Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 30 Mei 2020

Aku Ingin (Buat Kamu)

oleh Lusia Yuli Hastiti

Aku Ingin (Buat Kamu), Puisi Lusia Yuli Hastiti
Photo by Lusia

aku ingin menjadi api dalam panasmu
menghangatkan musim yang setengah dingin
aku ingin menjadi awan dalam biru langitmu
meneduhkan jiwa yang sejuk diterpa angin

aku ingin menjadi riak di sungai sunyimu
mengalirkan kenangan manis
di setiap tepian yang kujumpai
aku ingin menjadi nada dalam lagumu
mengisi seluruh kekosongan hatimu
dengan segenap rasa yang terangkai.

Lampung Timur, 30 Mei 2018


Puisi diambil dari Kumpulan Puisi Maret 2019#3
#Perempuan di Atas Bukit #halaman 17

Jumat, 29 Mei 2020

Impian Dalam Ingatan

Impian Dalam Ingatan, Puisi Amri Sahaja
Photo by eberhard grossgasteiger from Pexels



Dulu
Pernah coba kutepiskan
Lupakan segala asa dan harapan
Biar kupendam dalam-dalam

Namun 
Sungguh tak bisa kumungkiri
Hati nuraniku mengingkari
Berontak untuk segera berlari
Mengejar kembali
Mimpi yang sempat terhenti
Harapan yang sempat terlewatkan
Impian yang sempat terpendam
Cita cita yang sempat menyala

Tetiba
Tersadar ku seketika
Beredarnya masa seperti tak kurasa
Terlena oleh kekosongannya
Tak mampu berbuat apa
Cuma tanya
Bilakah masanya,
Bilakah masanya tiba
Tiada upaya penuh bermakna

Kini
Kucoba rangkai kembali
Bersama berjuta harapan
Doa tulus aku panjatkan
Semoga kan hadir satu kesempatan
Kuraih segala impian


dari buku berjudul Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28 halaman 42

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di videoo berikut:

Kamis, 28 Mei 2020

Monolog Fajar

Puisi Ening Yuni Soleh Astuti
Monolog Fajar, Puisi Ening Yuni Soleh Astuti
Photo by Szabolcs Toth from Pexels



Semburat merah di ufuk timur 
Pudar langit senyap
Hati telah gelisah
Terentak seketika
Malapetaka menyeruak

Berpulang untuk selamanya
Remuk rasa hati jiwa dan raga
Semula tak percaya
Nyata terjadi

Mendekap dadanya
Berbisik padanya
Ada tanda saling memaafkan

Kini
Tak lagi canda, marah, tawa, cumbu rayu
Tiada lagi manja

Mendekat di sisi raga
Raga telah terdiam dan beku
Dalam derai air mata
Panjatkan doa
Segala khilaf diampuni

Dalam penantian
Tak akan kembali
Dalam rengkuhan angan
Esok kan jemput 
Di keabadian

Oktober, 2019


dari buku berjudul Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28 halaman 16-17

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di videoo berikut:

Pergulatan batin melenggang bangga

Pergulatan batin melenggang bangga, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Cover buku karangan Romo W. Saputra SJ,
Dok. Lodevika Endang Sulastri



Pergulatan batin melenggang
Seolah ingin pamerkan masalah
Yang tiba-tiba menjadi bayangan
Tertancap duri dalam daging
Mengingatkan dalam tatapan senja
Daging memang benar-benar daging

Daging yang bukan Roh
Daging yang berdarah
Daging yang bila tersayat  merasakan sakit
Daging yang juga bisa membusuk
Dan daging itu melingkari tubuhku

Aku berkaca di cermin tua
Ada banyak kerut merut di wajah
Wajah penuh keangkuhan
Wajah penuh kerasnya tempaan
Wajah yang sering mengumbar amarah
Wajah yang menyimpan seribu luka

Dan wajah itu makin menua,
Kerutnya makin bertambah saja
Mataku liar menatap cermin
Mengaduk-aduk hati entah ke mana ...

Antara hati dan wajah tak lagi semakna,
Seperti hilang ditelan masa
Dan amarah itu masih menumpuk,
Menggunung, melingkar bak ular

Wajah itu kulihat makin menua ...
Menatap cermin seraya hembuskan nafas
Tinggal sejengkal ...
Apa makna di balik ini semua?
Mengapa aku ingin meraja selamanya?
Bukankah semua punya masa?
Begitu cepatkah aku harus menepi ...
Memberi jalan bagi regenerasi?

Tidak ...
Meski tua aku sangatlah kuat ...
Biarlah ... aku meraja selama-lamanya.

Pergulatan batin melenggang bangga
Aku bisa menguasainya
Jangan biarkan refleksi menghentikannya.
Karena murka, serakah menjadi miliknya.

Pergulatan batin melenggang bangga ...


Palembang, 28 Mei 2020: 19.17


Rabu, 27 Mei 2020

Bangsaku, Bangsamu, dan Bangsa Kita

Puisi Arlan SM
Bangsaku, Bangsamu, dan Bangsa Kita, Puisi Arlan SM
Photo by Artem Beliaikin from Pexels



Kau lihat kawan
Negeriku begitu indah
Tanahku begitu subur
Air jernih mengalir menyusuri liku-liku negeri
Tapi, kenapa aku kehausan
Aku kekeringan, hampa, dan lemah

Indonesia, negeriku yang damai, katanya
Penuh keragaman budaya
Penuh toleransi warga
Tapi kenapa di sudut-sudut kota
Mereka terasing dalam duka

Bangsaku, adalah bangsamu
Bangsa kita semua
Kobarkan api tuk hancurkan tirani
Satukan hati tuntaskan diskriminasi

Bangsaku, bangsamu, bangsa kita
Indonesia adalah kita
Indonesia adalah darah yang mengalir di tubuh kita
Indonesia, napas hidup yang terus hembus
Ketika pagi menyapa
Embun senyum di balik kaca
Itulah kita, Indonesia

Bangsaku, bangsamu, bangsa kita, Indonesia
Terus mencakar cakrawala dunia
Tancapkan panji-panjimu di bumi angkasa
Biarkan mereka layu memandang kita
dan kita adalah satu, Indonesia


dimuat dalam buku Romantisme Perahu Kertas: Kumpulan Puisi Januari 2019 #4 halaman 49-50

Pembacaan puisi ini bisa dilihat di video berikut: https://youtu.be/mK_QAKgwvOQ

Selasa, 26 Mei 2020

Rindu Biru, Puisi Dina Hanif Mufidah

Puisi Dina Hanif Mufidah
Rindu Biru, Puisi Dina Hanif Mufidah
Photo by Tim Mossholder from Pexels



Aku mulai menuliskan puisi
Di hari pertama kita menawar rasa
Di hari pertama kita bertukar setia
Di hari-hari lain saat kita mengecup lara

Aku mulai menuliskan puisi
Di daun, di ranting, di dahan
Di lantai, di dinding, di jendela
Di detik-detik waktu yang mengendap endap dan menjarah tubuh kita

Apakah sempat kaucicipi puisinya?
yang kuhidangkan di periuk dan bejana, di cangkir kopi, di segelas jus anggur merah 
Yang kutawarkan di sapu tangan, di kemeja, di handuk, di selimut kita
Di apa saja untuk sampai ke renungmu

Kautahu, aku masih saja bertahan menatapmu dengan mataku yang dulu
pengelana samudra yang tak lelah mengajakku berlabuh pada-Nya
lalu lelah
dan apalagi yang tersisa saat kata kata mulai mengkhianati rasa?

: Rindu

Kini kaujadikan dirimu pelangi, pergi menemani cahaya setelah hujan
dan menyisakan satu warna saja dalam kamus hariku

: Biru



dimuat dalam buku Romantisme Perahu Kertas: Kumpulan Puisi Januari 2019 #4 halaman 4-5

Pembacaan puisi ini bisa dilihat di video berikut:

Senin, 25 Mei 2020

Nikmat yang Meranggas

Nikmat yang Meranggas, Puisi Yanti Rosa
Doc. Wakidi Kirjo Karsinadi



Kenapa semua nikmat serasa meranggas
Seperti tak hendak menghampiri lagi
Angin ... di mana kau berada
Tidakkah kau ingin berbisik padaku
Akan arti kebersamaan 
Di saat panas terasa membakar
Air ... di mana kau berada
Tidakkah kau ingin mengalirkan tubuhmu
Di sepanjang sungai-sungai 
Yang terbentang di muka bumi
Saat kekeringan panjang mendera dunia
Hutan ... tidakkah kau ingin
Memamerkan kepada kami
Akan kekayaan komunitasmu
Seperti untaian zamrud 
Yang melingkar dari Sabang - Merauke
Air, angin, dan hutan
Tidakkah kalian ingin membersamai kami seperti dulu
Dengan keramahtamahan, senda gurau dan
Senyum indahmu ... menghiasi ibu pertiwi ini lagi
Ya Allah ... 
Jangan cabut segala nikmat yang pernah kauberi
Agar anak cucu kami kelak 
Bisa melihat dan merasakan
Ibu pertiwi yang nyata, 
Tapi bukan hanya dalam cerita


dari buku berjudul Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28 halaman 14

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut: