Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Jumat, 23 Desember 2022

Batu Terbang, Puisi Yerem Beda Warat




Batu
Terbang
Cepat-cepat mencari celah
Tempat bertengger
Bersarang

Dengan cakar makarnya
Ia mengorek paksa
Membuang habis isi kepala bocah baru belajar

Bersarang dia di situ
Beranak cucu dia di situ
Semua senyap seperti tak tahu

Tapi
Setelah lama
Tak tertampung lagi dalam kepala
Batu terbang bersama semua anak cucunya
Beterbangan keluar
Mencari mangsa
Di luar

Batu terbang patah sayap tertembak pemburu
Dor!

Batu
Jatuh
Terundung
Sayap sendiri
Bagaimana berdiri lagi


Perteguhen, 24 Desember 2022




*) Puisi ini dimulai dari PINTU GERAK/ KINESTETIK.

Kamis, 22 Desember 2022

Wajah Penuh Darah, Puisi Yerem Beda Warat



<Membaca tragedi anjing kecil 1>


Anjing kecil
Tergilas mobil
Di tengah jantung kota
Siapa dengar erangannya
Siapa paham jeritan tangisnya

Anjing kecil
Tutupi wajahnya dengan darah
Takut dia ditandai bunda
Tambah beban di dada

Anjing kecil
Tutupi matanya dengan darah
Takut lihat iba bunda

Wajah penuh darah siapa punya
Wajah penuh darah siapa peduli

Cuma bunda
Menjilat wajah penuh darah
Menyatukannya dengan darah sendiri
Siapa pernah menceraikan darah dari darah

Cuma bunda
Mengecup kerning penuh darah
Membuka kelopak-kelopaknya
Untuk tatapan terakhir yang hidup
di kematian ini

Anjing kecil

Wajah
Penuh darah
Siapa mengenangnya



Gang Olakisat, 23 Desember 2022

Rabu, 21 Desember 2022

Tukang Sampah, puisi Yerem Beda Warat



*

Pagi-pagi ia bangun menjemput sampah dari pintu ke pintu. Tanpa absen. Sebab absen berarti kiamat baginya. Sehari tak kerja, sehari itu pun mati tungku. Tak makan. Tak sekolah anak semata wayangnya. Maka sakit yang masih bisa dibawa-bawa tak jadi alasan untuk absen sehari dua hari. Ia, tak mau absen. Tak mau memperpanjang litani kiamat-kiamat kecil. Ia, tak mau membiarkan sampah mengotori kampung kami, jalanan kami, gang kami, rumah kami, kamar kami, sempa kami, aurat kami.

Di sekolah. Anaknya yang semata wayang itu diolok, diejek habis-habisan oleh teman-temannya, hanya karena berayah si tukang sampah tadi. Ia cantik. Tertib, bersih, necis dan apik. Tapi hampir semua teman menjauhinya. Bau sampah pada ayahnya, dilekatkan juga pada dia. Dia diam sampai-sampai jadi pendiam, penyendiri. Ketika jam pelajaran tiba, barulah ia bersemangat kembali. Karena semua tugasnya beres dan ini yang menghiburnya sebab para guru menyukai ketekunannya.

**

Di bawah upacara bendera di suatu Senin pagi, ia ditunjuk langsung oleh kepala sekolah menjadi pengurus sampah di sekolahnya. Semua guru dan siswa-siswi bertempik sorak menyambut penunjukkan itu. Teman-temannya menganggap itu pangkat paling pas baginya. Ia pun menerimanya dengan lapang dada. Setiap pagi ia lebih awal ke sekolah setelah membereskan pekerjaan di rumah. Sampai di sekolah ia mengumpulkan sampah bersama dengan teman-teman yang sungguh mencintai kebersihan lingkungan sekolah. Itu ia lakukan tanpa malu tanpa minder, sekalipun ia tahu dengan tugas ini ia semakin disepelekan, diremehkan dan malah direndahkan oleh teman-temannya.

Sebagaimana ayahnya di mata segelintir orang, demikian halnya ia. Tapi di mata kepala sekolah dan segenap guru, ia adalah anak pembersih. Dari dialah lingkungan sekolah jadi bersih, kelas bersih, lantai bersih, papan tulis bersih, papan absen siswa maupun guru, bersih semua. Itulah sebabnya sekolahnya meraih juara satu nasional perlombaan Sekolah Bersih. Ia lalu dinobatkan menjadi Duta Sekolah Bersih Nasional.

***

Di bawah upacara bendera pada suatu Senin yang lain lagi, kepala sekolah memanggilnya ke depan. Di bawah bendera, di hadapan semua peserta apel, kepala sekolah menandaskan:




Tukang sampah
Telah mempersembahkan emas murni
Bagi panti pendidikan kita
Bagi segenap kita
Semua guru
Serta siswa
Siswi

Sampah
Berisi emas!

Masih
Menjijikinya?

Semua diam
Lalu pulang satu-satu
Tinggal ia, anak si tukang sampah itu
dan kepala sekolah di sisinya
Menguatkan dia
Besarkan dia

Aku pun tidak menghukum engkau
Bisik sang kepala sekolah
Mengutip kitab
Lalu pulang
Membaca
Diri

Sendiri?


Gang Olakisat, 06 Mei 2022

Minggu, 18 Desember 2022

Piring, puisi Yerem Beda Warat





Di piring ini pun

Tergenang
Air mata adikku
yang terusir malam itu
Membawa pulang perutnya yang kosong
ke kampung kami

Karena piring di tenda
Tiada yang kecil
Buat yang kecil

Di sana
Dekat tungku kami yang sama dulu itu
Ia mengisi perutnya dengan singkong sisa kami
Sedang di sini nasiku basi
Terbuang
Buang

Basi nasi itu tanda mati api
Mari kobarkan

Ouh, Piring
Pangkuan nasi dan air mata bersepeluk
Kapan kami berpelukan lagi
Kenyangi lapar kami
Seperut


Di Lewoleba, 08 Agustus 2010


Sabtu, 17 Desember 2022

Jagung di Kebun Kami




Lembu
Jangan makan kami
Meski kami mirip rumput
Makananmu

Ia
Turut
Tuannya pergi
Sambil mamah gigi

Memang
Mulut susah dikandang


Pintubesi, 10 September 2012


Lilin di Tanganku, puisi Yerem Beda Warat






Lilin
di tanganku
Terbakar sampai ke tulangku

Arangnya jatuh

Melukai
Bening matamu
Lalu berkubur dia di situ
Sembunyikan takutnya akan dikau

Sejak itu
Berning matamu
Bernoda hitam tak hilang-hilang
Sebab aku yang di dalam
Tuhan

Tuhan
Jaga biji matamu


Perteguhen, 25 Mei 2014


Jumat, 16 Desember 2022

Malam Pengasingan, puisi Yerem Beda Warat






Setelah
Kauisi paksa perut dan otak benakku
Kenyang-kenyang dengan makianmu
Aku kautendang
Buang

Keluar!

Lenting linding aku keluar
Membawa cucumu masih menyusu
Mencari tumpangan
Malam itu juga

Kelam pekat

Bulan muram
Memandangi kami
di bawah atapan sedaun pisang
Sekadar menutup ubun Boli
dari rinai air matanya

Bulan iba
Lalu lari sembunyikan air matanya
ke balik awan
Sambil memohon hari terangi kami

Jadilah
Terang tengah malam itu
Sebab bulan dan matawari bergandengan
Menangkupkan diri di tenda pengasingan kami

Siang
Malam
Terus terang di tenda kami

Pada malam pengasingan kami,



Pintubesi, 17 November 2013



Kamis, 15 Desember 2022

Di Taman Itu, puisi Yerem Beda Warat

Di Taman Itu, puisi Yerem Beda Warat



Dari atas tiang itu

Tuhan
Tunduk
Minta tanganku
Mengobati luka-luka yang berjejalan
Menyelimuti
Tubuhnya

Selimut luka kawan sengsara
Sampai akhirnya Ia menyerahkan nyawa
Sebelum sempat kami lepas
dari peluk penghabisan

Hembus nafas penghabisannya
Mengalir lambat sekali
Seperti tak mau meninggalkan
lorong-lorong kami yang selama ini
Dalam dadaku

Di situ
Tinggal dia
Berdoa untukmu di taman itu
Tiap malam sampai pagi
Tak terusik hidung lagi

Kupu pun
Berdatangan
Menimba nektar tak habis-habis




Perteguhen, 27 November 2014


















Minggu, 11 Desember 2022

Sopir itu Bernama Corona


Foto oleh cottonbro studio dari Pexels

Ia
Setia
pada tugasnya
Tak tidur-tidur dari pagi sampai pagi lagi
Menjemput penumpang yang hendak turut

Ia
tulus
Memberi tahu peruntukan dirinya
Kepada tiap calon penumpang yang lagi antri
Di halte-halte tungguan

Bila berminat keburu mati

Jabat tanganku
Terus ke mobil kita berangkat
Haram hukumnya berpelukan
dengan kaum kerabat dan anak bini sekalipun
Kalau sudah di genggamanku

Bila tidak

Jangan sentuh aku
Sekalipun engkau tergila-gila padaku
Cuci tangan, mulut, dan dirimu
Segera sesudah kita terlanjur berperlukan
atau bersentuhan badan saja sekalipun

Jangan ratapi pemisahan yang menceraikan kita ini
Tapi ratapi dirimu sendiri yang bakal sakit sampai mati diisolasi
Tak berpengunjung sesiapa pun

Ratapi juga
Anak binimu yang menanggung rindu padamu
yang sakit sampai mati dalam keterasingan
Ke kubur tak dihantar barisan duka orang-orang tercinta
Bagai membuang sampah
dan bangai tikus kesturi

Yang kausuka?


Istana Jiwa, 27 Juni 2020

Kamis, 08 Desember 2022

Anjingku

Foto oleh Charles dari Pexels




Anjingku
Kawan karibku
Di mana daku di situ dia

Malam
Dia di luar pintu sampai pagi
Menjagaiku jangan-jangan datang pengganggu

Aku
Nyaman
Dalam kawalannya

Tadi ini
Ketika kuberi jatah makan
Jatah kembarannya pun ludes dicaplok
Tak bersisa

Lidah anjing
Lembut bergerigi
Mencaplok tuan sendiri
Bila lanjur
Terlena

Anjingku
Pembunuhku
Bagaimana denganmu

Diam
Dalam
Bergigitan
Tuding-menuding

Ujung akhirnya?

Dari Perteguhen, Awal Desember 2022

Rabu, 07 Desember 2022

Tendangan

Foto oleh Dmitriy Zub dari Pexels



Tendanganmu
Melubang di mukaku
Tak tertutupi tanah sebumi

Hiu bergigitan di dasarnya
Memutuskan jempol-jempol kita
yang sengit bertudingan

Ujung-ujungnya terus menuding kita
Sampai ke lahat

Mati
Tak senyenyak dulu lagi

Pintubesi, 02 Oktober 2018

Dipan

Foto oleh WoodysMedia dari Pexels




Melangkah dengan hati
sampai pun merangkak-rangkak

Ia
Mengais
Mencari-cari kami
di bawah reruntuhan kota dan kampung kami
yang diguncang gempa paling parah
Gempa nurani

Tangan
di dadamu
Menyentuh hati kami
Menatang kakimu biar bersih
Sampai
Nanti

Jokowi
Jangan injak kami seperti sidulu
Sekalipun kami dipan dudukanmu
Serata tanah

Duduklah
Di dipan ini lagi

Pintubesi, 13 Oktober 2018

Atapi Buku Kami



ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww




                    Kado Pelantikan
                    Jokowi Amin


Sesudah
Dua tahun tak penuh
Mengungsi di huntara dua
yang dikontrak selama 5 tahun
Kami lalu dipulangkan ke kampung
Eks zona merah Sinabung

Air tak ada

Cuma hujan
yang setia turun beri kami minum
Sambil menginjak buku sekolah kami
Karena seng yang lima lembar itu
Masih mengatapi tenda pelantikan
Bapak berdua
Hari ini

Kalau usai
Pesta Pelantikan ini
Kirimi kami yang lima lembar
Itu saja

Biar
Buku kami tak basah lagi

Indonesia
Atapi buku kami

Pintubesi, 20 Oktober 2019


Tiada Lagi

Foto oleh Paula Schmidt dari Pexels




Bekas kakiku pun
Tak mau di pintumu lagi
Maka kujilat dan kubawa-bawanya pergi
dalam bedungan beludru mulutku
Agar tak kotori pintumu lagi
Tak terganggu kau lagi

Mulutku
alamatku
Teras diriku berdiri
Dipagar pasukan tulang melulu
Agar tak terganggu kau lagi
Tak terinjak kau lagi

Aku pun
Telah kucopot dari namaku
Hidung pesekku, titisan ibunda pun
telah kukikis kandas biar pun berdarah-darah
Agar tak bebani lamunanmu lagi
Sekalipun gambar-gambar bersepelukan
Berpajangan di dinding-dinding kita

Aku
di punggungku
Tak menumpang pada siapa
Pada namaku
Pun!

Percuma menyimpan cangkang
Isi tiada

Aku di diriku sekarang
Namaku pun
Tiadalagi

Tanah Karo, 25 November 2014

Azan

Foto oleh Monstera dari Pexels




Berlayar menghabisi lautan

Kautumpangi bulan lengkungi langit
Turun tudungi bumi
Kita ini
Dari rampasan tangan dan gerus alam

Di bawah tudungan alam ini
Kaurukuk menyembah Dia
yang tak putus-putusnya
Kauseru sepanjang azan

Denyut jantungmu
adalah azan yang Ia lantunkan sendiri dalam dadamu
Membujukmu merukuk lagi di bawah langit
Alis mata-Nya
yang menudungi kepalamu
Sampai sekarang
Ini pun

Engkau
Biji mata-Nya
Mengapa susah sampai ke tanah

Pintubesi, 05 September 2011

Selasa, 06 Desember 2022

Kamar

Foto oleh George Becker dari Pexels




Kamarku
Semata pintu

Ledalero, 1992

Puisi

Foto oleh Jimmy Chan dari Pexels




Bui
Pembebasanku

Ledalero, Desember 1992