Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Senin, 06 April 2020

Lyla

Cerpen oleh Miekedimiaty
Lyla Cerpen oleh Miekedimiaty
Photo by luizclas from Pexels

Cinta adalah sebuah permainan dan manipulasi perasaan. Ketika seseorang terjebak didalamnya, ia akan ditaklukkan dalam genggaman orang yang disangkanya mencintainya.
Itu adalah salah satu prinsip egois Lyla tentang cinta. Tak sedikit pun terlintas di benaknya untuk mempercayai makhluk yang bernama pria. Itulah makanya dia lebih banyak memiliki teman lelaki daripada perempuan. Sangat kontras sebenarnya, karena tidak percaya tetapi membiarkan diri bergaul sangat akrab dengan mereka. Ketika ditanya mengapa, dia hanya sumringah dan berkata karena laki-laki lebih berkualitas dalam hal loyalitas kepada temannya daripada kepada kekasihnya. Coba saja ajak teman lelaki yang sedang mengantar pacarnya shopping untuk menonton pertandingan bola, pasti dalam sekejap dia akan membuat seribu alasan asal bisa kabur dari pengawasan pacarnya. Hehehe …
Masalahnya Lyla sama sekali bukan tomboy. Dia adalah gadis yang super manis dan feminim. Dia amat memenuhi syarat seandainya mendaftar jadi model sampo karena rambut panjangnya yang hitam lurus atau menjadi bintang iklan obat jerawat karena wajahnya yang kinclong. Dia bersih dengan tubuh yang terawat meskipun sangat tidak suka ke salon. Untuk yang satu ini, dia punya alasan sendiri, “Ngapain mesti ke salon jika yang ngurus kita di salon manusia juga? Kan di rumah ada Kak Dinar sama Mama yang histeris kalo aku udah kelihatan lusuh lagi dan segera memberikan tindakan P3K.” Pendeknya, Lyla gadis yang cantik.
Lyla berasal dari keluarga yang harmonis. Ia memiliki seorang ayah yang didambakan seluruh orang di dunia ini. Ayah yang hebat di mata anak-anak dan suami istrinya. Terlebih bagi Lyla, ayahnya adalah seorang sahabat yang keren karena membiarkannya menonton pertandingan sepak bola sampai pagi. Ibunya juga hebat karena menemaninya menonton drama Korea dan mereka berdua dapat bersama-sama menangis jika ada adegan melankolis. Hmm, seandainya tidak ada Kak Dinar yang sering menangis karena putus dari pacarnya pastilah dunia ini sangat sempurna untuk Lyla. Betapa tidak, saat Lyla sedang konsentrasi belajar untuk ulangan dan tidak ingin mendengar suara-suara, tiba-tiba pintu di sebelah kamarnya dihempas keras-keras dan segera terdengar isakan tangis kakaknya. Lyla dongkol setengah mati karena jika dia tidak belajar, terpaksa ayahnya mulai menggunakan aksi melarang semua kegiatan yang sangat disukai Lyla. Ayahnya mudah mengontrol nilainya karena kepala sekolahnya adalah adiknya yang selalu siap dengan laporan lengkapnya tentang Lyla. Sedang bagaimana Lyla mau belajar kalau pintu kamarnya tepat berhadapan dengan pintu kamar Kak Dinar yang penghuninya menangis meraung-raung?
Rupanya itulah sebabnya mengapa Lyla hanya mau berteman saja dengan teman lelakinya. Dia juga sebenarnya menyukai Brian, teman kakaknya dan sengaja membiarkan Brian mengejarnya tetapi tidak sanggup untuk menerima Brian lebih dari itu. Kejadian seperti itu terus terulang sampai Lyla kuliah dan Lyla menjadi nyaman dengan prinsipnya sendiri. Dia berkutat dengan pelajarannya sehingga mengantarnya menjadi salah seorang mahasiswa yang sangat diperhitungkan di Fakultas Komunikasi. Dia terkenal sebagai mahasiswi yang supel tetapi tidak punya pacar. Bedanya, sekarang dia sudah punya seorang sahabat cewek yang sifatnya tidak beda jauh sama sifat Kak Dinar. Kakaknya sekarang berada di Jepang untuk meraih gelar doktornya dan sudah menikah dengan Brian! Lyla tersenyum lega ketika kakaknya akhirnya menikah dan mengancam akan membunuh Brian jika dia membuat kakaknya menangis.
“Saya berjanji akan menyayangi kakakmu, Lyla. Tetapi saya ingin kamu juga memikirkan dirimu sendiri. Berjanjilah suatu hal padaku!” Brian berkata dengan wajah sedikit memelas.
Lyla terkikik melihatnya.
“Apa maksudmu? Mengapa aku harus menjanjikan suatu hal padamu? Bukannya kau menyerah melakukan segala sesuatu untukku dan malah lari ke pelukan Kak Dinar?” Goda Lyla setengah bercanda.
“Berjanjilah, pada saat kedatangan kami nanti, kamu sudah memiliki seseorang yang dapat kamu percaya menjagamu. Jangan dipotong!” sergah Brian melihat ekspresi Lyla yang mau mengelak lagi. “Tidak semua laki-laki buruk seperti pandanganmu. Itu yang selalu ingin saya sampaikan sejak dulu. Ada satu cinta sejati menunggumu, yang tidak memanipulasi dan tidak memperbudak seseorang karena mencintai. Perasaan itu membuahkan kebahagiaan, Lyla, dan yang ingin dilakukannya adalah memberi daripada menerima, tidak memperhitungkan untung dan rugi dan tidak mengenal penaklukan. Berilah sedikit ruang sehingga dia mudah datang.” Brian menatap istrinya yang tersenyum haru dari balik tirai di belakang Lyla dan mengangkat jempolnya. Lyla hanya terhenyak tanpa suara.

Di sinilah Lyla sekarang, termenung mengingat semua itu. Kemarin Kak Dinar meneleponnya dan menyampaikan bahwa mereka akan pulang bulan depan setelah menyelesaikan semua administrasi kampus. Lyla sekarang punya keponakan berumur 3 tahunan yang belum pernah bertemu dengan kakek neneknya.
Lyla banyak berpikir sekarang. Setelah wisuda tahun lalu dan sekarang bekerja sebagai penyiar salah satu stasiun TV, Lyla masih juga ragu. Minggu depan Mira, sahabatnya sejak kuliah, akan menikah juga. Anak itu begitu antusias menyiapkan persiapan pernikahannya. Sesaat, ada kesepian merayap di sudut hati Lyla. Dia bahkan belum pernah merasa jatuh cinta dan dicintai. Atau dia yang menolak mengakuinya? Ayahnya dan ibunya sering terdengar membicarakan tentang dirinya tetapi merasa belum saatnya ikut campur dalam kehidupan pribadi Lyla. Prestasi kariernya cemerlang dan dia tampak sangat menikmatinya. Biarkan saja dulu, kata ayahnya untuk menenteramkan kemelut hati sang ibu yang mengkhawatirkan anaknya yang masih juga lajang dalam usia yang makin matang.
“Ada telepon untukmu, Lyla! Ada telepon untukmu, Lyla!” Dering ponselnya yang norak dan childish--kata Kak Dinar--itu membangunkan Lyla dari lamunannya. Di layar LCD tertulis nama Damar. Lyla tertegun berpikir apakah akan mengangkatnya atau tidak. Damar adalah musuh bebuyutannya yang tidak akan melewatkan waktu menelepon hanya sekedar bertengkar dengan Lyla. Tanpa sadar Lyla mengangkatnya dan menjawab dengan lesu.
“Halo!” sapanya pelan.
“Halo! Apa yang terjadi denganmu? Mana suara berangasan yang kukenal sejak lima tahun yang lalu? Kau sakit, yah?” Itu suara bariton Damar.
“Ada apa?” Lyla bertanya singkat. Suara di sana terdiam. Tampaknya Damar berpikir keras. Apa yang terjadi sekarang dengan gadis keras kepala ini? Damar mencintainya setengah mati dan sedikit pun hati Lyla tak tersentuh oleh apa pun perlakuan dan upaya Damar. Demi untuk mempertahankan Lyla agar tidak menghilang dari peredaran hidupnya dia rela membuat kegaduhan yang akan membuat Lyla murka dan akhirnya membuat perhitungan dengannya.
“Kalau tidak ada yang penting, saya tutup sekarang!” dan klik. Telepon terputus.
Damar mengenal Lyla ketika gadis itu menjadi mahasiswa baru di fakultasnya. Damar adalah seorang mahasiswa senior yang menjadi asisten dosen. Dia terpana pada keseluruhan kepribadian Lyla sejak pertama kali melihatnya dan akhirnya sadar itu adalah cinta pada pandangan pertama. Tetapi tak disangka, Lyla tak percaya pada cinta dan itu hanya membuahkan debat demi debat yang berkepanjangan di antara mereka.
“Apa kamu tak menyukaiku, Lyla?” tanya Damar suatu kali.
“Tentu saja aku menyukaimu. Kamu kan temanku juga, meski sering ngeselin. Hehehe,” Lyla menjawab kocak.
“Apa kau mencintaiku, Lyla? Aku ‘kan mencintaimu,” Damar berkata lagi sama kocaknya.
“Apa itu cinta? Apa kau tidak takut kalau aku memperalatmu karena kau mencintaiku? Aku akan menyuruhmu mengantarku ke mana-mana, memintamu untuk tidak melirik cewek lain dan mengambil apa pun yang kau punya.”
“Tidak mengapa. Aku mengizinkanmu mengambil semua milikku,” Damar menjawab yakin.
“Tetapi aku tidak mengizinkanmu mengambil hidupku!” tandas Lyla dan berlalu.
“Dia benar-benar mengerikan!” gumam Damar dan kembali berlari mengikuti Lyla.

Damar bukan tidak berusaha melupakan Lyla, tetapi tetap saja tak ada yang seperti Lyla di hatinya. Damar sudah berhenti menyampaikan perasaan cintanya pada Lyla tetapi perasaannya bertambah kuat dari hari ke hari. Jadi, tidak ada cara lain yang bisa Damar lakukan selain menjadi orang yang paling menyebalkan bagi Lyla. Setiap hari dia akan menelepon Lyla dan kalau tidak diangkat dia pasti akan singgah di rumah dan berakrab ria dengan orang tua Lyla. Dan ibu yang merindukan menantu itu akan melakukan apa saja untuk memanjakan Damar. Jika Damar tidak datang atau menelepon, Lyla akan dicecar pertanyaan oleh ibunya sehingga ia harus mencari jalan aman. Lebih baik melayani Damar di telepon daripada melihatnya terus-menerus muncul di rumah seperti anak kesayangan mama.
Sepulang dari mengajar di kampus, Damar meluncur ke rumah Lyla.
“Hei, mengapa kamu datang lagi kesini? Apa kamu tidak punya rumah sendiri?” semprot Lyla ketika dia baru memunculkan kepalanya dari balik pintu.
“Apa kamu sedang menantiku? Hah, bagus sekali! Kamu memang semestinya belajar dari sekarang,” Damar menjawab tidak peduli. “Ayo, Sayang, antarkan aku menemui calon mertuaku. Aku membawa sesuatu untuk mereka,” Damar melanjutkan sambil menarik tangan Lyla yang langsung dihempaskan.
Lyla memberengut masam apalagi ketika didengarnya Damar mulai berteriak memanggil ibunya dengan sebutan yang sama sepertinya, Mama. Kalau sudah begitu, Lyla akan kabur dari mereka dan tidak seorang pun yang dapat mengusiknya.
“Ibu, maafkan jika saya sering berbuat kurang sopan kepada Ibu hanya karena anak Ibu tidak pernah mengizinkanku untuk datang ke sini,” kata Damar menatap wajah Nyonya Merry setengah bercanda.
Orang tua itu balas menatap wajah Damar dengan serius.
“Apa kamu tidak lelah menunggu selama itu?” wajah tua itu menyelidik bertanya. Damar kaget dengan pertanyaan itu.
“Maksud Ibu?”
“Ini sudah bertahun-tahun sejak kamu mengejarnya. Meskipun ibu yakin bahwa tidak ada pemuda lain yang berani mendekatinya, tetapi tidakkah kamu merasa lelah tidak pernah dijawab? Sebagai seorang dosen muda yang tampan, bukankah di luar sana banyak yang lebih baik daripada anak ibu yang bebal itu?” jelasnya setengah putus asa.
Damar merasa lega dengan perkataan Nyonya Merry. Dia sadar, sudah ada jalan terbuka baginya. Dengan hormat dia menuntun lengan wanita paruh baya itu dan mengajaknya duduk. Dia lalu duduk di sampingnya.
“Saya lega karena tahu Ibu memberi restu,” katanya menenangkan hati oorang tua itu. “Saya bukan menutup pintu bagi orang lain, Bu. Anak ibulah yang sangat kejam memenjarakan hati saya hingga tak dapat pergi ke mana-mana,” lanjutnya setengah bercanda mengurai senyum dari orang tua itu. Damar memang sangat senang bergurau hingga kadang orang susah menafsirkan maksudnya.
“Beri saya sedikit waktu lagi untuk membuatnya mengerti bahwa saya sungguh-sungguh tulus mencintainya.”
“Tetapi sudah terlalu banyak waktu yang kamu buang untuk membuatnya mengerti. Apa kamu yakin masih mau memberi waktu lagi? Kamu boleh berhenti sekarang, Nak. Ibu sudah cukup berterima kasih atas upayamu selama ini.”
Damar terbahak miris. Dengan kasih diusap-usapnya punggung tangan wanita yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu. Ada kepedihan mengiris hati Damar. Benarkah hingga selama ini dirinya tak meninggalkan seberkas arti di hati Lyla yang benar bebal itu? Meski Damar yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak ada pria lain yang mengisi hati Lyla, tetapi apakah ada bedanya karena toh Lyla tak pernah peduli padanya? Dan orang tua yang mempunyai harapan yang sama tandusnya dengan dirinya ini pasti merasakan kesedihan yang sama.
“Ah, kenapa Lyla bukan jadi Ibu saja? Ibu benar-benar sangat mencintai saya!” sergah Damar mencairkan perasaan kelu yang hadir di antara mereka.
Wanita itu tertawa lepas dan memukul bahu Damar. Entah hanya perasaan Damar saja, tetapi sekilas dia sempat melihat bayangan Lyla bersandar di balik dinding. Senyum Damar melebar.
Lyla beringsut kembali ke dalam kamarnya. Kebingungan mewarnai raut wajahnya. Dia terkesan dengan kedekatan ibunya dengan Damar karena selama ini dia menarik diri untuk mengetahui apa pun tantang Damar. Dia tersentak mengetahui sisi Damar yang begitu kasih kepada ibunya. Sekian tahun dan Lyla hanya tahu tentang Damar yang urakan dan kekanakan. Di relung hati Lyla, ada kesepian berbaur kecemburuan karena memimpikan perasaan diayomi seperti itu. Tetapi perasaan itu kembali terbenam dalam kepercayaan diri Lyla yang sangat ekstrem. Hal satu ini mungkin terbentuk dari lingkungan kerja Lyla yang menuntut etos kerja dan profesionalisme tinggi sehingga perasaan-perasaan pribadi sering dikesampingkan hingga terbiasa dan menjadi tawar.

Lyla serta-merta teringat akan pernikahan Mira beberapa hari lagi dan sadar belum menyiapkan apa pun untuk hadiah pernikahan sahabatnya itu. Lyla bingung hendak memberikan apa karena seumur hidup tidak pernah menghadiri pernikahan siapa pun selain pernikahan kakaknya dan waktu itu Lyla juga tidak memberikan apa pun. Ayahnya masih merupakan teman sharing Lyla yang cocok tetapi ia sedang keluar kota. Dan ibunya? Mengajak ibunya sama saja dengan memberi tahu Damar bahwa dia butuh seseorang untuk mendampinginya dan dengan satu alasan saja Damar akan melamarnya besok. Astaga! Kengerian menghantam kepala Lyla dan tanpa sadar dia menggeleng kuat-kuat. “Baiklah, besok saja saya mencarinya,” pikirnya tak berdaya. Dihempaskannya tubuhnya ke atas bed dan mencoba tidur.
Sayup-sayup didengarnya suara denting gitar. “Papa datang akhirnya. Makhluk tua yang jelek itu akhirnya ingat juga kepada putri tercintanya,”pikirnya menggerutu tetapi dengan wajah sumringah. Dia berlari keluar sampai ke kebun belakang, tempat ayahnya biasa beristirahat dan menyerbu tergesa ayahnya yang sedang duduk memunggungi pintu. Lyla melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher pria itu, selalu, seperti kebiasaannya sejak kecil.
“Papa Lyla!” sapanya mengeratkan pelukannya. Lalu tiba-tiba dia sadar. Mula-mula dilonggarkannya lingkar lengannya dan seketika melepaskannya. Langkahnya terjajar beberapa langkah ke belakang. Kekagetannya bertambah setelah pria yang disangkanya ayahnya itu berbalik menatapnya. Itu Damar. Itu bukan Papa. Jantung Lyla seperti berhenti berdetak ditatap dalam jarak sedekat itu. Lyla merasakan tangannya gemetar, dan air matanya serasa mau tumpah tanpa alasan. Ingin dibawanya kakinya melangkah tetapi entah apa yang menahannya. Ketika kesadarannya pulih dia segera ingin berbalik lalu berlalu pergi.
“Jangan berlari lagi, Lyla! Aku mohon!” sergah Damar dalam wajah memelas. Sekejap yang lalu dia merasakan betapa hangat napas Lyla menyapu ujung kupingnya dan dadanya serasa mau meledak. Hatinya seperti dihempaskan jatuh ke dasar bumi ketika Lyla melepaskannya dan Damar tidak mampu menanggungnya. “Sekali ini saja, tolong lihat aku!” pinta Damar. “Beri sedikit kesempatan bagiku untuk menunjukkan bahwa cinta yang saya berikan kepadamu ini berharga. Tidak memanipulasi dan bukan untuk menjeratmu. Bila kau memberikan sedikit kepercayaan, kau akan bahagia di dalamnya. Tolonglah aku, Lyla!”
Lyla termangu kebingungan. Dia berharap dapat segera berlalu dan menyembunyikan rasa malu dan entah rasa apa lagi yang tiba-tiba membelenggunya. Mata Damar berbicara lebih banyak daripada segala yang ingin dia ungkapkan. Dan Lyla melihat itu. Dia terkesima sekaligus terpesona bahwa hal seperti itu bukan hanya ada dalam drama, ketika para aktor berakting untuk menunjukkan betapa dalam perasaan cinta mereka kepada kekasihnya. Yang terjadi di hadapannya sekarang adalah nyata. Dia sadar Damar bukan aktor dan tidak sedang berusaha menampilkan akting terbaik supaya penikmat drama tergila-gila kepada mereka. Dia sadar sampai ke dalam jiwanya bahwa Damar serius! Jadi sekarang logikanya dapat menerima bahwa Damar sungguh-sungguh mencintainya. Itu benar! Tetapi tunggu dulu, bagaimana dengan perasaan saya sendiri? Bagaimana caranya memiliki lalu menunjukkan cinta seperti itu? Apakah itu tidak akan membuatku kehilangan diri saya sendiri?
“Berhenti melakukan itu, sayang!” Potong Damar lembut sambil tersenyum kecil. Dia beranjak mendekati Lyla.
“Apa?”
“Melakukan hitung-hitungan tak berguna dalam kepalamu yang kecil mengenai untung rugi mencintai seseorang,” ujarnya tulus sambil meraih tangan Lyla. Gadis itu terperangah kaget mengetahui bahwa Damar mampu membaca pikirannya.
Sebelum dia sempat berkata apa-apa Damar berkata lagi, ”Jangan memaksakan diri. Saya hanya meminta sedikit waktu dan ketika hatimu menolak kehadiranku, kita berdua akan segera tahu.”
Damar tahu bahwa Lyla ahli dalam hal teori komunikasi tetapi buta sama sekali dalam berhubungan karena prinsip bodoh yang memenjarakannya selama ini. Lembut sekali Damar membawa bibirnya untuk menyentuh ujung jemari Lyla. Dia sedikit takut Lyla akan menarik diri dan menutup kembali pintu yang sudah mulai terkuak.
“Nah, Tuan Putri, pertama-tama, izinkan saya mengantarmu untuk mencari kado pernikahan untuk sahabatmu. Eits, tidak boleh marah! Om Bram mendelegasikan tugasnya kepada saya karena beliau batal pulang hari ini,” Damar tersenyum melihat Lyla cemberut.
“Kamu tidak berpikir akan segera melamarku besok, bukan?” Lyla bertanya ketakutan. Wajahnya benar-benar menunjukkan kepolosan yang amat lucu dan memikat hati Damar.
“Siapa yang berani? Atau kamu sebenarnya bermaksud supaya saya segera melamarmu besok?” Damar terbahak menghindari cubitan Lyla. Mereka berkejaran di dalam kebun yang luas itu.
Sesosok wajah tua beringsut dari pintu dan mengusap air yang mengalir di pipinya. Terharu dan lega sekaligus. Dengan penuh semangat dia mulai mempersiapkan hidangan makan malam.
***


dari buku Sandal Jepit John Dalton: Kumpulan Cerpen 2019 #2 halaman 66-76

Mawar

Cerpen oleh Pamula Trisna Suri
Mawar Cerpen oleh Pamula Trisna Suri
Photo by Rodolfo Clix from Pexels

Aku punya sahabat perempuan dengan usia hampir 40 tahun dan belum menikah. Hari-hari dijalani dengan senang, riang, dan selalu menjaga amalan-amalan baik disertai dengan puasa sunah beserta salat sunahnya. Sebut saja namanya Mawar, dia adalah seorang pegawai honor di kantor camat tempat dia tinggal.
Teman-teman di kantornya selalu saja menggodanya karena statusnya yang masih saja single. Pertanyaan kapan nikahmana undangan, atau kadang celaan perawan tua sudah jadi makanannya sehari-hari sampai hatinya kebal menerima ucapan itu.
Suatu hari, ketika dia duduk-duduk di depan kantor, dia melihat seorang wanita melintas dengan menggendong anak yang masih bayi dan menggandeng anak yang masih berumur kurang lebih 3 tahun.
“Selamat siang, Bu! Mau ke mana panas-panas gini?” sapa Mawar.
“Siang, Mbak Mawar. Wah, Mbak Mawar awet muda, ya, padahal kita seumuran, lo,” jawab Bu Rita, wanita yang disapa oleh Mawar.
“Aaah, Bu Rita bisa aja, saya gak punya receh lo Bu. Hehehe!”
“Mau ke warung depan, Mbak, beras di rumah habis. Minyak goreng, gula, dan bumbu dapur lainnya juga pas habis.”
“Kasihan bayinya diajak panas-panasan gini, jalan kaki lagi. Emang bapaknya ke mana, Bu, kok gak nganterin?”
“Bapaknya masih tidur, tadi malam begadang nonton piala dunia dengan teman-temannya di poskampling,” jawab Bu Rita setengah menahan kesal.
“Eh, maaf, Bu, bapak-bapak memang suka nonton bola, ya?” dengan nada menyesal Mawar menanggapi.
“Iya, tapi seharusnya ingat juga dia punya keluarga. Ini tiap malam begadang. Gak ada piala dunia juga suka banget ngobrol dengan teman-teman yang lain sampai pagi. Kalau diingatkan, dibilang sukanya ngatur-ngatur. Serba salah jadi istri, Mbak.”
“Mbak Mawar besok yang selektif pilih suaminya. Semoga dapat suami yang mengerti dan punya rasa kasihan. Pekerjaan rumah gak selesai-selesai, Mbak, apalagi udah ada anak, repot. Kalau suami gak mau bantu dan gak kasihan lihat kita, ya jadi kayak saya ini. Menua sebelum waktunya,” Bu Rita kali ini berkata sambil tertawa. “Kok kayakya malah lebih enak pas masih single gitu!” imbuhnya.
“Doakan, ya, Bu, biar dimudahkan jalan saya bertemu jodoh.”
“Amin, ya udah, Mbak, saya mau ke warung dulu, ya,” ucap Bu Rita sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Iya, Bu, hati-hati ya!”
Pikiran Mawar melayang membayangkan kehidupan rumah tangga Bu Rita.
***

Pulang kerja Mawar mampir ke toko kelontong untuk membeli sesuatu. Di sana dia berjumpa dengan Bu Retno. Bu Retno ini salah satu warga yang merantau ke ibu kota tetapi suaminya tinggal di kampung ini. Bahasa gaulnya mereka LDR-an.
“Bu Retno apa kabar? Lagi pulang liburan, ya, Bu? Kapan sampai sini?” Mawar bertanya dengan semangat.
“Eh, Mbak Mawar, makin cantik saja, Mbak. Tapi sayang belum ada yang punya, ya?” ledek Bu Retno.
“Hee, iya, Bu. Mana tahu di ibu kota ada yang cocok untuk saya bolehlah, Bu,” canda Mawar.
“Halah, gak usah cari di ibu kota! Susah hidup di sana, macet, polusi, jalannya muter-muter. Enak lagi di sini, Mbak. Walaupun kampung tapi aman dan nyaman,” kata Bu Retno.
“Kalau enak di sini kok Bu Retno jauh-jauh kerja di sana? Udah bertahun-tahun lagi, artinya betah, kan, Bu?” goda Mawar.
“Yah ... namanya juga hidup, Mbak! Perjuangan. Saya mengajukan pindah ke sini belum bisa, Mbak. Birokrasinya rumit. Rezeki saya mungkin di sana, Mbak, tapi harus jauh-jauhan dengan suami. Suami pun gak bisa kalau saya ajak ke ibu kota. Kerjaan yang di sini gak bisa ditinggalkan. Jadi ya begini, Mbak, ketemunya cuma pas libur,“ terang Bu Retno.
“Oh, gitu, ya? Semoga bisa segera pindah ke sini, ya, Bu!” jawab Mawar dengan penuh harap.
“Iya, makasih, ya, Mbak. Semoga Mbak Mawar juga dimudahkan jodohnya, ya!” ucap Bu Retno.
“Amin, makasih, Bu. Saya duluan ya?” jawabnya sambil pergi meninggalkan Bu Retno.
Dalam perjalanan pulang Mawar kembali membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga Bu Retno.
***

Sampai rumah ternyata ada tamu.
“Waaah, Mbak Nita! Apa kabar, Mbak? Lama banget gak pernah ke sini?” ucap Mawar sambil bersalaman dengan Nita sepupu Mawar dari Bapak. Bapak Nita sudah meninggal.
“Alhamdulillah baik, Mawar. Ini kenalin, anak Mbak, namanya Aisya!” jawab Nita sambil mengarahkan tangan anaknya untuk bersalaman.
“Wah, cantiknya. Kalah cantik mamanya!” canda Mawar sambil mencubit pipi Aisya.
“Mirip banget sama Mas Yuda, ya, Mbak? Eh, Mas Yuda kok gak ikutan?” tanya Mawar.
Seketika senyum Nita hilang, mukanya memerah, dia menunduk sambil mengusap mata dengan jari-jari tangannya. Mawar langsung duduk di samping Nita dan mendekap bahunya.
“Mbak, kenapa?” tanya Mawar hati-hati sambil mengelus punggung Nita.
“Mbak udah bercerai, Mawar. Mas Yuda ternyata biseksual,” tangis Mbak Nita pecah.
“Astagfirullahaladzim!” hanya kalimat itu yang mampu Mawar ucapkan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Mbak sudah mencoba bertahan selama dua tahun, berharap Mas Yuda bisa berubah, tapi sepertinya memang ini jalan takdir yang harus Mbak jalani, Mawar,” ucap Nita sambil menghapus air matanya.
“Sabar, ya, Mbak! Semoga memang ini jalan yang terbaik untuk Mbak!” dada Mawar ikut sesak mendengar kisah Nita.
“Iya, Mawar. Mbak ke sini minta nasihat dari Bapak, setelah mendengar nasihat Bapak, Mbak merasa lega. Mbak mencoba sabar menjalani yang sudah Allah gariskan. Menyandang status janda dengan satu anak bagi Mbak gak mudah, apalagi Mbak gak bekerja,” Nita masih terisak sambil mengelus kepala Aisya.
“Iya, Mbak. Semoga Mbak dan Aisya baik-baik aja, ya, Mbak! Insya Allah kami selalu ada untuk Mbak,” kata Mawar penuh iba.
Pikiran Mawar menerawang jauh sekali, kabar yang baru saja dia dengar membuat dia syok.
***

Mawar merebahkan badannya setelah selesai salat Isya dan menyelesaikan “one day one juz”-nya untuk hari ini.
Terdengar bunyi panggilan dari handphone-nya, tertera nama Dika. Dika adalah sahabat karibnya, mereka bersahabat sejak kecil. Dika sudah mempunyai istri dan kini mereka tinggal di ibu kota kabupaten.
“Assalamualaikum, Dika, tumben malem-malem telepon?” kata Mawar setelah memencet tombol hijau.
“Waalaikumsallam! Wuidih ... semangat banget angkat teleponnya. Lagi ngapain kamu?” jawab Dika.
“Lama gak ada kabar, sih, sombong euy. Tunggu! Kamu pasti mau curhat, kebiasaan ah ... Teleponnya kalo butuh doang!” jawab Mawar ketus.
Tidak ada jawaban dari Dika.
“Dika!” panggil Mawar.
“Eh, iya, sorry tadi headset-nya lepas,” Dika cari alasan, padahal dia sedang mengatur napasnya.
“Kenapa kamu? Lagi bertengkar sama Rika, ya?” tanya Mawar. Mawar hafal sekali tabiat sahabatnya, jika ada masalah pasti ketahuan dari gelagatnya.
“Hmmm, gimana, ya? Gak ribut sih cuma ...,” Dika ragu mau melanjutkan percakapannya. Dia ragu bercerita soal ini ke Mawar.
“Cuma apa? Udah deh, cerita aja, biar lega. Aku pendengar yang baik, kok,” rayu Mawar.
“Sudah 10 tahun menikah, aku dan Rika belum juga dikaruniai anak,” jawab Dika lemas. Mawar gak menyangka kalau dia akan bahas ini, dulu pernah dibahas dan mereka akan bersabar karena sudah berobat. Terapi dan semuanya pernah mereka jalani. Mawar tahu banget perjuangan mereka untuk mendapatkan anak.
“Sabar, Dik! Mungkin Tuhan emang belum ngasih. Jangan putus asa. Kalian sudah berjuang, tinggal berdoa dan berserah,” kata Mawar. Ini juga kalimat sakti yang ditanamkan dalam hatinya saat menantikan jodoh.
“Kemarin kami ke dokter lagi. Dokter bilang Rika udah gak mungkin bisa punya anak. Rahimnya sudah diangkat. Dia terkena kanker Rahim.” Jawaban dari Dika membuat Mawar kaget sampai handphone-nya lepas dari tangannya.
“Astagfirullah! Innalilahi, Dika! Kenapa kamu gak cerita? Sekarang Rika gimana? Kalian di mana?” Mawar panik mendengar berita itu, sahabatnya sedang susah tapi dia tidak tahu. Itu menyakitkan sekali.
“Sekarang kami di rumah sakit. Rika baik-baik aja. Lusa kami sudah boleh pulang.” suara Dika sudah mulai terkontrol.
“Besok aku ke sana. SMS alamat dan kamarnya, ya! Kamu yang sabar! Aku tahu kamu, kamu pasti kuat!” bujuk Mawar.
“Rika mengizinkan aku menikah lagi,” suara Dika terdengar pelan.
“Apa?” Mawar melotot mendengar ucapan Dika, dia berkata setengah berteriak.
“Rika menyuruhku untuk menikah agar aku punya keturunan. Aku gak tahu harus gimana. Dia pengen banget punya anak. Dan aku diminta untuk menikah lagi agar dia bisa merasakan menjadi seorang ibu,” terang Dika masih dengan suara parau.
Mawar tidak bisa berkata apa-apa. Tidak mungkin Dika menikah lagi, Mawar tahu betapa besar cinta mereka, perjuangan mereka.
Sehari ini Mawar mendapatkan begitu banyak pelajaran. Kesendiriannya bukan hal yang buruk, pasti ini sudah skenario Allah. Dia yakin, suatu saat jika sudah waktunya, dia pun akan menikah dengan seseorang.
Ayat-ayat Allah yang selalu jadi pedomannya dia lantunkan berkali-kali menjelang tidurnya.
“Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan dari Rabbnya kepadanya. Demikian pula orang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan: Kami tiada membeda-bedakan seorang rasul pun di antara rasul-rasul-Nya. Dan pula mereka mengatakan: Kami mendengar dan kami taat. Mereka berdoa: Ampunilah kami ya, Rabb kami. Kepada Engkaulah tempat kembali.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa: Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau salah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kami apa-apa yang tak sanggup kami pikul. Berilah kami maaf, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami atas kaum yang kafir.”*
Mawar segera tidur agar besok pagi-pagi bisa menemui Dika dan Rika di ibu kota kabupaten. Berharap ada jalan terbaik untuk sahabatnya
***

Malam itu, terakhir kali aku menyebutnya sebagai sahabat. Aku adalah Dika.
***


dari buku Sandal Jepit John Dalton: Kumpulan Cerpen 2019 #2 halaman 27-33

Kumbang Merindu Seroja

Cerpen oleh Dety Anugrah Fajarwati
Kumbang Merindu Seroja cerpen Dety Anugrah Fajarwati
Photo by Apostolos Vamvouras from Pexels

Kubasuh wajah di penghujung malam, dalam sujudku berserah diri. Hanya Dialah yang mampu mendengar rintihan kalbu. Kewajiban baru menanti tetapi tugas lama tak kunjung usai. Kehendak absurdku sesekali terlintas dalam benak. Andai dapat menyelesaikan segalanya dalam satu waktu. Meskipun tanggung jawab sebagai abdi negara sangat penting dan tak dapat kutolak, tanggung jawab dan rasa kemanusiaan menahanku untuk tidak mengabaikan seorang siswa yang bernama Deden Tuyasa. Ia termasuk salah satu siswa yang sering melakukan sesi konseling denganku. Sepanjang sesi konseling ia selalu menunjukkan sikap acuh tak acuh. Deden menunjukkan diri sebagai pribadi yang tertutup, kurang toleran, dan sering kali membuat kesal guru-guru yang mengajarnya sehingga ia dijuluki Deden si biang kerok. Padahal, ia termasuk siswa yang cerdas, sosok yang kuyakini memiliki potensi dan peluang besar untuk mewujudkan mimpi-mimpinya jika ia mau membuka diri dan menghancurkan dinding yang membatasi dirinya dengan dunia luar.
Sejak sesi konseling terakhir kali dengan Deden, tidak ada kabar buruk lagi tentangnya. Namun, sejak dua hari yang lalu ia tak terlihat di sekolah hingga seorang temannya datang menemuiku dan bercerita. Ia sempat membaca tulisan dalam akun pribadi Deden yang bernada kesedihan, putus asa, dan permintaan maaf yang ditujukan kepada teman-temannya. Seketika rasa gundahku menyeruak dalam diri. Cemas dengan sikap impulsifnya. Kucoba menghubungi ibu Deden, seorang ibu yang berjuang seorang diri menghidupi kedua anaknya. Kudapati ibu Deden yang sedang menangis tersedu-sedu. Ia tak habis-habisnya menyalahkan diri. Di tengah kepanikan itu, aku tak mungkin menunjukkan perilaku yang sama dengan ibu Deden. Aku pun berusaha untuk tetap terlihat tenang. Kubantu ibu Deden berdiri dan mencoba menenangkannya.
“Kapan terakhir kali Ibu berkomunikasi dengan Deden?” tanyaku setelah melihat ibu Deden agak tenang.
“Kemarin, ia tidak banyak bicara di telepon, hanya bilang bahwa ia sedang bosan dan kesepian di rumah. Lalu saya menyuruhnya untuk sabar menunggu kepulangan saya. Setelah itu tak ada kontak lagi sampai hari ini. Ia tidak ada di kamarnya. Kakaknya juga sedang berusaha mencarinya tetapi belum ada hasil,” ucapnya lirih.
Tak ingin berlama-lama setelah mendapat informasi dari ibu Deden, aku bergegas kembali ke sekolah mencari Asep dan Arya, teman dekatnya Deden, mencari tahu informasi terkini dari kedua sahabatnya.
“Bu, ini status terbaru Deden,” ucap Asep sambil menyodorkan telepon genggam miliknya.
Sebuah foto diposting sekitar lima menit yang lalu dengan caption berjudul “jurang waktu”. Sepasang sepatu dengan sudut pandang puncak-puncak pepohonan yang rimbun dengan bebatuan kapur melingkupinya. Seperti seseorang yang sedang selfi berdiri di tepi jurang.
“Ya Allah ... semoga tidak seperti yang kupikirkan,” harapku diselimuti kecemasan. “Ke mana pikiran positifku kali ini, mengapa kau tidak muncul?” kepanikan melandaku. “Seperti bukan diriku, perasaan apa ini? aku tak ingin seperti ini, Aisyah sadarlah! Ayo gunakan akal sehatmu!” gumamku dalam hati.
Aku pun terdiam sejenak berusaha berpikir jernih. Kemudian aku teringat catatan konseling miliknya. Catatan itu menunjukkan bahwa Deden adalah seorang pribadi yang menyukai kesunyian. Kulihat sekali lagi foto yang ia unggah di media sosial. “Ya, aku tahu tempat ini!” pekikku dalam hati.
“Asep, Arya ayo ikut ibu ke bukit belakang sekolah. Semoga belum terlambat!”
Asep dan Arya sesaat tampak bingung. Namun, pada akhirnya mereka menuruti keinginanku. Kami pun menuju puncak bukit belakang sekolah. Benar saja, lokasi itu sangat mirip dengan foto yang diunggah Deden. Tempat yang sunyi, tak ada sepatu atau ciri-ciri lain seperti yang terlihat di foto itu, hanya terdengar suara deru angin menyibak dedaunan. Tak kulihat jejak Deden di sana, sementara mentari mulai meredupkan sinarnya, parade senja mengiringi dengan sinar keemasannya. Kami pun berpencar berpacu dengan waktu berbekal harapan yang semakin menipis. Tak ayal kami pun harus menelan kekecewaan. Asep dan Arya merebahkan badan di bawah sebuah pohon, melepas penat sejenak. Ah, kenapa tidak kucoba menghubungi ponselnya sekali lagi? Pikirku sambil mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor kontak Deden. Sontak kami terkejut ketika mendengar suara ponsel berdering tak jauh dari tempat kami beristirahat. Kami pun segera mencari asal datangnya suara itu.
“Sep itu suara ponselmu?” tanya Arya.
“Bukan eh, ini sih seperti nada dering ponselnya Deden!” sahutnya sambil mengernyitkan dahi.
Tiba-tiba sesuatu jatuh dari atas pohon tempat kami berdiri menimpa Asep dan Arya yang tak sempat menghindar. Aku pun berteriak terkejut melihat Asep dan Arya jatuh terjerembab. Rupanya sesuatu yang menimpa mereka berdua bukan benda melainkan seseorang.
“Deden!” teriakku terkejut. “Apa yang sedang kamu lakukan di atas pohon itu? Kami mencarimu ke mana-mana? Apa yang terjadi dengan dirimu? Kenapa kamu bertindak konyol seperti ini?” tanyaku bertubi-tubi bersahut-sahutan dengan ritme suara jantungku yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aduh, berisik sekali sih! Ah, tulangku serasa remuk nih!” teriak Deden sambil meringis dan berusaha untuk bangkit.
“Deden! Cepat minggir, kau! Sakit tahu!” pekik Arya sementara Asep tak mampu lagi berkata-kata menahan sakit. Aku pun segera tersadar dan membantu mereka.
“Asep, kamu baik-baik saja, kan?” ucapku sambil mengipasinya dengan sehelai daun kering yang berserakan di sana karena hanya Asep yang terlihat kepayahan.
“Iya nggak apa-apa, Bu, cuma sedikit sesak saja. Sebentar juga hilang. Si Deden itu berat banget kayak sapi!” umpat Asep dengan nafas terengah-engah.
“Deden ayo jawab pertanyaan ibu tadi?”
“Memangnya kenapa? Aku hanya ingin sendiri,” ucap Deden datar sambil memalingkan wajahnya. Kemudian ia berdiri membersihkan baju dan tasnya yang tergeletak di tanah.
“Sebelumnya ini adalah tempat yang nyaman untuk menenangkan diri sampai tiba-tiba ada yang mengganggu dan membuatku jatuh,” ucap Deden tak ada raut penyesalan di wajahnya.
“Oh, jadi kamu pikir kami semua ini pengganggu? Kamu tahu tidak apa yang terjadi dengan keluargamu? Semua orang mengkhawatirkanmu!” emosiku mulai terpancing oleh sikapnya.
“Kami pikir kamu mau terjun ke jurang, Den. Kamu nggak lihat begitu khawatirnya Bu Dian sampai mengajak aku sama Arya mencarimu ke sini?” jelas Asep dengan nada kesal melihat Deden yang tenang-tenang saja.
“Siapa juga yang mau bunuh diri, aku hanya ingin sendiri, kok,” ucap Deden santai.
“Hmm ... ternyata orang yang kita khawatirkan malah enak-enakan tidur di atas pohon. Menyusahkan saja! Ayo, Bu, kita pulang saja!” ucap Arya ketus.
Melihat Asep dan Arya yang kesal kepadanya tiba-tiba sebuah senyuman tersungging di bibir Deden. Pemandangan yang langka bagiku, membuat wajah Deden terlihat begitu manis.
“Maafkan aku, ternyata banyak juga orang yang peduli padaku. Terima kasih semuanya. Bu Dian, sekarang aku izinkan Ibu pergi,” ucap Deden sambil menatap dalam kepadaku. Aku tidak begitu memahami apa yang diucapkannya. Heran dan bingung mendengar dirinya yang super cuek itu bisa mengatakan kata maaf.
“Apa maksudmu? Ya sudah ibu memaafkanmu kali ini, tapi besok kita perlu bicara, ya, Den!” pungkasku tak ingin berlama-lama karena hari semakin sore dan aku pun harus segera memberi kabar kepada ibu Deden. Hari yang cukup menguras tenaga dan perasaan, tapi semua itu terbayar sudah dengan mengetahui bahwa Deden baik-baik saja.
***

Semenjak kejadian itu Deden mulai menunjukkan perubahan perilaku yang berarti. Ia menjadi lebih tekun dan serius dalam belajar, tidak pernah berulah dan berperilaku tidak sopan kepada guru, pun dengan ibu dan kakaknya yang kini lebih banyak mencurahkan perhatian kepada Deden. Sungguh pemandangan yang indah di hari-hari terakhirku menjalankan tugas di SMA Bojong Nangka. Entah peristiwa mana yang menyadarkannya, hanya bisa bersyukur semoga seterusnya ia bisa mempertahankan sikap baiknya. Itulah kejadian yang mewarnai hari-hari terakhirku mengajar di SMA Bojong Nangka. Menjadi sesuatu yang berkesan untuk diingat.
Waktu berlalu, hari-hariku dipenuhi tugas dan orang-orang yang baru. SMA Bojong Nangka kini menjadi penghias mimpi yang kerap muncul dalam tidurku. Tiba saat merebahkan badan melepas penat di tempat tidur yang beralaskan seprai bercorak bunga sakura kesayanganku. Tidur di atasnya membuatku merasa benar-benar tidur di taman musim semi yang penuh dengan mekaran bunga sakura. Begitu nyaman, membuat mataku terpejam dan tenggelam dalam mimpi. Akankah kali ini aku memimpikannya? Batinku berbisik. Saat hampir terlelap, ponsel berdering membangunkanku. Kuraih ponsel itu, samar-samar kulihat sebuah pesan masuk. Itu dari Deden! Diriku terperanjat, rasa kantuk pun lenyap seketika. Kali pertama ia mengirim pesan singkat setelah sekian lama mengenalnya. Sedikit terkejut dengan isi pesannya, ia memberiku sebuah puisi. Tak pernah kukira ia mampu membuat puisi.

Kumbang Merindu Seroja
Kuntum seroja mekar di taman cinta
Cukup satu seroja untuk membuat hati merona
Seroja tiada serinya menanti mentari menyapanya
Berharap sang kumbang dilirik seroja
Kepakkan sayap-sayap lemah tanpa asa
Kumbang merindu lantunkan irama sendu
Menabur janji setia tanpa kata
Berharap seroja mencium harum cintanya
Kumbang yang telah tertambat hatinya
Memohon kepada Sang Maha Pencipta
Agar mampu terbang menjemput seroja
Menyalip mentari dengan hangat kasihnya

Sesaat kuterdiam, mencoba mengingat dan memahami setiap peristiwa yang kualami bersamanya. Mungkinkah kejadian Deden menghilang itu karena aku? Ia tak merelakanku pergi? Apakah perubahan sikapnya itu sebagai tanda ia mulai merelakanku pergi? “Hah ... Deden kamu itu sesuatu banget!” gumamku sambil menarik nafas panjang. Perlahan aku mulai memahami semua tindakannya. Sebegitu besar perhatiannya kepadaku. Tak berani menduga lebih dari itu meskipun aku menyadarinya ada perasaan lain yang tumbuh. Aku hanya bisa pasrah dan yakin pada rencana-Nya. Rencana yang pasti indah untuk setiap makhluknya. Semoga kumbang itu dapat mengepakkan sayapnya suatu hari nanti menjemput mimpi.
***


dari buku Sandal Jepit John Dalton: Kumpulan Cerpen 2019 #2 halaman 1-6

Dety Anugrah Fajarwati, guru SMP, anggota Komunitas Guru Menulis dari Bandung Barat, Jawa Barat


Lahir 8 Maret 1982 di Jakarta. Master Pendidikan dalam bidang Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (2013). Mengajar sebagai guru Bimbingan dan Konseling di SMPN 1 Batujajar sampai sekarang. Menjadi Instruktur Nasional dalam bidang Bimbingan dan Konseling (2016). Karya-karyanya: Antologi Aurora (2017), Menggapai Asa ke Negeri Tetangga (2017). Melacak Ponsel yang Hilang (2017).


Karya Bersama Komunitas Guru Menulis


Sandal Jepit John Dalton: Kumpulan Cerpen 2019 #2
Kumbang Merindu Seroja
Malaikat Cinta
Sandal Jepit John Dalton
Sekotak Bekal untuk Kakek

Pamula Trisna Suri, guru SMP, anggota Komunitas Guru Menulis dari Rokan Hulu, Riau


Guru SMP N 1 Rambah
Jln. Hang Tuah No 88 Koto Tinggi



Karya Bersama Komunitas Guru Menulis


Sandal Jepit John Dalton: Kumpulan Cerpen 2019 #2
Mawar
90 Hari Mencari Cinta
Nilai Halal

Minggu, 05 April 2020

Pekat yang Mendera

Cerpen oleh Rosyanti
Pekat yang Mendera cerpen oleh Rosyanti
Photo by Elizaveta Dushechkina from Pexels

Sepi, sendiri, laksana jarum. Ujungnya yang tajam menembus hingga kedalaman yang tak terperi. Menyisakan luka dan darah. Darah yang tak lagi berwarna merah, tapi lebih pekat, menghitam. Betapa sepi itu telah mendera batinnya.
Jam yang terpasang di dinding sudah menunjukkan pukul 14.00. Rasa kecewa mulai menggelayut dalam hati kecilnya. Namun, ia masih berusaha untuk tetap memelihara sedikit harapan, jika anak-anaknya akan datang menemuinya hari ini. Sudah tiga jam Ibu Nihla duduk terpaku di meja makan, sendiri, memandang hidangan yang telah ia siapkan seharian. Menu spesial yang ia masak, dengan sisa-sisa tenaga yang masih ia punya di usia 65 tahun, sedikit pun tak disentuhnya. Pepes ikan bolu, ayam masak lengkuas, bebek palekko, makanan favorit keluarganya masih terhidang di meja makan, utuh. Tak berkurang sedikit pun. Meski sedikit ragu apakah lidah anaknya masih setia dengan menu itu. Karena bisa jadi mereka lebih memilih humberger, hot dog, atau piza, setelah sekian lama hidup di kota besar.
Susah payah ia siapkan, subuh-subuh belanja ke pasar, memilih ikan bandeng yang masih segar, tidak berbau tanah. Tidak lupa dibelinya beberapa ekor ayam kampung yang akan dimasak dengan rajangan lengkuas dan santan yang kental. Ayam masak lengkuas wajib terhidang setiap ada momen istimewa dalam keluarganya. Bebek pun dibeli beberapa ekor untuk diolah menjadi bebek cincang masak palekko rasa pedas. Kalau tidak pedas, anak-anak biasanya akan protes.
Kue-kue kesukaan anak-anaknya telah ia siapkan sehari sebelumnya. Tidak banyak, hanya sikaporo dan barongko. Kue yang selalu dicari-cari setiap kali orang datang ke Pinrang. Kue-kue itu telah menjadi penghuni kulkas semalaman. Disantap saat kue itu masih dingin tentu akan menambah cita rasanya. Lebih lezat. Meski agak sangsi, jangan-jangan anaknya sekarang lebih suka kue muffin cokelat, cheese cake, atau tiramisu cake.
Sebenarnya ia bisa saja dengan mudah menggunakan jasa delivery. Tinggal buka aplikasi di Android, pesan di aplikasi Lajek online, menunggu beberapa jam, datanglah tukang ojek online mengantar pesanan. Seperti yang biasa dilakukan jika malas ke dapur. Tapi hari ini sengaja tak dilakukannya. Ia ingin memasak sendiri. Bahagia luar biasa setiap kali selesai menyantap menu yang dihidangkan, ludes tak bersisa. Ditambah pujian dari anak-anaknya.
“Mantap deh masakan Mama. Maknyus!” begitu biasanya Ima berucap setiap selesai makan, ditambah gaya seperti yang biasa dilakukan oleh host di TV.
“Masakan Mama, tuh, paling enak sedunia!” kata Raju anak lelaki satu-satunya.
“Mau tahu kenapa? karena Mama masaknya dengan cinta. Masak dengan hati. Makanya ndak bakalan ditemui di restoran mana pun di dunia ini, selezat dan senikmat masakan Mama.”
Ibu Nihla hanya tersenyum mendengar pujian anak-anaknya. Seolah seluruh lelah setelah seharian memasak, hilang seketika. Tak bersisa.
Walau dulu ia sibuk menjalani profesi sebagai wanita karier, ia selalu menyisihkan waktu memasak untuk anak-anaknya. Menyajikan makanan yang bergizi dan sehat. Bahkan menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah. Ia tidak ingin mereka kebanyakan jajan di warung yang belum tentu terjaga kesehatannya. Untungnya, anak- anaknya pun tidak pernah risih untuk bawa bekal meski kadang diledek oleh teman-temannya.
“Hmmm ... sudah pukul 16.00. Mereka belum juga datang,” gumam Ibu Nihla. Tampak ekspresi kecewa mulai terlihat di wajahnya, tapi tetap disembunyikannya dalam harapan yang masih tersisa.
“Mungkin jalanan macet. Bisa jadi mereka tiba nanti malam,” bisiknya pelan seraya meninggalkan meja makan. Meninggalkan hidangan yang tentu saja sudah dingin. Aroma sedapnya pun sudah tak menggugah selera.
Perlahan ia bangkit menuju ke kamarnya untuk menunaikan salat Asar. Tapi entah mengapa, tiba-tiba ada kerinduan untuk menengok kamar anak-anaknya satu per satu. Dibukanya perlahan-lahan kamar Raju, anak sulungnya.
“Ma, uang jajan buat besok dilebihin dikit, ya, Ma!” pinta Raju sambil memeluk mamanya dengan manja.
“Untuk apa, Sayang?” tanya Bu Nihla lembut.
“Temanku, Ma, bapaknya meninggal. Aku dan teman-teman mau ikut nyumbang, Ma. Boleh, kan?” pintanya dengan nada mengiba.
“Apa sih yang tidak buat anak mama yang baik hati ini?” jawab mamanya dengan senyum haru. Didekatinya anaknya, diusap-usap kepalanya. Ada rasa bangga dan bahagia yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Betapa tidak, anak sekecil itu sudah bisa berempati dengan kondisi orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Sudah, sekarang kamu tidur, ya! Jangan lupa berdoa!”
Ibu Nihla menutup kamar, melangkah ke kamar yang ada di samping, tempat anak bungsunya, Ima. Dibukanya perlahan, khawatir mengganggu anaknya.
“Eh, Mama. Masuk, Ma!” ucap Ima begitu melihat mamanya.
“Lagi apa, Sayang, kok belum tidur?”
“Belum, Ma. Ini, masih menyelesaikan PR,” sahutnya. “Ma, maafin Ima, ya, karena tidak bilang ke Mama dulu. Tapi Mama jangan marah, ya!” kata Ima dengan nada ragu.
“Ada apa, Sayang?” tanya mamanya penasaran.
“Anu, Ma. Itu pakaian Ima di lemari yang sudah ndak kepake kemarin saya kumpulin semuanya,” katanya terbata-bata.
“Untuk apa?”
“Itu, lo, Ma. Ima sama teman-teman mau ikut nyumbang pakaian ke Palu. Korban gempa dan tsunami tempo hari. Kasihan ya, Ma. Mereka sekarang tidak punya tempat tinggal, tidak punya makanan, pakaian. Boleh kan, Ma, pakaian Ima disumbangkan juga buat mereka?”
Bu Nihla tidak menjawab. Direngkuhnya anaknya dalam pelukan, seraya berbisik, “Mama bangga sama kamu, Nak.”
Ibu Nihla menghela napas panjang. Dialog itu sudah lama terjadi. Puluhan tahun yang lalu, saat anak-anaknya masih sekolah di SD. Kamar itu memunculkan kembali kerinduan yang tidak pernah pupus. Rindu dengan celoteh anak-anaknya. Rindu dengan pertengkaran kecil yang sering mereka lakukan, meski hanya sepele. Rindu. Ya ... kerinduan yang semakin menyiksanya kini. Sendiri menjalani hidup di usia yang semakin menua. Satu per satu anaknya meninggalkan rumah, menjalani hidup dengan dunia mereka. Berkeluarga dan berkarier. Tidak ada yang disesali. Karena memang seperti itulah layaknya sebuah kehidupan. Seperti ia dan kakak- kakaknya juga dulu meninggalkan rumah orang tuanya, mengikuti suami, jauh dari rumah. Kini, barulah Ibu Nihla menyadari betapa pedihnya merindu. Barulah ia paham, mengapa ibunya selalu memintanya untuk pulang meski hanya sesaat. Mengapa ibunya selalu meneleponnya walau hanya sekadar menanyakan masakan apa yang ia masak hari itu. Dulu, ia belum menyadari sepenuhnya. Yang ada malah terkadang muncul rasa jengkel, saat ibunya tak henti menelepon saat ia sibuk di kantor.
“Ibu, maafkan aku!” bisiknya perlahan dengan mata berkaca kaca.
Andai apa yang ia rasakan saat ini, ada dalam hati dan pikirannya dulu, saat bapak dan ibunya masih hidup, tak akan ia biarkan ibunya sendiri menghabiskan masa tuanya. Tak akan ia biarkan ibunya selalu menyimpan rindu berlama-lama karena tak berkunjung. Rasa penyesalan mulai menggelayut dalam sanubarinya. Penyesalan yang tidak akan pernah ia bisa tebus, sebab kedua orang tuanya telah lama menghadap Sang Pencipta. Ibu, yang telah mempertaruhkan nyawa melahirkan empat orang anak, tetapi saat meninggal, tak seorang pun anaknya yang sempat menemaninya. Sendiri saat berjuang menghadapi sakratulmaut. Tak ada satu pun anaknya yang menuntunnya membacakan talkin. Tragis.
Kini, ia pun baru tahu, mengapa ibunya tidak ingin tinggal bersama anak-anaknya. Bukan sekali dua kali ibunya diajak untuk tinggal bersama mereka. Tapi selalu ditolak.
“Biarlah ibu di sini saja. Ibu tidak ingin meninggalkan rumah ini. Sebab rumah ini penuh kenangan. Di sinilah nyawa ibu,” demikian alasan yang selalu diucapkan setiap kali tawaran itu disampaikan. Dan alasan seperti itu pulalah yang selalu ia utarakan ke putra-putrinya, setiap kali mereka mengajaknya pindah untuk tinggal bersama.
“Tidak. Biarlah mama di sini. Tak mungkin kutinggalkan Bapakmu sendiri.”
“Ma, Bapak kan sudah tidak bersama kita lagi. Mama nanti sendiri,” ucap Wandi mencoba meyakinkan mamanya untuk ikut salah satu dari mereka.
“Tidak. Mama tidak sendiri. Bapak masih di sini, menemani Mama setiap saat,” ucap wanita itu seraya menepuk lembut dadanya.
Sejak itu, pahamlah anak-anaknya. Mengajak mamanya pindah, meninggalkan rumah, adalah usaha yang akan berujung pada penolakan.
***

Malam semakin gulita, nyaris tak menyisakan setitik cahaya. Pekat. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia mencoba bangkit menuju kamar tidurnya. Membentangkan sajadah, menumpahkan seluruh gundah yang ia rasakan saat itu. Allahlah tempat yang paling tepat untuk mengadu. Hanya Dialah yang mampu merasakan kesedihan dan kepedihan hatinya. Air matanya mengucur deras. Tak ia hapus. Membiarkannya mengalir, berharap mengalirkan sebagian dukanya.
Ditatapnya ranjang yang berseprai putih bersih, yang sudah sekian tahun ditempatinya sendiri menghabiskan waktu.
“Pak, andai saat ini kamu masih ada, aku pasti akan kuat. Menjalani sisa-sisa waktu kita berdua,” rintihnya pelan. “Anak-anak kita sudah dewasa, Pak. Mereka sibuk dengan keluarganya, dengan kerjanya. Ibu di sini sendiri. Kadang ibu takut. Takut kematian tiba- tiba menjemputku saat sendiri. Tapi ibu tidak menyesali apa pun. Tidak menyesali anak-anak yang meninggalkan rumah ini, meninggalkan ibu. Ibu tidak kecewa dengan mereka. Anak kita anak yang baik.”
Dihabiskannya malam itu di atas sajadah. Bergelut dengan doa dan pengharapannya kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Perlahan tapi pasti, malam beranjak menjemput pagi. Tetesan-tetesan embun bak permata, jatuh dari ujung dedaunan. Indah menawan. Namun, tidak bagi Ibu Nihla.
Diaktifkannya handphone yang sejak semalam ia matikan. Facebook aplikasi pertama yang ia buka. Dibacanya satu per satu postingan yang muncul di berandanya. Mulai resep makanan tradisional hingga modern. Ada tausiah-tausiah dari beberapa ustaz yang selalu memberi pencerahan. Satu per satu dibacanya. Video dakwah pun tak lupa ia tonton. Yang paling membahagiakan hatinya saat bisa melihat foto Raju dan Ima bersama anak-anaknya. Dibuka satu-satu postingan foto mereka, ditatapnya lama-lama. Kadang senyum sendiri melihat gaya cucu-cucunya yang kadang nyeleneh. Namun, pagi itu, ia sedikit kecewa karena tidak ditemukannya postingan foto dan kegiatan terbaru mereka. Ingin ditutupnya Facebook, hingga matanya terpaku pada satu postingan berita, “Semalam terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Poros Pare. Sebuah mobil Avanza putih melaju dengan kecepatan tinggi, menabrak tiang listrik. Kondisi penumpangnya kritis.”
Penasaran dengan berita itu, Ibu Nihla mencoba membuka WhatsApp, biasanya kalau ada berita viral, berita itu akan lebih mudah didapat dari info teman-teman di grup. Benar juga, malah di beberapa grupnya sudah tersebar foto kendaraan yang mengalami kecelakaan itu dalam kondisi rusak parah.
Entah mengapa, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Tidak seperti biasanya. Tiba-tiba handphone yang sedari tadi dipegangnya berdering.
“Asalamu alaikum!” seseorang menyapanya entah siapa. Belum sempat ia menjawab, yang berada di ujung telepon melanjutkan ucapannya. “Benar dengan Ibu Nihla?”
“Iya benar. Maaf dengan siapa saya bicara?” jawabnya terbata-bata.
“Maaf, Bu. Kami dari kepolisian Polres Pare-Pare mengabarkan kalau anak Ibu sekarang ada di Rumah Sakit Umum dalam kondisi kritis. Semalam mobil yang ditumpangi saudara Raju dan Ima mengalami kecelakaan saat menuju ke Pinrang.”
Tak sanggup ia mendengar kabar itu lebih panjang. Dicobanya bertahan, mengendalikan guncangan hebat yang dirasanya. Bertumpu pada meja yang ada di depannya, ia mencoba mengumpulkan kekuatan yang sesaat tadi seolah lenyap tak bersisa. Mencoba mengatur napasnya yang mulai sesak. Ia harus kuat menerima segala kemungkinan terburuk.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!” ucapnya lirih, berusaha menyadarkan dirinya sendiri, jika semua makhluk asalnya dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Perlahan, dengan langkah gontai diambilnya air wudu, dihamparkannya sajadah, kemudian salatlah ia dua rakaat. Memohon kekuatan kepada Rabb pemilik kehidupan yang di tangan-Nyalah tergenggam segala takdir manusia. Dipintanya agar diberi ketegaran untuk menghadapi semua takdir yang berlaku atasnya, atas nasib anak-anaknya. Tak tahan, air matanya tumpah membasahi mukena putih yang ia kenakan. Menangis dan air mata bukanlah tanda bahwa ia lemah. Bahwa ia menolak kehendak Yang Kuasa. Bukan. Menangis karena memang ia butuh menangis, yang menandakan bahwa ia adalah manusia biasa, bahwa ia seorang wanita yang mencoba selalu tegar walau sesungguhnya hatinya mulai rapuh.
***

Harapan Ibu Nihla akan kedatangan anak-anaknya, nyatanya memang terwujud. Yah, Raju dan Ima buah hatinya kini telah hadir di rumahnya kembali, setelah lima tahun tak pernah mengunjunginya. Lima tahun ia pendam kerinduan yang teramat sangat. Rindu yang menyadarkan dirinya, betapa merindu itu menyisakan perih, juga pengharapan. Setiap terbit mentari, bersama munculnya rembulan, dibangunnya sebuah mimpi yang menjadikannya tetap kuat. Mimpi berkumpul kembali dengan anak-anaknya. Kedua anaknya kini telah hadir kembali, namun tak bisa ia rasakan pelukan hangatnya, tak bisa dengarkan canda dan tawanya, sebab kepulangan keduanya dalam sosok jenazah terbujur kaku, yang terbalut kain kafan. Pengharapan agar kedua anaknya hari itu datang menemuinya benar adanya. Meski kepulangannya kali ini bukanlah hal yang diinginkan.
***
Sepekan sudah kabut duka yang menyelimuti hati Ibu tua itu sedikit demi sedikit mulai tersibak. Entah mengapa, tiba-tiba ia tertarik untuk membuka ponsel anaknya. Bersyukur benda itu tidak raib saat peristiwa mengenaskan itu terjadi. Pelan-pelan ditekannya tombol untuk mengaktifkan. Terkesima ia menatap wallpaper yang terpasang adalah foto keluarga, foto yang diambil puluhan tahun yang lalu. Saat Raju dan Ima masih kecil. Raju dalam gendongan bapaknya, sedangkan Ima dalam gendongannya. Penasaran, dibukanya aplikasi WhatsApp ponsel anaknya. Entah mengapa, seperti ada keinginan kuat yang tiba-tiba muncul, untuk tahu lebih banyak isi handphone anak perempuannya itu. Lebih penasaran lagi, ternyata di situ ada chatting panjang antara Raju dan Ima, anak yang sangat dirindukannya selama ini. Kehadirannya yang sangat dinantikan untuk kembali menghangatkan hatinya, mengobati sepinya. Perlahan-lahan dibacanya satu persatu.
“Asalamualaikum, Kak. Bagaimana rencana kita?” begitu Ima memulai.
Wa’alaikumussalam. Insyaallah, sesuai rencana sebelumnya,” balas Raju.
“Jangan sampai ada yang ketinggalan, ya, Kak. Nanti Ibu kecewa, lo. Pokoknya kali ini kita bikin suprise ke Mama.”
“Beres deh ...”
Bu Nihla perhatikan tanggal chat-nya, seminggu sebelum hari naas itu.
“Ima, tiket umrah untuk Mama sudah aku siapkan, lo. Buat kita bertiga. Aku, kamu, dan Mama,” begitu Raju memulai percakapan dengan adiknya di hari dan tanggal yang berbeda.
“Alhamdulillah, Kak. Semoga rencana kita bikin kejutan buat Mama sukses, ya, Kak. Kasihan Mama deh ... sudah lama kita tidak menjenguknya.”
“Ya iya juga sih. Tapi begitulah. Kerjaan kantor tidak ada habisnya. Meskipun rasanya kangen sekali sama Mama.”
“Iya, Kak. Kangen sama masakan Mama yang maknyus. Itu lo Kak. Ayam masak lengkuasnya, wuih ... mantap banget.”
“Itik cincang palekko Mama juga. Tidak ada duanya. Sering aku makan itik, tapi rasanya tidak sama dengan masakan Mama.”
Tangan Ibu Nihla gemetar membaca kalimat demi kalimat. Air matanya kembali tumpah. Ternyata anak-anak pun merindukannya. Sengaja mereka tidak memberi tahu sebelumnya, karena ingin memberinya kejutan. Tak kuasa melanjutkan membaca chatting kedua anaknya yang telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Ia butuh waktu sejenak untuk melepaskan rasa yang sedari dari mulai menyesakkan dadanya. Setelah mampu menguasai emosi dan mengatur napas, dimulainya kembali menatap layar ponsel yang sedari tadi basah oleh air mata, hingga ia harus membersihkan terlebih dahulu dengan ujung himar.
“Ima, jangan lupa tag aku di FB, ya, kalau kamu nanti kasih ucapan selamat ke Mama. Besok kan ultah Mama yang ke-70. Soal tulis menulis status, kamu jagonya.”
“Beres, Kak. Bukan cuma ultah Mama, lo. Tapi ultah pernikahan Mama juga yang ke-50.”
“Andai Bapak masih hidup, ya ...”
“Kak, besok kita ketemu di bandara. Jangan sampai telat, lo. Pesawat kita penerbangan pertama, kan?”
“Mama pasti bahagia dapat kejutan dari kita. Satu kejutan lagi buat Mama. Surat permohonan mutasiku ke Pinrang diterima Kak. Saya jadi pindah ke Pinrang. Ingin kembali merawat Mama. Kasihan Mama sudah lama sendiri. Nanti kalau sakit-sakit, siapa yang merawat?” tulisan Siska disertai emotikon senyum lebar.
“Yang bener?”
“Benar, Kak.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Mama pasti bahagia sekali.”
Tubuh renta wanita tua itu bergoncang hebat. Namun, tidak ada lagi suara tangisan. Tidak ada lagi air mata yang mengalir deras. Tak ada cahaya. Semua gelap, menghitam, pekat. Tanah yang dipijaknya pun tak lagi mampu menopang tubuhnya yang renta. Ibu tua itu seolah melayang. Tak dirasanya lagi di dunia mana ia berada, hingga samar samar dilihatnya Raju dan Ima berlari mendekap tubuhnya, memeluknya dengan erat seraya membisikan sesuatu di telinganya, “Kami merindukan Mama.”
***

dari buku Warisan Azan Subuh halaman 45-55