Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Kamis, 23 Juli 2020

Di Balik Angka Dua Puluh Tiga

oleh Lusia Yuli Hastiti

Di Balik Angka Dua Puluh Tiga oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by Pexels.com


di balik angka dua puluh tiga
dulu, sewaktu segala mimpi hendak diraih
dan segenap asa telah mengembang
tunas muda tumbuh bersama
bunga yang mekar dalam hati
dulu, di sini pula saat bunyi hujan
dan gerak pena bersahutan
dengan detak jantung
menjelma gitar yang mengalun
mencoba menerjemahkan sepi

kini, di balik angka dua puluh tiga
membentang luka pada mata
tak ada lagi suara gitar
aku sepi menyanyi lagu
yang biasa kaunyanyikan
tertatih mengeja huruf-huruf
pada langit dan menuliskannya
menjadi bait-bait puisi
di balik angka dua puluh tiga
lengang menegang
membayangkan yang memang hilang

Lampung Timur, 23 Juli 2018

Puisi diambil dari Kumpulan Puisi Juli 2019
#Hujan dan Sepotong Kenangan#halaman 49

Selasa, 21 Juli 2020

Tobias Nggaruaka, Anggota Komunitas Guru Menulis dari Merauke



Tobias Nggaruaka, S.Pd., M.Pd. Dilahirkan di kampung halamannya Uwuta/Iromoro, 19 Oktober 1988, Distrik Tabonji, Kab. Merauke-Papua.  Anak dari  Bapak Lambertus W. Rembe dan Ibu Adela Awi. Penulis memperoleh  gelar  Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Musamus Merauke (2013) dan Magister  Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang (2017).  Pernah mengajar di SMK St. Antonius Merauke (2014) dan juga SMK Kesehatan Yaleka Maro Merauke (2014) sebagai guru tidak tetap (GTT). Sejak tahun 2015  hingga sekarang mengajar di Universitas Musamus Merauke sebagai dosen  tetap di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Buku Antologi bersama komunitas Guru Menulis yang telah terbit: Menjeda Jagat Memeluk Hakikat: Puisi-Puisi Refleksi Atas Corona (2020), Menyukat Kesemenjanaan Kita: Kumpulan Artikel Refleksi Corona (2020).  Penulis juga menulis artikel ilmiah baik nasional maupun internasional yang telah diseminarkan.

Karya Bersama Komunitas Guru Menulis

KARYA TUNGGAL

Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi karya Tobias Nggaruaka
Judul puisi:
Mama (1)
Mama (2)
Sang Bapak
Berseri di Wajahmu
Berutang
Tertata Rapi
Tetesan Air Mata
Berdandan Masa Kini
Musamus
Potret Wajah Si Gadis Berkarung (1)
Potret Wajah Si Gadis Berkarung (2)
Hening
Sungai Iramunda
Menatap
Revolusi Industri 4.0
Renungan
Menafsir
Menatap
Bayangan
Hening
Cahaya Pagi
Awali Hidup
Mimpi Kita
Cahaya Mentari
Aku Ingin Mengukir
Sepotong Perjalanan
Mutiara Hitam
Kita Harus Memulai
Hampa Hidupku
Berguguran Daun
Berdiam Seribu Bahasa
Janjimu
Untukmu Mama Joyce Lin
Tiada Lagi Keceriaan
Cinta Kita Bagi Mereka
Karakter Kini 
Muslihat 
Pusaran Ibu
Petani Cilik
Apa Doamu Untuk kami
Sendu Hati
Kokoh dan Kerapuhan
Runduk
Dengarkan Aku
Covid itu Sangkar
Waktumu Tiba Juga
Covid dan Kriminalitas
Jalan Ketiga
Tuhan Aku Tak Berdaya
Lansia
Covid dan Sepi
Elias yang Diam 51
Cinta karena Butuh
Jalan Berduri
Jalan yang Sepi
Garda Depan
Masker Rajutan Ibu
Kelasku
Paskah yang Suram 


KARYA BERSAMA


Kuasa-Diri-Cinta: Puisi Akrostik
Judul Puisi:
Syukur (1)
Syukur (2)
Dear Untukmu
Kuntum Bunga
Berdandan
Lega Hati
Syair Cinta
Kisah Cinta
Wabah Covid
Renungan Kasih
Cemburu
Mawar Hati
Mandela
Febriane
Budayakan
Bahasa
Mekar
Cantik
Rembulan
Secangkir
Pandemi
Murung Muka
Mancing ikan
Tobias
Suami


Mengantepi Rasa Rambang: Kumpulan Kisah di Tengah Pandemi
Judul tulisan"Kehidupan Baru Kami dan Pandemik Covid-19"




Kala yang Tak Kusangka: Kumpulan Puisi Pandemi #2
Judul puisi:
Narasi Tentang Covid
Covid dan Rupa-Rupa Warna Hidup
Corona dan Pemulung
Covid dan Kecanduan
Dunia Berduka


Kerinduan




Menyukat Kesemenjanaan Kita: Kumpulan Artikel Refleksi Corona
Judul tulisan: "Pembelajaran Pascapandemi Covid-19 dan Tantangannya"


Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi karya Tobias Nggaruaka

Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi karya Tobias Nggaruaka

Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi karya Tobias Nggaruaka

Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi karya Tobias Nggaruaka


Kode: 0120040
Judul: Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi
Penulis: Tobias Nggaruaka
ISBN: 978-623-7421-21-4
Terbit: 21-Jul-20
Tebal: 78 (x+68) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000

Buku ini dicetak sesuai pesanan. Pesan 1 eksemplar pun akan kami layani. Untuk memesan buku ini, silakan hubungi yedijanusantara@gmail.com atau melalui pesan WhatsApp dan sampaikan Nama Pemesan serta alamat lengkap (dengan menyebut nama kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, serta kode pos)


Kata kunci: puisi, kumpulan puisi, tulisan guru, karya guru, Tobias Nggaruaka

Deskripsi: Buku antologi puisi ini merupakan sebuah karya tunggal yang menghimpun puisi-puisi dengan beberapa tema antara lain: kerusakan lingkungan hidup, sosial budaya, pendidikan, dan kesehatan. Dalam antologi puisi ini terdapat 59 buah puisi. Karya puisi tidak hanya sebagai sebuah untaian kata-kata yang dirangkai oleh penulis tetapi lebih daripada itu, di dalam puisi itu terdapat nilai-nilai kehidupan dan sekaligus sebagai bentuk refleksi kehidupan bagi penulis dan pembaca.

Daftar Puisi:

Mama (1)
Mama (2)
Sang Bapak
Berseri di Wajahmu
Berutang
Tertata Rapi
Tetesan Air Mata
Berdandan Masa Kini
Musamus
Potret Wajah Si Gadis Berkarung (1)
Potret Wajah Si Gadis Berkarung (2)
Hening
Sungai Iramunda
Menatap
Revolusi Industri 4.0
Renungan
Menafsir
Menatap
Bayangan
Hening
Cahaya Pagi
Awali Hidup
Mimpi Kita
Cahaya Mentari
Aku Ingin Mengukir
Sepotong Perjalanan
Mutiara Hitam
Kita Harus Memulai
Hampa Hidupku
Berguguran Daun
Berdiam Seribu Bahasa
Janjimu
Untukmu Mama Joyce Lin
Tiada Lagi Keceriaan
Cinta Kita Bagi Mereka
Karakter Kini 
Muslihat 
Pusaran Ibu
Petani Cilik
Apa Doamu Untuk kami
Sendu Hati
Kokoh dan Kerapuhan
Runduk
Dengarkan Aku
Covid itu Sangkar
Waktumu Tiba Juga
Covid dan Kriminalitas
Jalan Ketiga
Tuhan Aku Tak Berdaya
Lansia
Covid dan Sepi
Elias yang Diam 51
Cinta karena Butuh
Jalan Berduri
Jalan yang Sepi
Garda Depan
Masker Rajutan Ibu
Kelasku
Paskah yang Suram 



Minggu, 19 Juli 2020

Panorama Pada Suatu Malam

oleh Lusia Yuli Hastiti

Panorama Pada Suatu Malam oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by Pexels.com




(di beranda rumah berteman kopi setengah gelas)

hendak kauapakan lagi malam
yang telah larut ini, sayang?
aku sering diterbangkannya
tertatih-tatih,
lalu tertidur dipeluk dingin
panorama malam lebih sering
terlihat tenang untuk
rehat dan melepas penat
yang menggantung pikiran
sambil memandang bulan
yang belum genap setengah bentuknya

pada malam yang semakin pekat
tangkaplah semua kisah
yang berserakan bersama bintang
barangkali ada yang bisa kaubuat
balada atau syair pilu
mungkin juga cerita bahagia
dari dua sejoli

(di beranda rumah, kopinya tinggal ampas ketika sepotong bulan hampir memasuki dini hari)
"masuklah ke kamar dan tidurlah, sayang!"
aku mau menyusul bulan
masuk dalam peraduan

Lampung Timur, 19 Juli 2018

Puisi diambil dari Kumpulan Puisi Maret 2019#3
#Perempuan di Atas Bukit#Halaman 23

Jumat, 17 Juli 2020

Hasrat

oleh Lusia Yuli Hastiti

Hasrat oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by hdanimalswallpapers.com



walaupun aku bukanlah Shindunata atau Chairil Anwar,
tetapi aku benar-benar ingin
hidup seribu tahun lagi
seperti asunya Shindunata
atau binatang jalangnya Chairil Anwar,
aku ingin hidup seperti itu

sebagai manusia yang sudah tidak manusiawi lagi,
aku masih tetap menganggap hasratmu itu juga manusiawi
walaupun hingga kini, di otakku masih tersimpan pertanyaan,
di manakah rasa kemanusiaanmu bersembunyi?
saat aku menulis sajak ini,
perlahan aku juga bisa memahamimu
sungguh, keinginanku untuk menjadi asu
atau binatang jalang, sangat menggebu
hasratku untuk mengeluarkan dan menuangkan
kata-kata ini di secarik kertas,
juga tak terbendung lagi
aku membayangkan seperti itu pula
hasratmu yang tak terkendali
untuk mengeluarkanku dari hidupmu

hasrat itu memang tidak mengenal waktu,
setiap saat bisa muncul menguasaimu
walau aku sudah meneladan Yesus
yang telah memberikan kedua pipi untuk ditampar,
yang telah memberikan jubah ketika kau meminta baju,
namun keinginanku menjadi asu yang setia
atau binatang yang paling jalang,
juga semakin besar

aku juga bertanya, selain setia dan rela berkorban,
apakah asu juga merasakan putus asa?
berlari membawa kepedihan yang tak terperi
dan luka yang tak terobati
apakah kau juga tahu,
tanganku pun begitu gatal
untuk mempertemukan mata pena dan kertas putih?
karena sudah ada perjanjian
antara garis tangan dengan buku kehidupan
sepertinya hasratmu juga sama
tanganmu juga begitu gatal
ingin menghapus namaku dari hatimu
atau mengcongkelku dari kisah panjangmu

ini adalah sajakku yang paling panjang
sajak yang bercerita tentang cita-cita baruku
untuk menjadi asu atau binatang jalang

Lampung Timur, 09 Juli 2020
#A Poem A Day

Kamis, 16 Juli 2020

Anjing Emas

Puisi Yerem B. Warat
Photo by Hilary Halliwell from Pexels



Anjing itu datang
Bersujud di depanku
Seperti pengemis rendahan
Di hadapan takhta sang raja agung

Aku membiarkan ia 
Menjilat kakiku penuh taik
yang kena menceretanku pagi ini tadi
Pulang ia dengan taik semulut
Senangnya seperti mendapat emas saja 

Ia pergi
Aku terganggu
Memikir kegilaannya akan taik itu
Aku pun pergi mengikutinya
Untuk tahu mengapa begitu gilanya ia pada barang haram itu

Sebelum jauh
Kulihat seseorang menangis di bawah batang tua
Meratapi anjing kesayangannya
Mati terbunuh lawannya berebut taik
Siang itu

Anjing pemulung taik, gumamnya

Aku jijik
Tapi tetap saja aku membantunya
Menguliti anjing itu dengan tenang

Ternyata 
Emas melulu 
Di balik kulit anjing itu

Sama peziarah
Mengapa jijik pada emas 
Berkulit haraman?

Anjing
Emas kehidupan
Dari ladang, 19 April 2020

Rabu, 01 Juli 2020

Awal Mula Sajak

oleh Lusia Yuli Hastiti

Awal Mula Sajak oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by kopimat.com


awal mula sajak yang indah
bukan hanya kumpulan imajinasi atau bahasa metafora
bukan pula soal puitis, romantika,
melankolis, atau duka lara

awal mula sajak yang indah
tersimpan berbagai cerita
kau harus merasakan sakit
di sekujur tubuhmu
dan sesuatu yang menusuk
jantung hatimu

bila kau mendapat bahagia,
kau seperti mencium
aroma mekarnya kembang kopi
yang tak ingin kaulepaskan segera
atau seperti saat kau mencucupkan
bibirmu ke sarang madu murni

awal mula sajak yang indah
bukan hanya permainan kata
yang harus kaususun satu per satu
kau harus masuk ke dalam
samudera makna
yang sungguh-sungguh
luas bentangannya

Lampung Timur, 1 Juli 2018

Puisi diambil dari Kumpulan Puisi Juli 2019
#Hujan dan Sepotong Kenangan#halaman 39