Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 28 Maret 2015

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN: Penggalian Ide, Judul Tulisan, dan Alur Cerita

baca sebelumnya

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini

TENTANG PENGGALIAN IDE

Eka Nur Apiyah, Ibu Udayati, Ria Santati
Ibu Yeti Islamawati mengungkapkan bahwa sms dari salah seorang siswanya menjadi ide kunci dari tulisannya yang bertajuk “Muridku, Sahabatku”

Ibu Eka Nur Apiyah mengungkapkan bahwa ide dapat diperoleh dari mana saja. Ide bisa muncul dari hal yang sederhana. Khusus untuk tulisannya Ibu Eka Nur Apiyah memang terinspirasi dari keadaan anak didiknya yang hingga kelas 4 SD tampak belum bisa membaca, yang setelah diselidiki ternyata anak tersebut menderita rabun jauh.

Berbeda dengan 2 pembicara sebelumnya, Pak Sobat mengaku bahwa beliau mendapatkan ide dari suatu kejadiaan. Suatu peristiwa yang cukup mengejutkan dan mengguncang dirinya sebagai seorang guru.

Lebih lanjut lagi, Ibu Udayati mengatakan bahwa ide tulisannya adalah dari pengamatan terhadap dua orang siswanya yang jauh berbeda, satu dengan cacat fisik dan satu lagi tidak. Dan keduanya memiliki perilaku yang berbeda. Kemudian ide tersebut menjadi refleksi dan lahirlah tulisannya “Detik-detik Terakhir.”

Ibu Fiqih Nindya mengungkapkan bahwa tulisannya yang berjudul “Anak Emas” adalah bentuk pengalaman serta pengakuan jujurnya tentang bagaimana sikap guru terhadap murid-muridya. Jadi ide didapat dari proses refleksi yang terjadi dalam dirinya.

Lalu, Ibu Ria Santati menjelaskan dengan lugas bahwa ide tulisannya yang berjudul “Piala Pertama” adalah inspirasi tokoh, muridnya.

Sedangkan Bapak Sanie mengungkapkan bahwa ide tulisannya “Madrasahku Aku Kembali” diambil dari pengalaman dan pergulatan batinnya.

Ibu Udayati, Ria Santati, Fx Suparta, Chairil Anwar
Berbeda lagi, Bapak Chairil Anwar menceritakan bahwa ide tulisannya muncul dari seorang gadis kecil di sekolahnya, yang setiap saat ketika ditemui selalu sedang membaca buku.


PROSES PENEMUAN JUDUL TULISAN

Bapak Chairil Anwar yang memiliki tulisan berjudul “Gadis Cilik Berkalung Buku” mengungkapkan bahwa dari judulnya beliau berharap bahwa ketika pembaca membaca judul tulisannya, pembaca pertama kali merasa tertarik, lalu timbul rasa penasaran. Ada pula maksud beliau bahwa judul tulisannya mengusik benak pembaca bahwa buku bisa mempengaruhi kepribadian anak.

Bapak Sobat penulis kisah “Boneka Kayu dari Balik Jendela” mengaku bahwa beliau menetapkan judul tulisan setelah tulisan rampung ditulis. Judul tulisan tersebut dipilih untuk memberikan deskripsi singkat mengenai tokoh utamanya yang menurut pengakuan beliau badannya kurus, seperti boneka kayu, sehingga pembaca bisa punya gambaran singkat tentang isi ceritanya dan tentu saja untuk mengusik rasa ingin tahu pembaca.

Ria Santati, Fx Suparta, Chairil Anwar, Sanie Ramadhan
Akhirnya, Ibu Noorvytawati mengakhiri sesi sharing proses penemuan judul tulisan ini dengan mengungkapkan bahwa judul tulisannya diambil untuk menarik minat pembaca dan untuk menggambarkan keseluruhan isi cerita, tentang perjodohan salah satu muridnya.


PROSES PENGGARAPAN ALUR CERITA

Ibu Udayati menjelaskan dalam proses menulis beliau membiarkan semuanya mengalir dahulu. Tulis saja, tidak perlu dihapus dulu. Nanti ketika tulisan sudah mulai berbentuk, baru kita bisa periksa kembali lalu sunting di sana sini.

Ibu Eka Nur Apiyah secara sederhana juga mengungkapkan bahwa ia tulisannya adalah rekaman dari kejadian yang sesungguhnya. Jadi alur ceritanya pun sesuai dengan alur cerita pada kejadian yang sesungguhnya.
Sanie Ramadhan, Dwitya Sobat, Noorvytawati

Berbeda dengan dua pemateri sebelumnya, Ibu Yeti Islamawati mengungkapkan bahwa karena ide bisa datang sewaktu-waktu, maka segera ketika ide itu muncul beliau segera menuliskannya. Tanpa membuat rancangan plot sebelumnya, serupa dengan ibu Udayati.

Soal sudut pandang cerita, Pak Fx Suparta memilih menggunakan sudut pandang orang ketika, padahal beliau bercerita tentang dirinya sendiri. Penggunaan sudut pandang orang ketiga ini memiliki keuntungan untuk menggambarkan diri penulis karena akan menghindarkan penulis dari kesan sombong dan membanggakan diri.

Selanjutnya para pemateri berbagi pemikiran tentang bagaimana memulai, memunculkan konflik, dan mengakhiri kisah-kisah mereka. Ada yang berpendapat bahwa cerita boleh diawali dengan barisan puisi, agar tak membosankan. Ada juga yang suka memulai kisah langsung pada pemunculan konflik agar tak bertele-tele dan menyebabkan pembaca bosan. Pemateri lain mengungkapkan beliau suka memulai kisahnya dengan narasi yang membawa gambaran suasana agar emosi pembaca terbawa masuk ke dalam kisahnya.
Sanie Ramadhat, Dwitya Sobat

Kemudian pada bagian pemunculan konflik, ada berbagai macam pendapat. Ada yang mengatakan konflik muncul dari kondisi riil pendidikan di Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa konflik bisa muncul beberapa kali dalam sebuah kisah.

Akhirnya, para pemateri berbagi pendapat mengenai bagaimana cara mereka mengakhiri kisah. Sebagian besar mengungkapkan bahwa selalu ada pesan yang disampaikan di akhir tulisan, entah tersirat ataupun tersurat.


SESI TANYA JAWAB

Pertanyaan 1 (Bapak Rudi):
Tulisan yang dihasilkan adalah hasil dari pengalaman para guru. Lalu seberapa jauh sebuah ide yang muncul dari pengalaman tersebut dieksplorasi oleh penulis? Seberapa jauh penulis berefleksi dan menemukan makna di balik makna cerita?

Pak Sobat menanggapi: Ide selalu muncul dari momen yang muncul pada saat mengajar. Lalu ide yang muncul itu diolah sedemikian rupa menjadi tulisan yang sedap dibaca. (Pak Sobat belum mengungkapkan seberapa dalam beliau berefleksi)

Ibu Udayati juga menanggapi: Menulis adalah melukis kata hati, pikiran, dan perasaan.

Pertanyaan 2:
Bagaimana kriteria tulisan best practice yang layak terbit?

Noorvytawati, Fiqih Nindya Palupi, Yeti Islamawati
Jawab:
Best practice yang dimaksud oleh panitia adalah best practice yang lebih banyak bercerita soal pengalaman, gaya tidak harus formal, boleh naratif.

Pertanyaan 3:
Saya punya banyak ide, tapi sering lupa kalau tidak segera ditulis. Bagaimana tipsnya?

Jawab:
Bu Yeti Islamawati mengungkapkan bahwa jika ada ide muncul memang harus segera ditulis.

Bapak Chairil Anwar memberi tips untuk menggunakan aplikasi perekam yang ada di HP untuk merekam ide yang muncul di saat kita ada pada situasi yang tak memungkinkan untuk segera menuliskannya.

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini


baca selanjutnya ...

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN: Pembukaan

baca sebelumnya..

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini


SESI PERKENALAN dan PEMBUKAAN


Lokakarya diawali dengan saling sapa antar peserta. Sebagian peserta sudah saling mengenal, karena sudah serig bertegur sapa lewat jejaring sosial Facebook, lebih di forum Grup Guru Menulis. Sebagian lagi belum saling mengenal, karena belum menjadi anggota komunitas tersebut. Maka untuk mencairkan suasana moderator sekaligus MC (Bapak Wakidi Kirjo Karsinadi dan Ibu Yulia Loekito) mengajak peserta untuk bermain “BERHITUNG.” Selain untuk saling mencairkan suasana, permainan ini juga bertujuan agar antar peserta berkesempatan saling mengenal. Permainan berlangsung seru. Semua peserta terlibat aktif. Suasana pun jadi cair

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pemanasan menulis. Pak Wakidi menampilkan sebuah gambar di layar. Gambar kapur yang patah. Peserta diminta untuk menulis apa saja yang terbersit di pikiran mereka tentang gambar tersebut. Satu paragraf. Kemudian, ada 3 peserta yang berkenan membacakan tulisannya tentang gambar tersebut. Menarik, dari ketiga peserta yang membacakan narasinya tentang kapur patah tersebut, tak ada satupun narasi yang bernada sama. Satu peserta berbicara mengenai kapur sebagai kehidupan, jiwa panggilan sebagai guru. Peserta lain menceritakan pengalamannya mengajar dengan kapur tersebut.

Untuk memperkenalkan peserta pada kisah-kisah guru yang sudah terbit maka setelah sesi pemanasan menulis, dibacakan salah satu kisah dari buku Kapur Papan: Kisah Guru-guru Pembelajar 4 yang berjudul Ibuku juga Ibu Anakku, karya Elvira Rosa, S.Pd. Kisah dibacakan dengan apik oleh Bapak Chairil Anwar.



SESI SHARING PROSES KREATIF

Sesi ini adalah sesi berbagi proses kreatif oleh sepuluh penulis buku Kapur Papan: Kisah Guru-guru Pembelajar 1-4, hasil kontes menulis guru bertema GURU YANG SELALU BELAJAR, yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Menulis dan didukung oleh Penerbit Lingkarantarnusa.

Pemateri adalah sepuluh penulis yang dipilih oleh panita. Kesepuluh pemateri tersebut adalah

1. Ibu Eka Nur Apiyah dari Brebes
2. Ibu Udayati dari Denpasar
3. Ibu Ria Santati dari Solo
4. Bapak Fx Suparta
5. Bapak Chairil Anwar dari Yogyakarta
6. Bapak Asrul Sanie dari Temanggung
7. Bapak Dwitya Sobat Adidarma dari Yogyakarta
8. Ibu Noorvytawati dari Boyolali
9. Ibu Fiqih Nindya Palupi
10. Ibu Yeti Islamawati

Modal Nekat 2: Catatan Lokakarya Menulis Pengalaman Guru Langsung Jadi Buku Ber-ISBN

Modal Nekat 2
(Jauh dari sempurna)

oleh Kang Gitoo

Walaupun hanya bermodal nekat ku hadiri lokakarya di jogja. Dengan mengojek dari rumah ke lokasi. Semula memang tdak tahu dimana lokasi berada. Sempat keblasuk dan bertanya2 pada pk polosi dan beberapa pedagang. Aku dan tukang ojekku selalu optimis. Akhirnya ku temukan tempat tersebut. Sesampai di lokasi disambut oleh pk Steve Wakidi dan buYulia Loekito serta staf penerbit dengan ramah. Ku rasakan kehangatan yang tak terkira. Bertemu dengan guru-guru kreatif sungguh menyenangkan. Tak sia-sia ku nekat kali ini. 

Ku kira akulah yang terjauh, ternyata masih ada yang lebih jauh lagi. Dari Bali, Demak, Semarang, Ponorogo dan daerah lain yang tidak bisa ku ingat satu persatu. Banyak inspirasi baru sebagai pembelajaran bagiku. Sebagai guru banyak pengalaman yang bisa dirasakan. Salah satunya melalui dunia tulis. Bukan hanya berangan tapi harus beraksi. Tidak hanya mengharap tapi harus bisa memberi. Terutama berbagi ilmu.

Salah satu pemateri itu berkata "nulis pakai hati, edit pakai otak". Sungguh luar biasa. Ketika berkumpul orang2 hebat. Saya banyak belajar. Ternyata diriku jauh dari sempurna. Dari ketidak sempurnaan fisik hingga kesempurnaan ilmu pengetahuan. Namun aku bersyukur, walau hanya modal nekat. Semua berjalan dengan lancar. Tak sia-sia ku bertemu beliau-beliau ini. Guru-guru is the best. Guru yang tak pernah mati. Atau tak pernah lelah. Selalu berkreasi dan berinovasi. Selalu menimbulkan pengalaman berharga.

Jogja memang istimewa. Orangnya ramah-ramah. Juga cerdas-cerdas. Pantas jika disebut kota pelajar. Hari ini ku banyak belajar. Anak kampung yang kampungan ini mendapatkan arti kehidupan baru lagi. Anak kampung yang udik ini. Bisa blajar untyk lebih baik.

Aku jauh dari sempurna. Yang lemah dari segala hal, sekarang bisa belajar.

Terimakasih Antarnusa (maksudnya Lingkarantarnusa, red). Atas kesempatan dan undangannya. Semoga bisa maju dan bisa sebagai fasilitas bagi kita semua untuk selalu berkreasi.

Chairil Anwar - Pembacaan Kisah

Chairil Anwar - Pembacaan Kisah

Teman Kelompok

Ibu Yulia dan Pemateri Proses Kreatif

Teman Kelompok

Pemateri

Pemateri

Suasana Lokakarya dan Pesertanya

Suasana Lokakarya dan Pesertanya

Kompor gas, St Kartono


Sabtu, 21 Maret 2015

Himne Komunitas Guru Menulis

Syair dan Lagu oleh Wakidi Kirjo Karsinadi

Dengan pena di tangan
Goreskan keindahan
Tajamkan pisau kalbu
Sucikan niatan bakti

Nyalakan api pengabdian
Penuhi panggilan pertiwi
Di tanganku masa depan negeri
Lahirkan generasi berbudi

Tuk menyemai harapan
merawat kehidupan
Takdirku melahirkan
generasi bahagia

Sirami jiwa yang dahaga
Sembuhkan hati yang tlah terluka
Ubahkan tangis jadi senyuman
Bangkitkan smangat yang telah padam

Nusantara jaya

Syair dan melodi bisa dilihat di sini:


Ini usaha pertama membuat rekaman, langsung ambil gitar, coba-coba mencari nada-nada sambil mengarang-ngarang lirik, dan hasilnya seperti ini:


Yang ini usaha kedua setelah melodinya agak stabil.

Jumat, 20 Maret 2015

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU: Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN

LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN

Baca laporan lokakarya di sini!

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini

Sabtu, 28 Maret 2015, pukul 10.00 - 16.00
Socius Resto & Cafe
Ruko Rafflesia II Blok O Babarsari Depok
Sleman Yogyakarta

Acara:
1. “Proses Kreatif Menuliskan Pengalaman Menjadi Guru Pembelajar” oleh 10 guru penulis buku Kapur & Papan Kisah Guru-Guru Pembelajar:
(1) Ria Santati
(2) Ibu Udayati
(3) Eka Nur Apiyah
(4) Yeti Islamawati
(5) Fiqih Nindya Palupi
(6) Noorvyta Wati
(7) Fxsuparta
(8) Sanie Ramadhan
(9) Chairil Anwar Zm
(10) Dwitya Sobat Ady Dharma

2. “Tips Menuliskan Pengalaman Menjadi Bacaan Ringan yang Mengena” oleh St Kartono

3. Praktik Menulis Investasi MINIMAL: Rp 85.000

Fasilitas: tea/coffee, makan siang, seminar kit, sertifikat (dengan tanda tangan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta), pendampingan online proses penulisan naskah menjadi layak terbit.

Tempat terbatas Segera daftarkan diri Anda dengan menghubungi
1. Vita 0878 3892 7046
2. Wakidi (08882882749 - WA)
3. email: komunitas.guru.m enulis@gmail.com

Pendaftaran dan pembayaran paling lambat 20 Maret 2015 ke:
Bank Mandiri
900-00-0701047-4
a.n: STEPANUS WAKIDI S.PD.

Ketentuan peserta:
- guru atau dosen aktif
- menyiapkan minimal 1 naskah 3-5 halaman A4 diketik normal dengan tema: mendidik dengan hati, mengajar dengan kreatif, mengasihi siswa sulit, atau mengambil tema bebas
- naskah harus dibawa saat lokakarya
- membayar biaya investasi paling lambat seminggu sebelum lokakarya

LOKAKARYA INI DISELENGGARAKAN OLEH: Komunitas Guru Menulis
didukung oleh:Penerbit LingkarAntarnusa




Baca laporan lokakarya di sini!

Galeri foto kegiatan LOKAKARYA SEHARI untuk GURU:
Menuliskan Pengalaman (Best Practices) Langsung Jadi Buku Ber-ISBN bisa dilihat di sini

Kamis, 02 Oktober 2014

Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-muridnya: Alegori Lilin



Buku dapat dipesan dengan menghubungi email komunitas.guru.menulis@gmail.com atau lingkarantarnusa@gmail.com atau via akun Facebook Lomba Nulis atau melalui sms ke 0888-2882-749 (WhatsApp) atau (0274) 8006655 via pin BB 75FC926E.


Lilin

kecil, lembut, mudah patah
terbuat dari helai-helai benang
dicelupkan dengan ketekunan dan kesabaran
dalam panasnya parafin
berulang-ulang, berkali-kali

meski kecil
kau sanggup menghalau kegelapan
memberi terang
memberi harapan

meski kecil
kau berani memberikan diri
hangus habis dimakan api
demi mereka yang membutuhkan cahayamu
dengan demikianlah kau berarti


Alegori Lilin

Buku ini diberi judul Lilin 71. Seperti sebuah lilin, guru menyalakan kasih dan memberi diri. Guru adalah cahaya yang meski lemah seperti lilin, namun terang dan kelembutannya memberikan harapan dan membukakan wawasan. Nyala lilin itu tetaplah menyala saat guru di ruang kelas, dari pukul 7 pagi hingga pukul 1 siang. Demikianlah Lilin 71.

Lilin menyala 24 jam

Tentu saja lilin itu tetap menyala di ruang kelas atau sekolah, tidak hanya dari pukul 7 sampai pukul 1, tetapi juga di rumah, dari pukul 7, sampai pukul 7 kembali. Itulah yang dikisahkan pak Petrus Surjiyanta dalam tulisan “Mendidik dengan Hati” dan ibu Giyanti dalam tulisan “Mengukir Masa Depan”. Mereka harus tetap menyalakan kasih dan meluangkan waktu untuk juga berkunjung ke rumah siswanya di sore bahkan di malam hari untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpa muridnya.

Lilin itu lembut

Lilin juga menggambarkan sebuah kelembutan hati. Guru semestinya juga memiliki kelembutan hati, suatu kepekaan lebih terhadap kondisi dan situasi siswanya. Tanpanya guru bisa-bisa malahan membunuh potensi siswa. Itulah yang mau disampaikan bu Bening Parwita Sukci dalam tulisan “Guru: Doraemon atau Pembunuh?”

Suster Vincentine dalam “Kerinduan Efrem” juga memperlihatkan bahwa kelembutan seorang membuatnya mampu menyelami “kenakalan” Efrem dan “berhasil” mentransformasi “bocah nakal” itu menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan. Kelembutan yang tulus juga masih tetap bisa dirasakan oleh anak, sekalipun dalam diri seorang guru yang terkesan galak seperti bu Evayanti Christina.

Kelembutan, itulah yang disadari perlu ada dalam diri Robertus Kristian Era Purnama, meskipun kesadaran itu datangnya agak terlambat. Sebagai guru muda ia sempat bersikap keliru terhadap muridnya namun syukurlah bahwa kesalahannya itu justru menggedor pintu kesadarannya.
Meskipun pertemuannya dengan murid-muridnya boleh dibilang sebagai “kebetulan”, dengan kelembutan hatinya  pula Frater Yoseph Didik Mardiyanto mampu mengenali berbagai bahasa kasih yang dituntut anak-anak didiknya.

Lilin memberi terang

Lilin itu memberi terang. Pak Jaka Prastana dalam segala kegelisahannya juga berusaha memberi terang, tidak hanya kepada murid, namun juga orangtua mereka, lewat perannya sebagai guru Agama Katolik.

Terang yang terpancar juga membawa terang budi pada anak didik. Itulah yang dikisahkan Pak Anthonius Supriaryaka tentang salah satu muridnya yang pintar namun dengan penuh kesadaran memilih jurusan IPS yang tidak favorit. Anak-anak yang sudah merasakan cahaya terang juga ditunjukkan oleh kepedulian satu sama lain dan kebersahajaan mereka dalam kisah “Kepedulian Hati untuk Sahabat” tulisan Bapak Gregorius Hardiyanto.

Cahaya terang itu pula yang dipancarkan oleh Ibu Theresia Etik Lusiani yang terpanggil untuk mendampingi calon perawat. Ia berusaha menumbuhsuburkan hati nurani mereka lewat sharing pengalamannya sendiri bahwa amat penting bagi seorang perawat untuk peka terhadap suara hati. Demikian pun Ibu Bernadeta Tumirah, yang dengan disiplin dan sabar mengajari anak-anak tuna rungu mendapatkan jalan terangnya untuk bisa berbicara.

Lilin memberi diri

Untuk memberi terang, lilin membiarkan dirinya terbakar habis. Ini adalah lambang pemberian diri. Pemberian diri itu membuahkan rasa aman. Demikianlah  yang dialami murid-murid Frater Giovanni Mahendra Christi. Pemberian diri ini sangat jelas terlihat dalam diri ibu Johana Rosalia Nirmala, yang dengan segala keterbatasannya, deraan alergi pernapasannya, ia mensyukuri tiap detik hidupnya dengan setia menyemai kebaikan ke dalam diri para seminaris yang diajarnya. Juga Ibu Ratih Kristiani, kadang ia pun didera rasa malas, namun ia selalu menemukan suka cita saat memberikan dirinya kepada anak didiknya, mengajar dan bergurau dengan mereka.

Pemberian diri Ibu Theresia Hendry sebagai guru Character Building telah membuatnya menjadi teman curhat yang asyik bagi murid-muridnya. Dan ia menemukan bahwa dalam setiap langkah kecil yang dijalaninya, Tuhan menunjukkan kekayaan makna yang memenuhi hatinya. Hal yang sama juga dialami Ibu Oktivia Astuti yang merelakan dirinya dijadikan tempat curhat bagi murid-muridnya.

Ibu Cicilia Wahju Djajanti akhirnya juga menemukan makna hidupnya dalam pemberian diri untuk bisa mencintai mereka yang tidak bisa dicintai, yang miskin, yang kurang dalam hal kompetensi dan perilaku. Pemberian diri Ibu Effie Wahono sebagai guru homeschooling telah mentransformasi anak-anak didiknya, yang sebagian akan mustahil berhasil di sekolah formal-normal, menjadi anak-anak yang membanggakan.

Lilin, teruslah menyala

Lilin sering diterpa angin. Namun lilin semangat guru hendaklah tetap menyala. Itulah yang perlu dilakukan oleh Ibu Susiwi Triwahyuni. Meskipun dipercaya untuk mendampingi anak-anak di kelas nomor 2, ia tetap menyalakan lilin semangatnya. Berbagai upaya dilakukannya sehingga Tuhan tidak menutup mata dan menjadikan mukjizat itu nyata.

Demikian pula dengan Bapak Nicolaus Dolly Simon Kusdwiutomo. Ia bercita-cita menjadi penerbang namun Tuhan mengutusnya untuk menyalakan kasih terhadap lingkungan yang akhirnya memberikan buah yang manis bagi murid dan dirinya sendiri.

Pak Sutikno dipercaya untuk mengelola sebuah sekolah di desa yang jumlah muridnya belakangan selalu berkurang karena masyarakat lebih memilih sekolah negeri yang gratis. Namun nyala semangat yang ditularkannya dalam berbagai kreativitas akhirnya berhasil mendatangkan murid-murid yang dari tahun ke tahun semakin banyak.

Beda lagi dengan Pak Roni Baskoro. Ia merasa tidak memiliki jasa apa-apa yang bisa dibanggakan namun kesetiaannya untuk mempercayai muridnya yang dikenal usil dan nakal telah mengantarkan anak itu menjadi “orang” yang berhasil.

Kesetiaan dan ketekunan serta kesungguhan secara konsisten diperjuangkan oleh Bapak Joseph Kristiandinata. Sepuluh tahun pengabdiannya sebagai guru komputer telah membuahkan rasa syukur yang tak terkira. Salah satunya karena mantan-mantan muridnya itu sekarang juga sudah menjadi guru komputer di pelosok.

Lilin memerlukan udara

Untuk terus menyala, lilin membutuhkan udara. Udara bagi lilin melambangkan inspirasi dan kekuatan yang terus diperlukan oleh guru. Bapak Fernandes Nato menggali inspirasi itu dari seorang Sokrates dan dari Tuhan Yesus sendiri. Namun ia juga dilimpahi inspirasi dari murid-muridnya yang menjadi guru kehidupannya.

Sebagai sumber kekuatan, Ibu Veronica Silalahi tidak pernah memulai harinya tanpa meminta kekuatan dari Tuhan. Sebagai dosen baru, ia juga terus belajar agar bisa mendampingi mahasiswanya dengan optimal. Doa dan usaha dipadukannya menjadi sumber keberhasilan dalam menjalankan perannya.

Masih muda, namun mengajar Alkitab bahkan untuk banyak orang tua. Itulah yang dikerjakan Ibu Theresia Evy Christina. Ada saatnya ia merasa benar-benar harus berjuang untuk bersabar dan mengasihi. Saat di mana ia harus meminta Tuhan untuk meminjamkan hati-Nya.

Helai-helai benang itu menjadi sebuah lilin

Helai-helai benang harus dicelupkan ke dalam cairan parafin panas agar menjadi sebuah lilin. Menjadi guru pun membutuhkan dilaluinya serangkaian proses pembentukan, bahkan kadang menyakitkan. Itu yang dialami oleh tokoh yang diceritakan oleh Bapak Herman JP Maryanto. Untuk menjadi guru, Maryani harus menelan kepedihan karena pengorbanan orangtuanya yang demikian besar. Namun setelah cita-citanya tercapai, Tuhan malah menghendaki lain.

Ibu Yessica pun demikian. Ia tidak pernah ingin menjadi guru. Setelah beberapa kali pindah pekerjaan akhirnya ia menyadari bahwa Tuhan memanggilnya menjadi seorang guru.
Pengalaman pahit ternyata berbuah manis. Itulah yang dialami Bapak Arcadius Benawa. Tidak lulus ujian sempat membuatnya patah semangat. Namun pengalaman akan keagungan Tuhan di gunung Bromo menyadarkannya bahwa ia harus bersinar terang seperti matahari yang terbit memancarkan sinarnya.

Proses demi proses, dari satu sekolah ke sekolah yang lain telah membawa Ibu Muji Rahayu kepada pengalaman-pengalaman baru yang menantang dan menggairahkan. Meskipun “hanya” menyandang peran sebagai guru TK/SD ia sempat merasakan menjadi seorang “dosen”.

Yogyakarta, 17 Oktober 2014
Wakidi Kirjo Karsinadi

Rabu, 01 Oktober 2014

Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-muridnya

Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-Muridnya merupakan sebuah buku kumpulan tulisan dari 31 guru dan bernuansa Kristiani.




Spesifikasi:
Judul: Lilin 71 Kumpulan Kisah Guru yang dengan Tulus Memberikan Hati untuk Murid-Muridnya
Pengarang: 31 guru
Penerbit: Penerbit dan Percetakan Lingkarantarnusa
Terbit: Oktober 2014
Tebal: 280 halaman
Penyunting: Wakidi Kirjo Karsinadi dan Yulia Loekito
Perancang Sampul: Rio Frederico
Penata letak: Wakidi Kirjo Karsinadi
ISBN: 978-602-1630-16-7
Harga: Rp 60.000 (harga sewaktu-waktu bisa berubah)

Buku dapat dipesan dengan menghubungi email komunitas.guru.menulis@gmail.com atau sms ke 0888-2882-749 (WhatsApp).


Pengantar Penerbit

Perubahan Zaman Menantang Pendidikan

Dunia berubah amat sangat cepat. Kalau melihat ke belakang 20 tahun yang lalu, kita tidak pernah membayangkan apa yang sekarang ini terjadi: sebagian besar dari kita sekarang ini tidak bisa hidup lepas dari gadget. Seluruh dunia ini sekarang ini ada dalam genggaman kita. Dengan sebuah alat yang disebut smartphone, kita bisa melangsungkan banyak sekali hal: menjelajah dunia, berkomunikasi lewat berbagai social media, twiter, FB, Instagram, dan berbagai aplikasi komunikasi, BBM, WhatsApp, Line, WeChat, Kakao Talk, mengendalikan bisnis, melakukan transaksi, menikmati hiburan, mendengarkan musik, nonton video, tv, namun juga belajar, membuat dampak, membangun citra, dan tak lupa juga melangsungkan kejahatan dan berdosa. Itu adalah salah satu contoh bagaimana dunia kita ini benar-benar berubah.

Perubahan ini sedemikian konkret dan menuntut pendidikan juga berubah. Rm Prof. Dr. A. Sudiarja, SJ (2014), dalam bukunya Pendidikan dalam Tantangan Zaman mencatat beberapa tantangan yang dihadapi dunia pendidikan. Pendidikan sekarang ini hampir meninggalkan ruh pendidikan itu sendiri, yakni humanisasi dan hominisasi atau memanusiakan anak didik, dan lebih berorientasi kepada pendidikan vokasional dan profesional. Aspek humaniora pendidikan mulai bergeser kepada pendidikan yang berorientasi pasar, yang lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu pragmatis-utilitarianis. Pembinaan watak yang menjadi ciri pendidikan tradisional mulai ditinggalkan, dan baru akhir-akhir ini pemerintah mulai sadar untuk memerhatikan soal watak atau karakter ini, namun kemunculannya lebih cenderung sebagai slogan politis. Perubahan-perubahan yang dilakukan lebih bersifat reaksioner terhadap persoalan-persoalan konkret yang dihadapi tanpa mempersoalkan ulang pertanyaan dasar pendidikan.

Wajah Muram Pendidikan

Tantangan pendidikan semakin terasa ketika kita melihat capaian bangsa ini setelah enam dekade lebih merdeka namun hanya menyuguhkan tatanan masyarakat yang semakin semrawut, para petinggi bangsa yang cenderung korup, keutuhan bangsa diciderai oleh gerakan radikalisme yang tidak toleran terhadap perbedaan, semangat hedonis dan konsumeris yang amat kental menguasai geliat peradaban bangsa, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar antara segelintir orang kaya dan mayoritas rakyat yang kehilangan daya, anak-anak didik yang setiap tahunnya tidak pernah absen diberitakan terlibat tawuran di berbagai media, terseok-seoknya pembangunan hukum yang adil. Terhadap semua wajah buruk yang mewarnai bangsa ini, sebuah pertanyaan layak dikaji: di manakah beradanya pendidikan selama ini?

Guru Masih Menjadi Kunci

Menurut buku 21st Century Skills Learning for Life in Our Times tulisan Bernie Trilling dan Charles Fadel, kita perlu berlatih menjawab 4 buah pertanyaan untuk lebih memahami perubahan yang menimpa pendidikan dan pembelajaran:
1. Akan seperti apakah dunia ini 20 tahun yang akan datang ketika anak-anak didik kita telah lulus sekolah meninggalkan bangku kuliah dan memasuki dunia? Bandingkan dengan apa yang sudah kita alami selama 20 tahun terakhir ini dan semua perubahan yang telah kita saksikan terjadi.
2. Kompetensi atau kemampuan seperti apa yang dibutuhkan anak-anak kita untuk berhasil dalam dunia yang kita bayangkan akan terjadi 20 tahun yang akan datang?
3. Kemudian: coba pikirkan kembali pengalaman kita sendiri ketika kita benar-benar bisa belajar secara maksimal dan optimal. Kondisi-kondisi seperti apa yang membuat diri kita bisa belajar secara optimal?
Sebelum ke pertanyaan keempat: lihat kembali jawaban kita atas 3 pertanyaan tadi dan pikiran bagaimana sebagian besar siswa menghabiskan waktu mereka setiap hari di sekolah. Kemudian pertanyaan terakhir:
4. Seperti apakah semestinya pembelajaran yang kita langsungkan kalau mengingat jawaban-jawaban kita atas 3 pertanyaan tadi?

Nah terhadap pertanyaan ketiga, rata-rata guru yang diteliti dari tahun ke tahun memberikan jawaban yang kurang lebih sama: Kondisi yang membuat para guru itu pada masa lalu yang dialaminya bisa belajar optimal adalah:
1. Tingkat tantangan pembelajaran yang sangat tinggi, yang sering muncul dari passion pribadi, dari dalam;
2. Sama tingkatnya dengan jawaban pertama adalah: tingkat perhatian dan dukungan eksternal yang juga sama-sama sangat tinggi: misalnya seorang guru yang tuntutannya tinggi namun mengasihi, guru yang tegas keras namun penuh perhatian atau memberikan pendampingan belajar yang inspiratif;
3. Dibukanya lebar-lebar bagi terjadinya kesalahan, dengan dorongan untuk belajar dari kesalahan yang dibuat untuk berjuang menghadapi tantangan yang ada.

Nah di sinilah tertemukan kata kunci: Guru masih memegang peran kunci. Ternyata, dalam kondisi atau dengan latar belakang budaya seperti apa pun, dan dari waktu ke waktu, meskipun situasi dan kondisi yang dihadapi berbeda, meskipun terjadi perubahan yang dahsyat, peran guru tetap sentral dalam dunia pendidikan. Seorang guru yang bisa memberikan dan membangkitkan tantangan yang memang menantang bagi anak didik, yang berhasil membangkitkan semangat juang anak didik dari dalam anak didik itu sendiri; seorang guru yang bisa menunjukkan kepedulian dan perhatian; tegas, menuntut, namun mengasihi, dan seorang guru yang amat sangat mengerti bahwa dalam proses belajar kesalahan adalah salah satu anak tangga yang harus dilewati anak untuk belajar.

Guru-guru Penebar Harapan

Nah buku kecil ini anggap saja sebagai sebuah perayaan “kemenangan” para guru. Kemenangan karena buku ini bercerita tentang kepuasan meskipun harus didahului dengan kecemasan dan pergumulan serta pergulatan, tentang kegembiraan dan harapan meskipun tantangan dan perubahan melanda sedemikian hebat. Karena guru ternyata masih memegang kendali bagi menggelindingnya roda pendidikan – seperti apa pun zaman dan situasi yang dihadapi.

Dalam buku ini ditampilkan 31 kisah jujur dari para guru dan dosen, bapak dan ibu, serta mbak dan mas, yang dalam berbagai keterbatasan namun tetap berusaha teguh berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya, yang terus berupaya untuk menjadi pendidik, bukan hanya pengajar. Mereka bukan guru-guru super, mereka hanyalah manusia biasa, penuh dengan kelemahan dan tidak alpa dari kesalahan, tetapi mereka siap terbuka untuk belajar dari kesalahan dan melangkah maju kepada yang lebih baik.

Dalam bahasa yang sederhana, kisah-kisah mereka demikian menggugah. Kisah-kisah mereka memberikan harapan dan menjanjikan kepastian bahwa ketika guru tetap teguh pada komitmen untuk menjadi pendidik, betapa pun penuh tantangan, cepat atau lambat mereka akan memetik buah yang manis. Mereka sudah membuktikannya.

Ketiga puluh satu kisah ini dikelompokkan ke dalam 5 tema: refleksi, murid-murid istimewa, pelangi kasih-Nya, meneladan Sang Guru, dan perjalanan dan panggilan hidup.  Dalam setiap tema, Ibu Yulia Loekito membuat renungan pengantar yang menjadi simpul dari berbagai sharing pengalaman yang ditulis oleh para guru.

Daftar Tulisan:

Refleksi

Kerinduan Efrem ~ Sr. M. Vincentine Etty Indriaswati, SPM. S.Sos.

Murid-Muridku Guru Kehidupanku ~ Fernandes Nato, S.S.

Guru: Doraemon atau Pembunuh? ~ L. Bening Parwita Sukci

Saudaraku, Buatlah Aku Tersenyum ~ Y. Jaka Prastana, S.Pd.

Awas! Ms. Eva Galak! ~ Evayanti Christina. S.Si.

Siswa IPS Juga Berprestasi ~ Drs. Anthonius Supriaryaka, M.M.Pd.

 

Murid-murid Istimewa

Mendidik dengan Hati ~ Drs. Petrus Surjiyanta, M.Si.

Saya Mau Bicara ~ Bernadeta Tumirah, S.Pd.

Mengukir Masa Depan ~ Giyanti, S.Ag.

Beni Si Oke ~ Roni Baskoro

Kepedulian Hati untuk Sahabat ~ Gregorius Hardiyanto, S.Pd.

 

Pelangi Kasih-Nya

Jam Tangan Kayu Glugu ~ Drs. Herman JP. Maryanto, M.Pd.

Guru Adalah Panggilan Hidup Saya ~ Yessica, S.Pd.

“Kebetulan” yang Bukan Sekadar Kebetulan ~ Yoseph Didik Mardiyanto

Tuhan, Pinjami Aku Hati-Mu ~ Theresia Evy Christina

Buah Cinta Lingkungan ~ Drs. Nicolaus Dolly Simon Kusdwiutomo, S.Pd., M.Pd.

Untung Punya Pengalaman Bromo ~ Arcadius Benawa

 

Meneladan Sang Guru

Hati Yang Penuh Syukur ~ Johana Rosalia Nirmala

Sekolah Kerja ~ M.A. Ratih Kristiani

Guru, Sahabat Para Murid ~ Giovanni Mahendra Christi, MSF

 

Perjalanan dan Panggilan Hidup

Mengiring Langkah-langkah Kecil Penuh Makna ~ Theresia Hendry

Satu Dasawarsa Mengabdi dalam Dunia Pendidikan: Sebuah Tantangan dalam Pelayanan ~ Joseph Kristiandinata

Mukjizat Itu Nyata ~ Susiwi Triwahyuni

Kamu Dipilih ~ Theresia Etik Lusiani, S.Kep.Ns.

Jadi Dosen ~ Muji Rahayu, S.Pd.Aud.

Berjalan Bersama Panggilan Hidupku ~ Veronica Silalahi

Guru Muda ~ Robertus Kristian Era Purnama, S.Pd.

 

Melayani dengan Kasih

Mencintai Yang Tidak Dapat Dicintai ~ Cicilia Wahju Djajanti, S.Kep., Ns., M.Kes.

Sekeping Hati untuk Melayani ~ Effie Wahono, S.Si.

Cerdas Dengan Berbagai Kreativitas ~ L. Sutikno, S.Pd.

Kasih-Mu, Kasihku, Kasih Kita Semua ~ Oktivia Astuti, S.Pd.