![]() |
| T. Wagimin |
Lahir pada tanggal 2 November 1938 di Dusun Karangnongko, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, DIY dari pasangan suami istri Kartodimejo, ia merupakan anak ke-6 dari 6 bersaudara. Si kecil Wagimin mengawali pendidikannya pada zaman penjajahan Jepang di Sekolah Rakyat Kalasan I pada tahun 1944 dan tamat pada tahun 1953 (karena sempat pindah sekolah). Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di SMP Kanisius Kalasan dan tamat pada tahun 1956. Ia kemudian menempuh pendidikan kejuruan di SGB Shanti Dharma Yogyakarta dan tamat pada tahun 1958.
Penulis mulai meniti karier sebagai guru pada tahun 1960 di SD Gombang, Wonosari, Yogyakarta selama 2 tahun. Pada tahun 1962, ia pindah mengajar di SD Jomblang II Berbah, Sleman hingga tahun 1964.
Karena memiliki jiwa patriot dan sangat peduli akan pendidikan anak-anak, ketika pemerintah mengumumkan dibukanya pendaftaran relawan guru di Papua, penulis tergerak hatinya untuk mengikuti program tersebut. Pada tahun 1964, berangkatlah penulis ke tanah "misi" Papua dan mengajar di SD Katolik Warse, Asmat, Merauke selama 5 tahun. Atas dedikasinya tersebut, ia pernah mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai pejuang di bidang pendidikan di tanah Papua.
Karena sudah berkeluarga dan mempunyai anak yang masih kecil, penulis memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Pada tahun 1968, penulis kembali mengajar di SD Jomblang II Berbah, Sleman hingga purna tugas pada tahun 1990.
Berkat kecintaannya pada budaya Jawa, khususnya sastra dan seni budaya, mulai tahun 2007 penulis mencoba menulis seni budaya "macapat". Tulisan yang awalnya iseng dikirim ke redaksi Majalah Berbahasa Jawa Jaka Lodang tersebut rupanya sering dimuat di rubrik seni dan budaya. Penulis belajar menulis secara otodidak. Seiring dengan berkembangnya kemampuan tersebut, penulis mencoba menulis artikel lain yang berkaitan dengan pesan moral dan pendidikan etika, khususnya untuk pasangan suami istri (pasutri) muda, yaitu buku tentang prenatal (saat janin masih dalam kandungan), serta pendidikan budi pekerti dalam kehidupan bermasyarakat. Hingga saat ini, penulis masih aktif mengirimkan artikel seni dan budaya ke Majalah Jaka Lodang.
Karyanya:
Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi









0 komentar:
Posting Komentar