Proyek Penulisan dan Penerbitan Puisi Anak

Yuk nulis puisi untuk anak-anak kita.

Proyek Penulisan dan Penerbitan Cerpen

Terbitkan cerpen Anda jadi buku ber-ISBN

Proyek Penerbitan Cerpen Anak

Anak-anak pun perlu bacaan yang baik. Yuk nulis dan nerbitkan cerita pendek untuk anak.

Karyatunggalkan Puisimu!

Yuk terbitkan puisinya dalam buku karya tunggal

Terbitkan 5 Puisi

Punya 5 puisi? Yuk terbitin bareng-bareng jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 500 Puisi Akrostik

Terbitkan puisi akrostikmu jadi buku 500 AKROSTIK ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman Inspiratif Pendek Guru

Tuliskan pengalaman inspiratif Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Kisah Pengalaman LUCU Guru

Tuliskan pengalaman LUCU Anda sebagai guru dan terbitkan jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan best practices Anda jadi buku ber-ISBN.

Proyek Penerbitan Best Practices

Terbitkan artikel pendidikan Anda jadi buku ber-ISBN.

Penerbitan 5000 Pantun Pendidikan

Terbitkan pantun pendidikan dalam 5000 PANTUN PENDIDIKAN

Selasa, 16 Juni 2020

menulis di tanah

Puisi Wakidi Kirjo Karsinadi

menulis di tanah, Puisi Wakidi Kirjo Karsinadi


pagi itu

seorang perempuan kedapatan
sedang berbuat zina
oleh lawan pezina
yang datang dengan motif busuk
menjebak dan mengorbankan sang perempuan
untuk menghilangkan sebuah ancaman

sesudah dinikmatinya perempuan itu
datanglah rombongan konspirator
menangkap basah keduanya

sang perempuan itu dilarak, diseret sepanjang jalan
dan lelaki lawan pezina ikut dalam rombongan
senang karena telah berhasil menjadi bagian dari sebuah rencana cerdik
dan tidak kehilangan bonus kenikmatan gratis pula

dan tibalah mereka di depan sesosok ancaman
yang ingin mereka binasakan

"ia kedapatan berzina
"ia harus dirajam
"bagaimana menurutmu?"
pertanyaan jebakan dilancarkan kepadanya

ia tidak segera menjawab
ia menunduk
ia diam

"apa katamu"
mereka mendesak

"yang merasa tidak bercela
silakan melemparkan batu pertama!"
ia menjawab
tanpa mengangkat kepala
tetap tertunduk
dengan jarinya
ia menulis di tanah

ia manusia langit
yang telah turun menjadi manusia tanah
ia ikut merasakan kegelisahan manusia tanah
perempuan yang sekarang menunggu bagaimana sebentar lagi ia akan kembali menjadi tanah
dirajam oleh para manusia atas angin yang ingin
menggantikan peran pemberi dan pencabut hidup

debu yang tersisih oleh jarinya beterbangan
butir demi butir mengenai hidung gerombolan itu
debu itu telah menjatuhkan mereka dari lesatan angin yang selama ini telah membekap mereka
mereka terjatuh kembali ke tanah
sadar dirinya juga terbuat dari tanah
yang lemah dan tidak bebas salah

satu demi satu, dimulai dari yang paling tua, rombongan itu
pergi meninggalkan perempuan dan lelaki yang menulis di tanah
meninggalkan keduanya di sana, saling berhadapan

sang perempuan tampak semakin gemetar
ia sedang berhadapan dengan sesosok, satu-satunya sosok ...
perginya gerombolan itu satu per satu menyadarkannya bahwa sosok di hadapannya itu adalah satu-satunya
yang memiliki kuasa untuk melemparkan batu pertama

ia gemetar, seluruh dayanya meluruh, menunggu ajal

lelaki itu bangkit
namun, bukannya untuk mengambil batu
melainkan mengulurkan tangannya
mengangkat perempuan itu

'hai manusia tanah
aku tidak akan melemparkan batu kepadamu
sebentar lagi aku akan bersatu dengan tanah
supaya engkau bisa dibebaskan dari hukum tanah"

kaget
tidak percaya
terpana

debu tanah yang menempel di jari itu menyentuh tangannya
tetapi kali ini debu itu ikut meluruhkan seluruh debu yang menempel di tubuhnya
di hatinya
di jiwanya
meninggalkannya menjadi manusia bersih

"jangan berbuat dosa lagi"

perempuan itu menangis bahagia
dalam hatinya ia tahu, mulai hari ini ia tidak perlu berbuat dosa lagi
ia sudah menjadi manusia baru
seluruh sisa hidupnya
telah dibawa ke level yang baru
hidup dalam karunia

karena lelaki itu sebentar lagi menggantikannya
menanggung semua beban dosanya

24 Maret 2018


dari buku berjudul Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28 halaman 62-65

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:

Aku Berkata Maka Aku [Ti]Ada




Tuhan mencipta maka semuanya ada
Tuhan mencipta dengan kata, yang keluar dari mulut-Nya

Demikian pun manusia, dicipta dengan kata
ia menemukan kedahsyatan kekuatannya.
Dengan kata, manusia juga mencipta
segala hal yang menjadi keinginan hatinya
Dengan kata-kata manusia mencipta keluarga,
berawal dari kata cinta, mereka mengikat diri menjadi suami istri, melahirkan anak-anak dan terciptalah keluarga.
Dengan kata-kata manusia mencipta hak atas tanah, rumah, segala harta benda, 
mereka menciptakan wilayah, negara
dan mengesahkannya menjadi miliknya.
Dengan kata-kata manusia menciptakan segalanya
Dengan kata-kata, manusia mengubah adat satu dengan adat lainnya, mendirikann kerajaan satu di atas kehancuran lainnya, menegakkan budaya satu di atas runtuhnya kebudayaan lainnya, 
menghidupkan manusia satu, bangsa satu, bahasa satu, kelompok satu, di atas manusia lainnya, bangsa lainnya, bahasa lainnya, kelompok lainnya, dan seterusnya.

Kini, setelah manusia menyadari betapa dahsyatnya kekuatannya, manusia mengeksplorasi kata-kata, kata demi kata, merangkai demikian rupa, membangun narasi dan wacana
mengubah hitam menjadi putih, putih jadi hitam, mengubah ada jadi tiada, tiada jadi ada, membalik atas jadi bawah, bawah jadi atas, menukar yang mulia dengan cela, cela dengan mulia
dengan kata-kata, manusia berusaha saling menelan lainnya, saling membinasakan kelompok lainnya, bangsa lainnya, budaya lainnya, ada lainnya
manusia berperang dengan kata-kata.
Kata-kata, entah dari mana datangnya, berseliweran di atas kepala kita, memenuhi atmosfer kita, menghujani pikiran kita, melumpuhkan akal sehat kita, menaklukkan hati nurani kita, memperhamba kita 

kata-kata itu begitu luar biasa, menyelinap, menyusup, menghujam jauh ke dalam setiap inti sel otak kita, menguasai daya nalar kita, pelan tapi pasti mengubah hati kita, membentuk perasaan kita, dan menguasai serta melahirkan kehendak ... kita

dan mengubah kita menjadi kata-kata.
Entah kapan persisnya, tiba-tiba saja semua berubah menjadi kata-kata.

Mulut kita mencerocoskan kata-kata yang entah dari mana datangnya, 
pikiran kita menambahkan makna seperlunya,
hati kita menguatkan dengan nuansa-nuansa
tangan kita menembakkan dan memberondongkan kata-kata dengan begitu rajinnya.

Kita memetik kata-kata yang berseliweran di udara, memberinya isi dan mengemasnya dengan sejuta nuansa, kemudian melontarkannya kembali ke udara

kata-kata itu menjadi sedemikiann indah, kuat dan perkasa, sekaligus sedemikian garang, mengancam, dan berbahaya
merajalela dan sangat berkuasa.

Manusia telah menjadi hamba kata-kata, memperkuat dan siap menyukseskan misinya, tanpa pernah tahu terlahir dari mulut siapa, atas kehendak siapa, demi tujuan apa.

Tuhan menggunakan kata-kata untuk menjadikan manusia ada
Manusia menggunakan kata-kata untuk saling meniada.




diambil dari buku Balada Ban Luar: Kumpulan Puisi Mei 2019 halaman 60

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati dalam video berikut:

Batas Akhir

oleh Lusia Yuli Hastiti

Batas Akhir oleh Lusia Yuli Hastiti
Photo by Lusia




pasti sulit menerima sebuah
kenyataan yang lebih sering
bukan keinginan kita sendiri.

kondisi demikian
seperti berada
di daerah perbatasan;
antara merelakan atau
terbelenggu dalam penyesalan;
antara melepaskan atau
menggenggam kembali
erat jabat tangan.

aku ingin sekali menggambarmu
sebagai perempuan tak bermuka,
atau lelaki yang tak berkelamin;
sebab aku hanya bisa
menemukanmu dalam bentuk bayang.
jika aku ingin menyebutmu,
aku ingin menyebutmu
dengan sembarang nama;
atau memanggilmu dengan
sembarang bahasa.

Girimulyo, 16 Juni 2018

A Poem A Day
Puisi diambil dari Kumpulan Puisi Juli 2019
#Hujan dan Sepotong Kenangan#halaman 53

Senin, 15 Juni 2020

Gadis Pemanggul Mawar


Puisi Pujarsono
Gadis Pemanggul Mawar, Puisi Pujarsono
Photo by Irina Iriser from Pexels



: Untuk Farida Ari Kusuma

Wahai gadis pemanggul mawar
Lepaskan segala kesal
Tinggalkan semua sesal
Berjalanlah lurus ke depan
Tuluskan berkarya tanpa beban

Wahai gadis pemanggul mawar
Biarkan kuncup mawar merekah
Menebar wangi memberi berkah
Janganlah engkau menuntut balas
Bungkuslah amalmu dengan ikhlas

Wahai gadis pemanggul mawar
Janganlah engkau mengeluh
Pada suatu yang belum kau rengkuh
Bagai petani yang menanam benih
Saat panen citamu pasti kauraih

Wahai gadis pemanggul mawar
Hari ini kaubawa mawar biru
Walau tengah malam meninggalkanmu
Majulah dan melangkahlah terus
Jangan sampai asa pupus

Wahai gadis pemanggul mawar
Doaku selalu kupanjatkan untukmu
Semoga engkau segera bertemu imammu
Bersanding dengan yang engkau rindukan
Dalam misteri rindu yang tertahan

Kulonprogo, 14 Oktober 2019

dari buku berjudul Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28 halaman 54-55

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut:

Di Hati-Mu yang Kudus, Tuhan

Di Hati-Mu yang Kudus, Tuhan: Puisi Lodevika Endang Sulastri
Ilustrasi oleh Teresa Gowinda Artati


Di Hati-Mu yang kudus,
Aku mengenal arti kasih
Kasih sesungguhnya bukan pura-pura
Kasih yang mengampuni, memberi ruang
Kasih yang adalah pisungsung diri
Kasih penuh pengorbanan.

Di Hati-Mu yang terluka, Yesus
Aku menemukan tempat perlindungan
Jua kulihat darah suci-Mu
Terbagi untuk kami semua
Dan daging-Mu yang Kudus
Mengenyangkan jiwa-jiwa kami
Yang lapar dan lara

Di Hati-Mu yang bolong,
Ada silih yang dipersembahkan
Ada pengorbanan suci di altar-altar umat
Ada jiwa-jiwa mendamba
Kasih yang mengalir dari darah dan air

Di examen consientia,
aku menemukan-Mu, Tuhan
Bahwa aku hanyalah sebutir debu
Yang bukan siapa-siapa
Tapi Kauangkat jiwa ini
Jadi putra dan saudara-saudari-Mu

Di Hati-Mu yang mendamba
Umat kembali pada Bapa
Dalam persatuan cinta

Di Hati-Mu yang terluka
Aku belajar mengeja
Arti ketulusan dan damai
Pengorbanan dan persembahan diri

Di Hati-Mu yang kudus
Aku bersandar untuk belajar terus
Melangkahkan kaki meneruskan
Peziarahan yang harus diselesaikan

Di Hati-Mu yang kudus
Pintu perjanjian surga
Menjadi penawar dahaga
Kala gelap gulita dan gersang
Jiwa mohonkan air kehidupan.

Di Hati-Mu yang suci

Palembang hari ke-6 noven HKY


Puisi ini dimuat di buku Memandang Dia yang Tertikam: Puisi Butiran Kontemplasi halaman 13

Minggu, 14 Juni 2020

Lilin itu masih menyala

Lilin itu masih menyala, Puisi Lodevika Endang Sulastri
Photo by Dhivakaran S from Pexels



Lilin itu masih menyala,
Tatkala aku tersungkur
Dan lututku merasakan pedihnya
Benturan dengan kerasnya lantai keramik.

Lilin itu masih menyala,
Menjadi saksi satu-satunya
Kala tangan tak kuasa
Menjemput seberkas cahaya

Lilin itu masih menyala,
Dan membisu tak terkata
Saat kaki tak mampu menopang
Badan tergoyah dan nyaris tercampak

Lilin itu masih menyala
Bahkan pandang mataku melewati
Sesaat peristiwa yang mengguncang

Lilin itu masih menyala



Hanya Cinta

Puisi Muji Rahayu
Hanya Cinta, Puisi Muji Rahayu
Photo by Pixabay from Pexels



Hari ini kau kembali
Menegurku
Membelengguku dengan rindu
Jadilah angin yang menerbangkan sepiku
Jadilah matahari yang menghangatkan dinginku
Jadilah rembulan yang menerangi gelapku
Jadilah apa pun yang mewarnai mimpiku

Kutuliskan kegelisahanku dalam sajak 
Ketika engkau mulai melupakanku ...

Dulu aku bertanya, apa itu bahagia?
Jawabannya ada di cinta
Dia tahu segalanya
Segala yang tak pernah kita duga

Aku akan terus melukiskan rasa sakit ini dalam rima
Sebab, cinta sudah tak mampu lagi menanggung kesedihannya sendiri

Cinta ... ya ... cinta
Jangan pernah melupakanku
agar cinta tak sia-sia ...
Jangan pernah lupa untuk mengingatku
agar cinta selalu ada dalam hidupmu

Katanya ... suatu ketika
Hanya itu yang aku mampu mengingatnya



dari buku berjudul Pulang ke Rahim Ibu: Kumpulan Puisi KGM #28 halaman 50

Pembacaan puisi ini bisa dinikmati di video berikut: