Minggu, 31 Mei 2026

Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa

 

Spesifikasi

Kode:130009
Judul:Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa
Penulis:Y. Jaka Prastana, Alexander Michael Timothy, Aurelia Anami, Breezelle Bluebell Chrisanta Wibowo, Carissa Elysia Evelyn, Celine Elena Emmanuelle, Clarisa Chasmita Banjarnahor, Defandro Seandhira Putra, Faustina Aretha Maharani, Felove Lovely Dlifi, Gisela Rengganis Putri Wijaya, Grace Angela, Gracella Felicia, Jaclyn Marcella Feryawan, Jezlyn Febriani Akiun, Jhosephine Theona Avisa, Jocelyne Verencia Wijaya, Kirana Trinitatis Hutasoit, Michael Franda Ken Julian Putra, Monica Kartika Putri Nugraha, Neyna Kamilia Kalinda, Nico Adriano Febrian, Reisyi Mahita Gumara, Stevanus Millen, Yonatan Hengsanto
Tahun Terbit:2026
ISBN:-
eISBN:-
ISBN PDF:-
Tebal:170 (viii+170) halaman
Harga:Rp90.000

Deskripsi

Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa

Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa – Mosaik Rasa dan Imajinasi Generasi Muda

Buku "Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa, 26 Cerpen Pilihan Goput" merupakan sebuah antologi sastra remaja yang lahir dari rahim kreativitas komunitas Majalah Sekolah "Goput" di SMP Putra Nirmala. Di bawah bimbingan Y. Jaka Prastana, S.Pd., buku setebal 152 halaman ini menjadi monumen pembuktian yang indah bahwa jerat dunia digital tidak melulu memadamkan hasrat generasi muda dalam mengolah kata. Buku ini merangkum 26 buah pikiran yang ditulis secara kolaboratif oleh para siswa aktif, alumni, anak-anak berbakat penyuka fiksi, hingga sang mentor sendiri. Setiap lembarnya menyajikan kejujuran rasa, kelincahan berpikir, dan potret dunia remaja yang penuh warna.

Eksplorasi Ruang Estetika, Realitas Remaja, dan Kematangan Rasa:

Laboratorium Menulis dan Jejak Prestasi:
Sejak Agustus 2022, Majalah Goput telah menjadi wadah yang disiplin dalam melatih kemampuan literasi para siswa, mulai dari teknik wawancara hingga penulisan kreatif. Antologi cerpen ini hadir sebagai puncak pencapaian yang membanggakan. Kehadiran penulis-penulis muda di dalam buku ini—beberapa di antaranya bahkan telah menorehkan prestasi dalam kompetisi menulis di tingkat lokal maupun nasional—menunjukkan bahwa karya ini digarap dengan antusiasme yang tinggi dan sportif dalam mengasah bakat.

Mosaik Tema: Dari Sudut Kota hingga Gejolak Jiwa:
Sebagai sebuah "ruang kecil", buku ini justru menyimpan spektrum tema yang sangat luas dan tidak terduga dari penulis seusia mereka. Pembaca akan diajak bertualang melintasi ruang fisik dan emosional, seperti melankolia urban dalam "Catatan Sunyi di Braga" dan "Malioboro di Malam itu", pencarian identitas sosial dalam "Aku dan Hari Tanpa Smartphone", hingga keberanian menyentuh isu toleransi yang mendalam dalam "Cinta di Antara Dua Iman". Ada pula eksplorasi fiksi yang penuh ketegangan, drama keluarga yang hangat ("Cinta Ayah untuk Grace"), serta kisah-kisah romansa dan persahabatan khas remaja yang manis sekaligus reflektif.

Keselarasan Bimbingan dan Kemandirian Kreatif:
Daya tarik utama buku ini terletak pada dialog estetis antara murid dan guru. Kehadiran cerpen karya sang pembimbing, seperti "Ketika Kembang Tak Bisa Dipegang" dan "Lulus Ujian", memberikan jangkar teoretis sekaligus teladan praktis bagi para siswa. Judul utama "Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa" karya Jocelyne Verencia Wijaya dipilih sebagai benang merah yang menangkap esensi sejati dari buku ini: bahwa sekolah, komunitas, dan literasi adalah ruang aman tempat mereka bisa merayakan pertumbuhan, berbagi tawa, serta menyuarakan kegundahan hati secara jujur.

Kesimpulan: Catatan Jujur dari Dunia Remaja yang Seru dan Menginspirasi
Puncak dari antologi "Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa" adalah sebuah pembuktian bahwa dunia remaja tidak pernah kehabisan cerita seru jika mereka diberikan ruang yang asyik untuk berekspresi. Buku ini menjadi semacam "kotak kenangan" yang merekam cara para siswa dalam melihat persahabatan, cinta monyet, keseharian di sekolah, hingga hobi mereka dengan cara yang sangat jujur dan apa adanya.

Esensi utama dari karya ini adalah pentingnya memiliki komunitas yang saling mendukung. Melalui ekskul Goput, para siswa tidak hanya belajar cara merangkai kalimat yang keren, tetapi juga belajar untuk saling menghargai ide dan menertawakan kekonyolan bersama di sepanjang proses kreatifnya.

Buku ini menjadi referensi yang sangat menyegarkan bagi para orang tua dan guru yang ingin memahami isi kepala anak remaja zaman sekarang, sekaligus menjadi pemantik semangat bagi sesama pelajar untuk berani mulai menulis. Sebuah karya yang membuktikan bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita pun bisa berubah menjadi cerita yang seru, menghibur, dan bikin ketagihan untuk dibaca sampai habis.


Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... vii
  • Hari Terakhir di Bangku Belakang ~ Alexander Michael Timothy .... 1
  • Catatan Sunyi di Braga ~ Aurelia Anami .... 7
  • Serunya Liburan ke Dufan ~ Breezelle Bluebell Chrisanta Wibowo .... 12
  • Jejak Bayangan Manusia ~ Carissa Elysia Evelyn .... 16
  • Pelangi ~ Celine Elena Emmanuelle .... 30
  • Malioboro di Malam itu ~ Clarisa Chasmita Banjarnahor .... 33
  • Cinta di Antara Dua Iman ~ Defandro Seandhira Putra .... 37
  • Keraguan di Balik Melodi Cinta ~ Faustina Aretha Maharani .... 41
  • Senja Kala Itu ~ Felove Lovely Dlifi .... 46
  • Aku dan Hari Tanpa Smartphone ~ Gisela Rengganis Putri Wijaya .... 49
  • Rumah Singgah Selalu Ada, Tak Pernah Dipilih ~ Grace Angela .... 54
  • Beyond The Lines ~ Gracella Felicia .... 60
  • Cinta Ayah untuk Grace ~ Jaclyn Marcella Feryawan .... 70
  • Ketika Kembang Tak Bisa Dipegang ~ Jaka Prastana, S.Pd .... 74
  • Kita dan Malioboro ~ Jezlyn Febriani Akiun .... 82
  • Mimpi di Lapangan Basket ~ Jhosephine Theona Avisa .... 86
  • Ruang Kecil Tempat Kita Tertawa ~ Jocelyne Verencia Wijaya .... 92
  • Detail Kecil dalam Sketsa Sore ~ Kirana Trinitatis Hutasoit .... 98
  • Perpustakaan dan Dunianya ~ Michael Franda Ken Julian Putra .... 102
  • Hutan dan Segala Kenangannya ~ Monica Kartika Putri Nugraha .... 109
  • Tempat Tinggal dengan Aturan Sunyi ~ Neyna Kamilia Kalinda .... 117
  • The Unbroken Bonds ~ Nico Adriano Febrian .... 124
  • Aku, Kamu, dan Hujan ~ Reisyi Mahita Gumara .... 134
  • Aku Butuh Pelukanmu ~ Stevanus Millen .... 141
  • Angin Pantura Membawaku ke Tegal ~ Yonatan Hengsanto .... 145
  • Lulus Ujian ~ Y. Jaka Prastana .... 150

Jumat, 29 Mei 2026

T. Wagimin, Penulis Macapat


T. Wagimin, penulis macapat, tembang bahasa Jawa
T. Wagimin

Lahir pada tanggal 2 November 1938 di Dusun Karangnongko, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, DIY dari pasangan suami istri Kartodimejo, ia merupakan anak ke-6 dari 6 bersaudara. Si kecil Wagimin mengawali pendidikannya pada zaman penjajahan Jepang di Sekolah Rakyat Kalasan I pada tahun 1944 dan tamat pada tahun 1953 (karena sempat pindah sekolah). Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di SMP Kanisius Kalasan dan tamat pada tahun 1956. Ia kemudian menempuh pendidikan kejuruan di SGB Shanti Dharma Yogyakarta dan tamat pada tahun 1958.

Penulis mulai meniti karier sebagai guru pada tahun 1960 di SD Gombang, Wonosari, Yogyakarta selama 2 tahun. Pada tahun 1962, ia pindah mengajar di SD Jomblang II Berbah, Sleman hingga tahun 1964.

Karena memiliki jiwa patriot dan sangat peduli akan pendidikan anak-anak, ketika pemerintah mengumumkan dibukanya pendaftaran relawan guru di Papua, penulis tergerak hatinya untuk mengikuti program tersebut. Pada tahun 1964, berangkatlah penulis ke tanah "misi" Papua dan mengajar di SD Katolik Warse, Asmat, Merauke selama 5 tahun. Atas dedikasinya tersebut, ia pernah mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai pejuang di bidang pendidikan di tanah Papua.

Karena sudah berkeluarga dan mempunyai anak yang masih kecil, penulis memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Pada tahun 1968, penulis kembali mengajar di SD Jomblang II Berbah, Sleman hingga purna tugas pada tahun 1990.

Berkat kecintaannya pada budaya Jawa, khususnya sastra dan seni budaya, mulai tahun 2007 penulis mencoba menulis seni budaya "macapat". Tulisan yang awalnya iseng dikirim ke redaksi Majalah Berbahasa Jawa Jaka Lodang tersebut rupanya sering dimuat di rubrik seni dan budaya. Penulis belajar menulis secara otodidak. Seiring dengan berkembangnya kemampuan tersebut, penulis mencoba menulis artikel lain yang berkaitan dengan pesan moral dan pendidikan etika, khususnya untuk pasangan suami istri (pasutri) muda, yaitu buku tentang prenatal (saat janin masih dalam kandungan), serta pendidikan budi pekerti dalam kehidupan bermasyarakat. Hingga saat ini, penulis masih aktif mengirimkan artikel seni dan budaya ke Majalah Jaka Lodang.


Karyanya:


Macapat Padhamara




Thukuling Teki Garing, Panggulawenthahing Putra Kawiwitan Saka Kandhegan Ing Tembang Macapat

Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi

Spesifikasi

Kode : 210006
Judul : Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi
Penulis : Zakaria Tulung
Tahun Terbit : 2026
ISBN : 978-623-7421-87-0
eISBN : 978-623-7421-88-7
ISBN PDF : -
Tebal : 376 (xviii+358) halaman
Harga : Rp170.000



Deskripsi


Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi
Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi: Kisah Guru dari Toraja yang Menjadi Doktor di SD Perbatasan Kaltara, Sebuah Autobiografi

Buku "Terhenti Kuliah, Tak Terhenti Mengabdi" adalah sebuah autobiografi yang luar biasa kuat, merangkum perjalanan hidup Dr. Zakaria Tulung, M.AP., seorang anak pelosok Tana Toraja yang bertransformasi menjadi sosok inspiratif di garis depan pendidikan Indonesia. Dengan ketebalan 376 halaman, buku ini bukan sekadar catatan riwayat hidup, melainkan sebuah dokumen perjuangan yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan akses bukanlah penghalang untuk meraih mimpi setinggi langit.

Kisah ini bermula dari kepahitan masa kecil di Toraja, di mana kesulitan ekonomi memaksa Zakaria untuk menghentikan kuliahnya di STKIP Makale. Namun, "kegagalan" tersebut justru menjadi pintu gerbang menuju pengabdian yang lebih besar. Ia memutuskan merantau ke Kalimantan, sebuah langkah nekat yang akhirnya membawanya menjadi guru di wilayah perbatasan Nunukan, Kalimantan Utara. Di tanah rantau inilah, Zakaria menemukan panggilan jiwanya yang sesungguhnya.

Eksplorasi Perjalanan dan Inovasi:
Bertahan di Tengah Keterbatasan:
Bagian awal pengabdiannya di SDN 004 Libang (yang kemudian menjadi SDN 002 Lumbis) digambarkan dengan sangat menyentuh. Penulis menceritakan realitas pahit tinggal di bangunan bekas WC dan pondok sederhana karena ketiadaan rumah dinas. Di desa tanpa listrik dan akses yang terisolasi, ia tidak menyerah. Sebaliknya, ia membaur dengan masyarakat, mengajak mereka bahu-membahu membangun sekolah yang layak bagi anak-anak pedalaman.

Transformasi Menjadi Kepala Sekolah:
Setelah 23 tahun mengabdi sebagai guru, Zakaria diangkat menjadi Kepala Sekolah di SDN 005 Lumbis (Kalampising). Bab-bab dalam buku ini membedah secara detail langkah-langkah manajerial dan inovatifnya, mulai dari renovasi fisik gedung sekolah melalui berbagai tahap pembangunan, hingga menjadikan sekolah tersebut sebagai Sekolah Penggerak. Ia juga mempelopori 10 strategi pengembangan literasi, mulai dari pojok baca, diskusi buku, hingga debat literasi.

Haus Akan Ilmu dan Prestasi:
Salah satu aspek paling mengagumkan adalah keteguhan penulis dalam menempuh pendidikan. Meski mengajar di pedalaman, ia berhasil menyelesaikan S-1, S-2, hingga meraih gelar Doktor (S-3)—sebuah pencapaian yang sangat langka bagi seorang guru SD di wilayah perbatasan. Gelar ini ia gunakan bukan untuk meninggalkan pedalaman, melainkan untuk memperkuat kualitas pengabdiannya.

Peran Multidimensi:
Buku ini juga mencatat peran tambahan penulis di luar sekolah, seperti menjadi Ketua PGRI Cabang Lumbis, Tutor Universitas Terbuka, hingga dosen pascasarjana. Ia membuktikan bahwa kehadiran seorang guru di pedalaman adalah bentuk nyata pemerataan pendidikan dan kedaulatan bangsa.

Makna Pengabdian: Pertemuan Profesionalitas dan Spiritualitas
Pada akhirnya, buku ini bermuara pada sebuah pemaknaan yang melampaui sekadar karier seorang pegawai negeri. Bagi Dr. Zakaria Tulung, mengabdi di garis depan perbatasan bukan lagi tentang menjalankan tugas administratif, melainkan sebuah misi hidup yang dipeluk dengan kesadaran spiritual penuh. Ia menemukan bahwa pendidikan di wilayah terpencil adalah bentuk nyata dari "ibadah yang bergerak"—sebuah perjalanan spiritual yang melatih keikhlasan di tengah keterbatasan dan kesabaran di tengah isolasi.

Zakaria menghayati bahwa kehadiran seorang guru di pedalaman adalah wujud kehadiran negara sekaligus bukti bahwa pendidikan adalah hak asasi yang sakral bagi setiap anak bangsa. Keberhasilannya meraih gelar Doktor di tengah keterbatasan akses listrik dan infrastruktur bukanlah bentuk arogansi intelektual, melainkan sebuah pernyataan spiritual: bahwa kemuliaan ilmu harus digunakan untuk mengangkat harkat mereka yang terlupakan.

Ia memandang pengabdian di Kalampising dan Libang sebagai sebuah laboratorium jiwa. Secara profesional, ia tertempa menjadi pemimpin yang kompeten dan tangguh; namun secara spiritual, ia menemukan kepuasan batin saat melihat anak-anak perbatasan mampu bermimpi setinggi dirinya. Inilah kekayaan terbesar yang ia peroleh—sebuah kesadaran bahwa mengabdi kepada bangsa melalui pendidikan adalah cara terbaik untuk mencintai Tuhan. Buku ini menjadi saksi bahwa ketika seseorang berhenti mengejar kenyamanan pribadi dan mulai memeluk misi kemanusiaan, di situlah ia menemukan makna hidup yang utuh dan sejati.

Daftar Isi

  • Pengantar Penerbit .... v
  • Pengantar Penulis .... viii
  • Daftar Isi .... xv
  • Masa Kecil sampai Remaja .... 1
  • Tapak Awal .... 2
  • Masa Kecil di Tana Toraja .... 7
  • Mimpi yang Mulai Bertumbuh .... 13
  • Merantau ke Kalimantan .... 18
  • Keputusan untuk Merantau .... 19
  • Awal Mula di Tanah Rantau .... 21
  • Mendaftar sebagai Guru Daerah Terpencil .... 29
  • Langkah Pertama Menuju Tanjung Selor .... 30
  • Tapak Awal di Tanjung Selor .... 33
  • Perjalanan Menuju Samarinda .... 41
  • Kegiatan di Samarinda .... 44
  • Perjalanan Pulang ke Tanjung Selor .... 51
  • Pengabdian di SDN 004 Libang .... 55
  • Perjalanan Menuju Tempat Tugas Awal .... 56
  • Awal Pengabdian di Libang .... 59
  • Latar Belakang Penempatan .... 59
  • Langkah Awal di Libang .... 60
  • Pertemuan dengan Murid-Murid .... 64
  • Pertemuan dengan Guru Senior .... 65
  • Pertemuan dengan Masyarakat .... 67
  • Kondisi Sekolah SD Negeri 004 Libang .... 69
  • Keterbatasan Fasilitas dan Sarana .... 69
  • Rumah Dinas .... 72
  • Latar Belakang Siswa yang Beragam .... 72
  • Dinamika Kehidupan Sekolah yang Unik .... 73
  • Kehidupan Sehari-hari dan Tempat Tinggal .... 75
  • Rumah Kepala Desa .... 75
  • Masyarakat Bahu-Membahu Untuk Memenuhi Kebutuhan .... 77
  • Rumah di Pinggir Sungai .... 78
  • Bangunan Bekas WC .... 79
  • Pondok Kecil Sederhana .... 80
  • Tinggal di Rumah Dinas .... 82
  • Dari SDN 004 Libang Menjadi SDN 002 Lumbis .... 84
  • Pergantian Kepemimpinan Sekolah .... 87
  • Kepemimpinan Bapak Benyamin F. Tui .... 89
  • Kepemimpinan Bapak Marthen Ringgit .... 90
  • Kepemipinan Ibu Agustina Murang .... 95
  • Kepemimpinan Bapak Darwin .... 97
  • Pelajaran dari Pergantian Kepemimpinan .... 101
  • Mempertahankan Semangat di Tengah Himpitan Kesulitan .... 105
  • Semua Serbaterbatas .... 105
  • Mencari Solusi Kreatif .... 107
  • Memaknai Panggilan Guru di Tengah Masyarakat .... 109
  • Menghidupi Keluarga Ketika Kondisi Semakin Berat .... 110
  • Dukungan Masyarakat .... 115
  • Perkembangan SD Negeri 004 Libang .... 119
  • Penambahan Personel Guru .... 123
  • Perkembangan dan Kemajuan Lainnya .... 127
  • Perkembangan dan Prestasi Siswa .... 127
  • Alumni SD 004 Libang yang Membanggakan .... 128
  • Kisah Marno .... 129
  • Kisah Ati? dan Dorti .... 130
  • Menyelesaikan Pendidikan S-1 .... 132
  • Menempuh Pendidikan S-2 .... 136
  • Perpisahan dengan SD Negeri 002 Lumbis .... 142
  • 23 Tahun Mengajar .... 142
  • Ditugaskan sebagai Kepala Sekolah SD Negeri 005 Lumbis .... 143
  • Acara Perpisahan .... 146
  • Mengabdi di SD Negeri 005 Lumbis (Kalampising) .... 153
  • Dasar Penempatan .... 154
  • Perasaan dan Harapan Awal .... 158
  • Kondisi Awal Sekolah .... 162
  • Kegiatan Pertama sebagai Kepala Sekolah .... 168
  • Musyawarah Bersama .... 168
  • Pembersihan Lingkungan Sekolah .... 170
  • Pembenahan Administrasi .... 171
  • Proposal Perbaikan Gedung Sekolah .... 172
  • Tantangan sebagai Kepala Sekolah .... 173
  • Tantangan yang Disadari .... 173
  • Langkah-Langkah ke Depan .... 176
  • Perbaikan Gedung dan Fisik Sekolah .... 179
  • Pembangunan Tahap I: 3 RKB .... 179
  • Kerja Bakti Penyiapan Lahan .... 183
  • Pembangunan Tahap II: Kantor SD Negeri 005 Lumbis dan WC .... 190
  • Perbaikan Tahap III: DAK untuk 3 RKB .... 193
  • Perbaikan Tahap IV: 6 RKB dan 4 Bilik WC dari Kementerian PUPR .... 202
  • Penataan Halaman Sekolah .... 211
  • Kerja Sama dengan Masyarakat .... 221
  • Membangun Budaya Sekolah .... 225
  • Salam dan Sapa .... 225
  • Upacara Bendera .... 225
  • Kegiatan Ektrakurikuler .... 226
  • Program Adiwiyata .... 227
  • Gotong Royong .... 228
  • Pendampingan dan Peningkatan Kualitas Guru .... 230
  • Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa .... 236
  • Pengembangan Literasi Siswa .... 240
  • Pojok Baca .... 241
  • Membaca Berkelompok .... 241
  • Diskusi Buku .... 241
  • Menulis Cerpen .... 242
  • Membuat Resensi Buku .... 242
  • Membaca Puisi .... 243
  • Membaca Bersama antara Guru dan Siswa .... 243
  • Membuat Buku Cerita Sederhana .... 244
  • Program Mendongeng .... 244
  • Debat Literasi .... 245
  • Pentingnya Budaya Literasi .... 246
  • Upaya Pengembangan Siswa .... 247
  • Upaya Meraih Akreditasi A .... 252
  • Mengembangkan Kerja Sama dengan Pihak Luar .... 257
  • Kerja Sama dengan Masyarakat Sekitar .... 257
  • Kerja Sama Antarsekolah .... 259
  • Kerja Sama dengan Puskesmas .... 261
  • Kerja Sama dengan Babinsa .... 262
  • Kerja Sama dengan Kepolisian .... 263
  • Menjadikan SD 005 Lumbis sebagai Sekolah Penggerak .... 265
  • Personel Guru dan Tenaga Kependidikan .... 270
  • Perkembangan Statistik Sekolah .... 276
  • Kisah-Kisah Unik Siswa .... 282
  • Pengembangan Diri sebagai Kepala Sekolah .... 291
  • Menempuh Pendidikan Doktoral .... 301
  • Prestasi Sekolah .... 307
  • Pencapaian sebagai Kepala Sekolah .... 311
  • Yang Layak Disyukuri .... 311
  • Yang Masih Harus Diperjuangkan .... 313
  • Menjalankan Peran Tambahan .... 315
  • Peran-Peran Tambahan .... 316
  • Badan Perwakilan Desa (BPD) Pa?lemumut .... 316
  • Tutor Universitas Terbuka (UT) Program Studi PGSD .... 317
  • Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) .... 320
  • Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah .... 321
  • Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPM) .... 322
  • Dosen Pascasarjana di BILD IKN .... 325
  • Ketua PGRI Cabang Lumbis .... 327
  • Keluarga di Rantau .... 330
  • Menikah dan Membangun Keluarga .... 331
  • Pulang Kampung .... 337
  • Mereka yang Kukasihi .... 345
  • Mereka Berangkat Duluan .... 345
  • Kami yang Masih Berjuang .... 348
  • Penutup .... 353
  • Makna Pengabdian .... 354
  • Daftar Pustaka .... 362
  • Profil Penulis .... 364