Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Jumat, 08 Mei 2020

Ini Lapangan Bola

Ini Lapangan Bola, Puisi oleh Lodevika Endang Sulastri
Lapangan SMP Xaverius 3 Palembang, dok. Lodevika Endang Sulastri


Ini lapangan sudah kosong ...
Tiada anak yang melenggang,
Tiada juga bola menggelinding
Dimainkan anak-anak dengan sukacita

Ini lapangan sungguh kosong ...
Tiada guru berjalan nuju ke kantin
Sekadar memeriksa jajanan atau duduk senggang
Tiada teriakan Pak Lasno sumbang
Menegur siswa berkelahi berebut bola
Atau sekadar plastik terserak.

Sungguh sunyi lapangan bola kebanggaan
Senyap merayap seiring mendung meratap
Hujan datang dengan sigap
Tapi tak lagi terdengar teriakan guru
Menegur anak main air hujan

Kapan lagi ya Rab, ... kapan lagi
Kan terdengar ceria anak bergosip lewat
Atau lapangan ini penuh dengan tegasnya
Suara Inspektur Upacara bergema ...
Dan pengumuman lembut
Ibu Kepala sekolah menyapa para siswa.

Ini lapangan bola ...
Sungguh senyap dan tak berbekas
Dua bulan tak ada aktivitas
Hanya sesekali suara serak sapu lidi
Teknisi bekerja sambil berzikir
Segeralah sekolah kami
Aktif kembali membawa sukacita hidup
Pendidikan di negeri ini.

Ya Rab ... kami berharap ...
Segerakan selesai musibah negri
Agar anak anak kami
Bisa bermain dengan ceria lagi.



.

Kamis, 07 Mei 2020

Swesti Amelia



Pengabdian menjadi guru dimulai dari menjadi guru honorer yayasan di SD Plus Marhamah Kota Padang. Alhamdulillah setelah mengikuti tes dinyatakan lulus dan ditempatkan sebagai guru PNS di SDN 20 Lareh Nan Panjang, Lintau Buo Utara, Tanah Datar pada tahun 2006. Dari tahun 2015 sampai sekarang menjadi tenaga pengajar di SDN 15 Baringin, Batusangkar.

Menulis adalah mimpi yang ingin diwujudkannya. Semenjak bergabung bersama SGI (Sekolah Guru Indonesia) program School of Master Teacher Dompet Duaffa mulailah terbit beberapa tulisannya di media lokal daerah dan juga beberapa buku antologi Komunitas Guru Menulis serta buku tunggal.

Beberapa artikel pendidikan, puisi, dan pantun tergabung dalam sejumlah antologi. Kumpulan Artikel Pendidikan Komunitas Guru Menulis Cura Minimorum (Lingkarantarnusa, 2017), Kumpulan Artikel Pendidikan Komunitas Guru Menulis Guru Kudet (Lingkarantarnusa, 2017), Kumpulan Pantun Komunitas Guru Menulis Guru Berpantun (Lingkarantarnusa, 2017), Kumpulan Pantun untuk anak-anak Pantun Anak (Lingkarantarnusa, 2017), Kumpulan Puisi untuk Anak Matahari, Bulan, Bintang (Lingkarantarnusa, 2017), Kumpulan Puisi Kaulah Pahlawanku (FAM Publishing, 2017), Kumpulan Puisi Waktu Teduh (Lingkarantarnusa, 2018). Serta Antologi 11_hari-menulis_fiksimini_5 Drama rusuh di Pasar Kita ( Yayasan Anak Bangsa Kota Bogor, 2020)

Telah lahir juga beberapa buku tunggal yaitu Guru Berpantun (Kun Fayakun, 2018), Pintar Membaca (2019), Asyik Belajar dengan Gambar (Balai Insan Cendekia, 2020).

Kritik dan saran atau berbagi kisah bisa dialamatkan ke swestiamelia@gmail.com


Karya Tunggal Bersama Komunitas Guru Menulis: 



Judul tulisan: Pembelajaran di Tengah Pandemi Corona





Guru Kudet, Menjadi Pendidik Masa Depan, Meneroka Sempena #2 Kumpulan Artikel Pendidikan Komunitas Guru Menulis
Judul tulisan: Kelas Berkelas Istana



matahari bulan bintang Kumpulan Puisi untuk Anak dan Remaja
Judul puisi:
Matahari
Ibu
Alam Desaku
Hujan
Rumahku Istanaku
Siswa Hebat
Sakit
Sampah
Kelinciku
Hidup sehat
Kebunku
Bermain di pantai
Bu Tani
Surat untuk sahabat
Liburan yang menyenangkan
Hujan
Anak sekolah
Guruku
Adikku
Lampu
Kupu-kupu yang lucu
Membaca
Meja mungilku
Ibu Guru
Banjir Melanda
Jam Dinding kamarku
Mimpiku jika besar nanti
Desaku yang permai
Ulang tahun
Menghadap Allah





Waktu Teduh: Kumpulan Puisi Komunitas Guru Menulis
Judul puisi:
Diam ~ 13
Rindu ~ 13
Kenapa Begini ya ? ~ 14
Zikir ~ 15
Doa ~ 16
Tekad bulatmu ~ 17
Cake itu Lecet ~ 18
Pergilah Penjajah ~ 19
Mengenangmu Wahai Pejuang ~ 20
Kaulah Pahlawan Kemerdekaan Itu ~ 21









Judul tulisan: Kasihmu Sepanjang Jalanku



3 Alinea Cinta
Judul tulisan: Berawal dari SK




Kritik dan saran atau berbagi kisah bisa dialamatkan ke swestiamelia@gmail.com

Alam yang Berdendang

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Alam yang berdendang, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Pixabay from Pexels


Bianglala membuka cakrawala
Mengantar pada senja benderang
Langit biru membentang
Tanda kehidupan akan normal

Iklim kembali suci ...
Bak berjalan pulang dari perjalanan
Yang melelahkan jiwa
Karna beban berat ditanggungnya
Bagi seluruh dunia ...

Suasana wangi aroma senja
Terasa polusi menghilang
Seiring kendaraan mangkrak di garasi
Dan pabrik pabrik terhenti

Ada indahnya bila dirasa
Sang putri corona anjangsana di dunia kita
Meski banyak pengorbanan di altar iman
Mayat tergeletak di bumi pertiwi
Tiada yang merawat membawa aroma tersendiri

Betapa besar harus kami tanggung
Derita dunia, manusia dan mahluk lainnya
Hanya untuk mengubah kekeruhan bumi
Menjadi jernih bak cahaya mentari.

Satu tahun membayar seratus tahun
Seperti hitungan matematika
Tapi ternyata itu realita ...
Tangan tangan kami terlalu banyak noda
Melukis bumi selama seratus tahun.
Dengan dosa dosa ekologi
Kami tersadar bumi telah oleng
Terlambat tapi masih mungkin selamat.

Tuhan tolong buka hati kami
Segerakan mendengar ketukan suara alami
Supaya bumi tak bocor lagi
Karena ulah bodoh kami.

Beri kami kebesaran hati
Agar mampu berbenah diri
Sendiri adalah mustahil,
Karna  bersama kami hidup

Hayati menjadi bagian alami
Hai bumi ... hai mentari ...
Perdengarkan pada telinga kami
Sosok-sosokmu yang perkasa.
Wahai air ... dan engkau desau angin
Pertemukan jiwa kami dalam irama
Antara logam, kayu dan lainnya
Adalah bagian dari raga
Kita satu tapi terpisah
Kita terpisah tapi menyatu.

Engkau desir alam ...
Bisikan suara kasih bagi kami
Yang rindu belaian kalian
Agar kita bisa bernafas seirama.

Wahai alam semesta ...
Sang Budha yang menjelma
Wahai Isa ... yang terentang memeluk bumi ...
Kami sujud mengerti dan memahami ...
Hanya dalam keseimbangan kita bisa
Kembali ...
Alami.






Balada Ban Luar

Balada Ban Luar, puisi Tri Purwanto
Photo by Jorge Fakhouri Filho from Pexels


Asli orisinil,
Dari bengkel resmi,
Bergaransi pabrik,
Meski tujuh hari.

Dipakai awet,
Melesat secepat roket,
Direm tak pernah meleset,
Berhenti bagai permen karet.

Walau ban dalam,
Ganti dwi kali,
Namun ban luar,
Tak tersaingi.

Ada harga ada rupa,
Membeli kucing di dalam karung,
Baik terlihat buruk terkuak,
Menyeleksi kabar murah mendengar.

Sukoharjo, 8 Agustus 2014

diambil dari buku Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019 halaman 2

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:

Rabu, 06 Mei 2020

Sebening Mimpi Kita

Sebening mimpi kita, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Engin Akyurt from Pexels



Dentang dua belas jam dinding
Baru beranjak tanda selesai malam
Diawali pagi dini ...
Mata menatap gelapnya suasana
kaca jendela ...

Aku kembali mengalih pandang
Tertera nama di layar seluler
Puluhan tahun tak lagi jumpa
Tapi nyata ... ada

Ingatan jauh merambah
Persahabatan di kota lama
Solo balapan tempat biasa
Jemput sahabat datang

Tak terasa perjalanan tlah sampai
Di sini di kota asing menjadi rumah
Telah pergi peristiwa demi peristiwa
Bahkan sosoknya yang selalu menyapa

Kini di sini ...
Aku menatap kembali nama dan wajahnya
Dunia sudah berubah
Segala jauh dan dekat mudah diraba
Hanya layar kaca yang menjadi perantara

Kini di sini ..
Aku hadir dan merasakan
Denyar persahabatan yang tlah lama
Lenyap bagai ditelan bumi

Sosokmu hadir dalam lain suasana
Dan aku menyadari
Terhubung ... meski menghilang
Dekat namun jauh ...
Jauh di mata dekat dalam ingatan

Sahabat ...
Akankah waktu juga mengatakannya
Seperti kini aku bicara
Dari hati ke hati lewat media
Meski tak banyak berharap ...

Aku tetap percaya ...
Tuhan punya rencana indah
Untuk kebersamaan baru kita
Entah kapan ...

Biarkan mimpi itu terbang
Bersama angin dingin dini hari
Saat kutulis kisah ini
Dalam layar kaca bening ...
Sebening mimpi kita ...

Palembang, 4 mei 2020
Saat terhubung oleh mestakung



Secangkir Kopi


Puisi Secangkir Kopi oleh Tung Widut
Photo by Lisa Fotios from Pexels


Le … malam sudah makin pekat
Embun turun perlahan tak mau mengusikmu
Antara secangkir kopi yang sudah tak berair

Kaukorek lagi untuk mengepulkan asap dari ujung batang berukir cethe
Jari kekarmu menarik lepas kaca licin bergambar
Kautatap jauh ke dalam

Menembus sampai ke dasar hati

Le ... pulanglah sementara
Berjuanglah tidur di atas kasur empuk berbantal
Susunlah mimpimu dalam hidup mendatang
Saat tiba waktunya bebas memilih
Tapi bukan sekarang

Le …
Lelapkan malam ini
Biarkan mereka mengagungkan dan bangga. Hitamnya malam
Menjadi dalang tak berwayang
Menanti pulung yang tak berpayung
Mencari angan yang tanpa bayangan

Le … rebahkan badanmu
Tutup kelopakmu pelan
Dan bukalah perlahan ketika pagi menyapamu 
Menemanimu mengurai harapan di atas kertas ujian

25022019


diambil dari buku Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019 halaman 60

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati dalam video berikut:


Selasa, 05 Mei 2020

Tapi Siapa

Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Akwice from Pexels


Malam melarut,
Kidung Maria berlalu,
Memecah keheningan

Suara jangkrik malam
Mengantar nyenyak dalam irama nafas.
Teratur ...
Aku masih terduduk,
Di kejauhan ketok mangkok bakso langganan
Menjauh ...

Aku masih terduduk,
Sambil menatap sulur daun sirih belanda
Tergoyang, embus lirih angin malam
Seolah menggoda

Aku juga masih terduduk
Saat getar selular di samping meja
Diterangi nyala lilin tinggal
Sepenggal,

Kubuka inbox
Have a closed (best friend) 
is a treasure. May you enjoy
your day today. Don't forget
Yesus love us, more than anyone
God Bless"
Aku masih terduduk ...
Tapi siapa?

Ragu

Tatap nanar di bulan penuh,
Sedesah tanya lalu,
Mengapa masih tersisa
Sepotong ragu,
Untukmu, sobat

Saat kuingat,
Di matamu yang binar,
Ada terpercik rahasia,
Di balik senyummu!

Aku tergugah,
Tapi
Apa?

Di simpang jalan ini ...
Aku mulai bertanya ...
Dan tak terjawab,
Bahkan bulan yang menemaniku malam ini,
Enggan menjawab,

Dan tak pernah terjawab
Pun saat kumatikan nyala lilin di kamarku
Dan kurebahkan badanku
Setengah mengeluh ...
‘’Tuhan, kuserahkan hidupku hari ini pada-Mu"


dari buku Sepotong Bulan Bertengger di Balik Jendela: Kumpulan Puisi Oktober 2018 #2 halaman 22-23

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati dalam video berikut: