Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak
Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.
Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen
Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN
Proyek Penerbitan Cerpen Anak
Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.
Karyatunggalkan Puisimu!
Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal
Terbitkan 5 Puisi
Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.
Penerbitan 500 Puisi Akrostik
Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru
Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru
Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Best Practices
Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.
Proyek Penerbitan Best Practices
Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.
Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan
Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN
Minggu, 24 Mei 2020
Maka Bacalah
Puisi Nur Faizah
wajah-wajah ayu, tujuh belas usia
berkaca, tak kenal waktu
membilang jerawat, bintik hitam,
alis tak sama
mata tak indah sempurna
bibir tak merah muda
dan segala di wajah
wajah-wajah ayu, tujuh belas usia
sudah berkaca, dengan kaca, persis sama
dengan yang ada
membaca bedak rata tak rata
membaca selendang kepala rapi tak rapi
membaca yang ada di muka
persis sama
wajah-wajah ayu, tujuh belas usia
bila jerawat adalah noda
bila bintik hitam adalah luka
mata tak indah adalah petaka
bibir tak merah mudah adalah celaka
maka bacalah
berapa kita tak berkaca, dengan hati kita
nur kita, cahaya kita
berapa kita tak membilang
jerawat di hari-hari kita
bintik hitam di waktu-waktu kita
redup remang jalan kita
dan
tak merah mudanya warna kita
maka bacalah
dengan kaca hati kita
Jombang, September 2018
Sabtu, 23 Mei 2020
Hasta Rindu
Puisi Setyawati
Ketika hitam membungkus alam
Rindu mulai membuncah garang
Senja menghantarkan rasa lebih dalam
Kubiarkan setiap inci indra mendayang
Saat jamrud kursi-Mu berselimut malam
Kukirim sehasta demi sehasta penghambaan
Memunajatkan asa yang terkubur kelam
Menguntai harap pada Pemilik kehidupan.
Lembayung senja pengikrar masa
Kuluruhkan beban tak bersisa
Meluah tirta dari netra
Di lembar suci pengawal lentera
Ya ... Malikul hayat
Mahkotaku bersinggasana hina
Kuletak serendah rendah tempat
Tanda diri hanya remah rapuh di dunia fana
Lirih angin berhembus
Menyampaikan pesan Sang Kudus
Rintihan hati merayu kasih-Nya
Berharap siraman keberkahan jiwa
dari buku Tangisan Burung: Kumpulan Puisi Januari 2019 #3 halaman 67
Pembacaan puisi ini dapat dilihat di video berikut:
![]() |
| Photo by Rene Asmussen from Pexels |
Ketika hitam membungkus alam
Rindu mulai membuncah garang
Senja menghantarkan rasa lebih dalam
Kubiarkan setiap inci indra mendayang
Saat jamrud kursi-Mu berselimut malam
Kukirim sehasta demi sehasta penghambaan
Memunajatkan asa yang terkubur kelam
Menguntai harap pada Pemilik kehidupan.
Lembayung senja pengikrar masa
Kuluruhkan beban tak bersisa
Meluah tirta dari netra
Di lembar suci pengawal lentera
Ya ... Malikul hayat
Mahkotaku bersinggasana hina
Kuletak serendah rendah tempat
Tanda diri hanya remah rapuh di dunia fana
Lirih angin berhembus
Menyampaikan pesan Sang Kudus
Rintihan hati merayu kasih-Nya
Berharap siraman keberkahan jiwa
dari buku Tangisan Burung: Kumpulan Puisi Januari 2019 #3 halaman 67
Pembacaan puisi ini dapat dilihat di video berikut:
Jumat, 22 Mei 2020
Sepucuk Surat untuk Istriku
Puisi Ambo Asse
![]() |
| Photo by Danu Hidayatur Rahman from Pexels |
Teruntuk belahan jiwa dan teman hidupku ...
Wahai istriku, saya bersyukur mendapat pendamping seperti dirimu
Yang selalu bersabar akan kondisi dan kekuranganku
Wahai istriku, saat kita ijab kabul berjanji untuk mengarungi bahtera hidup rumah tangga
Kita telah berikrar menempuh satu jalan
Meskipun banyak pilihan jalan yang lain
Yakni menjalani kehidupan bahtera rumah tangga dengan pedoman agama
Sebagaimana yang telah disunahkan oleh Rasulullah Sallallahualaihi wasallam.
Itulah keyakinan kita, meskipun kita dengan keterbatasan
Tapi usaha dan perjuangan selalu
Wahai istriku, ketahuilah membangun rumah tangga yang sesuai dengan harapan tidaklah mudah, untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah. Olehnya suamimu butuh dukungan dan kesabaran untuk memperjuangkannya.
Istriku, rumah tangga yang bahagia tidaklah cukup hanya bermodal cinta saja
Akan tetapi rumah tangga dibangun atas hak dan kewajiban di mana cinta dan keromantisan sebagai penghiasnya.
Wahai istriku,
Saya sadar akan beratnya tanggung jawab sebagai suami dan kepala rumah tangga
Yang tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup keluarga
Tetapi menjaga keluarga dari beratnya siksaan api neraka
Semoga Allah senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita
Wahai istriku, ibu dari anak-anakku
Saya tahu dan mengerti beratnya perjuanganmu untuk anak-anak kita
Dengan mengandung, melahirkan, membesarkan, merawat dan mendidik mereka
Namun engkau tetap sabar, tegar bahkan menikmati
Semoga anak-anak kita menjadi anak yang soleh dan soleha
Wahai istriku, yang selalu memenuhi dan memanjakan diriku
Dirimu begitu tangguh dalam mengurus makananku, tidurku, pakaianku, dan semua keperluanku
Engkau melakukannya dengan sabar dan ketulusan
Dirimu begitu sabar dengan suamimu yang terkadang meminta sesuatu yang punya selera tinggi meskipun kondisi ekonomi lemah
Dirimu selalu menemaniku saat lelah dan letih
Yang selalu menyuntikkan energi dan semangat bagiku
Wahai istriku, maafkan suamimu yang serba kekurangan
Suamimu masih terbatas ilmu sehingga tergopoh-gopoh membimbingmu mengarungi hidup ini dalam mencari rida sang pencipta
Suamimu ini masih terbatas dalam memenuhi kebutuhan hidupmu
karena gaji suamimu hanya pas-pasan
Maafkan suamimu, jika kamu sering merasa kurang diperhatikan
Bahkan cuek, meskipun yang sebenarnya rasa cinta dan sayang suamimu tak mampu diluahkan melalui lisan dan kalimat-kalimat yang indah yang senantiasa engkau nantikan.
Maafkan suamimu, tidak seromantis yang selalu kamu inginkan
Terima kasih istriku ...
Engkau telah bersedia menjadi pendampingku
Engkau telah melayaniku selama ini
Engkau telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan dan mendidik suriatku
Engkau telah bersabar dalam lelah letihku dalam perjuangan hidup ini
Istriku, saya tahu ucapan terima kasihku ini tidak cukup dengan pengorbananmu selama ini ...
Semoga Allah senantiasa meridai kita dan mempertemukan kita kembali di jannahnya
dari buku Kosong: Kumpulan Puisi Januari 2019 #2 halaman 19-21
Pembacaan puisi ini bisa dinikmati dalam video berikut:
Selasa, 19 Mei 2020
Tetap Puisi
oleh Lusia Yuli Hastiti
![]() |
| Photo from Pexels |
waktu yang berangsur sampai hari ini, tetap ada puisi
bukan penyair aku karena puisi
bukan pujangga aku karena bersembunyi di sini
bukan kebetulan aku karena menangkap buah-buah imaji
aku hanya sedang berada di dataran tinggi
kebebasan yang menyatu dengan denyut nadi
kelenaan aku yang mengandung memori
keheningan aku yang mengundang hasrat dalam diri.
Lampung Timur, 19 Mei 2018
A Poem A Day
Rumah Belajar "Suluh Harapan Insani"
Buah Pikiran
oleh Lusia Yuli Hastiti
rasanya aku tak sanggup lagi
menghadapi dunia yang fana ini;
kata-kata itu baru saja
mampir di kepalaku
dan menjalari benakku
mengapa harus lari?
apakah sudah muak
dengan segala kerunyaman
yang telah ditimbulkannya?
atau sedang meratapi
kepedihan yang merangkulinya?
hei, tolong jangan menulis syair pilu!
ini malam Minggu!
tulis saja sabda bahagia
dari burung-burung yang berkicau
atau pandang saja bulan
yang sudah melewati purnamanya
pesanku,
jangan memasang wajah sendu!
tuang saja kata-kata itu
menjadi sebuah buku.
Lampung Timur, 18 Mei 2019
A Poem A Day
Rumah Belajar "Suluh Harapan Insani"
![]() |
| Photo from Pexels |
rasanya aku tak sanggup lagi
menghadapi dunia yang fana ini;
kata-kata itu baru saja
mampir di kepalaku
dan menjalari benakku
mengapa harus lari?
apakah sudah muak
dengan segala kerunyaman
yang telah ditimbulkannya?
atau sedang meratapi
kepedihan yang merangkulinya?
hei, tolong jangan menulis syair pilu!
ini malam Minggu!
tulis saja sabda bahagia
dari burung-burung yang berkicau
atau pandang saja bulan
yang sudah melewati purnamanya
pesanku,
jangan memasang wajah sendu!
tuang saja kata-kata itu
menjadi sebuah buku.
Lampung Timur, 18 Mei 2019
A Poem A Day
Rumah Belajar "Suluh Harapan Insani"
Minggu, 17 Mei 2020
Menghitung hari-hari senja
Puisi Lodevika Endang Sulastri
Senja menggelap seiring waktu berlalu
Satu-satu daun menguning layu,
Langit berwarna abu-abu.
Angin berembus mengabarkan cerita.
Seorang pensiunan duduk menunduk
Di kursi rotan tua senyumpun tak nampak
Butiran biji tasbih terjatuh
Dalam lingkarannya seperti mengabarkan padaku
Doa Ave Maria andalan orang berduka.
Menghitung-hitung hari, seolah hendak pergi
Kapan kan selesai, pergulatan jiwa menanti
Sesaat terhenti, walau jiwa kini dalam simpangan
Ada pertanyaan ... melanjutkan seperti sebuah beban
Menghentikan artinya tidak berjumpa sesiapa
Selain jiwanya yang makin terluka.
Seperti saat sekarang ini ...
Terus berjuang untuk menarik nafas,
Seraya tersenyum menikmati hari mulai pergi
Jiwa terpesona menatap perubahan
Mari tersenyum songsong masa depan tinggal sejengkal
Apa makna dari pergulatan di keheningan alam ...
Mendekat pada Sang Pemberi hidup
Mencari sumber ketenangan batin senja
Sadar akan jiwa yang membutuhkan air kehidupan
Untuk masa depan ... yang tak pernah tahu kapan datang.
Tinggal menyatu pada waktu
Agar jiwa siap memasuki hari-harinya
Dengan banyak amalan sebagai jalan
Jembatan sirotol mustakim bila waktu-Nya tiba.
Tergugah jiwa lara ...
Banyak kenangan yang mengingatkan
Aku belum selesai ... untuk meminta maaf
Sebelum hari-Nya datang
Biarlah aku diam di diamku
Agar mampu dengarkan suara hatiku
Yang merindu sesuatu ... yang belum rampung waktu itu.
Palembang, 17 Mei 2020 : 18.29
![]() |
| Photo by Download a pic Donate a buck! ^ from Pexels |
Satu-satu daun menguning layu,
Langit berwarna abu-abu.
Angin berembus mengabarkan cerita.
Seorang pensiunan duduk menunduk
Di kursi rotan tua senyumpun tak nampak
Butiran biji tasbih terjatuh
Dalam lingkarannya seperti mengabarkan padaku
Doa Ave Maria andalan orang berduka.
Menghitung-hitung hari, seolah hendak pergi
Kapan kan selesai, pergulatan jiwa menanti
Sesaat terhenti, walau jiwa kini dalam simpangan
Ada pertanyaan ... melanjutkan seperti sebuah beban
Menghentikan artinya tidak berjumpa sesiapa
Selain jiwanya yang makin terluka.
Seperti saat sekarang ini ...
Terus berjuang untuk menarik nafas,
Seraya tersenyum menikmati hari mulai pergi
Jiwa terpesona menatap perubahan
Mari tersenyum songsong masa depan tinggal sejengkal
Apa makna dari pergulatan di keheningan alam ...
Mendekat pada Sang Pemberi hidup
Mencari sumber ketenangan batin senja
Sadar akan jiwa yang membutuhkan air kehidupan
Untuk masa depan ... yang tak pernah tahu kapan datang.
Tinggal menyatu pada waktu
Agar jiwa siap memasuki hari-harinya
Dengan banyak amalan sebagai jalan
Jembatan sirotol mustakim bila waktu-Nya tiba.
Tergugah jiwa lara ...
Banyak kenangan yang mengingatkan
Aku belum selesai ... untuk meminta maaf
Sebelum hari-Nya datang
Biarlah aku diam di diamku
Agar mampu dengarkan suara hatiku
Yang merindu sesuatu ... yang belum rampung waktu itu.
Palembang, 17 Mei 2020 : 18.29
Puisi
oleh Lusia Yuli Hastiti
suatu hari nanti kau akan bertanya padaku
soal alasanku yang terlalu mencintai puisi
tidakkah ada hal lain selain puisi?
bukankah dunia tidak hanya berisi
barisan kata-kata semacam puisi?
kataku,
dunia terbentuk dari kata,
kisah terbentuk dari kata,
keindahan terbentuk dari kata,
malam membentang terbentuk dari kata,
awal mula kehancuran terbentuk dari kata,
kebahagiaan dan kepedihan
juga terbentuk dari kata.
aku mencintai puisi
barisan kata-kata tempat aku sembunyi
daripada terjebak dalam ruang kosong dan angin pagi,
daripada pikiranku mati dan imajinasi berhenti,
daripada dunia menjadi sunyi
dan tumbuhlah duri dalam diri,
daripada duduk sambil mengumpulkan rasa benci.
aku mencintai puisi.
Lampung Timur, 17 Mei 2018
A Poem A Day
Rumah Belajar "Suluh Harapan Insani"
![]() |
| Photo by Lusia |
suatu hari nanti kau akan bertanya padaku
soal alasanku yang terlalu mencintai puisi
tidakkah ada hal lain selain puisi?
bukankah dunia tidak hanya berisi
barisan kata-kata semacam puisi?
kataku,
dunia terbentuk dari kata,
kisah terbentuk dari kata,
keindahan terbentuk dari kata,
malam membentang terbentuk dari kata,
awal mula kehancuran terbentuk dari kata,
kebahagiaan dan kepedihan
juga terbentuk dari kata.
aku mencintai puisi
barisan kata-kata tempat aku sembunyi
daripada terjebak dalam ruang kosong dan angin pagi,
daripada pikiranku mati dan imajinasi berhenti,
daripada dunia menjadi sunyi
dan tumbuhlah duri dalam diri,
daripada duduk sambil mengumpulkan rasa benci.
aku mencintai puisi.
Lampung Timur, 17 Mei 2018
A Poem A Day
Rumah Belajar "Suluh Harapan Insani"
Langganan:
Postingan (Atom)
























