Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Sabtu, 09 Mei 2020

Merajut Harapan di Ujung Pandemi

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Merajut Harapan di ujung Pandemi, Puisi oleh Lodevika Endang Sulastri
Foto: Siswa SMP Xaverius 3 Palembang



Masih kulihat di ingatan,
Kalian duduk menanti kakak angkatan
Untuk mendapat pandangan
Tentang sekolah baru kalian.

Kalian bawa harapan
Untuk belajar dengan ceria
Dari yang pernah kalian lihat
Dan di sini kalian duduk bersiap

Ruang-ruang baru, koridor baru
Wajah-wajah baru tersenyum
Tangan terbuka menyambut
Berharap kalian menjadi keluarga
Di sekolah kita bersama

Kini, hari ini hari baru
Dengan semangat memburu,
Di pintu gerbang kami menyambut,
Adik-adik baru di satu pintu

Menjadi kawan, adik dan kakak
Dalam kebersamaan belajar
Dalam keceriaan senam di hari Jumat
Atau keriaan pekan pramuka

Adik-adikku yang penuh ceria ...
Bersegeralah datang ke sekolah
Walau hanya bisa angkat seluler
Karana pandemi ini belum usai juga

Mari kita bersama merajut
Hari-hari muda kita di sekolah
Dengan setumpuk cita dan cinta
Untuk guru, sahabat, dan teman dekat

Kami sambut dengan selendang Turak Dewa
Dan teriakan gagah Paskibra
Untuk mengantar bendera Sang Saka
Di langit biru Palembang Jaya ...

Ayo adik adik tercinta
Kita siapkan seragam baru kita
Dari merah menjadi biru
Tanda kalian sudah lebar bahu

Agar mandiri dan tanggung jawab
Sebagai siswa Xaverian
Tuk mengisi kemerdekaan
Dengan semangat Bhineka Tunggal Ika

Palembang, Minggu 10 Mei : 11.21


Di Pokok Sawit Kugantung Mimpiku

Di Pokok Sawit Kugantung Mimpiku, puisi Miekedimiaty
Photo by Leah Kelley from Pexels


Di pokok sawit kugantung mimpiku
Pada pelepahnya yang hangat kutitipkan tidurku
Pada desau angin yang menyentuh daunmu yang gemerisik bercanda dengan malam
Kutitipkan pesan dengan bisik-bisik tak terdengar, meragu dan bias

Di pokok sawit kutebarkan jala-jala harapanku
Pada buahnya yang ranum merah menjingga
Pada hujan yang lebat yang kausukai, bijimu memekar tertawa pada mentari yang menyuram
Kulafazkan doa-doa panjang sisa tangis kemarin, masih terisak

Di pokok sawit kueluskan tanganku mengirim telepati padanya
Memohon kekuatan dari batangnya yang kokoh hitam
Pada serabut yang menyembul dari sisa potongan panen
Kudengarkan dia berkata, “Untuk memberimu buah, tanganku harus diamputasi.”

Di pokok sawit kugantung mimpiku
Mimpi tentang mimpi yang indah
Pada biji minyak yang bersembunyi di balik pelepah yang sunyi
Pada rimbunan pokokmu yang sangar dalam sepi
Dalam lelah seberat kemarin, tangan yang kapalan
Kubawa pulang mimpiku pada tikar lusuh dan kopi hitamku

diambil dari buku Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019 halaman 40

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:


Terima kasih atas apresiasi penulis, Ibu Miekedimiaty yang diposting di komentar FB, 09 Mei 2020:

"Miekedimiaty Terima kasih komunitas Guru Menulis atas apresiasinya bagi setiap karya kami yang kami sadari produk penulis pemula dengan banyak kekurangannya. Untuk pertama kalinya juga dapat mendengarkan pembacaan puisi sendiri. Latar belakang kami yang bukan pelajar sastra tidak pernah memungkinkan untuk berkesempatan mendengarkan pembacaan puisi. Jadi sungguh kami terharu puisi ini terpilih menjadi salah satu yang dibacakan. ðŸ˜‡
Puisi bukan produk sastra yang komersil karena itu nyaris tidak mendapat tempat di hati masyarakat dan terkesan diabaikan. Tetapi di dunia Guru Menulis, tidak ada puisi yang disebut rongsokan dan tidak berharga. Semua luahan hati dan goresan tinta seseorang dihargai habis-habisan. Saya merasa diterima di sini.😇😇
Terima kasih."

Jumat, 08 Mei 2020

Aku Rindu Kalian, Anak-anakku

Aku Rindu Kalian, Anak-anakku, Puisi oleh Lodevika Endang Sulastri
Foto Lodevika Endang Sulastri


Lebih dua bulan tak kulihat lagi
Lenggang lenggokmu, anak-anakku
Ruang sanggar tari kalian kosong,
Lapangan tak riuh lagi

Teguran lembut guru tarimu,
Tak kudengar lagi
Aku merindukan suasana kalian.

Senyum kalian di antara gema Ya Saman
Atau lenggok tari Jepun kalian
Lambaian tangan-tangan mungil
Mengiring gema tari Turak Dewa,
Ambyar tak berbekas ...

Aku rindu celoteh kalian, anak-anakku
Kapan lagi kan kulihat dari ujung kantor
Keseruan gelak tawa di antara latihan
Bahkan wajah cemberut  bila kelelahan

Sungguh ...
Aku rindu kalian semua anak-anak
Yang berbakat dan setia belajar
Membentuk diri dan kepribadian
Sejatinya budaya bangsa kita

Aku rindu ...
Gemerlap merah kuning hijau kebaya
Jarik-jarik berkibar di antara kaki-kaki kecil dan kuatnya kalian berpanas di lapangan
Saat harus gladi bersih demi tarian-tarian
Yang ingin kalian tampilkan.

Aku rindu kalian, anak-anakku.


Nelangsa

oleh Lusia Yuli Hastiti
Nelangsa, Puisi Lusia Yuli Hastiti
Photo by Pexels


siang yang panas ini,
halamanku menjadi kering
daun-daun mulai pasrah
diterbangkan oleh angin.
dalam kondisi itu,
aku melihat sederet impian
yang kian retak tak berdaya

aku melihatnya di rumah sakit;
tentang raga yang tak lagi kuat
menahan sakit yang menderanya
ia juga menanti kehadiran ayah
yang diharap sebentar bisa mendekapnya.

impian yang retak itu
juga ada di jalan nestapa;
tentang seseorang yang telah
memiliki apa yang diinginkannya,
namun hatinya sungguh perih
ketika ingat bahwa
ia merindui kasih sayang ibunya.

impian yang retak juga kutemukan
pada lara seorang renta
anak lelaki yang dikasihi dan diharapkannya
mati tenggelam di danau sana
tubuhnya sudah hampir hancur
saat bertemu dengan ayahnya

impian yang retak
sering kutemukan di depan mata
retakannya menimbulkan
luka di bagian dada
dan bila kaubaca puisi yang ini,
maka kau akan nelangsa.
kau punya rasa nelangsa yang lain?

Lampung Timur, 8 Mei 2018


Warisan Semangat Xaverian

Warisan Semangat Xaverian, Puisi oleh Lodevika Endang Sulastri
Foto Lodevika Endang Sulastri


Tingkah kalian yang lucu, anak-anakku,
Membuat aku tersenyum dan bangga
Kalian selalu berani mengungkapkan
Jati diri melalui apa yang kalian miliki.

Canda, gurau, dan sindir  kalian, anakku
Membuat hati terhenyak menatap diri kami
Di layar kaca refleksi

Kebenaran dan kepolosan kalian
Membuat kami yakin, kalian inilah
Manusia-manusia Indonesia masa depan
Kelak kami akan pulang dengan bangga

Kerja sama yang kalian bentuk
Kegesitan kerja kalian anak-anakku
Aroma sedap langkah gurumu
Sikap taat dan disiplinmu
Adalah warna Xaverianmu
Kekompakan yang kalian miliki
Adalah warna lukis tangan para gurumu

Rasa hormat yang kalian miliki,
Warisan orang tua dan pendampingmu
Tak ragu bila kami melepasmu
Setelah kalian selesaikan
Tugas belajarmu di ruang-ruang sekolah ini

Fokus dan atensimu pada sesamamu
Kebanggaan yang bisa kami nikmati
Keluarlah dari pintu gerbang sekolahmu
Carilah yang lebih tinggi agar kalian
Membentuk  dirimu yang sejati

Berjalanlah lebih jauh lagi
Dan berhati-hati serta waspadalah
Gar menjadi pribadi sigap tangguh
Dan kami hanya bisa melambai
Sambil mengucap
Kulepas kalian berjuang ...
Di medan yang sekarang ...

Seutas Rindu yang Tertinggal

Seutas Rindu yang Tertinggal, puisi Mufarihah Iha
Photo by Luis Fernandes from Pexels


Ingin rasanya kugantung rindu di kerling matamu
Agar dirimu tahu betapa rindu ini menumpuk laksana salju
Dingin ... menghias bilik-bilik hati
Sepi ... menjalari ruang-ruang hari

Terlalu lama hati ini menyisakan cerita rindu 
Pada rona kuyu berbalut senyum tanpa makna
Hingga membekas jadi guratan di wajah
Menua menunggu saat pertemuan bermakna

Jikalau saja kautahu
Betapa rindu ini menunggu seutas harapan
Untuk sajak pertemuan bermakna
Meski entah kapan saatnya

Pastinya kata-kata rindu ini
Akan mencair pada kuluman senyum bahagia
Tak lagi hanya sebatas kisah dan harapan
Tak lagi menjadi hiasan malam tanpa batas

Sungguh ... merengkuh rindu ini 
Seperti menahan gejolak rasa tak bertepi
Mengganggu rasa yang masyuk terpendam
Selalu saja menyeruak muncul pada mozaik tepian hari

Sejatinya tak layak manjakan rindu hingga ke pucuk harapan
Sejatinya ... biarkan rindu ini liar pada rangkaian masanya
Menjadi penghias indahnya kelakar dan amarah di pusara cerita
Menjadi diksi indah di tepian mimpi dan jejak masa lalu

diambil dari buku Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019 halaman 31

Berikut pembacaan puisi Seutas Rindu yang Tertinggal

Adakah Senin Ceria Kembali

Adakah Senin ceria kembali, Puisi oleh Lodevika Endang Sulastri
SMP Xaverius 3, dok. Lodevika Endang Sulastri


Di dingin pagi kami menikmati
Warna-warna seragam kami
Dan ceria wajah anak-anak kami
Dengan bangga membawa bendera
Dengan tegap berbaris sigap

Suara tegas Pengibar Bendera
Dan lantunan lagu Indonesia Raya
Itu semua kami rindukan
Di saat-saat seperti ini.

Langkah tegap Inspektur Upacara
Wejangan singkat Pembina Upacara
semua serasa masih dekat di mata
Tak terasa itu sulit dieja
Di saat corona meraja.

Hari Senin awal bekerja
Serasa masih menyapa
Teriakan kolega kita
Menegur anak-anak yang tak bersegra
Seolah dunia tak berhenti
Ketika kunikmati kesibukan pagi

Masih adakah Senin ceria?
Yang menggugah semangat bekerja
Karna ada rindu bertatap muka
Dengan siswa, kolega, dan atasan
Dan orang tua murid yang senantiasa
Menanti pulangnya ananda
Di pintu gerbang sekolah kita

Wahai para guru dan sahabat pendidik
Mari kita berdoa pada Yang Kuasa
Agar diberi kemurahan bagi negri
Bersegeralah pergi Putri Corona ini
Hingga kita bisa mulai lagi
Pendidikan bagi bangsa ini.

Wahai para ibu dan anak anak negri
Tetaplah di rumah saat ini
Mari kita beri waktu bagi bumi
Untuk bersih diri agar suci inti bumi
Untuk kita tinggali dan kita nikmati

Wahai para penghuni negri
Mari satu hati kita yakini
Bahwa bumi kita ini
Sedang berbenah agar seimbang lagi.

Palembang, 8 Mei 2020