Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 30 April 2022

Tapi Sayang



Photo by Jamaludin Muh from Pexels




Masakan mamaku

Enaknya tercium sampai ke luar jauh
Semua berdatangan
Makan minum
Bersenang
Senang

Anjing
Di tepi tungku
Menelan liur menanti ajakan

"Ayo!"

Tapi sayang

Pintubesi, 29 April 2022

Kamis, 28 April 2022

Pantun Pagi (3)





Ama Ladda pahlawan kami
Serdadunya tawon dan lebah keramat.
Hati bersih selama di bumi
Jalannya lurus sampai kiamat.

Merantau jauh ke Baubau
Pulang membangun lima menara.
Biarpun jauh di tanah rantau
Jangan lupa sanak saudara.

Masuk hutan mencari mangga
Dapat sebuah bagi berlima
Dalam hidup berumah tangga
Susah senang tanggung bersama

Pergi ke pasar bawa delima
Ada yang jatuh sampai ke tanah.
Semua ejekan kami terima
Jadi awasan untuk berbenah.

Perteguhen, 29 April 2022

Pantun Pagi (2)





Lamalera tempat wisata
Lihat nelayan menangkap paus
Membangun jalan lingkar Lembata
Agar sama merasa puas

Papan jati jangan dibuang
Ditempa jadi peti sejati
Sejak kampanye andalkan uang
Bisa ditebak ujungnya nanti

Di Lamaingu banyak rusa
Dikejar anjing sampai ke Tanggir
Kita semua sama senusa
Mengapa tirikan lain ke pinggir

Perteguhen, 28 April 2022

Selasa, 26 April 2022

Pantun Pagi (1)






Sepeda butut dalam garasi
Kenangan Patua dari Lelata.
Kalau sudah di atas kursi
Jangan lupa pada jelata.

Indah nian tanah Lembata
Berpagar mawar penuh duri.
Menutup mata pada jelata
Patahkan kaki kursi sendiri.

Menjemur baju di Riangbaka
Setelah direndam dalam kanji.
Suara rakyat emas belaka
Bayarkan dengan tepati janji.

Kopi Boto enak sekali
Harumnya sampai ke Sina Jawa.
Janji diumbar berkali-kali
Tak ditepati menyiksa jiwa.

Kami merantau ke Malaysia
Berbekal ketupat dan jagung titi
Kami pun sesamamu manusia
Kenapa pinggirkan ke gigir titi?

Perteguhen, 27 April 2022


Sabtu, 16 April 2022

Bau Bangkai

Photo by Lucas Andrade from Pexels




Bau
Itu tali
Terulur keluar dari bangkai
Terbawa ke mana mau angin

Sampai
di hidung anjing
Tali itu tercocok tak lepas-lepas
Tegalnya terikat lapar berat

Anjing menuruti tali

Tiba
di pangkalnya
Anjing melahap habis bangkai
Kota tak bau lagi

Tapi
Anjing
Tetap jijikan
Diusir-usir di mana pun ia
Dari rumah jagaannya sekalipun

Lima malam berselang
Setelah usiran terakhir
Tersiar kabar

Pengusir
Membangkai
Dadanya berlobang
Dan hatinya dimakan kucing
Penyuka bangkai dalam bentengan dadanya

Siapa suruh
Menyimpan bangkai

Baobolak, 02 Juni 2011
Perteguhen, 16 Aparil 2022






Jumat, 15 April 2022

Tauke Arang

Photo by Pixabay from Pexels




Arang
Sehitam ini pun
Boleh untuk menuliskan namamu
yang putih itu?

Kalau tidak
Masukkan saja
Ke dalam besi seterika arang
Untuk menggosok jubahmu itu, Tuhan

Ia pun mau
Malah jadi tauke arang
Hingga ke kampung-kampung
dan aku langganan tetapnya sampai sekarang

Berastepu, 07 Agustus 2011

Selumbar dalam Mata

Foto oleh Leonardo Luz dari Pexels




Diam
tenang sahaja pun
Sudah menyakitkan
Apa lagi gerak, menghindar-hindar tak karuan

Tubuhku
Kasar dan tajam-tajam
Mengapa pula peluk kelopkmu
menawanku lama-lama di dalam sini?

Sengsara
Tak memelukmu, jawabnya
Sambil menyelimutiku dengan kain hangatnya
Ia membisikkan ini

Selamat
Tinggal di sini

Teluk Sasah, 13 Februari 2003