Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 13 Juni 2020

Rumah Tua

Rumah Tua, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Daniel Wander from Pexels



Di sini, di rumah ini
Aku telah bertumbuh
Dengan segala apa adaku.

Di sini, di rumah ini
Rumah tua yang kusayangi
Di pojok situ, ayahku selalu
Rebah istirahat sepulang bekerja
Sambil memegang radio kecilnya
Penyiar BBC menjadi temannya
Yang setia

Dan aku, harus duduk di mejaku
Sambil memelototi peer-peerku.
Penjaga setia tetap mendengarkan
Berita seputar dunia ...

Kadang kubenci saat-saat itu.
Karna temanku sudah berteriak
Di balik jendela kamarku ...
Ayooo ... kita main dulu
Sebelum sore berlalu

Dan ibuku dengan mengangkat
Separuh jaritnya, keluar menggertak mereka
"Jangan diganggu! Masih belajar!"
Kadang aku kesal, karena sesudahnya
Pasti aku jadi olokan para sahabatku

Tapi kini, itu tinggal kenangan masa remajaku.
Tak ada lagi penjaga diri
Atau yang selalu mengingatkan daku

Kini, di sini ...
Aku sendiri melangkah melewati
Perjalanan suny ...

Sesudah waktu berlalu
Rumah tuaku
Tinggal jadi kenangan
Hadirnya ayah bundaku.

Rumah tuaku mengukir kisah
Manisnya menjadi seorang anak
Disayang dan dijaga bagai permata
Dibimbing  dan dituntun
Bertumbuh menjadi anak santun

Rumah tuaku
Menjadi saksi cinta ayah ibuku
Terima kasih ayah
Terima kasih bunda
Cinta pertama ada di rumah tua

Rumah tua ...

Palembang, paskah kedua: 19.09

Larut

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Larut, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by cottonbro from Pexels

Pagi menjelang
Aku masih terjaga,
Seperti ikan dalam akuarium
Bergerak, bergerak, dan bergerak

Pikiran tak lagi diam,
Seperti pada harian biasa
Raga seolah meminta,
Trus untuk bekerja.

Ada apakah gerangan raga?
Mengapa engkau meminta
Lebih dari biasa

Mari antar jiwa,
Istirahat pada sang bunda pertiwi
Untuk sesaat meminta energi
Agar esok bugar kembali
Bekerja penuh untuk ibu pertiwi.

Selamat pagi bunda,
Antarkan jiwa terlelap
Untuk sejenak berharap
Pada sucimu energi
Bundaku Ibu Pertiwi.

Palembang, paskah ke 2 2020: 01.45

Bunga dan Tuan

Bunga dan Tuan, Puisi Mariunity Destiny
Photo by cottonbro from Pexels



Tersibaklah halaman pertama
Ceria antarkan tanya pada bunga
Tiada mekar buatnya berkelana
Tercurah, berpaling tanpa kata

Halaman akhir tanpa keindahan
Musnahkan kasih dan sanjungan
Terbengkalai sepanjang jalan
Jerit hati tak tertahan

Tatap tertuju sebuah bayang
Jauh raga tak terelakkan
Namun jiwa tak tergantikan
Lepaslah genggaman, wahai tuan

Kulon Progo, 16 Oktober 2019



dari buku berjudul Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28 halaman 6

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:

Jumat, 12 Juni 2020

Perempuan di Betania

Perempuan di Betania, Puisi Lodevika Endang Sulastri
https://images.app.goo.gl/aZdG9s13mjKc363x5


(inspirasi Injil Yoh 12:1-8)

Perempuan muda itu terduduk,
Sambil menangis disambutnya kaki Tuhan
Dipegang dan dipeluknya dengan sesenggukan pipi penuh air mata,

Dibukanya botol minyak narwastu ...
Aroma harum menguar seluruh ruang
Seluruh mata tamu dan para lelaki ...
Memandang tajam mencemooh
Namun Tuhan diam saja, membiarkan semua tampa kata

Dibalurkannya minyak mahal itu
Di kedua kaki Tuhan sambil terus membasuhnya dengan rambutnya yang terurai

Di punggung perempuan itu
Sungguh kulihat perendahan dirinya.
Air matanya penuh cahaya humility
Di tangan mungilnya terus membalur kaki-Nya dengan minyak narwastu..
terlihat jelas pengorbanannya.

Adakah mata tetamu melihatnya?
Jangan-jangan sungguh sia-sia pelajaran Tuhan hari ini
Karena kedegilan manusia
Serta keangkuhan martabatnya 

Di aroma minyak narwastu terlihat jelas,
Kemurahan hatinya dipersembahkan
pada Tuhan yang dikasihinya.

Ketika Yudas memprotes perempuan itu,
Melakukan pemborosan dan alasan membela rakyat miskin pun,
Bahkan Tuhan mengatakan: biarlah dia mengingatkan hari penguburanku...

Oh indahnya menjelang Paskah ...
Mengingatkan betapa baiknya Tuhan
Dan perempuan itu mengoles kembali
Minyak narwastu di kaki Tuhan.

Aroma parfum narwastu menguar
Menggugah kesadaranku
Di hadapan-Nya
Kupandang dengan jelas
Tubuh gagah-Nya mengalir darah
Dan tertikam lambung-Nya.

Palembang 12 June 2020: 22:06


Bukan sesiapa

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Bukan sesiapa, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Pixabay from Pexels



Aku bukan sesiapa
Aku bukan apa-apa
Aku hanya sebutir debu
Yang lewat di pelupuk matamu

Aku tak perlu kauresahkan
Aku bahkan tak punya hasrat
Untuk menjadi pesaingmu
Cukuplah aku duduk di sudut
Dan memandang semua ruang

Aku bukan sesiapa
Yang pantas kaujadikan rival
Karena aku cuma sekadar
Numpang lewat sesuai kalender-Nya

Alih-alih jadi tukang catat sejarah
Yang lewat sambil berdrama
Memperebutkan sekeping emas
Pembayar penyakit di masa tuanya

Aku bukan sesiapa ...


Palembang, 12 June 2020, 21:36


Romantisme Perahu Kertas

Romantisme Perahu Kertas, Puisi Silivester Kiik
Gambar Teresa Gowinda Artati


Di sebuah kamar rumah tua yang rapuh dinding-dindingnya
Lembaran kertas-kertas putih bertuliskan angka menjadi pelampiasan gejolak benak
Ingin mengatakan sesuatu pada suasana yang sangat melelahkan raga
Biar mengajarkan arti tentang kemenangan dalam sebuah kenangan
Perlahan jemari menyatukan ragam lipatan-lipatan yang menyakitkan
Bergegas mencari wajah dunia lewat ketenangan air di bak mandi yang berlumuran lumut
Sambil berkhayal menelusuri lebih dalam walau terombang-ambing seperti gemuruh di tepi pantai
Hingga letih sembari menyusun harap merangkul sesuatu yang bakal abadi
Waktu perlahan pamit meninggalkan asa lewat sirnanya perahu kertas ini
Lirik sebuah lagu rindu kudendangkan bersama hembusan angin malam
Sebab sumbu keinginan yang bermantra bertengger menyambut asap dupa
Lalu mengantarkannya pada semesta untuk merasakan romantisme hidup
Dalam diri terbingkai lorong rahasia kegelapan duniawi
Tercipta untaian kenangan selagi hujan mengguyurkan rasanya
Siap menuntun ke garis setapak yang penuh karang-karang tajam
Demi keutuhan sebuah nama di langit senja

Atambua, 21 Januari 2019


dimuat dalam buku Romantisme Perahu Kertas: Kumpulan Puisi Januari 2019 #4 halaman 59

Pembacaan puisi ini bisa dilihat di video berikut:

Kamis, 11 Juni 2020

Karena Kasih-Nya

oleh Lusia Yuli Hastiti

Karena Kasih-Nya, Puisi Lusia Yuli Hastiti
Photo by Lusia

karena kasih-Nya
kita telah bertemu dalam sukacita
menjalani cinta
yang sudah ditentukan-Nya

remuk redam duka di dada
ditenggelamkan oleh arus bahagia
harum merekah seperti bunga
saat merasakan madu dari surga

oh, Kanda yang jauh di sana
dalam matamu yang ceria
kupungut bunga percaya
pelerai rindu, penyejuk jiwa

Lampung Timur, 11 Juni 2018


Puisi diambil dari Kumpulan Puisi Maret 2019#3
#Perempuan di Atas Bukit#halaman 19