Senin, 29 Juni 2026

Tujuh Jejak Rahmat: Membaca Seabad Gereja Kotabaru


Spesifikasi

Kode:510013
Judul:Tujuh Jejak Rahmat: Membaca Seabad Gereja Kotabaru
Penulis:Petrus Craver Swandono SJ, Yohanes Krisostomus Septian Kurniawan SJ, Amadea Prajna Putra Mahardika SJ, Lambertus Alfred SJ, Bernadus Dirgaprimawan SJ, Tomas Becket Pramudita SJ, Daud Kefas Raditya SJ, Benicdiktus Juliar Elmawan , J. B. Heru Prakosa SJ, Arnold Lintang Yanviero SJ, Andreas Agung Nugroho SJ, Frederick Ray Popo SJ, Ishak Jacues Cavin SJ, Alexander Barry Ekaputra SJ, Bonifasius Junio Surya Aji SJ, Antonius Sumarwan SJ, Klaus Heinrich Raditio SJ, Yohanes Crissostomus Wahyu Mega SJ, Roberthus Kalis Jati Irawan SJ, Wahyu Santoso SJ, G. P. Sindhunata SJ,
Tahun Terbit:2026
ISBN:-
eISBN:-
ISBN PDF:-
Tebal:343 (xxx+313) halaman
Harga:Rp170.000



Deskripsi Buku

Selama satu abad, Gereja St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta telah menjadi saksi perjalanan iman ribuan orang. Berdiri sejak masa kolonial Hindia Belanda, gereja ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah perkembangan Gereja Katolik di Yogyakarta, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, lintas budaya, dan lintas pengalaman hidup. Dari sebuah paroki yang melayani kawasan permukiman kolonial, Gereja Kotabaru bertumbuh menjadi salah satu pusat pastoral yang paling dikenal di Indonesia. Setiap pekan, ribuan umat datang dan pergi: mahasiswa, pekerja, keluarga muda, wisatawan, hingga para peziarah. Mereka singgah, berdoa, memperoleh penguatan iman, lalu kembali melanjutkan perjalanan hidup mereka.

Apa makna semua itu bagi Gereja?

Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah buku Tujuh Jejak Rahmat: Membaca Seabad Gereja Kotabaru. Melalui tujuh kajian yang disusun oleh para frater Kolese St. Ignatius (Kolsani), buku ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan Gereja Kotabaru dari berbagai sudut pandang: sejarah, arsitektur, pendidikan, seni, spiritualitas, pastoral, hingga refleksi teologis mengenai masa depan Gereja di tengah masyarakat yang terus berubah.

Buku ini tidak berhenti pada upaya mengenang masa lalu. Sejarah dipahami bukan sebagai kumpulan peristiwa yang telah selesai, melainkan sebagai jejak-jejak rahmat yang terus menghidupi Gereja hingga hari ini. Karena itu, setiap kajian tidak hanya berusaha menjawab pertanyaan "apa yang pernah terjadi", tetapi juga "mengapa hal itu penting" dan "apa artinya bagi Gereja masa kini".

Melalui penelusuran arsip, dokumen-dokumen sejarah, wawancara, penelitian lapangan, serta refleksi teologis, para penulis menunjukkan bahwa Gereja Kotabaru sejak awal dibangun dengan semangat yang melampaui zamannya. Misi pendidikan yang dirintis Romo Fransiskus Strater, SJ, keberanian untuk berdialog dengan budaya setempat, perhatian kepada dunia intelektual, serta pelayanan kepada masyarakat luas menjadi fondasi yang terus membentuk identitas Gereja Kotabaru hingga sekarang.

Salah satu pembahasan yang menarik dalam buku ini adalah bagaimana Gereja Kotabaru dibaca sebagai "Gereja persinggahan". Di tengah mobilitas masyarakat modern yang semakin tinggi, Gereja Kotabaru menjadi tempat orang datang tanpa harus terikat secara administratif sebagai umat paroki. Fenomena ini kemudian dibaca menggunakan teori-teori sosiologi kontemporer, terutama konsep liquid modernity dari Zygmunt Bauman dan liquid church dari Pete Ward, lalu diperdalam melalui ajaran-ajaran Gereja Katolik mengenai konversi pastoral. Dari sinilah muncul sebuah gagasan yang segar: Gereja bukan sekadar "terminal" tempat orang singgah, melainkan "oase" dan "basecamp" yang mempersiapkan umat untuk kembali diutus ke tengah dunia.

Di sisi lain, buku ini juga memperlihatkan bagaimana Gereja terus berusaha menjawab tantangan zaman. Mulai dari perhatian terhadap kaum muda, keterlibatan dalam karya-karya sosial, kepedulian terhadap lingkungan hidup, hingga pemanfaatan media digital, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Gereja Kotabaru untuk tetap relevan tanpa kehilangan akar tradisinya.

Keistimewaan buku ini terletak pada pendekatannya yang multidisipliner. Sejarah dipadukan dengan kajian budaya, arsitektur, pendidikan, sosiologi, dan teologi sehingga menghasilkan pembacaan yang kaya sekaligus mudah diikuti. Bahasa yang digunakan tetap ilmiah, tetapi disajikan secara populer sehingga dapat dinikmati oleh pembaca umum, umat paroki, pegiat sejarah Gereja, mahasiswa, maupun para pemerhati kehidupan Gereja Katolik di Indonesia.

Sebagai penutup, buku ini diperkaya dengan epilog reflektif karya G.P. Sindhunata, SJ, yang mengajak pembaca memandang Gereja bukan terutama sebagai sebuah institusi yang statis, melainkan sebagai komunitas yang senantiasa diperbarui oleh Roh Kudus (ecclesia semper reformanda). Gereja dipanggil untuk terus berdialog dengan dunia, merawat harapan, menyembuhkan luka-luka kemanusiaan, dan tetap setia menjadi saksi Kristus di tengah perubahan zaman.

Tujuh Jejak Rahmat: Membaca Seabad Gereja Kotabaru pada akhirnya bukan hanya sebuah buku peringatan seratus tahun sebuah paroki. Buku ini adalah undangan untuk membaca kembali perjalanan Gereja sebagai karya rahmat Allah yang terus berlangsung. Sebab sejarah Gereja bukan sekadar kisah tentang gedung, tokoh, atau peristiwa, melainkan kisah tentang Allah yang terus bekerja melalui umat-Nya. Dari Kotabaru, pembaca diajak melihat bahwa Gereja yang berakar kuat pada tradisi justru mampu terus bertumbuh, berdialog, dan melangkah ke masa depan dengan penuh harapan.

0 komentar:

Posting Komentar