Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Minggu, 05 April 2020

Serpihan Masa Lalu

Cerpen oleh Harlinah
Photo by Asad Photo Maldives from Pexels

“Rin, aku malam ini nggak bermalam di sini, ya?” kata Nidawati sambil memasukkan handphone-nya ke dalam tas hitam yang sudah dicangklongnya.
“Loh Mbak Nida mau ke mana?” tanya Karin sedikit bingung sambil menoleh ke arah Nida, teman sekamarnya selama diklat.
“Kan ini malam minggu, suamiku jemput aku tuh, tadi telepon ngajak nginep tempat mertua.” Rumah mertua Nida memang hanya berjarak tujuh kilometer dari hotel yang mereka tempati saat ini.
“Oh gitu. Iya deh Mbak Nida. Happy satnite ya, Mbak!” jawab Karin dengan senyum seolah mengerti bahwa dirinya dan Nida sudah seminggu berada di hotel Arion mengikuti diklat TOT atau Training Of Trainer dan Mbak Nida pasti juga sudah sangat kangen dengan suami dan keluarganya.
Nida teman seprofesi Karin di kotanya, sama-sama satu naungan dinas yang sama pula. Mereka dikirim untuk mengikuti diklat di hotel Arion selama 10 hari. Usia Nida yang yang terpaut 6 tahun lebih tua dari Karin, membuat Karin merasa lebih nyaman karena Nida tidak hanya seperti rekan kerja tapi juga seperti seorang kakak.
“Hati-hati ya, Mbak! Salam untuk Ibu mertua Mbak dan juga untuk Bang Zein,” kata Karin ketika Nida membuka pintu kamar 323 dan bersiap keluar. Karin juga mengenal Zein dengan baik, suami Nida.
“Kamu juga hati-hati, ya, Rin bobok sendirian, atau ajak aja suamimu nginep di sini, kan gak ada juga yang tahu,” jawab Nida dengan senyum menggodanya dan setelah itu diikuti dengan ucapan salam.
“Apaan sih, Mbak? Emangnya boleh diklat bawa suami ke kamar? Lagian paling dia juga sibuk dengan tugas lembar kerja kaya kita,” jawab Karin sambil bibirnya manyun.
Karin membuka laptopnya, berniat menyelesaikan tugas yang sore tadi belum sempat dia selesaikan. Dari layar laptop tampak foto dirinya yang sedang tersenyum semringah berdiri di pinggir Pantai Pandawa Bali. Sengaja dia memilih foto itu sebagai wallpaper laptopnya, berharap bisa menjadi atmosfer agar hari-harinya bisa selalu tersenyum seperti fotonya saat itu.
Bretz ... bretz .... Sebuah pesan masuk ke handphone Karin.
Sayang, malam ini ada kelas nggak? Kita dinner di luar yuk, cari yang anget-anget. Makan bakso yang di dekat bundaran itu lo. Terus nanti kita booking hotel langganan kita aja gimana? Hotel favorit Ibu itu lo, Flower Park Hotel.
Karin membuka pesan via WhatsApp di handphone-nya.Pesan dari suaminya, Mas Juno, yang juga sedang diklat seperti dirinya dan Nida, tetapi di hotel yang berbeda karena memang background Karin dan Juno beda. Karin dan Nida guru Bahasa Inggris sedangkan Juno guru Olah Raga. Pelatihan Juno bertempat di Hotel Pelita yang terletak di tengah kota, sekitar 8 km dari Hotel Arion.
Gak ada sih, Mas. Emang kamu juga lagi gak ada kelas ya malam ini? balas Karin. Karin membatin mungkin karena malam Minggu jadi diklat suaminya juga libur.
Iyalah, makanya aku ajak kamu ke luar. Kangen tahu? balas Juno dengan menyertakan emoji love di akhir kalimat pesan yang dikirim.
Oke, Mas. Aku siap-siap dulu ya? Aku juga kangen, Mas, pake banget, balas Karin yang juga tidak lupa menyertakan emoji love sebanyak tiga buah.
Oke, aku meluncur ke hotelmu sayang.
Karin menutup laptopnya.
Gak jadi sepi deh malam mingguku,” Karin membatin dan tersenyum senang. Kemudian ia mengganti baju santainya dengan T-shirt warna ungu dengan motif bunga-bunga kecil, dipadukan dengan kerudung segi empat ungu polos ukuran 130 cm. Tak lupa ia menyematkan bros warna metalik yang bertuliskan huruf K di bawah dagu sebelah kanan. Bros bertuliskan huruf K sebagai inisial namanya, Karin. Disapukan bedak tipis-tipis ke pipinya yang agak tirus. Tak lupa memakai lipstik warna peach untuk menyegarkan warna bibir tipisnya.
“Oke, Beib, aku dah siap!” kata Karin seolah ia sedang berbicara dengan Juno. Karin ingin membetulkan tirai hotel yang belum tertutup sempurna sebelum dia pergi. Alih-alih menutup, ia justru membukanya sedikit lebih lebar. Dari kamarnya yang di lantai tujuh ia memandang ke luar hotel. Tampak kota Banjarmasin dari kejauhan dengan lampu-lampunya yang indah. Hotel Arion yang mempunyai 25 lantai, terletak di pinggir kota dan berada di tengah-tengah persawahan. Dan itu yang membuat Alana, instruktur nasional dari Jogja yang selama diklat menjadi instruktur Karin, merasa sangat takjub.
“Wah, nggak nyangka lo saya, di tengah-tengah persawahan begini ada hotel yang megah!” begitu komentar Alana kepada para peserta di hari pertama diklat.
Karin menutup tirai, kemudian dia mengambil tas slempangnya. Dengan pelan ia menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju lift untuk turun ke lobi hotel.
Lift terbuka teapi ternyata overload. Di dalam lift beberapa orang yang juga peserta diklat seperti Karin. Dari logatnya bicara sepertinya mereka peserta dari Kalimantan Timur atau Kalimantan Barat. Mungkin mereka juga mau keluar hotel menikmati malam minggu dengan melihat-lihat kota Banjarmasin.
Lift kembali terbuka. Di dalam lift ada lima orang, laki-laki semua.
“Lantai berapa Mbak?” tanya salah seorang kepada Karin.
“Lobi, Mas,” balas Karin sambil tersenyum ramah. Karin merasa lega karena akhirnya dia bisa akan segera turun ke lobi.Agak risih juga karena hanya dia yang perempuan di dalam lift. “Ah ... kan cuma sebentar saja juga,” Karin membatin.
“Karin, eh maaf ... apa bener ini Mbak Karina Latif, ya?”
Karin sontak menengadahkan wajahnya ke arah orang yang memanggilnya dengan nama lengkap.
“Nah kan, bener kamu Karin, kan?”
Karin membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tidak melorot sama sekali. Dipandanginya orang tersebut. Seketika jantung Karin berdetak agak lebih kencang. Lelaki jangkung yang tingginya 170 cm, memakai celana jeans dan t-shirt warna abu-abu dan juga berkacamata yang sedang berada satu lift dengannya adalah orang yang dulu sangat dikenalnya.
“Kok bengong? Kaget ya? Masih inget kan sama aku? Aku Satria.”
Belum sempat Karin menjawab pertanyaan yang sangat membuatnya terkejut, tiba-tiba pintu lift terbuka. Baik Karin maupun kelima lelaki tadi keluar lift dan sampai di lobi.
“Emmm ... Mas Satria?” tanya Karin gugup. Lebih tepatnya dia bukan bertanya, tapi ingin meyakinkan dirinya bahwa laki-laki yang sedang bersamanya adalah benar-benar Satria.
“Ehem ...,” salah seorang dari lima lelaki tadi berdehem seolah memberi kode.
“Kalian ke mobil duluan, ya! Aku ada yang mau diomongin sebentar sama Karin,” kata Satria ketika menyadari keempat temannya berdiri menunggunya.
“Karin, aku dah lima hari lo di sini, di Banjarmasin. Berasa bernostalgia. Aku dan tim ada tugas ke dinas-dinas di sini, termasuk ke dinas di kotamu, tapi aku nggak punya waktu mau ke rumahmu, jadwalnya padat.”
“Tugas dari rumah sakit atau dari Dinas Kesehatan?” tanya Karin bingung.
“Bukan, Rin, aku sudah pindah ke struktural, aku di inspektorat sekarang.”
Karin makin tidak mengerti dan hanya diam saja menyimak.
“Kamu ngapain, Rin, di hotel ini? Sama siapa?” tanya Satria kemudian.
“Em ... aku ada pelatihan di sini selama sepuluh hari dan aku sudah seminggu di sini, tapi karena malam ini nggak ada kelas, jadi aku mau ke luar sebentar, ke Gramedia. Karin terpaksa berbohong untuk mengurangi gugup yang tiba-tiba datang tak diundang.
“Oh ... dah lama, ya, tapi kok kita gak pernah ketemu sih?” kata satria dengan nada agak menyesal. “Padahal aku sering bareng lo satu lift dengan peserta diklat.”
“Rin, aku buru-buru, nih, harus ke airport. Aku harus balik ke Jakarta, penerbangan malam. Tuh temen-temenku sudah nunggu.Oh iya ini kartu namaku,” Satria menyerahkan selembar kartu nama berwarna dasar putih dan bertuliskan warna biru muda kepada Karin. Kemudian dia berjalan tergesa menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobi hotel.
“Karin, bye! Jangan lupa hubungi aku, ya!”
Pelan-pelan mobil Rush berwarna putih itu berjalan dan pergi meninggalkan lobi hotel menuju ke airport yang jarak tempuhnya memakan waktu sekitar 20 menit.
Karin masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Pertemuan singkat dengan Satria. Iya, dokter Satria. Dokter ganteng yang usianya dua tahun lebih tua dari Karin. Dokter yang sudah hampir enam tahun tak pernah lagi berkomunikasi dengannya; dan dia juga tidak ingin pernah tahu lagi kabar beritanya.
Karin duduk di sofa yang ada di sudut lobi hotel. Dia membuang nafasnya dengan kasar. Kemudian menelan salivanya. Sambil menatap kartu nama yang ada dalam genggaman tangan kanannya, Karin membaca dengan hati yang sedikit ragu. Ada nama lengkap Satria tertulis di sana dengan nomor handphone dan nomor WhatsAppnya.
Karin memejamkan netranya. Diabaikannya suara sedikit ribut dari beberapa orang yang juga sedang duduk-duduk di lobi hotel. Sepertinya mereka sedang ngobrol-ngobrol ringan sambil sesekali tertawa. Pikiran Karin melayang teringat akan masa itu. Satria pernah menjadi kekasih hatinya selama satu tahun lebih. Satria yang pernah menjadi dokter di sebuah perusahaan tambang yang terkenal di daerahnya. Satria yang membuat Karin merasa nyaman dengan semua perhatiannya; yang membuatnya selalu bisa tertawa dengan segala cerita-cerita konyol pengalamannya sebagai seorang dokter. Menurut Satria jadi dokter itu mengasyikkan, tiap hari bertemu dengan pasien yang bermacam-macam karakternya. Berbeda dengan profesi Karin yang seorang guru, yang tiap hari siswa yang dihadapi ya itu-itu aja, begitu menurut Satria. Satria yang membuat Karin bisa konsultasi dan bertanya kapan saja tentang kesehatan.
“Oh itu namanya laringitis, Rin,” kata Satria waktu Karin mengeluh tenggorokannya sakit dan suaranya serak.Tenggorokan Karin memang mudah sekali sakit, mungkin karena dia harus berbicara nyaring ketika di kelas, atau juga menyanyi bersama anak didiknya yang duduk di tahun pertama. Dan setelah memberi penjelasan dan jawaban panjang lebar tentang keluhan karin, Satria seperti biasa selalu memberi saran-saran dan nasihat agar Karin cepat sembuh.
“Enak kan, Rin, punya pacar dokter, kamu bisa konsultasi gratis,” begitu kata Satria dan tentu saja membuat pipi Karin bersemu merah.
“Rin, kamu mau minta kubelikan apa nih buat hadiah ultah?” tanya Satria suatu hari via telepon. Karin yang sedang mengoreksi pekerjaan siswa jadi kaget karena tidak biasanya Satria menelpon pada jam kerja.
“Eh, gak usah repot-repot, Mas, doa yang tulus aja udah sangat cukup kok. Lagian, ultahku juga kan masih seminggu lagi,” balas Karin yang siang itu masih di sekolah tempat ia bekerja.
Cepetan dong! Aku jalan kaki nih panas-panas kayak gini, mobilku mogok.”
Akhirnya Karin pun menyerah untuk tidak menjawab pertanyaan Satria. Disepakatilah untuk membelikan gamis. Satria membelikan dua lembar gamis berwarna ungu, yang satu ungu polos dan satunya lagi gamis ungu motif bunga tulip. Ya, ungu memang warna favorit Karin.
“Nih coba, Rin! Enak lo cokelatnya, dibawain papaku, oleh-oleh dari Malaysia.” Satria menyodorkan satu kotak cokelat kepada Karin. Sejenak Karin memperhatikan kotak cokelat tersebut dan membaca keterangan pada labelnya. Benar saja bahwa itu cokelat made in Malaysia. Cokelat dengan isi sayur-sayuran kering di dalamnya. Cokelat yang belum pernah Karin makan sebelumnya. Cokelat memang makanan kesukaan Karin selain es krim.
Satu tahun bersama membuat Karin dan Satria terbiasa untuk saling berbagi cerita. Kadang Satria curhat tentang orang tuanya yang bercerai sejak ia masih SMP. Belum lagi papa dan mama Satria yang beda agama. Namun, dari segi finansial Satria tidak pernah kekurangan. Kadang semua curhat Satria membuat Karin seperti sedang ikut larut dalam cerita sebuah novel yang sedang dia baca. Keluarga ruwet begitu, batin Karin. Beda sekali dengan orang tua Karin yang masih lengkap. Bapak Karin yang sangat penyayang dan ibu Karin seorang guru SD yang lemah lembut.
Satria dan Karin, mereka berdua bahkan sama-sama pernah berjanji untuk hubungan yang lebih serius, yaitu menikah. Setelah keduanya bisa mendapatkan restu dari kedua orang tua mereka masing-masing.
“Kalau nanti kita punya anak cowok, aku ingin kasih nama Roffi Aditya Nugraha. Nugraha itu nama belakang papaku lo, Rin,” kata Satria dengan senyum semringahnya.
“Kalau anaknya cewek, namanya siapa?” tanya Karin penuh ingin tahu.
“Itu tugas kamu untuk nyari namanya. Yang penting tiga kata biar nanti kalau bikin passport gak susah,” jawab Satria dengan santai.
Suatu hari Satria pamit pulang ke kota asalnya, Bandung. “Aku ketrima PNS di Bandung, Rin, jadi kita LDR-an dulu, ya, aku akan telepon kamu tiap malam.”
Ada rasa yang berbeda di hati Karin, ada rasa khawatir, rasa takut dan entah rasa apalagi, yang jelas hatinya merasa tidak nyaman. Satria yang sekarang begitu jauh darinya, berjarak ratusan kilometer. Keluarga Karin yang gak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Satria dari segi harta. Dirinya yang bukan wanita cantik dan energetic seperti dokter Mona, dokter Ayu, atau dokter Lulu yang semua adalah teman-teman Satria yang pernah Satria kenalkan pada Karin.
Walau LDR-an, sikap Satria tidak berubah. Tetap memberi kabar setiap hari, menceritakan kegiatan sehari-harinya di puskesmas tempat ia bekerja, meminta pendapat tentang rencananya yang akan mengambil spesialisasi bedah tulang, mengingatkan Karin untuk makan teratur, mengingatkan Karin agar selalu jaga kesehatan dan menanyakan kegiatan-kegiatan Karin di sekolah.
Pada suatu malam, apa yang ditakutkan Karin benar-benar terjadi. Malam itu Satria menelepon, dan hampir tengah malam.
“Rin, sampai saat ini papaku belum bisa kasih restu, aku minta maaf, ya!” suara Satria agak bergetar.
“Lalu, kamu bagaimana, Mas?” tanya Karin dengan sedikit pasrah, seakan dia dapat menebak jawaban yang akan disampaikan Satria di seberang sana.
“Kita putus ya, Rin, tapi aku tetap sayang kamu.”
Karin menahan suaranya agar tidak terdengar lemah. Padahal saat itu juga gerimis di matanya sudah hampir jatuh dan akan memengaruhi suaranya.
“Oke, aku sudah mengira, Mas, kalau ini bakal terjadi.” Alasan yang terlalu absurd, maki Karin dalam hati.
Karin menutup teleponnya. Tak dihiraukan lagi suara Satria di seberang sana yang belum selesai bicara. Dada Karin terasa sesak. Beginikah rasanya patah hati? Seperti berdiri sendiri tanpa energi di planet bumi ini. Bahkan untuk sekadar menegakkan tulang leher saja Karin seperti tak mampu. Malam itu terasa malam yang paling membuatnya lemah dan menjadi perempuan paling bodoh.
Sebulan sudah berlalu, Karin tak pernah lagi mau membalas pesan Satria, apalagi mengangkat teleponnya. Bagi Karin, semua sudah berakhir. Tidak ada lagi janji-janji yang harus ia tuntut pada Satria untuk ditepati. Semua sudah jelas bagi Karin. Dia hanya mengutuki dirinya sendiri, dirinya yang tidak mendengar nasihat Ibunya untuk tidak berpacaran. Inikah akhirnya? Patah hati itu sangat menyakitkan.
Di saat hari-harinya galau, teman satu kantor Karin, Tri Harjuno, pria asal Solo yang baru enam bulan bertugas di sekolah Karin, tiba-tiba melamar Karin lewat SMS.
Bu Karin, mau ya jadi istri saya, hehe, begitu isi SMS Juno malam itu yang cukup membuat Karin kaget bercampur marah.
Pak Juno, maaf, Pak Juno gak perlu ngejek saya seperti ini. Saya tau pasti Pak Juno lagi ledekin saya yang putus dengan pacar kan?
”Lelaki menyebalkan!” Karin mengomel setelah membalas SMS Juno.
Ya ampun, ya nggaklah, Bu Karin. Saya serius. Kalau Bu Karin mau jadi istri saya, saya mau ke rumah Bu Karin besok atau besok lusa, mau kenalan sama orang tua Bu Karin.
Dan akhirnya Karin memutuskan untuk menikah dengan Tri Harjuno, tanpa pacaran dan rasa cinta sebelumnya. Pernikahan yang tidak hanya menggegerkan teman-teman di kantor Karin tetapi juga membuat kaget keluarga besar Karin. Tri Harjuno, lelaki yang langsung direstui oleh orang tua Karin. Lelaki yang sekarang jadi suaminya. Lelaki yang juga sangat menyayangi kedua orang tuanya. Lelaki yang tidak pernah bosan membantu pekerjaan Karin baik itu pekerjaan rumah maupun pekerjaan sekolah. Lelaki yang selalu sabar ketika dirinya yang kurang mahir dalam IT sering meminta bantuannya untuk mengedit hasil pekerjaannya.
Karin, ternyata secepat itu kamu menikah setelah kita putus, atau memang benar kata Lili, kamu sudah menjalin hubungan dengan temanmu itu waktu kita LDR-an? Begitu isi SMS Satria pada suatu sore dan Karin memilih untuk tidak membalas.
Rin, perlu kamu tahu, aku sudah mendapat restu dari Papa, Mama, dan Eyang. Kamu tahu, kan, betapa susahnya aku untuk mendapat restu mereka, dan setelah aku mendapatkan restu justru kamu yang sudah menikah.
Ada rasa nyeri di hati Karin saat membaca SMS kedua dari Satria.
Kenapa gak balas, Rin? Jadi bener dulu kamu selingkuhin aku?
Darah Karin seperti mendidih membaca SMS dari Satria. Memaksa dia untuk membalas pesan yang terasa sangat melecehkan perasaannya.
Maaf, Mas, aku tidak seperti itu, semua terjadi begitu saja, dan aku menikah setelah kita tak terikat hubungan apa-apa lagi, kami tidak pacaran, tapi kami taaruf sebelum menikah.
Kamu sedang berbohong kan Rin? I don’t believe in you.
Karin menangkupkan kedua tangan ke wajahnya, netranya terasa panas, kerongkongannya tercekat. Tidak ia mungkiri ia masih sangat mencintai dokter Satria, tetapi mengapa dokter Satria baru melamarnya setelah ia menikah dengan orang lain, di saat statusnya sudah menjadi seorang istri. Ditambah lagi tuduhan dokter Satria yang begitu menyakitkan. Satria yang lebih percaya dengan Lili, sahabatnya yang juga sahabat Satria dan pernah bekerja satu rumah sakit dengan Satria. Hati Karin sangat sakit, seperti dihujani beribu-ribu anak panah. Lengkap sudah rasa perih ini.
Handphone Karin bergetar dan terdengar lagu I Do It For You dari Bryan Adams sebagai ringtone-nya. Ada nama “Love” di layar benda pipih yang sedang berkedip. Karin tersentak dan segera mengangkat teleponnya meski dengan hati yang masih sangat berantakan karena lamunannya.
“Hallo, Sayang, kok lama banget sih dandannya, aku dah hampir lumutan nih di dalam mobil, mana di sini banyak banget nih cewek-cewek cantik dan seksi berseliweran, ada pramugari-pramugari cantik juga nih, Sayang, kalau aku naksir gimana?” suara Juno dalam telepon.
“Eh em ... iya, Mas, aku dah jalan nih menuju parkiran,” jawab Karin berbohong. Di Hotel Arion memang ada beberapa pramugari dan juga pilot yang menginap di sana. Bahkan Karin dan Nida sering cekikikan waktu curi-curi pandang saat ketemu pilot bule ganteng di restoran hotel.
Karin keluar dari lobi hotel dan dengan setengah berlari menuju parkiran mobil. Di dalam mobil Juno sedang setia menunggu Karin sambil mendengarkan musik yang diputarnya melaui pemutar musik. Terdengar lagu Cinta Sejati dari Bunga Citra Lestari.
Karin segera masuk mobil dan duduk di sebelah Juno, suaminya. Seperti biasa Juno selalu memakaikan sabuk pengaman untuk Karin.
“Nih minum dulu susunya, tapi sudah kurang dinginnya,” Juno menyodorkan satu kaleng susu beruang kesukaan Karin.
Maafin aku ya, Mas!” kata Karin sambil menyesap minumannya.
“Iya, Sayang, gak apa-apa kok, kamu memang kalau dandan kan agak lama, sudah pasang kerudung, eh miring dikit, bongkar lagi. Gitu kan biasanya?”
“Eh iya, Mas,” jawab Karin mengiakan saja apa yang dikatakan suaminya.
Karin merasa lidahnya kelu. Bukan hanya minta maaf atas keterlambatannya, tapi juga permohonan maaf dalam hati karena dia sudah memikirkan laki-laki lain selama di lobi hotel. Bahkan dia sendiri sampai lupa kalau suaminya sedang menunggunya di mobil. Dia lupa tentang rencana makan malam dengan suaminya malam ini. Karin membuka resleting di bagian depan tas slempangnya, kemudian mengambil kartu nama yang diberi Satria waktu mereka bertemu lima belas menit yang lalu. “Tidak, aku tidak akan menyimpannya, apalagi sampai menghubunginya. Tidak akan aku ulangi kebodohanku, aku tidak akan menyakiti hati dan perasaan Mas Juno!” Karin berbicara dalam hati.
Karin meremas kartu nama pemberian Satria dan memasukkannya ke dalam kaleng minuman yang sudah ia sesap habis isinya. Akan ia buang di tempat sampah saat mereka sampai di depot bakso langganan mereka. Karin tidak ingin masa lalunya terungkit dan mengganggu kebahagiaannya bersama Juno. Masa lalu memang tak perlu lagi disesali, tetapi harus dijadikan pelajaran. Karin tidak perlu lagi tahu tentang Satria, lelaki yang pernah membuatnya merasa begitu nyaman dan sekaligus membuatnya merasa teramat pedih setelahnya. Walaupun dia sebenarnya sangat penasaran dengan Satria yang sekarang. Sudah menikahkah dia? Sudah punya anak berapa? Tinggal di mana sekarang? Bagaimana kabar Papa, Mama, dan Eyang Satria? Memang terasa seperti mimpi, lelaki yang pernah membuatnya menangis hampir ratusan purnama dan jungkir balik dia berusaha melupakannya, tiba-tiba malam ini muncul di hadapannya.
Karin meraih tangan kiri Juno, menggenggamnya erat, kemudian mencium punggung tangan Juno yang kekar karena rutin berolah raga. ”Mas Juno, I miss you.” Karin sengaja menggenggam tangan kiri suaminya untuk mencari kekuatan setelah hatinya sejenak kacau balau. Juno tertawa melihat tingkah Karin. Yang Juno tahu, istrinya pasti sudah sangat kangen setelah seminggu mereka tidak bertemu.
I miss you, too, Karina Latif, istriku tersayang,” balas Juno sambil mengusap kepala Karin yang terbalut kerudung warna ungu.

Mobil mereka sudah sampai di depan depot bakso “Maknyus”. Karin dan Juno bersiap melewati Sabtu malam dengan penuh rindu. Meskipun rasa rindu di hati Karin sempat hilang sejenak terseret masa lalu.
***

dari buku Warisan Azan Subuh halaman 31-44

Warisan Azan Subuh

Cerpen oleh Julia Daniel Kotan
Azan Subuh Cerpen oleh Julia Daniel Kotan, Komunitas Guru Menulis
Olah gambar pribadi

Aku selalu berusaha menunaikan salat lima waktu yaitu salat Zuhur, salat Asar, salat Magrib, dan salat Isya. Ada satu yang selalu terlewatkan yaitu salat subuh. Semua dapat kujalankan kecuali saat berhalangan karena tamu bulanan. Semua kuhayati dan menjadi sesuatu yang menenteramkan hati. Dulu masih ada imam di rumahku, yaitu suamiku. Namun, Tuhan telah menentukan lain, sejak ada promosi kenaikan jabatan serta tugas kantor menggunung seiring itu pula imam pemimpin keluargaku berubah. Mas Nandar tidak lagi rajin salat. Perangainya menjadi kasar.
Hari Senin itu, anak-anak terlambat bangun karena malamnya kami baru saja pulang dari hajatan di rumah saudara. Perjalanan dari luar kota sangat melelahkan. Jangankan mereka yang masih remaja dan belum terbiasa pergi ke luar kota, kami orang tua yang makan asam garam merasa badan sudah remuk redam. Mas Nandar mengumpat anak-anak dengan kata-kata kasar yang belum pernah dia lakukan pada kami.
“Hai, kalian bangsat semua, bangun, dan mandi sana!
“Kalian pikir bayar sekolah murah?
“Kalian pikir papa kalian pekerja rodi untuk membiayai para pemalas seperti kalian?”
Oh Tuhan anak-anak mengerut badannya dan beringsut pergi ke kamar mandi. Dari ujung mataku kulihat titik air mata di mata kedua anakku.
Mas Nandar orang terlembut yang kami sayangi telah berubah. Papa kesayangan yang berbadan atletis dan sehat. Untuk usia Papa yang baru memasuki usia 50 tahun, Papa masih terhitung kelihatan muda. Setiap Sabtu Papa mengajak kami ke Pemda Cibinong lari pagi satu keluarga. Menikmati alam dan beristirahat makan bubur ayam. Memimpin salat di rumah dan sering kali kami bersama-sama pergi ke masjid. Di kantor Papa adalah seorang pimpinan yang sangat dicintai bawahannya karena sangat peduli dan baik pada semuanya. Semua yang dulu manis dan indah berangsur meninggalkan kami. Hari-hari penuh kemuraman menemani kami. Hingga pada suatu hari, di layar handphone-ku, ada pesan dari Mas Nandar.
“Maafkan aku, Ma, aku tidak bisa menemani kalian lagi mulai hari ini, titip kedua anak kita, rawat dan jaga baik-baik, Papa sayang kalian semua.”
“Apa yang terjadi dengannya Tuhan?” rintihku dalam hati.
Walau akhirnya semua kembali berjalan normal. Dengan segala kekuatan kubangkitkan semangat. Setiap hari aku harus membawa anak-anakku pergi sekolah ikut denganku ke Jakarta. Dulu saat kami bisa membawa mobil, kami masih bisa salat subuh berjamaah dulu di rumah lalu masuk mobil, anak-anak melanjutkan tidur.
Kini subuh datang. Selalu aku terbangun karena mendengar suara azan yang merdu mengundang nada syahdu. Suara yang menggelitikku sehingga aku semakin penasaran ingin melihatnya. Melihatnya sosok pengumandang azan subuh yang begitu merdunya. Kerinduan itu menghipnotis, hampir membuat tak waras namun tak berkutik. Semua bermuara, kembali pada puisi yang juga terpatri dalam hati, puisi yang sudah mengakar dan menumbuhkan akar yang lebat. Merambati semua titik darah dalam jantungku. Dia rajin mengalun setiap waktu. Menjagaku mengarahkan pada Tuhanku. “Padamu Jua” karya Amir Hamzah.

... sabar, setia selalu.
Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa,

Di mana Engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata yang merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar, aku gila sasar ...

Suara azan dari Masjid Baiturahim, masjid di sebelahku memang selalu terdengar jelas karena selain corong dari speaker masjid menghadap ke rumahku juga jarak antara rumah kami yang hanya beberapa meter, kurang lebih 100 meter saja. Kadang aku dengan sengaja menuntun motorku pelan-pelan sebelum mereka keluar dari masjid tepat saat aku harus keluar rumah memboncengkan anak-anak ke sekolah naik motor. Kemudian kami harus menitipkan motor ke parkiran stasiun. Perjalanan dilanjutkan dengan kereta listrik. Mereka selalu belum keluar masjid kami sudah berlalu.
Sungguh tersiksa membayangkan siapa pemilik suara nan syahdu itu. Semua yang mempunyai tugas mengumandangkan azan pada jam tertentu saya hafal suara dan wajahnya. Namun khusus untuk azan subuh saya tidak dapat mendeteksi siapa dia. Ingin bertanya nanti dicurigai dan dibilang kepo. Mau ikut salat berjamaah waktunya sungguh selalu tepat mengejar kereta pertama dan kalau terlambat anak-anak akan terlambat sampai di sekolah.
Sementara berpikir, kadang suara azan itu mengumandang sendiri dalam alunan hatiku. Pertama lirih dan kupadamkan dengan suara musik dari ponsel pintarku dan tertutup sudah. Namun, hal itu hanya bertahan sebentar. Semakin diusir dengan ditimpali suara lain suara azan itu menggedor seakan meminta perhatian tanpa mau dimatikan. Sampai sekarang, suara azan itu tidak hanya muncul di waktu subuh. Saat imsak, sepuluh menit sebelum subuh suara azan Subuh sudah mengetuk-ngetuk dengan suara sayup seakan alarm hati. Saat itulah saya mengeluarkan motor dan menyiapkan semuanya sehingga saat tepat azan subuh, saat mengalun suara azan dari pemilik suara syahdu, tanpa sempat mendengarkan penuh, saya sudah menarik gas dan meninggalkan rumah melintasi masjid dan meninggalkan rasa penasaran itu.
Genap dua tahun aku jalani hidup dengan rekaman yang menggema di hati. Semakin ingin dilupakan semakin membius, menembus kalbu. Semakin kurasakan cengkok dan tarikan napasnya, saya seperti mendengar suara yang begitu dekat denganku. Seakan itu hanya ditujukan padaku. Bahkan sempat terpikir apakah ini hanya untuk menyindirku yang mengabaikan salat subuh.
“Pak Ustaz, siapakah yang mengumandangkan azan subuh di masjid kita, setiap pagi sepertinya selalu sama?” Pernah aku bertanya pada Ustaz Nurcholish, siapa yang selalu mengumandangkan azan subuh di masjid kami. Jawaban Ustaz sungguh kurang memuaskan.
“Banyak sekali dan berganti-ganti.” Lalu beliau menyebutkan nama-nama semuanya tapi semuanya aku kenal dan hafal suaranya. Lalu siapakah yang aku cari.
Hari ini kami satu rumah bangun kesiangan. Hiruk pikuk urutan persiapan keberangkatan ke Jakarta dimulai dengan setingan seperti film yang diputar dengan dipercepat detiknya. Tanpa dikomandoi semuanya melompat bangun, tanpa mandi hanya cuci muka, tangan, dan kaki serta gosok gigi. Sekejap semua sudah bersiap pergi. Ternyata keterlambatan ini memberi hikmah tersendiri. Kami bertemu dengan para jemaah yang keluar dari masjid lalu mengeja kira-kira siapa yang melantunkan azan begitu merdu. Ingin berkenalan dan mengatakan suaranya sayupnya menghipnotis dan otomatis membuatku bangun dari lelap mimpi. Alarm alami yang kalahkan lima alarm dari semua handphone di rumah kami. Terbayang kalau nanti sudah bertemu apa suaranya akan tetap merdu semerdu bayanganku akan sosoknya. Bayangan yang kubangun sendiri.
Sosok itu tinggi dan bersih serta rapi. Memakai kopiah yang sesuai dengan warna sarungnya. Berbaju koko warna putih dan penuh senyum menyalami semua jemaah pria. Lalu mengucap salam dan pamit. Aku akan kikuk meliriknya dan memberanikan diri bertanya,
“Siapa nama Pak Ustaz?” beliau terlihat bingung dan belum sempat menjawab, terasa bahuku ditepuk anakku.
“Ayo, Ma, kita kan sudah terlambat mengapa Mama malah berhenti di depan masjid dan melamun?”
Oh Tuhan mengapa aku bisa begini? Mengapa kehilangan seorang imam keluarga membuatku tidak konsentrasi menjadi ibu yang baik? Bantulah aku Tuhan. Jawablah doa-doaku Tuhan. Tunjukkan di mana Mas Nandar berada? Kalau sudah tiada tunjukkan kuburnya. Anak-anak sangat merindukan dan kami ingin meneruskan hidup dalam curahan rahmat-Mu.
Sampai di stasiun terakhir, Stasiun Kota, anak-anak menyebar menuju sekolah masing-masing. Tinggallah aku, menunggu kereta balik arah kembali dan aku akan turun Stasiun Tebet menuju tempat kerja. Kereta berhenti di Stasiun Cikini, ada yang naik dan ada yang turun, pemandangan paling menyenangkan . Melihat wajah baru dan mempelajari perasaan mereka melalui rona wajah yang tertera di permukaan wajah penumpang. Kali ini, bukan itu lagi yang menarik perhatianku. Ada pesan di kotak WhatsApp, dari temanku yang bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo.
“Datanglah, jangan anggap remeh pesan ini,” dari Rina.
“Langsung ke ruang Cendrawasih, nomor 101” tambahan pesan dari Rina.
Hatiku kembali bertanya mengapa aku harus ke Cendrawasih, setahuku itu ruangan untuk pasien yang kurang mampu atau pasien dengan tanggungan asuransi. Sebelum pintu kereta tertutup aku meloncat dan memanggil bajaj dan segera sampai di sana. Rina menuntunku dan berbisik jangan panik dan jangan banyak bertanya sesampainya nanti di kamar pasien. Lalu tersadar aku sudah berhadapan dengan tubuh yang sangat kukenal. Tubuh berselimut selimut rumah sakit. Tubuh yang tinggal kulit pembalut tulang. Tubuh yang tak bisa kuajak berdebat dan kutanyai mengapa memilih terbaring di sini saat dua tahun hilang dari hidup kami. Kutekan kuat-kuat perasaanku namun aku tetap menangis. Kujaga hati dengan menenggelamkan sejuta rasa marah, geram, rindu, dan cinta. Semua kusimpan rapat. Kuajak anak-anakku yang mulai beranjak dewasa menunggui papanya. Kami menginap malam itu. Kami tak ada yang marah dan tak ada yang menghakimi. Adanya rasa syukur melihat Papa kembali, seperti apa pun kini keadaannya.
Malam yang terasa sangat panjang tanpa komunikasi membuatku lama menanti pagi. Anak-anak kuminta membawa baju dan mandi di sekolahan saja. Sampailah saat subuh datang. Saat aku seperti tenggelam dalam katarsis azan subuh. Tiba-tiba suara azan memenuhi kamar kami. Suara yang dua tahun menyergap habis hidupku. Suara yang kucari sampai semua Ustaz kutanyai. Kini suara itu ada di sini di kamar ini. Begitu jelas dan sangat merdu. Semua mendengar dan jelas, anakku menoleh padaku. Aku menikmati sambil menyublim dan terbawa larut. Aku segera mengambil air wudu. Kugelar sajadah dan anak-anak mengikuti. Aku segera menunaikan salat subuh. Dengan linangan air mata aku melaksanakan salat dengan khidmat. Aku melihat wajah Mas Nandar tersenyum dan sangat teduh. Tak tampak keriput kulit yang tergerogoti penyakit yang mematikan yang telah menyiksanya dua tahun, kanker usus besar.
Pecah sudah teka-tekiku. Tuhan memberikan jawaban dengan begitu agungnya. Mas Nandar mengingatkanku selalu melaksanakan salat lima waktu walau aku sedang terjebak rutinitas waktu. Dari rasa kasihnya Mas Nandar menyampaikan hal itu. Melalui suara hatinya. Siang hari orang tua Mas Nandar datang dan bertangisanlah kami. Mereka meminta maaf karena menyembunyikan keadaan Mas Nandar. Semua permintaan Mas Nandar yang tidak ingin membuat sedih anak istri. Aku tak mau marah dan hanya mengucap terima kasih karena mereka menjaga Mas Nandar selama ini.
Terbayang kembali semua peristiwa yang membuatku sangat sedih ketika Mas Nandar melakukan berbagai aksi tak simpati. Memarahi kami adalah cara yang dipercayainya agar kami membenci beliau dan apabila nanti harus pergi selama-lamanya, yang ditinggalkan sudah “medot kasih” atau tidak sayang lagi karena benci. Betapa hati ini merintih membayangkan Mas Nandar sangat berat menanggung derita tanpa ada anggota keluarga yang mengetahuinya.
“Ayo, Ma, Papa sudah tenang di rumahnya yang baru.”
Satriati, anakku yang pertama menarik tanganku untuk berdiri dari tempatku duduk menekuri gundukan merah yang masih begitu segar baunya. Bayu, si bungsu memeluk erat tubuhku. Semua sudah usai dan jelas. Tak ada syak wasangka. Tak ada perasaan marah dan mengumpat atas ketidakadilan. Dia akan selalu bersama kami. Setiap subuh suaranya membangunkanku dan anak-anakku karena semua sudah terekam langsung di kamar perawatan itu di hati kami. Warisan yang tak ternilai. Abadi bagi kami. Ingatkan kami salat lima waktu. Kami atur jadwal dan menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Papa kau akan selalu ada bersama kami, kita hanya terpisah jarak dan waktu serta berbeda dunia, tapi warisan rekaman azan subuh akan selalu bersemayam di hati kami masing-masing. Tanpa tergantung energi baterai dan sinyal, suara itu abadi sampai kapan pun.
“Papa, istirahatlah dengan tenang, kami selalu mendoakan.” “Kami sayang Papa.” Kuusap lagi kayu yang bertuliskan “MUHAMMAD KUSNANDAR”.
***

dari buku Warisan Azan Subuh halaman 1-8

Setangkup Rindu untuk Latisha

Cerpen oleh Yenny Nilia
Setangkup Rindu untuk Latisha cerpen Yenny Nilia
Photo by Daria Obymaha from Pexels

Hari ini sungguhlah hari yang sangat melelahkan. Dimulai upacara di pagi yang terik, bertemu dengan orang tua siswa yang komplain anaknya jatuh hingga meninggalkan luka jahit akibat berkejar-kejaran main dengan temannya, lanjut maraton mengajar dari jam pertama hingga jam terakhir. Belum lagi melatih anak-anak bernyanyi untuk persiapan lomba tingkat kabupaten. Walaupun lelah tetap kunikmati rutinitas yang telah kujalani selama kurang lebih lima tahun terakhir ini.
Matahari Jambi tampak sangar hari ini. Aku merogoh ponsel dalam tas biru kesayanganku. Wah ternyata benar saja 33 Celcius. Pantas saja punggungku sampai basah bermandikan keringat begini. Kuletakkan ponsel di meja kerjaku. Baru saja mendarat di meja beberapa detik tampak ponsel menyala tanpa suara. Aku lupa belum mengembalikan profil ponselku pada mode normal. Beberapa saat kutatap layar ponsel. Ada perasaan ragu bergelayut menahan jempolku untuk menerima panggilan tanpa nama itu. Panggilan pertama kubiarkan begitu saja, namun kembali ponselku menyala lagi. Aku berpikir jangan-jangan panggilan dari saudaraku di Jawa. Aku segera menggeser tombol jawab untuk menerima panggilan itu.
“Assalamualaikum!”
“Neng ....” Bukannya menjawab salamku, orang itu malah menyapaku dengan panggilan yang sangat akrab di telingaku. Dengan satu kata yang diucapkan aku sudah tahu siapa dia.
“Neng, semalam Aa mimpi Latisha.” Suara diujung sana sontak membuatku kaget. Bagaimana mungkin dia bisa bermimpi yang sama dengan yang aku mimpikan semalam? Dan ini kali ke berapa dia menelepon menggunakan nomor baru hanya untuk mencari tahu kabarku.
“Neng, halo Neng! Kok diem?”
“Oooh ... enggak, itu ada yang manggil,” kilahku sambil tergagap berusaha menyembunyikan perasaan yang selalu campur aduk tak karuan tiap kudengar nama “Latisha”.
“Neng, gimana kabarnya sekarang?”
“Alhamdulillah, baik,” jawabku datar.
Terpaksa kuladeni cerita basa-basi busuk itu selama 15 menit sebelum akhirnya Mang Odang menyodoriku sebungkus makanan pesanan Romeo anak laki-lakiku menghentikan obrolan random itu. Telepon kuakhiri, tapi debat dalam hati justru mulai terjadi. “Latisha sayang apa kabarmu, Cantik?” bisikku lirih diakhiri tarikan nafas panjang. Ada rintik hujan di hatiku yang merindukan sosok kecil itu.
“Mari, Bu, saya pulang duluan.” Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Marno sudah berdiri di depan meja kerja saya untuk berpamitan.
“Oh iya, Pak, silakan. Saya mau periksa hasil ulangan anak-anak dulu,” jawabku sekenanya sambil senyum tipis kemudian mengusap mata yang hampir basah dengan tisu.
Aku segera beringsut, bersiap untuk pulang karena matahari yang barusan begitu garang seakan mau memanggang tubuhku tampak bersembunyi di balik awan mendung; sepertinya tak lama lagi hujan lebat turun. Aku berjalan menyusuri lorong sekolah menuju tempat parkir sambil beberapa kali berpapasan dengan anak-anak yang minta bersalaman. Segera kuhidupkan motorku, kuhidupkan pula kenanganku. Kenangan pahit tepatnya. Kenangan tentang Dirga laki-laki yang sangat kucintai melebihi apa pun di dunia ini. Masa remajaku diisi dengan kekagumanku pada sosok Dirga. Dia nyaris sempurna, setidaknya sempurna di mataku. Aku mencintainya dalam diam sampai akhirnya entah ada keajaiban apa di suatu hari yang tak terlupa dia mengungkapkan perasaannya. Tentu itu hari yang sangat indah bagiku, di bawah pohon asem yang rindang itu kami berjanji untuk saling menyayangi dan mengukirkan nama di batang pohon yang tampak sudah puluhan taun umurnya.
Lalu terbayang wajah ibuku. Wajah yang selalu muram semenjak tahu hubunganku dengan Dirga.
“Masa depan apa yang kamu lihat dari laki-laki seperti dia?”
“Tapi, Mah ..., Neng tahu apa yang terbaik untuk hidup Neng sendiri.”
“Jadi anak kok gak bisa dibilangin. Orang tua itu sudah jauh berpengalaman. Kamu anak kemaren sore tahu apa coba? Pake bilang Neng tahu apa yang terbaik segala!” cerocos ibuku sambil memonyongkan bibirnya menirukan ucapanku barusan.
“Mah ...,” aku menatap wajah ibuku yang mulai memerah.
“Sudahlah, Mah, tiap anak pulang bahas itu mulu!” sergah ayahku keluar dari kamarnya.
Tantangan demi tantangan dari keluarga tidak serta merta membuat goyah cinta kami. Kami makin kuat dan saling meyakinkan bahwa cinta ini akan indah pada akhirnya. Rasa-rasanya tak ada cinta sebelumnya yang sekuat ini. Kami bersepakat siasat apa pun akan kami lakukan agar kami bisa bersatu. Keputusan yang pada akhirnya sangat kusesali.
Ya, akhirnya kami bersatu dalam pernikahan tanpa resepsi. Waktu, keadaan, jodoh yang sangat ditentang oleh keluarga tetapi itulah takdir cinta yang kupilih. Aku bahagia kami bisa bersama tanpa perlu sembunyi-sembunyi dari penglihatan mereka. Sesederhana itu pikirku saat itu. Namun, ternyata benar apa kata orang tua bahwa kehidupan berumah tangga tidak melulu soal cinta. Menjalani kehidupan rumah tangga tanpa kesiapan yang matang tentulah bukan perkara yang mudah.
Ibuku masihlah bersikukuh dengan ketidaksukaannya terhadap pernikahan kami. Aku berpikir setelah perutku makin membesar akan melapangkan hati ibu. Aku salah duga. Ternyata orang tuaku tutup mata dengan kesulitan finansial yang kami alami saat itu. Aku bersama suami memutar otak bagaimana mencukupi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan kuliah diplomaku, juga memikirkan bagaimana cara menyisihkan dana untuk biaya persalinan beberapa saat yang tak begitu lama lagi. Tapi semua kujalani dengan ikhlas karena di luar semua kesulitan ekonomi, kami sungguh sangat bahagia. Aku bahagia mencintai dan dicintai pria yang sudah lama menghuni pikiran dan hatiku. Tidak pernah ada hal yang terlalu serius yang membuat kami bertengkar.
“Walau kehidupan ini susah, tapi tidak ada yang lebih susah dibanding dengan kehilanganmu, Sayang,” ujarku sore itu ketika dia berkeluh kesah. Dia lalu mencium keningku seraya berterima kasih. “Terima kasih, Sayang. Kau yang selalu menguatkan aku saat dunia seakan melemahkan semangatku. Untukmu aku akan berjuang lebih keras lagi. Kalian adalah alasanku.” Kemudian dia bertubi-tubi mencium perutku.
Walaupun terlahir di waktu yang tidak tepat Latishalah pemersatu kami, perekat hubungan keluarga, juga pengikat kami, mungkin sampai kapan pun. Kebekuan hubungan dengan keluarga pun makin mencair. Ibuku perlahan membukakan hatinya untuk kami. Sedangkan ayahku dari awal memang sangatlah bijaksana. Dia tetap lembut walau telah kukecewakan dalam-dalam. Tak pernah sekalipun Papa menghardikku. Dia tetap merangkul walau bersembunyi dari pandangan Ibu.
Hari dan bulan berganti perbaikan ekonomi kami pun mulai terlihat. Walaupun tidak sampai berlebihan tapi sudah sangat jauh dibandingkan awal pernikahan. Latisha membawa energi positif bagi rumah kami. Latisha makin menggemaskan, tubuhnya yang gempal membuat siapa pun yang melihatnya akan gemas. Sampai saat yang tak terbayangkan Latisha sumber kegembiraan seperti arti namanya diambil kembali Sang Pemilik Sejati. Latisha pergi sebelum dia bisa memanggilku “mamah”, Latisha pergi setelah tugasnya mempersatukan aku dan keluarga selesai. Rasanya langit ambruk menimpa tepat di dadaku. Aku menyalahkan diriku sendiri yang tidak dapat memberi ikhtiar terbaik untuknya. Tiap aku memikirkannya rasa bersalah selalu hadir menemani air mata yang turun deras tak tertahan.
Aku berusaha sekuat tenaga melupakan kesedihanku ditinggal Latisha, walaupun rinduku padanya sekuat maut. Aku tetap bersyukur Dirga suamiku tetap mendampingiku dalam keterpurukan yang teramat dalam. Kami sama-sama berusaha menyembuhkan luka kehilangan dengan berencana untuk program anak lagi. Jelang hari ulang tahunku 10 April sikapnya semakin membuatku nyaman, dia membuat kejutan ulang tahun dalam kesederhanaan yang sangat mewah bagi jiwa kami yang penuh cinta.
Beberapa hari setelahnya aku mendapatkan pesan misterius yang mengabarkan kalau Dirga mempunyai hubungan tak wajar dengan tetangga di kampung sebelah. Tapi kejadian itu tidak lantas membuat kami larut dalam pertengkaran yang lama. Dirga seperti biasa bisa membuatku tenang dengan pelukannya sampai di suatu sore yang tidak akan terlupa sepanjang hidupku. Sepulang kuliah aku mendapati suara perempuan yang sedang menangis pelan tapi jelas di pendengaranku. Setelah kuselidik suara itu makin nyata terdengar dari dalam kamar. Tanpa dinyana, setengah percaya dan tidak, aku melihat suamiku memeluk wanita yang sedang sesenggukan sambil terus mengulang-ulang perkataannya, “Eka gak mau putus. Pokoknya gak mau putus.” Entah kekuatan dari mana tangan dan kakiku dipenuhi tenaga berlapis amarah yang membabi buta. Kucabik-cabik muka perempuan itu seperti halnya dia mencabik-cabik rumah tangga yang kubina selama ini.
Waktu tak juga sembuhkan duka. Aku menyerah pada luka. Aku teraniaya rasa percaya yang kutanamkan dalam-dalam padanya. Aku kembali teringat pada kecewa Ayah Ibu yang telah kuberikan rasa malu dengan apa yang kuperjuangkan atas nama cinta yang berakhir pilu. “Latisha, maafkan Ibu yang tak mampu melanjutkan perjuanganmu mempertahankan ayahmu agar tetap bersama Ibu. Ibu bisa bertahan dalam penderitaan dulu tapi sungguhlah tidak mudah menerima sebuah pengkhianatan.”
***
Motor kuparkirkan di garasi depan rumah. Kuambil kunci motor sambil kurapikan kenangan dan air mata yang berserak sepanjang perjalanan pulang.
“Ibu, Ibu bawa oleh-oleh apa?”
“Ini pesananmu, Sayang. Buka saja sendiri!”
“Terima kasih, Ibuuu!” teriak bocah tujuh tahun yang tampak kegirangan itu sambil terus memelukku dengan sangat erat. Mungkin seerat pelukan Latisha jika dia masih ada. Rinduku padanya melebihi kerinduan Dilan pada Milea. Ah rindu sekali, rindu serindu-rindunya. Suatu saat akan kuceritakan pada Romi tentang bagaimana kumencintai dan menyimpan banyak rindu untuk Latisha.
***

dari buku Warisan Azan Subuh halaman 15-21

Sabtu, 04 April 2020

Buah Bibir

oleh Ira Ismatul Hamidah
Buah Bibir, cerpen oleh Ira Ismatul Hamidah
Photo by NEOSiAM 2020 from Pexels

Siang begitu terik. Bau gabah yang baru saja dipanen tercium hingga ke dalam rumah Marni. Segera ia keluar dari rumahnya melihat hamparan luas sawah kering di seberang jalan. Ibu-ibu di kampung hampir semuanya berkumpul di sana untuk memanen. Baginya yang tidak mempunyai sawah hanya menjadi buruh saja. Tak lama, Marni sudah membaur dengan ibu-ibu di sawah.
“Hai Marni, jadi kau tidak peduli apa yang dilakukan Karman padamu?” pertanyaan yang tiba-tiba saja dilontarkan seorang ibu setengah baya dengan caping yang sedikit menutupi wajahnya.
“Tidak, Sit. Dia sangat menyayangiku jadi hal seperti itu tidak mungkin ia lakukan,” jawab Marni dengan tenang.
“Tapi, katanya ada orang yang lihat suamimu itu dengan Jum, janda Dirjo itu di rumahnya,” timpal yang lain.
“Itu kan katanya, barangkali orang yang mengira waktu itu salah lihat,” jawab Marni.
“Kau terlalu polos Marni. Semoga saja dugaanmu itu benar, dan kami yang salah.” Kali ini Marni terdiam dan hanya menjawab dengan senyuman. Seperti itulah caranya untuk menghentikan omongan ibu-ibu yang suka menggosip.
***
Terdengar pintu rumah diketuk, sore itu. Ia beranjak dari sandaran duduknya. Dilihatnya lelaki bertubuh kurus dan berkulit hitam di depan pintu rumahnya yang terbuka lebar.
“Kang Dirjo?” lihatnya dengan terkejut.
“Sedang apa kamu, Mar?” Dirjo masuk dan duduk di sebuah ruang yang dianggap sebagai ruang tamu. Kekhawatiran muncul di raut wajah Marni. Ia tahu tujuan Dirjo datang kemari adalah untuk menagih utang yang ia janjikan hari ini.
“Karman mana, Marni?”
“Kerja, Kang,” jawab Marni, berjalan menuju dapur untuk membuatkannya kopi. Marni mencoba bersikap sewajar mungkin untuk menutupi kekhawatirannya.
“Sudah ada uangnya, Mar?”
“Belum, Kang,” jawabnya singkat.
“Kau bilang hari ini bisa melunasinya,” tagih Dirjo dengan santai.
“Kang Karman belum dapat uangnya, Kang,” Marni berharap Dirjo memahami keadaannya.
“Kau yakin, bahwa suamimu Karman itu benar-benar kerja mencari uang?”
“Iya Kang. Mungkin gosip warga sudah sampai ke telinga Kang Dirjo. Tapi, aku mempercayainya.”
“Mengapa tidak kau buktikan saja sendiri?” Dirjo meneguk sedikit kopi panas di hadapannya.
“Aku mempercayainya, Kang.”
“Andai saja dulu kau mau menikah denganku, maka hidupmu tidak seperti ini, Marni. Hidup susah dengan seorang peselingkuh. Wanita secantik kau selayaknya hidup mewah denganku.”
“Aku mohon, Kang, jangan kau hina suamiku!” giginya beradu, tangannya mengepal mencoba bersabar menghadapi seorang yang telah menghina suaminya.
“Kau marah, Marni? Kau marah hanya demi seorang peselingkuh? Ada-ada saja kau ini. Belum terlambat Marni, menikahlah denganku maka utang kalian kuanggap lunas!” ancamnya dengan halus.
“Tidak!” jawabnya pendek.
“Baiklah, kau pikir-pikir lagi tawaranku itu. Aku akan kembali minggu depan.” Marni melihat tatapan yang menjijikkan dan senyum hinaan dari wajah yang ia benci. Dirjo menghabiskan secangkir kopi yang disuguhkan Marni. Ia hanya bisa melihat kopi hitam buatannya mengalir masuk ke dalam kerongkongan Dirjo, kemudian menerabas di setiap bagian tubuh Dirjo.
***
Marni mengantuk dan Karman belum juga pulang. Pintu sudah akan ditutup. Lampu bohlam 25 whatt terlihat sangat temaram malam itu. Jangkrik pun meramaikan sunyinya pekat malam. Kampung Durian jam sembilan sudah terlihat sepi dan senyap. Tak banyak yang dilakukan warganya hingga pukul sekian. Marni mencoba mengintip dari balik jendela yang tertutup gorden lusuh, di luar benar-benar gelap. Lampu jalan yang warga pasang pun sepertinya tak berguna karena hanya satu dua yang menyala, lainnya mati dan tak kunjung diganti. Beberapa lagi dicuri oleh orang tak bertanggung jawab. Ia tak memedulikan sekelilingnya yang gelap. Segala fokusnya pada Karman, suaminya yang tak kunjung pulang hingga pukul sekian. Apalagi tentang gosip tadi siang yang sudah menyebar ke seluruh warga.
“Dari mana saja, Kang?” tanya Marni dengan lembut sembari menyediakan secangkir kopi dan ketela goreng di hadapan Karman.
“Kau curiga padaku? Jangan kau percaya omongan orang-orang desa. Mereka senang kalau melihat kita bertengkar dan sengsara.”
“Tidak, Kang, hanya saja tadi sore Dirjo datang menagih utang.”
“Lau kau bilang apa padanya?”
“Aku bilang, kita akan segera membayarnya.”
“Dasar Dirjo, tidak tahu berterima kasih. Dulu banyak preman-preman terminal sepulang sekolah yang memalaki dia karena tahu Dirjo anak dari Lurah yang bengkoknya subur. Dan ketika itu, preman-preman itu kubantai sampai habis. Jelas sekali, dia berutang juga padaku. Bahkan lebih dari sekadar uang.”
“Itu masa lalu, Kang! Tidak baik jika diungkit-ungkit terus,” jelas Marni hati-hati.
“Biarkan saja! Memang seharusnya begitu. Dia berutang nyawa padaku. Coba saja ketika itu aku tidak membantai preman-preman itu mungkin dia sudah mampus. Sekarang giliranku utang 15 juta saja, dia sering kali menagihnya!”
“Lima belas juta itu tidak sedikit, Kang. Itu uang banyak. Dengan uang itu juga kita mampu beli motor buat Tole, sampai akhirnya dia mau sekolah.”
“Ahhh aku tidak terima semua itu! Lihat saja besok! akan aku lunasi utang kita, tanpa menunggu sepekan!” kata Karman dengan nada penuh amarah.
Suasana menjadi lengang, Marni tak melanjutkan percakapannya. Dia tidak ingin terjadi cekcok dengan suaminya. Malam semakin larut. Udara malam berhembus lembut di luar. Tidak ada percakapan lebih lanjut malam itu.
***
Pagi-pagi sehabis subuh ia sudah menyiapkan segala keperluan suaminya untuk berangkat kerja di sebuah toko kelontong. Kepulan nasi hangat dengan sambal gereh telah dilahap suaminya. Marni mencium punggung tangan Karman sebagai bukti bakti pada suaminya. Kicauan burung pagi itu mengantarkan Karman ke arah timur, jalan raya.
Bergegas Marni berlari ke luar rumah. Kicauan burung semakin ramai saja di pagi yang sibuk. Punggung suaminya masih tak begitu jauh dari pandangannya. Namun, cukup baginya untuk melihat ke arah mana Kang Karman pergi. Kediaman seorang janda Dirjo, Jum.
“Aku baru bisa menggajimu bulan depan,” katanya.
“Apa tidak bisa kau pinjami dulu? Aku ingin segera melunasi utangku pada si brengsek Dirjo,” tawar Karman berharap mendapat pinjaman dari Jum, seorang janda kaya yang juga seorang bos di tempat ia bekerja.
“Kau menyayanginya, Kang?”
“Ya, aku ingin hidup tenang dengannya,” jawabnya santai tapi yakin.
“Berapa kau mau? Ini semua bukan untuk Marni tapi demi kau, Kang,” kata Jum dengan tatapan seorang wanita yang cintanya tak terbalas.
***
Malam kembali hadir. Karman merebahkan tubuhnya di kasur yang tidak lagi empuk. Malam hening seperti biasa mewarnai kampung. Lampu jalan kembali tak berguna untuk menerangi jalan. Nyanyian jangkrik beradu malam itu. Melihat suaminya kelelahan, diambilnya pisau yang biasa ia gunakan untuk memasak makanan dengan penuh cinta kasih dan bakti, ditusukkannya pisau itu tepat di perut Karman. Tak dipedulikannya wajah suaminya tercinta meronta dalam sakratulmaut. Ditusukkannya berulang-ulang membabi buta. Semua gelap. Tidak ada lagi kepercayaan. Tidak ada lagi bukti bakti. Wajah panas penuh darah menguasainya. Pisau cemburu telah menancap berkali-kali ditubuh tak berdaya. Tubuh berlumur darah dengan segepok uang 15 juta dalam genggamannya.
***

dari buku Warisan Azan Subuh halaman 11-14

Bukan Perempuan Biasa

oleh Pulpawati
Christina Morillo in https://www.pexels.com/


Hidup dengan satu ginjal? Ya Tuhan kehidupan seperti apa ini? Suatu hal teramat jauh dari anganku. Hidup sehat dan sejahtera memenuhi seluruh rongga dadaku. Mampukah dia mencintaiku seperti dahulu? Jangan-jangan dia mencintai hanya sehatku saja tidak mencintai sakitku. Hidup dengan satu ginjal. Itulah vonis dokter kepadaku beberapa bulan yang lalu, saat nyeri mulai menyerang hebat seluruh persendianku di perut sebelah kiri ke bawah. Hari-hari terlewati begitu menekanku beberapa bulan terakhir ini. Tugas-tugas dari siswaku terbengkalai berhamburan di meja, buku paket pelajaran menunggu dibuka oleh tanganku, Program remedial buat siswaku tak tersentuh olehku. Aku seolah mencintai selimut putih agak lusuh hangat di atas peraduanku. Matahari pagi hangat mencumbu kulitku, udara segar menyergap masuk ke kamarku.

“Selamat pagi, Bunda!” senyum Bapak membangunkanku dari peraduan setelah malam merajutku dalam belahan-belahan pikiran yang tak kunjung berujung pada satu asa. Aku balas tersenyum, kuharap senyumku ini pagi semanis madu buat anak-anakku dan bapak dari anak-anakku.

“Hari ini, saya mau ke sekolah, anak-anak pasti menungguku, menunggu pelajaranku yang sekian waktu tak kunjung usai, padahal hampir semesteran tiba.”

“Tapi?” nada dari bapak anak-anakku tergantung. Aku paham dia mengkhawatirkan kondisiku. Aku sedikit tersinggung.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku sehat.” Dengan semangat aku berdiri dari pinggir tempat tidurku. Entah kekuatan dari mana hari ini aku tiba-tiba sehat walafiat. Ooo, aku tahu, mungkin dikarenakan hari ini ada rasa rindu menjalar demikian hebat untuk kembali memandangi mata bening siswa-siswiku, membuat mereka ngakak halus jika saya menguraikan sebuah cerita menarik dan lucu bagai untaian drama lucu di depan mereka. Kekuatan untuk menemui mereka bak datang dari surga. Kekuatan sebagai seorang ibu bagi anak-anakku dan kekuatan sebagai seorang guru yang jauh di dalam sanubari ingin pengabdiannya tulus dan ikhlas tanpa terhalang oleh penyakit apa pun jua. Beranjak aku dari peraduanku; matahari terbit dari jendela.

Sebulan aku mengajar, kekuatan mata bening anak didikku memberiku kekuatan yang luar biasa. Namun, tak disangka siang-siang bolong begini lututku seakan tak bertulang. Rasa nyeri di perut bagian bawah sebelah kiri demikian hebat menyerang seolah mengunci semua persendianku. Seingatku aku dipulangkan ke sebuah puskesmas terdekat dengan sebuah mobil pete-pete butut milik Pak Tandi. Kuingat bapak anak-anakku sepakat dengan dokter PTT di desa tempatku mengabdi akan merujukku ke RS kota madya. Jauh-jauh hari bapak dari anak-anakku menjual tanah warisan kakek di sudut desa ditambah dengan kredit kami yang sedari awal disiapkannya semenjak seorang dokter memvonisku penyakit ginjal stadium dua.

Tidur di ranjang kecil dan sekeliling serba putih membuatku seolah tak berdaya sama sekali. Aku sedih, bapak anak-anakku dengan setia menghabiskan waktunya menungguiku di sisi kamar putih. Meskipun nyeri yang teramat sangat tetap kuberi dia sapaan dan senyum manis setiap aku terbangun dari tidurku. Dia melarangku bangun dari ranjang putih itu, tapi aku takut menutup mata terlalu lama berjam-jam karena ngeri membayangkan manakala mataku tak bisa lagi kubuka dan sudah berada di tempat yang amat jauhnya dari mereka.

Entah sudah beberapa bulan lamanya, aku diperkenankan dokter pulang ke rumah. Tiga orang dokter menyalamiku dan bergurau bahwa aku kini tambah cantik dengan kulit yang putih serta badan yang agak ceking. Namun, kurasa gurauan dokter membuat aku semangat dan semringah. Bapak dari anak-anakku pun menambahkan dengan gurauan serupa. Sebulan telah berlalu aku mampu mengajar di sekolahku kembali. Meski dengan satu ginjal, aku merasa seperti punya ratusan ginjal jika aku ada di tengah anak didikku yang lugu dan polos. Itulah sebabnya mengapa aku justru meminta tidak ditempatkan di kota tetapi di desa ini untuk mengabdi.

“Selamat ulang tahun, Ibuuu ...!” Aku kaget, suatu sore dari arah pintu depan rumah, anak-anak didikku berhamburan membawa bunga mawar, melati, dahlia dalam pot kayu. Aku tahu itu bunga dari taman bunga di sekolah kami.

“Ini, Ibu, kami bawakan bunga karena ibu sekarang ulang tahun yang ke-33.” Kulihat ada yang bawa pisang, ubi, jambu air, dan berbagai macam buah dari kebun mereka. Saya menangis terharu. Mereka yang polos, lugu, tak tahu arti ulang tahun, datang membawakan bunga untukku. Bunga yang berwarna warni.

Tiba-tiba Onggo, anak didikku yang paling gendut, berdiri membacakan sebuah puisi yang manis. Temannya bersorak riuh, kata Onggo itu puisi dia buat sejak saya di rumah sakit. Aku peluk mereka satu per satu. Sesuatu yang besar tumbuh menjalar dalam ruang hatiku dan rasa itu adalah harapan untuk terus berjuang hidup dengan satu ginjal karena mereka selalu menungguku setiap pagi di gerbang sekolah.

Matahari tenggelam di ufuk barat. Dari arah serambi kanan rumah, Gunung Panusuk mulai diselimuti kabut sore yang dingin. Aku beranjak masuk rumah menyalakan lampu pelita buat kami makan malam dan buat terang bagi anak-anakku untuk belajar sejenak Maklum di desa kami belum ada listrik. Aku serasa sehat kembali.

Meski dengan satu ginjal aku tetap mengabdi di desa terpencil ini ... karena di sini denyut jantungku, di sini ginjalku akan tumbuh subur kembali dengan gemburnya riuh gelak anak-anak dari kandunganku dan anak-anak dari ilmuku.

***

dari buku Jarit Ibu Pengobat Rindu: Kumpulan Cerpen halaman 1-4

Kau dan Aku

oleh Lusia Yuli Hastiti
Kau dan Aku, Puisi oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by Elizaveta Dushechkina from Pexels
jika kau
adalah sebuah pelabuhan,
maka kau diciptakan oleh Tuhan
sebagai pelabuhan terakhir yang kusinggahi

jika kau
adalah teka-teki,
maka ini seperti permainan
mencari dan menemukan sebuah jawaban
dari segala pertanyaan dan kerisauan dalam hati

jika kau
adalah hutan puisi,
maka aku akan terus masuk
ke dalamnya untuk memecah sunyi
bermain dengan reranting kasih yang kujumpai;
mendengar dedaunan rindu yang menggesekkan diri
dan bermain dengan kupu-kupu cinta yang menarik hati

jika kau
adalah sebuah gunung,
maka aku akan terus mendaki
dengan sukacita dan sepenuh hati
seperti saat menikmati embun Mandalawangi
atau seperti mengagumi hamparan bunga abadi
kuingin mendaki sampai waktu yang kupunya berhenti

Lampung Timur, 20 April 2018

dari buku Perempuan di Atas Bukit: Kumpulan Puisi Maret 2019 #3 halaman 8