Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 16 Mei 2020

Perjamuan Bersama di Tengah Corona

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Perjamuan Bersama di Tengah Corona, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Dalam perjamuan makan,  dok. Lodevika Endang Sulastri 


Di lingkaran inilah aura persaudaraan terlihat,
Dalam meja perjamuan ini, persatuan kuncinya
Kutatap penuh syukur tuk anugerah Ilahi
Karna ku dalam lingkaran-Nya

Di senyum pemberian, ada wajah Tuhan
Sesaat berbagi, hangat mengaliri nadi
kegembiraan naturali selalu menghampiri
Karna kasih Tuhan hadir dalam perjamuan ini.

Dahulu sering dihindari banyak insani
Mereka lebih senang menikmati
apa yang menjadi keinginan diri,
Kini, setelah Putri Corona menghampiri
Meja perjamuan merupakan sebuah kunci
Pertemuan seluruh keluarga insani

Pintu-pintu rumah tertutup kini
Pelukan dan cium sudah dihindari
hadir pun harus menjaga jarak diri
demi kesehatan pribadi

Dulu tak pernah diingat lagi
apa itu kesehatan sendiri
Orang ceroboh dan sesuka hati
namun ketika korban pandemi menjadi
Tak pelak lagi, orang mulai menyadari
bahwa memperpanjang hidup sangat berarti

Tinggal di rumah saja, menjadi simbol diri
Cuci tangan sesering mungkin, sebuah keharusan kini,
Demi menjaga hidup lebih lama lagi
ntuk menggoreskan sejarah kita di bumi

Korban berjatuhan, orang mulai ngeri
Makan di resto atau jajanan di tepi
Lebih baik mencipta pangan swasembada
dan mengikat dengan perjamuan makan keluarga.

Inilah meja perjamuan kenangan hati,
hidup komunio menjadi berarti
sambil terus menjaga diri
Perjamuan bersama adalah kerinduan
demi kebersamaan, persaudaraan dan kamanunggalan
Kaliyan Gusti Sang Widhi.


Palembang, 16052020;00:54



Kebijaksanaan

oleh Lusia Yuli Hastiti
Kebijaksanaan, puisi oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by Lusia




ketika
aku mencarinya,
aku tidak menemukan.
ketika aku sedang diam,
ia pun datang bersemayam.
ketika aku ada dalam keheningan,
ia membasuh jiwaku dengan kedamaian.

Lampung Timur, 16 Mei 2018
A Poem A Day
Rumah Belajar "Suluh Harapan Insani"

Rabu, 13 Mei 2020

Menjemput Senja di Palu Donggala

Puisi Pulpawati
Menjemput Senja di Palu Donggala, Puisi Pulpawati
Photo by GEORGE DESIPRIS from Pexels



Anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah
Bapak-bapak yang sibuk menonton tivi di rumah ‘ngaso dari penatnya pekerjaan
Ibu-ibu sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam rasa cinta
Roda derit kendaraan simpang siur menjemput aroma petang, pulang ke rumah.

Denyut nadi pergelangan Pantai Talise berdetak seiring detik tiktok
Menggelayut menemani cerita pantai menjemput senja yang menawarkan aroma sunset
Bayangan kota Palu Donggala terang temaram di antara pepohonan jalanan
Tak sempat terpahat kata cinta dan maafkan pada senja itu

Angin telah bertandang membawa gelisah yang terangkum dalam desau senjanya
Dengarlah! Ada bisikan tanah berderak-derak, pertanda akan ada tamu bertandang
Tiba-tiba ada gertakan bumi retak, angin simpang siur terkibas lari ke sana kemari
Beralun oleng bagai ayunan anakku di kebun belakang rumah
Dan air laut itu pun bertamu di bumi Palu Donggala
Memanggil serta aliran lumpur 
Rumahku, rumahmu, istana kita rubuh seketika
Yang tersisa hanyalah isak tangis yang mencekam

Ooohh … ke manakah gerangan anak-anak yang tengah bermain di halaman rumah?
Ooohh … ke manakah bapak-bapak yang sedang ngaso di depan tivi?
Ooohh … ke manakah ibu-ibu yang memasakkan masakan aroma cinta yang tak sudah-sudah?
Tergerus air laut ataukah tertelan lumpur?
Duhai, pahit terasa. Aku kehilangan kekasihku ...
Tertinggal di Petobo telah terkubur dalam lumpur
Cinta dan cita terkubur di sana
Tak bernama apa-apa nisannya
Hanya setangkup rindu yang perih dalam linangan doa tulus ikhlas
Terimalah dia Tuhanku

Ah, Palu Donggala
Terangkum cerita pilu pada gurat wajah negeriku
Mengalirkan dukacita yang mendalam
Tak ada lagi cerita senja di ruang tamu
Tak ada lagi cerita di meja makan setelah makan malam
Tak ada lagi suara denting merdu sendok ibu menyeduh teh pagi hari
Tak ada lagi suara mendehem ayah membaca koran pagi hari
Semua kenangan telah tersimpan dalam lumpur dan gerus air laut
Di antara puing-puing dan retakan tanahku.

Mari kotaku Palu dan Donggala bangkitlah kembali
Buat cerita lebih indah tentang Jembatan Kuning
Rangkai cerita indah tentang Pantai Talise
Bahwa cinta tetap tersimpan rapi
Banyak mata penuh harap dari atas sana
Suatu saat Palu Donggala lebih indah dari yang telah pergi



diambil dari buku Menjemput Senja di Palu Donggala: Kumpulan Puisi November 2018 halaman 13-15

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:

Selasa, 12 Mei 2020

Cinta

Cinta, Puisi Hj. Zaenab
Photo by Pixabay from Pexels



Saat kudalami hati ini
Ada rasa ada alunan
Adakah artinya
Kutanya dan kutanya relung ini

Saat ku berada dekatnya
Terasa damai nan sejuk
Adakah artinya
Kuraba dan kuraba raga ini

Saat kulangkahkan tapak ini
Kubersama dalam ketukan waktu
Semakin hari semakin dekat
Kujalani hari-hariku bersamanya

Saat itu kusadari keberadaannya
Kuberada dalam kehidupannya
Memberikan warna terbaru dalam hidupku
Kunikmati warna kehidupan itu

Seiring dengan putaran waktu
Hari kian hari kuberada dalam warna itu
Namun terasa hampa dalam warna itu
Keberaniannya terpupus dengan ketakutannya sendiri

Dialah dan dia
Dekat tapi terasa jauh
Dialah dan dia
Ada tapi terasa tak ada

diambil dari buku Leak Cinta halaman 5

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:


Kelas Kosong

oleh Lusia Yuli Hastiti
Kelas Kosong, Puisi Lusia Yuli Hastiti
Photo by Lusia



kelas kosong.
obrolan hangat telah berlalu
tinggal percakapan antara benakku
dan sang bayu
si pembawa pesan rindu

kelas kosong.
dari situ lahir sebuah sajak
untuk hatimu
salah satu cara membakar sepi
selain membaca buku
membuang puing-puing bisu

kelas kosong.
aku mencoba menerjemahkan
nyanyian angin yang baru saja
menerpa wajahku
"mari taburi sebuah senyuman
di secangkir kopiku," katamu

Lampung Timur, 21 Mei 2017
Rumah Belajar "Suluh Harapan Insani"

Angkruk

Angkruk, Puisi Wildan Rusli
Photo by Steve Johnson from Pexels



Buihnya hidup sering terlupa tak teringat
Walau disinggung rayu nan memikat
Bayang-bayang rerintikan sesak kian meningkat
Wayah kemarau dan penghujan menjadi pelekat

Ini larut bukan terikat
Sekalipun aduk bergaya ningrat
Ini soalan bukan pemanjat
Semestinya harap penuh pikat

Timbangan raga sering kuat
Sekalipun jiwa turun bertingkat
Seloroh mimpi sering melesat
Tak ayal kadang putus pengikat

Rerimbunan cerahan kala mendekat
Justru kabutnya semakin pekat
Merdunya kilir hidup berhajat
Nian bobot dirasa memberat

Pasrahan jadi pilihan singkat
Namun tak bermakna tak berbakat
Arah ini keliru juga dihujat
Biarpun impian sesekali berjingkat

Sandaran bambu jadi penghangat
Sungguhpun terkadang menghasrat
Padukan baju kopiah menyeruat
Serasi pula meski bukan kodrat



diambil dari buku Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019 halaman 62

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:

Senin, 11 Mei 2020

Aku Mencintaimu

Aku Mencintaimu, Puisi Rabiyatul Adawiyah
Photo by Ruvim from Pexels


Aku mencintaimu
seperti bulan, setia malam 
Meski terkadang harus tertutup awan mendung
Aku mencintaimu
Seperti matahari, setia pada siang
Meski kadang harus tersapu hujan

Aku mencintaimu 
seperti pelangi yang akan selalu datang setelah hujan
Meski tanpa kaupinta
Aku mencintaimu,
seperti angin yang tak dapat kaulihat namun hembusannya dapat menyejukkan seluruh tubuhmu


diambil dari buku Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019 halaman 53

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut: