona

Misdianto
Berpayung pada Ilahi
Murka

Yanti Mariyani
Kehilangan
Rasa Ini
Menggenggam Manjapada
Lelah Tuk Lillah
Tak Tergambarkan

Nining
Senja yang Hilang
Duka Kotaku
Kota Mati
Tragedi Penghujung September
Cerita Senja
Refleksi Diri
Sandiwara
Mengejar Matahari

Hermanus Tahu Seran
Menjemput Senja di Palu Donggala
Untukmu Sahabatku
Secercah Harapan
Entahlah

Raudhoh Naratiba
Penghantar Hujan
Maaf ... Setengah Hati
Kisah Jam Pasir
Penjelajah Masa
Belenggu Hidup
Hati yang Menari-nari

Nelda Wita
Indonesia Berduka
Bencana
Tangis Donggala
Terkubur

Elisabeth Risa Kurniastuti
Tanya
Kopi Senja
Kupanggil Kau Rindu
Barisan Sunyi
Nyanyian Alam

Erma Lidyawati
Tangisan Ibu Pertiwi
Angkuh
Mengulang Duka
Bagai Sepotong Kertas Kecil
Kesombongan

Liza Lestari
Rapuh
Karena Kita Indonesia
Aku Memilih Diam
Tangisan Palu dan Donggala
Cinta Untuk Muridku